TOKOH ISLAM

Kehidupan Sehari-Hari Imam Khomeini ra

imam_khomeini_ra_anniversary_by_islamicwallpersBagaimana dengan Pertemuan-Pertemuan yang Dilakukan Imam Khomeini?

Beliau mengatakan:

“Dahulukan mereka yang punya urusan pokok!”

Dalam pertemuan umum, kami berusaha lebih banyak bertemu dengan keluarga syuhada. Tidak ada seorangpun yang menjalankan kewajibannya untuk Islam, revolusi dan negara seperti yang dilakukan oleh syudaha yang mulia. Kita semua harus menjadi pengabdi wasiat dan pemikiran syuhada, para mantan tawanan dan keluarga mereka. Akhir-akhir ini saya mendapatkan tulisan Imam Khomeini yang menyebutkan:

“Saya menderita sakit pernafasan. Untuk sementara jangan selenggarakan pertemuan bersama saya. Tapi jangan sampai mengabaikan pertemuan dengan keluarga syuhada.”

Setiap kali Imam Khomeini bertemu dengan keluarga syuhada dan para mantan tawanan, beliau benar-benar gembira dan menegaskan kepada para pejabat untuk memperhatikan kondisi mereka.

Selain itu kami berusaha agar pertemuan ini mencakup banyak kalangan lainnya. Seperti Sepah Gorgan atau Jihad Delijan atau misalnya Golpaigan. Terkadang ketika kami menanyakan kepada Imam Khomeini kelompok mana yang bisa datang menemui beliau, Imam Khomeini menjawab:

“Apa hubungannya antara pos dan telegraf Golpaigan dengan Sepah Delijan?”

Kami mengatakan, “Lalu bagaimana dengan telpon-telpon yang ada? Anda, alhamdulillah akan menyampaikan masalah-masalah yang berguna bagi semuanya.” Misalnya masalah yang paling pedas yang disampaikan Imam Khomeini terkait Amerika, ketika para tukang roti Qom melakukan pertemuan bersama Imam Khomeini. Beliau berkata:

“Carter harus tahu bahwa dia tidak akan menjadi presiden lagi.”

Di sini saya ingatkan bahwa Imam Khomeini tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Ketika Carter mengirim sebuah pesan untuk beliau, kepada saya beliau berkata:

“Ini harus dipublikasikan. Karena kami tidak menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Yang kedua, kemungkinan besar mereka sendiri yang akan memplubikasikannya dan memikirkan hal-hal tertentu dan masyarakat juga harus berpikir bahwa ada hal-hal tertentu di balik layar. Dan kita juga harus menyampaikan apa yang sedang terjadi kepada masyarakat dan mereka sendiri yang akan mengambil keputusan.”

Dalam semua wawancaranya Imam Khomeini berkata:

“Kita akan melakukan hubungan dengan Amerika selama kita tahu bahwa hubungan ini bermanfaat bagi masyarakat.”

Apakah Imam Khomeini menyukai bidang tertentu dalam olahraga?

Imam Khomeini menyukai olahraga. Tapi beliau tidak mengutamakan bidang tertentu. Boleh dikatakan bahwa beliau lebih menyukai gulat dan olahraga kuno Iran. Tapi jimnastik lebih menarik perhatian beliau daripada olahraga yang lainnya. Di masa kecilnya Imam Khomeini melakukan latihan lompat tinggi. Kedua tangan dan salah satu kakinya pernah patah karena olahraga ini. Di kepala beliau ada lebih dari sepuluh bekas luka dan dan beberapa di bagian dahinya.

Bagaimana dengan kekuatan badan Imam Khomeini?

Bagus.

Apakah kekuatan badan Imam Khomeini karena olahraga ataukah memang secara alami dan anugerah ilahi demikian?

Secara alami demikian

Apakah Imam Khomeini mengenal teknik renang?

Beliau tidak mengenal teknik renang tapi dalam batas tertentu beliau mengenal renang

Apakah di masa mudanya Imam Khomeini pergi ke medan olahraga untuk menonton pertandingan olahraga?

Bila maksud dari medan olahraga adalah stadion, tidak. Beliau tidak pernah pergi ke stadion. Tapi bila maksudnya adalah segala tempat olahraga, Imam khomeini pernah pergi ke sebagian tempat untuk menonton pertandingan gulat. Tentu saja itupun kadang-kadang. Ada juga kenangan manis terkait gulat Haj Agha Kamal Kamali, jagoan Qom dan jagoan Rusia yang datang ke Qom untuk pertandingan dengan Haj Agha Kamal Kamali. Imam Khomeini menceritakan, Jagoan Rusia lebih kuat tapi Haj Agha Kamal membawanya mendekati sebuah batu dan mendorongnya. Jagoan Rusia juga tidak tahu kalau ada batu. Kakinya kena batu dan jatuh ke belakang. Sepontan warga Qom mengumumkannya sebagai pemenang ronde dan membawanya ke makam Sayidah Fathimah Ma’sumah as.

Apakah Imam Khomeini juga menonton acara olahraga yang ditayangkan di tv?

Beliau menonton tapi biasa-biasa saja. Ketika saya mendekati beliau dan kalau salah satu dari dua chanel tersebut menayangkan acara olahraga, sementara Imam Khomeini sedang menonton chanel lainnya, beliau langsung mengalihkan ke chanel yang menayangkan olahraga dan berkata:

“Ini juga karena kamu, duduk dan tontonlah!”

Apakah Anda punya kenangan olahraga lainnya dari Imam Khomeini?

