Tag Archives: gaza

[Sebuah Kesaksian] Indahnya Akhlak Asy Syahid Syeikh al-Buthi

syeikh-buthi-2-278x300LiputanIslam.com– Dalam satu pertemuan,  (alm) Presiden Hafez al-Assad curhat kepada (Asy Syahid) Syeikh al-Buthi tentang kampung halamannya Latakia (orang Suriah menamakannya Mantiqah Jabaliyah, mayoritas penduduknya sekte Alawiyin atau lebih dikenal dengan Nushayriyah).

“Doktor, apakah sekarang ada para mahasiswa dari sekte Alawiyin yang belajar di Fakultas Syariah Universitas Damaskus yang Anda pimpin sekarang?”

Syeikh al-Buthi menjawab, “Tidak ada satu orangpun.”

Lalu Presiden berkata, “Apakah Anda akan menerima mereka jika saya memberi mereka beasiswa tiap tahun kepada 40-50 orang anak berbakat dari sekte Alawiyin agar bisa masuk ke Fakultas Syariah? Karena masalah yang dihadapi masyarakat di kampung halaman saya adalah jahil (kebodohan), tidak ada yang mengajari mereka. Kalau mereka berteman dengan orang Sunni mereka menjadi Sunni. Kalau berteman dengan Syiah maka akan jadi Syiah. Kalau berteman dengan Kristen ya jadi Kristen. Bahkan jika berteman dengan atheis, mereka akan jadi atheis. Hal ini benar-benar membuat saya bersedih, jadi saya sangat berharap Anda bisa menerima mereka.”

Syeikh al-Buthi menjawab, “Wahai Bapak Presiden seharusnya tanggung jawab kami untuk datang kepada mereka, dan kalau Anda mau melakukan itu seharusnya kami yang berterima kasih.”

Dan tahun ajaran selanjutnya beasiswa mulai berjalan, sekitar 40-50 mahasiswa utusan dari sekte Alawiyin terdaftar di kuliah di Fakultas Syariah.

Suatu hari saat Syeikh al-Buthi keluar dari kelas, salah satu mahasiswi yang menerima beasiswa, menghampiri beliau dalam keadaan menangis dia bertanya, “Ustadz, saya dengar dari orang-orang, kami sekte Nushayriyah bukan orang Islam, apa benar seperti itu?”

Syeikh al-Buthi balik bertanya, “Bukankah kamu mengucap syahadat?”

“Iya, saya juga shalat 5 waktu,” jawab mahasiswi tersebut sambil terus menangis.

Air mata Syeikh al-Buthi mulai menetes lalu beliau berkata kepada mahasiswi itu, “Kalau begitu kamu seorang muslimah, dan bahkan kamu jauh lebih baik daripada saya. Tolong doakan saya.”

*****

Tanpa kita sadari betapa zalimnya kita, kita sadari atau tidak kita sering membuat orang lain merasa kalau mereka tidak pantas menjadi muslim, dengan mudahnya kita sambil bersender dan minum kopi pahit, lalu update status dan memvonis mereka dengan cap kafir, bajingan, fasiq, taghut, zalim, sesat, tanpa pernah sekalipun kita mencoba berdakwah secara baik-baik kepada mereka.

Bahkan kita memvonis hanya bermodal info dari YouTube, Google, dll, tanpa sekalipun bertemu mereka, atau membaca buku-buku yang menjadi rujukan mereka.

Apakah seperti ini ajaran Islam? Apakah dulu Rasul Saw seperti itu ketika berdakwah? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sudah sangat jauh dari agama?

Sumber :Liputan Islam

Letak Perbedaan Pendapat Sunni-Syiah

no-sunni-syiah-53aa3f4499e6bBerikut ini beberapa letak perbedaan antara kelompok Sunni-Syiah;

Mushaf Fatimah. Letak perbedaan pendapat ada pada klaim Mushaf Fatimah.

Dr Al-`Awwa menekankan bahwa ada perbedaan antara mazhab dan partai. Mazhab mengacu pada keputusan hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, halal, dan sebagainya. Sedangkan partai mengacu pada sekelompok Muslim yang mendukung kelompok dan pemikiran tertentu, membedakan diri dari umat Islam lainnya yang berkaitan dengan masalah iman.

Selain itu, ia menekankan pentingnya dialog dengan Syiah, yakni kelompok Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja` fariyyah), di mana Syiah ini kebanyakan berada di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, dan semua negara-negara Teluk. Saat ini, pandangan politik dan jihad para pengikut kelompok ini memiliki dampak besar bagi Islam.

