Suara Syiah

Muktamar Ke-2 ABI Di Kantor Kementerian Agama Jakarta

Muktamar-II-ABI-660x330Jumat (14/11) kemarin, auditorium KH. M Rasjidi menjadi saksi kerukunan dan toleransi umat Muhammad Saw. Sebagai salah satu ormas Islam di Tanah Air, Ahlul Bait Indonesia (ABI) berkesempatan melaksanakan pembukaan muktamarnya yang kedua sekaligus seminar dengan tema “Menguatkan Nasionalisme, Menolak Intoleransi dan Ekstremisme,”  di kantor Kementerian Agama tersebut.

Usai Shalat Jumat acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Ahlul Bait. Acara juga diisi oleh pembacaan sambutan tertulis Ketua Umum MUI, Prof. Din Syamsuddin oleh Ketua DPP ABI, Ust. Hasan Alaydrus. Lalu dilanjutkan dengan sambutan Ketua MUI, Prof. Dr. Umar Shihab dan sambutan Menteri Agama yang diwakili Prof. Dr. HM. Machasin, MA selaku Dirjen Bimas Islam Kemenag.

Kurang lebih 200 peserta muktamar termasuk ratusan pengurus daerah ABI menghadiri acara tersebut. Turut hadir pula Duta Besar Palestina dan Malaysia.

Selain sambutan, acara dimeriahkan dengan paduan suara dari Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi yang menyanyikan lagu “Ana Madinatul Ilm wa Aliyyun Babuha” dan pemberian cinderamata kepada setiap perwakilan lembaga negara.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Umar Shihab menekankan perlunya perjuangan keras dan jihad untuk melawan usaha para pemecah belah umat dalam menghilangkan toleransi. Oleh karena itu, “MUI tampil ke depan untuk menyatukan ormas-ormas dan kekuatan Islam … dengan kembali menyadari bahwa semua yang mengucapkan ‘laa ilaha illa allah’ adalah Muslim.”

Sebagai pembuka acara Muktamar ke-2 ABI, perwakilan Menteri Agama, Prof. Dr. HM. Machasin, MA sangat mendukung pelaksanaan acara tersebut di kantor Kemenag. Baginya, kerjasama ini adalah bentuk keterbukaan. “Muktamar ini kan urusan internal, bolehlah dilihat petugas negara jadi tidak ada yang disembunyikan, justru kalau ada yang disembunyikan, itu bermasalah.”

Machasin pun menegaskan posisi Kemenag dalam membela hak setiap warganegara dalam berkeyakinan.  “Kami selaku pejabat negara berkewajiban memberikan perlindungan dan memberikan pelayanan bagi kebutuhan dasar setiap warga, termasuk keyakinan.”

Saya ucapkan selamat [atas muktamar ini], semoga dari muktamar ini dihasilkan hal yang bermanfaat bagi jemaah Ahlul Bait dan juga meneguhkan kebhinekaan dan kesatuan, Insya Allah,” pungkas Machasin menutup sambutannya. (Bahesty/Yudhi)

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Islam Teror dan Islam inspiratif

 

