Tag Archives: syiah

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah Di UIN Jakarta

Muhsin-LabibUntuk kesekian kalinya, buku Syiah Menurut Syiah (SMS) dibedah. Kali ini (27/11) tim penulis buku Syiah Menurut Syiah dari Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) bekerjasama dengan pihak UIN Syarif Hidayatullah (Fakultas Ushuluddin) Jakarta. Acara tersebut berlangsung di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya, ABI juga sempat bekerjasama dengan pihak lain dalam bedah buku SMS (Bedah Buku SMS di P3M).

Secara umum, Dr. Muhsin Labib, MA selaku narasumber mewakili tim penulis ABI membagi sistematika penulisan buku tersebut ke dalam dua garis besar yaitu konsep dan realita. Secara khusus, ingin memahamkan kepada pembaca bahwa apa yang setiap orang pahami adalah sebuah persepsi, tidak absolut, relatif dan tidak mutlak benar. Sehingga, apa yang dilihat secara realita bukanlah sebuah tolak ukur untuk memahami sebuah kebenaran.

Sebagai contoh, ketika ada seorang mengaku Syiah dan mengkafirkan sahabat Nabi, tidak dapat disimpulkan bahwa ajaran Syiah mengkafirkan sahabat Nabi. Karena hal itu adalah perilaku individu yang tidak mewakili sebuah konsep ajaran.

“Perilaku individu tidak dapat dijadikan tolok ukur ajaran agama,” tutur Muhsin Labib.

Terlebih, ulama Syiah telah memfatwakan haram menghina simbol-simbol yang diagungkan oleh Muslim Sunni. Ketika masih ada yang mengkafirkan sahabat Nabi yang diagungkan oleh Muslim Sunni, secara otomatis telah keluar dari mainstream Syiah sebagai konsep ajaran yang dipahami. Sebagaimana halnya ketika Saddam Husein membantai jutaan Muslim Syiah, tak satupun Muslim Syiah menganggap Saddam adalah representasi Sunni dalam melakukan pembantaian umat Islam.

Lebih lanjut menurutnya, tidak ada Sunni membunuh Syiah, dan tidak ada Syiah membunuh Sunni. “Kalau ada yang membunuh Sunni, dia bukan Syiah. Kalau ada yang membunuh Syiah, dia bukan Sunni,” tegasnya.

Terkait isu banyaknya cabang Syiah, seorang peserta bedah buku menanyakan soal judul buku Syiah Menurut Syiah. “Syiah yang mana?” tanya peserta. Muhsin Labib menjelaskan bahwa secara umum yang diterima sebagai konsep ajaran Islam adalah Syiah Imamiyah Istna Asyariah dan buku tersebut menjelaskan Syiah secara umum.

Narasumber lain adalah Dr. Faris Pari, dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya, perbedaan yang sering dipahami adalah perbedaan dalam ranah praktis. Bukan filosofis teoritis. Hal itu selaras dengan yang dimaksud Muhsin Labib tentang konsep dan realita. Orang banyak menilai sesuatu dalam ranah realita, bukan konsep.

“Karena kalau melihat yang beda akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, problem, pelenyapan bahkan berujung pada pembunuhan,” tutur Faris Pari. Hal itu dapat dilihat misalnya dalam kasus Muslim Syiah Sampang Madura.

Terkait konsep Taqiyah (tidak menampakkan kebenaran) dalam ajaran Syiah diakuinya bahwa hal itu berada dalam ranah praktis dan berkutat dalam problem sosial budaya, bukan pada ranah konsep agama. Sebagai contoh, ketika orang Syiah berbaur, shalat berjamaah dengan Muslim Sunni, tangannya sedekap (tidak lurus), dengan pertimbangan tertentu demi menjaga keharmonisan hubungan sosial.

Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB itu dihadiri lebih dari 200 peserta; mahasiswa maupun umum.

Mufin, salah satu peserta dari Fakultas Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat ditanya apa yang diketahuinya tentang Syiah, dia mengaku tidak tahu-menahu.