Dr Al-`Awwa juga menjelaskan bahwa ada alasan umum antara Sunni dan Syiah yang mengharuskan mereka menjunjung persatuan, selain karena mereka memiliki keimanan yang sama terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Juga,  mereka sama-sama meyakini akan perintah umum Islam lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Selain itu, baik Sunni maupun Syiah sepenuhnya menerima semua hal yang difirmankan Allah Swt. Tidak ada Muslim Sunni atau Syiah yang bertentangan mengenai semua fakta yang terkandung dalam Al Qur’an, baik dari sampul salinan hingga isi keseluruhan Qur’an, dari Surat Al-Fatihah hingga Surat An-Nas. Kedua kelompok besar Islam ini meyakini bahwa  firman Allah Swt. ini diwahyukan  kepada Nabi Muhammad Saw.

Klaim bahwa Syiah telah menyelewengkan Al Qur’an didasarkan pada buku Fasl Al-Khitab Fi Ithbat Tahrif Kitab Rabb Al-Arbab (Final Word on the Proof of Perversion of the Book of the Lord of Lords) karya An -Nuri At-Tabrasi. Hal ini juga didasarkan pada informasi palsu yang disebutkan dalam beberapa buku Syiah tentang sebuah buku berjudul Mushaf Fatimah (Fatimah Copy Al-Qur’an). Namun, klaim ini, bahkan disangkal oleh ulama Sunni dan Syiah.

Misalnya,  penolakan terhadap klaim itu terdapat dalam kitab Al-Mirza Borujerdi di mana ia berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang dikeluarkan oleh pendapat An-Nuri. Buku Al-Borujerdi ini dipuji oleh Hibatullah Ash-Shihristani (seorang sarjana Syiah) di salah satu suratnya kepada penulis. Dalam surat tersebut, Ash-Shihristani menggambarkan keadaan kota Samarra’ menyusul terbitnya buku An-Nuri. Dia berkata, “Aku melihatnya [Samarra’] seperti surga bagi para pendatang baru. An-Nuri, melalui bukunya Final Word. Setiap kali kami mulai sesi agama (hawzah), ada banyak yang menentang isi buku, penulis, dan penerbitnya.”

“Jika hal-hal yang diutarakan penulis “Fasl Al-khitab” tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka apa yang ia tulis akan ada nilainya, baik dalam pengetahuan maupun praktek. Sebaliknya, [buku] itu hanya rekaman narasi lemah.”

Selain Hibatullah Ash-Shihristani, ada juga yang membantah pendapat An-Nuri, yakni Sheikh Al-Mufid dan Sheikh Al-Khu’i.

Adapun yang disebut Mushaf Fatimah, Imam Ja’far As-Shadiq berkata, “Apa pun yang termasuk di dalamnya adalah bukan dari Al Qur’an. Sebaliknya, itu adalah sebuah interpretasi dari apa yang terungkap melalui Jibril [Malaikat Jibril] dan disampaikan oleh Nabi Saw.”

Selain itu, Syiah menunjukkan bahwa mushaf, yang umumnya berarti salinan Al Qur’an, juga dapat berarti isi yang terletak di antara dua sampul buku apa pun. Selain itu, mushaf merupakan sebuah kata yang baru diciptakan—yang tidak digunakan sebagai nama untuk Al Qur’an di masa lalu.

Oleh karena itu, dengan merujuk syiah menyeleweng dengan berdasar pada Mushaf Fatimah, maka Syiah tidak berarti meyakini bahwa isinya adalah Firman Allah. Kesimpulan ini kemudian diperkuat oleh fakta bahwa Syiah tidak terlihat memegang salinan Al Qur’an selain Al Qur’an itu sendiri. Hal ini terlihat dari penelusuran yang menemukan bahwa Mushaf Fatimah tidak ada di perpustakaan buku-buku agama Syiah. Seperti telah disebutkan, semua umat Islam, Sunni dan Syiah, percaya pada Al Qur’an yang sama.

Imamah Ali. Perbedaan antara Sunni dan Syiah termasuk kontroversi atas keyakinan Syiah bahwa imamah adalah posisi Ilahi. Yakni menempatkan kepemimpinan kepada orang yang ditunjuk langsung Allah atau Rasul-Nya. Mereka percaya bahwa Nabi telah menunjuk Ali bin Abi Thalib dan mengatakan bahwa imamah harus diberikan kepada Ali sampai ke imam kedua belas, Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askari (Imam Mahdi menurut kepercayaan Syi’ah).

Sunni, di sisi lain, mengabaikan keyakinan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada teks ilahi mengenai imamah. Mereka menganggap imamah masalah Fiqih (hukum Islam), bukan masalah yang berkaitan dengan iman.

Kelompok Sunni juga percaya bahwa Imam Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama.

Ayatullah Shariatmadari berpendapat bahwa orang memiliki hak untuk mengatur diri mereka sendiri dan memilih wakil-wakil mereka melalui pemungutan suara. Dia juga percaya bahwa hal itu tidak dibolehkan untuk satu orang atau kelas tertentu secara eksklusif dalam kepemerintahan. Pandangannya secara eksplisit menentang teori otoritas Faqeeh (ulama fiqh) yang ditegakkan oleh Ayatullah Khumeini. Ayatullah Muhammad Mahdi Shams-ud-Din dan Ayatullah Muhammad Husain Muntazeri juga di antara mereka yang memiliki pendapat berbeda tentang masalah ini.

