Tag Archives: husein bin ali

Deklarasi Anti Syiah Bermasalah

IMG_9885-660x330Lagi-lagi tentang anti Syiah. Mengafirkan dan menyesatkan Syiah seperti sudah menjadi pekerjaan dan bisnis menggiurkan. Tak heran, banyak orang yang mengaku dirinya intelektual tapi sebenarnya tak paham ilmu agama mendadak menjadi Ustad dak Kyai.

Berbagai cara dilakukan. Mulai dari mencetak buku anti Syiah, ceramah-ceramah anti Syiah dan sebagainya. Entah berapa banyak dana yang mereka terima, yang pasti mereka rela melakukan semua itu meski cara yang ditempuhnya sangat berisiko  memecah-belah umat Islam.

Kabar terakhir, tersiar melalui pesan singkat dan media sosial tentang rencana menggalang gerakan menolak Syiah berupa “Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah.” Acara ini dijadwalkan berlangsung di kota Bandung Jawa Barat pekan ini.

Tak tinggal diam, seorang Kyai NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani menyoal rencana tersebut. Bukan untuk menyatakan diri sebagai musuh, melainkan agar warga NU tidak terjebak dalam provokasi kelompok anti persatuan itu.

“Deklarasi nasional kok diadakan di masjid RW,” ungkapnya mengawali kritik.

Kyai Alawi yang sebelumnya meng-counter opini oknum MUI dan DDII melalui buku karanganya yang berjudul “Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa Merah MUI & DDII” ini juga menyayangkan keterlibatan tokoh-tokoh yang tercantum di undangan deklarasi anti Syiah itu.

Di sisi lain KH. Alawi juga mempertanyakan kenapa PBNU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas Islam besar di Indonesia secara resmi tidak diundang untuk hadir?

“Kalau mau dinamakan deklarasi nasional ya harusnya semua lembaga, ormas, dan elemen masyarakat Islam turut diundang. Kenapa yang diundang Wahabi semua?” ungkap Kyai Alawi sambil menjelaskan tentang tokoh yang namanya dicatut sebagai narasumber dalam undangan deklarasi itu. Salah satunya adalah Ahmad Chalil Ridwan, ketua MUI Pusat, sebagai orang yang vokal menginginkan syariat Islam diterapkan di Indonesia. “Setelah saya cek, ternyata dia merujuk atau mengambil referensinya dari ulama-ulama Wahabi di Saudi,” ungkap Kyai Alawi.

Selain mengundang kalangan Wahabi tanpa menghadirkan ulama dari pihak NU, lebih aneh lagi, kenapa mesti mengundang narasumber dari jauh? Apa para Kyai di Bandung dianggap tak ada yang bisa menjelaskan persoalan agama?” tanya Kyai Alawi.

Bahkan, Habib Zein Al-Kaff yang namanya tertera dalam undangan deklarasi itu juga dinilainya bermasalah. “Ketika dicek ke salah satu organisasi persatuan Habib di Indonesia dan ditanya siapa Habib Zein Al-Kaff? Ternyata jawabannya ‘minus’,” jelas Kyai Alawi.

Karena itu dia menghimbau seluruh warga NU agar lebih cerdas dalam menyikapi gerakan anti Syiah dan semacamnya. Selain tak mudah terprovokasi upaya adu-domba kelompok Wahabi takfiri agar tak ikut menjadi alat pemecah-belah umat Islam. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Dubes Palestina Dukung ABI Tampilkan Islam Damai Dan Ramah

Konselor-Dubes-Palestina-copy-300x200Muktamar Ahlulbait Indonesia ke-2 yang diadakan di kantor Kementrian Agama, Jakarta, Jumat (14/11) tak hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh dalam negeri. Dua duta besar negara tetangga juga hadir, Dubes Malaysia dan Dubes Palestina.

Taher Hamad, Konselor Kedutaan Besar Palestina yang hadir dalam Pembukaan Muktamar ke-2 Ormas Islam Ahlulbait Indonesia ini saat ABI Presswawancarai mengungkapkan apresiasinya atas Muktamar ke-2 ABI ini.

