Tag Archives: syiah

Boroujerdi: Melawan Ketamakan AS, Strategi Permanen Iran

miriam20111102160345390Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri, Majelis Syura Islam Iran menilai resistensi dalam menghadapi ketamakan Amerika Serikat di berbagai bidang termasuk dalam proses perundingan nuklir, adalah strategi permanen Iran.

Alaeddin Boroujerdi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran dalam wawancaranya dengan IRIB World Service (13/11) mengatakan, “Selama Amerika tidak menyusun jalur perundingan agar sesuai dengan kebijakan dua arah dan yakin bahwa Iran harus menyerah pada pandangan mereka, maka perundingan tidak akan pernah berhasil.”

Ia menjelaskan, “Iran dalam beberapa tahun terakhir berhasil mengatasi dengan baik sanksi-sanksi dan mampu mencapai sejumlah keberhasilan signifikan di bidang nuklir sekalipun dijepit banyak pembatasan-pembatasan. Oleh karena itu jika Amerika terus melanjutkan strategi lamanya, maka pihak yang kalah sebenarnya adalah mereka.”

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran berharap dalam putaran baru perundingan nuklir Iran dan Kelompok 5+1, masyarakat internasional akan menyaksikan sikap yang lebih rasional Amerika Serikat terkait hak nuklir Iran dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan final. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :Indonesia Irib

Ringkasan Pidato Rahbar di Hadapan Para Petugas Haji Iran

aks_rahbarPemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai ibadah haji sebagai kesempatan terbaik untuk menghadapi konspirasi untuk memisahkan Iran dari Dunia Islam, menjawab keraguan-keraguan dan propaganda musuh Islam, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan maknawi serta pemikiran umat.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (28/10) dalam pertemuannya dengan petugas haji tahun ini menegaskan, “Perencanaan untuk meningkatkan kinerja pelayanan haji dengan visi transformatif dan inovatif guna memenuhi kebutuhan maknawi dan intelektual umat, juga untuk menjawab keraguan dan propaganda musuh adalah sesuatu yang urgen.”

Ia menambahkan, “Membangun tembok untuk memisahkan Iran dan Dunia Islam merupakan salah satu langkah musuh persatuan umat Islam, dan semua harus menggunakan kesempatan haji dengan sebaik-baiknya sebagai medan umat Islam untuk meruntuhkan tembok ini dan merubah gambaran serta keyakinan keliru akibat propaganda musuh.”

Ayatullah Khamenei menganggap penting persatuan Islam sebagai kebutuhan nyata hari ini Dunia Islam. “Persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam merupakan bagian dari ajaran Islam dan dalam hal ini, Iran tidak berkompromi dengan siapapun,” tegasnya.

Menurutnya, persatuan Islam bukan berarti berpindah keyakinan mazhab Islam. “Persatuan Islam yang merupakan slogan mendasar Republik Islam Iran, yaitu, umat Islam satu sama lain tidak bermusuhan dan saling membantu dalam masalah-masalah penting dunia,” katanya.

Ayatullah Khamenei juga menekankan urgensi mengenal potensi kerugian dan menemukan faktor-faktor efektif dalam menyikapi propaganda musuh. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :< a href=”http://indonesian.irib.ir/iran/rahbar/item/87136-ringkasan-pidato-rahbar-di-hadapan-para-petugas-haji-iran”>Indonesia Irib

Mengenang Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy

said-ramadhanDekat penguasa bukan berarti menjilat. Ia memanfaatkan kedekatan itu dalam rangka amar makruf nahi munkar. Ketika kecil Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy tinggal di perbatasan Iraq-Suriah-Turki, bersama ayahnya tercinta, Syaikh Mulla Ramadhan Al-Buthy. Karena kekhalifahan Al-Utsmani jatuh, lalu Ataturk berkuasa, dan memerangi syariat Islam, maka Syaikh Mulla mengajak Al-Buthy hijrah ke Damaskus.

Sejak tinggal di Damaskus, Al-Buthy langsung digembleng ayahnya sendiri, yang merupakan ulama besar waktu itu. Saat usianya menginjak sekolah dasar, sang ayah mengajarkan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kitab Dzakhirah Al-Labib fi Ma’rifati Al-Habib. Setiap hari sang ayah juga mengajarkan tafsir al-Qur`an hingga 5 sampai 6 ayat. Dalam ilmu nahwu, sang ayah juga mewajibkan Al-Buthy menghafal bait-bait Alfiyahnya Ibnu Malik, hingga mampu menghafalnya kurang dari satu tahun. Dan dalam usia belum baligh, dia sudah hafal Nadzam Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Imrithi yang jumlahnya lebih dari seribu bait.

Lulus ibtidaiyah, ayahnya mengirim Al-Buthy kepada ulama besar Suriah, Syaikh Hasan Habanakah Al-Maidani. Maka tak heran bila ayah dan Habanakahlah yang sangat mempengaruhi kehidupan Al-Buthy. Hal ini terlihat dari sikap dan penghormatan Al-Buthy kepada sang ayah.

Dr Ahmad Bassam, Rektor Universitas Ladzikiyah berkisah. Suatu kali Al-Buthy meminta izin kepada sang ayah melalui telepon saat hendak memperpanjang kunjungan ke Ladzikiyah. Ketika sang ayah tidak mengizinkan, ia menurut begitu saja, tanpa ada upaya diplomasi untuk memperoleh izin. Padahal, saat itu usia Al-Buthy sudah 40 tahun dan menjadi Dekan di Univeristas Damaskus!

Dari Habanakah, Al-Buthy mengambil pelajaran terkait sikapnya kepada penguasa. Habanakah pernah diajak oleh beberapa ulama lain untuk melakukan gerakan melawan pemerintah. Namun ia menolak. Seorang ulama bertanya kepadanya, mengapa menolak?

