KAJIAN

Benarkah Wali Songo Penganut Syiah?

 

 

Oleh : Nashih Nashrullah
Wali-Songo-KAISatu Islam –
“Wahai Ahlul Bait Rasulullah SAW, kecintaan kepada kalian kewajiban dari Allah SWT yang turun dalam Alquran, cukup lah bukti betapa tinggi nilai kalian, tiada sempurna shalat tanpa shalawat untuk kalian.” (Imam Syafi’i)

Sejarah memang mencatat pelbagai diskusi tentang asal muasal kedatangan Islam, siapa saja penyebarnya, dan kapan  agama ini masuk ke bumi Nusantara. Tetapi, diakui masih minim referensi klasik yang mengulas secara khusus, kiprah para keturunan Rasulullah Saw. dalam islamisasi Nusantara.

Kondisi itu menjadi faktor pemicu, mengapa muncul polemik tentang apa mazhab teologi dan fikih yang dianut oleh para penyebar Islam di Tanah Air yang notabene merupakan keturunan Rasul itu. Sebagian, akhirnya mengklaim bahwa Ahmad bin al-Muhajir yang menjadi muara nasab para pendakwah Islam di Indonesia, termasuk Wali Songo, pendukung Imamah yang menjadi doktrin Syiah.

Idrus Alwi al-Masyhur dalam Sejarah, Silsisah dan Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW, menegaskan bahwa Imam al-Muhajir yang bernama lengkap Ahmad bin Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin Ali al-Uraidhi bin Imam Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah RA putri Rasulullah itu, al-Muhajir bukan penganut Imamiyah dalam makna sebagaimana dipahami oleh Syiah.

Ia menukilkan sejumlah pendapat ulama. Di antaranya, kitab Nasim Hajir, karangan Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah as-Saqqaf. Menurutnya, makna dari imamiyah yang disematkan kepada Imam al-Muhajir tersebut, adalah berdasarkan maqam kepemimpinan spiritual (qutbaniyah) yang diwariskan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Mereka membuang perilaku mencaci sahabat, taqiyah, dan lainnya.

Penegasan itu ia sampaikan dalam kitab “Samum Naji. Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad juga menafikan Imamiyah  yang disematkan ke Imam al-Muhajir melalui kitabnya yang berjudul Jana Samarikh min Jawab Asilah fi at-Tarikh. Ia menegaskan, bahwa keimamiyahan yang ada pada diri al-Muhajir, adalah versi yang benar, sebagaimana mazhab ayah dan kakek-kakeknya.

Bahkan, para ulama menegaskan Imam al-Muhajir bermazhab Sunni dalam teologi dan menganut mazhab Syafi’i, di biding fikih. Ini seperti ditegaskan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad al-Syatri, dalam kitabnya yang bertajuk al-Adwar.” Tetapi, Imam al-Muhajir, tetap bersikap kritis dan tidak taklid buta terhadap Mazhab Syafii.

Menurut Dhiya’ Syahab dalam bukunya yang berjudul al-Muhajir, mengutip perkataan Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dalam majalah al-Rabithah, Imam al-Muhajir mengikuti mazhab para pendahulunya, mereka hanya tinggal sebentar hingga mazhab-mazhab fikih itu tersebar dan muncul kecenderungan untuk bermazhab. Dan akhirnya mereka memilih untuk mengikuti mazhab Syafii, tanpa bertaklid. Hal itu berlangsung setelah abad ke-5 Hijriah.

Mazhab Syafii, ungkap Alwi bin Thahir, telah tersebar di Yaman pada abad ke-3 Hijriyah, tetapi masih belum masif penyebarannya. Di Yaman ketika itu, terdapat Mazhab Hanafi, sebagian besar Mazhab Zaidiyah dan Mazhab Usmaniyah di Hadramaut, dan Mazhab Ismailiyah.

Tetapi, ungkap Sayid Abu Bakar al-Adeni bin Ali al-Masyhur dalam kitabnya al-Abniyat al-Fikriyah, sebagai seorang mujtahid, al-Muhajir berhasil menyebarkan pandangannya kepada penduduk Yaman. Heterogenitas mazhab di Yaman membuat itu tidak mudah dilakukan, namun ia mampu melakukannya dengan jalan damai.

Abdullah bin Nuh dalam kitab yang bertajuk al-Imam al-Muhajir wa Ma Lahu wa Linaslihi wa lil aimmati min Aslafihi min al-Fadhail wa al-Maatsir mengatakan, salah satu alasan mengapa mazhab as-Syafi’i menjadi pilihannya, karena kecintaan tokoh kelahiran Gaza tersebut kepada Ahlul Bait.