“Selamat atas diadakannya Muktamar ke-2 ABI ini. Semoga ABI bisa memberikan sumbangsihnya kepada Islam dan kaum Muslimin seluruhnya,” ujar Taher.

Taher Hamad berharap, di tengah masifnya kelompok ekstremis dan radikal Islam yang mencoreng nama Islam, serta kepungan media yang memojokkan Islam, ABI bisa berperan menampilkan wajah Islam yang damai dan ramah.

“Saya juga berharap ABI nantinya bisa ikut serta mendakwahkan wajah Islam yang damai dan beradab,” ujar Taher

Sebagai perwakilan Kedubes Palestina yang hingga saat ini negaranya masih dijajah oleh Zionis Israel, Taher Hamad mengungkapkan bahwa bagi Palestina, Indonesia merupakan salah satu negara yang spesial dan sangat dekat dengan Palestina.

Taher juga berharap, sebagai lembaga Ahlulbait, ABI bisa ikut andil dalam membantu gerakan muqawama Palestina untuk mewujudkan kemerdekaannya. (Muhammad/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

“Fatwa NU Lebih Kuat Dibanding Fatwa MUI”

IMG_9874-660x330KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani adalah Kyai yang mendapat mandat khusus dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menangani perkara-perkara umat Islam di Indonesia dan karenanya merasa wajib bersuara menyangkut pelbagai perkara itu secara konstan.  KH Alawi mengungkapkan bahwa sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU memiliki fatwa yang lebih kuat dan absah dibandingkan fatwa MUI. Menurutnya, selain jumlah warganya yang hampir 100 juta, NU sudah ada sejak tahun 1926, jauh hari sebelum MUI berdiri. 

Apalagi, menurutnya, MUI dulu terindikasi sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. “Dan juga perlu diketahui bahwa di jaman Soeharto, berdasarkan laporan para Kyai di PBNU/PWNU, MUI ini sengaja dibentuk untuk memecah-belah para Kyai di tubuh NU,” ungkapnya kepada ABI Press.
 
Sebab itu, menurut KH. Alawi, fatwa MUI sebenarnya tidak bisa dijadikan rujukan final atau yang utama. Terlebih oknum-oknum MUI sekarang telah banyak menganut paham Wahabi yang suka mengkafirkan sesama Muslim di luar kelompoknya. Tak heran jika dari lembaga yang sejatinya juga merupakan ormas ini sering muncul fatwa-fatwa nyeleneh yang justru menimbulkan perpecahan di tengah umat.
 
Kita ambil contoh, misalnya, fatwa terkait Muslim Syiah di Sampang, Madura. Akibat fatwa sesat dari MUI Jawa Timur, ratusan jiwa anak bangsa yang bermazhab Syiah itu terusir dan sampai sekarang mengungsi di dalam negeri sendiri.  Bahkan di antara mereka ada yang sampai dibunuh.
 
Selain itu, buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” juga dinilai sebagai buku yang sarat provokasi dan sangat berpotensi memecah-belah umat Islam. Khususnya antara Sunni dan Syiah.
 
Sebab itu, KH. Alawi menganggap penting NU sebagai lembaga yang menaungi mayoritas penduduk Muslim di Indonesia ini juga berfatwa. “Tapi fatwa yang menyejukkan, yang membawa perdamainan, bukan perpecahan.”

Seperti apakah fatwa yang menyejukkan itu? “Saya tahu Imam Khomeini (Ulama Syiah) pernah bilang begini, ‘Barang siapa dari kalangan orang Syiah shalat di belakang imam dari Ahlusunnah, maka dia sama seperti shalat di belakang Rasulullah SAW,’ dan kita butuh fatwa-fatwa yang menyejukkan seperti ini sebetulnya,” jelas KH. Alawi.
 
KH. Alawi melanjutkan, “Ketika rapat di PBNU dua bulan lalu muncul pembahasan tentang fatwa, (kami berharap) insya Allah dapat membuat fatwa untuk warga Nahdliyin. Jadi warga NU soal fatwa nanti ikut fatwa PBNU saja, bukan lagi fatwa MUI,” tegasnya.
 