Lalu Habanakah balik bertanya, ”Siapa yang menggerakkan aksi itu. Apakah kalian sendiri yang menggerakkannya?” Si penanya menggelengkan kepala. Belakangan terkuak, penggerak aksi demo itu tak lain adalah intelijen sendiri. Pelajaran itulah yang diambil oleh Al-Buthy, tidak mudah bergabung dengan gerakan anti pemerintah jika tidak jelas siapa yang menggerakannya.

Di saat berada di bawah bimbingan Habanakah, para guru mendorongnya untuk menghafal al-Qur`an, namun sang ayah melarangnya karena besarnya dosa mereka yang menghafalkan tetapi melupakannya. Namun karena Al-Buthy dasarnya gemar membaca al-Qur`an, dalam 3 hari dia berhasil menghatamkan 30 juz.

Pada umur 18 tahun Al-Buthy menikah. Lalu pada tahun 1954 dia melanjutkan belajar ke Al-Azhar Mesir. Pada saat menjadi mahasiswa, Al- Buthy rajin menulis artikel sastra dan masalah sosial kemasyarakatan ke koran Al-Ayyam.

Setelah memperoleh gelar sarjana dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, Al- Buthy ditunjuk menjadi dosen di Universitas Damaskus. Pada tahun 1977, dia diangkat menjadi Dekan Fakultas Aqidah.

Al-Buthy jauh dari kehidupan luar, karena sibuk mengajar, baik di Universitas Damaskus mapun di beberapa masjid seperti Masjid Tinkiz dan Masjid Al-Iman dan Masjid Al-Umawi. Hal itu berlaku hingga tahun 1981.

Tetap Memegang Prinsip

Pada tahun 1985 terjalin hubungan khusus antara Al-Buthy dengan Presiden Suriah Hafidz Al-Assad. Hubungan itu terbangun dengan dipanggilnya Al-Buthy oleh Hafidz Al-Assad, setelah dia membaca beberapa buku karya Al-Buthy. Setelah itu, Al-Buthy sering menghadiri undangan khusus dari Hafidz Al-Assad.

Dari hubungannya itu, Hafidz Al-Assad yang sebelumnya dikenal amat keras terhadap gerakan Islam langsung membebaskan puluhan tahanan politik dari para aktivis Islam, terutama Al-Ikhwan Al-Muslimun. Dengan kejadian itu, Al-Ikhwan yang sebelumnya mengkritik keras sikap Al-Buthy berbalik memberikan penghormatan. Salah satu tokoh Al-Ikhwan yang mengakui hal ini adalah Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Al-Buthy juga mengkritik gerakan perlawanan aktivis Muslim di Aljazair. Kritik itu dituangkan dalam sebuah buku berjudul Al-Jihad fi Al-Islam.

Ternyata banyak pihak yang menentang buku itu. Tetapi tiga tahun kemudian, para pengkritik membenarkan pendapat Al-Buthy setelah mengetahui bahwa dalang peristiwa Aljazair adalah intelijen Perancis.

Al-Buthy juga tetap konsisten. Amar makruf nahi munkar juga terus dia tunjukan kepada pemerintah di masa Bashar Al-Assad (anak Hafidz Al-Assad), Presiden Suriah sekarang. Baik secara terang-terangan maupun langsung. Kritiknya terhadap kurikulum yang jauh dari Islam, serial TV pemerintah yang isinya merendahkan nilai-nilai Islam, hingga kasus pemecataan beberapa guru yang memakai cadar.

Pada kasus terakhir, Al-Buthy terang-terangan menyampaikan kritik dan mengajak Pemerintah dan umat Islam bertaubat, karena di saat yang sama pemerintah mengumumkan agar umat Islam melaksanakan shalat Istisqa’. Alhamdulillah, pemerintah pun mengubah kebijakannya setelah kritikan itu.

Para pengamat juga menilai bahwa keputusan Pemerintah Suriah mendukung organisasi perlawanan Palestina juga karena pengaruh Al-Buthy.

Meski demikian, Al-Buthy bukanlah ulama yang mendapat gaji dari pemerintah seperti mufti negara dan mufti wilayah atau pegawai bidang keagamaan. Bahkan dia menolak dimasukkan dalam Kementerian Perwakafan Suriah.

Dia juga sempat ditawari menjadi pengisi tetap siaran di televisi Aljazeera dan pernah diminta menjadi pengajar sebuah universitas di luar Suriah, dengan tempat tinggal yang nyaman dan memperoleh uang yang lebih dari cukup. Namun, Al-Buthy lebih memilih mengajar di masjid-masjid Damaskus, yang telah dia lakukan selama lebih dari 40 tahun. Al-Buthy menaggapi tawaran itu dengan menyatakan, ”Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy malu jika dihadapan Allah ditanya mengenai nasib 5 ribu pencari ilmu yang ditinggalkan karena mencari dunia”.

Ulama yang juga menjadi ketua Ikatan Ulama Negeri Syam ini akhirnya tetap dalam posisinya, sebagai pengajar di beberapa masjid di Damaskus dan kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan sedang mengajar.

Dia meninggalkan lebih dari 60 karya, seperti Tarikh Dirasat Al-Quraniyah (3 jilid), Syarh Al-Hikam Al-Athaiyah (5 jilid), Qadhaya Fiqhiyah Muashirah (2 jilid), Ma’a An-Nas Musyawarat wa Al-Fatawa (2 jilid), Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah dan lain-lain. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal kebaikannya dan mengampuni semua kesalahannya. Aamiin (Liputan Islam/ AF)

Sumber :Liputan Islam

[Sebuah Kesaksian] Indahnya Akhlak Asy Syahid Syeikh al-Buthi

syeikh-buthi-2-278x300LiputanIslam.com– Dalam satu pertemuan,  (alm) Presiden Hafez al-Assad curhat kepada (Asy Syahid) Syeikh al-Buthi tentang kampung halamannya Latakia (orang Suriah menamakannya Mantiqah Jabaliyah, mayoritas penduduknya sekte Alawiyin atau lebih dikenal dengan Nushayriyah).