Dr Al-`Awwa percaya bahwa itu adalah tugas ulama Sunni (khususnya mereka yang tertarik mendalami fiqh politik) untuk mencari tahu lebih jauh tentang pendapat mereka untuk selanjutnya diadopsi oleh ulama Syiah Imamiyah dari Ithna`Ashriyyah. Para ulama Sunni harus bekerja sama untuk mencari kesesuaian mengenai masalah ini, yang telah memicu pertikaian pertama di antara umat Islam setelah kematian Nabi.

Imam Mahdi yang ditunggu. Bagian dari perselisihan antara Sunni dan Syiah adalah karena keyakinan Syiah yang menunggu kedatangan Imam Mahdi atau Imam Al-`Askari (imam Syiah dua belas). Kelompok Syiah percaya bahwa imam Mahdi akan kembali sebelum Hari Akhir dan menyebarkan keadilan di seluruh dunia setelah terjadi ketidakadilan.

Kaum Sunni juga percaya bahwa Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama (Islam). Juga, sementara Sunni percaya bahwa semua orang bertanggung jawab terhadap dosa kecuali Nabi, Syiah percaya bahwa Mahdi sempurna.

Tuqyah atau Taqiyyah. Titik lain terjadinya perbedaan pendapat dalam hal keyakinan Syiah Imamiyah adalah Tuqyah. Taqiyyah umumnya berarti bahwa seorang Muslim menyembunyikan keyakinan atau keimanan karena dorongan keterpaksaan guna menyelamatkan dan menjaga jiwa, kehormatan maupun hartanya di tengah-tengah kejahatan yang dilakukan orang kafir. Pendapat ini didasarkan pada ayat berikut: 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. AI Imran :28)

Penghinaan terhadap sahabat. Penghinaan kaum Syiah terhadap sahabat Nabi merupakan titik perselisihan serius antara Sunni dan Syiah. Sebenarnya, sulit untuk mendamaikan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (ra.)” dengan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (semoga Allah mengutuknya)!”

Kaum Sunni tidak pernah menghina apapun; mereka mengutuk siapa pun yang melakukannya. Namun, fenomena penghinaan Syiah kepada sahabat berkurang seiring berjalannya waktu. Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, presiden Uni Internasional Cendekiawan Muslim, menegaskan bahwa kecenderungan menahan diri dari memaki-maki para sahabat mulai menyebar di Iran. Selain itu, pada hari-hari awal Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumeini mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengutuk para sahabat akan dianggap kafir.

Selain itu, Grand Mufti Mesir Dr Ali Jum’ah menegaskan bahwa edisi baru dari buku 110 jilid Bihar Al-Anwar (Seas of Lights) yang dicetak oleh Al-Majlisi di Beirut, Lebanon, Volume 29 sampai 33, termasuk pelanggaran kepada para sahabat.

Ini semua tentang politik. Sejarah membuktikan bahwa politik adalah alasan di balik perpecahan pertama di kalangan umat Islam. Ironisnya, hal yang sama berlaku di zaman modern ini yang membesar-besarkan perbedaan pendapat antara Sunni dan Syiah. Tanda-tanda pertama dari perpecahan muncul pada tahun 1979 setelah pecahnya revolusi Iran. Sementara revolusi ini mendapat dukungan dari banyak orang di seluruh Dunia Muslim, hal itu menimbulkan kekhawatiran dari beberapa penguasa.

Perang Iran-Irak (1980-1988) membuat situasi lebih buruk. Meskipun itu bukan perang Sunni-Syiah, namun perkelahian itu ditafsirkan banyak pihak mengarah pada dua kelompokk besar Muslim itu. Akibatnya, orang-orang Arab terpecah menjadi dua kelompok: satu mendukung orang-orang Arab melawan Iran dan yang lainnya melihat pertarungan sebagai perang agresi terhadap negara Islam yang menang atas Shah.

Setelah itu, Hizbullah di Lebanon muncul sebagai partai Syiah dan memimpin perlawanan Islam, yang memaksa Zionis dari Lebanon selatan pada tahun 2000. Pada akhir Juli 2006 Perang di Lebanon, Hizbullah mendapatkan popularitas lebih di Dunia Muslim. Para penguasa Arab, bagaimanapun, menunjukkan reaksi yang berbeda; beberapa penguasa Arab digambarkan sebagai petualangan perang yang salah perhitungan. Juga, manajemen yang efisien Iran terkait sengketa dan program nuklirnya memperkuat citra yang lebih positif dari Syiah.

