SEJARAH SYIAH

Hari Arbain dan Perjuangan Sayidah Zainab

____zainab__a_s_______1432_by_bani_hashim-d5b9ir3Ahlul Bait as merupakan salah satu pusaka berharga Rasulullah Saw bagi umatnya untuk menjauhkan mereka dari penyimpangan dan kesesatan. Beliau bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (al-Quran) dan Ahlul Baitku.”

Read More »

Al-Quran dalam Pandangan Syiah

alquranKeterjagaan Al-Quran dari Tahrif / Perubahan

Firman-Firman Allah:

I

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Al-Quran.

Dan di dalam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Al-Quran itu sendiri.

II

 

إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيز

ٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

(Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Al-Quran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran. Al-bâthil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Al-Quran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Al-Quran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Al-Quran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.

III

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَه فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَه

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.

Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.

Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

(Al-Qiyamah : 17-19)

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.

Disinilah yang diyakini mazhab Syiah bahwa wahyu itu bukan hanya dalam bentuk ayat-ayat suci al-Quran yang ada di tangan kita saja tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada Nabi saw.

Wahyu-wahyu yang non-qurani inilah kemudian Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam kitabnya yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Ali yang sesungguhnya itu  diperintahkan oleh Rasulullah saww.  Banyak yang keliru memahami aistilah Mushaf Ali atau Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi maksudnya ayat-ayat penjelasan secara terperinci yang meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang sehingga berjumlah 17000 ayat.

Kesimpulannya itu bukanlah ayat Al-Quran seperti yang kita lazim fahami sehari-hari, namun ayat penjelasan, tafsir dan takwilnya.

Hadis-Hadis

  1. Hadits Ghadir

Kitab al-Ihtijaj 1/60 karya Syaikh Thabarsi:

(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه

فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده

ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه،

وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang terjadi pada tanggal 18 Julhijjah Nabi saw bersabda : Wahai ummat manusia,  pelajarilah Al-Quran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamat dan  janganlah mengikuti yang mutasyabihat. Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali orang yang aku angkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang kuumumkan kepada kalian bahwa “barangsiapa yang aku adalah Maulanya maka Alilah Maulanya.” Dialah Ali ibn Abi Thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamahat bukan mutasyabihahat melazimkan bahwa Al-Quran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

  1. Hadits Tsaqalain

Hadits ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang besar. Pertama Kitab Allah dan kedua Itrahku dan Ahlul Baitku. Apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya setelahku.”

Keterangan

Perintah untuk berpegang teguh kepada Al-Quran adalah bukti bahwa al-Quran sejak awal adalah utuh tidak  kurang atau lebih.

  1. Hadits Imam Ali

Imam Ali as berkata :

و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه

Dan Kitab Allah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

  1. Hadis Rujuk kepada al-Qur’an

Perintah untuk merujuk kepada al-Quran dan hadis yang sesuai dengan al-Quran merupakan bukti yang sangat jelas tentang tiadanya tahrif dalam al-Quran. Karena bagaimana mungkin kita diperintah merujuk kepada al-Quran sementara ia diragukan keasliaannya. Mustahil.

محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».

( الكافي 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qûb berkata, dari Ali Ibn Ibrâhîm dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap kebenaran ada realitasnya dan setiap yang benar ada cahanyanya. Apabila ia sesuai dengan Kitab Allah maka ambillah dan apabila ia bertolak belakang dengan Kitab Allah maka tinggalkanlah”.

قول الإمام الصادق عليه السّلام: «إذا ورد عليكم حديثان مختلفان فأعرضوهما على كتاب اللّه، فما وافق كتاب اللّه فخذوه، و ما خالف كتاب اللّه فردّوه …» (وسائل الشيعة : 18:84)

Imam as-Sâdiq as: “apabila sampai kepada kalian dua hadis yang berbeda maka rujukkanlah kepada Kitab Allah.  Apabila ia sesuai dengan Kitab Allah maka ambillah dan apabila ia bertolak belakang dengan Kitab Allah maka tinggalkanlah”.