“Doktor, apakah sekarang ada para mahasiswa dari sekte Alawiyin yang belajar di Fakultas Syariah Universitas Damaskus yang Anda pimpin sekarang?”

Syeikh al-Buthi menjawab, “Tidak ada satu orangpun.”

Lalu Presiden berkata, “Apakah Anda akan menerima mereka jika saya memberi mereka beasiswa tiap tahun kepada 40-50 orang anak berbakat dari sekte Alawiyin agar bisa masuk ke Fakultas Syariah? Karena masalah yang dihadapi masyarakat di kampung halaman saya adalah jahil (kebodohan), tidak ada yang mengajari mereka. Kalau mereka berteman dengan orang Sunni mereka menjadi Sunni. Kalau berteman dengan Syiah maka akan jadi Syiah. Kalau berteman dengan Kristen ya jadi Kristen. Bahkan jika berteman dengan atheis, mereka akan jadi atheis. Hal ini benar-benar membuat saya bersedih, jadi saya sangat berharap Anda bisa menerima mereka.”

Syeikh al-Buthi menjawab, “Wahai Bapak Presiden seharusnya tanggung jawab kami untuk datang kepada mereka, dan kalau Anda mau melakukan itu seharusnya kami yang berterima kasih.”

Dan tahun ajaran selanjutnya beasiswa mulai berjalan, sekitar 40-50 mahasiswa utusan dari sekte Alawiyin terdaftar di kuliah di Fakultas Syariah.

Suatu hari saat Syeikh al-Buthi keluar dari kelas, salah satu mahasiswi yang menerima beasiswa, menghampiri beliau dalam keadaan menangis dia bertanya, “Ustadz, saya dengar dari orang-orang, kami sekte Nushayriyah bukan orang Islam, apa benar seperti itu?”

Syeikh al-Buthi balik bertanya, “Bukankah kamu mengucap syahadat?”

“Iya, saya juga shalat 5 waktu,” jawab mahasiswi tersebut sambil terus menangis.

Air mata Syeikh al-Buthi mulai menetes lalu beliau berkata kepada mahasiswi itu, “Kalau begitu kamu seorang muslimah, dan bahkan kamu jauh lebih baik daripada saya. Tolong doakan saya.”

*****

Tanpa kita sadari betapa zalimnya kita, kita sadari atau tidak kita sering membuat orang lain merasa kalau mereka tidak pantas menjadi muslim, dengan mudahnya kita sambil bersender dan minum kopi pahit, lalu update status dan memvonis mereka dengan cap kafir, bajingan, fasiq, taghut, zalim, sesat, tanpa pernah sekalipun kita mencoba berdakwah secara baik-baik kepada mereka.

Bahkan kita memvonis hanya bermodal info dari YouTube, Google, dll, tanpa sekalipun bertemu mereka, atau membaca buku-buku yang menjadi rujukan mereka.

Apakah seperti ini ajaran Islam? Apakah dulu Rasul Saw seperti itu ketika berdakwah? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sudah sangat jauh dari agama?

Sumber :Liputan Islam

Letak Perbedaan Pendapat Sunni-Syiah

no-sunni-syiah-53aa3f4499e6bBerikut ini beberapa letak perbedaan antara kelompok Sunni-Syiah;

Mushaf Fatimah. Letak perbedaan pendapat ada pada klaim Mushaf Fatimah.

Dr Al-`Awwa menekankan bahwa ada perbedaan antara mazhab dan partai. Mazhab mengacu pada keputusan hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, halal, dan sebagainya. Sedangkan partai mengacu pada sekelompok Muslim yang mendukung kelompok dan pemikiran tertentu, membedakan diri dari umat Islam lainnya yang berkaitan dengan masalah iman.

Selain itu, ia menekankan pentingnya dialog dengan Syiah, yakni kelompok Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja` fariyyah), di mana Syiah ini kebanyakan berada di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, dan semua negara-negara Teluk. Saat ini, pandangan politik dan jihad para pengikut kelompok ini memiliki dampak besar bagi Islam.

Dr Al-`Awwa juga menjelaskan bahwa ada alasan umum antara Sunni dan Syiah yang mengharuskan mereka menjunjung persatuan, selain karena mereka memiliki keimanan yang sama terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Juga,  mereka sama-sama meyakini akan perintah umum Islam lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Selain itu, baik Sunni maupun Syiah sepenuhnya menerima semua hal yang difirmankan Allah Swt. Tidak ada Muslim Sunni atau Syiah yang bertentangan mengenai semua fakta yang terkandung dalam Al Qur’an, baik dari sampul salinan hingga isi keseluruhan Qur’an, dari Surat Al-Fatihah hingga Surat An-Nas. Kedua kelompok besar Islam ini meyakini bahwa  firman Allah Swt. ini diwahyukan  kepada Nabi Muhammad Saw.

Klaim bahwa Syiah telah menyelewengkan Al Qur’an didasarkan pada buku Fasl Al-Khitab Fi Ithbat Tahrif Kitab Rabb Al-Arbab (Final Word on the Proof of Perversion of the Book of the Lord of Lords) karya An -Nuri At-Tabrasi. Hal ini juga didasarkan pada informasi palsu yang disebutkan dalam beberapa buku Syiah tentang sebuah buku berjudul Mushaf Fatimah (Fatimah Copy Al-Qur’an). Namun, klaim ini, bahkan disangkal oleh ulama Sunni dan Syiah.

Misalnya,  penolakan terhadap klaim itu terdapat dalam kitab Al-Mirza Borujerdi di mana ia berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang dikeluarkan oleh pendapat An-Nuri. Buku Al-Borujerdi ini dipuji oleh Hibatullah Ash-Shihristani (seorang sarjana Syiah) di salah satu suratnya kepada penulis. Dalam surat tersebut, Ash-Shihristani menggambarkan keadaan kota Samarra’ menyusul terbitnya buku An-Nuri. Dia berkata, “Aku melihatnya [Samarra’] seperti surga bagi para pendatang baru. An-Nuri, melalui bukunya Final Word. Setiap kali kami mulai sesi agama (hawzah), ada banyak yang menentang isi buku, penulis, dan penerbitnya.”

