Tag Archives: syiah

Peringatan Asyura di Berbagai Negara

img_0087-544f1e713458cAsyura adalah hari kesepuluh Muharram. Di Jawa, Asyura dikenal dengan sebutan Suro. Hari yang bertepatan dengan peristiwa pembantaian cucu Nabi Husein bin Ali bin Abi Thalib di padang Karbala tahun 61 Hijriah (9-10 Oktober 680 Masehi) ini diperingati di berbagai belahan dunia.

Di sejumlah negara seperti Afghanistan, Iran, Azerbaijan, Irak, Lebanon, Bahrain, dan Pakistan, Asyura adalah hari libur nasional. Di semua negara itu Asyura diperingati dengan berbagai upacara keagamaan di samping juga pawai dan teater rakyat di jalanan kota-kota besar.

 

 

Peringatan 10 Muharram di Bahrain

Teater rakyat yang memperagakan peristiwa Asyura di Manama, Bahrain.

Khusus di Irak, Asyura dipusatkan di Karbala, tempat peristiwa pembantaian itu berlangsung sekaligus menjadi pusara Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keluarga serta sahabatnya yang ikut gugur dalam peristiwa itu. Jutaan orang dari seluruh Irak dan mancanegara berkumpul di sekitar makam untuk berziarah, mendengar pembacaan narasi peristiwa pembantaian yang dikenal dengan maqtal, hikmah Asyura, melakukan berbagai ritus  shalat dan doa serta mengadakan beragam acara budaya.

Di India yang merupakan negara sekuler dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, Asyura juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Masyarakat Turki juga sejak lama mengenang hari ini dengan berbagai upacara dan menyebutnya sebagai hari Asure.

Di Nusantara, Asyura juga sudah lama diperingati. Orang Jawa yang menyebutnya dengan Suro memperingati hari ini dengan berbagai upacara yang bertujuan meminta keselamatan dan membuang kesialan. Masyarakat Pariaman mengenang hari ini dengan upacara agung yang disebut dengan Tabuik.

Tabuik di Pariaman

Upacara Tabuik di Pariaman.

Pembuatan jenang di Yogya.

Pembuatan jenang di Pakualaman Yogyakarta untuk peringatan 10 Muharram.

Seluruh etnik dan komunitas agama di Trinidad dan Tobagoserta Jamaika berpartisipasi memperingati hari Asyuro. Mereka menyebut Asyura dengan “Hosay” atau “Hussay”, yang diambil dari nama “Husain”.

Peringatan 10 Muharram di Turki

Upacara Hosay di Port of Spain.

(MK/Islam Indonesia)

Sumber :Islam Indonesia

Malam 1 Suro, Mistis atau Mitos?

malam-1-suro-ribuan-pusaka-kediri-dan-nusantara-dijamasSatu Islam – Malam 1 Suro yang juga bertepatan dengan 1 Muharam di Indonesia memiliki makna yang sedikit unik. Bagi golongan tertentu terutama masyarakat Jawa yang masih meyakini, malam 1 Suro sangat identik dengan nuansa mistis. Benarkah atau hanya mitos?

Di malam 1 Suro ini mereka yang memiliki senjata pusaka atau gaman akan mencucinya. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan Penjamasan.

Untuk menjamas senjata pusaka seperti keris, tombak dan lainnya juga tidak sembarangan. Ada ritual khusus yang harus dilakukan seperti puasa, pati geni, sesaji, bakar menyan, tumpengan dan segala tetek bengeknya.

Mereka meyakini dengan menjamas di malam 1 Suro bakal membuat pusaka mereka semakin sakti. Tak pelak, bagi masyarakat Jawa yang mempercayai ritual ini, malam 1 Suro menjadi sangat teramat penting. Dimensi gaib dan mistis di malam ini sangat kuat.

Bagi mereka yang tidak memiliki pusaka juga tetap melakukan ritual khusus di malam 1 Suro. Di Keraton Surakarta, warga sekitar sering melakukan ritual Mubeng Benteng (Mengitari Benteng Surakarta), ada pula yang melakukan ritual kungkum atau berendam di kali dan masih banyak lagi.

