AKHLAK SYIAH

Pesan Imam Khomeini ra Pasca Demonstrasi di bulan Muharram

imam-khomeiniMenyusul turunnya rakyat ke jalan-jalan melakukan pawai akbar pada Tasua dan Asyura tahun 1399 Hq yang bertepatan dengan tanggal 19 dan 20 Azar 1357, Imam Khomeini ra pada 21 Azar 1357 (12 Desember 1978) mengeluarkan pesan pentingnya. Dalam pesannya Imam menyebut pawai akbar itu sebagai referendum bangsa Iran yang anti terhadap rezim Shah Pahlevi.

Imam Khomeini ra dalam pesannya mengatakan, “Kepada seluruh rakyat pemberani Iran saya mengucapkan salam. Kalian adalah rakyat yang memiliki tekad baja dan dengan slogan yang kalian ucapkan telah membuktikan kepada dunia bahwa kalian tidak menginginkan Shah. Bersamaan dengan pawai akbar kalian, dalam pesan kepada Tehran dan negara-negara di dunia, saya mengumumkan bahwa pawai akbar yang dilakukan selama dua hari ini merupakan referendum besar dan transparan bahwa bangsa Iran tidak menginginkan Shah Pahlevi. Rakyat dalam pawai akbar ini telah menyatakan tidak mengakui Shah. Pawai akbar ini telah mencerabut segala bentuk alasan dari setiap orang dan semua negara di dunia bahwa mereka tidak dapat lagi mengklaim bahwa Shah sebuah rezim legal.” (IRIB Indonesia)

Sumber :Irib

Muhammadiyah Dan Ahlulbait Indonesia Siap Tampilkan Islam Ramah

Dien-Syamsuddin-dan-Hasan-Alaydrus-copy1-660x330Dalam peringatan miladnya yang ke-102 di gedung DPR RI, Jakarta, Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dien Syamsuddin menekankan pentingnya menampilkan wajah Islam yang ramah dan toleran serta menyebarkan kedamaian ke seluruh penjuru dunia.
 
Hal ini disampaikan Dien saat membuka acara milad Muhammadiyah ke-102, bersamaan dengan acara Forum Perdamaian Dunia ke-5 yang dihadiri 40 negara.
 
“Menciptakan perdamaian mesti bersama-sama,” ujar Dien Syamsuddin. “Karena itu pula banyak negara yang hadir di sini. Karena kita semua berkepentingan bagaimana bisa menyelesaikan konflik-konflik yang ada.”
 
Islam Ramah, Bukan Islam Marah
 
ABI Press_Dien Syamsuddin dan Hasan AlaydrusSaat ditanya mengenai kelompok-kelompok radikal Islam seperti ISIS yang justru berlaku keras dan jauh dari wajah Islam ramah, Dien Syamsuddin mengatakan bahwa mereka bukan representasi Islam yang sejatinya rahmatan lil ‘alamin.
 
“Islam itu agama rahmah wa salamah, agama perdamaian. Tetapi mereka memakai kekerasan. Al-Qur’an itu melarang membunuh, menghilangkan nyawa. Sama dengan membunuh umat manusia. Tapi mereka membunuh banyak orang, kan?” tanya Dien. “Muhammadiyah hadir justru untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan cinta damai, dan siap bergandeng tangan dengan siapa pun yang memiliki keinginan yang sama untuk menyebarkan perdamaian,” imbuhnya.
 
Mengapresiasi pernyataan Dien, Ketua Umum Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustad Hassan Alaydrus, yang juga hadir sebagai tamu undangan dalam Milad Muhammadiyah ke-102 ini, menyatakan ABI siap bersinergi dengan Muhammadiyah guna menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
“Pernyataan Pak Dien itu selaras dengan apa yang dikemukakan oleh ulama-ulama besar Ahlusunnah dan Ahlulbait. Kelompok garis keras seperti ISIS itu tak berhak memakai kata Islamic. Karena kalau kata Islami itu harus ramah, damai, penuh rahmat kasih-sayang. ISIS dan sejenisnya itu kan berwajah garang bagai drakula. Bagaimana drakula haus darah mengatakan dirinya adalah Islam? Itu justru merampas nama suci Islam sendiri,” ujar Hassan Alaydrus.
 