“Awalnya yang saya tahu, Syiah itu mut’ah dan syahadatnya berbeda,” tutur Mufin. “Jadi, ini usaha bagus untuk memperkenalkan diri,” pujinya. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Sambutan Oleh Prof.Dr. Machasin MA, Pada Pembukaan Muktamar II ABI

HM-Machasin-660x330Sambutan dari Prof. Dr. Machasin MA, Pada Pembukaan Muktamar II ABI, sebagai perwakilan Menteri Agama RI. Beliau menerangkan bahwa terdapatnya Sunni dan Syiah dalam Islam adalah akibat dari proses Sejarah dan Politik, maka dari itu kita semua harus belajar dari sejarah tersebut. Masih terdapatnya pandangan miring tentang Syiah, menurut Machasin lebih dikarenakan sebagian kecil masyarakat kurang mendapat informasi tentang Syiah dan prasangka buruk yang lebih dulu sematkan pada Syiah menghalangi proses dialog.

 

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Surat Terbuka Anak Pengungsi Muslim Syiah Sampang Untuk Jokowi Di Hari Anak Internasional

Surat-Terbuka-Anak-Pengungsi-Muslim-Syiah-Sampang-untuk-Presiden-Jokowi-660x330Hari Anak Internasional dirayakan setiap tanggal 22 November bukannya tanpa alasan. Peringatan ini terus diadakan karena masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan hak-hak dasar mereka sehingga tercerabut pula pengalaman masa kecil yang seharusnya indah.

Hal inilah yang dialami saat ini oleh anak-anak pengungsi Muslim Syiah Sampang Madura yang menjadi korban tindakan intoleransi dan harus kehilangan keceriaan masa kanak-kanak mereka, kehilangan senyuman dari bibir-bibir mereka.

Salah satu dari anak pengungsi Muslim Syiah Sampang siang itu (22/11) membacakan surat terbukanya untuk Presiden Joko Widodo di depan sejumlah teman-teman mereka yang juga mengalami ketidak adilan dan diskriminasi, seperti anak-anak Sunda Wiwitan, Jamaah Ahmadiyah dan juga dari GKI-Yasmin dan HKBP Filadelfia dalam peringatan Hari Anak Internasional di LBH Jakarta.

Berikut isi surat dari anak pengungsi Muslim Syiah Sampang untuk Presiden Joko Widodo.

ABI Press_Surat Untuk Presiden JokowiAssalamualaikum Wr. Wb.

Yang terhormat Bapak Presiden Jokowi, saya Fidek Mahdi, putra dari salah satu korban kekerasan Sampang Madura. Saya mohon kepada Bapak yang terhormat kembalikan kami ke tempat kelahiran kami. Kami ingin sekolah dengan tenang, kami ingin jadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara.

Semua teman-teman pengungsi kehilangan keceriaan karena ketidak adilan ini. Haruskah kami jadi anak jalanan? Karena ketidak adilan ini. Sekian lama, sudah hampir tiga tahun kami di pengungisan sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Saya mohon kepada Bapak Jokowi yang terhormat, bantu kami semua. Kami sekarang putus sekolah karena harus berpindah-pindah tempat, kami ingin jadi anak yang pintar. Kami tidak ingin diusir di negara sendiri.

Seperti yang kita tahu dari media tentang perhatian dan usaha Presiden Joko Widodo untuk menegakkan keadilan dan melindungi wong cilik, kira-kira sejauh mana Jokowi akan mendengarkan suara hati anak-anak pengungsi Muslim Syiah Sampang dan mewujudkan mimpi mereka?

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Deklarasi Anti Syiah Bermasalah

IMG_9885-660x330Lagi-lagi tentang anti Syiah. Mengafirkan dan menyesatkan Syiah seperti sudah menjadi pekerjaan dan bisnis menggiurkan. Tak heran, banyak orang yang mengaku dirinya intelektual tapi sebenarnya tak paham ilmu agama mendadak menjadi Ustad dak Kyai.

Berbagai cara dilakukan. Mulai dari mencetak buku anti Syiah, ceramah-ceramah anti Syiah dan sebagainya. Entah berapa banyak dana yang mereka terima, yang pasti mereka rela melakukan semua itu meski cara yang ditempuhnya sangat berisiko  memecah-belah umat Islam.