Keraton Surakarta dan Yogyakarta hingga kini masih melanggengkan ritual penjamasan keris pusaka tiap malam 1 Suro. Bahkan usai dimandikan, air yang digunakan untuk penjamasan menjadi rebutan warga. Mereka meyakini air yang digunakan untuk memandikan keris pusaka itu mengandung tuah dan berkah.

Sebagian orang Jawa juga menyakini bahwa Bulan Suro sebagai bulan penuh kesialan, itulah yang menyebabkan pada bulan tersebut ‘dilarang’ melakukan pesta khususnya pernikahan. Bagi mereka yang percaya itungan-itungan Primbon, tentu tidak akan menggelar pesta pernikahan di Bulan Suro.

Dalam persepsi Islam, bulan sial seperti Suro tentu tidak ada. Semua hari adalah baik dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada manusia. Munculnya kepercayaan tentang bulan Suro sebagai bulan sial, hal ini tidak lepas dari latar belakang sejarah zaman kerajaan tempo dulu. Pada zaman dahulu di Bulan Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka keraton.

Ritual menjamas pusaka keraton pada zaman dahulu menjadi sebuah tradisi yang menyenangkan bagi masyarakat yang memang masih haus akan hiburan. Sehingga dengan kekuatan karisma keraton dibuatlah stigma tentang ‘angker’ bulan Suro.

Jika di bulan Suro rakyat mengadakan hajatan khususnya pesta pernikahan, bisa mengakibatkan sepinya ritual yang diadakan keraton alias keraton kalah pamor. Dampaknya akan mengurangi legitimasi dan kewibawaan keraton, yang pada saat itu merupakan sumber segala hukum. Tradisi memandikan keris dan pusaka ini juga menjadi ajang untuk memupuk kesetiaan rakyat kepada Keraton.

Mitos tentang keangkeran bulan Suro ini demikian kuat dihembuskan, agar rakyat percaya dan tidak mengadakan kegiatan yang bisa menganggu acara keraton. Dan hingga kini kepercayaan tersebut masih demikian kuat dipegang oleh sebagian orang. Sehingga ada sekelompok orang yang pada bulan Suro tidak berani mengadakan acara tertentu karena dianggap bisa membawa sial.

Namun bagaimana pun juga kepercayaan akan malam 1 Suro dan Bulan Suro masih mengakar kuat. Segala ritual yang dilakukan di malam 1 Suro seolah menjadi tradisi unik yang dimiliki dan dipercayai masyarakat Jawa yang kaya budaya adiluhung.

Tentu tidak ada salahnya juga tetap menjaga tradisi di masyarakat. Lalu benarkah Malam 1 Suro itu benar-benar keramat? Atau hanya mitos belaka? Setiap orang tentu memiliki cara dan sudut pandang sendiri untuk menilai dan mengukurnya. Selamat Tahun Hijriyah.(merdeka)

 

Sumber :Satu Islam

Husain Sayyidus Syuhada’

zakhmi_zuljana-normalSyahid artinya orang yang gugur mulia di jalan Allah karena membela agama-Nya.

Al-Quran menyebut para syuhada’ sebagai manusia-manusia yang telah diberikan nikmat oleh Allah, selain daripada para Nabi, orang-orang yang jujur dan orang-orang yang soleh. “an’amallahu ‘alaihim minan nabiyyin was shiddiqin was syuhada’ was sholihin’.

Banyak sahabat yang gugur di jalan Allah menjadi syuhada’ (jamak dari syahid). Mereka gugur di medan-medan jihad dan menjadi manusia- manusia mulia di sisi Allah dan di dalam catatan sejarah ummat manusia. Nabi saw sangat mengagungkan mereka, bersedih untuk mereka bahkan Nabi menangis karena kepergian mereka.

