Suara Syiah

Hari Arbain dan Perjuangan Sayidah Zainab

____zainab__a_s_______1432_by_bani_hashim-d5b9ir3Ahlul Bait as merupakan salah satu pusaka berharga Rasulullah Saw bagi umatnya untuk menjauhkan mereka dari penyimpangan dan kesesatan. Beliau bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (al-Quran) dan Ahlul Baitku.”

Read More »

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah Di UIN Jakarta

Muhsin-LabibUntuk kesekian kalinya, buku Syiah Menurut Syiah (SMS) dibedah. Kali ini (27/11) tim penulis buku Syiah Menurut Syiah dari Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) bekerjasama dengan pihak UIN Syarif Hidayatullah (Fakultas Ushuluddin) Jakarta. Acara tersebut berlangsung di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya, ABI juga sempat bekerjasama dengan pihak lain dalam bedah buku SMS (Bedah Buku SMS di P3M).

Secara umum, Dr. Muhsin Labib, MA selaku narasumber mewakili tim penulis ABI membagi sistematika penulisan buku tersebut ke dalam dua garis besar yaitu konsep dan realita. Secara khusus, ingin memahamkan kepada pembaca bahwa apa yang setiap orang pahami adalah sebuah persepsi, tidak absolut, relatif dan tidak mutlak benar. Sehingga, apa yang dilihat secara realita bukanlah sebuah tolak ukur untuk memahami sebuah kebenaran.

Sebagai contoh, ketika ada seorang mengaku Syiah dan mengkafirkan sahabat Nabi, tidak dapat disimpulkan bahwa ajaran Syiah mengkafirkan sahabat Nabi. Karena hal itu adalah perilaku individu yang tidak mewakili sebuah konsep ajaran.

“Perilaku individu tidak dapat dijadikan tolok ukur ajaran agama,” tutur Muhsin Labib.

Terlebih, ulama Syiah telah memfatwakan haram menghina simbol-simbol yang diagungkan oleh Muslim Sunni. Ketika masih ada yang mengkafirkan sahabat Nabi yang diagungkan oleh Muslim Sunni, secara otomatis telah keluar dari mainstream Syiah sebagai konsep ajaran yang dipahami. Sebagaimana halnya ketika Saddam Husein membantai jutaan Muslim Syiah, tak satupun Muslim Syiah menganggap Saddam adalah representasi Sunni dalam melakukan pembantaian umat Islam.

Lebih lanjut menurutnya, tidak ada Sunni membunuh Syiah, dan tidak ada Syiah membunuh Sunni. “Kalau ada yang membunuh Sunni, dia bukan Syiah. Kalau ada yang membunuh Syiah, dia bukan Sunni,” tegasnya.

Terkait isu banyaknya cabang Syiah, seorang peserta bedah buku menanyakan soal judul buku Syiah Menurut Syiah. “Syiah yang mana?” tanya peserta. Muhsin Labib menjelaskan bahwa secara umum yang diterima sebagai konsep ajaran Islam adalah Syiah Imamiyah Istna Asyariah dan buku tersebut menjelaskan Syiah secara umum.

Narasumber lain adalah Dr. Faris Pari, dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya, perbedaan yang sering dipahami adalah perbedaan dalam ranah praktis. Bukan filosofis teoritis. Hal itu selaras dengan yang dimaksud Muhsin Labib tentang konsep dan realita. Orang banyak menilai sesuatu dalam ranah realita, bukan konsep.

“Karena kalau melihat yang beda akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, problem, pelenyapan bahkan berujung pada pembunuhan,” tutur Faris Pari. Hal itu dapat dilihat misalnya dalam kasus Muslim Syiah Sampang Madura.

Terkait konsep Taqiyah (tidak menampakkan kebenaran) dalam ajaran Syiah diakuinya bahwa hal itu berada dalam ranah praktis dan berkutat dalam problem sosial budaya, bukan pada ranah konsep agama. Sebagai contoh, ketika orang Syiah berbaur, shalat berjamaah dengan Muslim Sunni, tangannya sedekap (tidak lurus), dengan pertimbangan tertentu demi menjaga keharmonisan hubungan sosial.

Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB itu dihadiri lebih dari 200 peserta; mahasiswa maupun umum.

Mufin, salah satu peserta dari Fakultas Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat ditanya apa yang diketahuinya tentang Syiah, dia mengaku tidak tahu-menahu.