Islam Teror dan Islam inspiratif
understandislamAkhir-akhir ini kita menyaksikan dua bentuk Islam yang tampil di kancah dunia internasional. Yang satu adalah Islam yang bringas, penuh teror, kejam, sadis, menjarah dan segala bentuk kriminalitas yang lainnya. Islam ini direpresentasikan oleh ISIS, Jabhah an-Nusroh. Alqaedah, Boko Haram dan sejenisnya.
Di sisi lain kita juga menyaksikan Islam yang militan tapi moderen, maju secara saintifik bahkan sampai bisa bikin nuklir, canggih dalam teknologi mulai dari nano teknologi sampai pada teknologi persenjataan yang sangat canggih. Pendek kata Islamnya sangat membanggakan dan penuh inspirasi. Islam ini direpresentasikan oleh Iran. Kalau yang pertama adalah Islam yang berbasis pada akidah dan cara pandang Salafi. Sementara yang kedua berbasis pada akidah dan cara pandang Syiah Imamiah.
Ada yang bertanya, kenapa sangat beda outputnya sementara asalnya sama, yakni sama-sama Islam.
Saya mengamati bahwa meskipun asalnya sama-sama Islam, Alqurannya sama dan Nabinya sama namun rujukan penafsiran pada nas Alquran dan nas hadisnya beda.
Kalau yang pertama (salafi) memahami Alquran dan Hadis-Hadis Nabi sangat tektualis sehingga tidak memberikan ruang kepada akal dan pikiran yang sehat untuk ikut serta memahami firman Allah dan Hadis Nabi. Maka beda dengan syiah. Mereka memahami dan menafsirkan Alquran dan Hadis dengan bantuan ilmu-ilmu Ahlul Bait yang sangat rasional, kontekstual, logis, dan up todate. Itulah kenapa lewat penafsiran mereka Islam terasa sangat relevan, elegan, aktual dan sesuai dengan zamannya.
Islamnya tidak jenuh, tidak menakutkan tidak minder di hadapan agama yang lain dan sangat inspiratif. Dari situ kita bisa memahami Hadis Nabi yang bersabda: ” al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih”, Islam selalu unggul dan tidak ada yang bisa mengalahkannya.
Sungguh kita merindukan Islam yang number one itu

Husain Sayyidus Syuhada’

zakhmi_zuljana-normalSyahid artinya orang yang gugur mulia di jalan Allah karena membela agama-Nya.

Al-Quran menyebut para syuhada’ sebagai manusia-manusia yang telah diberikan nikmat oleh Allah, selain daripada para Nabi, orang-orang yang jujur dan orang-orang yang soleh. “an’amallahu ‘alaihim minan nabiyyin was shiddiqin was syuhada’ was sholihin’.

Banyak sahabat yang gugur di jalan Allah menjadi syuhada’ (jamak dari syahid). Mereka gugur di medan-medan jihad dan menjadi manusia- manusia mulia di sisi Allah dan di dalam catatan sejarah ummat manusia. Nabi saw sangat mengagungkan mereka, bersedih untuk mereka bahkan Nabi menangis karena kepergian mereka.

Ketika sayyidina Hamzah syahid di medan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan Nabi saw menangis bahkan menyuruh para sahabat untuk datang bertakziah ke Rumah Sayyidina Hamzah dan berduka di sana.

Ketika Nabi mendengar Abdullah bin Rawahah, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur syahid di Mu’tah, di kota Madinah Nabi duduk berduka dan lama berdiam diri bersama para sahabatnya.

Nabi berkata bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang terputus kedua tangannya itu kelak akan diganti oleh Allah dengan dua sayap di syurga. Dan Nabi menghargainya dengan menyebutnya sebagai  Ja’far at-Thayyar, artinya Ja’far yang akan terbang di syurga dengan dua sayap.

Nabi juga menyebut Sayyidina Hamzah yang gugur di peperangan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan dimana jantungnya dicopot dan dikunyah-kunyah oleh  Hindun ( ibunya Muawiyah dan neneknya Yazid) sebagai Sayyidus Syuhada’ Penghulu para syuhada’.

Lima puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah saw cucu Nabi tercinta yang bernama Husain bin Ali gugur di medan Karbala bersama beberapa cucu-cucu Nabi yang lain seperti Ali Akbar, Ali Asghar, Qasim bin Hasan dan lain-lain dalam keadaan yang lebih mengenaskan: kepala dipenggal, tangan diputus, kaki ditebas, bahkan puluhan kepala para syuhada’ itu ditancapkan di atas tombak dan diiring keliling kota Kufah dan Syam bersama wanita- wanita suci keluarga Nabi yang ditawan bagaikan budak-budak tawanan.

