Berita International

Peringatan Asyura di Berbagai Negara

img_0087-544f1e713458cAsyura adalah hari kesepuluh Muharram. Di Jawa, Asyura dikenal dengan sebutan Suro. Hari yang bertepatan dengan peristiwa pembantaian cucu Nabi Husein bin Ali bin Abi Thalib di padang Karbala tahun 61 Hijriah (9-10 Oktober 680 Masehi) ini diperingati di berbagai belahan dunia.

Di sejumlah negara seperti Afghanistan, Iran, Azerbaijan, Irak, Lebanon, Bahrain, dan Pakistan, Asyura adalah hari libur nasional. Di semua negara itu Asyura diperingati dengan berbagai upacara keagamaan di samping juga pawai dan teater rakyat di jalanan kota-kota besar.

 

 

Peringatan 10 Muharram di Bahrain

Teater rakyat yang memperagakan peristiwa Asyura di Manama, Bahrain.

Khusus di Irak, Asyura dipusatkan di Karbala, tempat peristiwa pembantaian itu berlangsung sekaligus menjadi pusara Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keluarga serta sahabatnya yang ikut gugur dalam peristiwa itu. Jutaan orang dari seluruh Irak dan mancanegara berkumpul di sekitar makam untuk berziarah, mendengar pembacaan narasi peristiwa pembantaian yang dikenal dengan maqtal, hikmah Asyura, melakukan berbagai ritus  shalat dan doa serta mengadakan beragam acara budaya.

Di India yang merupakan negara sekuler dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, Asyura juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Masyarakat Turki juga sejak lama mengenang hari ini dengan berbagai upacara dan menyebutnya sebagai hari Asure.

Di Nusantara, Asyura juga sudah lama diperingati. Orang Jawa yang menyebutnya dengan Suro memperingati hari ini dengan berbagai upacara yang bertujuan meminta keselamatan dan membuang kesialan. Masyarakat Pariaman mengenang hari ini dengan upacara agung yang disebut dengan Tabuik.

Tabuik di Pariaman

Upacara Tabuik di Pariaman.

Pembuatan jenang di Yogya.

Pembuatan jenang di Pakualaman Yogyakarta untuk peringatan 10 Muharram.

Seluruh etnik dan komunitas agama di Trinidad dan Tobagoserta Jamaika berpartisipasi memperingati hari Asyuro. Mereka menyebut Asyura dengan “Hosay” atau “Hussay”, yang diambil dari nama “Husain”.

Peringatan 10 Muharram di Turki

Upacara Hosay di Port of Spain.

(MK/Islam Indonesia)

Sumber :Islam Indonesia

Pertanyaan Satier Anak Palestina Kepada Gembong Takfiri Al-ARifi

10526094_737749346271587_4791019672983660222_nSatu Islam – “Nama-ku Muhammad dari Gaza dan usia-ku 11 tahun. Saya berharap dapat mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu, Syaikh:

Apakah tanah dan batu-batu yang masuk kedalam mulutku akibat dari roket-roket yang yang jatuh itu, membatal-kan puasa-ku?

Begitulah bunyi pertanyaan yang ditujukan oleh seorang anak palestina kepada gembong terorist takfiri yang selama ini memprovokasi anak-anak muda untuk berjihad di suriah. Sebagaimana diketahui al arafi terlibat secara langsung dalam proses perekrutan dan penyebaran propaganda-propaganda kalangan oposisi suriah yang berniat melengserkan pemerintahan Bashar al-assad.

Baru-baru ini santer terdengar kabar perpecahan dikalangan pemberontak yang berakhir dengan kontak senjata atau bahkan saling sembelih. Da’i dan Ulama terkemuka Arab Saudi ini sempat menggugat surat kabar Inggris ‘Daily Mail’ atas pemberitaan yang merugikannya.

Ulama wahabi itu keberatan dengan pemberitaan Daily Mail yang menyebutkan bahwa Syaikh Al-Arifi memainkan peran dalam perekrutan Muslim Inggris untuk bertempur di Suriah. Ulama yang beberapa waktu lalu sempat ditahan pemerintah Saudi itu mengatakan dalam siaran pers yang dikeluarkan kantornya pada Selasa 24 Juni 2014 bahwa pihaknya telah menunjuk seorang pengacara Inggris untuk melayangkan gugatan tersebut.

Saat ini, gugatan itu tersebut telah sampai dan diterima pengadilan di Inggris. Dalam siaran pers itu, Syaikh Al-Arafi membantah semua tuduhan yang dilontarkan koran tersebut. Ia menegaskan bahwa kajiannya di Inggris diikuti oleh ribuan orang dari berbagai latar belakang budaya dan pemikiran. Al-Arafi mengaku tidak memiliki tanggung jawab atas pemikiran dan orientasi para peserta.

