KAJIAN

Wasiat Imam Ali bagi Umat Islam

haider_ammer_hast-widePenulis terkemuka Lebanon, Khalil Gibran berkata, “Ali bin Abi Thalib syahid dengan keagungannya.Ia meninggal ketika menunaikan shalat dan hatinya dipenuhi kecintaan kepada Tuhan.” Bahkan di akhir hayatnya pun Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib masih menyebarkan kebenaran ajaran Islam. Read More »

Rahasia Keabadian Asyura

zzzzzzzcedPeristiwa Karbala adalah satu dari sekian momentum historis yang memiliki kedudukan khusus. Meskipun terjadi tahun 61 Hijriah, tapi kejadian penting ini tidak lekang oleh zaman, dan terus hidup hingga kini. Padahal Khalifah Bani Umayah dan penerusnya telah melakukan berbagai cara untuk memberangus peristiwa agung ini dari memori umat Islam. Salah satu yang mereka lakukan adalah menjadikan hari Asyura sebagai kemenangannya yang dirayakan secara meriah dan suka cita. Ketika kebohongannya terungkap, mereka melakukan berbagai cara untuk menjustifikasi kezaliman Yazid yang dilawan dengan kesyahidan Imam Husein. Hingga kini, para pendukung Yazid berupaya menyimpangkan tujuan kebangkitan Imam Husein, dan menimbulkan masalah bagi para peziarah beliau, dan orang-orang yang mengenang perjuangannya.

Read More »

Sahabat Imam Husein as, Teladan bagi Pembela Imam Mahdi as

imam_hussain__s_helmet_by_nawabzDalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai sebagian keistimewaan para sahabat Imam Husein as yang akan menjadi contoh bagi para penolong Imam Mahdi as. Ahlul Bait as sebagai penerus Rasulullah Saw berasal dari satu cahaya, di mana mereka mengejar tujuan yang sama. Keberadaan masing-masing dari mereka bagaikan sebuah lentera penerang dan bendera kebanggaan yang menunjukkan jalan yang benar dan sempurna kepada hamba-hamba Allah Swt dan mencegah mereka dari jalan yang sesat.

Read More »

Kepemimpinan Imam Sajjad as di Era Genting Sejarah Islam

136662829075537Tanggal 12 Muharram bertepatan dengan gugur syahidnya Imam Alibin Husein atau Imam Sajjad as. Imam yang setelah tragedi Asyura pada tahun 61 Hijriah, memikul tugas sebagai pemimpin umat Islam dan pada tahun 94 Hijriah, gugur syahid karena diracun oleh penguasa Dinasti Umawiyah saat itu, Hisyam bin Abdulmalik.

Read More »

Pendidikan Agama dalam Perspektif Imam Musa Kazhim as

imam_musa_kazim_a_s_wallpapers-otherPendidikan memiliki arti melatih dan mendidik di mana potensi-potensi seseorang yang tersembunyi dapat diaktifkan untuk mencapai kesempurnaan. Pendidikan ini tercatat salah satu kategori penting yang digulirkan dan patut untuk diperhatikan guna mencapai kesempurnaanspiritual manusia. Pendidikan ini harus dilakukan sebelum dan sesudah anak dilahirkan.

Read More »

Hari Arbain dan Perjuangan Sayidah Zainab

____zainab__a_s_______1432_by_bani_hashim-d5b9ir3Ahlul Bait as merupakan salah satu pusaka berharga Rasulullah Saw bagi umatnya untuk menjauhkan mereka dari penyimpangan dan kesesatan. Beliau bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu kitab Allah (al-Quran) dan Ahlul Baitku.”

Read More »

Pesan Imam Khomeini ra Pasca Demonstrasi di bulan Muharram

imam-khomeiniMenyusul turunnya rakyat ke jalan-jalan melakukan pawai akbar pada Tasua dan Asyura tahun 1399 Hq yang bertepatan dengan tanggal 19 dan 20 Azar 1357, Imam Khomeini ra pada 21 Azar 1357 (12 Desember 1978) mengeluarkan pesan pentingnya. Dalam pesannya Imam menyebut pawai akbar itu sebagai referendum bangsa Iran yang anti terhadap rezim Shah Pahlevi.