Kabar terakhir, tersiar melalui pesan singkat dan media sosial tentang rencana menggalang gerakan menolak Syiah berupa “Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah.” Acara ini dijadwalkan berlangsung di kota Bandung Jawa Barat pekan ini.

Tak tinggal diam, seorang Kyai NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani menyoal rencana tersebut. Bukan untuk menyatakan diri sebagai musuh, melainkan agar warga NU tidak terjebak dalam provokasi kelompok anti persatuan itu.

“Deklarasi nasional kok diadakan di masjid RW,” ungkapnya mengawali kritik.

Kyai Alawi yang sebelumnya meng-counter opini oknum MUI dan DDII melalui buku karanganya yang berjudul “Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa Merah MUI & DDII” ini juga menyayangkan keterlibatan tokoh-tokoh yang tercantum di undangan deklarasi anti Syiah itu.

Di sisi lain KH. Alawi juga mempertanyakan kenapa PBNU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas Islam besar di Indonesia secara resmi tidak diundang untuk hadir?

“Kalau mau dinamakan deklarasi nasional ya harusnya semua lembaga, ormas, dan elemen masyarakat Islam turut diundang. Kenapa yang diundang Wahabi semua?” ungkap Kyai Alawi sambil menjelaskan tentang tokoh yang namanya dicatut sebagai narasumber dalam undangan deklarasi itu. Salah satunya adalah Ahmad Chalil Ridwan, ketua MUI Pusat, sebagai orang yang vokal menginginkan syariat Islam diterapkan di Indonesia. “Setelah saya cek, ternyata dia merujuk atau mengambil referensinya dari ulama-ulama Wahabi di Saudi,” ungkap Kyai Alawi.

Selain mengundang kalangan Wahabi tanpa menghadirkan ulama dari pihak NU, lebih aneh lagi, kenapa mesti mengundang narasumber dari jauh? Apa para Kyai di Bandung dianggap tak ada yang bisa menjelaskan persoalan agama?” tanya Kyai Alawi.

Bahkan, Habib Zein Al-Kaff yang namanya tertera dalam undangan deklarasi itu juga dinilainya bermasalah. “Ketika dicek ke salah satu organisasi persatuan Habib di Indonesia dan ditanya siapa Habib Zein Al-Kaff? Ternyata jawabannya ‘minus’,” jelas Kyai Alawi.

Karena itu dia menghimbau seluruh warga NU agar lebih cerdas dalam menyikapi gerakan anti Syiah dan semacamnya. Selain tak mudah terprovokasi upaya adu-domba kelompok Wahabi takfiri agar tak ikut menjadi alat pemecah-belah umat Islam. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Dubes Palestina Dukung ABI Tampilkan Islam Damai Dan Ramah

Konselor-Dubes-Palestina-copy-300x200Muktamar Ahlulbait Indonesia ke-2 yang diadakan di kantor Kementrian Agama, Jakarta, Jumat (14/11) tak hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh dalam negeri. Dua duta besar negara tetangga juga hadir, Dubes Malaysia dan Dubes Palestina.

Taher Hamad, Konselor Kedutaan Besar Palestina yang hadir dalam Pembukaan Muktamar ke-2 Ormas Islam Ahlulbait Indonesia ini saat ABI Presswawancarai mengungkapkan apresiasinya atas Muktamar ke-2 ABI ini.

“Selamat atas diadakannya Muktamar ke-2 ABI ini. Semoga ABI bisa memberikan sumbangsihnya kepada Islam dan kaum Muslimin seluruhnya,” ujar Taher.

Taher Hamad berharap, di tengah masifnya kelompok ekstremis dan radikal Islam yang mencoreng nama Islam, serta kepungan media yang memojokkan Islam, ABI bisa berperan menampilkan wajah Islam yang damai dan ramah.

“Saya juga berharap ABI nantinya bisa ikut serta mendakwahkan wajah Islam yang damai dan beradab,” ujar Taher

Sebagai perwakilan Kedubes Palestina yang hingga saat ini negaranya masih dijajah oleh Zionis Israel, Taher Hamad mengungkapkan bahwa bagi Palestina, Indonesia merupakan salah satu negara yang spesial dan sangat dekat dengan Palestina.