Imam sampai akhir-akhir ini setiap hari olahraga jalan kaki selama satu jam setengah dan melakukan gerakan olahraga secara teratur sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter untuk terapi sakit punggung dan sakit kaki.

Imam Khomeini berkata:

“Bila pada masa itu pertandingan balapan naik kuda hukumnya sunnah dan kaum Muslimin harus berlatih, itu karena untuk membela diri. Sekarang berperang tidak lagi menggunakan kuda, perangnya memakai phantom dan perang ini juga hukumnya sunna. Karena tujuan utama dari pertandingan ini adalah melakukan perlawanan dan membela harga diri, bangsa dan Islam.”

Menurut Anda, yang manakah dari perilaku istimewa dan khas Imam Khomeini di rumah yang bisa dijadikan sebagai teladan?

Salah satunya adalah kejujuran beliau. Apa yang dikatakannya di luar, di rumah sama sekali tidak akan dikatakan lain. Selain itu, ketika di dalam rumah, maka hal-hal yang resmi menjadi tidak resmi. Beliau menyampaikan dengan jujur apa yang beliau pahami kepada anak-anaknya dan ibu saya. Misalnya, berkali-kali saya masuk ruangan dan Imam Khomeini tidak tahu. Saya melihat beliau duduk menekuk lutut kemudian Ali anak saya naik ke atas pundaknya. Sayang ingin sekali menyotingnya atau memotret pemandang itu, tapi saya tahu Imam Khomeini tidak bakal mengizinkannya.

Keakraban dan kejujuran Imam Khomeini dengan anak-anak dan ibu saya benar-benar ajaib. Ibu kami selama 15 tahun ini memainkan peran utama. Misalnya, beliau tidak pernah mengeluh kepada Imam Khomeini tentang bagaimana kehidupan kami. Dalam peristiwa 15 Khordad, seluruh wanita daerah tempat tinggal kami datang ke rumah kami dan sebagian pingsan, ibu kami memberikan minuman sirup kepada mereka.

Malam ketika Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, saya masuk ke dalam kamar. Saya bertanya kepada ibu, “Apa yang terjadi? Ada maling? Waktu itu saya berusia 15 tahun. Ibu menjawab, “Tidak, tidak ada apa-apa. Seperti sebelumnya mereka menangkap ayahmu! Kalau kamu mau melihat beliau, keluarlah lewat pintu itu!”

Kepada para pasukan Imam Khomeini berkata:

“Apa-apaan ini? Mengapa kalian bikin ribut? Tidakkah kalian malu? Salah satu dari kalian bisa datang dan mengetuk pintu dan mengatakan, Khomeini kemarilah! Nah, saya juga akan datang.”

Setelah lama Imam Khomeini menceritakan kepada saya:

“Di dalam mobil ketika pergi dan sampai pada sumur minyak, saya berkata, “Semua kesengsaraan kita ini karena minyak ini. Mengapa kalian bersikap seperti ini? Mulai dari situ sampai Tehran saya berbicara dengan mereka dan salah satu dari mereka yang duduk dekat saya menangis sampai Tehran.” 

Ketika saya sampai di gang, saya melihat Imam Khomeini dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa. Saya mengambil batu dan menghantamkannya. Para pasukan kembali lagi untuk menangkap saya. Saya melarikan dan mengulanginya lagi. Mulai dari pintu madrasah Hakim Nezami sampai perempatan jalan penuh anggota SAVAK. Setelah lama Imam Khomeini menceritakan: 

“Di sana mobil yang saya naiki diganti. Yakni saya dipindahkan dari mobil Volkswagen kecil yang dibawanya karena kecilnya gang ke mobil yang lebih besar. Jalan yang penuh dengan manusia itu tidak terdengar suara satu orangpun. Seperti jalan yang sepi.”

 Ketika saya kembali, saya melewati tangga naik ke atas dan masuk rumah. Saya melihat ibu meletakkan bantal dan menutupi kepalanya dengan selimut dan tidur. Ibu saya benar-benar memainkan peran dengan sangat baik selama ini.   

Ibu saya memaksa untuk pergi ke Turki. Tapi Imam Khomeini tidak mengizinkan. Beliau mengirimkan dua surat dari Turki untuk kami, tapi sayangnya dalam salah satu serangan, orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami dan membawa surat tersebut. Kamipun pada waktu itu tidak terpikir untuk memfoto-kopikannya. Di dalam surat itu tertulis: 

“Anda jangan datang ke Turki dan tetaplah berada di Qom!” 

Dari sejak saat itu Imam Khomeini memiliki hubungan perasaan yang sangat ajaib dengan ibu kami. Kalaupun seandainya tidak ada hukum terkait masalah haji seperti yang disampaikan oleh Rahbar kita yang mulia Ayatullah Khamenei, hanya karena alasan ibu saya mengatakan kepada saya, ‘saya tidak rela’, maka spontan saya meninggalkan segalanya, karena saya punya alasan yaitu ayah saya di hari-hari terakhir kehidupannya memegang tangan ibu saya dan meletakkannya di atas tangan saya seraya mengatakan: 

“Jangan melakukan satu pekerjaan apapun yang tidak diridai beliau. Ibumu tidak memiliki siapa-siapa selain Allah!”

 Satu lagi saya sampaikan sebagai contoh, bila ibu kami belum siap untuk makan, maka Imam Khomeini tidak akan makan. Beliau akan menunggu dan ketika ibu kami sudah datang maka Imam Khomeini baru memulai makan. 

Contoh lainnya lagi, ketika orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami untuk menangkap Imam Khomeini, Imam menyerahkan stempelnya kepada ibu saya, seraya berkata: 

“Ambil stempel ini dan nanti bila saya mengirim pesan, maka serahkan kembali!” 