Lebih lanjut Hassan Alaydrus kembali menekankan, sebagai adik dari Muhammadiyah dan NU, Ahlulbait Indonesia selalu siap bergandengan tangan untuk menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
 
“Kita adalah adik Muhamamdiyah, adik NU. Kita akan bersama-sama untuk membangun Islam yang ramah. Dan insya Allah dengan kebersamaan ini rencana jahat musuh-musuh Islam selama ini akan gagal,” pungkas Ketua Umum ABI tersebut. (Muhammad/Yudhi)

Memahami Makna Taqiyah

taqiyya11 Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Prof. Dr. H. Machasin, MA pada tanggal 14 November 2014 atas nama Menteri Agama bapak Lukman Hakim Saifudin membuka secara resmi muktamar ABI II yang berlangsung di Auditorium KH. M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat.

Sebelum beliau menyampaikan pesan-pesannya beliau sempat menyampaikan sesuatu yang beliau sebut dengan istilah “rahasia”. “Beberapa jam sebelum acara ini diselenggarakan saya mendapatkan telefon yang mempertanyakan ketulusan orang-orang syiah. Katanya orang syiah itu selalu bertaqiyah dan taqiyah itu artinya tidak tulus”

Dengan kata lain ketulusan orang syiah dalam menyatu dengan orang sunni dan sama- sama bekerja dalam memajukan ummat Islam Indonesia ini perlu diragukan.

Namun bapak dirjen menampik kecurigaan sang penelefon. Beliau berkata: “kemauan orang-orang syiah untuk menyelenggarakan muktamarnya di lingkungan kemenag adalah bukti bahwa mereka mau terbuka dan tidak sembunyi- sembunyi. Kemauan mereka mau bekerjasama dengan kemenag dan yang lainnya juga bukti lain bahwa sesungguhnya mereka punya niat yang tulus dan bagian dari ummat Islam yang satu”.

Taqiyah memang sering dijadikan sebagai “peluru” untuk menembak syiah. Dan taqiyah sering diartikan dengan kebohongan, kemunafikan dan ketidakjukuran dalam diri orang Syiah.

Padahal tidaklah demikian pengertian dari taqiyah. Taqiyah secara bahasa memiliki asal kata yang sama dengan taqwa, yang berarti secara harfiah takut dan khawatir. Secara istilah taqiyah berarti takut menampakkan keimanannya karena khawatir ia akan jatuh dalam bahaya karena kesewenang-wenangan pihak lain. Para ulama Syiah menyebut dua kategori taqiyah: pertama taqiyah lantaran bahaya kesewenang-wenangan yang mengancam nyawa atau hartanya. Kedua taqiyah mudarah, yakni khawatir akan menimbulkan fitnah dan perpecahan ummat lantaran kejahilan mereka.

Taqiyah jenis pertama sangat perlu bahkan wajib demi keselamatan nyawa seperti orang-orang Syiah yang sekarang hidup dalam wilayah kekuasaan ISIS. Baru-baru ini ISIS mengeluarkan perintah untuk membunuh siapapun yang bernama Syiah dimanapun mereka dapati. Bahkan ISIS mengancam akan membunuh siapapun yang dianggapnya sebagai lawannya meskipun ia Sunni. Saya yakin dalam hal ini tidak ada perbedaan antara sunni dan Syiah dalam memandang keabsahan prinsip taqiyah.

Taqiyah Mudarah sebenarnya adalah sebuah solusi yang bisa membangun persaudaraan dan kerjasama antara dua mazhab besar yang berbeda ini. Lewat taqiyah mudarah Syiah bisa menghargai prinsip-prinsip ahlu Sunnah wal jamaah dan juga sebaliknya. Lewat taqiyah mudarah Syiah seringkali meninggalkan baju syiahnya demi menjaga hati kaum muslimin dan memelihara persatuan ummat Islam. Alkisah Almarhum KH Buya Hamka tokoh Muhammadiyah pernah haji bareng dengan KH Idham Khalid tokoh NU. Ketika shalat subuh berjemaah dan Hamka menjadi Imam beliau qunut subuh demi menghormati KH Idham Khalid yang NU. Besoknya ketika KH Idham Khalid yang Imam beliau tidak qunut subuh karena menghormati Pa  Buya Hamka yang Muhammadiyah. Itulah contoh taqiyah mudarah. Ia tidak hanya dilakukan oleh orang Syiah namun juga dilakukan oleh orang-orang non syiah. Sadar atau tidar sadar.