Kesimpulannya, semua peristiwa ini memerlukan persatuan umat Islam, sehingga mereka akan mampu melindungi kepentingan seluruh umat Islam. Dialog dan pemulihan hubungan harus ada antara masyarakat itu sendiri, bukan mazhab, karena mazhab merupakan posisi hukum dan ideologi mapan yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, kerjasama dan saling mengenal antara masyarakat yang berbeda mahzab atau apa yang sering kita sebut dialog dan pemulihan hubungan—yang bertujuan untuk mencapai kesatuan dan kekuasaan di tingkat sosial, budaya, ekonomi dan politik sangat diperlukan kedua kelompok.  Wallahu A’lam Bishowab. [LS]

 

Sumber: OnIslam

Hubungan Antara Sunni dan Syiah

sunni_and_shia_unity_by_fatimach-d6viy0o-53aa3c9d550b6Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain.
Pemulihan hubungan dan dialog di sekolah atau pusat pendidikan yang mengedepankan pemikiran Islam bertujuan untuk menjaga “tubuh Islam”, agar Islam sebagai agama tetap hidup, koheren, dan kuat, sehingga umat Islam dapat menjaga umat dari musuh-musuhnya. Dalam Al Qur’an, Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al-Anfal: 60)

Dengan demikian, kepatuhan terhadap pluralisme dalam Islam –dengan saling menghormati—terbukti dengan pandangan dan pemikiran yang berbeda—merupakan benteng kekuasaan. Sementara itu, mencoba untuk memaksakan pikiran atau pandangan tertentu pada orang lain merupakan jalan menuju kelemahan dan kehancuran. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah untuk meningkatkan persatuan Islam dan untuk melaksanakan perintah Allah Swt. yang tercantum dalam  Surat Ali Imron : 103.

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya, kamu menjadi bersaudara.”

Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain. Allah Swt. berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat 49:13)

Oleh karena itu, Sunni dan Syiah—kelompok terbesar dalam umat Islam—perlu mengenal satu sama lain. Cendekiawan Muslim terkemuka dunia, Dr Al-`Awwa menjelaskan secara singkat tentang keadaan historis yang menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam pasca kematian Nabi Muhammad Saw.

Setelah kematian Nabi, empat sahabat diasumsikan dalam kekhalifahan. Abu Bakar As-Siddiq terpilih sebagai khalifah pertama. Ia digantikan oleh Umar ibn Al-Khattab dan kemudian Utsman ibn Affan, yang kemudian dibunuh di tengah kerusuhan politik karena ketidaksetujuan masyarakat atas beberapa tindakannya.

Setelah itu, Ali ibn Abi Thalib diakui sebagai khalifah keempat, namun ada ketidaksepakatan di antara masyarakat mengenai posisinya. Beberapa menolak untuk mengakuinya sebagai khalifah, dan sebagian lain memberikan dukungan mereka untuknya. Kelompok ketiga, bagaimanapun, menganggapnya sebagai seorang imam dan khalifah yang sah. Ketidaksepakatan tersebut masih ada di zaman modern kita saat ini.

Selama kekhalifahan itu, Ali ibn Abi Thalib berselisih dengan Thalhah ibn Ubayd Allah dan Az-Zubair bin Al-Awam. Juga, berselisih dengan Mu’awiah bin Abi Sufyan. Pertengkaran ini memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

Perjuangan bersenjata antara Ali dan Mu’awiah membagi umat menjadi tiga pihak:

Pihak pertama berpihak pada Ali sepanjang dan setelah perjuangannya. Para anggota sisi ini kemudian dikenal sebagai Partai (Syiah) dari Ali. Nama itu kemudian dikurangi menjadi Syiah. Partai ini semakin pecah menjadi banyak golongan, yang sebagian besar tidak ada lagi. Kini, yang tersisa hanya dua kelompok tetap, yakni Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja`fariyyah) dan Zaidiyah.

Pihak kedua kemudian dikenal sebagai Al-Khawarij (pembangkang). Penamaan pada kelompok ini telah disematkan sejak awal. Namun, mereka tidak ada lagi. Hari ini, tidak ada jejak mereka yang dapat ditemukan.

Pihak ketiga adalah kelompok yang dikenal sebagai Ahl As-Sunnah Wal-Jama ah. Kelompok inilah yang kemudian menyasar sebagian besar umat Islam yang selama perang terpecah menjadi kelompok Ali dan Mu`awiyah. Namun, pada akhirnya, ketika Al-Hasan ibn Ali mengundurkan diri dari kekhalifahan mendukung Muawiyah, kedua kubu tersebut digabung menjadi satu partai.

