Berita Nasional

Dr. Alwi Shihab: Hindari Mengkafirkan Sesama Muslim

Saat mampir satu hari di 56268_alwi_shihab_663_382Dubai untuk menemui seseorang dalam rute kembali dari Yaman menuju Jakarta, Dr. Alwi Shihab (mantan Menlu era Gus Dur, Menko Kesra di Kabinet SBY dan mantan Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk wilayah Timur Tengah), memanfaatkan waktunya yang sempit untuk memberikan ceramah singkat dalam pengajian bulanan KMMI (Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia) di Abu Dhabi pada tanggal 21 Desember 2013.

Bertempat di Aula Ahmad Soebardjo Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi, lebih kurang 80 orang masyarakat Indonesia beserta keluarga antusias mendengarkan petuah tokoh senior Indonesia yang juga seorang politisi, agamawan, dan penulis buku terkenal “Islam Inklusif” ini.

Berikut ini uraian singkat yang disarikan dari ceramah beliau tersebut.

Hindari Sikap Mengkafirkan Sesama Muslim

Dr. Alwi Shihab memulai ceramahnya dengan mengungkapkan bahwa baru-baru ini, sambil mengutip berita yang dilansir koran terkenal, bahwa NU dan Muhammadiyah telah menyerukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berhati-hati mengeluarkan fatwa yang menyatakan sesat kepada mazhab tertentu, dalam hal ini mazhab Syiah. Kehati-hatian ini diperlukan untuk menghindari konflik horizontal yang saat ini sering terjadi, termasuk kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain yang dianggap berbeda keyakinan. Kejadian yang menimpa komunitas muslim Syiah di Sampang Madura dan beberapa pengikut tarekat di Jawa sebagai contohnya, adalah imbas perilaku suatu golongan yang merasa benar sendiri dan menghakimi kelompok lain sebagai sesat.

Beliau pun mencontohkan bahwa saat ini banyak media internet, selain media radio yang gemar mengabarkan perbedaan dan mengobarkan perpecahan di kalangan umat Islam. Padahal perbedaan yang ada hanyalah sedikit, hanya menyangkut masalah-masalah kecil, bukan hal-hal besar.

Seperti halnya Syiah dan Sunni, keduanya diakui sebagai mazhab dalam Islam. Dr. Alwi Shihab menceritakan bahwa ketika beliau bersama Profesor Quiraish Shihab menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, di sana mereka juga mempelajari mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab Islam. Kalau bukan mazhab yang diakui dalam Islam, tidak mungkin mereka diberi pelajaran mengenai mazhab tersebut. Karenanya, adalah hal yang kurang bijak sekiranya ada sekelompok orang yang kemudian memperkeruh persatuan Islam dengan menyebarkan isu-isu tentang kesesatan Syiah.

Islam mazhab Syiah tak jauh berbeda dengan Islam mazhab Sunni. Keduanya sama bersyahadat, menunaikan zakat, sholat menghadap kiblat, berhaji di Mekkah, dan terdapat pula kesamaan dalam hal-hal lain sebagaimana umat Islam yang bermazhab Ahlus Sunnah. Adapun perbedaan-perbedaan yang ada, mestinya tak perlu diperuncing karena memang tak begitu signifikan.

Debat antara ulama Sunni dan Syiah sudah berlangsung ribuan tahun, namun hampir kesemuanya dilakukan dengan cara yang santun sesuai akhlakul karimah. Para ulama yang berdebat itu tak pernah saling mengkafirkan apalagi menyebarkan dakwah yang menyatakan sesatnya mazhab yang lain. Karenanya kita, sebagai umat yang sudah selayaknya meneladani para ulama tersebut, tak boleh ikut-ikutan mengkafirkan sesama Muslim.