Ketika sayyidina Hamzah syahid di medan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan Nabi saw menangis bahkan menyuruh para sahabat untuk datang bertakziah ke Rumah Sayyidina Hamzah dan berduka di sana.

Ketika Nabi mendengar Abdullah bin Rawahah, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur syahid di Mu’tah, di kota Madinah Nabi duduk berduka dan lama berdiam diri bersama para sahabatnya.

Nabi berkata bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang terputus kedua tangannya itu kelak akan diganti oleh Allah dengan dua sayap di syurga. Dan Nabi menghargainya dengan menyebutnya sebagai  Ja’far at-Thayyar, artinya Ja’far yang akan terbang di syurga dengan dua sayap.

Nabi juga menyebut Sayyidina Hamzah yang gugur di peperangan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan dimana jantungnya dicopot dan dikunyah-kunyah oleh  Hindun ( ibunya Muawiyah dan neneknya Yazid) sebagai Sayyidus Syuhada’ Penghulu para syuhada’.

Lima puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah saw cucu Nabi tercinta yang bernama Husain bin Ali gugur di medan Karbala bersama beberapa cucu-cucu Nabi yang lain seperti Ali Akbar, Ali Asghar, Qasim bin Hasan dan lain-lain dalam keadaan yang lebih mengenaskan: kepala dipenggal, tangan diputus, kaki ditebas, bahkan puluhan kepala para syuhada’ itu ditancapkan di atas tombak dan diiring keliling kota Kufah dan Syam bersama wanita- wanita suci keluarga Nabi yang ditawan bagaikan budak-budak tawanan.

Bayangkan sekiranya Nabi yang mulia menyaksikan tragedi Karbala ini apa yang akan beliau katakan?

Bagaimana cucuran air mata Nabi akan tumpah?

Assalamu alal Husain

Wa ala Ali ibnul Husain

Wa ala awladil Husain

Wa ala ashabil Husain

Apa Pandangan Anda Tentang Syiah

Tanya: Asww. Saya mau tanya, ada sebagian orang menyebut syiah dengan sangat sinis sehingga mereka berkata bahwa syiah itu adalah agama tersendiri. Mana yang benar agama syiah atau mazhab syiah?

 

Jawab:

Adalah fakta yang tak dapat diinkari bahwa orang-orang Islam ini terbagi kepada berbagai mazhab dan aliran. Baik itu dalam akidah, fikih maupun tasawuf.

Dalam hal akidah ada mazhab Asya’ari, Muktazlah, Maturidiah dan Syiah. Dalam hal fikih ada Hanafi, Maliki, Syafei, Syiah dll. Dalam hal tasawuf ada Naqsyabandi, Qadiriah dll,

Peebedaan mazhab artinya perbedaan pandangan dalam mengartikan nas al-Quran dan Hadis. Dan itu sah-sah saja selagi penafsiran itu berdiri di atas prinsip yang ilmiah, objektif dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Problem biasanya muncul ketika ada pihak yang mengatakan bahwa penafsiran saya benar dan penafsiran orang lain salah; mazhab saya benar dan mazhab orang lain salah.

Dan itu pasti lambat laun akan melahirkan perpecahan bahkan peperangan sesama ummat Islam itu sendiri.

Yang mengatakan syiah sebagai agama dengan kata Agama Syiah datangnya dari kelompok ini. Kelompok takfiri. Mereka tidak mau tunduk pada fakta historis dan objektifitas ilmiah. Mereka menjadi kelompok yang arogan dan intoleran.

Adapun yang mengatakan syiah dengan kata Mazhab Syiah adalah mereka yang berpandangan ilmiah, objektif dan bermotifasi baik.

Apalagi kalau  kita lihat rukun-rukun prinsip dalam ajaran syiah adalah sama dengan prinsip ajaran ahlu sunnah wal jamaah. Allah mereka satu, Nabi mereka satu, kitab al-Quran mereka satu dan syareat mereka satu.