Hadis-hadis seperti ini sangat banyak di dalam kitab-kitab hadis rujukan syiah.

 

Mengenal Zanjan; Ibu Kota Peringatan Duka Imam Husein as

Oleh: Emi Nur Hayatizanjan_rakhtshui_kahneh

 

Slogan ‘Haihata Minna Dzillah…Pantang Hina’ adalah slogan para pecinta Abu Abdillah Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw. Detik-detik peristiwa Karbala seakan tidak mau mundur dan berlalu, bahkan dari masa ke masa semakin tumbuh dan merekat di hati umat Muhammad yang mencintai keluarga nabinya.

Sekali lagi tibalah tanggal 8 Muharram 1346 Hq bertepatan dengan 2 November 2014. Setiap tahun pada tanggal ini penduduk kota Zanjan mengadakan acara peringatan duka untuk para syuhada Karbala. Tanggal 8 Muharram ini diperingati sebagai hari khusus untuk Abu Fadhl Abbas, yang dikenal dengan Yaumul Abbas, hari Abbas. Para pecinta keluarga Rasulullah Saw dari berbagai kota bahkan dari berbagai negara lain datang ke kota ini untuk hadir mengikuti acara duka Asyura. Acara duka untuk memperingati syahadah keluarga Rasulullah Saw yang dibantai oleh manusia-manusia durjana yang mengklaim dirinya sebagai Umat Muhammad Saw.

Di hari ini para pecinta keluarga Rasulullah memperingati duka syahadah syuhada Karbala dalam bentuk barisan besar dan pawai di jalan utama kota Zanjan. Pawai acara duka ini dimulai dari masjid Huseiniyeh Azam dan berakhir di makam Imam Zadeh Ibrahim. Acara ini berakhir seiring dengan dikumandangkannya azan Maghrib. Tentunya acara duka ini akan berlanjut pada hari berikutnya yaitu hari Tasua sampai pada puncaknya hari syahadah Imam Husein as di hari Asyura dan malam keterasingan Ummul Mashaib, ibu segala musibah, Sayidah Zainab as bersama tawanan lainnya.

Kota Zanjan setiap tahun menjadi tuan rumah ratusan ribu para pecinta keluarga Rasulullah Saw. Jumlah peserta yang hadir mencapai lima ratus ribu orang. Kota Zanjan pada hari itu sangat ramai. Semua datang untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Abu Fadhl Abbas. Tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, semua datang, seakan-akan kita berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang tinggal di rumah. Semuanya keluar untuk menghadiri acara hari Abbas dan mengingat keberaniaannya dengan menyuarakan slogan ‘Aku adalah Abbas, pembawa panji kebangkitan’Pengikut garis Husein wassalamHaihat Minna Dzillah dan slogan-slogan lainnya seperti Ya Husein!!!

Sebagian dari mereka yang ikut hadir dalam acara ini untuk menunaikan nazarnya karena hajatnya yang sudah terkabulkan. Mulai dari mereka yang punya hajat ingin memiliki anak sampai mereka yang berkeinginan untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya dan lain-lain.

Sebagian para peserta acara duka ini menyerahkan kambing korban ke masjid Huseinieh Azam Zanjan untuk disembelih. Masjid Huseinieh Zanjanlah yang mengelola acara spiritual ini. Pada tahun 1389 Hs, kambing korban telah mencapai 12 ribu ekor. Itulah mengapa kota Zanjan ini dikenal sebagai kota tempat korban kedua setelah kota Mina di Dunia Islam.

Peserta lainnya juga ada yang menghadiahkan uang, emas, beras, gula dan lain-lain. Para petugas yang menerima hadiah dan nazar memakai seragam yang sama demikian juga para petugas penyembelih kambing korban. Bahkan mereka sudah menyiapkan POS (pos hand book) untuk menerima tranferan uang dari para pemberi hadiah dan nazar yang tidak perlu lagi membawa uang tunai.