Ibu saya menyembunyikan stempel tersebut dan kami tidak mengetahuinya. Sampai ketika Imam Khomeini pergi ke Turki dan dari sana ke Najaf dan dari Najaf mengutus seseorang menemui ibu saya, kemudian ibu saya menyerahkan stempel tersebut kepadanya. 

Setiap kali terjadi sebuah peristiwa seperti sakit, Imam Khomeini memanggil anak-anaknya dan mewasiatkan ibu kami. Beliau menjelaskan tentang kesusahan dan kesulitan yang dialami ibu kami dan berkata: 

“Kalian harus bisa mengambil keridaan ibu kalian!” 

Imam benar-benar halus perasaannya. Yakni misalnya ketika di Najaf, terkadang saudara-saudara perempuan saya datang ke sana. Ketika ingin kembali dan berpisah saya tidak pernah tahan untuk berdiri di halaman atau melihat perpisahan mereka. Almarhum saudara saya juga berkata, “Saya tidak bisa melihat detik-detik perpisahan itu.” Namun masalah ini sedikitpun tidak mempengaruhi beliau dalam mengambil keputusan. 

Dalam situasi dibombardir, bagaimana keberadaan Imam Khomeini dalam memberikan ketenangan kepada keluarga? 

Saya katakan bahwa ketika bom jatuh atau ada sesuatu yang terjadi, keluarga kami tidak lantas semuanya gemetaran. Kelihatan dari foto-foto yang ada, kami juga seperti warga lainnya hanya menempelkan isolasi pada kaca-kaca jendela dan tidak melakukan hal lain. Suatu hari ketika Tehran dibombardir, dengan tenang ibu saya masuk ke kamar. Selimut di atas tempat tidur miring. Beliau berkata, “Ahmad, pegang ujung selimut itu, kita luruskan!” Anti udarapun berfungsi dan Imam Khomeini tertawa. Yakni Imam Khomeini bukannya lantas berbicara setiap saat ada bom jatuh untuk menenangkan yang lainnya. Di awal hari-hari perang, seseorang dari tim insinyur staf gabungan datang ke Jamaran dan membangun sebuah tempat anti bom untuk Imam Khomeini. Ketika tempat itu dibangun, Imam Khomeini berkata:

 “Saya tidak akan ke sana.”

 Bangunan itu selesai dalam waktu empat sampai lima bulan. Ruangan yang berbentuk leter L dan luas 5×4 meter. Sampai akhir Imam Khomeini tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan sekali saya berkata kepada Imam, “Ke sinilah, setidaknya Anda melihatnya!” Imam Khomeini berkata: 

“Dari luar sini sudah kelihatan dan saya juga sedang melihatnya dari luar bagaimana bangunannya.”

 Suatu hari setelah zuhur kira-kira ada tujuh sampai delapan bom jatuh di sekitar Jamaran. Saya menemui Imam Khomeini dan berkata, “Kalau sekali saja salah satu dari rudal kita jatuh di atas istana Saddam dan dia mengalami sesuatu, betapa senangnya kita? Kalau sebuah rudal jatuh di sini dan atapnya roboh dan Anda mengalami sesuatu, bagaimana?” Imam Khomeini menjawab:

 “Demi Allah, saya tidak menganggap istimewa dan beda antara saya dengan seorang Sepah yang berada di pertigaan jalan rumah. Demi Allah, bila saya yang mati atau dia yang mati, bagi saya tidak ada bedanya.” 

Saya berkata, “Kami tahu Anda seperti ini, tapi bagi masyarakat beda.” Imam Khomeini berkata: 

“Tidak, Masyarakat harus tahu bahwa bila saya berlindung di sebuah ruangan dan bom membunuh para Pasdaran di sekitar rumah saya dan tidak membunuh saya, maka saya sudah tidak layak lagi sebagai pemimpin masyarakat ini. Saya terhitung mengabdi kepada masyarakat selama kehidupan saya seperti kehidupan mereka. Bila masyarakat atau para Pasdarqn atau orang-orang yang tinggal di daerah ini mengalami sesuatu, biarkan saya juga harus mengalami sesuatu sehingga masyarakat tahu bahwa kita semua bersama-sama berdampingan.” 

Saya berkata, “Lalu sampai kapan Anda mau duduk di sini?” Imam Khomeini mengisyaratkan pada dahinya, seraya berkata: 

“Sampai rudal mengena di sini.” (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan almarhum Hujjatul Islam Sayid Ahmad Khomeini, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

Read More »

Imam Khomeini ra di Mata Putri Tertuanya Seddigheh Mostavafi

imam-khomeiniSaya akan menceritakan tentang keberagamaan beliau. Saya pikir sejak saya usia sembilan tahun saya bisa menilai beliau. Saya ingat sejak kecil saya tidak banyak tidur. Sampai saat ini saya juga tidak banyak tidur. Berkali-kali di pertengahan malam saya terbangun dan senantiasa melihat ayah mengerjakan salat tahajud. Tapi karena saya waktu itu masih kecil saya tidak tahu persis apa kesibukan ayah. Kami tidur di halaman dan saya melihat beliau bangun untuk mengambil wudu dan salat tahajud. Dalam hati saya bertanya, mengapa ayah di malam hari menangis tersedu-sedu? Saya waktu itu masih kecil. Saya bergumam, untuk apa menangis di tengah malam? Saya pikir ayah sedih. Misalnya karena ada masalah sehingga menangis. Di malam-malam bulan purnama saya melihat air mata ayah dan hal ini bagi saya sangat aneh.