Imam Khomeini ra dalam pesannya mengatakan, “Kepada seluruh rakyat pemberani Iran saya mengucapkan salam. Kalian adalah rakyat yang memiliki tekad baja dan dengan slogan yang kalian ucapkan telah membuktikan kepada dunia bahwa kalian tidak menginginkan Shah. Bersamaan dengan pawai akbar kalian, dalam pesan kepada Tehran dan negara-negara di dunia, saya mengumumkan bahwa pawai akbar yang dilakukan selama dua hari ini merupakan referendum besar dan transparan bahwa bangsa Iran tidak menginginkan Shah Pahlevi. Rakyat dalam pawai akbar ini telah menyatakan tidak mengakui Shah. Pawai akbar ini telah mencerabut segala bentuk alasan dari setiap orang dan semua negara di dunia bahwa mereka tidak dapat lagi mengklaim bahwa Shah sebuah rezim legal.” (IRIB Indonesia)

Sumber :Irib

Pernyataan para ulama Syiah tentang Kesempurnaan al-Quran

  1. Syeikh Shaduq (wafat-318 H)

alquranKitab al-I’tiqad  (59-60)

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله على نبيه محمد صلى الله عليه و آله هو ما بين الدفتين و هو ما في أيدي الناس ليس بأكثر من ذلك ، ومبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشرة سورة ، وعندنا أن الضحى وألم نشرح سورة واحدة ولإيلاف وألم تر كيف سورة واحدة ، ومن نسب إلينا أنا نقول أكثر من ذلك فهو كاذب “

Aqidah kami adalah bahwa al-Quran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw adalah al-Quran yang sekarang ini ada tengah-tengah ummat manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya 114 surah. Dalam pandangan kami surah ad-dhuha dan alam nasyrah adalah satu surah, dan liilaf dengan alam tara kaifa juga dianggap satu surah. Orang yang mengatakan bahwa kami berpendapat bahwa kitab al-Quran syiah lebih dari itu adalah pembohong.”

  1. Syeikh Mufid ( wafat 413 H)

Kitab Awail al-Maqalat (54 – 56)

وقد قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ..)

“ Telah berkata sejumlah Jamaah dari Syiah bahwa sesungghunya al-Quran tidak sekalimatpun kurang, Demikian juga  tidak ada ayat atau surah yang kurang.”

  1. Syeikh Murtadha ( wafat 436 H)

Risalah al-Ajwibiah al-Ula

لأن القرآن معجزة النبوة ومأخذ العلوم الشرعية والاحكام الدينية’ وعلماء المسلمين قد بلغوا في حفظه وحمايته الغاية حتى عرفوا كل شئ اختلف فيه اعرابه وقراءته.. فكيف يجوز ان يكون مغيراً أو منقوصاً مع العناية الصادقة والضبط الشديد ! وقال : ان القران كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً على ما هو عليه الآن

“Sesungguhnya al-Quran adalah sebuah mukjizat, sumber ilmu-ilmu syareat dan hukum agama. Para ulamasungguh-sungguh menjaganya sampai mereka tahu apapun yang diperselisihkan di dalamnya,baik tentang i’rabnya maupun bacaannya.

Lalu bagaimana mungkin al-Quran akan mengalami perobahan atau pengurangan ayat-ayatnya sementara pemeliharaan tentangnya benar-benar ketat. Sungguh, al-Quran di zaman Nabi adalah telah dikumpulkan dan disusun seperti yang ada sekarang ini.”

  1. Syaikh Thusi ( 460 H)

Kitab al-Bayan fi Tafsir al-Quran (I: 3)

أما الكلام في زيادته ونقصانه فمّما لايليق به ‘لأن الزيادة فيه مجمع على بطلانه

“”Bicara tentang apakah al-Quran mengalami penambahan atau pengurangan ayat-ayatnya adalah tidak pantas sama sekali. Karena hal itu sudah disepakati salah dan keliru.”

  1. Syaikh Tabarsi (548 H)

Majma’ al-Nayan (I: 15)

اما الزيادة فمجمع على بطلانها’ واما القول بالنقيصة فالصحيح من مذهب أصحابنا الامامية خلافه .

“ Mengatakan bahwa ada penambahan dalam al-Quran, maka secara aklamasi pendapat itu adalah batil dan salah. Pendapat yang mengatakan bahwa ada kekurangan maka yang benar dari mazhab kami (syiah Imamiah) adalah menentang pendapat itu.”

  1. Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663 H)

إنَ رأي الإمامة هو عدم التحريف

“Pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif dalam al-Quran

Dan dari ulama-ulama syiah kontemporer misalnya:

 

  1. Sayyid Abul Qasim al-Khui

Al-Bayan fi Tafsir Al-Quran hal. 220

إنَ من يدَعي التحريف يخالف بداهة العقل

“Orang yang beranggapan adanya tahrif al-Quran maka itu berlawanan dengan aksiomatika rasional”.