Tradisi Suro di Tanah Jawa

tradisi-asyuraKalender jawa dimulai dengan bulan Suro. Bulan-bulan berikutnya mengambil nama bulan-bulan Islam atau mengambil nama peristiwa besar yang terjadi pada bulan itu. Bulan Rabiul disebut sebagai bulan Mulud. Bulan Ramadhan disebut bulan Puso.

Pertanyaannya kenapa bulan Muharram disebut sebagai bulan Suro? Kemungkinan besar itu adalah kata lain dari ‘Asyuro. Kenapa menjadi Suro? Karena lidah Jawa sulit menyebut huruf ‘ain maka untuk lebih mudahnya disingkat menjadi Suro.

Orang-orang Jawa memperlakukan bulan Suro dengan sangat sakral. Mereka berpakaian serba hitam; tidak mau berpesta-pesta apalagi mengadakan acara “mantenan”. Mereka lebih suka berdiam dan merenung sambil mencuci dan membersihkan barang-barang purba yang sakti.  Mengambil berkah dari makanan dan minuman yang sudah diarak pada malam Suro. Dan masih banyak lagi yang intinya adalah “duka”.

Apakah ada kaitannya dengan “duka” Karbala yang diperingati oleh orang-orang syiah seluruh dunia setiap masuk bulan Muharram?

Sangat sulit untuk mengatakannya tidak setelah melihat persamaan-persamaan dalam tradisi “duka” itu.

Apalagi kalau kita lihat fakta sejarah ummat Islam secara lebih luas dimana acara menyambut bulan Muharram dengan warna hitam-hitam hanya ada dan hanya ada dalam komunitas syiah saja. Tidak dalam komunitas Muslim lainnya.

Tidak berlebihan apabila kita berkesimpulan bahwa tradisi Suro di Tanah Jawa adalah Tradisi Syiah (ala) Jawa.

Assalamu ‘alal Husain

Wa ‘ala ‘Ali Ibnil Husain

Wa ‘ala aulad al-Husain

Wa ‘Ala ashabil Husain

Tahun Baru Hijriah 1436

asyura1Tgl 25 Oktober 2014 adalah hari pertama dari tahun baru Hijriah 1436 H.

Berbagai macam cara orang-orang Islam menyambutnya. Ada yang memeriahkannya dengan bergembira ria. Ada juga yang sebaliknya, awal dari hari duka. Dan, fakta yang tak bisa diinkari bahwa mayoritas kaum muslimin tidak perduli dengannya.

Ahlul Bait menyambut bulan Muharram dengan kesedihan dan duka. Dan itu tergambar dari warna-warna hitam yang menjadi pakaian setengah resmi para syiahnya. Hal itu karena pada bulan ini, persisnya pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H putra-putra Islam terbaik telah gugur di jalan Allah SWT.

Mereka adalah para pahlawan Islam yang abadi yang telah menyelamatkan misi besar Rasulullah saw dari penyelewengan dan pemutarbalikan yang telah dilakukan oleh para penguasa yang zalim. Para pahlawan sejati itu dipimpin oleh cucu Rasulullah saw tercinta yakni al-Imam al-Husain as.

Husain as telah gugur bersama belasan keluarganya dan 72 para sahabatnya di sebuah tempat yang bernama Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H.

Kesyahidan Husain ternyata berbuah menjada bara api yang terus membakar semangat juang hati-hati orang yang beriman selamanya. Bara itu tidak akan pernah padam selama-lamanya.

Kullu yaumin ‘Asyuro

Kullu ardhin Karbala

Kenapa kaum muslim terpecah menjadi berbagai mazhab ?

 Tanya: Pa Ust, saya mau tanya, kenapa kaum muslimin ini terpecah menjadi berbagai macam mazhab. Ada Sunni ada syiah bahkan ada juga yang namanya salafi. Apakah tidak sebaiknya kaum muslimin itu bersatu saja. Bukankah kalau orang-orang Islam bersatu maka mereka akan menjadi kuat?