Syiah adalah mazhab yang paling tua dan yang sudah paling banyak makan asam garam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Syiah adalah mazhab yang paling menginginkan persatuan dan persaudaraan terjalin di antara ummat Nabi Muhammad sebagaimana yang dipesankan oleh para Imam Ahlul Bait as.

Menyadari realitas umat yang sudah terkotak-kotakkan oleh mazhab, aliran, tradisi dan sebagainya maka yang masih tersisa adalah kesatuan dan kesamaan mereka sebagai ummat Nabi Muhammad saw yang mengimani akan keesaan Allah, kerasulan Nabi Muhammad, adanya hari akherat, bahwa Alquran sebagai kitab Allah, ka’bah sebagai kiblat bersama dan syareat yang dibawa oleh Rasulullah adalah syareat yang terakhir.

Perbedaan dalam memahami dan menafsirkan pesan-pesan Allah dan Nabi Muhammad harus disikapi dengan bijak. Dan salah satu dari prinsip kebijakan itu adalah taqiyah.

Imam Ja’far bilang “Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku”.

Wallahualam

Ringkasan Pidato Rahbar di Hadapan Para Petugas Haji Iran

aks_rahbarPemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai ibadah haji sebagai kesempatan terbaik untuk menghadapi konspirasi untuk memisahkan Iran dari Dunia Islam, menjawab keraguan-keraguan dan propaganda musuh Islam, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan maknawi serta pemikiran umat.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (28/10) dalam pertemuannya dengan petugas haji tahun ini menegaskan, “Perencanaan untuk meningkatkan kinerja pelayanan haji dengan visi transformatif dan inovatif guna memenuhi kebutuhan maknawi dan intelektual umat, juga untuk menjawab keraguan dan propaganda musuh adalah sesuatu yang urgen.”

Ia menambahkan, “Membangun tembok untuk memisahkan Iran dan Dunia Islam merupakan salah satu langkah musuh persatuan umat Islam, dan semua harus menggunakan kesempatan haji dengan sebaik-baiknya sebagai medan umat Islam untuk meruntuhkan tembok ini dan merubah gambaran serta keyakinan keliru akibat propaganda musuh.”

Ayatullah Khamenei menganggap penting persatuan Islam sebagai kebutuhan nyata hari ini Dunia Islam. “Persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam merupakan bagian dari ajaran Islam dan dalam hal ini, Iran tidak berkompromi dengan siapapun,” tegasnya.

Menurutnya, persatuan Islam bukan berarti berpindah keyakinan mazhab Islam. “Persatuan Islam yang merupakan slogan mendasar Republik Islam Iran, yaitu, umat Islam satu sama lain tidak bermusuhan dan saling membantu dalam masalah-masalah penting dunia,” katanya.

Ayatullah Khamenei juga menekankan urgensi mengenal potensi kerugian dan menemukan faktor-faktor efektif dalam menyikapi propaganda musuh. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :< a href=”http://indonesian.irib.ir/iran/rahbar/item/87136-ringkasan-pidato-rahbar-di-hadapan-para-petugas-haji-iran”>Indonesia Irib

Letak Perbedaan Pendapat Sunni-Syiah

no-sunni-syiah-53aa3f4499e6bBerikut ini beberapa letak perbedaan antara kelompok Sunni-Syiah;

Mushaf Fatimah. Letak perbedaan pendapat ada pada klaim Mushaf Fatimah.

Dr Al-`Awwa menekankan bahwa ada perbedaan antara mazhab dan partai. Mazhab mengacu pada keputusan hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, halal, dan sebagainya. Sedangkan partai mengacu pada sekelompok Muslim yang mendukung kelompok dan pemikiran tertentu, membedakan diri dari umat Islam lainnya yang berkaitan dengan masalah iman.

Selain itu, ia menekankan pentingnya dialog dengan Syiah, yakni kelompok Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja` fariyyah), di mana Syiah ini kebanyakan berada di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, dan semua negara-negara Teluk. Saat ini, pandangan politik dan jihad para pengikut kelompok ini memiliki dampak besar bagi Islam.