  1. Imam Khomeini

Kitab Tahdzib al-Ushul (II: 165)

«إن الواقف على عناية المسلمين على جمع الكتاب وحفظه وضبطه قراءة وكتابة يقف على بطلان تلك المزعمة

“ Melihat betapa perhatiannya kaum muslimin untuk mengumpulkan al-Quran, menghafalnya dan mencatatnya baik secara qiraah maupun tulisan maka dengan mudah kita berkesimpulan akan ketidakabsahan asumsi (tentang tahrif al-Quran).

وما وردت فيه من الأخبار بين ضعيف لا يستدلّ به، إلى مجعول يلوح منها إمارات الجعل، إلى غريب يقضى منه العجب، إلى صحيح يدلّ على أن مضمونه تأويل الكتاب وتفسيره،

“Adapun sejumlah riwayat tentang tahrif maka sebagiannya adalah dhaif yang tidak bisa dijadikan hujah; sebagian lagi maj’ul (maudhu’); sebagian lagi gharib (aneh); sebagian shaheh namun maksudnya adalah makna takwil dan tafsir al-Quran dsb. “

…” وأوضحنا إليك أن الكتاب هو عين ما بين الدفّتين، والاختلاف الناشئة بين القراء ليس إلا أمراً حديثاً لا ربط له بما نـزل به الروح الأمين على قلب سيّد المرسلين

 

“Kami juga sudah jelaskan bahwa kitab al-Quran yang asli adalah Kitab al-Quran yang sekarang ini ada di tangan kita. Adapun perbedaan yang terjadi antara para qurra’ adalah perkara baru yang tidak ada hubungannya dengan apa yang diturunkan oleh Malaekat Jibril ke dalam hati Penghulu para Rasul saw.”

 

Al-Quran dalam Pandangan Syiah

alquranKeterjagaan Al-Quran dari Tahrif / Perubahan

Firman-Firman Allah:

I

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Al-Quran.

Dan di dalam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Al-Quran itu sendiri.

II

 

إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيز

ٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

(Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Al-Quran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran. Al-bâthil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Al-Quran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Al-Quran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Al-Quran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.

III

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَه فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَه

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.

Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.

Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

(Al-Qiyamah : 17-19)

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.

Disinilah yang diyakini mazhab Syiah bahwa wahyu itu bukan hanya dalam bentuk ayat-ayat suci al-Quran yang ada di tangan kita saja tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada Nabi saw.

Wahyu-wahyu yang non-qurani inilah kemudian Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam kitabnya yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Ali yang sesungguhnya itu  diperintahkan oleh Rasulullah saww.  Banyak yang keliru memahami aistilah Mushaf Ali atau Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi maksudnya ayat-ayat penjelasan secara terperinci yang meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang sehingga berjumlah 17000 ayat.

Kesimpulannya itu bukanlah ayat Al-Quran seperti yang kita lazim fahami sehari-hari, namun ayat penjelasan, tafsir dan takwilnya.

Hadis-Hadis

  1. Hadits Ghadir

Kitab al-Ihtijaj 1/60 karya Syaikh Thabarsi:

(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه

فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده

ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه،

وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang terjadi pada tanggal 18 Julhijjah Nabi saw bersabda : Wahai ummat manusia,  pelajarilah Al-Quran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamat dan  janganlah mengikuti yang mutasyabihat. Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali orang yang aku angkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang kuumumkan kepada kalian bahwa “barangsiapa yang aku adalah Maulanya maka Alilah Maulanya.” Dialah Ali ibn Abi Thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamahat bukan mutasyabihahat melazimkan bahwa Al-Quran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

  1. Hadits Tsaqalain

Hadits ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang besar. Pertama Kitab Allah dan kedua Itrahku dan Ahlul Baitku. Apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya setelahku.”

Keterangan

Perintah untuk berpegang teguh kepada Al-Quran adalah bukti bahwa al-Quran sejak awal adalah utuh tidak  kurang atau lebih.

  1. Hadits Imam Ali

Imam Ali as berkata :

و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه

Dan Kitab Allah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

  1. Hadis Rujuk kepada al-Qur’an

Perintah untuk merujuk kepada al-Quran dan hadis yang sesuai dengan al-Quran merupakan bukti yang sangat jelas tentang tiadanya tahrif dalam al-Quran. Karena bagaimana mungkin kita diperintah merujuk kepada al-Quran sementara ia diragukan keasliaannya. Mustahil.

محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».

( الكافي 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qûb berkata, dari Ali Ibn Ibrâhîm dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap kebenaran ada realitasnya dan setiap yang benar ada cahanyanya. Apabila ia sesuai dengan Kitab Allah maka ambillah dan apabila ia bertolak belakang dengan Kitab Allah maka tinggalkanlah”.

قول الإمام الصادق عليه السّلام: «إذا ورد عليكم حديثان مختلفان فأعرضوهما على كتاب اللّه، فما وافق كتاب اللّه فخذوه، و ما خالف كتاب اللّه فردّوه …» (وسائل الشيعة : 18:84)

Imam as-Sâdiq as: “apabila sampai kepada kalian dua hadis yang berbeda maka rujukkanlah kepada Kitab Allah.  Apabila ia sesuai dengan Kitab Allah maka ambillah dan apabila ia bertolak belakang dengan Kitab Allah maka tinggalkanlah”.

Hadis-hadis seperti ini sangat banyak di dalam kitab-kitab hadis rujukan syiah.

 

Hadis dalam Pandangan Syiah

Pengantar

image-FH07EHHO5DTJC5YAKedudukan hadis Nabi saw dalam Islam sangat penting. Sebab lewat hadislah kita bisa memahami pesan agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Mazhab ahlu sunnah dan syiah sependapat bahwa hadis adalah rujukan kedua setelah kitab suci al-Quran. Kedudukan sebuah hadis yang shahih mutawatir misalnya sama derajatnya dengan firman Allah Swt, sehingga wajib bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah untuk menjalankan isi hadis tersebut dan tidak boleh ia mengabaikannya. Sebab mengabaikannya sama saja ia mengabaikan kitab suci al-Quran.

Mengimani adanya hadis Nabi dan wajib menjalankan pesan hadis Nabi yang terbukti shahih adalah prinsip yang dipegang oleh semua mazhab dalam Islam. Namun ada perbedaan dalam mendefinikan kategori suatu hadis apakah ia shahih atau dhaif; apakah seorang perawi suatu hadis termasuk sebagai yang mamduh (perawi yang terpuji) atau yang tercela.

Berikut kami turunkan artikel singkat tentang hadis dalam pandangan mazhab syiah Imamiah.

Klasifikasi Hadis

Syiah membagi hadis kepada dua bagian: hadis mutawatir dan hadis aahad.

Hadis mutawatir adalah hadis yang dilaporkan oleh sekelompok orang yang jumlah mereka sedemikian banyaknya sehingga biasanya sulit bagi mereka untuk sepakat berdusta bersama-sama. Kategori hadis ini memiliki validitas yang tinggi sehingga wajib mengamalkan isi hadis tersebut.

Hadis Aahad adalah hadis yang tidak sampai pada level mutawatir dikarenakan pelapor hadis tersebut (perawinya) berjumlah satu orang atau lebih dari satu. Hadis aahad terbagi kepada beberapa kategori:

  1. Hadis Shahih, yakni hadis yang perawinya adalah seorang yang berasal dari mazhab Imamiyah yang terbukti dengan cara yang meyakinkan bahwa ia adalah seorang yang adil.
  2. Hadis Hasan, yakni hadis yang perawinya adalah seorang yang berasal dari mazhab Imamiyah yang terbukti ia adalah seseorang yang terpuji dan tidak ada laporan bahwa ia adalah orang yang tercela atau yang adil.
  3. Hadis Muwatsaq, yakni hadis yang perawinya adalah seorang muslim yang non-syiah, namun ia bisa dipercaya dan amanat dalam menukilkan riwayatnya
  4. Hadis Dhaif, yakni hadis yang perawinya adalah non-muslim, atau muslim yang fasik, atau yang tidak jelas identitasnya atau yang tidak disebutkan dalam sanad hadis seluruh periwayatannya.

Hadis Maudhu’

Hadis Maudhu’, yakni hadis palsu atau fiktif. Ciri-cirinya teks redaksinya bertentangan dengan nas al-Quran atau dengan sesuatu yang sudah terbukti benar dalam Sunnah Nabi saw; atau bertentangan dengan akal atau redaksinya jauh dari kefasehan bahasa; atau berita besar tapi dilaporkan oleh satu orang atau perawi yang melaporkan itu adalah seorang pembela penguasa yang zalim di zamannya.