Apalagi KH. Alawi menilai MUI saat ini sudah tidak lagi mewakili para ulama sebagai pengayom umat, sebagai bapak sekaligus guru bagi kaum Muslimin di Indonesia. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Pengungsi Syiah : Kami Berharap Pak Jokowi Bisa Pulangkan Kami

310806_620

Seorang warga Syiah Sampang termenung di depan kamar seusai sholat Idul Fitri di pengungsian rumah susun Jemundo, Sidoarjo (28/8). Tahun ini merupakan kedua kalinya bagi 300 pengungsi Syiah Sampang harus merayakan Hari raya Idul Fitri di pengungsian. – Foto : Tempo/Fully Syafi

Satu Islam, Sidoarjo – Pemimpin Syiah Sampang, Iklil Al Milal berharap Presiden Joko Widodo dapat menyelesaikan kasus Syiah Sampang yang terjadi sejak 2012. “Kami berharap, Pak Jokowi yang baru saja terpilih dapat membuat kami kembali ke Sampang,” kata Iklil di Hotel JW Marriot Surabaya. Rabu, 11 November 2014.

Iklil berharap Jokowi dapat mengambil dan memenuhi janji-janji yang tidak dapat diwujudkan oleh Presiden Indonesia sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Iklil berpendapat Jokowi mempunyai seorang Jusuf Kalla yang berpengalaman dalam menyelesaikan konflik di Indonesia. “Mudah-mudahan bisa seperti saat menyelesaikan kasus Ambon,” ujarnya.

Koordinator Kontras Jawa Timur, Andi Arif, mengatakan hal yang sama. Menurut Andi, Presiden Jokowi dapat mengambil peran seperti yang dijanjikan mantan Presiden SBY dengan mengajak para tokoh masyarakat Sampang, sehingga dapat lebih cepat menyelesaikan permasalahan Syiah Sampang.

“Jangan hanya dikelola oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten saja, pemerintah pusat harus juga turun langsung,” ujar Andi.

Konflik Syiah di Sampang meletup pada lebaran ketupat tahun lalu. Saat itu, ratusan warga Sunni dari Sampang dan Pamekasan menyerang dan membakar puluhan rumah warga di Blu’uran dan Nangkernang. Setelah insiden penyerangan itu, warga Syiah Sampang sempat diungsikan ke Gedung Olahraga Sampang sebelum akhirnya dipindah ke kompleks rumah susun di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.(Tempo)

 

Sumber :Satu Islam

Rahbar: Iman dan SDM, Dua Keharusan dari Kekuatan Sejati

aks_rahbarRahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, kaharusan dari kekuatan sejati di angkatan bersenjata adalah sumber daya manusia unggul dengan pendidikan modern dan peralatan canggih  serta dibarengi dengan keimanan, tekad baja, rasa tanggung jawab dan wawasan.

Ayatullah Khamenei Senin (17/11) dalam acara sumpah dan tadan pangkat taruna Universitas Militer Imam Ali menekankan urgensitas pendalaman terhadap isu kekuatan di angkatan bersenjata. “Jumlah besar pasukan dan pendidikan tinggi serta peralatan militer yang canggih tidak manjadi jaminan bagi kekuatan angkatan bersenjata di sebuah negara, namun harus dibarengi dengan motivasi, spiritualitas dan tekad baja serta rasa tanggung jawab terhadap perilaku dan orientasi,” tegas Rahbar.

Rahbar seraya mengisyaratkan kapasitas spiritual dan kemampuan sains serta kekuatan inisiatif dan tekad baja militer Iran selama delapan tahun perang pertahanan suci mengingatkan, “Dunia memperhitungkan kemampuan militer Republik Islam Iran dan mereka serius dalam hal ini, karena  mereka menyadari bahwa di mana rasa tanggung jawab dan panggilan tugas maka militer Iran akan bertempur hingga titik darah penghabisan.”