Taher juga berharap, sebagai lembaga Ahlulbait, ABI bisa ikut andil dalam membantu gerakan muqawama Palestina untuk mewujudkan kemerdekaannya. (Muhammad/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

“Fatwa NU Lebih Kuat Dibanding Fatwa MUI”

IMG_9874-660x330KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani adalah Kyai yang mendapat mandat khusus dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menangani perkara-perkara umat Islam di Indonesia dan karenanya merasa wajib bersuara menyangkut pelbagai perkara itu secara konstan.  KH Alawi mengungkapkan bahwa sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU memiliki fatwa yang lebih kuat dan absah dibandingkan fatwa MUI. Menurutnya, selain jumlah warganya yang hampir 100 juta, NU sudah ada sejak tahun 1926, jauh hari sebelum MUI berdiri. 

Apalagi, menurutnya, MUI dulu terindikasi sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. “Dan juga perlu diketahui bahwa di jaman Soeharto, berdasarkan laporan para Kyai di PBNU/PWNU, MUI ini sengaja dibentuk untuk memecah-belah para Kyai di tubuh NU,” ungkapnya kepada ABI Press.
 
Sebab itu, menurut KH. Alawi, fatwa MUI sebenarnya tidak bisa dijadikan rujukan final atau yang utama. Terlebih oknum-oknum MUI sekarang telah banyak menganut paham Wahabi yang suka mengkafirkan sesama Muslim di luar kelompoknya. Tak heran jika dari lembaga yang sejatinya juga merupakan ormas ini sering muncul fatwa-fatwa nyeleneh yang justru menimbulkan perpecahan di tengah umat.
 
Kita ambil contoh, misalnya, fatwa terkait Muslim Syiah di Sampang, Madura. Akibat fatwa sesat dari MUI Jawa Timur, ratusan jiwa anak bangsa yang bermazhab Syiah itu terusir dan sampai sekarang mengungsi di dalam negeri sendiri.  Bahkan di antara mereka ada yang sampai dibunuh.
 
Selain itu, buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” juga dinilai sebagai buku yang sarat provokasi dan sangat berpotensi memecah-belah umat Islam. Khususnya antara Sunni dan Syiah.
 
Sebab itu, KH. Alawi menganggap penting NU sebagai lembaga yang menaungi mayoritas penduduk Muslim di Indonesia ini juga berfatwa. “Tapi fatwa yang menyejukkan, yang membawa perdamainan, bukan perpecahan.”

Seperti apakah fatwa yang menyejukkan itu? “Saya tahu Imam Khomeini (Ulama Syiah) pernah bilang begini, ‘Barang siapa dari kalangan orang Syiah shalat di belakang imam dari Ahlusunnah, maka dia sama seperti shalat di belakang Rasulullah SAW,’ dan kita butuh fatwa-fatwa yang menyejukkan seperti ini sebetulnya,” jelas KH. Alawi.
 
KH. Alawi melanjutkan, “Ketika rapat di PBNU dua bulan lalu muncul pembahasan tentang fatwa, (kami berharap) insya Allah dapat membuat fatwa untuk warga Nahdliyin. Jadi warga NU soal fatwa nanti ikut fatwa PBNU saja, bukan lagi fatwa MUI,” tegasnya.
 
Apalagi KH. Alawi menilai MUI saat ini sudah tidak lagi mewakili para ulama sebagai pengayom umat, sebagai bapak sekaligus guru bagi kaum Muslimin di Indonesia. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Pengungsi Syiah : Kami Berharap Pak Jokowi Bisa Pulangkan Kami

310806_620

Seorang warga Syiah Sampang termenung di depan kamar seusai sholat Idul Fitri di pengungsian rumah susun Jemundo, Sidoarjo (28/8). Tahun ini merupakan kedua kalinya bagi 300 pengungsi Syiah Sampang harus merayakan Hari raya Idul Fitri di pengungsian. – Foto : Tempo/Fully Syafi

Satu Islam, Sidoarjo – Pemimpin Syiah Sampang, Iklil Al Milal berharap Presiden Joko Widodo dapat menyelesaikan kasus Syiah Sampang yang terjadi sejak 2012. “Kami berharap, Pak Jokowi yang baru saja terpilih dapat membuat kami kembali ke Sampang,” kata Iklil di Hotel JW Marriot Surabaya. Rabu, 11 November 2014.