Peringatan acara duka Yaumul Abbas ini pada 15 Dey 1389 Hs tercatat sebagai warisan tak bendawi negara yang ke 10 dalam warisan budaya Iran.

Warga Zanjan hadir dalam acara duka putra Zahra as untuk mengatakan, ‘selama suara Ya Husein tetap ada di dalam mulut setiap pecinta keluarga Rasulullah, maka peristiwa Karbala dan keteraniayaan Imam Husein dan keluarganya yang suci tidak akan terlupakan.

Tetesan air mata sebagai rasa cinta kepada Imam Husein dan keluarganya yang suci menjadi harapan untuk mendapatkan syafaatnya di dunia dan akhirat, sembari menjadikan ibunya putri semata wayang Rasulullah Saw sebagai perantara untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt dan menjadikannya sebagai peziarahnya di mana saja kita berada. (IRIB Indonesia)

Sumber :Indonesia Irib

Pesan Damai Sura

Husein Ja’far Al Hadar, penulis

Salam-DamaiMuharram dalam kalender Hijriyah memiliki nilai signifikan dalam perspektif Islam. Bukan hanya karena ini bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang ditandai hijrahnya Nabi Muhammad, sehingga patut menjadi titik refleksi untuk transformasi diri, keberislaman, dan keberumatan menuju titik lebih baik. Atau agar kita tak menjadi pribadi atau umat yang merugi, tak cakap meng-otentik-kan waktu dan tak pandai memastikan bahwa hari esok lebih baik daripada kemarin. Tapi juga karena ini adalah salah satu dari empat bulan toleransi dan perdamaian dalam Islam.

Muharam adalah salah satu bulan suci yang diharamkan oleh Allah untuk berperang. Terminologi “Muharam” bahkan berasal dari akar kata bahasa Arab: “h-r-m”, yang berarti “suci”. Karena itu, bulan ini adalah momentum tepat untuk merefleksikan rapor toleransi umat Islam guna kembali mengoreksi, berintrospeksi, dan meningkatkan kualitas toleransi keislaman kita, serta terus merajut perdamaian antar-mazhab dan umat beragama.

Adapun dalam tradisi Islam Indonesia, Muharam memiliki nilai signifikan plus lain, yakni dikenalnya bulan ini sebagai bulan Sura. Terminologi “Sura” berasal dari Asyura, ajaran dan peringatan umat Islam dalam mengenang terbunuhnya Sayyidina Husain (cucu Nabi) di Karbala (Irak) dalam pembantaian oleh pasukan di bawah perintah “Khalifah” Yazid dari Dinasti Umayyah. Dalam tradisi Islam Indonesia, dari Aceh, Bengkulu, Jawa, hingga Madura, Sura memiliki ragam ekspresi peringatan duka berbasis budaya, ada upacara Tabot di Bengkulu hingga pembagian bubur Sura di Jawa.

Asyura sendiri, meski menandai sebuah tragedi pembantaian yang terjadi pada bulan yang dilarang berperang (apalagi membantai), sarat akan pesan-pesan toleransi dan perdamaian. Cendekiawan Annemarie Schimmel, dalam salah satu artikel khusus tentang asyura berjudul “Karbala and the Imam Husain in Persian and Indo-Muslim Literature”, bahkan heran bagaimana Sayyidina Husain justru menekankan pentingnya nilai-nilai tertinggi HAM dan perdamaian dari pembantaian terhadap dirinya. Sebab, dengan membawa wanita, anak-anak, bahkan bayi, Sayyidina Husain justru hendak memperlihatkan bahwa darah, nyawanya, keluarga serta sahabatnya, akan ia relakan demi sebuah sejarah paling mengerikan agar tak lagi ada pertumpahan darah atau anarkisme atas nama Islam, kekhilafahan, dan lain-lain.