“Jika hal-hal yang diutarakan penulis “Fasl Al-khitab” tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka apa yang ia tulis akan ada nilainya, baik dalam pengetahuan maupun praktek. Sebaliknya, [buku] itu hanya rekaman narasi lemah.”

Selain Hibatullah Ash-Shihristani, ada juga yang membantah pendapat An-Nuri, yakni Sheikh Al-Mufid dan Sheikh Al-Khu’i.

Adapun yang disebut Mushaf Fatimah, Imam Ja’far As-Shadiq berkata, “Apa pun yang termasuk di dalamnya adalah bukan dari Al Qur’an. Sebaliknya, itu adalah sebuah interpretasi dari apa yang terungkap melalui Jibril [Malaikat Jibril] dan disampaikan oleh Nabi Saw.”

Selain itu, Syiah menunjukkan bahwa mushaf, yang umumnya berarti salinan Al Qur’an, juga dapat berarti isi yang terletak di antara dua sampul buku apa pun. Selain itu, mushaf merupakan sebuah kata yang baru diciptakan—yang tidak digunakan sebagai nama untuk Al Qur’an di masa lalu.

Oleh karena itu, dengan merujuk syiah menyeleweng dengan berdasar pada Mushaf Fatimah, maka Syiah tidak berarti meyakini bahwa isinya adalah Firman Allah. Kesimpulan ini kemudian diperkuat oleh fakta bahwa Syiah tidak terlihat memegang salinan Al Qur’an selain Al Qur’an itu sendiri. Hal ini terlihat dari penelusuran yang menemukan bahwa Mushaf Fatimah tidak ada di perpustakaan buku-buku agama Syiah. Seperti telah disebutkan, semua umat Islam, Sunni dan Syiah, percaya pada Al Qur’an yang sama.

Imamah Ali. Perbedaan antara Sunni dan Syiah termasuk kontroversi atas keyakinan Syiah bahwa imamah adalah posisi Ilahi. Yakni menempatkan kepemimpinan kepada orang yang ditunjuk langsung Allah atau Rasul-Nya. Mereka percaya bahwa Nabi telah menunjuk Ali bin Abi Thalib dan mengatakan bahwa imamah harus diberikan kepada Ali sampai ke imam kedua belas, Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askari (Imam Mahdi menurut kepercayaan Syi’ah).

Sunni, di sisi lain, mengabaikan keyakinan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada teks ilahi mengenai imamah. Mereka menganggap imamah masalah Fiqih (hukum Islam), bukan masalah yang berkaitan dengan iman.

Kelompok Sunni juga percaya bahwa Imam Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama.

Ayatullah Shariatmadari berpendapat bahwa orang memiliki hak untuk mengatur diri mereka sendiri dan memilih wakil-wakil mereka melalui pemungutan suara. Dia juga percaya bahwa hal itu tidak dibolehkan untuk satu orang atau kelas tertentu secara eksklusif dalam kepemerintahan. Pandangannya secara eksplisit menentang teori otoritas Faqeeh (ulama fiqh) yang ditegakkan oleh Ayatullah Khumeini. Ayatullah Muhammad Mahdi Shams-ud-Din dan Ayatullah Muhammad Husain Muntazeri juga di antara mereka yang memiliki pendapat berbeda tentang masalah ini.

Dr Al-`Awwa percaya bahwa itu adalah tugas ulama Sunni (khususnya mereka yang tertarik mendalami fiqh politik) untuk mencari tahu lebih jauh tentang pendapat mereka untuk selanjutnya diadopsi oleh ulama Syiah Imamiyah dari Ithna`Ashriyyah. Para ulama Sunni harus bekerja sama untuk mencari kesesuaian mengenai masalah ini, yang telah memicu pertikaian pertama di antara umat Islam setelah kematian Nabi.

Imam Mahdi yang ditunggu. Bagian dari perselisihan antara Sunni dan Syiah adalah karena keyakinan Syiah yang menunggu kedatangan Imam Mahdi atau Imam Al-`Askari (imam Syiah dua belas). Kelompok Syiah percaya bahwa imam Mahdi akan kembali sebelum Hari Akhir dan menyebarkan keadilan di seluruh dunia setelah terjadi ketidakadilan.

Kaum Sunni juga percaya bahwa Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama (Islam). Juga, sementara Sunni percaya bahwa semua orang bertanggung jawab terhadap dosa kecuali Nabi, Syiah percaya bahwa Mahdi sempurna.

Tuqyah atau Taqiyyah. Titik lain terjadinya perbedaan pendapat dalam hal keyakinan Syiah Imamiyah adalah Tuqyah. Taqiyyah umumnya berarti bahwa seorang Muslim menyembunyikan keyakinan atau keimanan karena dorongan keterpaksaan guna menyelamatkan dan menjaga jiwa, kehormatan maupun hartanya di tengah-tengah kejahatan yang dilakukan orang kafir. Pendapat ini didasarkan pada ayat berikut: 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. AI Imran :28)

Penghinaan terhadap sahabat. Penghinaan kaum Syiah terhadap sahabat Nabi merupakan titik perselisihan serius antara Sunni dan Syiah. Sebenarnya, sulit untuk mendamaikan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (ra.)” dengan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (semoga Allah mengutuknya)!”

Kaum Sunni tidak pernah menghina apapun; mereka mengutuk siapa pun yang melakukannya. Namun, fenomena penghinaan Syiah kepada sahabat berkurang seiring berjalannya waktu. Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, presiden Uni Internasional Cendekiawan Muslim, menegaskan bahwa kecenderungan menahan diri dari memaki-maki para sahabat mulai menyebar di Iran. Selain itu, pada hari-hari awal Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumeini mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengutuk para sahabat akan dianggap kafir.