Konflik Sunni-Syiah Berlatar Politik

Ditengarai oleh beliau, bahwa meruncingnya eskalasi konflik horizontal antara Sunni dan Syiah yang terjadi dewasa ini di Indonesia dan beberapa tempat lain di dunia lebih dilatarbelakangi oleh kepentingan politis. Dr. Alwi Shihab, yang kini menjadi salah satu tim ahli dalam Fetzer Insitut (www.fetzer.org) – lembaga nirlaba di Michigan Amerika Serikat yang mengampanyekan toleransi damai dan indah dengan slogannya “Love and Forgive,” mencontohkan bagaimana konstelasi hubungan Amerika Serikat dengan Saudi Arabia dan Iran. Menurut beliau, sebelum terjadinya revolusi Islam Iran oleh Ayatulah Khomeini tahun 1979, pemerintahan Iran yang dipimpin oleh Syah Reza Pahlevi dikenal berkarib dengan Amerika Serikat. Demikian juga dengan Kerajaan Saudi Arabia saat itu. Ketika kedua negara yang berbeda mazhab itu sama-sama menjadi negara sahabat Amerika Serikat, keduanya pun ikut bersahabat. Saudi Arabia yang Wahabi bersahabat dengan Iran yang Syiah. Namun, sejak tahun 1979, keadaan berubah. Iran yang dipimpin Imam Khomeini menjadi musuh Amerika Serikat, sedangkan Saudi Arabia tetap menjalin persahabatan dengan Amerika Serikat. Sejak itulah hubungan kedua negara ini memanas. Kerajaan Saudi Arabia kemudian dikenal berkonfrontasi dengan pemerintah Iran. Jadi jelas bahwa konflik yang ada kini disebabkan oleh politik.

Konflik politis antara Saudi dan Iran kemudian merembes ke persoalan mazhab. Kedua negara itu berupaya juga ikut memengaruhi negeri lain. Dalam satu kesempatan, Dr. Alwi Shihab bercerita, ketika bertemu dengan wakil pemerintah Iran, ia menyatakan bahwa Iran sangat ingin menjalin persahabatan yang lebih erat dengan Indonesia. Demikian juga pemerintah Saudi Arabia. Masing-masing ingin agar Indonesia dekat dengan mereka karena keduanya memandang betapa pentingnya Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun, menurut beliau, Indonesia yang dikenal dunia sebagai Negara dengan penduduk mayoritas islam yang moderat selayaknya memang bersahabat dengan semua negara Islam. Jadi, jangan sampai konflik politis yang terjadi di antara mereka juga ikut tertular ke negeri kita. Biarlah Indonesia menjadi negeri muslim yang damai, toleran sesuai dengan pedoman bernegara, Pancasila. Apa yang terjadi di Mesir, Pakistan dan negara lain yang terus-menerus dirundung konflik, adalah karena ketiadaan pedoman yang diakui bersama. Kedua Negara itu tidak mempunyai alat pemersatu. Pakistan yang dahulu dikenal sebagai negara Islam moderat kini tak bisa lagi disebut moderat karena konflik horizontal yang dipicu perseteruan politik dengan mengendarai isu antar mazhab. Demikian juga dengan Mesir yang kini mempunyai masalah saat masyarakatnya terpecah menjadi dua; sekuler dan Islamis. Hal itu terjadi karena Mesir tidak mempunyai alat pemersatu seperti Indonesia memiliki Pancasila. Alat pemersatu yang diakui oleh baik kaum agamawan maupun kelompok liberal sebagai dasar negara. Pancasila mempersatukan kita semua, karenanya kita harus merawat bersama kondisi yang sudah kondusif ini.

Ditambahkan oleh beliau, pemerintah Saudi Arabia juga sebenarnya tak bisa menganggap Syiah itu keluar dari Islam. Karena mayoritas penduduknya yang tinggal di kawasan Timur seperti Dhahran, Dammam dihuni oleh muslim bermazhab Syiah sejak seribu atau ratusan tahun lalu. Kalau sekiranya pemerintah Saudi Arabia menganggap Syiah itu di luar Islam, maka itu bisa saja menimbulkan pemberontakan dari warganya itu.

Dr. Alwi Shihab juga menambahkan, bahwa Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang mewadahi negara-negara berpenduduk muslim di seluruh dunia, tidak pernah secara resmi menyatakan bahwa Syiah sebagai salah satu mazhab yang sesat (catatan: Iran, sebagai negara dengan pemeluk islam syiah terbesar menjadi anggota OKI). Karena itu pulalah, mengapa Muslim Syiah sampai saat ini tetap dibolehkan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah.