Rahbar juga menilai dunia saat ini haus akan pesan kebebasan. “Arogan dunia berusaha dengan memanfaatkan seni, politik dan militeralisasi serta berbagai sarana yang lain, untuk mencegah terdengarnya suara seruan Islam yang murni. Namun seruan ini telah terdengar dan indikasinya adalah ketakutan kekuatan arogan dunia yang semakin besar,” tekan Rahbar.

Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di bagian lain pidatonya menekankan bahwa umat manusia kini sangat membutuhkan pesan-pesan Islam yang dibawa oleh bangsa Iran. “Kekuatan arogan dunia yang sangat khawatir dengan pengaruh pesan kebebasan yang disuarakan Islam serta terancamnya kepentingan mereka, memanfaatkan seluruh sarana khususnya seni untuk menakut-nakuti rakyat dunia dari Islam.

Ayatullah Khamenei menyebut pembentukan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Islam dan pemerintah Islam, pembantaian massal warga tak berdosa oleh milisi ini sebagai contoh lain metode yang dimanfaatkan musuh untuk menebar Islamphobia.

“Pesan Islam yang murni bagi umat manusia adalah pesan ketenangan, kehormatan, kemuliaan serta kehidupan yang aman. Kubu arogan dunia tidak ingin berbagai bangsa dunia mendengar pesan ini,” tegas Rahbar. (IRIB Indonesia/MF/RM)

 

Sumber :Indonesia Irib

Muktamar Ke-2 ABI Di Kantor Kementerian Agama Jakarta

Muktamar-II-ABI-660x330Jumat (14/11) kemarin, auditorium KH. M Rasjidi menjadi saksi kerukunan dan toleransi umat Muhammad Saw. Sebagai salah satu ormas Islam di Tanah Air, Ahlul Bait Indonesia (ABI) berkesempatan melaksanakan pembukaan muktamarnya yang kedua sekaligus seminar dengan tema “Menguatkan Nasionalisme, Menolak Intoleransi dan Ekstremisme,”  di kantor Kementerian Agama tersebut.

Usai Shalat Jumat acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Ahlul Bait. Acara juga diisi oleh pembacaan sambutan tertulis Ketua Umum MUI, Prof. Din Syamsuddin oleh Ketua DPP ABI, Ust. Hasan Alaydrus. Lalu dilanjutkan dengan sambutan Ketua MUI, Prof. Dr. Umar Shihab dan sambutan Menteri Agama yang diwakili Prof. Dr. HM. Machasin, MA selaku Dirjen Bimas Islam Kemenag.

Kurang lebih 200 peserta muktamar termasuk ratusan pengurus daerah ABI menghadiri acara tersebut. Turut hadir pula Duta Besar Palestina dan Malaysia.

Selain sambutan, acara dimeriahkan dengan paduan suara dari Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi yang menyanyikan lagu “Ana Madinatul Ilm wa Aliyyun Babuha” dan pemberian cinderamata kepada setiap perwakilan lembaga negara.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Umar Shihab menekankan perlunya perjuangan keras dan jihad untuk melawan usaha para pemecah belah umat dalam menghilangkan toleransi. Oleh karena itu, “MUI tampil ke depan untuk menyatukan ormas-ormas dan kekuatan Islam … dengan kembali menyadari bahwa semua yang mengucapkan ‘laa ilaha illa allah’ adalah Muslim.”

Sebagai pembuka acara Muktamar ke-2 ABI, perwakilan Menteri Agama, Prof. Dr. HM. Machasin, MA sangat mendukung pelaksanaan acara tersebut di kantor Kemenag. Baginya, kerjasama ini adalah bentuk keterbukaan. “Muktamar ini kan urusan internal, bolehlah dilihat petugas negara jadi tidak ada yang disembunyikan, justru kalau ada yang disembunyikan, itu bermasalah.”

Machasin pun menegaskan posisi Kemenag dalam membela hak setiap warganegara dalam berkeyakinan.  “Kami selaku pejabat negara berkewajiban memberikan perlindungan dan memberikan pelayanan bagi kebutuhan dasar setiap warga, termasuk keyakinan.”