“Awalnya yang saya tahu, Syiah itu mut’ah dan syahadatnya berbeda,” tutur Mufin. “Jadi, ini usaha bagus untuk memperkenalkan diri,” pujinya. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Pernyataan para ulama Syiah tentang Kesempurnaan al-Quran

  1. Syeikh Shaduq (wafat-318 H)

alquranKitab al-I’tiqad  (59-60)

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله على نبيه محمد صلى الله عليه و آله هو ما بين الدفتين و هو ما في أيدي الناس ليس بأكثر من ذلك ، ومبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشرة سورة ، وعندنا أن الضحى وألم نشرح سورة واحدة ولإيلاف وألم تر كيف سورة واحدة ، ومن نسب إلينا أنا نقول أكثر من ذلك فهو كاذب “

Aqidah kami adalah bahwa al-Quran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw adalah al-Quran yang sekarang ini ada tengah-tengah ummat manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya 114 surah. Dalam pandangan kami surah ad-dhuha dan alam nasyrah adalah satu surah, dan liilaf dengan alam tara kaifa juga dianggap satu surah. Orang yang mengatakan bahwa kami berpendapat bahwa kitab al-Quran syiah lebih dari itu adalah pembohong.”

  1. Syeikh Mufid ( wafat 413 H)

Kitab Awail al-Maqalat (54 – 56)

وقد قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ..)

“ Telah berkata sejumlah Jamaah dari Syiah bahwa sesungghunya al-Quran tidak sekalimatpun kurang, Demikian juga  tidak ada ayat atau surah yang kurang.”

  1. Syeikh Murtadha ( wafat 436 H)

Risalah al-Ajwibiah al-Ula

لأن القرآن معجزة النبوة ومأخذ العلوم الشرعية والاحكام الدينية’ وعلماء المسلمين قد بلغوا في حفظه وحمايته الغاية حتى عرفوا كل شئ اختلف فيه اعرابه وقراءته.. فكيف يجوز ان يكون مغيراً أو منقوصاً مع العناية الصادقة والضبط الشديد ! وقال : ان القران كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً على ما هو عليه الآن

“Sesungguhnya al-Quran adalah sebuah mukjizat, sumber ilmu-ilmu syareat dan hukum agama. Para ulamasungguh-sungguh menjaganya sampai mereka tahu apapun yang diperselisihkan di dalamnya,baik tentang i’rabnya maupun bacaannya.

Lalu bagaimana mungkin al-Quran akan mengalami perobahan atau pengurangan ayat-ayatnya sementara pemeliharaan tentangnya benar-benar ketat. Sungguh, al-Quran di zaman Nabi adalah telah dikumpulkan dan disusun seperti yang ada sekarang ini.”

  1. Syaikh Thusi ( 460 H)

Kitab al-Bayan fi Tafsir al-Quran (I: 3)

أما الكلام في زيادته ونقصانه فمّما لايليق به ‘لأن الزيادة فيه مجمع على بطلانه

“”Bicara tentang apakah al-Quran mengalami penambahan atau pengurangan ayat-ayatnya adalah tidak pantas sama sekali. Karena hal itu sudah disepakati salah dan keliru.”

  1. Syaikh Tabarsi (548 H)

Majma’ al-Nayan (I: 15)

اما الزيادة فمجمع على بطلانها’ واما القول بالنقيصة فالصحيح من مذهب أصحابنا الامامية خلافه .

“ Mengatakan bahwa ada penambahan dalam al-Quran, maka secara aklamasi pendapat itu adalah batil dan salah. Pendapat yang mengatakan bahwa ada kekurangan maka yang benar dari mazhab kami (syiah Imamiah) adalah menentang pendapat itu.”

  1. Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663 H)

إنَ رأي الإمامة هو عدم التحريف

“Pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif dalam al-Quran

Dan dari ulama-ulama syiah kontemporer misalnya:

 

  1. Sayyid Abul Qasim al-Khui

Al-Bayan fi Tafsir Al-Quran hal. 220

إنَ من يدَعي التحريف يخالف بداهة العقل

“Orang yang beranggapan adanya tahrif al-Quran maka itu berlawanan dengan aksiomatika rasional”.

  1. Imam Khomeini

Kitab Tahdzib al-Ushul (II: 165)

«إن الواقف على عناية المسلمين على جمع الكتاب وحفظه وضبطه قراءة وكتابة يقف على بطلان تلك المزعمة

“ Melihat betapa perhatiannya kaum muslimin untuk mengumpulkan al-Quran, menghafalnya dan mencatatnya baik secara qiraah maupun tulisan maka dengan mudah kita berkesimpulan akan ketidakabsahan asumsi (tentang tahrif al-Quran).