Bangun Toleransi Melalui Pendidikan

Dr. Alwi Shihab memberikan pandangannya, bahwa salah satu cara untuk meredam gejolak pengkafiran dari sebagian muslim kepada sesamanya adalah dengan melalui pendidikan. Dengan memberikan pemahaman yang baik dalam proses pendidikan tersebut, umat islam akan lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Meskipun diakui bahwa saat ini, kelompok-kelompok yang mudah mengkafirkan sesama muslim itu juga bercokol di institusi pendidikan, namun upaya terus-menerus untuk menggerus sikap keliru dalam mengkafirkan orang lain itu bisa dimaksimalkan melalui pendidikan.

Melalui pendidikan, umat Islam akan memiliki wawasan yang luas dan bijak mengenai betapa indahnya Islam dalam keberagamannya, sehingga mereka akan saling menghormati dan menghargai seluruh mazhab yang diakui dalam Islam.

Sementara itu dalam sesi tanya jawab dengan peserta, beliau mengakui bahwa pemerintah Indonesia juga perlu mengambil tindakan tegas untuk mencegah tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mudah mengkafirkan sesamanya. Hal ini diperlukan agar sikap intoleran tersebut dapat diredam secara cepat sebelum menyebar lebih luas di tengah masyarakat. Apalagi mereka yang suka bertindak intoleran itu umumnya lebih sedikit dibandingkan kelompok lain yang toleran namun untuk sementara waktu menjadi “silent majority.”

Ke depan diharapkan dengan metode pendidikan yang mengedepankan akhlakul kharimah, umat yang tergolong “silent majority” itu akan menjadi tergugah untuk menyatakan sikapnya yang lebih bijak dan dewasa memandang perbedaan antar sesama umat Islam.

Abu Dhabi, 24 Desember 2013

(Muhammad Ruslailang Noertika
Ketua IA-ITB Chapter UAE/Yudhi)

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Sambutan Oleh Prof.Dr. Machasin MA, Pada Pembukaan Muktamar II ABI

HM-Machasin-660x330Sambutan dari Prof. Dr. Machasin MA, Pada Pembukaan Muktamar II ABI, sebagai perwakilan Menteri Agama RI. Beliau menerangkan bahwa terdapatnya Sunni dan Syiah dalam Islam adalah akibat dari proses Sejarah dan Politik, maka dari itu kita semua harus belajar dari sejarah tersebut. Masih terdapatnya pandangan miring tentang Syiah, menurut Machasin lebih dikarenakan sebagian kecil masyarakat kurang mendapat informasi tentang Syiah dan prasangka buruk yang lebih dulu sematkan pada Syiah menghalangi proses dialog.

 

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Muhammadiyah Dan Ahlulbait Indonesia Siap Tampilkan Islam Ramah

Dien-Syamsuddin-dan-Hasan-Alaydrus-copy1-660x330Dalam peringatan miladnya yang ke-102 di gedung DPR RI, Jakarta, Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dien Syamsuddin menekankan pentingnya menampilkan wajah Islam yang ramah dan toleran serta menyebarkan kedamaian ke seluruh penjuru dunia.
 
Hal ini disampaikan Dien saat membuka acara milad Muhammadiyah ke-102, bersamaan dengan acara Forum Perdamaian Dunia ke-5 yang dihadiri 40 negara.
 
“Menciptakan perdamaian mesti bersama-sama,” ujar Dien Syamsuddin. “Karena itu pula banyak negara yang hadir di sini. Karena kita semua berkepentingan bagaimana bisa menyelesaikan konflik-konflik yang ada.”
 
Islam Ramah, Bukan Islam Marah
 
ABI Press_Dien Syamsuddin dan Hasan AlaydrusSaat ditanya mengenai kelompok-kelompok radikal Islam seperti ISIS yang justru berlaku keras dan jauh dari wajah Islam ramah, Dien Syamsuddin mengatakan bahwa mereka bukan representasi Islam yang sejatinya rahmatan lil ‘alamin.
 
“Islam itu agama rahmah wa salamah, agama perdamaian. Tetapi mereka memakai kekerasan. Al-Qur’an itu melarang membunuh, menghilangkan nyawa. Sama dengan membunuh umat manusia. Tapi mereka membunuh banyak orang, kan?” tanya Dien. “Muhammadiyah hadir justru untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan cinta damai, dan siap bergandeng tangan dengan siapa pun yang memiliki keinginan yang sama untuk menyebarkan perdamaian,” imbuhnya.
 