Iklil berharap Jokowi dapat mengambil dan memenuhi janji-janji yang tidak dapat diwujudkan oleh Presiden Indonesia sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Iklil berpendapat Jokowi mempunyai seorang Jusuf Kalla yang berpengalaman dalam menyelesaikan konflik di Indonesia. “Mudah-mudahan bisa seperti saat menyelesaikan kasus Ambon,” ujarnya.

Koordinator Kontras Jawa Timur, Andi Arif, mengatakan hal yang sama. Menurut Andi, Presiden Jokowi dapat mengambil peran seperti yang dijanjikan mantan Presiden SBY dengan mengajak para tokoh masyarakat Sampang, sehingga dapat lebih cepat menyelesaikan permasalahan Syiah Sampang.

“Jangan hanya dikelola oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten saja, pemerintah pusat harus juga turun langsung,” ujar Andi.

Konflik Syiah di Sampang meletup pada lebaran ketupat tahun lalu. Saat itu, ratusan warga Sunni dari Sampang dan Pamekasan menyerang dan membakar puluhan rumah warga di Blu’uran dan Nangkernang. Setelah insiden penyerangan itu, warga Syiah Sampang sempat diungsikan ke Gedung Olahraga Sampang sebelum akhirnya dipindah ke kompleks rumah susun di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.(Tempo)

 

Sumber :Satu Islam

Rahbar: Iman dan SDM, Dua Keharusan dari Kekuatan Sejati

aks_rahbarRahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, kaharusan dari kekuatan sejati di angkatan bersenjata adalah sumber daya manusia unggul dengan pendidikan modern dan peralatan canggih  serta dibarengi dengan keimanan, tekad baja, rasa tanggung jawab dan wawasan.

Ayatullah Khamenei Senin (17/11) dalam acara sumpah dan tadan pangkat taruna Universitas Militer Imam Ali menekankan urgensitas pendalaman terhadap isu kekuatan di angkatan bersenjata. “Jumlah besar pasukan dan pendidikan tinggi serta peralatan militer yang canggih tidak manjadi jaminan bagi kekuatan angkatan bersenjata di sebuah negara, namun harus dibarengi dengan motivasi, spiritualitas dan tekad baja serta rasa tanggung jawab terhadap perilaku dan orientasi,” tegas Rahbar.

Rahbar seraya mengisyaratkan kapasitas spiritual dan kemampuan sains serta kekuatan inisiatif dan tekad baja militer Iran selama delapan tahun perang pertahanan suci mengingatkan, “Dunia memperhitungkan kemampuan militer Republik Islam Iran dan mereka serius dalam hal ini, karena  mereka menyadari bahwa di mana rasa tanggung jawab dan panggilan tugas maka militer Iran akan bertempur hingga titik darah penghabisan.”

Rahbar juga menilai dunia saat ini haus akan pesan kebebasan. “Arogan dunia berusaha dengan memanfaatkan seni, politik dan militeralisasi serta berbagai sarana yang lain, untuk mencegah terdengarnya suara seruan Islam yang murni. Namun seruan ini telah terdengar dan indikasinya adalah ketakutan kekuatan arogan dunia yang semakin besar,” tekan Rahbar.

Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di bagian lain pidatonya menekankan bahwa umat manusia kini sangat membutuhkan pesan-pesan Islam yang dibawa oleh bangsa Iran. “Kekuatan arogan dunia yang sangat khawatir dengan pengaruh pesan kebebasan yang disuarakan Islam serta terancamnya kepentingan mereka, memanfaatkan seluruh sarana khususnya seni untuk menakut-nakuti rakyat dunia dari Islam.