Dr Al-`Awwa juga menjelaskan bahwa ada alasan umum antara Sunni dan Syiah yang mengharuskan mereka menjunjung persatuan, selain karena mereka memiliki keimanan yang sama terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Juga,  mereka sama-sama meyakini akan perintah umum Islam lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Selain itu, baik Sunni maupun Syiah sepenuhnya menerima semua hal yang difirmankan Allah Swt. Tidak ada Muslim Sunni atau Syiah yang bertentangan mengenai semua fakta yang terkandung dalam Al Qur’an, baik dari sampul salinan hingga isi keseluruhan Qur’an, dari Surat Al-Fatihah hingga Surat An-Nas. Kedua kelompok besar Islam ini meyakini bahwa  firman Allah Swt. ini diwahyukan  kepada Nabi Muhammad Saw.

Klaim bahwa Syiah telah menyelewengkan Al Qur’an didasarkan pada buku Fasl Al-Khitab Fi Ithbat Tahrif Kitab Rabb Al-Arbab (Final Word on the Proof of Perversion of the Book of the Lord of Lords) karya An -Nuri At-Tabrasi. Hal ini juga didasarkan pada informasi palsu yang disebutkan dalam beberapa buku Syiah tentang sebuah buku berjudul Mushaf Fatimah (Fatimah Copy Al-Qur’an). Namun, klaim ini, bahkan disangkal oleh ulama Sunni dan Syiah.

Misalnya,  penolakan terhadap klaim itu terdapat dalam kitab Al-Mirza Borujerdi di mana ia berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang dikeluarkan oleh pendapat An-Nuri. Buku Al-Borujerdi ini dipuji oleh Hibatullah Ash-Shihristani (seorang sarjana Syiah) di salah satu suratnya kepada penulis. Dalam surat tersebut, Ash-Shihristani menggambarkan keadaan kota Samarra’ menyusul terbitnya buku An-Nuri. Dia berkata, “Aku melihatnya [Samarra’] seperti surga bagi para pendatang baru. An-Nuri, melalui bukunya Final Word. Setiap kali kami mulai sesi agama (hawzah), ada banyak yang menentang isi buku, penulis, dan penerbitnya.”

“Jika hal-hal yang diutarakan penulis “Fasl Al-khitab” tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka apa yang ia tulis akan ada nilainya, baik dalam pengetahuan maupun praktek. Sebaliknya, [buku] itu hanya rekaman narasi lemah.”

Selain Hibatullah Ash-Shihristani, ada juga yang membantah pendapat An-Nuri, yakni Sheikh Al-Mufid dan Sheikh Al-Khu’i.

Adapun yang disebut Mushaf Fatimah, Imam Ja’far As-Shadiq berkata, “Apa pun yang termasuk di dalamnya adalah bukan dari Al Qur’an. Sebaliknya, itu adalah sebuah interpretasi dari apa yang terungkap melalui Jibril [Malaikat Jibril] dan disampaikan oleh Nabi Saw.”

Selain itu, Syiah menunjukkan bahwa mushaf, yang umumnya berarti salinan Al Qur’an, juga dapat berarti isi yang terletak di antara dua sampul buku apa pun. Selain itu, mushaf merupakan sebuah kata yang baru diciptakan—yang tidak digunakan sebagai nama untuk Al Qur’an di masa lalu.

Oleh karena itu, dengan merujuk syiah menyeleweng dengan berdasar pada Mushaf Fatimah, maka Syiah tidak berarti meyakini bahwa isinya adalah Firman Allah. Kesimpulan ini kemudian diperkuat oleh fakta bahwa Syiah tidak terlihat memegang salinan Al Qur’an selain Al Qur’an itu sendiri. Hal ini terlihat dari penelusuran yang menemukan bahwa Mushaf Fatimah tidak ada di perpustakaan buku-buku agama Syiah. Seperti telah disebutkan, semua umat Islam, Sunni dan Syiah, percaya pada Al Qur’an yang sama.