وما وردت فيه من الأخبار بين ضعيف لا يستدلّ به، إلى مجعول يلوح منها إمارات الجعل، إلى غريب يقضى منه العجب، إلى صحيح يدلّ على أن مضمونه تأويل الكتاب وتفسيره،

“Adapun sejumlah riwayat tentang tahrif maka sebagiannya adalah dhaif yang tidak bisa dijadikan hujah; sebagian lagi maj’ul (maudhu’); sebagian lagi gharib (aneh); sebagian shaheh namun maksudnya adalah makna takwil dan tafsir al-Quran dsb. “

…” وأوضحنا إليك أن الكتاب هو عين ما بين الدفّتين، والاختلاف الناشئة بين القراء ليس إلا أمراً حديثاً لا ربط له بما نـزل به الروح الأمين على قلب سيّد المرسلين

 

“Kami juga sudah jelaskan bahwa kitab al-Quran yang asli adalah Kitab al-Quran yang sekarang ini ada di tangan kita. Adapun perbedaan yang terjadi antara para qurra’ adalah perkara baru yang tidak ada hubungannya dengan apa yang diturunkan oleh Malaekat Jibril ke dalam hati Penghulu para Rasul saw.”

 

Al-Quran dalam Pandangan Syiah

alquranKeterjagaan Al-Quran dari Tahrif / Perubahan

Firman-Firman Allah:

I

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Al-Quran.

Dan di dalam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Al-Quran itu sendiri.

II

 

إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيز

ٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

(Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Al-Quran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran. Al-bâthil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Al-Quran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Al-Quran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Al-Quran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.

III

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَه فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَه

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.

Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.

Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

(Al-Qiyamah : 17-19)

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.

Disinilah yang diyakini mazhab Syiah bahwa wahyu itu bukan hanya dalam bentuk ayat-ayat suci al-Quran yang ada di tangan kita saja tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada Nabi saw.

Wahyu-wahyu yang non-qurani inilah kemudian Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam kitabnya yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Ali yang sesungguhnya itu  diperintahkan oleh Rasulullah saww.  Banyak yang keliru memahami aistilah Mushaf Ali atau Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi maksudnya ayat-ayat penjelasan secara terperinci yang meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang sehingga berjumlah 17000 ayat.

Kesimpulannya itu bukanlah ayat Al-Quran seperti yang kita lazim fahami sehari-hari, namun ayat penjelasan, tafsir dan takwilnya.

Hadis-Hadis

  1. Hadits Ghadir

Kitab al-Ihtijaj 1/60 karya Syaikh Thabarsi:

(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه

فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده

ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه،

وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang terjadi pada tanggal 18 Julhijjah Nabi saw bersabda : Wahai ummat manusia,  pelajarilah Al-Quran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamat dan  janganlah mengikuti yang mutasyabihat. Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali orang yang aku angkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang kuumumkan kepada kalian bahwa “barangsiapa yang aku adalah Maulanya maka Alilah Maulanya.” Dialah Ali ibn Abi Thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamahat bukan mutasyabihahat melazimkan bahwa Al-Quran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

  1. Hadits Tsaqalain

Hadits ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang besar. Pertama Kitab Allah dan kedua Itrahku dan Ahlul Baitku. Apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya setelahku.”

Keterangan

Perintah untuk berpegang teguh kepada Al-Quran adalah bukti bahwa al-Quran sejak awal adalah utuh tidak  kurang atau lebih.

  1. Hadits Imam Ali

Imam Ali as berkata :

و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه

Dan Kitab Allah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

  1. Hadis Rujuk kepada al-Qur’an

Perintah untuk merujuk kepada al-Quran dan hadis yang sesuai dengan al-Quran merupakan bukti yang sangat jelas tentang tiadanya tahrif dalam al-Quran. Karena bagaimana mungkin kita diperintah merujuk kepada al-Quran sementara ia diragukan keasliaannya. Mustahil.

محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».

( الكافي 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qûb berkata, dari Ali Ibn Ibrâhîm dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap kebenaran ada realitasnya dan setiap yang benar ada cahanyanya. Apabila ia sesuai dengan Kitab Allah maka ambillah dan apabila ia bertolak belakang dengan Kitab Allah maka tinggalkanlah”.