Al-Arafi,  tidak akan menyampaikan kajian kecuali para hadirin setuju dengan tema tersebut. Al-Arafi juga menunjukkan bahwa berita yang diturunkan Daily Mail tersebut mengacu pada ceramahnya beberapa tahun yang lalu, sebelum meletusnya konflik di Suriah. Ketika itu, ia menyampaikan kajian dengan temah ‘Ahklak Muslim dan Bagaimana Berdampingan dengan Barat’.

Dalam kajian itu, kata Syaikh Al-Arifi, lebih fokus membahas tentang pentingnya akhlak baik dan dakwah dengan bijaksana. Surat kabar Daily Mail menurunkan sebuah laporkan tentang tiga pemuda Inggris yang berangkat ke medan tempur Suriah. Belakangan diketahui, ketiga pemuda itu aktif di sebuah masjid yang pernah dikunjungi Syaikh Al-Arafi. Laporan itu menuduh bahwa kajian Syaikh Al-Arifi mendorong orang untuk berjihad ke Suriah.

Namun fakta-fakta yang terkumpul mengenai keterlibatan gembong takfiri ini baik berupa video ceramah dan pernyataan-pernyataan terbuka al arafi sepanjang masa konflik bersenjata antara pemerintah suriah dan pemberontak tidak dapat menutupi kebohongan yang di lontarkan melalui tuntutan hukum tersebut. Pertanyaan anak palestina kepada Al Arafi ini jika diselami bukanlah pertanyaan yang berangkat dari sikap keluguan, melainkan pertanyaan Satier yang ingin mengungkap hipokrasi pola keberagamaan yang di anut oleh al arafi. LONG LIVE PALESTINE!!

 

Sumber :Satu Islam

Pendeta Koptik Mesir : Islam Bukan Ekstremis

Pendeta-Koptik-Mesir-200x300Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), sebagai organisasi yang bertujuan untuk dialog antar iman, demokrasi dan kedamaian menggelar dialog pada hari Selasa (16/9) dengan seorang tokoh agama Kristen Koptik Mesir Abuna Youhanna Bestawros. Orthodok Koptik adalah Gereja Alexandria yang merupakan salah satu dari tiga kepatriakan tradisional yang kanonik setetal Roma dan Antiokhia.

Dalam dialog yang dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh lintas agama, seperti Islam, Kristen, Konghucu dan juga Sinkh, Bapa Youhanna menyingung soal ekstremisme yang terjadi di Mesir, yang setelah gejolak politik Mesir sering disematkan pada umat Islam.

Menurut Bapa Youhanna, ekstremisme itu bukanlah bagian dari Islam, sebab umat Islam beriman pada Al-Quran. Jika ada umat Islam yang melakukan tindakan ekstremis, maka sesungguhnya mereka sedang membuat orang-orang takut kepada Islam dan Al-Quran tidak mengajarkan hal itu.

“Islam tidaklah seperti itu,” terang Bapa Youhanna.

Dia ambil contoh Mesir sebagai sebuah negara yang besar dan memiliki Universitas Islam terbesar seperti Al-Azhar, kehidupan beragama antara umat Islam dan Kristen cukup harmonis. Walaupun terdapat dari mereka yang berpindah agama, dari Kristen ke Islam dan sebaliknya, namun hal tersebut tidak mengganggu keharmonisan di antara mereka.

Yang menjadi masalah menurut Bapa Youhanna adalah ketika para ekstremis datang ke Mesir dan mencoba untuk merusak indahnya kerukunan yang ada di Mesir, dengan menggunakan kekuatan dan pedang. Hal tersebut dapat mengganggu keharmonisan masyarakat yang ada. Namun terlepas dari itu, sebagian besar dari masyarakat Mesir tidak memiliki masalah untuk hidup bersama antara umat Islam dan Kristen.

Sebagai sebuah negara yang besar dan penuh ragam, Indonesia tentu juga tidak luput dari permasalahan terkait kerukunan umat beragama. Maka berbagi cerita terkait kerukunan umat beragama dengan tokoh agama dari negara lain akan memberi pembelajaran bagi umat beragama Indonesia untuk dapat lebih mengembangkan kerukunan umat beragama yang terjalin selama ini. Apalagi Mesir memiliki catatan pergolakan kerukunan antar umat beragama dua tahun terakhir terkait dengan pergolakan politik yang terjadi di sana. (Lutfi/Yudhi)

Sumber : Abi Press