Selain itu, Grand Mufti Mesir Dr Ali Jum’ah menegaskan bahwa edisi baru dari buku 110 jilid Bihar Al-Anwar (Seas of Lights) yang dicetak oleh Al-Majlisi di Beirut, Lebanon, Volume 29 sampai 33, termasuk pelanggaran kepada para sahabat.

Ini semua tentang politik. Sejarah membuktikan bahwa politik adalah alasan di balik perpecahan pertama di kalangan umat Islam. Ironisnya, hal yang sama berlaku di zaman modern ini yang membesar-besarkan perbedaan pendapat antara Sunni dan Syiah. Tanda-tanda pertama dari perpecahan muncul pada tahun 1979 setelah pecahnya revolusi Iran. Sementara revolusi ini mendapat dukungan dari banyak orang di seluruh Dunia Muslim, hal itu menimbulkan kekhawatiran dari beberapa penguasa.

Perang Iran-Irak (1980-1988) membuat situasi lebih buruk. Meskipun itu bukan perang Sunni-Syiah, namun perkelahian itu ditafsirkan banyak pihak mengarah pada dua kelompokk besar Muslim itu. Akibatnya, orang-orang Arab terpecah menjadi dua kelompok: satu mendukung orang-orang Arab melawan Iran dan yang lainnya melihat pertarungan sebagai perang agresi terhadap negara Islam yang menang atas Shah.

Setelah itu, Hizbullah di Lebanon muncul sebagai partai Syiah dan memimpin perlawanan Islam, yang memaksa Zionis dari Lebanon selatan pada tahun 2000. Pada akhir Juli 2006 Perang di Lebanon, Hizbullah mendapatkan popularitas lebih di Dunia Muslim. Para penguasa Arab, bagaimanapun, menunjukkan reaksi yang berbeda; beberapa penguasa Arab digambarkan sebagai petualangan perang yang salah perhitungan. Juga, manajemen yang efisien Iran terkait sengketa dan program nuklirnya memperkuat citra yang lebih positif dari Syiah.

Kesimpulannya, semua peristiwa ini memerlukan persatuan umat Islam, sehingga mereka akan mampu melindungi kepentingan seluruh umat Islam. Dialog dan pemulihan hubungan harus ada antara masyarakat itu sendiri, bukan mazhab, karena mazhab merupakan posisi hukum dan ideologi mapan yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, kerjasama dan saling mengenal antara masyarakat yang berbeda mahzab atau apa yang sering kita sebut dialog dan pemulihan hubungan—yang bertujuan untuk mencapai kesatuan dan kekuasaan di tingkat sosial, budaya, ekonomi dan politik sangat diperlukan kedua kelompok.  Wallahu A’lam Bishowab. [LS]

 

Sumber: OnIslam

Hubungan Antara Sunni dan Syiah

sunni_and_shia_unity_by_fatimach-d6viy0o-53aa3c9d550b6Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain.
Pemulihan hubungan dan dialog di sekolah atau pusat pendidikan yang mengedepankan pemikiran Islam bertujuan untuk menjaga “tubuh Islam”, agar Islam sebagai agama tetap hidup, koheren, dan kuat, sehingga umat Islam dapat menjaga umat dari musuh-musuhnya. Dalam Al Qur’an, Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al-Anfal: 60)

Dengan demikian, kepatuhan terhadap pluralisme dalam Islam –dengan saling menghormati—terbukti dengan pandangan dan pemikiran yang berbeda—merupakan benteng kekuasaan. Sementara itu, mencoba untuk memaksakan pikiran atau pandangan tertentu pada orang lain merupakan jalan menuju kelemahan dan kehancuran. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah untuk meningkatkan persatuan Islam dan untuk melaksanakan perintah Allah Swt. yang tercantum dalam  Surat Ali Imron : 103.

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya, kamu menjadi bersaudara.”

Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain. Allah Swt. berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat 49:13)

Oleh karena itu, Sunni dan Syiah—kelompok terbesar dalam umat Islam—perlu mengenal satu sama lain. Cendekiawan Muslim terkemuka dunia, Dr Al-`Awwa menjelaskan secara singkat tentang keadaan historis yang menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam pasca kematian Nabi Muhammad Saw.

Setelah kematian Nabi, empat sahabat diasumsikan dalam kekhalifahan. Abu Bakar As-Siddiq terpilih sebagai khalifah pertama. Ia digantikan oleh Umar ibn Al-Khattab dan kemudian Utsman ibn Affan, yang kemudian dibunuh di tengah kerusuhan politik karena ketidaksetujuan masyarakat atas beberapa tindakannya.

Setelah itu, Ali ibn Abi Thalib diakui sebagai khalifah keempat, namun ada ketidaksepakatan di antara masyarakat mengenai posisinya. Beberapa menolak untuk mengakuinya sebagai khalifah, dan sebagian lain memberikan dukungan mereka untuknya. Kelompok ketiga, bagaimanapun, menganggapnya sebagai seorang imam dan khalifah yang sah. Ketidaksepakatan tersebut masih ada di zaman modern kita saat ini.

Selama kekhalifahan itu, Ali ibn Abi Thalib berselisih dengan Thalhah ibn Ubayd Allah dan Az-Zubair bin Al-Awam. Juga, berselisih dengan Mu’awiah bin Abi Sufyan. Pertengkaran ini memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

Perjuangan bersenjata antara Ali dan Mu’awiah membagi umat menjadi tiga pihak:

Pihak pertama berpihak pada Ali sepanjang dan setelah perjuangannya. Para anggota sisi ini kemudian dikenal sebagai Partai (Syiah) dari Ali. Nama itu kemudian dikurangi menjadi Syiah. Partai ini semakin pecah menjadi banyak golongan, yang sebagian besar tidak ada lagi. Kini, yang tersisa hanya dua kelompok tetap, yakni Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja`fariyyah) dan Zaidiyah.