Dalam sejarahnya, rombongan keluarga Sayyidina Husain bahkan justru disambut dan diperlakukan dengan baik oleh salah seorang pendeta di salah satu gereja di bukit Syam (Suriah) yang kini diabadikan sebagai situs sejarah Islam bernama Ra’sul Husain (Kepala Husain). Walhasil, lengkaplah pesan Asyura bahwa perdamaian dan kemanusiaan adalah pesan dan perkara universal yang lintas agama, apalagi sekadar madzhab. Di sisi lain, ironisnya, Ibnu Taimiyyah yang menjadi kiblat kubu ekstremis Islam, justru memutarbalikkan sejarah Asyura untuk mengubur pesan-pesan damainya dan pesan kritisnya demi doktrin khilafah yang kian kerap digadang-gadang oleh kaum muslim radikal di dunia, termasuk Indonesia.

Karena itu, Asyura harus terus diperingati sebagai salah satu aset budaya Islam Indonesia sebagai penghayatan dan ekspresi Islam khas Indonesia yang damai, toleran, humanis, akulturatif, dan mengandung pesan lintas mazhab serta lintas agama. *

 

Sumber :Tempo

Malam 1 Suro, Mistis atau Mitos?

malam-1-suro-ribuan-pusaka-kediri-dan-nusantara-dijamasSatu Islam – Malam 1 Suro yang juga bertepatan dengan 1 Muharam di Indonesia memiliki makna yang sedikit unik. Bagi golongan tertentu terutama masyarakat Jawa yang masih meyakini, malam 1 Suro sangat identik dengan nuansa mistis. Benarkah atau hanya mitos?

Di malam 1 Suro ini mereka yang memiliki senjata pusaka atau gaman akan mencucinya. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan Penjamasan.

Untuk menjamas senjata pusaka seperti keris, tombak dan lainnya juga tidak sembarangan. Ada ritual khusus yang harus dilakukan seperti puasa, pati geni, sesaji, bakar menyan, tumpengan dan segala tetek bengeknya.

Mereka meyakini dengan menjamas di malam 1 Suro bakal membuat pusaka mereka semakin sakti. Tak pelak, bagi masyarakat Jawa yang mempercayai ritual ini, malam 1 Suro menjadi sangat teramat penting. Dimensi gaib dan mistis di malam ini sangat kuat.

Bagi mereka yang tidak memiliki pusaka juga tetap melakukan ritual khusus di malam 1 Suro. Di Keraton Surakarta, warga sekitar sering melakukan ritual Mubeng Benteng (Mengitari Benteng Surakarta), ada pula yang melakukan ritual kungkum atau berendam di kali dan masih banyak lagi.

Keraton Surakarta dan Yogyakarta hingga kini masih melanggengkan ritual penjamasan keris pusaka tiap malam 1 Suro. Bahkan usai dimandikan, air yang digunakan untuk penjamasan menjadi rebutan warga. Mereka meyakini air yang digunakan untuk memandikan keris pusaka itu mengandung tuah dan berkah.

Sebagian orang Jawa juga menyakini bahwa Bulan Suro sebagai bulan penuh kesialan, itulah yang menyebabkan pada bulan tersebut ‘dilarang’ melakukan pesta khususnya pernikahan. Bagi mereka yang percaya itungan-itungan Primbon, tentu tidak akan menggelar pesta pernikahan di Bulan Suro.

Dalam persepsi Islam, bulan sial seperti Suro tentu tidak ada. Semua hari adalah baik dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada manusia. Munculnya kepercayaan tentang bulan Suro sebagai bulan sial, hal ini tidak lepas dari latar belakang sejarah zaman kerajaan tempo dulu. Pada zaman dahulu di Bulan Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka keraton.

Ritual menjamas pusaka keraton pada zaman dahulu menjadi sebuah tradisi yang menyenangkan bagi masyarakat yang memang masih haus akan hiburan. Sehingga dengan kekuatan karisma keraton dibuatlah stigma tentang ‘angker’ bulan Suro.