Imamah Ali. Perbedaan antara Sunni dan Syiah termasuk kontroversi atas keyakinan Syiah bahwa imamah adalah posisi Ilahi. Yakni menempatkan kepemimpinan kepada orang yang ditunjuk langsung Allah atau Rasul-Nya. Mereka percaya bahwa Nabi telah menunjuk Ali bin Abi Thalib dan mengatakan bahwa imamah harus diberikan kepada Ali sampai ke imam kedua belas, Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askari (Imam Mahdi menurut kepercayaan Syi’ah).

Sunni, di sisi lain, mengabaikan keyakinan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada teks ilahi mengenai imamah. Mereka menganggap imamah masalah Fiqih (hukum Islam), bukan masalah yang berkaitan dengan iman.

Kelompok Sunni juga percaya bahwa Imam Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama.

Ayatullah Shariatmadari berpendapat bahwa orang memiliki hak untuk mengatur diri mereka sendiri dan memilih wakil-wakil mereka melalui pemungutan suara. Dia juga percaya bahwa hal itu tidak dibolehkan untuk satu orang atau kelas tertentu secara eksklusif dalam kepemerintahan. Pandangannya secara eksplisit menentang teori otoritas Faqeeh (ulama fiqh) yang ditegakkan oleh Ayatullah Khumeini. Ayatullah Muhammad Mahdi Shams-ud-Din dan Ayatullah Muhammad Husain Muntazeri juga di antara mereka yang memiliki pendapat berbeda tentang masalah ini.

Dr Al-`Awwa percaya bahwa itu adalah tugas ulama Sunni (khususnya mereka yang tertarik mendalami fiqh politik) untuk mencari tahu lebih jauh tentang pendapat mereka untuk selanjutnya diadopsi oleh ulama Syiah Imamiyah dari Ithna`Ashriyyah. Para ulama Sunni harus bekerja sama untuk mencari kesesuaian mengenai masalah ini, yang telah memicu pertikaian pertama di antara umat Islam setelah kematian Nabi.

Imam Mahdi yang ditunggu. Bagian dari perselisihan antara Sunni dan Syiah adalah karena keyakinan Syiah yang menunggu kedatangan Imam Mahdi atau Imam Al-`Askari (imam Syiah dua belas). Kelompok Syiah percaya bahwa imam Mahdi akan kembali sebelum Hari Akhir dan menyebarkan keadilan di seluruh dunia setelah terjadi ketidakadilan.

Kaum Sunni juga percaya bahwa Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama (Islam). Juga, sementara Sunni percaya bahwa semua orang bertanggung jawab terhadap dosa kecuali Nabi, Syiah percaya bahwa Mahdi sempurna.

Tuqyah atau Taqiyyah. Titik lain terjadinya perbedaan pendapat dalam hal keyakinan Syiah Imamiyah adalah Tuqyah. Taqiyyah umumnya berarti bahwa seorang Muslim menyembunyikan keyakinan atau keimanan karena dorongan keterpaksaan guna menyelamatkan dan menjaga jiwa, kehormatan maupun hartanya di tengah-tengah kejahatan yang dilakukan orang kafir. Pendapat ini didasarkan pada ayat berikut: 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. AI Imran :28)

Penghinaan terhadap sahabat. Penghinaan kaum Syiah terhadap sahabat Nabi merupakan titik perselisihan serius antara Sunni dan Syiah. Sebenarnya, sulit untuk mendamaikan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (ra.)” dengan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (semoga Allah mengutuknya)!”

Kaum Sunni tidak pernah menghina apapun; mereka mengutuk siapa pun yang melakukannya. Namun, fenomena penghinaan Syiah kepada sahabat berkurang seiring berjalannya waktu. Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, presiden Uni Internasional Cendekiawan Muslim, menegaskan bahwa kecenderungan menahan diri dari memaki-maki para sahabat mulai menyebar di Iran. Selain itu, pada hari-hari awal Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumeini mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengutuk para sahabat akan dianggap kafir.

Selain itu, Grand Mufti Mesir Dr Ali Jum’ah menegaskan bahwa edisi baru dari buku 110 jilid Bihar Al-Anwar (Seas of Lights) yang dicetak oleh Al-Majlisi di Beirut, Lebanon, Volume 29 sampai 33, termasuk pelanggaran kepada para sahabat.