Satu hal yang menjadi alasan utama di balik perpecahan tersebut di kalangan umat Islam adalah politik. Kemudian, meluas ke permasalahan keyakinan dan hukum. Masing-masing pihak memiliki konsep dan alasan tersendiri terkait pendapat mereka. [LS]

Sumber :Islam Indonesia

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (2)

qaeda1-53fcafebd4e63Setelah menyodorkan sejumlah referensi yang mendukung asumsinya, Hasan melanjutkan argumennya: alih-alih berpijak pada motif-motif religius, terorisme lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor radikalisasi yang lain. Di antaranya, kemarahan moral, kekecewaan, tekanan kelompok sebaya, krisis identitas, hiangnya rasa memiliki dan tujuan hidup.

Antropolog Scott Atran meringkaskan motif-motif itu dalam kesaksiannya di Senat AS, Maret 2010 lalu: “… Apa yang menginspirasi para teroris paling mematikan di dunia saat ini bukanlah Al-Qur’an atau ajaran-ajaran agama, melainkan dorongan dan gairah menggelora untuk melakukan aksi yang menjanjikan kejayaan dan kehormatan di mata teman-teman sebaya, dan melalui mereka, penghargaan dan kenangan abadi di dunia yang lebih luas.” Atran melukiskan para calon jihadis sebagai remaja yang “dirundung kejenuhan, kurang pekerjaan, kelebihan sanjungan dan kurang gairah” yang melihat “jihad sebagai sesuatu yang egalitarian, kesempatan kerja yang setara… penuh keseruan, kejayaan dan keasyikan.”

Atau, mengutip Chris Morris, penulis dan sutradara komedi hitam produksi 2010 berjudul Four Lions—yang mensatirkan kedunguan, kekonyolan dan keluguan murni beberapa jihadis Muslim asal Inggris—pernah menyatakan: “Terorisme memang berkaitan dengan ideologi, tapi lebih banyak lagi berkaitan dengan kedunguan.”

Orang-orang lugu, bukan para martir—itulah mereka.

“Sosok-sosok dungu,” kata kepala MI6 Richard Dearlove, bukan pejuang-pejuang suci. Jika kita ingin menangani jihadisme, kita perlu berhenti membesar-besarkan ancaman remaja ini dan memberi oksigen ketenaran dan kemasyhuran yang mereka idam-idamkan, lalu mulai menggarisbawahi bagaimana banyak dari mereka benar-benar hidup bertentangan dengan aturan Syariat di luar dinas “jihad” mereka.

Semasa hidup di Filipina tahun 1990-an, Khalid Sheikh Mohammed, yang digambarkan sebagai “arsitek utama” serangan 11 September oleh Komisi 9/11, pernah menerbangkan helikopter di atas gedung kantor tempat pacarnya bekerja dengan spanduk bertuliskan “I love you.” Keponakannya, Ramzi Yousef, yang divonis penjara seumur hidup karena perannya dalam aksi teror World Trade Center 1993, juga punya pacar dan, seperti pamannya, kerap terlihat di daerah pelacuran Manila. Agen FBI yang memburu Yousef mengatakan bahwa dia “bersembunyi di balik jubah Islam.” Sejumlah keterangan saksi mata menyatakan bahwa para pembajak 9/11 sering mengunjungi bar dan klub tari telanjang di Florida dan Las Vegas beberapa saat sebelum melakukan aksi teror mereka. Para tetangga Hamid Ahmidan—terpidana kasus peledakan kereta di Madrid tahun 2004—mengenangnya sebagai “pria yang suka berkeliling dengan motor dengan pacarnya yang berambut panjang, wanita Spanyol yang berselera mengenakan busana super ketat,” menurut berbagai laporan media.

Agama, sudah tentu saja, memainkan peran penting dalam semua ini, terutama bentuk Islam yang diselewengkan dan dipolitisasi menjadi “kendaraan emosional”, sebagai sarana mengartikulasi kemarahan dan memobilisasi massa di belahan dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tapi, prasangka bahwa bahaya itu datang dari mereka yang taat beragama dapat menghilangkan nyawa yang tak berdosa. Harus ada penawar generalisasi yang kian mengharu-biru media. Bahwa tidak semua Muslim itu Islamis, tidak semua Islamis itu jihadis dan sebagian terbesar semua jihadis justru tidak taat dalam beragama. Mengklaim sebaliknya bukan saja tidak akurat dan melenceng tapi juga dapat mengakibatkan korban jiwa yang tak berdosa.

Kesimpulannya, menurut Hasan, di dunia nyata, bukan dunia yang dibentuk media, calon-calon jihadis umumnya justru tidak begitu paham agama, tidak taat menjalankannya dan memiliki motif-motif yang justru dikecam oleh agama, seperti mencari kemuliaan kemasyhuran pribadi dan sejenisnya. Di sisi lain, aparat keamanan dan hukum juga harus mulai membaca buku-buku yang mengambil perspektif lain tentang para jihadis tersebut dan menonton—setidaknya—film-film sejenis The Four Lions yang memperlihatkan para calon pejuang suci dari sudut pandang yang terbalik.