Mengapresiasi pernyataan Dien, Ketua Umum Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustad Hassan Alaydrus, yang juga hadir sebagai tamu undangan dalam Milad Muhammadiyah ke-102 ini, menyatakan ABI siap bersinergi dengan Muhammadiyah guna menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
“Pernyataan Pak Dien itu selaras dengan apa yang dikemukakan oleh ulama-ulama besar Ahlusunnah dan Ahlulbait. Kelompok garis keras seperti ISIS itu tak berhak memakai kata Islamic. Karena kalau kata Islami itu harus ramah, damai, penuh rahmat kasih-sayang. ISIS dan sejenisnya itu kan berwajah garang bagai drakula. Bagaimana drakula haus darah mengatakan dirinya adalah Islam? Itu justru merampas nama suci Islam sendiri,” ujar Hassan Alaydrus.
 
Lebih lanjut Hassan Alaydrus kembali menekankan, sebagai adik dari Muhammadiyah dan NU, Ahlulbait Indonesia selalu siap bergandengan tangan untuk menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
“Kita adalah adik Muhamamdiyah, adik NU. Kita akan bersama-sama untuk membangun Islam yang ramah. Dan insya Allah dengan kebersamaan ini rencana jahat musuh-musuh Islam selama ini akan gagal,” pungkas Ketua Umum ABI tersebut. (Muhammad/Yudhi)

Surat Terbuka Anak Pengungsi Muslim Syiah Sampang Untuk Jokowi Di Hari Anak Internasional

Surat-Terbuka-Anak-Pengungsi-Muslim-Syiah-Sampang-untuk-Presiden-Jokowi-660x330Hari Anak Internasional dirayakan setiap tanggal 22 November bukannya tanpa alasan. Peringatan ini terus diadakan karena masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan hak-hak dasar mereka sehingga tercerabut pula pengalaman masa kecil yang seharusnya indah.

Hal inilah yang dialami saat ini oleh anak-anak pengungsi Muslim Syiah Sampang Madura yang menjadi korban tindakan intoleransi dan harus kehilangan keceriaan masa kanak-kanak mereka, kehilangan senyuman dari bibir-bibir mereka.

Salah satu dari anak pengungsi Muslim Syiah Sampang siang itu (22/11) membacakan surat terbukanya untuk Presiden Joko Widodo di depan sejumlah teman-teman mereka yang juga mengalami ketidak adilan dan diskriminasi, seperti anak-anak Sunda Wiwitan, Jamaah Ahmadiyah dan juga dari GKI-Yasmin dan HKBP Filadelfia dalam peringatan Hari Anak Internasional di LBH Jakarta.

Berikut isi surat dari anak pengungsi Muslim Syiah Sampang untuk Presiden Joko Widodo.

ABI Press_Surat Untuk Presiden JokowiAssalamualaikum Wr. Wb.

Yang terhormat Bapak Presiden Jokowi, saya Fidek Mahdi, putra dari salah satu korban kekerasan Sampang Madura. Saya mohon kepada Bapak yang terhormat kembalikan kami ke tempat kelahiran kami. Kami ingin sekolah dengan tenang, kami ingin jadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara.

Semua teman-teman pengungsi kehilangan keceriaan karena ketidak adilan ini. Haruskah kami jadi anak jalanan? Karena ketidak adilan ini. Sekian lama, sudah hampir tiga tahun kami di pengungisan sampai sekarang belum juga ada kejelasan. Saya mohon kepada Bapak Jokowi yang terhormat, bantu kami semua. Kami sekarang putus sekolah karena harus berpindah-pindah tempat, kami ingin jadi anak yang pintar. Kami tidak ingin diusir di negara sendiri.

Seperti yang kita tahu dari media tentang perhatian dan usaha Presiden Joko Widodo untuk menegakkan keadilan dan melindungi wong cilik, kira-kira sejauh mana Jokowi akan mendengarkan suara hati anak-anak pengungsi Muslim Syiah Sampang dan mewujudkan mimpi mereka?

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Deklarasi Anti Syiah Bermasalah

IMG_9885-660x330Lagi-lagi tentang anti Syiah. Mengafirkan dan menyesatkan Syiah seperti sudah menjadi pekerjaan dan bisnis menggiurkan. Tak heran, banyak orang yang mengaku dirinya intelektual tapi sebenarnya tak paham ilmu agama mendadak menjadi Ustad dak Kyai.