قول الإمام الصادق عليه السّلام: «إذا ورد عليكم حديثان مختلفان فأعرضوهما على كتاب اللّه، فما وافق كتاب اللّه فخذوه، و ما خالف كتاب اللّه فردّوه …» (وسائل الشيعة : 18:84)

Imam as-Sâdiq as: “apabila sampai kepada kalian dua hadis yang berbeda maka rujukkanlah kepada Kitab Allah.  Apabila ia sesuai dengan Kitab Allah maka ambillah dan apabila ia bertolak belakang dengan Kitab Allah maka tinggalkanlah”.

Hadis-hadis seperti ini sangat banyak di dalam kitab-kitab hadis rujukan syiah.

 

Hadis dalam Pandangan Syiah

Pengantar

image-FH07EHHO5DTJC5YAKedudukan hadis Nabi saw dalam Islam sangat penting. Sebab lewat hadislah kita bisa memahami pesan agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Mazhab ahlu sunnah dan syiah sependapat bahwa hadis adalah rujukan kedua setelah kitab suci al-Quran. Kedudukan sebuah hadis yang shahih mutawatir misalnya sama derajatnya dengan firman Allah Swt, sehingga wajib bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah untuk menjalankan isi hadis tersebut dan tidak boleh ia mengabaikannya. Sebab mengabaikannya sama saja ia mengabaikan kitab suci al-Quran.

Mengimani adanya hadis Nabi dan wajib menjalankan pesan hadis Nabi yang terbukti shahih adalah prinsip yang dipegang oleh semua mazhab dalam Islam. Namun ada perbedaan dalam mendefinikan kategori suatu hadis apakah ia shahih atau dhaif; apakah seorang perawi suatu hadis termasuk sebagai yang mamduh (perawi yang terpuji) atau yang tercela.

Berikut kami turunkan artikel singkat tentang hadis dalam pandangan mazhab syiah Imamiah.

Klasifikasi Hadis

Syiah membagi hadis kepada dua bagian: hadis mutawatir dan hadis aahad.

Hadis mutawatir adalah hadis yang dilaporkan oleh sekelompok orang yang jumlah mereka sedemikian banyaknya sehingga biasanya sulit bagi mereka untuk sepakat berdusta bersama-sama. Kategori hadis ini memiliki validitas yang tinggi sehingga wajib mengamalkan isi hadis tersebut.

Hadis Aahad adalah hadis yang tidak sampai pada level mutawatir dikarenakan pelapor hadis tersebut (perawinya) berjumlah satu orang atau lebih dari satu. Hadis aahad terbagi kepada beberapa kategori:

  1. Hadis Shahih, yakni hadis yang perawinya adalah seorang yang berasal dari mazhab Imamiyah yang terbukti dengan cara yang meyakinkan bahwa ia adalah seorang yang adil.
  2. Hadis Hasan, yakni hadis yang perawinya adalah seorang yang berasal dari mazhab Imamiyah yang terbukti ia adalah seseorang yang terpuji dan tidak ada laporan bahwa ia adalah orang yang tercela atau yang adil.
  3. Hadis Muwatsaq, yakni hadis yang perawinya adalah seorang muslim yang non-syiah, namun ia bisa dipercaya dan amanat dalam menukilkan riwayatnya
  4. Hadis Dhaif, yakni hadis yang perawinya adalah non-muslim, atau muslim yang fasik, atau yang tidak jelas identitasnya atau yang tidak disebutkan dalam sanad hadis seluruh periwayatannya.

Hadis Maudhu’

Hadis Maudhu’, yakni hadis palsu atau fiktif. Ciri-cirinya teks redaksinya bertentangan dengan nas al-Quran atau dengan sesuatu yang sudah terbukti benar dalam Sunnah Nabi saw; atau bertentangan dengan akal atau redaksinya jauh dari kefasehan bahasa; atau berita besar tapi dilaporkan oleh satu orang atau perawi yang melaporkan itu adalah seorang pembela penguasa yang zalim di zamannya.

 

 

Kitab-kitab Hadits

Para ulama syiah menulis tiga kategori kitab yang berkaitan dengan hadis:

Pertama, kutub al-hadits, yakni kitab-kitab yang mengoleksi hadis-hadis Nabi saw dan hadis-hadis para Imam Ahlul Bait as. Dalam kitab-kitab hadis ini tertulis berbagai macam teks hadis seperti hadis-hadis yang berkaitan dengan akidah, syareah maupun akhlak.