Jika di bulan Suro rakyat mengadakan hajatan khususnya pesta pernikahan, bisa mengakibatkan sepinya ritual yang diadakan keraton alias keraton kalah pamor. Dampaknya akan mengurangi legitimasi dan kewibawaan keraton, yang pada saat itu merupakan sumber segala hukum. Tradisi memandikan keris dan pusaka ini juga menjadi ajang untuk memupuk kesetiaan rakyat kepada Keraton.

Mitos tentang keangkeran bulan Suro ini demikian kuat dihembuskan, agar rakyat percaya dan tidak mengadakan kegiatan yang bisa menganggu acara keraton. Dan hingga kini kepercayaan tersebut masih demikian kuat dipegang oleh sebagian orang. Sehingga ada sekelompok orang yang pada bulan Suro tidak berani mengadakan acara tertentu karena dianggap bisa membawa sial.

Namun bagaimana pun juga kepercayaan akan malam 1 Suro dan Bulan Suro masih mengakar kuat. Segala ritual yang dilakukan di malam 1 Suro seolah menjadi tradisi unik yang dimiliki dan dipercayai masyarakat Jawa yang kaya budaya adiluhung.

Tentu tidak ada salahnya juga tetap menjaga tradisi di masyarakat. Lalu benarkah Malam 1 Suro itu benar-benar keramat? Atau hanya mitos belaka? Setiap orang tentu memiliki cara dan sudut pandang sendiri untuk menilai dan mengukurnya. Selamat Tahun Hijriyah.(merdeka)

 

Sumber :Satu Islam

Benarkah Wali Songo Penganut Syiah?

 

 

Oleh : Nashih Nashrullah
Wali-Songo-KAISatu Islam –
“Wahai Ahlul Bait Rasulullah SAW, kecintaan kepada kalian kewajiban dari Allah SWT yang turun dalam Alquran, cukup lah bukti betapa tinggi nilai kalian, tiada sempurna shalat tanpa shalawat untuk kalian.” (Imam Syafi’i)

Sejarah memang mencatat pelbagai diskusi tentang asal muasal kedatangan Islam, siapa saja penyebarnya, dan kapan  agama ini masuk ke bumi Nusantara. Tetapi, diakui masih minim referensi klasik yang mengulas secara khusus, kiprah para keturunan Rasulullah Saw. dalam islamisasi Nusantara.

Kondisi itu menjadi faktor pemicu, mengapa muncul polemik tentang apa mazhab teologi dan fikih yang dianut oleh para penyebar Islam di Tanah Air yang notabene merupakan keturunan Rasul itu. Sebagian, akhirnya mengklaim bahwa Ahmad bin al-Muhajir yang menjadi muara nasab para pendakwah Islam di Indonesia, termasuk Wali Songo, pendukung Imamah yang menjadi doktrin Syiah.

Idrus Alwi al-Masyhur dalam Sejarah, Silsisah dan Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW, menegaskan bahwa Imam al-Muhajir yang bernama lengkap Ahmad bin Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin Ali al-Uraidhi bin Imam Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah RA putri Rasulullah itu, al-Muhajir bukan penganut Imamiyah dalam makna sebagaimana dipahami oleh Syiah.

Ia menukilkan sejumlah pendapat ulama. Di antaranya, kitab Nasim Hajir, karangan Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah as-Saqqaf. Menurutnya, makna dari imamiyah yang disematkan kepada Imam al-Muhajir tersebut, adalah berdasarkan maqam kepemimpinan spiritual (qutbaniyah) yang diwariskan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Mereka membuang perilaku mencaci sahabat, taqiyah, dan lainnya.

Penegasan itu ia sampaikan dalam kitab “Samum Naji. Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad juga menafikan Imamiyah  yang disematkan ke Imam al-Muhajir melalui kitabnya yang berjudul Jana Samarikh min Jawab Asilah fi at-Tarikh. Ia menegaskan, bahwa keimamiyahan yang ada pada diri al-Muhajir, adalah versi yang benar, sebagaimana mazhab ayah dan kakek-kakeknya.