Berbagai cara dilakukan. Mulai dari mencetak buku anti Syiah, ceramah-ceramah anti Syiah dan sebagainya. Entah berapa banyak dana yang mereka terima, yang pasti mereka rela melakukan semua itu meski cara yang ditempuhnya sangat berisiko  memecah-belah umat Islam.

Kabar terakhir, tersiar melalui pesan singkat dan media sosial tentang rencana menggalang gerakan menolak Syiah berupa “Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah.” Acara ini dijadwalkan berlangsung di kota Bandung Jawa Barat pekan ini.

Tak tinggal diam, seorang Kyai NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani menyoal rencana tersebut. Bukan untuk menyatakan diri sebagai musuh, melainkan agar warga NU tidak terjebak dalam provokasi kelompok anti persatuan itu.

“Deklarasi nasional kok diadakan di masjid RW,” ungkapnya mengawali kritik.

Kyai Alawi yang sebelumnya meng-counter opini oknum MUI dan DDII melalui buku karanganya yang berjudul “Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa Merah MUI & DDII” ini juga menyayangkan keterlibatan tokoh-tokoh yang tercantum di undangan deklarasi anti Syiah itu.

Di sisi lain KH. Alawi juga mempertanyakan kenapa PBNU dan Muhammadiyah sebagai dua ormas Islam besar di Indonesia secara resmi tidak diundang untuk hadir?

“Kalau mau dinamakan deklarasi nasional ya harusnya semua lembaga, ormas, dan elemen masyarakat Islam turut diundang. Kenapa yang diundang Wahabi semua?” ungkap Kyai Alawi sambil menjelaskan tentang tokoh yang namanya dicatut sebagai narasumber dalam undangan deklarasi itu. Salah satunya adalah Ahmad Chalil Ridwan, ketua MUI Pusat, sebagai orang yang vokal menginginkan syariat Islam diterapkan di Indonesia. “Setelah saya cek, ternyata dia merujuk atau mengambil referensinya dari ulama-ulama Wahabi di Saudi,” ungkap Kyai Alawi.

Selain mengundang kalangan Wahabi tanpa menghadirkan ulama dari pihak NU, lebih aneh lagi, kenapa mesti mengundang narasumber dari jauh? Apa para Kyai di Bandung dianggap tak ada yang bisa menjelaskan persoalan agama?” tanya Kyai Alawi.

Bahkan, Habib Zein Al-Kaff yang namanya tertera dalam undangan deklarasi itu juga dinilainya bermasalah. “Ketika dicek ke salah satu organisasi persatuan Habib di Indonesia dan ditanya siapa Habib Zein Al-Kaff? Ternyata jawabannya ‘minus’,” jelas Kyai Alawi.

Karena itu dia menghimbau seluruh warga NU agar lebih cerdas dalam menyikapi gerakan anti Syiah dan semacamnya. Selain tak mudah terprovokasi upaya adu-domba kelompok Wahabi takfiri agar tak ikut menjadi alat pemecah-belah umat Islam. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Bersama Membangun Hidup Berbhinneka Tunggal Ika

Dialog-Lintas-Agama-660x330Selasa (18/11), dimulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kota Surabaya menghelat diskusi lintas agama bertajuk “Membangun Perspektif Lintas Agama dalam Implementasi Kehidupan Bhinneka Tunggal Ika.” Bertempat di aula Gereja Kristen Indonesia di jalan Pregolan Bunder, diskusi ini dihadiri oleh lima narasumber yang mewakili Islam, Kristen Protestan, Hindu, Konghucu, dan Penghayat aliran kepercayaan. Adapun perwakilan Katolik dan Budha, tidak dapat hadir dalam diskusi interaktif yang dihadiri sekitar 200 orang dari berbagai latar belakang sosial-religius tersebut.
Pembicara pertama, Sugeng Wibowo dari Penghayat kepercayaan memaparkan bahwa Kejawen bukanlah suatu religi tersendiri, namun ajaran universal yang bisa membaur dengan semua agama. Inti Kejawen adalah mengedepankan pakerti (pekerti) luhur bagi seluruh semesta.