Saya ucapkan selamat [atas muktamar ini], semoga dari muktamar ini dihasilkan hal yang bermanfaat bagi jemaah Ahlul Bait dan juga meneguhkan kebhinekaan dan kesatuan, Insya Allah,” pungkas Machasin menutup sambutannya. (Bahesty/Yudhi)

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Mengenal Zanjan; Ibu Kota Peringatan Duka Imam Husein as

Oleh: Emi Nur Hayatizanjan_rakhtshui_kahneh

 

Slogan ‘Haihata Minna Dzillah…Pantang Hina’ adalah slogan para pecinta Abu Abdillah Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw. Detik-detik peristiwa Karbala seakan tidak mau mundur dan berlalu, bahkan dari masa ke masa semakin tumbuh dan merekat di hati umat Muhammad yang mencintai keluarga nabinya.

Sekali lagi tibalah tanggal 8 Muharram 1346 Hq bertepatan dengan 2 November 2014. Setiap tahun pada tanggal ini penduduk kota Zanjan mengadakan acara peringatan duka untuk para syuhada Karbala. Tanggal 8 Muharram ini diperingati sebagai hari khusus untuk Abu Fadhl Abbas, yang dikenal dengan Yaumul Abbas, hari Abbas. Para pecinta keluarga Rasulullah Saw dari berbagai kota bahkan dari berbagai negara lain datang ke kota ini untuk hadir mengikuti acara duka Asyura. Acara duka untuk memperingati syahadah keluarga Rasulullah Saw yang dibantai oleh manusia-manusia durjana yang mengklaim dirinya sebagai Umat Muhammad Saw.

Di hari ini para pecinta keluarga Rasulullah memperingati duka syahadah syuhada Karbala dalam bentuk barisan besar dan pawai di jalan utama kota Zanjan. Pawai acara duka ini dimulai dari masjid Huseiniyeh Azam dan berakhir di makam Imam Zadeh Ibrahim. Acara ini berakhir seiring dengan dikumandangkannya azan Maghrib. Tentunya acara duka ini akan berlanjut pada hari berikutnya yaitu hari Tasua sampai pada puncaknya hari syahadah Imam Husein as di hari Asyura dan malam keterasingan Ummul Mashaib, ibu segala musibah, Sayidah Zainab as bersama tawanan lainnya.

Kota Zanjan setiap tahun menjadi tuan rumah ratusan ribu para pecinta keluarga Rasulullah Saw. Jumlah peserta yang hadir mencapai lima ratus ribu orang. Kota Zanjan pada hari itu sangat ramai. Semua datang untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Abu Fadhl Abbas. Tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, semua datang, seakan-akan kita berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang tinggal di rumah. Semuanya keluar untuk menghadiri acara hari Abbas dan mengingat keberaniaannya dengan menyuarakan slogan ‘Aku adalah Abbas, pembawa panji kebangkitan’Pengikut garis Husein wassalamHaihat Minna Dzillah dan slogan-slogan lainnya seperti Ya Husein!!!

Sebagian dari mereka yang ikut hadir dalam acara ini untuk menunaikan nazarnya karena hajatnya yang sudah terkabulkan. Mulai dari mereka yang punya hajat ingin memiliki anak sampai mereka yang berkeinginan untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya dan lain-lain.

Sebagian para peserta acara duka ini menyerahkan kambing korban ke masjid Huseinieh Azam Zanjan untuk disembelih. Masjid Huseinieh Zanjanlah yang mengelola acara spiritual ini. Pada tahun 1389 Hs, kambing korban telah mencapai 12 ribu ekor. Itulah mengapa kota Zanjan ini dikenal sebagai kota tempat korban kedua setelah kota Mina di Dunia Islam.

Peserta lainnya juga ada yang menghadiahkan uang, emas, beras, gula dan lain-lain. Para petugas yang menerima hadiah dan nazar memakai seragam yang sama demikian juga para petugas penyembelih kambing korban. Bahkan mereka sudah menyiapkan POS (pos hand book) untuk menerima tranferan uang dari para pemberi hadiah dan nazar yang tidak perlu lagi membawa uang tunai.