Kedua, kitab rijal al-ahadits, yakni kitab yang berkaitan dengan diskripsi para perawi hadis.

Ketiga, kitab dirayah, yakni kitab yang membahas tentang berbagai macam kaedah-kaedah umum yang dengannya seseorang bisa mengetahui mana hadis yang shaheh dan mana yang tidak shaheh.

Tujuan dari adanya kaedah-kaedah ini adalah untuk melakukan verifikasi apakah sebuah hadis yang sampai ke tangan kita itu benar-benar sebuah hadis yang shaheh atau tidak shaheh.

Kutub al-Hadits

Berikut adalah sejumlah kitab rujukan hadis dalam mazhab syiah:

  1. Kitab al-Kafi, Syaikh al-Kulaini (w.328 H). Jumlah hadis: 16099 hadis
  2. Kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Syaikh Ibnu Babaweh atau juga dikenal dengan Syaikh Shaduq (w.381 H). Jumlah hadis: 9044 hadis
  3. Kitab at-Tahdzib, Syaikh Thusi (w.461 H). Jumlah hadis: 13095 hadis
  4. Kitab al-Istibshar, Syaikh Thusi. Jumlah hadis: 5511 hadis.
  5. Kitab al-Wafi, Syaikh Muhsin Faidh Kasyani (w. 1091 H), 14 jilid
  6. Kitab Wasail as-Syiah, Syaikh al-Hur al-‘Amili (w.1033 H), 6 jilid
  7. Bihar al-Anwar, Syaikh Majlisi,

Kitab Rijal

Di antara kitab Rijal Hadis Syiah Imamiyah adalah sebagai berikut:

  1. Kitab al-Rijal, Syaikh Najasyi (w.450 H)
  2. Kitab al-Rijal, Syaikh Thusi
  3. Kitab Ma’alim al-Ulama, Syaikh Ibnu Syahri Asyub (w.588 H)
  4. Kitab Manhaj al-Maqal, Syaikh Muhammad Astarabadi (w. 1020 H)
  5. Kitab Itqan al-Maqal, Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w. 1323 H)
  6. Kitab Rijal al-Hadits, Sayed Abul Qasim al-Khui
  7. Kitab al-Rijal al-Kabir, Syaikh Abdullah al-Mamqani

Kitab Dirayah

  1. Kitab al-Bidayah fi ‘Ilm ad-Dirayah, Syaikh Zainuddin bin Ali al-‘Amili (w. 966 H)
  2. Kitab al-Wajizah, Syaikh al-Bahai al-‘Amili (w. 1032 H)
  3. Kitab Syarh al-Wajizah, Sayed Hasan as-Sadr
  4. Kitab Miqyas al-Hidayah, Syaikh al-Mamqani

Mengamalkan Pesan Hadis

Dalam pandangan Syiah, mengamalkan pesan hadis yang shaheh, hasan dan muwatsaq adalah wajib, karena sanadnya kuat. Dan sebaliknya sebuah hadis yang dhaif wajib ditinggalkan karena sanadnya yang lemah. Namun sebuah hadis yang dhaif kadang-kadang bisa saja berubah menjadi kuat apabila para ulama terdahulu mengamalkan hadis tersebut. Hal ini karena para ulama yang wara’ dan sangat hati-hati tersebut ditambah lagi mereka hidup di periode yang dekat dengan periode awal Islam ketika mereka mengalamkan suatu hadis dhaif pasti lantaran adanya suatu “qarinah” (sebab) yang qarinah itu kini tersembunyi dari kita. Adanya qarinah itu mengangkat status hadis dhaif tersebut.

Demikian juga sebaliknya sebuah hadis yang kuat bisa saja berubah menjadi dhaif apabila para ulama terdahulu mengabaikannya. Sebab pasti ada suatu sebab mengapa para ulama yang agung di zaman itu meninggalkan hadis tersebut meskipun perawinya dikenal jujur.

 

350 Ulama Islam dari 80 Negara Berkumpul di Qom

4dde694bd4ccc9290f6574312a8306bcKonferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam sedang berlangsung di Qom [23-24/11]. Kurang lebih 350 ulama Islam sedunia dari 80 negara menghadiri konferensi tersebut.

Menurut Kantor Berita ABNA, Konferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam sedang berlangsung di Qom Republik Islam Iran [23-24/11]. Kurang lebih 350 ulama Islam sedunia dari 80 negara menghadiri konferensi tersebut. Berikut foto-foto saat para tamu sedang memasuki tempat acara di Internasional Rasul Akram Saw di Madrasah Ilmiah Imam Kadzhim As Qom yang memuat kapasitas seribu orang.