Kemudian ada Bedande Wayan dari komunitas Parisada Hindu yang menyebutkan pada kidung pujian Hindu banyak terdapat seruan Bhinneka Tunggal Ika. “Demikian pula dalam tradisi Hindu seperti sesajen cok bakal yang di dalamnya terdapat rupa-rupa makanan dalam satu wadah, itu bermakna filosofis sebagai bersatunya aneka rupa keragaman,”lanjutnya. Begitu pun ketika bedande Wayan mengunjungi Jerusalem bersama tokoh enam agama lain dari Indonesia, para pemuka Muslim Palestina melihatnya penuh keheranan sambil memuji bahwa “kekayaan bangsa Indonesia adalah kerukunan antarumat beragamanya.”

Pendeta Simon Filantropa selaku wakil Kristen berpendapat bahwa peran masyarakat sendiri lebih penting daripada peran tokoh agama dalam memutus potensi konflik dan provokasi yang bersumber dari kaum elite politik. “Masyarakat harus waspada agar konflik di tingkat atas tidak merembet ke akar rumput.” Ini, menurutnya, sesuai dengan konsep Kristianitas bahwa anak-anak Allah haruslah menjadi pembawa kedamaian di muka bumi yang penuh akan masalah.

Menanggapi isu sulitnya pembangunan rumah ibadah, Pendeta Simon menyebut umat harus banyak belajar dari kesabaran kaum Syiah dan Ahmadiyah. “Kita tidak punya rumah ibadah sudah merasa paling menderita. Padahal masih ada teman-teman Syiah Sampang yang tidak punya kampung halaman. Kita harus belajar dari situ,” imbuhnya. Disambung oleh narasumber dari Konghucu, Bingky Irawan, yang menyatakan bahwa inti agama-agama dunia adalah cinta kasih. Hanya saja, mengutip Gus Dur, hal ini rawan dicederai oleh fenomena tokoh agama yang terjun dalam politik. “Bisa saja yang halal jadi haram, demikian pula sebaliknya. Agama dijadikan kedok politik saja,” selorohnya.

Terakhir, Ali Maschan Moesa mewakili umat Islam dan khalayak Nahdliyin khususnya mengajak agar kearifan Gus Dur diterapkan dalam hidup berbangsa. Menurutnya, agama haruslah bersifat transformatif, mampu mengangkat derajat kaum minoritas. “Seperti dalam kasus Sampang, saya meminta kyai agar tidak memakai bahasa ‘panas.’ Kita kedepankan dialog, mengajak Tajul Muluk makan bersama, mencari solusi.” Namun tentu dibutuhkan keberanian karena mengembangkan sikap toleran rupanya juga berisiko tinggi, “Karena membela hak Ahmadiyah di Parung yang masjidnya dirusak, saya sempat difatwa kafir,” ungkapnya yang disimak antusias oleh peserta diskusi. (Fikri/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Dubes Palestina Dukung ABI Tampilkan Islam Damai Dan Ramah

Konselor-Dubes-Palestina-copy-300x200Muktamar Ahlulbait Indonesia ke-2 yang diadakan di kantor Kementrian Agama, Jakarta, Jumat (14/11) tak hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh dalam negeri. Dua duta besar negara tetangga juga hadir, Dubes Malaysia dan Dubes Palestina.

Taher Hamad, Konselor Kedutaan Besar Palestina yang hadir dalam Pembukaan Muktamar ke-2 Ormas Islam Ahlulbait Indonesia ini saat ABI Presswawancarai mengungkapkan apresiasinya atas Muktamar ke-2 ABI ini.

“Selamat atas diadakannya Muktamar ke-2 ABI ini. Semoga ABI bisa memberikan sumbangsihnya kepada Islam dan kaum Muslimin seluruhnya,” ujar Taher.

Taher Hamad berharap, di tengah masifnya kelompok ekstremis dan radikal Islam yang mencoreng nama Islam, serta kepungan media yang memojokkan Islam, ABI bisa berperan menampilkan wajah Islam yang damai dan ramah.

“Saya juga berharap ABI nantinya bisa ikut serta mendakwahkan wajah Islam yang damai dan beradab,” ujar Taher

Sebagai perwakilan Kedubes Palestina yang hingga saat ini negaranya masih dijajah oleh Zionis Israel, Taher Hamad mengungkapkan bahwa bagi Palestina, Indonesia merupakan salah satu negara yang spesial dan sangat dekat dengan Palestina.