Keputusan untuk tetap berada pada Mazhab Syafii dengan disertai sikap kritis sebagai mujtahid, bertahan hingga keturunan berikutnya. Inilah mengapa Indonesia mayoritas penduduknya bermazhab Syafii. Berbagai klaim miring dan klaim miring yang disematkan kepada Imam al-Muhajir, mengingatkan hal yang sama, saat Imam as-Syafi’i dituduh penganut Rafidhah.

Syafii mengatakan, “Jika kita istimewakan Ali maka kita akan dituding Rafidhah bagi mereka yang tidak tahu. Dan jika Abu Bakar yang kita sanjung, maka Aku akan dituduh Nashib (penentang Rafidhah). Maka, Aku akan tetap punya dua sisi itu ‘Rafidhah dan Nashib’ dengan mencintai keduanya (cinta Ali dan Abu Bakar) hingga Aku terkubur tanah.”

Syafii cinta kepada Ahlul Bait, tetapi ia tak pernah membenci, menghujat, dan menistakan para sahabat Rasulullah SAW yang dicintai. Sebab cinta kepada Ahlul Bait begitu agung, seagung risalah shalat yang tak lengkap tanpa untaian doa dan shalawat, bagimu wahai Baginda Rasul, dan keluargamu yang tercinta.

Nashih Nashrullah, adalah alumnus Universitas Al Azhar, Kairo

 

Sumber :Satu Islam

Cari Solusi Pemulangan: Menteri Agama Kunjungi Muslim Syiah Sampang

IMG-20140805-WA0008-660x330Dua tahun sudah ratusan pengungsi Muslim Syiah Sampang teraniaya. Terlunta-lunta di pengungsian jauh dari kampung halaman. Momen lebaran yang mestinya menjadi momen penuh kehangatan untuk menyambung silaturrahmi dengan sanak keluarga pun menjadi lembaran pahit di asingnya pengungsian. Pemda Sampang dan Pemprov Jatim menghalangi mereka berlebaran di kampung halaman.

Namun harapan para pengungsi Muslim Syiah Sampang tak pernah bergeming. Mereka tetap ingin pulang. Harapan ini kembali tumbuh segar kala Menteri Agama yang baru, Lukman Hakim Saifuddin, yang menggantikan posisi Suryadharma Ali, kemarin datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah di Jemundo Sidoarjo.

Bersama Menteri Agama, hadir juga beberapa pejabat Pemprov Jawa Timur, seperti, Asisten III Gubernur, pejabat di Birokesra, dan Kanwil Kemenag. Pihak Polres juga masuk dalam rombongan yang mendampingi Menag Lukman Hakim Saifuddin. Ikut juga Dr. Abdul A’la dari IAIN Sunan Ampel bersama rombongan. Rombongan yang terlebih dahulu singgah di Madura ini datang jam 18.30 WIB dan meninggalkan lokasi pengungsian jam 19.45 WIB.

Dari pihak pengungsi, empat wakil pengungsi diberi kesempatan menyampaikan unek-unek dan harapannya selama dua tahun teraniaya dan menjadi pengungsi di hadapan Menteri Agama. Keempatnya adalah Ustad Iklil Al-Milal selaku koordinator pengungsi, dan tiga pengungsi lainnya, Nur Kholis, Muhlisin dan Muhammad Zaini.

Pemda Dan Pemprov Menghalangi Islah

Nur Kholis saat diberi kesempatan berbicara menyampaikan bahwa sebenarnya baik pengungsi dan warga kampung sudah sama-sama ingin islah dan berdamai. Hanya segelintir kiai dan pemerintah daerah baik kabupaten dan propinsi yang entah mengapa menghalangi proses islah. Fakta ini berbeda dengan dalih yang selama ini dikemukakan pihak pemerintah daerah tersebut bahwa mereka bermaksud melindungi pengungsi dari kemungkinan berulangnya tindak kekerasan jika pulang kampung sebab ancaman warga setempat masih kerap terjadi.

“Sebenarnya kami sudah berdamai dengan masyarakat di sana dan menandatangani pakta perdamaian (islah). Kami menjawab perdamaian warga dengan perdamaian juga. Tapi pemerintah tidak memanfaatkan modal itu malah kami yang disalahkan,” keluh Nur Kholis yang mengaku sudah memberikan file perjanjian damai antara pengungsi dan warga kampungnya kepada Menteri Agama ini.