Tampak pada gambar, KH. Alawi Nurul Alam al Bantani, delegasi dari PB Nahdatul Ulama, Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing, Rektor UIN Alauddin Makassar dan Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, MA Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar.

Sumber :Abna.ir

Muhammadiyah Dan Ahlulbait Indonesia Siap Tampilkan Islam Ramah

Dien-Syamsuddin-dan-Hasan-Alaydrus-copy1-660x330Dalam peringatan miladnya yang ke-102 di gedung DPR RI, Jakarta, Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dien Syamsuddin menekankan pentingnya menampilkan wajah Islam yang ramah dan toleran serta menyebarkan kedamaian ke seluruh penjuru dunia.
 
Hal ini disampaikan Dien saat membuka acara milad Muhammadiyah ke-102, bersamaan dengan acara Forum Perdamaian Dunia ke-5 yang dihadiri 40 negara.
 
“Menciptakan perdamaian mesti bersama-sama,” ujar Dien Syamsuddin. “Karena itu pula banyak negara yang hadir di sini. Karena kita semua berkepentingan bagaimana bisa menyelesaikan konflik-konflik yang ada.”
 
Islam Ramah, Bukan Islam Marah
 
ABI Press_Dien Syamsuddin dan Hasan AlaydrusSaat ditanya mengenai kelompok-kelompok radikal Islam seperti ISIS yang justru berlaku keras dan jauh dari wajah Islam ramah, Dien Syamsuddin mengatakan bahwa mereka bukan representasi Islam yang sejatinya rahmatan lil ‘alamin.
 
“Islam itu agama rahmah wa salamah, agama perdamaian. Tetapi mereka memakai kekerasan. Al-Qur’an itu melarang membunuh, menghilangkan nyawa. Sama dengan membunuh umat manusia. Tapi mereka membunuh banyak orang, kan?” tanya Dien. “Muhammadiyah hadir justru untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan cinta damai, dan siap bergandeng tangan dengan siapa pun yang memiliki keinginan yang sama untuk menyebarkan perdamaian,” imbuhnya.
 
Mengapresiasi pernyataan Dien, Ketua Umum Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustad Hassan Alaydrus, yang juga hadir sebagai tamu undangan dalam Milad Muhammadiyah ke-102 ini, menyatakan ABI siap bersinergi dengan Muhammadiyah guna menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
“Pernyataan Pak Dien itu selaras dengan apa yang dikemukakan oleh ulama-ulama besar Ahlusunnah dan Ahlulbait. Kelompok garis keras seperti ISIS itu tak berhak memakai kata Islamic. Karena kalau kata Islami itu harus ramah, damai, penuh rahmat kasih-sayang. ISIS dan sejenisnya itu kan berwajah garang bagai drakula. Bagaimana drakula haus darah mengatakan dirinya adalah Islam? Itu justru merampas nama suci Islam sendiri,” ujar Hassan Alaydrus.
 
Lebih lanjut Hassan Alaydrus kembali menekankan, sebagai adik dari Muhammadiyah dan NU, Ahlulbait Indonesia selalu siap bergandengan tangan untuk menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
“Kita adalah adik Muhamamdiyah, adik NU. Kita akan bersama-sama untuk membangun Islam yang ramah. Dan insya Allah dengan kebersamaan ini rencana jahat musuh-musuh Islam selama ini akan gagal,” pungkas Ketua Umum ABI tersebut. (Muhammad/Yudhi)

Surat Terbuka Anak Pengungsi Muslim Syiah Sampang Untuk Jokowi Di Hari Anak Internasional

Surat-Terbuka-Anak-Pengungsi-Muslim-Syiah-Sampang-untuk-Presiden-Jokowi-660x330Hari Anak Internasional dirayakan setiap tanggal 22 November bukannya tanpa alasan. Peringatan ini terus diadakan karena masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan hak-hak dasar mereka sehingga tercerabut pula pengalaman masa kecil yang seharusnya indah.

Hal inilah yang dialami saat ini oleh anak-anak pengungsi Muslim Syiah Sampang Madura yang menjadi korban tindakan intoleransi dan harus kehilangan keceriaan masa kanak-kanak mereka, kehilangan senyuman dari bibir-bibir mereka.