Sumber :Islam Indonesia

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (1)

qaeda1-53fcafebd4e63Bisakah Anda menerka bahan bacaan macam apa yang dipesan dua teroris Yusuf Sarwar dan Mohammed Ahmed dari Amazon sebelum mereka berangkat dari Birmingham untuk berjihad di Suriah, Mei silam? Tidak mudah. Mereka tidak membaca karya-karya ideolog macam Sayyid Qutb, pesan-pesan Usama bin Laden, buku-buku kaum anarkis atau sejenisnya. Tidak.

Sarwar dan Ahmed, yang sama-sama telah menyatakan bersalah atas tuduhan terorisme, membeli buku pengantar Islam berjudul Islam for Dummies dan The Koran for Dummies. Kedua buku ini menunjukkan tingkat pemahaman Islam kedua “mujahid” tersebut. Dua karya tingkat dasar itu mengukuhkan lebih jauh argumen yang menyatakan bahwa ajaran Islam nyaris tidak berhubungan dengan gerakan jihad modern.

Kaum remaja Muslim bermata nanar yang terlihat menikmati penyembelihan dan pemboman sadistis itu boleh jadi berupaya menjustifikasi aksi-aksi kekerasan mereka dengan retorika religius— seperti aksi-aksi eksekusi mati dan penyembelihan mereka yang selalu dimeriahkan oleh teriakan “Allahu Akbar”; ISIS yang menyembelih fotojurnalis James Foley sebagai bagian dari “jihad”. Tapi, faktanya, semangat agama bukan yang paling besar memotivasi mereka.

Mehdi Hasan, kolumnis dan pemerhati masalah agama, membeberkan kesahihan argumen di atas. Pada tahun 2008, sebuah catatan rahasia ihwal radikalisasi, yang dipersiapkan oleh unit sains perilaku lembaga MI5, bocor ke koran The Guardian. Catatan itu menyebutkan, “jauh sikap dari orang-orang yang taat beragama, sejumlah besar mereka yang terlibat dalam terorisme tidak mengamalkan ajaran agama secara teratur. Banyak dari mereka minim pengetahuan agama dan dapat dianggap sebagai awam dalam agama.” Para analis di lembaga itu menyimpulkan bahwa “identitas agama yang mapan justru dapat mencegah radikalisasi yang keras,” tulis koran tersebut.

Untuk pembuktian yang lebih banyak, bacalah buku-buku psikiater forensik dan mantan petugas CIA, Marc Sageman; ilmuwan politik Robert Pape; sarjana hubungan internasional Rik Coolsaet; pakar Islamisme Olivier Roy; antropolog Scott Atran. Mereka semua telah mempelajari kehidupan dan latarbelakang ratusan jihadis (mujahid) penggemar bedil, pelempar bom dan penyembelih leher. Dan semua pakar itu sepakat bahwa Islam sama sekali tidak berhubungan dengan perilaku mereka.

Sumber :Islam Indonesia

Kenapa kaum muslim terpecah menjadi berbagai mazhab ?

 Tanya: Pa Ust, saya mau tanya, kenapa kaum muslimin ini terpecah menjadi berbagai macam mazhab. Ada Sunni ada syiah bahkan ada juga yang namanya salafi. Apakah tidak sebaiknya kaum muslimin itu bersatu saja. Bukankah kalau orang-orang Islam bersatu maka mereka akan menjadi kuat?

 

Jawab: Bismillahir  Rahmanir Rahim. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.Pada hakekatnya kaum Muslimin itu satu. Ummat Nabi Muhammad saw itu satu. Mereka sesungguhnya disatukan oleh satu keimanan dan keyakinan bahwa Tuhan mereka satu yakni ALLAH; Nabi mereka satu yakni Nabi Muhammad saw; keimanan mereka pada hari akherat sama. Kitab mereka satu yakni kitab suci al-Quran; kiblat mereka satu yakni Ka’bah; syareat mereka satu yakni syareat Allah.

Secara prinsip sesungguhnya mereka itu satu. Karena itu al-Quran menyebut mereka dengan satu kata “wa inna hadzihi ummatukum ummatan wahidatan wa ana Rabbukum fa’buduni” (sesungguhnya ummat kalian ini adalah ummat yang satu. Dan Aku adalah Tuhan kalian maka sembahlah Aku”.

Perbedaan muncul ketika penafsiran yang beraneka ragam lahir. Sebab yang namanya penafsiran pasti akan dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman manusia yang dilaluinya.  Maka wajar saja apabila kemudian kita menyaksikan berbagai macam penafsiran yang berbeda sementara ayat atau hadis yang ditafsirkannya satu.  Ini karena ilmu masing-masing mereka tidaklah sama, demikian juga latar belakang pendidikan, budaya bahkan niat mereka juga berbeda-beda.