Ayatullah Khamenei menyebut pembentukan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Islam dan pemerintah Islam, pembantaian massal warga tak berdosa oleh milisi ini sebagai contoh lain metode yang dimanfaatkan musuh untuk menebar Islamphobia.

“Pesan Islam yang murni bagi umat manusia adalah pesan ketenangan, kehormatan, kemuliaan serta kehidupan yang aman. Kubu arogan dunia tidak ingin berbagai bangsa dunia mendengar pesan ini,” tegas Rahbar. (IRIB Indonesia/MF/RM)

 

Sumber :Indonesia Irib

Muktamar Ke-2 ABI Di Kantor Kementerian Agama Jakarta

Muktamar-II-ABI-660x330Jumat (14/11) kemarin, auditorium KH. M Rasjidi menjadi saksi kerukunan dan toleransi umat Muhammad Saw. Sebagai salah satu ormas Islam di Tanah Air, Ahlul Bait Indonesia (ABI) berkesempatan melaksanakan pembukaan muktamarnya yang kedua sekaligus seminar dengan tema “Menguatkan Nasionalisme, Menolak Intoleransi dan Ekstremisme,”  di kantor Kementerian Agama tersebut.

Usai Shalat Jumat acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Ahlul Bait. Acara juga diisi oleh pembacaan sambutan tertulis Ketua Umum MUI, Prof. Din Syamsuddin oleh Ketua DPP ABI, Ust. Hasan Alaydrus. Lalu dilanjutkan dengan sambutan Ketua MUI, Prof. Dr. Umar Shihab dan sambutan Menteri Agama yang diwakili Prof. Dr. HM. Machasin, MA selaku Dirjen Bimas Islam Kemenag.

Kurang lebih 200 peserta muktamar termasuk ratusan pengurus daerah ABI menghadiri acara tersebut. Turut hadir pula Duta Besar Palestina dan Malaysia.

Selain sambutan, acara dimeriahkan dengan paduan suara dari Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi yang menyanyikan lagu “Ana Madinatul Ilm wa Aliyyun Babuha” dan pemberian cinderamata kepada setiap perwakilan lembaga negara.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Umar Shihab menekankan perlunya perjuangan keras dan jihad untuk melawan usaha para pemecah belah umat dalam menghilangkan toleransi. Oleh karena itu, “MUI tampil ke depan untuk menyatukan ormas-ormas dan kekuatan Islam … dengan kembali menyadari bahwa semua yang mengucapkan ‘laa ilaha illa allah’ adalah Muslim.”

Sebagai pembuka acara Muktamar ke-2 ABI, perwakilan Menteri Agama, Prof. Dr. HM. Machasin, MA sangat mendukung pelaksanaan acara tersebut di kantor Kemenag. Baginya, kerjasama ini adalah bentuk keterbukaan. “Muktamar ini kan urusan internal, bolehlah dilihat petugas negara jadi tidak ada yang disembunyikan, justru kalau ada yang disembunyikan, itu bermasalah.”

Machasin pun menegaskan posisi Kemenag dalam membela hak setiap warganegara dalam berkeyakinan.  “Kami selaku pejabat negara berkewajiban memberikan perlindungan dan memberikan pelayanan bagi kebutuhan dasar setiap warga, termasuk keyakinan.”

Saya ucapkan selamat [atas muktamar ini], semoga dari muktamar ini dihasilkan hal yang bermanfaat bagi jemaah Ahlul Bait dan juga meneguhkan kebhinekaan dan kesatuan, Insya Allah,” pungkas Machasin menutup sambutannya. (Bahesty/Yudhi)

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Mengenal Zanjan; Ibu Kota Peringatan Duka Imam Husein as

Oleh: Emi Nur Hayatizanjan_rakhtshui_kahneh

 

Slogan ‘Haihata Minna Dzillah…Pantang Hina’ adalah slogan para pecinta Abu Abdillah Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw. Detik-detik peristiwa Karbala seakan tidak mau mundur dan berlalu, bahkan dari masa ke masa semakin tumbuh dan merekat di hati umat Muhammad yang mencintai keluarga nabinya.