 

Jawab: Bismillahir  Rahmanir Rahim. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.Pada hakekatnya kaum Muslimin itu satu. Ummat Nabi Muhammad saw itu satu. Mereka sesungguhnya disatukan oleh satu keimanan dan keyakinan bahwa Tuhan mereka satu yakni ALLAH; Nabi mereka satu yakni Nabi Muhammad saw; keimanan mereka pada hari akherat sama. Kitab mereka satu yakni kitab suci al-Quran; kiblat mereka satu yakni Ka’bah; syareat mereka satu yakni syareat Allah.

Secara prinsip sesungguhnya mereka itu satu. Karena itu al-Quran menyebut mereka dengan satu kata “wa inna hadzihi ummatukum ummatan wahidatan wa ana Rabbukum fa’buduni” (sesungguhnya ummat kalian ini adalah ummat yang satu. Dan Aku adalah Tuhan kalian maka sembahlah Aku”.

Perbedaan muncul ketika penafsiran yang beraneka ragam lahir. Sebab yang namanya penafsiran pasti akan dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman manusia yang dilaluinya.  Maka wajar saja apabila kemudian kita menyaksikan berbagai macam penafsiran yang berbeda sementara ayat atau hadis yang ditafsirkannya satu.  Ini karena ilmu masing-masing mereka tidaklah sama, demikian juga latar belakang pendidikan, budaya bahkan niat mereka juga berbeda-beda.

Misal ayat al-Quran yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah seperti “Yadullah fauqa aidihim” bahwa tangan Allah di atas tangan mereka. Ayatnya satu. Tapi penafsiran apa yang dimaksudkan dengan tangan Allah itu berbeda-beda. Ada yang menafsirkannya secara harfiah bahwa Allah benar-benar punya tangan meskipun kita tidak perlu tahu bagaimana bentuknya. Ada yang lain menafsirkan tangan Allah di ayat itu berarti Kekuasaan Allah. Sehingga kata “tangan” Allah disitu tidak diartikan secara harfiah tetapi diartikan secara takwil atau kiasan.

DI dalam al-Quran dan hadis-hadis Nabi banyak sekali hal yang serupa itu terjadi. Banyak ayat atau hadis yang ditafsirkan berbeda-beda oleh para ulama atau sarjana Muslim sehingga lama kelamaan ia membentuk sebuah mazhab dan juga komunitas atau pengikut. Dari gambaran ini Insya Allah mudah bagi kita untuk bisa memahami bagaimana asal muasal lahirnya berbagai macam mazhab di tengah ummat Islam yang sekarang telah berjumlah sekitar 1,6 miliar Muslim.

Bagaimana seharusnya kita menyukapi perbedaan2 seperti ini? Saya pikir pada point inilah setiap kita harus berjuang. Kita harus berjuang mensosialisasikan sebuah prinsip bahwa berbeda penafsiran itu tidak jelek bahkan itu adalah kodrat manusia yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT sejak alam azali. Asalkan penafsiran yang diberikan adalah penafsiran yang ilmiah, objekrif dan jauh dari motif-motif tendensius atau destruktif lainnya. Yang jelek itu adalah ketika kita mengecam atau menyalahkan secara sepihak penafsiran orang lain yang berbeda dengan penafsiran kita. Kecam mengecam apalagi kafir mengkafirkan adalah sebuah sifat yang tentu tidak gentleman bahkan itulah yang menyebabkan terciptanya perpecahan dalam tubuh Ummat Islam yang satu ini.

Dari sana kita bisa faham bagaimana pentingnya sifat dan sikap toleran yang harus kita sandang dalam hidup kita demi kesatuan dan kekuatan Ummat Nabi Muhammad saw.

 

Pendeta Koptik Mesir : Islam Bukan Ekstremis

Pendeta-Koptik-Mesir-200x300Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), sebagai organisasi yang bertujuan untuk dialog antar iman, demokrasi dan kedamaian menggelar dialog pada hari Selasa (16/9) dengan seorang tokoh agama Kristen Koptik Mesir Abuna Youhanna Bestawros. Orthodok Koptik adalah Gereja Alexandria yang merupakan salah satu dari tiga kepatriakan tradisional yang kanonik setetal Roma dan Antiokhia.