Peringatan acara duka Yaumul Abbas ini pada 15 Dey 1389 Hs tercatat sebagai warisan tak bendawi negara yang ke 10 dalam warisan budaya Iran.

Warga Zanjan hadir dalam acara duka putra Zahra as untuk mengatakan, ‘selama suara Ya Husein tetap ada di dalam mulut setiap pecinta keluarga Rasulullah, maka peristiwa Karbala dan keteraniayaan Imam Husein dan keluarganya yang suci tidak akan terlupakan.

Tetesan air mata sebagai rasa cinta kepada Imam Husein dan keluarganya yang suci menjadi harapan untuk mendapatkan syafaatnya di dunia dan akhirat, sembari menjadikan ibunya putri semata wayang Rasulullah Saw sebagai perantara untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt dan menjadikannya sebagai peziarahnya di mana saja kita berada. (IRIB Indonesia)

Sumber :Indonesia Irib

Boroujerdi: Melawan Ketamakan AS, Strategi Permanen Iran

miriam20111102160345390Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri, Majelis Syura Islam Iran menilai resistensi dalam menghadapi ketamakan Amerika Serikat di berbagai bidang termasuk dalam proses perundingan nuklir, adalah strategi permanen Iran.

Alaeddin Boroujerdi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran dalam wawancaranya dengan IRIB World Service (13/11) mengatakan, “Selama Amerika tidak menyusun jalur perundingan agar sesuai dengan kebijakan dua arah dan yakin bahwa Iran harus menyerah pada pandangan mereka, maka perundingan tidak akan pernah berhasil.”

Ia menjelaskan, “Iran dalam beberapa tahun terakhir berhasil mengatasi dengan baik sanksi-sanksi dan mampu mencapai sejumlah keberhasilan signifikan di bidang nuklir sekalipun dijepit banyak pembatasan-pembatasan. Oleh karena itu jika Amerika terus melanjutkan strategi lamanya, maka pihak yang kalah sebenarnya adalah mereka.”

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran berharap dalam putaran baru perundingan nuklir Iran dan Kelompok 5+1, masyarakat internasional akan menyaksikan sikap yang lebih rasional Amerika Serikat terkait hak nuklir Iran dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan final. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :Indonesia Irib

Ringkasan Pidato Rahbar di Hadapan Para Petugas Haji Iran

aks_rahbarPemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai ibadah haji sebagai kesempatan terbaik untuk menghadapi konspirasi untuk memisahkan Iran dari Dunia Islam, menjawab keraguan-keraguan dan propaganda musuh Islam, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan maknawi serta pemikiran umat.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (28/10) dalam pertemuannya dengan petugas haji tahun ini menegaskan, “Perencanaan untuk meningkatkan kinerja pelayanan haji dengan visi transformatif dan inovatif guna memenuhi kebutuhan maknawi dan intelektual umat, juga untuk menjawab keraguan dan propaganda musuh adalah sesuatu yang urgen.”

Ia menambahkan, “Membangun tembok untuk memisahkan Iran dan Dunia Islam merupakan salah satu langkah musuh persatuan umat Islam, dan semua harus menggunakan kesempatan haji dengan sebaik-baiknya sebagai medan umat Islam untuk meruntuhkan tembok ini dan merubah gambaran serta keyakinan keliru akibat propaganda musuh.”

Ayatullah Khamenei menganggap penting persatuan Islam sebagai kebutuhan nyata hari ini Dunia Islam. “Persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam merupakan bagian dari ajaran Islam dan dalam hal ini, Iran tidak berkompromi dengan siapapun,” tegasnya.

Menurutnya, persatuan Islam bukan berarti berpindah keyakinan mazhab Islam. “Persatuan Islam yang merupakan slogan mendasar Republik Islam Iran, yaitu, umat Islam satu sama lain tidak bermusuhan dan saling membantu dalam masalah-masalah penting dunia,” katanya.