Ini semua tentang politik. Sejarah membuktikan bahwa politik adalah alasan di balik perpecahan pertama di kalangan umat Islam. Ironisnya, hal yang sama berlaku di zaman modern ini yang membesar-besarkan perbedaan pendapat antara Sunni dan Syiah. Tanda-tanda pertama dari perpecahan muncul pada tahun 1979 setelah pecahnya revolusi Iran. Sementara revolusi ini mendapat dukungan dari banyak orang di seluruh Dunia Muslim, hal itu menimbulkan kekhawatiran dari beberapa penguasa.

Perang Iran-Irak (1980-1988) membuat situasi lebih buruk. Meskipun itu bukan perang Sunni-Syiah, namun perkelahian itu ditafsirkan banyak pihak mengarah pada dua kelompokk besar Muslim itu. Akibatnya, orang-orang Arab terpecah menjadi dua kelompok: satu mendukung orang-orang Arab melawan Iran dan yang lainnya melihat pertarungan sebagai perang agresi terhadap negara Islam yang menang atas Shah.

Setelah itu, Hizbullah di Lebanon muncul sebagai partai Syiah dan memimpin perlawanan Islam, yang memaksa Zionis dari Lebanon selatan pada tahun 2000. Pada akhir Juli 2006 Perang di Lebanon, Hizbullah mendapatkan popularitas lebih di Dunia Muslim. Para penguasa Arab, bagaimanapun, menunjukkan reaksi yang berbeda; beberapa penguasa Arab digambarkan sebagai petualangan perang yang salah perhitungan. Juga, manajemen yang efisien Iran terkait sengketa dan program nuklirnya memperkuat citra yang lebih positif dari Syiah.

Kesimpulannya, semua peristiwa ini memerlukan persatuan umat Islam, sehingga mereka akan mampu melindungi kepentingan seluruh umat Islam. Dialog dan pemulihan hubungan harus ada antara masyarakat itu sendiri, bukan mazhab, karena mazhab merupakan posisi hukum dan ideologi mapan yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, kerjasama dan saling mengenal antara masyarakat yang berbeda mahzab atau apa yang sering kita sebut dialog dan pemulihan hubungan—yang bertujuan untuk mencapai kesatuan dan kekuasaan di tingkat sosial, budaya, ekonomi dan politik sangat diperlukan kedua kelompok.  Wallahu A’lam Bishowab. [LS]

 

Sumber: OnIslam

Hubungan Antara Sunni dan Syiah

sunni_and_shia_unity_by_fatimach-d6viy0o-53aa3c9d550b6Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain.
Pemulihan hubungan dan dialog di sekolah atau pusat pendidikan yang mengedepankan pemikiran Islam bertujuan untuk menjaga “tubuh Islam”, agar Islam sebagai agama tetap hidup, koheren, dan kuat, sehingga umat Islam dapat menjaga umat dari musuh-musuhnya. Dalam Al Qur’an, Allah Swt. berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. Al-Anfal: 60)

Dengan demikian, kepatuhan terhadap pluralisme dalam Islam –dengan saling menghormati—terbukti dengan pandangan dan pemikiran yang berbeda—merupakan benteng kekuasaan. Sementara itu, mencoba untuk memaksakan pikiran atau pandangan tertentu pada orang lain merupakan jalan menuju kelemahan dan kehancuran. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah untuk meningkatkan persatuan Islam dan untuk melaksanakan perintah Allah Swt. yang tercantum dalam  Surat Ali Imron : 103.

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya, kamu menjadi bersaudara.”

Islam menyerukan semua orang untuk mengenal satu sama lain. Allah Swt. berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat 49:13)

Oleh karena itu, Sunni dan Syiah—kelompok terbesar dalam umat Islam—perlu mengenal satu sama lain. Cendekiawan Muslim terkemuka dunia, Dr Al-`Awwa menjelaskan secara singkat tentang keadaan historis yang menyebabkan perselisihan di kalangan umat Islam pasca kematian Nabi Muhammad Saw.

Setelah kematian Nabi, empat sahabat diasumsikan dalam kekhalifahan. Abu Bakar As-Siddiq terpilih sebagai khalifah pertama. Ia digantikan oleh Umar ibn Al-Khattab dan kemudian Utsman ibn Affan, yang kemudian dibunuh di tengah kerusuhan politik karena ketidaksetujuan masyarakat atas beberapa tindakannya.