Salah satu dari anak pengungsi Muslim Syiah Sampang siang itu (22/11) membacakan surat terbukanya untuk Presiden Joko Widodo di depan sejumlah teman-teman mereka yang juga mengalami ketidak adilan dan diskriminasi, seperti anak-anak Sunda Wiwitan, Jamaah Ahmadiyah dan juga dari GKI-Yasmin dan HKBP Filadelfia dalam peringatan Hari Anak Internasional di LBH Jakarta.

Berikut isi surat dari anak pengungsi Muslim Syiah Sampang untuk Presiden Joko Widodo.

ABI Press_Surat Untuk Presiden JokowiAssalamualaikum Wr. Wb.

Yang terhormat Bapak Presiden Jokowi, saya Fidek Mahdi, putra dari salah satu korban kekerasan Sampang Madura. Saya mohon kepada Bapak yang terhormat kembalikan kami ke tempat kelahiran kami. Kami ingin sekolah dengan tenang, kami ingin jadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara.

Semua teman-teman pengungsi kehilangan keceriaan karena ketidak adilan ini. Haruskah kami jadi anak jalanan? Karena ketidak adilan ini. Sekian lama, sudah hampir tiga tahun kami di pengungisan sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Saya mohon kepada Bapak Jokowi yang terhormat, bantu kami semua. Kami sekarang putus sekolah karena harus berpindah-pindah tempat, kami ingin jadi anak yang pintar. Kami tidak ingin diusir di negara sendiri.

Seperti yang kita tahu dari media tentang perhatian dan usaha Presiden Joko Widodo untuk menegakkan keadilan dan melindungi wong cilik, kira-kira sejauh mana Jokowi akan mendengarkan suara hati anak-anak pengungsi Muslim Syiah Sampang dan mewujudkan mimpi mereka?

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Memahami Makna Taqiyah

taqiyya11 Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Prof. Dr. H. Machasin, MA pada tanggal 14 November 2014 atas nama Menteri Agama bapak Lukman Hakim Saifudin membuka secara resmi muktamar ABI II yang berlangsung di Auditorium KH. M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat.

Sebelum beliau menyampaikan pesan-pesannya beliau sempat menyampaikan sesuatu yang beliau sebut dengan istilah “rahasia”. “Beberapa jam sebelum acara ini diselenggarakan saya mendapatkan telefon yang mempertanyakan ketulusan orang-orang syiah. Katanya orang syiah itu selalu bertaqiyah dan taqiyah itu artinya tidak tulus”

Dengan kata lain ketulusan orang syiah dalam menyatu dengan orang sunni dan sama- sama bekerja dalam memajukan ummat Islam Indonesia ini perlu diragukan.

Namun bapak dirjen menampik kecurigaan sang penelefon. Beliau berkata: “kemauan orang-orang syiah untuk menyelenggarakan muktamarnya di lingkungan kemenag adalah bukti bahwa mereka mau terbuka dan tidak sembunyi- sembunyi. Kemauan mereka mau bekerjasama dengan kemenag dan yang lainnya juga bukti lain bahwa sesungguhnya mereka punya niat yang tulus dan bagian dari ummat Islam yang satu”.

Taqiyah memang sering dijadikan sebagai “peluru” untuk menembak syiah. Dan taqiyah sering diartikan dengan kebohongan, kemunafikan dan ketidakjukuran dalam diri orang Syiah.

Padahal tidaklah demikian pengertian dari taqiyah. Taqiyah secara bahasa memiliki asal kata yang sama dengan taqwa, yang berarti secara harfiah takut dan khawatir. Secara istilah taqiyah berarti takut menampakkan keimanannya karena khawatir ia akan jatuh dalam bahaya karena kesewenang-wenangan pihak lain. Para ulama Syiah menyebut dua kategori taqiyah: pertama taqiyah lantaran bahaya kesewenang-wenangan yang mengancam nyawa atau hartanya. Kedua taqiyah mudarah, yakni khawatir akan menimbulkan fitnah dan perpecahan ummat lantaran kejahilan mereka.

Taqiyah jenis pertama sangat perlu bahkan wajib demi keselamatan nyawa seperti orang-orang Syiah yang sekarang hidup dalam wilayah kekuasaan ISIS. Baru-baru ini ISIS mengeluarkan perintah untuk membunuh siapapun yang bernama Syiah dimanapun mereka dapati. Bahkan ISIS mengancam akan membunuh siapapun yang dianggapnya sebagai lawannya meskipun ia Sunni. Saya yakin dalam hal ini tidak ada perbedaan antara sunni dan Syiah dalam memandang keabsahan prinsip taqiyah.