Ayatullah Khamenei juga menekankan urgensi mengenal potensi kerugian dan menemukan faktor-faktor efektif dalam menyikapi propaganda musuh. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :< a href=”http://indonesian.irib.ir/iran/rahbar/item/87136-ringkasan-pidato-rahbar-di-hadapan-para-petugas-haji-iran”>Indonesia Irib

Mengenang Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy

said-ramadhanDekat penguasa bukan berarti menjilat. Ia memanfaatkan kedekatan itu dalam rangka amar makruf nahi munkar. Ketika kecil Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy tinggal di perbatasan Iraq-Suriah-Turki, bersama ayahnya tercinta, Syaikh Mulla Ramadhan Al-Buthy. Karena kekhalifahan Al-Utsmani jatuh, lalu Ataturk berkuasa, dan memerangi syariat Islam, maka Syaikh Mulla mengajak Al-Buthy hijrah ke Damaskus.

Sejak tinggal di Damaskus, Al-Buthy langsung digembleng ayahnya sendiri, yang merupakan ulama besar waktu itu. Saat usianya menginjak sekolah dasar, sang ayah mengajarkan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kitab Dzakhirah Al-Labib fi Ma’rifati Al-Habib. Setiap hari sang ayah juga mengajarkan tafsir al-Qur`an hingga 5 sampai 6 ayat. Dalam ilmu nahwu, sang ayah juga mewajibkan Al-Buthy menghafal bait-bait Alfiyahnya Ibnu Malik, hingga mampu menghafalnya kurang dari satu tahun. Dan dalam usia belum baligh, dia sudah hafal Nadzam Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Imrithi yang jumlahnya lebih dari seribu bait.

Lulus ibtidaiyah, ayahnya mengirim Al-Buthy kepada ulama besar Suriah, Syaikh Hasan Habanakah Al-Maidani. Maka tak heran bila ayah dan Habanakahlah yang sangat mempengaruhi kehidupan Al-Buthy. Hal ini terlihat dari sikap dan penghormatan Al-Buthy kepada sang ayah.

Dr Ahmad Bassam, Rektor Universitas Ladzikiyah berkisah. Suatu kali Al-Buthy meminta izin kepada sang ayah melalui telepon saat hendak memperpanjang kunjungan ke Ladzikiyah. Ketika sang ayah tidak mengizinkan, ia menurut begitu saja, tanpa ada upaya diplomasi untuk memperoleh izin. Padahal, saat itu usia Al-Buthy sudah 40 tahun dan menjadi Dekan di Univeristas Damaskus!

Dari Habanakah, Al-Buthy mengambil pelajaran terkait sikapnya kepada penguasa. Habanakah pernah diajak oleh beberapa ulama lain untuk melakukan gerakan melawan pemerintah. Namun ia menolak. Seorang ulama bertanya kepadanya, mengapa menolak?

Lalu Habanakah balik bertanya, ”Siapa yang menggerakkan aksi itu. Apakah kalian sendiri yang menggerakkannya?” Si penanya menggelengkan kepala. Belakangan terkuak, penggerak aksi demo itu tak lain adalah intelijen sendiri. Pelajaran itulah yang diambil oleh Al-Buthy, tidak mudah bergabung dengan gerakan anti pemerintah jika tidak jelas siapa yang menggerakannya.

Di saat berada di bawah bimbingan Habanakah, para guru mendorongnya untuk menghafal al-Qur`an, namun sang ayah melarangnya karena besarnya dosa mereka yang menghafalkan tetapi melupakannya. Namun karena Al-Buthy dasarnya gemar membaca al-Qur`an, dalam 3 hari dia berhasil menghatamkan 30 juz.

Pada umur 18 tahun Al-Buthy menikah. Lalu pada tahun 1954 dia melanjutkan belajar ke Al-Azhar Mesir. Pada saat menjadi mahasiswa, Al- Buthy rajin menulis artikel sastra dan masalah sosial kemasyarakatan ke koran Al-Ayyam.

Setelah memperoleh gelar sarjana dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, Al- Buthy ditunjuk menjadi dosen di Universitas Damaskus. Pada tahun 1977, dia diangkat menjadi Dekan Fakultas Aqidah.

Al-Buthy jauh dari kehidupan luar, karena sibuk mengajar, baik di Universitas Damaskus mapun di beberapa masjid seperti Masjid Tinkiz dan Masjid Al-Iman dan Masjid Al-Umawi. Hal itu berlaku hingga tahun 1981.