Misal ayat al-Quran yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah seperti “Yadullah fauqa aidihim” bahwa tangan Allah di atas tangan mereka. Ayatnya satu. Tapi penafsiran apa yang dimaksudkan dengan tangan Allah itu berbeda-beda. Ada yang menafsirkannya secara harfiah bahwa Allah benar-benar punya tangan meskipun kita tidak perlu tahu bagaimana bentuknya. Ada yang lain menafsirkan tangan Allah di ayat itu berarti Kekuasaan Allah. Sehingga kata “tangan” Allah disitu tidak diartikan secara harfiah tetapi diartikan secara takwil atau kiasan.

DI dalam al-Quran dan hadis-hadis Nabi banyak sekali hal yang serupa itu terjadi. Banyak ayat atau hadis yang ditafsirkan berbeda-beda oleh para ulama atau sarjana Muslim sehingga lama kelamaan ia membentuk sebuah mazhab dan juga komunitas atau pengikut. Dari gambaran ini Insya Allah mudah bagi kita untuk bisa memahami bagaimana asal muasal lahirnya berbagai macam mazhab di tengah ummat Islam yang sekarang telah berjumlah sekitar 1,6 miliar Muslim.

Bagaimana seharusnya kita menyukapi perbedaan2 seperti ini? Saya pikir pada point inilah setiap kita harus berjuang. Kita harus berjuang mensosialisasikan sebuah prinsip bahwa berbeda penafsiran itu tidak jelek bahkan itu adalah kodrat manusia yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT sejak alam azali. Asalkan penafsiran yang diberikan adalah penafsiran yang ilmiah, objekrif dan jauh dari motif-motif tendensius atau destruktif lainnya. Yang jelek itu adalah ketika kita mengecam atau menyalahkan secara sepihak penafsiran orang lain yang berbeda dengan penafsiran kita. Kecam mengecam apalagi kafir mengkafirkan adalah sebuah sifat yang tentu tidak gentleman bahkan itulah yang menyebabkan terciptanya perpecahan dalam tubuh Ummat Islam yang satu ini.

Dari sana kita bisa faham bagaimana pentingnya sifat dan sikap toleran yang harus kita sandang dalam hidup kita demi kesatuan dan kekuatan Ummat Nabi Muhammad saw.

 

Pendeta Koptik Mesir : Islam Bukan Ekstremis

Pendeta-Koptik-Mesir-200x300Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), sebagai organisasi yang bertujuan untuk dialog antar iman, demokrasi dan kedamaian menggelar dialog pada hari Selasa (16/9) dengan seorang tokoh agama Kristen Koptik Mesir Abuna Youhanna Bestawros. Orthodok Koptik adalah Gereja Alexandria yang merupakan salah satu dari tiga kepatriakan tradisional yang kanonik setetal Roma dan Antiokhia.

Dalam dialog yang dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh lintas agama, seperti Islam, Kristen, Konghucu dan juga Sinkh, Bapa Youhanna menyingung soal ekstremisme yang terjadi di Mesir, yang setelah gejolak politik Mesir sering disematkan pada umat Islam.

Menurut Bapa Youhanna, ekstremisme itu bukanlah bagian dari Islam, sebab umat Islam beriman pada Al-Quran. Jika ada umat Islam yang melakukan tindakan ekstremis, maka sesungguhnya mereka sedang membuat orang-orang takut kepada Islam dan Al-Quran tidak mengajarkan hal itu.

“Islam tidaklah seperti itu,” terang Bapa Youhanna.

Dia ambil contoh Mesir sebagai sebuah negara yang besar dan memiliki Universitas Islam terbesar seperti Al-Azhar, kehidupan beragama antara umat Islam dan Kristen cukup harmonis. Walaupun terdapat dari mereka yang berpindah agama, dari Kristen ke Islam dan sebaliknya, namun hal tersebut tidak mengganggu keharmonisan di antara mereka.

Yang menjadi masalah menurut Bapa Youhanna adalah ketika para ekstremis datang ke Mesir dan mencoba untuk merusak indahnya kerukunan yang ada di Mesir, dengan menggunakan kekuatan dan pedang. Hal tersebut dapat mengganggu keharmonisan masyarakat yang ada. Namun terlepas dari itu, sebagian besar dari masyarakat Mesir tidak memiliki masalah untuk hidup bersama antara umat Islam dan Kristen.