Sekali lagi tibalah tanggal 8 Muharram 1346 Hq bertepatan dengan 2 November 2014. Setiap tahun pada tanggal ini penduduk kota Zanjan mengadakan acara peringatan duka untuk para syuhada Karbala. Tanggal 8 Muharram ini diperingati sebagai hari khusus untuk Abu Fadhl Abbas, yang dikenal dengan Yaumul Abbas, hari Abbas. Para pecinta keluarga Rasulullah Saw dari berbagai kota bahkan dari berbagai negara lain datang ke kota ini untuk hadir mengikuti acara duka Asyura. Acara duka untuk memperingati syahadah keluarga Rasulullah Saw yang dibantai oleh manusia-manusia durjana yang mengklaim dirinya sebagai Umat Muhammad Saw.

Di hari ini para pecinta keluarga Rasulullah memperingati duka syahadah syuhada Karbala dalam bentuk barisan besar dan pawai di jalan utama kota Zanjan. Pawai acara duka ini dimulai dari masjid Huseiniyeh Azam dan berakhir di makam Imam Zadeh Ibrahim. Acara ini berakhir seiring dengan dikumandangkannya azan Maghrib. Tentunya acara duka ini akan berlanjut pada hari berikutnya yaitu hari Tasua sampai pada puncaknya hari syahadah Imam Husein as di hari Asyura dan malam keterasingan Ummul Mashaib, ibu segala musibah, Sayidah Zainab as bersama tawanan lainnya.

Kota Zanjan setiap tahun menjadi tuan rumah ratusan ribu para pecinta keluarga Rasulullah Saw. Jumlah peserta yang hadir mencapai lima ratus ribu orang. Kota Zanjan pada hari itu sangat ramai. Semua datang untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Abu Fadhl Abbas. Tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, semua datang, seakan-akan kita berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang tinggal di rumah. Semuanya keluar untuk menghadiri acara hari Abbas dan mengingat keberaniaannya dengan menyuarakan slogan ‘Aku adalah Abbas, pembawa panji kebangkitan’Pengikut garis Husein wassalamHaihat Minna Dzillah dan slogan-slogan lainnya seperti Ya Husein!!!

Sebagian dari mereka yang ikut hadir dalam acara ini untuk menunaikan nazarnya karena hajatnya yang sudah terkabulkan. Mulai dari mereka yang punya hajat ingin memiliki anak sampai mereka yang berkeinginan untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya dan lain-lain.

Sebagian para peserta acara duka ini menyerahkan kambing korban ke masjid Huseinieh Azam Zanjan untuk disembelih. Masjid Huseinieh Zanjanlah yang mengelola acara spiritual ini. Pada tahun 1389 Hs, kambing korban telah mencapai 12 ribu ekor. Itulah mengapa kota Zanjan ini dikenal sebagai kota tempat korban kedua setelah kota Mina di Dunia Islam.

Peserta lainnya juga ada yang menghadiahkan uang, emas, beras, gula dan lain-lain. Para petugas yang menerima hadiah dan nazar memakai seragam yang sama demikian juga para petugas penyembelih kambing korban. Bahkan mereka sudah menyiapkan POS (pos hand book) untuk menerima tranferan uang dari para pemberi hadiah dan nazar yang tidak perlu lagi membawa uang tunai.

Peringatan acara duka Yaumul Abbas ini pada 15 Dey 1389 Hs tercatat sebagai warisan tak bendawi negara yang ke 10 dalam warisan budaya Iran.

Warga Zanjan hadir dalam acara duka putra Zahra as untuk mengatakan, ‘selama suara Ya Husein tetap ada di dalam mulut setiap pecinta keluarga Rasulullah, maka peristiwa Karbala dan keteraniayaan Imam Husein dan keluarganya yang suci tidak akan terlupakan.

Tetesan air mata sebagai rasa cinta kepada Imam Husein dan keluarganya yang suci menjadi harapan untuk mendapatkan syafaatnya di dunia dan akhirat, sembari menjadikan ibunya putri semata wayang Rasulullah Saw sebagai perantara untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt dan menjadikannya sebagai peziarahnya di mana saja kita berada. (IRIB Indonesia)

Sumber :Indonesia Irib