Bahkan, para ulama menegaskan Imam al-Muhajir bermazhab Sunni dalam teologi dan menganut mazhab Syafi’i, di biding fikih. Ini seperti ditegaskan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad al-Syatri, dalam kitabnya yang bertajuk al-Adwar.” Tetapi, Imam al-Muhajir, tetap bersikap kritis dan tidak taklid buta terhadap Mazhab Syafii.

Menurut Dhiya’ Syahab dalam bukunya yang berjudul al-Muhajir, mengutip perkataan Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dalam majalah al-Rabithah, Imam al-Muhajir mengikuti mazhab para pendahulunya, mereka hanya tinggal sebentar hingga mazhab-mazhab fikih itu tersebar dan muncul kecenderungan untuk bermazhab. Dan akhirnya mereka memilih untuk mengikuti mazhab Syafii, tanpa bertaklid. Hal itu berlangsung setelah abad ke-5 Hijriah.

Mazhab Syafii, ungkap Alwi bin Thahir, telah tersebar di Yaman pada abad ke-3 Hijriyah, tetapi masih belum masif penyebarannya. Di Yaman ketika itu, terdapat Mazhab Hanafi, sebagian besar Mazhab Zaidiyah dan Mazhab Usmaniyah di Hadramaut, dan Mazhab Ismailiyah.

Tetapi, ungkap Sayid Abu Bakar al-Adeni bin Ali al-Masyhur dalam kitabnya al-Abniyat al-Fikriyah, sebagai seorang mujtahid, al-Muhajir berhasil menyebarkan pandangannya kepada penduduk Yaman. Heterogenitas mazhab di Yaman membuat itu tidak mudah dilakukan, namun ia mampu melakukannya dengan jalan damai.

Abdullah bin Nuh dalam kitab yang bertajuk al-Imam al-Muhajir wa Ma Lahu wa Linaslihi wa lil aimmati min Aslafihi min al-Fadhail wa al-Maatsir mengatakan, salah satu alasan mengapa mazhab as-Syafi’i menjadi pilihannya, karena kecintaan tokoh kelahiran Gaza tersebut kepada Ahlul Bait.

Keputusan untuk tetap berada pada Mazhab Syafii dengan disertai sikap kritis sebagai mujtahid, bertahan hingga keturunan berikutnya. Inilah mengapa Indonesia mayoritas penduduknya bermazhab Syafii. Berbagai klaim miring dan klaim miring yang disematkan kepada Imam al-Muhajir, mengingatkan hal yang sama, saat Imam as-Syafi’i dituduh penganut Rafidhah.

Syafii mengatakan, “Jika kita istimewakan Ali maka kita akan dituding Rafidhah bagi mereka yang tidak tahu. Dan jika Abu Bakar yang kita sanjung, maka Aku akan dituduh Nashib (penentang Rafidhah). Maka, Aku akan tetap punya dua sisi itu ‘Rafidhah dan Nashib’ dengan mencintai keduanya (cinta Ali dan Abu Bakar) hingga Aku terkubur tanah.”

Syafii cinta kepada Ahlul Bait, tetapi ia tak pernah membenci, menghujat, dan menistakan para sahabat Rasulullah SAW yang dicintai. Sebab cinta kepada Ahlul Bait begitu agung, seagung risalah shalat yang tak lengkap tanpa untaian doa dan shalawat, bagimu wahai Baginda Rasul, dan keluargamu yang tercinta.

Nashih Nashrullah, adalah alumnus Universitas Al Azhar, Kairo

 

Sumber :Satu Islam

Cari Solusi Pemulangan: Menteri Agama Kunjungi Muslim Syiah Sampang

IMG-20140805-WA0008-660x330Dua tahun sudah ratusan pengungsi Muslim Syiah Sampang teraniaya. Terlunta-lunta di pengungsian jauh dari kampung halaman. Momen lebaran yang mestinya menjadi momen penuh kehangatan untuk menyambung silaturrahmi dengan sanak keluarga pun menjadi lembaran pahit di asingnya pengungsian. Pemda Sampang dan Pemprov Jatim menghalangi mereka berlebaran di kampung halaman.