Read More »

Ketika Farideh Mostafavi, Putri Kedua Imam Khomeini Bercerita Tentang Ayahnya

putri imamMohon kenalkan diri Anda?

 

Saya adalah Farideh Mostafavi, putri kedua Imam Khomeini.

 

Mohon jelaskan tentang nama famili Imam Khomeini dan Anda!

Karena Imam Khomeini datang ke hauzah berasal dari Khomein, di madrasah Feiziyeh beliau terkenal dengan nama Khomeini. Yakni setiap santri yang ingin mengatakan si fulan, mengatakan ‘seorang yang datang dari Khomein atau Sayid Khomeini. Pelan-pelan beliau terkenal dengan Khomeini. Lalu, orang-orang harus membuat kartu tanda penduduk dan ditetapkan bahwa setiap orang harus memilih nama famili. Pada masa itu Imam Khomeini menyukai nama famili ‘Mostafavi’ sementara alasannya apa kami tidak tahu. Beliau memilih nama Mostafavi. Paman tua kami, kakak Imam Khomeini memilih ‘Pasandideh’ dan paman yang lainnya memilih ‘Hindi’. Itulah mengapa nama famili masing-masing dari mereka berbeda.

Mohon ceritakan terkait bagaimana pernikahan Imam Khomeini!

Ibu, ayahnya adalah seorang ulama, terhormat, salah satu imam salat jamaah di masanya dan penulis tafsir dan buku. Kakeknya ibu juga seorang ulama terkenal di masanya. Pernikahan mereka karena adanya hubungan kekeluargaan. Dengan demikian sekelompok keluarga sebagai ulama dan memiliki hubungan persahabatan dan akhirnya terjadilah ikatan pernikahan. Ibu, waktu itu sedang belajar. Pada masa itu ada sekolah-sekolah khusus. Meskipun ibu tinggal di rumah ayahnya, beliau tetap belajar dan Agha (Imam Khomeini) sedang belajar di Qom. Ayahnya ibu di Qom sebagai santri dan putri-putrinya juga berada di Qom. Agha (Imam Khomeini) dan Agha Saghavi memiliki teman yang sama, bernama Agha Lavasani yang keluarganya sekarang juga masih ada. Ketika Agha Lavasani tahu Imam Khomeini ingin menikah, dia berkata kepada Agha, “Agha Saghavi punya anak perempuan dua-tiga orang dan mereka sangat baik. Bila Anda ingin menikah, ambillah salah satu dari mereka!” Agha berkata:

“Kalau begitu Anda saja yang melamarkan!”

Agha Lavasani datang menemui Agha Saghavi, kakek kami untuk melamar. Agha Saghavi berkata, “Menurut saya tidak masalah. Namun dari sisi ibu mereka berada dalam alam lain. Mereka sendiri harus rela.” Kemudian melakukan istikharah dan setelah Agha Lavasani pulang pergi ke keluarga ini, ibu sekali-dua kali bermimpi. Kemudian mau dan menikah. Sementara usia ibu pada waktu itu 15 tahun dan Agha 28 tahun.

Apa sebab Imam Khomeini terlambat menikah?

Agha mengatakan:

“Saya tidak secepatnya merasa ingin menikah. Pikiran saya hanya belajar dan belum ingin menikah.”

Jelaskan tentang pandangan dan tolak ukur Imam Khomeini dan Khanum (istri Imam Khomeini) dalam memilih pasangan hidup!

Tolak ukur Imam Khomeini adalah menikah dengan seseorang dari sebuah keluarga yang beragama dan sudah dikenal. Beliau mengatakan:

“Saya tidak ingin menikah dengan orang Khomein. Karena saya ingin mendapatkan orang yang sekufu dengan saya. Kalau saya belajar, sayang ingin mendapatkan istri yang sepemikiran dengan saya. Kesimpulannya adalah saya harus menikah dengan orang dari Qom dan dari keluarga ulama dan selevel dengan saya.”

Karena ketika Imam Khomeini berusia 28 tahun beliau sudah berhasil menulis beberapa buku, sementara di Khomeini pada masa itu rata-rata pendidikan keluarga berada di tingkat rendah. Itulah mengapa Agha Lavasani berkata kepada Imam Khomeini, “Agha Saghavi dan keluarganya punya syarat-syarat ini. Selain beragama, dari sisi pemikiran termasuk yang terbuka pikirannya. Akhirnya setelah lamaran dan acara sederhana, Imam Khomeini menyewa sebuah rumah di Qom dan jahiziyeh (parabot rumah) ibu dibawa dan mengadakan resepsi pernikahan.

Dari sisi materi Imam Khomeini memiliki fasilitas apa saja?

Tentunya Imam Khomeini memiliki warisan dari ayahnya. Beliau mendapatkan harta peninggalan dari ayahnya. Imam Khomeini bukanlah seorang santri yang hanya menjalani hidupnya dengan uang bulanan yang didapatkan dari hauzah. Oleh karena itu Imam Khomeini bisa menyewa sebuah rumah. Rumah sewaan meskipun kecil tapi beliau sendiri bersama istrinya dan tidak tinggal barengan dengan para penyewa lainnya. Ibu juga membawa perabot rumah tangga, dan Imam Khomeini tidak memiliki barang selain barang-barang yang diambilnya dari madrasah Feiziyeh setelah sebulan atau dua bulan. Ibu menceritakan, “Ada satu (gelim) karpet, satu kasur, kompor kecil, dua lampu templek, satu ceret, dan gelas dan lepeknya serta panci sangat kecil. Tentunya setelah satu-dua tahun beliau mendapatkan warisan berupa barang-barang dari ayahnya (Karena ketika usia lima bulan ayahnya mencapai syahadah karena dibunuh) yang dijaga oleh Agha Pasandideh. Barang-barang itu dikirim untuk Imam Khomeini dan dibilang bahwa barang-barangnya juga kuno. Ada sejumlah wadah sangat kuno dan beberapa karpet kuno yang sudah jelek. Pokoknya kehidupan seorang santri yang juga terhormat.