Hal senada diungkapkan oleh Ali Ridha Assegaf, pengurus DPW ABI Jawa Timur yang mendampingi pengungsi bahwa sebenarnya modal perdamaian ini di akar rumput sudah ada. Namun patut disayangkan pemkab dan pemprov serta segelintir kiai malah menghalangi terjadinya proses islah.

Sementara Ustadz Iklil Al-Milal, koordinator pengungsi Syiah Sampang, sekaligus kakak dari Ustadz Tajul Muluk yang hingga saat ini masih dipenjara melalui putusan pengadilan yang sarat kejanggalan itu, berharap masalah pengungsi ini cepat diselesaikan pemerintah.

“Harapan saya ada penyelesaian masalah ini secepatnya. karena dengan berlarutnya masalah ini ada pihak tertentu yang ingin terus memprovokasi dan mengadu-domba kami sesama warga negara,” terang Ustad Iklil.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai mendengarkan keluhan dan aspirasi para pengungsi Muslim Syiah Sampang optimis bisa menyelesaikan masalah ini karena pengungsi memiliki keinginan kuat kembali ke kampung halaman. “Yang paling penting adalah toleransi kedua belah pihak,” ujar Lukman Hakim.

Usai bertatap muka dengan Menteri Agama yang baru Nur Kholis berharap, Lukman Hakim tidak bersikap seperti Menteri Agama yang lalu, Suryadharma Ali, yang menurutnya hanya memberi harapan palsu. (Muhammad/Hammada)

Foto pertemuan Menteri Agama Lukman Hakim dengan pengungsi Muslim Syiah Sampang di Jemundo Sidoarjo:

IMG-20140805-WA0011
     IMG-20140805-WA0010IMG-20140805-WA0002 (1)IMG-20140805-WA0005

Sumber :Abi Press

 

Menag Optimis Pengungsi Syiah Sampang Pulang Ke Kampung Halaman

IMG-20140805-WA0005Kunjungan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menumbuhkan harapan baru yang lama mengering akibat abainya pemerintah terhadap nasib pengungsi Syiah Sampang. Seperti diketahui para korban tindak kekerasan dan penyerangan yang kini menempati lokasi pengungsian itu, sudah mengalami distrust terhadap sejumlah janji pemulangan mereka ke tanah kelahirannya di Sampang.

Selasa Malam (5/8) ba’da Maghrib, rombongan Menteri Agama datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah Sampang di Rusun Jemundo Sidoarjo, Jawa Timur. Lukman Hakim selaku Menteri Agama yang baru menyatakan bahwa  masalah ini harus cepat diselesaikan agar tidak ada pihak ketiga yang memancing di air keruh. “Kita harus segera menemukan titik temu agar tidak ada pihak ketiga yang memanfaatkan,” ujar Lukman Hakim. Read More »

Muslim Syiah Sampang Rayakan Idul Adha Kedua Di Pengungsian

Pengungsi-Syiah-Sampang-Qurban-di-PengungsianBersamaan dengan prosesi wukuf di Arafah, Mina, bagi para jamaah haji, pada Minggu (5/10) umat Islam di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya merayakan Idul Adha atau yang juga dikenal dengan Hari Raya Haji. Pada hari itu akan dipotong sejumlah hewan qurban berupa kambing atau sapi yang dagingnya akan dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Lalu bagaimana Muslim Syiah Sampang yang sudah dua tahun dipaksa hidup sebagai pengungsi menyambut Idul Adha tahun ini?

Sebagai seorang Muslim, para pengungsi Syiah Sampang juga turut memperingati Hari Raya Qurban. Menggunakan sejumlah kendaraan emergensi yang berada di rusunawa, pagi-pagi mereka sudah berbondong-bondong melaksanakan shalat Idul Adha bersama warga sekitar di SMP 2 Tamanan Sidoarjo. Read More »

Seminar Internasional: Pesona Kedamaian Islam Nusantara

Dr.-Moh.-Husein-Safakhah-dan-Abdullah-BeikIslam Is Peace, menjadi tema seminar internasional “Pesona Kedamaian Islam di Nusantara” yang terselenggara atas kerjasama BEM Fakultas Aqidah Filsafat dengan pihak Ormas Islam Ahlulbait Indonesia. Senin (13/10) pagi acara itu dilaksanakan di kampus UIN Jakarta.