Pihak kedua kemudian dikenal sebagai Al-Khawarij (pembangkang). Penamaan pada kelompok ini telah disematkan sejak awal. Namun, mereka tidak ada lagi. Hari ini, tidak ada jejak mereka yang dapat ditemukan.

Pihak ketiga adalah kelompok yang dikenal sebagai Ahl As-Sunnah Wal-Jama ah. Kelompok inilah yang kemudian menyasar sebagian besar umat Islam yang selama perang terpecah menjadi kelompok Ali dan Mu`awiyah. Namun, pada akhirnya, ketika Al-Hasan ibn Ali mengundurkan diri dari kekhalifahan mendukung Muawiyah, kedua kubu tersebut digabung menjadi satu partai.

Satu hal yang menjadi alasan utama di balik perpecahan tersebut di kalangan umat Islam adalah politik. Kemudian, meluas ke permasalahan keyakinan dan hukum. Masing-masing pihak memiliki konsep dan alasan tersendiri terkait pendapat mereka. [LS]

Sumber :Islam Indonesia

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (2)

qaeda1-53fcafebd4e63Setelah menyodorkan sejumlah referensi yang mendukung asumsinya, Hasan melanjutkan argumennya: alih-alih berpijak pada motif-motif religius, terorisme lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor radikalisasi yang lain. Di antaranya, kemarahan moral, kekecewaan, tekanan kelompok sebaya, krisis identitas, hiangnya rasa memiliki dan tujuan hidup.

Antropolog Scott Atran meringkaskan motif-motif itu dalam kesaksiannya di Senat AS, Maret 2010 lalu: “… Apa yang menginspirasi para teroris paling mematikan di dunia saat ini bukanlah Al-Qur’an atau ajaran-ajaran agama, melainkan dorongan dan gairah menggelora untuk melakukan aksi yang menjanjikan kejayaan dan kehormatan di mata teman-teman sebaya, dan melalui mereka, penghargaan dan kenangan abadi di dunia yang lebih luas.” Atran melukiskan para calon jihadis sebagai remaja yang “dirundung kejenuhan, kurang pekerjaan, kelebihan sanjungan dan kurang gairah” yang melihat “jihad sebagai sesuatu yang egalitarian, kesempatan kerja yang setara… penuh keseruan, kejayaan dan keasyikan.”

Atau, mengutip Chris Morris, penulis dan sutradara komedi hitam produksi 2010 berjudul Four Lions—yang mensatirkan kedunguan, kekonyolan dan keluguan murni beberapa jihadis Muslim asal Inggris—pernah menyatakan: “Terorisme memang berkaitan dengan ideologi, tapi lebih banyak lagi berkaitan dengan kedunguan.”

Orang-orang lugu, bukan para martir—itulah mereka.

“Sosok-sosok dungu,” kata kepala MI6 Richard Dearlove, bukan pejuang-pejuang suci. Jika kita ingin menangani jihadisme, kita perlu berhenti membesar-besarkan ancaman remaja ini dan memberi oksigen ketenaran dan kemasyhuran yang mereka idam-idamkan, lalu mulai menggarisbawahi bagaimana banyak dari mereka benar-benar hidup bertentangan dengan aturan Syariat di luar dinas “jihad” mereka.

Semasa hidup di Filipina tahun 1990-an, Khalid Sheikh Mohammed, yang digambarkan sebagai “arsitek utama” serangan 11 September oleh Komisi 9/11, pernah menerbangkan helikopter di atas gedung kantor tempat pacarnya bekerja dengan spanduk bertuliskan “I love you.” Keponakannya, Ramzi Yousef, yang divonis penjara seumur hidup karena perannya dalam aksi teror World Trade Center 1993, juga punya pacar dan, seperti pamannya, kerap terlihat di daerah pelacuran Manila. Agen FBI yang memburu Yousef mengatakan bahwa dia “bersembunyi di balik jubah Islam.” Sejumlah keterangan saksi mata menyatakan bahwa para pembajak 9/11 sering mengunjungi bar dan klub tari telanjang di Florida dan Las Vegas beberapa saat sebelum melakukan aksi teror mereka. Para tetangga Hamid Ahmidan—terpidana kasus peledakan kereta di Madrid tahun 2004—mengenangnya sebagai “pria yang suka berkeliling dengan motor dengan pacarnya yang berambut panjang, wanita Spanyol yang berselera mengenakan busana super ketat,” menurut berbagai laporan media.

Agama, sudah tentu saja, memainkan peran penting dalam semua ini, terutama bentuk Islam yang diselewengkan dan dipolitisasi menjadi “kendaraan emosional”, sebagai sarana mengartikulasi kemarahan dan memobilisasi massa di belahan dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tapi, prasangka bahwa bahaya itu datang dari mereka yang taat beragama dapat menghilangkan nyawa yang tak berdosa. Harus ada penawar generalisasi yang kian mengharu-biru media. Bahwa tidak semua Muslim itu Islamis, tidak semua Islamis itu jihadis dan sebagian terbesar semua jihadis justru tidak taat dalam beragama. Mengklaim sebaliknya bukan saja tidak akurat dan melenceng tapi juga dapat mengakibatkan korban jiwa yang tak berdosa.

Kesimpulannya, menurut Hasan, di dunia nyata, bukan dunia yang dibentuk media, calon-calon jihadis umumnya justru tidak begitu paham agama, tidak taat menjalankannya dan memiliki motif-motif yang justru dikecam oleh agama, seperti mencari kemuliaan kemasyhuran pribadi dan sejenisnya. Di sisi lain, aparat keamanan dan hukum juga harus mulai membaca buku-buku yang mengambil perspektif lain tentang para jihadis tersebut dan menonton—setidaknya—film-film sejenis The Four Lions yang memperlihatkan para calon pejuang suci dari sudut pandang yang terbalik.