Meskipun ayahnya adalah orang yang kaya, tapi resepsi pernikahannya sangat sederhana. Acara resepsi dihadiri oleh para sanak kerabat dan sahabat dekat.

Bagaimana sikap Imam Khomeini terhadap istrinya?

Ibu menikah dengan Imam Khomeini ketika sudah menyelesaikan kelas sembilan, yakni lulusan SMP. Kemudian ibu belajar bahasa Arab pada Imam Khomeini sampai ketika melahirkan anaknya yang kelima, ibu tetap masih belajar kepada Imam. Ketika adik perempuan saya lahir (anak kelima) ibu berhenti dari belajar karena banyak kerjaan dan kesibukan. Tentunya Agha (Imam Khomeini) senantiasa siap untuk mengajari ibu. Demi kemajuan ibu, beliau senantiasa memberikan semangat kepada ibu untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Sikap Imam Khomeini terhadap istrinya benar-benar penuh keakraban dan kasih sayang sekaligus benar-benar penuh penghormatan. Dalam urusan pribadi dan kekeluargaan, pendapat ibu sangat dihormati dan tidak mencampuri urusan dalam rumah sama sekali. Tentu saja ibu sangat menjaga dan tidak melangkah sama sekali di luar keinginan dan keridaan Imam Khomeini. Sejak di awal-awal pernikahan, Imam Khomeini berkata kepada ibu:

“Saya ingin kamu mengerjakan kewajibam-kewajiban dan berusahalah untuk tidak mengerjakan yang haram. Tapi terkait urusan sosial tidak ada masalah dan engkau bebas.”

Imam Khomeini dalam kehidupan sehari-hari tidak mempersulit sama sekali. Terkait masalah keluar rumah dan memakai pakaian ibu memiliki kebebasan dan benar-benar menjaga jangan sampai bermaksiat. Beliau benar-benar menyayangi dan menghormati ibu, sehingga kami anak-anaknya juga terpengaruh oleh sikap-sikap beliau. Kami sejak awal membuka mata, menyaksikan bahwa selama ibu belum berada di tepi hidangan makanan dan belum mengambil makanan, Imam Khomeini sama sekali tidak pernah mendahului untuk duduk di tepi hidangan makanan dan memakan makanan yang ada. Dengan sendirinya kami juga bersabar sampai ibu kami datang dan memulai makan, kemudian kami menyusulnya untuk makan juga.

Saya masih ingat ketika masih kecil bermain bola di dalam kamar dan kami menendang bola dan memecahkan kaca. Ayah marah dan datang untuk menegur kami mengapa kalian melakukan hal ini? Saya menjawab, “Ibu menyuruh kami, bermainlah, tidak masalah.” Begitu saya mengatakan hal ini, beliau tidak berbicara apa-apa lagi. Kemudian beliau pergi keluar kamar. Kalau beliau, mau bisa saja untuk menjatuhkan sanksi kepada kami, tapi tidak melakukannya.

Sama sekali kami tidak pernah melihat beliau berkata kepada ibu, “Kerjakan pekerjaan fulan untukku!” atau bahkan “Tuangkan teh untukku!” Beliau senantiasa memanggil kami atau pembantu rumah. Bila suatu hari tidak ada siapa-siapa beliau mengatakan:

“Khanum! Katakan agar mereka membawakan teh untukku!”

Nah. Bila tidak ada siapa-siapa di rumah, ibu yang melakukannya sendiri tapi Imam Khomeini tidak pernah menyuruhnya. Beliau senantiasa menghormati ibu dan sering sekali menyampaikan rasa kasih sayangnya dan secara terang-terangan menyampaikan rasa kasih sayangnya di depan kami anak-anaknya.

Bila suatu hari ibu memasak, meskipun masakan itu tidak enak, tidak seorangpun boleh memprotesnya dan Imam Khomeini memuji masakan itu.

Bila ibu melakukan pekerjaan di dalam rumah meskipun hanya memindahkan gelas dari tempat yang satu ke tempat lainnya, sementara kami anak-anaknya sedang duduk-duduk, dengan rasa tidak suka Imam Khomeini berkata kepada kami:

“Kalin duduk-duduk saja, sementara ibu sedang bekerja.”

Bila suatu hari Imam Khomeini melihat ibu sedang mengerjakan sesuatu di rumah, maka hari itu adalah hari duka Imam Khomeini dan mengatakan:

“Ibu kalian lebih baik dari kalian. Tidak seorangpun bisa seperti ibu kalian.”

Bila suatu saat kami dua atau tiga orang menemui Imam Khomeini dan berbicara, Imam mengatakan:

“Mengapa kalian duduk-duduk di sini, sementara ibu kalian sendirian di halaman, pergilah ke sisi ibu kalian dan ajaklah bicara.”

Suatu hari Imam Khomeini sakit dan ibu juga sakit, kami biasanya dua atau tiga orang berada di rumah, bila salah satu dari kami duduk didekat Imam, beliau langsung mengatakan:

“Saya tidak memerlukan seseorang, tunggui ibu kalian.”