Dalam dialog yang dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh lintas agama, seperti Islam, Kristen, Konghucu dan juga Sinkh, Bapa Youhanna menyingung soal ekstremisme yang terjadi di Mesir, yang setelah gejolak politik Mesir sering disematkan pada umat Islam.

Menurut Bapa Youhanna, ekstremisme itu bukanlah bagian dari Islam, sebab umat Islam beriman pada Al-Quran. Jika ada umat Islam yang melakukan tindakan ekstremis, maka sesungguhnya mereka sedang membuat orang-orang takut kepada Islam dan Al-Quran tidak mengajarkan hal itu.

“Islam tidaklah seperti itu,” terang Bapa Youhanna.

Dia ambil contoh Mesir sebagai sebuah negara yang besar dan memiliki Universitas Islam terbesar seperti Al-Azhar, kehidupan beragama antara umat Islam dan Kristen cukup harmonis. Walaupun terdapat dari mereka yang berpindah agama, dari Kristen ke Islam dan sebaliknya, namun hal tersebut tidak mengganggu keharmonisan di antara mereka.

Yang menjadi masalah menurut Bapa Youhanna adalah ketika para ekstremis datang ke Mesir dan mencoba untuk merusak indahnya kerukunan yang ada di Mesir, dengan menggunakan kekuatan dan pedang. Hal tersebut dapat mengganggu keharmonisan masyarakat yang ada. Namun terlepas dari itu, sebagian besar dari masyarakat Mesir tidak memiliki masalah untuk hidup bersama antara umat Islam dan Kristen.

Sebagai sebuah negara yang besar dan penuh ragam, Indonesia tentu juga tidak luput dari permasalahan terkait kerukunan umat beragama. Maka berbagi cerita terkait kerukunan umat beragama dengan tokoh agama dari negara lain akan memberi pembelajaran bagi umat beragama Indonesia untuk dapat lebih mengembangkan kerukunan umat beragama yang terjalin selama ini. Apalagi Mesir memiliki catatan pergolakan kerukunan antar umat beragama dua tahun terakhir terkait dengan pergolakan politik yang terjadi di sana. (Lutfi/Yudhi)

Sumber : Abi Press

Seminar Kemanusiaan Untuk Gaza

Jose-Rizal2-e1411201179401-300x195Demi aktualisasi sikap peduli terhadap rakyat Gaza Palestina, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA mengadakan seminar kemanusiaan dengan tema “We Love We Care For Gaza” di Auditorium STFI SADRA yang berlokasi di Jakarta. “Mengaktualkan dalam bentuk pemikiran maupun tindakan,” kata Amar selaku ketua panitia seminar.

Seminar yang berlangsung pada hari Rabu (17/9) ini juga dimaksudkan untuk penggalangan dana untuk Palestina. Presidium Mer-C, dr. Jose Rizal,  yang tengah menggarap rumah sakit Indonesia di Gaza menjadi narasumber dalam seminar itu.

Jose Rizal memaparkan tiga hal yang menjadi dasar bagi Indonesia dalam memberikan bantuan ke Gaza.

Pertama, bangsa Indonesia memiliki amanah konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan.

Kedua, sebagai perwujudan ukhuwah Islamiyah, karena di Gaza terdapat masjid Al-Aqsa, tempat suci tiga agama, termasuk umat Islam yang saat ini direbut Zionis Israel.

Ketiga, atas dasar kemanusiaan. Ini yang paling penting. Karena kemanusiaan menembus sekat batas; ideologi, ras, agama dan sebagainya.

Dengan wilayah yang begitu kecil, melawan Zionis Israel yang memiliki kekuatan militer terbesar ke-5 di dunia, apa yang menyebabkan Palestina bisa bertahan?