Sumber :Islam Indonesia

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (1)

qaeda1-53fcafebd4e63Bisakah Anda menerka bahan bacaan macam apa yang dipesan dua teroris Yusuf Sarwar dan Mohammed Ahmed dari Amazon sebelum mereka berangkat dari Birmingham untuk berjihad di Suriah, Mei silam? Tidak mudah. Mereka tidak membaca karya-karya ideolog macam Sayyid Qutb, pesan-pesan Usama bin Laden, buku-buku kaum anarkis atau sejenisnya. Tidak.

Sarwar dan Ahmed, yang sama-sama telah menyatakan bersalah atas tuduhan terorisme, membeli buku pengantar Islam berjudul Islam for Dummies dan The Koran for Dummies. Kedua buku ini menunjukkan tingkat pemahaman Islam kedua “mujahid” tersebut. Dua karya tingkat dasar itu mengukuhkan lebih jauh argumen yang menyatakan bahwa ajaran Islam nyaris tidak berhubungan dengan gerakan jihad modern.

Kaum remaja Muslim bermata nanar yang terlihat menikmati penyembelihan dan pemboman sadistis itu boleh jadi berupaya menjustifikasi aksi-aksi kekerasan mereka dengan retorika religius— seperti aksi-aksi eksekusi mati dan penyembelihan mereka yang selalu dimeriahkan oleh teriakan “Allahu Akbar”; ISIS yang menyembelih fotojurnalis James Foley sebagai bagian dari “jihad”. Tapi, faktanya, semangat agama bukan yang paling besar memotivasi mereka.

Mehdi Hasan, kolumnis dan pemerhati masalah agama, membeberkan kesahihan argumen di atas. Pada tahun 2008, sebuah catatan rahasia ihwal radikalisasi, yang dipersiapkan oleh unit sains perilaku lembaga MI5, bocor ke koran The Guardian. Catatan itu menyebutkan, “jauh sikap dari orang-orang yang taat beragama, sejumlah besar mereka yang terlibat dalam terorisme tidak mengamalkan ajaran agama secara teratur. Banyak dari mereka minim pengetahuan agama dan dapat dianggap sebagai awam dalam agama.” Para analis di lembaga itu menyimpulkan bahwa “identitas agama yang mapan justru dapat mencegah radikalisasi yang keras,” tulis koran tersebut.

Untuk pembuktian yang lebih banyak, bacalah buku-buku psikiater forensik dan mantan petugas CIA, Marc Sageman; ilmuwan politik Robert Pape; sarjana hubungan internasional Rik Coolsaet; pakar Islamisme Olivier Roy; antropolog Scott Atran. Mereka semua telah mempelajari kehidupan dan latarbelakang ratusan jihadis (mujahid) penggemar bedil, pelempar bom dan penyembelih leher. Dan semua pakar itu sepakat bahwa Islam sama sekali tidak berhubungan dengan perilaku mereka.

Sumber :Islam Indonesia

Islam Teror dan Islam inspiratif

 

Islam Teror dan Islam inspiratif
understandislamAkhir-akhir ini kita menyaksikan dua bentuk Islam yang tampil di kancah dunia internasional. Yang satu adalah Islam yang bringas, penuh teror, kejam, sadis, menjarah dan segala bentuk kriminalitas yang lainnya. Islam ini direpresentasikan oleh ISIS, Jabhah an-Nusroh. Alqaedah, Boko Haram dan sejenisnya.
Di sisi lain kita juga menyaksikan Islam yang militan tapi moderen, maju secara saintifik bahkan sampai bisa bikin nuklir, canggih dalam teknologi mulai dari nano teknologi sampai pada teknologi persenjataan yang sangat canggih. Pendek kata Islamnya sangat membanggakan dan penuh inspirasi. Islam ini direpresentasikan oleh Iran. Kalau yang pertama adalah Islam yang berbasis pada akidah dan cara pandang Salafi. Sementara yang kedua berbasis pada akidah dan cara pandang Syiah Imamiah.
Ada yang bertanya, kenapa sangat beda outputnya sementara asalnya sama, yakni sama-sama Islam.
Saya mengamati bahwa meskipun asalnya sama-sama Islam, Alqurannya sama dan Nabinya sama namun rujukan penafsiran pada nas Alquran dan nas hadisnya beda.
Kalau yang pertama (salafi) memahami Alquran dan Hadis-Hadis Nabi sangat tektualis sehingga tidak memberikan ruang kepada akal dan pikiran yang sehat untuk ikut serta memahami firman Allah dan Hadis Nabi. Maka beda dengan syiah. Mereka memahami dan menafsirkan Alquran dan Hadis dengan bantuan ilmu-ilmu Ahlul Bait yang sangat rasional, kontekstual, logis, dan up todate. Itulah kenapa lewat penafsiran mereka Islam terasa sangat relevan, elegan, aktual dan sesuai dengan zamannya.
Islamnya tidak jenuh, tidak menakutkan tidak minder di hadapan agama yang lain dan sangat inspiratif. Dari situ kita bisa memahami Hadis Nabi yang bersabda: ” al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih”, Islam selalu unggul dan tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Sungguh kita merindukan Islam yang number one itu

KHOTBAH 1 (1)

Dalam khotbah ini ia menggambarkan penciptaan bumi dan langit serta kelahiran Adam

imam ali4_5378e7d628ef9Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Barangsiapa mengatakan “dalam apa la berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa la berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.

la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.

Tentang Penciptaan Alam

la memulai penciptaan dan memulainya secara paling awal, tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. la memberikan waktunya pada segala sesuatu, mengumpulkan variasi-variasinya, mem­berikan kepadanya sifat-sifatnya, dan menetapkan corak wajahnya dengan mengetahuinya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batasnya dan kesudahannya, dan menilai kecenderungan dan kerumitannya.

Ketika Yang Mahakuasa menciptakan lowongan-lowongan atmosfer, mengembangkan ruang angkasa dan lapisan-lapisan angin, la mengalirkan ke dalamnya air yang ombak-ombaknya membadai dan yang gelombang-gelombangnya saling melompati. la memuatnya pada angin yang kencang dan badai yang mematahkan, memerintahkannya untuk mencurahkannya kembali (sebagai hujan), memberikan kepada angin kendali atas kekuatan hujan, dan memperkenalkannya dengan batasan-batasannya. Angin meniup di bawahnya sementara air mengalir dengan garang atasnya.