Dan beliau meminta kami keluar dari kamar.

Imam menetapkan bahwa setiap tahun ibu hendaknya pergi ke Tehran dan tinggal di Tehran selama tiga bulan musim panas. Beliau sendiri pergi ke Khomein. Program ini selalu berjalan bahkan sampai kami besar tetap berlanjut. Imam tidak suka bila ibu pergi di musim dingin. Bila ibu sedang bepergian, Imam merasa sedih sampai ketika ibu datang. Imam Khomeini akan tertawa ketika ibu masuk rumah. Dan ini adalah salah satu penyampaian rasa kasih sayang Imam Khomeini kepada ibu.

Bagaimana reaksi ibu Anda ketika menghadapi masalah?

Ibu juga sangat menghormati Imam Khomeini. Ibu sangat sabar. Ibu termasuk anak perempuan yang besar di Tehran dan di sebuah keluarga yang memiliki fasilitas yang cukup bagus. Kemudian harus hidup di Qom. Seseorang tidak akan bisa membayangkan bagaimana kondisi Qom sekitar enam- tujuh puluhan tahun yang lalu selama ia belum pernah melihat. Sementara ibu bisa bertahan hidup di sana. Itu karena kasih sayangnya kepada Imam Khomeini dan kasih sayang Imam Khomeini kepadanya. Ibu bertahan menghadapi rasa keterasingan dan hidup di pengasingan. Saya masih ingat dalam mengasuh anak, sebagai ibu rumah tangga dan menyambut tamu serta mengerjakan pekerjaan lainnya beliau tidak pernah mengeluh.

Misalnya pada masa perjuangan, masa-masa sedih dan pengasingan, ibu senantiasa memberikan semangat. Salah satu masalah yang di kemudian hari kami baru tahu adalah ketika kali terakhir Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, di detik-detik terakhir Imam Khomeini menyerahkan stempelnya ke tangan ibu seraya berkata:

“Di sisimu saja amanat ini dan jangan bilang kepada siapa-siapa!”

Ibu tidak mengatakannya kepada siapapun dan stempel itu tetap di sisinya. Kemudian Imam Khomeini dari Turki menuju Najaf. Beberapa bulanpun berlalu. Di masa itu saudara lelaki kami pergi ke Turki dan Najaf. Tapi ibu tidak membicarakan masalah ini kepada siapapun meskipun dengan saudara lelaki kami.

Ibu juga tidak pernah mengatakan kepada Imam Khomeini, “Mengapa engkau melakukan ini. Akhirnya bagaimana? Apa hasilnya? Atau tidak ada faedahnya? Di hari-hari perang juga beliau tidak pernah menyampaikan rasa lemah atau rasa takut dan senantiasa menjadi penguat hati bagi yang lainnya. Hal-hal seperti dalam kehidupan seorang lelaki merupakan syarat yang sangat penting yakni istrinya tidak boleh takut terhadap apapun dan harus menghadapi semua masalah dengan lapang dada. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Farideh Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

Read More »

Apa Kata Tokoh Indonesia Tentang Syiah

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia)

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia)

 

KH.Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia): ?Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.?(tempointeraktif)

 

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):

 

 

 

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU): ? Ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat ?(tempo.co)

 

 

 

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

 

 

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah):? Tidak ada beda Sunni dan Syi?ah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim? (republika.co.id)

Buya Syafii Maarif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Buya Syafii Maarif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

 

 

 

Buya Syafii Maarif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah):?      Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,? (okezone.com)

 

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

 

 

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah):?Sunnah dan Syi?ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam ? (satuislam.wordpress.com)

Marzuki Ali (Ketua DPR RI)

Marzuki Ali (Ketua DPR RI)

 

 

 

Marzuki Ali (Ketua DPR RI): ? Syi?ah itu mahzab yang diterima di negara manapun diseluruh dunia, dan tidak ada satupun negara yang menegaskan bahwa                                                       Islam Syi?ah adalah aliran sesat ?(okezone.com)

Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI)

Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI)

 

 

 

 

Jusuf Kalla ( Wakil Presiden RI): ? Harus ada toleransi terhadap perbedaan karena perbedaan adalah rahmat ? (tempo.co)

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta)

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta)

 

 

 

 

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta): ?Syiah adalah bagian integral dari umat Islam dan tidak ada perbedaan yang prinsipil dan fundamental dalam Syiah dan Sunni, kecuali masalah kepemimpinan politik?

 

Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah Islamiyah di Indonesia,? (republika.co.id)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

 

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): ? Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, Karenanya akidahnya sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama,?

(republika.co.id)

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh )

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh )

 

 

 

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh ): ?Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat kita sama, sholat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama, kenapa harus saling mengkafirkan? (tempo.co)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU)

 

 

 

 

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU): ? Caranya terus menjaga persamaan sesama Umat Islam, bukan mencari perbedaannya,?(republika.co.id)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK)

 

 

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK): ? Kalau saya mengatakan semua keyakinan itu tidak boleh diintervensi oleh negara. Keyakinan itu tak boleh diganggu orang lain, kecuali dia mengganggu keyakinan orang lain,?(Okezone.com)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat)

 

 

 

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat):? Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam,? (rakyamerdekaonline.com)

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

 

 

 

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat): Mengutip pernyataan Imam Syafi?i ? Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad     Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah?(majalah.tempointeraktif.com)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP)

 

 

 

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP):? Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah, ?(Inilah.com)

Kajian Ilmu Hadis: Perlakuan Buruk Ahli Hadis Terhadap Nabi Muhammad saw.