Isu perpecahan umat Islam serta perkembangan kelompok-kelompok radikal di kalangan umat Islam adalah salah satu alasan diselenggarakannya acara tersebut. Read More »

Konsep Kenabian Sunni, Syiah Dan Ahmadiyah

Seminar-Konsep-Kenabian-Sunni-Syiah-Ahmadiyah.42-PM-copy-660x330

Khazanah pemikiran Islam diwarnai dengan berbagai  interpretasi terhadap penafsiran Al-Quran yang pada akhirnya memunculkan berbagai mazhab atau aliran dalam Islam. Termasuk di dalamnya perspektif tentang Nabi yang pada tiap aliran dalam Islam itu berbeda antara satu aliran dengan aliran yang lainnya.

Lalu seperti apakah perspektif kenabian dalam Sunni, Syiah dan Ahmadiyah? Read More »

Dr. Mundzir Al-Hakim: Al-Ghadir, Nikmat Terbesar Allah Swt

Idul-Ghadir-1345-H-ICC-copy-660x330Aula dan Husainiyyah Islamic Cultural Center (ICC) Al-Huda terlihat meriah bakda Maghrib, Senin (13/10) kemarin. Mobil-mobil berjejer meluber hingga ke jalanan dan ke parkiran gedung sebelah karena tak mampu ditampung ICC saat seribu lebih Muslimin datang untuk memperingati Hari Raya Al-Ghadir, hari diangkatnya Imam Ali bin Abi Thalib sebagai washi atau penerus kepemimpinan Islam pasca Nabi.

Acara yang dimulai sehabis shalat Maghrib berjamaah itu dibuka oleh Ketua Umum Ormas Islam Ahlulbait Indonesia, Hasan Daliel Alaydrus yang mengingatkan jamaah akan pentingnya memperingati Hari Al-Ghadir yang merupakan momentum penyempurnaan agama.

Dalam perayaan ini, ICC kehadiran tamu istimewa dari Qum, Dr. Mundzir Al-Hakim, seorang guru besar Universitas Imam Khomeini. 

Dalam Khutbah berbahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ustad Abdullah Beik, Dr. Mundzir mendedahkan beberapa dimensi penting peristiwa Al-Ghadir.

Menurut Dr. Mundzir, pengangkatan Imam Ali sebagai penerus Nabi di Ghadir Khum adalah bagian dari proses penyempurnaan manusia untuk mendekat kepada Allah. Dengan dipilihnya Ali, sudah sempurna Islam sebagai agama yang diridhai Allah Swt.

Namun menurut Dr. Mundzir, sepanjang sejarah ada pihak-pihak yang ingin menghilangkan sejarah yang tercatat paling mutawatir menurut muhaditsin Sunni dan Syiah. “Ada yang berusaha melupakan, mengingkari, atau mentakwilnya,” ujar Dr. Mundzir. “Ada juga yang menganggap Al-Ghadir itu adalah hari raya khusus Syiah saja. Padahal periwayatan peristiwa Al-Ghadir itu lebih banyak berada di kitab-kitab Ahlusunnah ketimbang di kitab Syiah sendiri.”

Menurut Dr. Mundzir, sebagaimana tertulis di surah At-Takatsur, manusia nanti akan ditanya mengenai nikmat terbesar yang diberikan Allah Swt kepada Muslimin. Nikmat besar itu adalah Ahlulbait dan Al-Ghadir.

“Kita nanti akan ditanya mengenai Ahlulbait sebagai jalan untuk menyempurna. Jika kita tak mencapainya, padahal sudah dikenalkan Ahlulbait, kita akan ditanya mengapa kita tak sampai mencapai kesempurnaan itu. Itu tanggung jawab kita,” ujar Dr. Mundzir.

Usai khutbah, acara peringatan Hari Raya Al-Ghadir ini ditutup dengan pementasan drama pengangkatan Imam Ali di Ghadir Khum oleh Nabi Muhammad Saw yang dibawakan oleh siswa Hauzah Jami’ah Mustafa dan pembacaan shalawat oleh anak-anak Ulumul Ushul Childern Islamic Studies (ULCIS).

Usai doa bersama yang dibawakan oleh Umar Shahab, jamaah menikmati permen dan hidangan khusus Yaumul Ghadir yang disediakan oleh panitia. (Muhammad/Yudhi)

 

sumber :Abi Press

Bedah Buku SMS Di P3M

Bedah-Buku-Syiah-Menurut-Syiah-di-P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia. Read More »