Tetap Memegang Prinsip

Pada tahun 1985 terjalin hubungan khusus antara Al-Buthy dengan Presiden Suriah Hafidz Al-Assad. Hubungan itu terbangun dengan dipanggilnya Al-Buthy oleh Hafidz Al-Assad, setelah dia membaca beberapa buku karya Al-Buthy. Setelah itu, Al-Buthy sering menghadiri undangan khusus dari Hafidz Al-Assad.

Dari hubungannya itu, Hafidz Al-Assad yang sebelumnya dikenal amat keras terhadap gerakan Islam langsung membebaskan puluhan tahanan politik dari para aktivis Islam, terutama Al-Ikhwan Al-Muslimun. Dengan kejadian itu, Al-Ikhwan yang sebelumnya mengkritik keras sikap Al-Buthy berbalik memberikan penghormatan. Salah satu tokoh Al-Ikhwan yang mengakui hal ini adalah Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Al-Buthy juga mengkritik gerakan perlawanan aktivis Muslim di Aljazair. Kritik itu dituangkan dalam sebuah buku berjudul Al-Jihad fi Al-Islam.

Ternyata banyak pihak yang menentang buku itu. Tetapi tiga tahun kemudian, para pengkritik membenarkan pendapat Al-Buthy setelah mengetahui bahwa dalang peristiwa Aljazair adalah intelijen Perancis.

Al-Buthy juga tetap konsisten. Amar makruf nahi munkar juga terus dia tunjukan kepada pemerintah di masa Bashar Al-Assad (anak Hafidz Al-Assad), Presiden Suriah sekarang. Baik secara terang-terangan maupun langsung. Kritiknya terhadap kurikulum yang jauh dari Islam, serial TV pemerintah yang isinya merendahkan nilai-nilai Islam, hingga kasus pemecataan beberapa guru yang memakai cadar.

Pada kasus terakhir, Al-Buthy terang-terangan menyampaikan kritik dan mengajak Pemerintah dan umat Islam bertaubat, karena di saat yang sama pemerintah mengumumkan agar umat Islam melaksanakan shalat Istisqa’. Alhamdulillah, pemerintah pun mengubah kebijakannya setelah kritikan itu.

Para pengamat juga menilai bahwa keputusan Pemerintah Suriah mendukung organisasi perlawanan Palestina juga karena pengaruh Al-Buthy.

Meski demikian, Al-Buthy bukanlah ulama yang mendapat gaji dari pemerintah seperti mufti negara dan mufti wilayah atau pegawai bidang keagamaan. Bahkan dia menolak dimasukkan dalam Kementerian Perwakafan Suriah.

Dia juga sempat ditawari menjadi pengisi tetap siaran di televisi Aljazeera dan pernah diminta menjadi pengajar sebuah universitas di luar Suriah, dengan tempat tinggal yang nyaman dan memperoleh uang yang lebih dari cukup. Namun, Al-Buthy lebih memilih mengajar di masjid-masjid Damaskus, yang telah dia lakukan selama lebih dari 40 tahun. Al-Buthy menaggapi tawaran itu dengan menyatakan, ”Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy malu jika dihadapan Allah ditanya mengenai nasib 5 ribu pencari ilmu yang ditinggalkan karena mencari dunia”.

Ulama yang juga menjadi ketua Ikatan Ulama Negeri Syam ini akhirnya tetap dalam posisinya, sebagai pengajar di beberapa masjid di Damaskus dan kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan sedang mengajar.

Dia meninggalkan lebih dari 60 karya, seperti Tarikh Dirasat Al-Quraniyah (3 jilid), Syarh Al-Hikam Al-Athaiyah (5 jilid), Qadhaya Fiqhiyah Muashirah (2 jilid), Ma’a An-Nas Musyawarat wa Al-Fatawa (2 jilid), Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah dan lain-lain. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal kebaikannya dan mengampuni semua kesalahannya. Aamiin (Liputan Islam/ AF)

Sumber :Liputan Islam