Demi Kecintaan kepada Nabi yang suci dan dalam menyambut maulid manusia yang digelari rahmatan lil alamin, Nabi yang agung, pelopor dan teladan budi pekerti dan akhlak Karimah, Kami persembahkan artikel dibawah ini untuk membela kesucian beliau dari hadis-hadis pelecehan dan penghinaan terhadap pribadi beliau produk tiran dan kaum nawashib (pembenci keluarga Nabi saw.). sangat disayangkan hadis-hadis palsu ini banyak bertebaran di kitab-kitab hadis standar yang diakui keshahihannya -Abu Salafy-

Read More »

Pesan Imam Khomeini ra Pasca Demonstrasi di bulan Muharram

imam-khomeiniMenyusul turunnya rakyat ke jalan-jalan melakukan pawai akbar pada Tasua dan Asyura tahun 1399 Hq yang bertepatan dengan tanggal 19 dan 20 Azar 1357, Imam Khomeini ra pada 21 Azar 1357 (12 Desember 1978) mengeluarkan pesan pentingnya. Dalam pesannya Imam menyebut pawai akbar itu sebagai referendum bangsa Iran yang anti terhadap rezim Shah Pahlevi.

Imam Khomeini ra dalam pesannya mengatakan, “Kepada seluruh rakyat pemberani Iran saya mengucapkan salam. Kalian adalah rakyat yang memiliki tekad baja dan dengan slogan yang kalian ucapkan telah membuktikan kepada dunia bahwa kalian tidak menginginkan Shah. Bersamaan dengan pawai akbar kalian, dalam pesan kepada Tehran dan negara-negara di dunia, saya mengumumkan bahwa pawai akbar yang dilakukan selama dua hari ini merupakan referendum besar dan transparan bahwa bangsa Iran tidak menginginkan Shah Pahlevi. Rakyat dalam pawai akbar ini telah menyatakan tidak mengakui Shah. Pawai akbar ini telah mencerabut segala bentuk alasan dari setiap orang dan semua negara di dunia bahwa mereka tidak dapat lagi mengklaim bahwa Shah sebuah rezim legal.” (IRIB Indonesia)

Sumber :Irib

350 Ulama Islam dari 80 Negara Berkumpul di Qom

4dde694bd4ccc9290f6574312a8306bcKonferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam sedang berlangsung di Qom [23-24/11]. Kurang lebih 350 ulama Islam sedunia dari 80 negara menghadiri konferensi tersebut.

Menurut Kantor Berita ABNA, Konferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam sedang berlangsung di Qom Republik Islam Iran [23-24/11]. Kurang lebih 350 ulama Islam sedunia dari 80 negara menghadiri konferensi tersebut. Berikut foto-foto saat para tamu sedang memasuki tempat acara di Internasional Rasul Akram Saw di Madrasah Ilmiah Imam Kadzhim As Qom yang memuat kapasitas seribu orang.

Tampak pada gambar, KH. Alawi Nurul Alam al Bantani, delegasi dari PB Nahdatul Ulama, Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing, Rektor UIN Alauddin Makassar dan Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, MA Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar.

Sumber :Abna.ir

“Fatwa NU Lebih Kuat Dibanding Fatwa MUI”

IMG_9874-660x330KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani adalah Kyai yang mendapat mandat khusus dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menangani perkara-perkara umat Islam di Indonesia dan karenanya merasa wajib bersuara menyangkut pelbagai perkara itu secara konstan.  KH Alawi mengungkapkan bahwa sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU memiliki fatwa yang lebih kuat dan absah dibandingkan fatwa MUI. Menurutnya, selain jumlah warganya yang hampir 100 juta, NU sudah ada sejak tahun 1926, jauh hari sebelum MUI berdiri. 

Apalagi, menurutnya, MUI dulu terindikasi sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. “Dan juga perlu diketahui bahwa di jaman Soeharto, berdasarkan laporan para Kyai di PBNU/PWNU, MUI ini sengaja dibentuk untuk memecah-belah para Kyai di tubuh NU,” ungkapnya kepada ABI Press.
 
Sebab itu, menurut KH. Alawi, fatwa MUI sebenarnya tidak bisa dijadikan rujukan final atau yang utama. Terlebih oknum-oknum MUI sekarang telah banyak menganut paham Wahabi yang suka mengkafirkan sesama Muslim di luar kelompoknya. Tak heran jika dari lembaga yang sejatinya juga merupakan ormas ini sering muncul fatwa-fatwa nyeleneh yang justru menimbulkan perpecahan di tengah umat.
 
Kita ambil contoh, misalnya, fatwa terkait Muslim Syiah di Sampang, Madura. Akibat fatwa sesat dari MUI Jawa Timur, ratusan jiwa anak bangsa yang bermazhab Syiah itu terusir dan sampai sekarang mengungsi di dalam negeri sendiri.  Bahkan di antara mereka ada yang sampai dibunuh.
 
Selain itu, buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” juga dinilai sebagai buku yang sarat provokasi dan sangat berpotensi memecah-belah umat Islam. Khususnya antara Sunni dan Syiah.
 
Sebab itu, KH. Alawi menganggap penting NU sebagai lembaga yang menaungi mayoritas penduduk Muslim di Indonesia ini juga berfatwa. “Tapi fatwa yang menyejukkan, yang membawa perdamainan, bukan perpecahan.”

Seperti apakah fatwa yang menyejukkan itu? “Saya tahu Imam Khomeini (Ulama Syiah) pernah bilang begini, ‘Barang siapa dari kalangan orang Syiah shalat di belakang imam dari Ahlusunnah, maka dia sama seperti shalat di belakang Rasulullah SAW,’ dan kita butuh fatwa-fatwa yang menyejukkan seperti ini sebetulnya,” jelas KH. Alawi.
 