“Membangun aliansi,” kata Jose. Aliansi dari berbagai kelompok perlawanan, baik Hamas, Fatah, Front Liberal Palestine, Jihad Islam dan sebagainya. Selain itu, kerahasiaan juga kerjasama menjadi alasan penting sebagai kunci pertahanan. Hal itu dibuktikan dengan tidak menerima mujahidin dari luar karena akan berbahaya menurut mereka, terlebih banyaknya intelijen asing yang memiliki banyak kepentingan. Bentuk kerjasama pun mereka rahasiakan. “Ketika orang tahu, Iran-Hizbullah, dan Hamas bekerjasama, tidak happy orang-orang yang suka pecah-belah,” ungkap Jose.

Untuk itulah, Jose menekankan agar mewaspadai adanya ‘sub kontraktor konflik’ yang dapat menghembuskan isu perpecahan dimana-mana.

Isu Suriah juga berpengaruh penting terhadap Palestina. Sebab, menurut Jose, kalau Suriah berhasil dikuasai pemberontak, jalan perlawanan Hizbullah terhadap Zionis Israel akan tertutup. Sebab itulah, Hizbullah merasa harus turun tangan menyelamatkan Suriah.

Isu yang sering digunakan dalam konflik Suriah menurut Jose adalah Isu Sunni-Syiah. Hal tersebut dilakukan guna mengadu domba umat Islam agar perlawanan terhadap penjajah menjadi lemah. Selain itu, juga untuk menyamarkan dalam memandang siapa kawan dan siapa lawan.

Untuk menjelaskan kepada masyarakat Indonesia, Jose beberapa kali mencoba mengadakan dialog dengan kelompok ‘garis keras’ agar mampu memandang lebih jernih saat menyikapi perang yang terjadi di Suriah maupun tempat lain. Hal itu Jose lakukan agar kaum Muslimin tidak terpecah, dan jelas dalam memandang siapa musuh. “Tapi malah saya dituduh Syiah,” kata Jose.

Sempat juga ia ingin mengadakan diskusi tentang hal itu di sebuah universitas di Solo, Jawa Tengah, malah Rektornya diancam, akhirnya tidak jadi diskusi. Itulah yang dialami Jose Rizal, seorang aktivis kemanusiaan yang mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya yang  ia temui di medan pertempuran.

Selain menyampaikan keadaan tersebut, Jose juga memetakan arah pertempuran di Timur Tengah saat ini, terutama di Suriah.
“Iran, Hizbullah, dan Rusia berada dalam plot perlawanan membela Suriah,” kata Jose. Sementara di pihak oposisi, ada “Amerika, NATO, Quwait, Qatar, Mesir, Turki, Saudi Arabia”. Tapi lucunya, di Mesir, ketika Mursi jatuh, pecah kongsi. “Saudi Arabia mendukung militer, Qatar mendukung Mursi.”

Di akhir seminar itu, Jose mengajak para peserta untuk terus melakukan kampanye membela Palestina, melalui media sosial maupun media lainnya. (Malik/Yudhi)

Jose Rizal: Rahmatan Lil Alamin dan Kemanusiaan Bekal Dasar Kemanusiaan

Sumber :Abi Press

Menag Optimis Pengungsi Syiah Sampang Pulang Ke Kampung Halaman

IMG-20140805-WA0005Kunjungan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menumbuhkan harapan baru yang lama mengering akibat abainya pemerintah terhadap nasib pengungsi Syiah Sampang. Seperti diketahui para korban tindak kekerasan dan penyerangan yang kini menempati lokasi pengungsian itu, sudah mengalami distrust terhadap sejumlah janji pemulangan mereka ke tanah kelahirannya di Sampang.

Selasa Malam (5/8) ba’da Maghrib, rombongan Menteri Agama datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah Sampang di Rusun Jemundo Sidoarjo, Jawa Timur. Lukman Hakim selaku Menteri Agama yang baru menyatakan bahwa  masalah ini harus cepat diselesaikan agar tidak ada pihak ketiga yang memancing di air keruh. “Kita harus segera menemukan titik temu agar tidak ada pihak ketiga yang memanfaatkan,” ujar Lukman Hakim. Read More »