Kemudian Yang Mahakuasa menciptakan angin dan membuat gerakannya mandul, mengekalkan posisinya, mengintensifkan gerakannya dan menyebarkannya menjauh dan meluas. Kemudian la memerintahkan angin itu membangkitkan air yang dalam dan mengintensifkan gelombang laut. Maka angin mengocoknya sebagaimana mengocok dadih dan mendorongnya dengan sengit ke angkasa dengan melemparkan posisi depannya di belakang, dan yang berdiam pada yang terus mengalir, sampai permukaannya terangkat dan permukaannya penuh dengan buih. Kemudian Yang Mahakuasa mengangkat buih ke angin yang terbuka dan cakrawala yang luas dan membuat darinya ketujuh langit dan menjadikan yang lebih rendah sebagai gelombang yang berdiam dan yang di atas sebagai atap yang melindungi dan suatu bangunan tinggi tanpa tiang untuk menopang atau paku untuk menyatukannya. Kemudian la menghiasinya dengan bintang-bintang dan cahaya meteor dan menggantungkan padanya matahari dan bulan yang bercahaya di bawah langit yang beredar, langit yang bergerak dan cakrawala yang berputar.

Tentang Penciptaan Malaikat

Kemudian la menciptakan rongga-rongga di antara langit-langit yang tinggi dan mengisinya dengan segala golongan malaikat-Nya. Sebagian dari mereka dalam bersujud dan tidak bangkit berlutut. Yang lain-lainnya dalam posisi berlutut dan tidak berdiri. Sebagian dari mereka dalam keadaan berbaris dan tidak meninggalkan posisinya. Yang lain-lainnya sedang memuji Allah tanpa menjadi lelah. Tidurnya mata atau tergelincirnya akal, atau kelelahan tubuh atau kelupaan tidak menimpa mereka.

Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pembawa risalah-Nya yang terpercaya, yang merupakan lidah-lidah berbicara untuk para nabi-Nya, dan mereka ini yang membawa kesana kemari perintah-perintah dan suruhan-Nya. Di antara mereka ada para pelindung makhluk-makhluk-Nya dan pengawal pintu surga. Di antara mereka ada yang langkah-langkahnya tetap di bumi tetapi lehernya menjulang ke langit, anggota badan mereka keluar dari segala sisi, bahu mereka sesuai dengan tiang-tiang ‘Arsy Ilahi, mata mereka tertunduk di hadapannya, mereka membentangkan sayap-sayapnya dan mereka membuat di antara sesama mereka dan semua yang selainnya tirai kehormatan dan layar kekuasaan. Mereka tidak memikirkan Pencipta mereka melalui khayal, tidak memberikan kepada-Nya sifat-sifat makhluk, tidak membataskan-Nya dalam suatu tempat kediaman dan tidak menunjuk kepada-Nya melalui gambaran.

Gambaran tentang Penciptaan Adam

Allah mengumpulkan lempung tanah yang keras, lembut, manis dan asam, yang dicelupkan-Nya ke dalam air dan mengadoninya dengan uap lembab sampai itu menjadi rekat. Darinya ia membuat patung dengan lekukan-lekukan, persendian, anggota dan bagian-bagian. la memadukannya sampai ia mengering untuk waktu tertentu dan jangka waktu yang diketahui. Kemudian la meniupkan ke dalamnya Ruh-Nya sehingga ia mengambilpola manusia dengan pikiran yang mengaturnya, kecerdasan yang digunakannya, anggota badan yang melayaninya, organ-organ yang merigubah posisinya, kebijaksanaan yang membedakan antara yang benar dan salah, rasa dan bau, warna dan jenis. la adalah suatu campuran antara lempung berbagai warna, bahan-bahan rekat, yang berlawanan, yang aneka ragam dan sifat-sifat yang berbeda seperti panas, dingin, lembut dan keras.

Kemudian Allah menyuruh kepada malaikat untuk memenuhi janji-Nya dengan mereka dan memenuhi janji menaati perintah-Nya kepada mereka dengan pengakuan kepada-Nya melalui sujud kepada-Nya dan tunduk kepada kedudukannya yang mulia. Maka Allah berfirman, “Tunduklah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun tunduk kecuali iblis.” (QS. 2:34; 7:11; 17:61; 18:50; 20:116). Kesombongan mencegah dia dan keburukan mengalahkannya. Maka ia membangga-banggakan penciptaannya sendiri (yang) dari api dan bersikap menghina ciptaan dari lempung. Maka Allah memberikan waktu kepadanya agar ia sepenuhnya patut menerima kemurkaan-Nya, dan melengkapi ujian (pada manusia) dan untuk me­menuhi janji (yang telah diberikan-Nya kepada iblis). Maka la berkata, “Sesungguhnya engkau telah diberi waktu sampai pada hari yang diketahui.” (QS. 15:37-38; 38:81) Setelah itu Allah menempatkan Adam di suatu rumah di mana la membuat kehidupannya senang dan kediamannya aman, dan la memperingatkannya supaya berhati-hati terhadap iblis dan musuhnya. Lalu musuhnya (iblis) merasa iri atas tinggalnya di surga dan hubungan-hubungannya dengan yang bajik. Maka ia pun mengubah keyakinannya menjadi goyah, dan tekadnya menjadi lemah. Dengan demikian ia mengubah kebahagiaan Adam menjadi ketakutan, dan martabatnya men­jadi sesal dan malu. Kemudian Allah memberikan kepada Adam kesempatan untuk bertaubat, mengajarkan kepadanya kata-kata dari Rahmat-Nya, menjanjikan kepadanya untuk kembali ke surga-Nya dan mengirimkannya ke tempat percobaan dan perkembangbiakan keturunan. [Bersambung]

 

Sumber : Syiah Menjawab