KH. Alawi melanjutkan, “Ketika rapat di PBNU dua bulan lalu muncul pembahasan tentang fatwa, (kami berharap) insya Allah dapat membuat fatwa untuk warga Nahdliyin. Jadi warga NU soal fatwa nanti ikut fatwa PBNU saja, bukan lagi fatwa MUI,” tegasnya.
 
Apalagi KH. Alawi menilai MUI saat ini sudah tidak lagi mewakili para ulama sebagai pengayom umat, sebagai bapak sekaligus guru bagi kaum Muslimin di Indonesia. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Rahbar: Iman dan SDM, Dua Keharusan dari Kekuatan Sejati

aks_rahbarRahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, kaharusan dari kekuatan sejati di angkatan bersenjata adalah sumber daya manusia unggul dengan pendidikan modern dan peralatan canggih  serta dibarengi dengan keimanan, tekad baja, rasa tanggung jawab dan wawasan.

Ayatullah Khamenei Senin (17/11) dalam acara sumpah dan tadan pangkat taruna Universitas Militer Imam Ali menekankan urgensitas pendalaman terhadap isu kekuatan di angkatan bersenjata. “Jumlah besar pasukan dan pendidikan tinggi serta peralatan militer yang canggih tidak manjadi jaminan bagi kekuatan angkatan bersenjata di sebuah negara, namun harus dibarengi dengan motivasi, spiritualitas dan tekad baja serta rasa tanggung jawab terhadap perilaku dan orientasi,” tegas Rahbar.

Rahbar seraya mengisyaratkan kapasitas spiritual dan kemampuan sains serta kekuatan inisiatif dan tekad baja militer Iran selama delapan tahun perang pertahanan suci mengingatkan, “Dunia memperhitungkan kemampuan militer Republik Islam Iran dan mereka serius dalam hal ini, karena  mereka menyadari bahwa di mana rasa tanggung jawab dan panggilan tugas maka militer Iran akan bertempur hingga titik darah penghabisan.”

Rahbar juga menilai dunia saat ini haus akan pesan kebebasan. “Arogan dunia berusaha dengan memanfaatkan seni, politik dan militeralisasi serta berbagai sarana yang lain, untuk mencegah terdengarnya suara seruan Islam yang murni. Namun seruan ini telah terdengar dan indikasinya adalah ketakutan kekuatan arogan dunia yang semakin besar,” tekan Rahbar.

Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di bagian lain pidatonya menekankan bahwa umat manusia kini sangat membutuhkan pesan-pesan Islam yang dibawa oleh bangsa Iran. “Kekuatan arogan dunia yang sangat khawatir dengan pengaruh pesan kebebasan yang disuarakan Islam serta terancamnya kepentingan mereka, memanfaatkan seluruh sarana khususnya seni untuk menakut-nakuti rakyat dunia dari Islam.

Ayatullah Khamenei menyebut pembentukan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Islam dan pemerintah Islam, pembantaian massal warga tak berdosa oleh milisi ini sebagai contoh lain metode yang dimanfaatkan musuh untuk menebar Islamphobia.

“Pesan Islam yang murni bagi umat manusia adalah pesan ketenangan, kehormatan, kemuliaan serta kehidupan yang aman. Kubu arogan dunia tidak ingin berbagai bangsa dunia mendengar pesan ini,” tegas Rahbar. (IRIB Indonesia/MF/RM)

 

Sumber :Indonesia Irib

Ringkasan Pidato Rahbar di Hadapan Para Petugas Haji Iran

aks_rahbarPemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai ibadah haji sebagai kesempatan terbaik untuk menghadapi konspirasi untuk memisahkan Iran dari Dunia Islam, menjawab keraguan-keraguan dan propaganda musuh Islam, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan maknawi serta pemikiran umat.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (28/10) dalam pertemuannya dengan petugas haji tahun ini menegaskan, “Perencanaan untuk meningkatkan kinerja pelayanan haji dengan visi transformatif dan inovatif guna memenuhi kebutuhan maknawi dan intelektual umat, juga untuk menjawab keraguan dan propaganda musuh adalah sesuatu yang urgen.”

Ia menambahkan, “Membangun tembok untuk memisahkan Iran dan Dunia Islam merupakan salah satu langkah musuh persatuan umat Islam, dan semua harus menggunakan kesempatan haji dengan sebaik-baiknya sebagai medan umat Islam untuk meruntuhkan tembok ini dan merubah gambaran serta keyakinan keliru akibat propaganda musuh.”

Ayatullah Khamenei menganggap penting persatuan Islam sebagai kebutuhan nyata hari ini Dunia Islam. “Persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam merupakan bagian dari ajaran Islam dan dalam hal ini, Iran tidak berkompromi dengan siapapun,” tegasnya.

Menurutnya, persatuan Islam bukan berarti berpindah keyakinan mazhab Islam. “Persatuan Islam yang merupakan slogan mendasar Republik Islam Iran, yaitu, umat Islam satu sama lain tidak bermusuhan dan saling membantu dalam masalah-masalah penting dunia,” katanya.

Ayatullah Khamenei juga menekankan urgensi mengenal potensi kerugian dan menemukan faktor-faktor efektif dalam menyikapi propaganda musuh. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :< a href=”http://indonesian.irib.ir/iran/rahbar/item/87136-ringkasan-pidato-rahbar-di-hadapan-para-petugas-haji-iran”>Indonesia Irib