Namun harapan para pengungsi Muslim Syiah Sampang tak pernah bergeming. Mereka tetap ingin pulang. Harapan ini kembali tumbuh segar kala Menteri Agama yang baru, Lukman Hakim Saifuddin, yang menggantikan posisi Suryadharma Ali, kemarin datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah di Jemundo Sidoarjo.

Bersama Menteri Agama, hadir juga beberapa pejabat Pemprov Jawa Timur, seperti, Asisten III Gubernur, pejabat di Birokesra, dan Kanwil Kemenag. Pihak Polres juga masuk dalam rombongan yang mendampingi Menag Lukman Hakim Saifuddin. Ikut juga Dr. Abdul A’la dari IAIN Sunan Ampel bersama rombongan. Rombongan yang terlebih dahulu singgah di Madura ini datang jam 18.30 WIB dan meninggalkan lokasi pengungsian jam 19.45 WIB.

Dari pihak pengungsi, empat wakil pengungsi diberi kesempatan menyampaikan unek-unek dan harapannya selama dua tahun teraniaya dan menjadi pengungsi di hadapan Menteri Agama. Keempatnya adalah Ustad Iklil Al-Milal selaku koordinator pengungsi, dan tiga pengungsi lainnya, Nur Kholis, Muhlisin dan Muhammad Zaini.

Pemda Dan Pemprov Menghalangi Islah

Nur Kholis saat diberi kesempatan berbicara menyampaikan bahwa sebenarnya baik pengungsi dan warga kampung sudah sama-sama ingin islah dan berdamai. Hanya segelintir kiai dan pemerintah daerah baik kabupaten dan propinsi yang entah mengapa menghalangi proses islah. Fakta ini berbeda dengan dalih yang selama ini dikemukakan pihak pemerintah daerah tersebut bahwa mereka bermaksud melindungi pengungsi dari kemungkinan berulangnya tindak kekerasan jika pulang kampung sebab ancaman warga setempat masih kerap terjadi.

“Sebenarnya kami sudah berdamai dengan masyarakat di sana dan menandatangani pakta perdamaian (islah). Kami menjawab perdamaian warga dengan perdamaian juga. Tapi pemerintah tidak memanfaatkan modal itu malah kami yang disalahkan,” keluh Nur Kholis yang mengaku sudah memberikan file perjanjian damai antara pengungsi dan warga kampungnya kepada Menteri Agama ini.

Hal senada diungkapkan oleh Ali Ridha Assegaf, pengurus DPW ABI Jawa Timur yang mendampingi pengungsi bahwa sebenarnya modal perdamaian ini di akar rumput sudah ada. Namun patut disayangkan pemkab dan pemprov serta segelintir kiai malah menghalangi terjadinya proses islah.

Sementara Ustadz Iklil Al-Milal, koordinator pengungsi Syiah Sampang, sekaligus kakak dari Ustadz Tajul Muluk yang hingga saat ini masih dipenjara melalui putusan pengadilan yang sarat kejanggalan itu, berharap masalah pengungsi ini cepat diselesaikan pemerintah.

“Harapan saya ada penyelesaian masalah ini secepatnya. karena dengan berlarutnya masalah ini ada pihak tertentu yang ingin terus memprovokasi dan mengadu-domba kami sesama warga negara,” terang Ustad Iklil.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai mendengarkan keluhan dan aspirasi para pengungsi Muslim Syiah Sampang optimis bisa menyelesaikan masalah ini karena pengungsi memiliki keinginan kuat kembali ke kampung halaman. “Yang paling penting adalah toleransi kedua belah pihak,” ujar Lukman Hakim.