Sebagai sebuah negara yang besar dan penuh ragam, Indonesia tentu juga tidak luput dari permasalahan terkait kerukunan umat beragama. Maka berbagi cerita terkait kerukunan umat beragama dengan tokoh agama dari negara lain akan memberi pembelajaran bagi umat beragama Indonesia untuk dapat lebih mengembangkan kerukunan umat beragama yang terjalin selama ini. Apalagi Mesir memiliki catatan pergolakan kerukunan antar umat beragama dua tahun terakhir terkait dengan pergolakan politik yang terjadi di sana. (Lutfi/Yudhi)

Sumber : Abi Press

Seminar Kemanusiaan Untuk Gaza

Jose-Rizal2-e1411201179401-300x195Demi aktualisasi sikap peduli terhadap rakyat Gaza Palestina, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA mengadakan seminar kemanusiaan dengan tema “We Love We Care For Gaza” di Auditorium STFI SADRA yang berlokasi di Jakarta. “Mengaktualkan dalam bentuk pemikiran maupun tindakan,” kata Amar selaku ketua panitia seminar.

Seminar yang berlangsung pada hari Rabu (17/9) ini juga dimaksudkan untuk penggalangan dana untuk Palestina. Presidium Mer-C, dr. Jose Rizal,  yang tengah menggarap rumah sakit Indonesia di Gaza menjadi narasumber dalam seminar itu.

Jose Rizal memaparkan tiga hal yang menjadi dasar bagi Indonesia dalam memberikan bantuan ke Gaza.

Pertama, bangsa Indonesia memiliki amanah konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan.

Kedua, sebagai perwujudan ukhuwah Islamiyah, karena di Gaza terdapat masjid Al-Aqsa, tempat suci tiga agama, termasuk umat Islam yang saat ini direbut Zionis Israel.

Ketiga, atas dasar kemanusiaan. Ini yang paling penting. Karena kemanusiaan menembus sekat batas; ideologi, ras, agama dan sebagainya.

Dengan wilayah yang begitu kecil, melawan Zionis Israel yang memiliki kekuatan militer terbesar ke-5 di dunia, apa yang menyebabkan Palestina bisa bertahan?

“Membangun aliansi,” kata Jose. Aliansi dari berbagai kelompok perlawanan, baik Hamas, Fatah, Front Liberal Palestine, Jihad Islam dan sebagainya. Selain itu, kerahasiaan juga kerjasama menjadi alasan penting sebagai kunci pertahanan. Hal itu dibuktikan dengan tidak menerima mujahidin dari luar karena akan berbahaya menurut mereka, terlebih banyaknya intelijen asing yang memiliki banyak kepentingan. Bentuk kerjasama pun mereka rahasiakan. “Ketika orang tahu, Iran-Hizbullah, dan Hamas bekerjasama, tidak happy orang-orang yang suka pecah-belah,” ungkap Jose.

Untuk itulah, Jose menekankan agar mewaspadai adanya ‘sub kontraktor konflik’ yang dapat menghembuskan isu perpecahan dimana-mana.

Isu Suriah juga berpengaruh penting terhadap Palestina. Sebab, menurut Jose, kalau Suriah berhasil dikuasai pemberontak, jalan perlawanan Hizbullah terhadap Zionis Israel akan tertutup. Sebab itulah, Hizbullah merasa harus turun tangan menyelamatkan Suriah.

Isu yang sering digunakan dalam konflik Suriah menurut Jose adalah Isu Sunni-Syiah. Hal tersebut dilakukan guna mengadu domba umat Islam agar perlawanan terhadap penjajah menjadi lemah. Selain itu, juga untuk menyamarkan dalam memandang siapa kawan dan siapa lawan.

Untuk menjelaskan kepada masyarakat Indonesia, Jose beberapa kali mencoba mengadakan dialog dengan kelompok ‘garis keras’ agar mampu memandang lebih jernih saat menyikapi perang yang terjadi di Suriah maupun tempat lain. Hal itu Jose lakukan agar kaum Muslimin tidak terpecah, dan jelas dalam memandang siapa musuh. “Tapi malah saya dituduh Syiah,” kata Jose.

Sempat juga ia ingin mengadakan diskusi tentang hal itu di sebuah universitas di Solo, Jawa Tengah, malah Rektornya diancam, akhirnya tidak jadi diskusi. Itulah yang dialami Jose Rizal, seorang aktivis kemanusiaan yang mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya yang  ia temui di medan pertempuran.

Selain menyampaikan keadaan tersebut, Jose juga memetakan arah pertempuran di Timur Tengah saat ini, terutama di Suriah.
“Iran, Hizbullah, dan Rusia berada dalam plot perlawanan membela Suriah,” kata Jose. Sementara di pihak oposisi, ada “Amerika, NATO, Quwait, Qatar, Mesir, Turki, Saudi Arabia”. Tapi lucunya, di Mesir, ketika Mursi jatuh, pecah kongsi. “Saudi Arabia mendukung militer, Qatar mendukung Mursi.”

Di akhir seminar itu, Jose mengajak para peserta untuk terus melakukan kampanye membela Palestina, melalui media sosial maupun media lainnya. (Malik/Yudhi)

Jose Rizal: Rahmatan Lil Alamin dan Kemanusiaan Bekal Dasar Kemanusiaan

Sumber :Abi Press