Setelah itu, Ali ibn Abi Thalib diakui sebagai khalifah keempat, namun ada ketidaksepakatan di antara masyarakat mengenai posisinya. Beberapa menolak untuk mengakuinya sebagai khalifah, dan sebagian lain memberikan dukungan mereka untuknya. Kelompok ketiga, bagaimanapun, menganggapnya sebagai seorang imam dan khalifah yang sah. Ketidaksepakatan tersebut masih ada di zaman modern kita saat ini.

Selama kekhalifahan itu, Ali ibn Abi Thalib berselisih dengan Thalhah ibn Ubayd Allah dan Az-Zubair bin Al-Awam. Juga, berselisih dengan Mu’awiah bin Abi Sufyan. Pertengkaran ini memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

Perjuangan bersenjata antara Ali dan Mu’awiah membagi umat menjadi tiga pihak:

Pihak pertama berpihak pada Ali sepanjang dan setelah perjuangannya. Para anggota sisi ini kemudian dikenal sebagai Partai (Syiah) dari Ali. Nama itu kemudian dikurangi menjadi Syiah. Partai ini semakin pecah menjadi banyak golongan, yang sebagian besar tidak ada lagi. Kini, yang tersisa hanya dua kelompok tetap, yakni Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja`fariyyah) dan Zaidiyah.

Pihak kedua kemudian dikenal sebagai Al-Khawarij (pembangkang). Penamaan pada kelompok ini telah disematkan sejak awal. Namun, mereka tidak ada lagi. Hari ini, tidak ada jejak mereka yang dapat ditemukan.

Pihak ketiga adalah kelompok yang dikenal sebagai Ahl As-Sunnah Wal-Jama ah. Kelompok inilah yang kemudian menyasar sebagian besar umat Islam yang selama perang terpecah menjadi kelompok Ali dan Mu`awiyah. Namun, pada akhirnya, ketika Al-Hasan ibn Ali mengundurkan diri dari kekhalifahan mendukung Muawiyah, kedua kubu tersebut digabung menjadi satu partai.

Satu hal yang menjadi alasan utama di balik perpecahan tersebut di kalangan umat Islam adalah politik. Kemudian, meluas ke permasalahan keyakinan dan hukum. Masing-masing pihak memiliki konsep dan alasan tersendiri terkait pendapat mereka. [LS]

Sumber :Islam Indonesia

Menag Optimis Pengungsi Syiah Sampang Pulang Ke Kampung Halaman

IMG-20140805-WA0005Kunjungan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menumbuhkan harapan baru yang lama mengering akibat abainya pemerintah terhadap nasib pengungsi Syiah Sampang. Seperti diketahui para korban tindak kekerasan dan penyerangan yang kini menempati lokasi pengungsian itu, sudah mengalami distrust terhadap sejumlah janji pemulangan mereka ke tanah kelahirannya di Sampang.

Selasa Malam (5/8) ba’da Maghrib, rombongan Menteri Agama datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah Sampang di Rusun Jemundo Sidoarjo, Jawa Timur. Lukman Hakim selaku Menteri Agama yang baru menyatakan bahwa  masalah ini harus cepat diselesaikan agar tidak ada pihak ketiga yang memancing di air keruh. “Kita harus segera menemukan titik temu agar tidak ada pihak ketiga yang memanfaatkan,” ujar Lukman Hakim. Read More »

Seminar Internasional: Pesona Kedamaian Islam Nusantara

Dr.-Moh.-Husein-Safakhah-dan-Abdullah-BeikIslam Is Peace, menjadi tema seminar internasional “Pesona Kedamaian Islam di Nusantara” yang terselenggara atas kerjasama BEM Fakultas Aqidah Filsafat dengan pihak Ormas Islam Ahlulbait Indonesia. Senin (13/10) pagi acara itu dilaksanakan di kampus UIN Jakarta.

Isu perpecahan umat Islam serta perkembangan kelompok-kelompok radikal di kalangan umat Islam adalah salah satu alasan diselenggarakannya acara tersebut. Read More »