Usai bertatap muka dengan Menteri Agama yang baru Nur Kholis berharap, Lukman Hakim tidak bersikap seperti Menteri Agama yang lalu, Suryadharma Ali, yang menurutnya hanya memberi harapan palsu. (Muhammad/Hammada)

Foto pertemuan Menteri Agama Lukman Hakim dengan pengungsi Muslim Syiah Sampang di Jemundo Sidoarjo:

IMG-20140805-WA0011
     IMG-20140805-WA0010IMG-20140805-WA0002 (1)IMG-20140805-WA0005

Sumber :Abi Press

 

Dr. Mundzir Al-Hakim: Al-Ghadir, Nikmat Terbesar Allah Swt

Idul-Ghadir-1345-H-ICC-copy-660x330Aula dan Husainiyyah Islamic Cultural Center (ICC) Al-Huda terlihat meriah bakda Maghrib, Senin (13/10) kemarin. Mobil-mobil berjejer meluber hingga ke jalanan dan ke parkiran gedung sebelah karena tak mampu ditampung ICC saat seribu lebih Muslimin datang untuk memperingati Hari Raya Al-Ghadir, hari diangkatnya Imam Ali bin Abi Thalib sebagai washi atau penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi.

Acara yang dimulai sehabis shalat Maghrib berjamaah itu dibuka oleh Ketua Umum Ormas Islam Ahlulbait Indonesia, Hasan Daliel Alaydrus yang mengingatkan jamaah akan pentingnya memperingati Hari Al-Ghadir yang merupakan momentum penyempurnaan agama.

Dalam perayaan ini, ICC kehadiran tamu istimewa dari Qum, Dr. Mundzir Al-Hakim, seorang guru besar Universitas Imam Khomeini. 

Dalam Khutbah berbahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustad Abdullah Beik, Dr. Mundzir mendedahkan beberapa dimensi penting peristiwa Al-Ghadir.

Menurut Dr. Mundzir, pengangkatan Imam Ali sebagai penerus Nabi di Ghadir Khum adalah bagian dari proses penyempurnaan manusia untuk mendekat kepada Allah. Dengan dipilihnya Ali, sudah sempurna Islam sebagai agama yang diridhai Allah Swt.

Namun menurut Dr. Mundzir, sepanjang sejarah ada pihak-pihak yang ingin menghilangkan sejarah yang tercatat paling mutawatir menurut muhaditsin Sunni dan Syiah. “Ada yang berusaha melupakan, mengingkari, atau mentakwilnya,” ujar Dr. Mundzir. “Ada juga yang menganggap Al-Ghadir itu adalah hari raya khusus Syiah saja. Padahal periwayatan peristiwa Al-Ghadir itu lebih banyak berada di kitab-kitab Ahlusunnah ketimbang di kitab Syiah sendiri.”

Menurut Dr. Mundzir, sebagaimana tertulis di surah At-Takatsur, manusia nanti akan ditanya mengenai nikmat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada Muslimin. Nikmat besar itu adalah Ahlulbait dan Al-Ghadir.

“Kita nanti akan ditanya mengenai Ahlulbait sebagai jalan untuk menyempurna. Jika kita tak mencapainya, padahal sudah dikenalkan Ahlulbait, kita akan ditanya mengapa kita tak sampai mencapai kesempurnaan itu. Itu tanggung jawab kita,” ujar Dr. Mundzir.

Usai khutbah, acara peringatan Hari Raya Al-Ghadir ini ditutup dengan pementasan drama pengangkatan Imam Ali di Ghadir Khum oleh Nabi Muhammad Saw yang dibawakan oleh siswa Hauzah Jami’ah Mustafa dan pembacaan shalawat oleh anak-anak Ulumul Ushul Childern Islamic Studies (ULCIS).

Usai doa bersama yang dibawakan oleh Umar Shahab, jamaah menikmati permen dan hidangan khusus Yaumul Ghadir yang disediakan oleh panitia. (Muhammad/Yudhi)

 

sumber :Abi Press

Bedah Buku SMS Di P3M

Bedah-Buku-Syiah-Menurut-Syiah-di-P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia. Read More »