Taqiyah Mudarah sebenarnya adalah sebuah solusi yang bisa membangun persaudaraan dan kerjasama antara dua mazhab besar yang berbeda ini. Lewat taqiyah mudarah Syiah bisa menghargai prinsip-prinsip ahlu Sunnah wal jamaah dan juga sebaliknya. Lewat taqiyah mudarah Syiah seringkali meninggalkan baju syiahnya demi menjaga hati kaum muslimin dan memelihara persatuan ummat Islam. Alkisah Almarhum KH Buya Hamka tokoh Muhammadiyah pernah haji bareng dengan KH Idham Khalid tokoh NU. Ketika shalat subuh berjemaah dan Hamka menjadi Imam beliau qunut subuh demi menghormati KH Idham Khalid yang NU. Besoknya ketika KH Idham Khalid yang Imam beliau tidak qunut subuh karena menghormati Pa  Buya Hamka yang Muhammadiyah. Itulah contoh taqiyah mudarah. Ia tidak hanya dilakukan oleh orang Syiah namun juga dilakukan oleh orang-orang non syiah. Sadar atau tidar sadar.

Syiah adalah mazhab yang paling tua dan yang sudah paling banyak makan asam garam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Syiah adalah mazhab yang paling menginginkan persatuan dan persaudaraan terjalin di antara ummat Nabi Muhammad sebagaimana yang dipesankan oleh para Imam Ahlul Bait as.

Menyadari realitas umat yang sudah terkotak-kotakkan oleh mazhab, aliran, tradisi dan sebagainya maka yang masih tersisa adalah kesatuan dan kesamaan mereka sebagai ummat Nabi Muhammad saw yang mengimani akan keesaan Allah, kerasulan Nabi Muhammad, adanya hari akherat, bahwa Alquran sebagai kitab Allah, ka’bah sebagai kiblat bersama dan syareat yang dibawa oleh Rasulullah adalah syareat yang terakhir.

Perbedaan dalam memahami dan menafsirkan pesan-pesan Allah dan Nabi Muhammad harus disikapi dengan bijak. Dan salah satu dari prinsip kebijakan itu adalah taqiyah.

Imam Ja’far bilang “Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku”.

Wallahualam

Pengungsi Syiah : Kami Berharap Pak Jokowi Bisa Pulangkan Kami

310806_620

Seorang warga Syiah Sampang termenung di depan kamar seusai sholat Idul Fitri di pengungsian rumah susun Jemundo, Sidoarjo (28/8). Tahun ini merupakan kedua kalinya bagi 300 pengungsi Syiah Sampang harus merayakan Hari raya Idul Fitri di pengungsian. – Foto : Tempo/Fully Syafi

Satu Islam, Sidoarjo – Pemimpin Syiah Sampang, Iklil Al Milal berharap Presiden Joko Widodo dapat menyelesaikan kasus Syiah Sampang yang terjadi sejak 2012. “Kami berharap, Pak Jokowi yang baru saja terpilih dapat membuat kami kembali ke Sampang,” kata Iklil di Hotel JW Marriot Surabaya. Rabu, 11 November 2014.

Iklil berharap Jokowi dapat mengambil dan memenuhi janji-janji yang tidak dapat diwujudkan oleh Presiden Indonesia sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Iklil berpendapat Jokowi mempunyai seorang Jusuf Kalla yang berpengalaman dalam menyelesaikan konflik di Indonesia. “Mudah-mudahan bisa seperti saat menyelesaikan kasus Ambon,” ujarnya.

Koordinator Kontras Jawa Timur, Andi Arif, mengatakan hal yang sama. Menurut Andi, Presiden Jokowi dapat mengambil peran seperti yang dijanjikan mantan Presiden SBY dengan mengajak para tokoh masyarakat Sampang, sehingga dapat lebih cepat menyelesaikan permasalahan Syiah Sampang.

“Jangan hanya dikelola oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten saja, pemerintah pusat harus juga turun langsung,” ujar Andi.

Konflik Syiah di Sampang meletup pada lebaran ketupat tahun lalu. Saat itu, ratusan warga Sunni dari Sampang dan Pamekasan menyerang dan membakar puluhan rumah warga di Blu’uran dan Nangkernang. Setelah insiden penyerangan itu, warga Syiah Sampang sempat diungsikan ke Gedung Olahraga Sampang sebelum akhirnya dipindah ke kompleks rumah susun di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.(Tempo)

 

Sumber :Satu Islam