Bayangkan sekiranya Nabi yang mulia menyaksikan tragedi Karbala ini apa yang akan beliau katakan?

Bagaimana cucuran air mata Nabi akan tumpah?

Assalamu alal Husain

Wa ala Ali ibnul Husain

Wa ala awladil Husain

Wa ala ashabil Husain

Tradisi Suro di Tanah Jawa

tradisi-asyuraKalender jawa dimulai dengan bulan Suro. Bulan-bulan berikutnya mengambil nama bulan-bulan Islam atau mengambil nama peristiwa besar yang terjadi pada bulan itu. Bulan Rabiul disebut sebagai bulan Mulud. Bulan Ramadhan disebut bulan Puso.

Pertanyaannya kenapa bulan Muharram disebut sebagai bulan Suro? Kemungkinan besar itu adalah kata lain dari ‘Asyuro. Kenapa menjadi Suro? Karena lidah Jawa sulit menyebut huruf ‘ain maka untuk lebih mudahnya disingkat menjadi Suro.

Orang-orang Jawa memperlakukan bulan Suro dengan sangat sakral. Mereka berpakaian serba hitam; tidak mau berpesta-pesta apalagi mengadakan acara “mantenan”. Mereka lebih suka berdiam dan merenung sambil mencuci dan membersihkan barang-barang purba yang sakti.  Mengambil berkah dari makanan dan minuman yang sudah diarak pada malam Suro. Dan masih banyak lagi yang intinya adalah “duka”.

Apakah ada kaitannya dengan “duka” Karbala yang diperingati oleh orang-orang syiah seluruh dunia setiap masuk bulan Muharram?

Sangat sulit untuk mengatakannya tidak setelah melihat persamaan-persamaan dalam tradisi “duka” itu.

Apalagi kalau kita lihat fakta sejarah ummat Islam secara lebih luas dimana acara menyambut bulan Muharram dengan warna hitam-hitam hanya ada dan hanya ada dalam komunitas syiah saja. Tidak dalam komunitas Muslim lainnya.

Tidak berlebihan apabila kita berkesimpulan bahwa tradisi Suro di Tanah Jawa adalah Tradisi Syiah (ala) Jawa.

Assalamu ‘alal Husain

Wa ‘ala ‘Ali Ibnil Husain

Wa ‘ala aulad al-Husain

Wa ‘Ala ashabil Husain

Tahun Baru Hijriah 1436

asyura1Tgl 25 Oktober 2014 adalah hari pertama dari tahun baru Hijriah 1436 H.

Berbagai macam cara orang-orang Islam menyambutnya. Ada yang memeriahkannya dengan bergembira ria. Ada juga yang sebaliknya, awal dari hari duka. Dan, fakta yang tak bisa diinkari bahwa mayoritas kaum muslimin tidak perduli dengannya.

Ahlul Bait menyambut bulan Muharram dengan kesedihan dan duka. Dan itu tergambar dari warna-warna hitam yang menjadi pakaian setengah resmi para syiahnya. Hal itu karena pada bulan ini, persisnya pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H putra-putra Islam terbaik telah gugur di jalan Allah SWT.

Mereka adalah para pahlawan Islam yang abadi yang telah menyelamatkan misi besar Rasulullah saw dari penyelewengan dan pemutarbalikan yang telah dilakukan oleh para penguasa yang zalim. Para pahlawan sejati itu dipimpin oleh cucu Rasulullah saw tercinta yakni al-Imam al-Husain as.

Husain as telah gugur bersama belasan keluarganya dan 72 para sahabatnya di sebuah tempat yang bernama Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H.

Kesyahidan Husain ternyata berbuah menjada bara api yang terus membakar semangat juang hati-hati orang yang beriman selamanya. Bara itu tidak akan pernah padam selama-lamanya.

Kullu yaumin ‘Asyuro

Kullu ardhin Karbala