Taher juga berharap, sebagai lembaga Ahlulbait, ABI bisa ikut andil dalam membantu gerakan muqawama Palestina untuk mewujudkan kemerdekaannya. (Muhammad/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

“Fatwa NU Lebih Kuat Dibanding Fatwa MUI”

IMG_9874-660x330KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani adalah Kyai yang mendapat mandat khusus dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk menangani perkara-perkara umat Islam di Indonesia dan karenanya merasa wajib bersuara menyangkut pelbagai perkara itu secara konstan.  KH Alawi mengungkapkan bahwa sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU memiliki fatwa yang lebih kuat dan absah dibandingkan fatwa MUI. Menurutnya, selain jumlah warganya yang hampir 100 juta, NU sudah ada sejak tahun 1926, jauh hari sebelum MUI berdiri. 

Apalagi, menurutnya, MUI dulu terindikasi sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. “Dan juga perlu diketahui bahwa di jaman Soeharto, berdasarkan laporan para Kyai di PBNU/PWNU, MUI ini sengaja dibentuk untuk memecah-belah para Kyai di tubuh NU,” ungkapnya kepada ABI Press.
 
Sebab itu, menurut KH. Alawi, fatwa MUI sebenarnya tidak bisa dijadikan rujukan final atau yang utama. Terlebih oknum-oknum MUI sekarang telah banyak menganut paham Wahabi yang suka mengkafirkan sesama Muslim di luar kelompoknya. Tak heran jika dari lembaga yang sejatinya juga merupakan ormas ini sering muncul fatwa-fatwa nyeleneh yang justru menimbulkan perpecahan di tengah umat.
 
Kita ambil contoh, misalnya, fatwa terkait Muslim Syiah di Sampang, Madura. Akibat fatwa sesat dari MUI Jawa Timur, ratusan jiwa anak bangsa yang bermazhab Syiah itu terusir dan sampai sekarang mengungsi di dalam negeri sendiri.  Bahkan di antara mereka ada yang sampai dibunuh.
 
Selain itu, buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” juga dinilai sebagai buku yang sarat provokasi dan sangat berpotensi memecah-belah umat Islam. Khususnya antara Sunni dan Syiah.
 
Sebab itu, KH. Alawi menganggap penting NU sebagai lembaga yang menaungi mayoritas penduduk Muslim di Indonesia ini juga berfatwa. “Tapi fatwa yang menyejukkan, yang membawa perdamainan, bukan perpecahan.”

Seperti apakah fatwa yang menyejukkan itu? “Saya tahu Imam Khomeini (Ulama Syiah) pernah bilang begini, ‘Barang siapa dari kalangan orang Syiah shalat di belakang imam dari Ahlusunnah, maka dia sama seperti shalat di belakang Rasulullah SAW,’ dan kita butuh fatwa-fatwa yang menyejukkan seperti ini sebetulnya,” jelas KH. Alawi.
 
KH. Alawi melanjutkan, “Ketika rapat di PBNU dua bulan lalu muncul pembahasan tentang fatwa, (kami berharap) insya Allah dapat membuat fatwa untuk warga Nahdliyin. Jadi warga NU soal fatwa nanti ikut fatwa PBNU saja, bukan lagi fatwa MUI,” tegasnya.
 
Apalagi KH. Alawi menilai MUI saat ini sudah tidak lagi mewakili para ulama sebagai pengayom umat, sebagai bapak sekaligus guru bagi kaum Muslimin di Indonesia. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

Pengungsi Syiah : Kami Berharap Pak Jokowi Bisa Pulangkan Kami

310806_620

Seorang warga Syiah Sampang termenung di depan kamar seusai sholat Idul Fitri di pengungsian rumah susun Jemundo, Sidoarjo (28/8). Tahun ini merupakan kedua kalinya bagi 300 pengungsi Syiah Sampang harus merayakan Hari raya Idul Fitri di pengungsian. – Foto : Tempo/Fully Syafi

Satu Islam, Sidoarjo – Pemimpin Syiah Sampang, Iklil Al Milal berharap Presiden Joko Widodo dapat menyelesaikan kasus Syiah Sampang yang terjadi sejak 2012. “Kami berharap, Pak Jokowi yang baru saja terpilih dapat membuat kami kembali ke Sampang,” kata Iklil di Hotel JW Marriot Surabaya. Rabu, 11 November 2014.