 

 

Kitab-kitab Hadits

Para ulama syiah menulis tiga kategori kitab yang berkaitan dengan hadis:

Pertama, kutub al-hadits, yakni kitab-kitab yang mengoleksi hadis-hadis Nabi saw dan hadis-hadis para Imam Ahlul Bait as. Dalam kitab-kitab hadis ini tertulis berbagai macam teks hadis seperti hadis-hadis yang berkaitan dengan akidah, syareah maupun akhlak.

Kedua, kitab rijal al-ahadits, yakni kitab yang berkaitan dengan diskripsi para perawi hadis.

Ketiga, kitab dirayah, yakni kitab yang membahas tentang berbagai macam kaedah-kaedah umum yang dengannya seseorang bisa mengetahui mana hadis yang shaheh dan mana yang tidak shaheh.

Tujuan dari adanya kaedah-kaedah ini adalah untuk melakukan verifikasi apakah sebuah hadis yang sampai ke tangan kita itu benar-benar sebuah hadis yang shaheh atau tidak shaheh.

Kutub al-Hadits

Berikut adalah sejumlah kitab rujukan hadis dalam mazhab syiah:

  1. Kitab al-Kafi, Syaikh al-Kulaini (w.328 H). Jumlah hadis: 16099 hadis
  2. Kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Syaikh Ibnu Babaweh atau juga dikenal dengan Syaikh Shaduq (w.381 H). Jumlah hadis: 9044 hadis
  3. Kitab at-Tahdzib, Syaikh Thusi (w.461 H). Jumlah hadis: 13095 hadis
  4. Kitab al-Istibshar, Syaikh Thusi. Jumlah hadis: 5511 hadis.
  5. Kitab al-Wafi, Syaikh Muhsin Faidh Kasyani (w. 1091 H), 14 jilid
  6. Kitab Wasail as-Syiah, Syaikh al-Hur al-‘Amili (w.1033 H), 6 jilid
  7. Bihar al-Anwar, Syaikh Majlisi,

Kitab Rijal

Di antara kitab Rijal Hadis Syiah Imamiyah adalah sebagai berikut:

  1. Kitab al-Rijal, Syaikh Najasyi (w.450 H)
  2. Kitab al-Rijal, Syaikh Thusi
  3. Kitab Ma’alim al-Ulama, Syaikh Ibnu Syahri Asyub (w.588 H)
  4. Kitab Manhaj al-Maqal, Syaikh Muhammad Astarabadi (w. 1020 H)
  5. Kitab Itqan al-Maqal, Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w. 1323 H)
  6. Kitab Rijal al-Hadits, Sayed Abul Qasim al-Khui
  7. Kitab al-Rijal al-Kabir, Syaikh Abdullah al-Mamqani

Kitab Dirayah

  1. Kitab al-Bidayah fi ‘Ilm ad-Dirayah, Syaikh Zainuddin bin Ali al-‘Amili (w. 966 H)
  2. Kitab al-Wajizah, Syaikh al-Bahai al-‘Amili (w. 1032 H)
  3. Kitab Syarh al-Wajizah, Sayed Hasan as-Sadr
  4. Kitab Miqyas al-Hidayah, Syaikh al-Mamqani

Mengamalkan Pesan Hadis

Dalam pandangan Syiah, mengamalkan pesan hadis yang shaheh, hasan dan muwatsaq adalah wajib, karena sanadnya kuat. Dan sebaliknya sebuah hadis yang dhaif wajib ditinggalkan karena sanadnya yang lemah. Namun sebuah hadis yang dhaif kadang-kadang bisa saja berubah menjadi kuat apabila para ulama terdahulu mengamalkan hadis tersebut. Hal ini karena para ulama yang wara’ dan sangat hati-hati tersebut ditambah lagi mereka hidup di periode yang dekat dengan periode awal Islam ketika mereka mengalamkan suatu hadis dhaif pasti lantaran adanya suatu “qarinah” (sebab) yang qarinah itu kini tersembunyi dari kita. Adanya qarinah itu mengangkat status hadis dhaif tersebut.

Demikian juga sebaliknya sebuah hadis yang kuat bisa saja berubah menjadi dhaif apabila para ulama terdahulu mengabaikannya. Sebab pasti ada suatu sebab mengapa para ulama yang agung di zaman itu meninggalkan hadis tersebut meskipun perawinya dikenal jujur.