Iklil berharap Jokowi dapat mengambil dan memenuhi janji-janji yang tidak dapat diwujudkan oleh Presiden Indonesia sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Iklil berpendapat Jokowi mempunyai seorang Jusuf Kalla yang berpengalaman dalam menyelesaikan konflik di Indonesia. “Mudah-mudahan bisa seperti saat menyelesaikan kasus Ambon,” ujarnya.

Koordinator Kontras Jawa Timur, Andi Arif, mengatakan hal yang sama. Menurut Andi, Presiden Jokowi dapat mengambil peran seperti yang dijanjikan mantan Presiden SBY dengan mengajak para tokoh masyarakat Sampang, sehingga dapat lebih cepat menyelesaikan permasalahan Syiah Sampang.

“Jangan hanya dikelola oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten saja, pemerintah pusat harus juga turun langsung,” ujar Andi.

Konflik Syiah di Sampang meletup pada lebaran ketupat tahun lalu. Saat itu, ratusan warga Sunni dari Sampang dan Pamekasan menyerang dan membakar puluhan rumah warga di Blu’uran dan Nangkernang. Setelah insiden penyerangan itu, warga Syiah Sampang sempat diungsikan ke Gedung Olahraga Sampang sebelum akhirnya dipindah ke kompleks rumah susun di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.(Tempo)

 

Sumber :Satu Islam

Muktamar Ke-2 ABI Di Kantor Kementerian Agama Jakarta

Muktamar-II-ABI-660x330Jumat (14/11) kemarin, auditorium KH. M Rasjidi menjadi saksi kerukunan dan toleransi umat Muhammad Saw. Sebagai salah satu ormas Islam di Tanah Air, Ahlul Bait Indonesia (ABI) berkesempatan melaksanakan pembukaan muktamarnya yang kedua sekaligus seminar dengan tema “Menguatkan Nasionalisme, Menolak Intoleransi dan Ekstremisme,”  di kantor Kementerian Agama tersebut.

Usai Shalat Jumat acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Ahlul Bait. Acara juga diisi oleh pembacaan sambutan tertulis Ketua Umum MUI, Prof. Din Syamsuddin oleh Ketua DPP ABI, Ust. Hasan Alaydrus. Lalu dilanjutkan dengan sambutan Ketua MUI, Prof. Dr. Umar Shihab dan sambutan Menteri Agama yang diwakili Prof. Dr. HM. Machasin, MA selaku Dirjen Bimas Islam Kemenag.

Kurang lebih 200 peserta muktamar termasuk ratusan pengurus daerah ABI menghadiri acara tersebut. Turut hadir pula Duta Besar Palestina dan Malaysia.

Selain sambutan, acara dimeriahkan dengan paduan suara dari Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi yang menyanyikan lagu “Ana Madinatul Ilm wa Aliyyun Babuha” dan pemberian cinderamata kepada setiap perwakilan lembaga negara.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Umar Shihab menekankan perlunya perjuangan keras dan jihad untuk melawan usaha para pemecah belah umat dalam menghilangkan toleransi. Oleh karena itu, “MUI tampil ke depan untuk menyatukan ormas-ormas dan kekuatan Islam … dengan kembali menyadari bahwa semua yang mengucapkan ‘laa ilaha illa allah’ adalah Muslim.”

Sebagai pembuka acara Muktamar ke-2 ABI, perwakilan Menteri Agama, Prof. Dr. HM. Machasin, MA sangat mendukung pelaksanaan acara tersebut di kantor Kemenag. Baginya, kerjasama ini adalah bentuk keterbukaan. “Muktamar ini kan urusan internal, bolehlah dilihat petugas negara jadi tidak ada yang disembunyikan, justru kalau ada yang disembunyikan, itu bermasalah.”

Machasin pun menegaskan posisi Kemenag dalam membela hak setiap warganegara dalam berkeyakinan.  “Kami selaku pejabat negara berkewajiban memberikan perlindungan dan memberikan pelayanan bagi kebutuhan dasar setiap warga, termasuk keyakinan.”

Saya ucapkan selamat [atas muktamar ini], semoga dari muktamar ini dihasilkan hal yang bermanfaat bagi jemaah Ahlul Bait dan juga meneguhkan kebhinekaan dan kesatuan, Insya Allah,” pungkas Machasin menutup sambutannya. (Bahesty/Yudhi)

Sumber :Ahlulbait Indonesia