Berita International

Pesan Imam Khomeini ra Pasca Demonstrasi di bulan Muharram

imam-khomeiniMenyusul turunnya rakyat ke jalan-jalan melakukan pawai akbar pada Tasua dan Asyura tahun 1399 Hq yang bertepatan dengan tanggal 19 dan 20 Azar 1357, Imam Khomeini ra pada 21 Azar 1357 (12 Desember 1978) mengeluarkan pesan pentingnya. Dalam pesannya Imam menyebut pawai akbar itu sebagai referendum bangsa Iran yang anti terhadap rezim Shah Pahlevi.

Imam Khomeini ra dalam pesannya mengatakan, “Kepada seluruh rakyat pemberani Iran saya mengucapkan salam. Kalian adalah rakyat yang memiliki tekad baja dan dengan slogan yang kalian ucapkan telah membuktikan kepada dunia bahwa kalian tidak menginginkan Shah. Bersamaan dengan pawai akbar kalian, dalam pesan kepada Tehran dan negara-negara di dunia, saya mengumumkan bahwa pawai akbar yang dilakukan selama dua hari ini merupakan referendum besar dan transparan bahwa bangsa Iran tidak menginginkan Shah Pahlevi. Rakyat dalam pawai akbar ini telah menyatakan tidak mengakui Shah. Pawai akbar ini telah mencerabut segala bentuk alasan dari setiap orang dan semua negara di dunia bahwa mereka tidak dapat lagi mengklaim bahwa Shah sebuah rezim legal.” (IRIB Indonesia)

Sumber :Irib

350 Ulama Islam dari 80 Negara Berkumpul di Qom

4dde694bd4ccc9290f6574312a8306bcKonferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam sedang berlangsung di Qom [23-24/11]. Kurang lebih 350 ulama Islam sedunia dari 80 negara menghadiri konferensi tersebut.

Menurut Kantor Berita ABNA, Konferensi Internasional Gerakan Ekstrimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam sedang berlangsung di Qom Republik Islam Iran [23-24/11]. Kurang lebih 350 ulama Islam sedunia dari 80 negara menghadiri konferensi tersebut. Berikut foto-foto saat para tamu sedang memasuki tempat acara di Internasional Rasul Akram Saw di Madrasah Ilmiah Imam Kadzhim As Qom yang memuat kapasitas seribu orang.

Tampak pada gambar, KH. Alawi Nurul Alam al Bantani, delegasi dari PB Nahdatul Ulama, Prof. Dr. H. A. Qadir Gasing, Rektor UIN Alauddin Makassar dan Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, MA Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar.

Sumber :Abna.ir

Rahbar: Iman dan SDM, Dua Keharusan dari Kekuatan Sejati

aks_rahbarRahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, kaharusan dari kekuatan sejati di angkatan bersenjata adalah sumber daya manusia unggul dengan pendidikan modern dan peralatan canggih  serta dibarengi dengan keimanan, tekad baja, rasa tanggung jawab dan wawasan.

Ayatullah Khamenei Senin (17/11) dalam acara sumpah dan tadan pangkat taruna Universitas Militer Imam Ali menekankan urgensitas pendalaman terhadap isu kekuatan di angkatan bersenjata. “Jumlah besar pasukan dan pendidikan tinggi serta peralatan militer yang canggih tidak manjadi jaminan bagi kekuatan angkatan bersenjata di sebuah negara, namun harus dibarengi dengan motivasi, spiritualitas dan tekad baja serta rasa tanggung jawab terhadap perilaku dan orientasi,” tegas Rahbar.

Rahbar seraya mengisyaratkan kapasitas spiritual dan kemampuan sains serta kekuatan inisiatif dan tekad baja militer Iran selama delapan tahun perang pertahanan suci mengingatkan, “Dunia memperhitungkan kemampuan militer Republik Islam Iran dan mereka serius dalam hal ini, karena  mereka menyadari bahwa di mana rasa tanggung jawab dan panggilan tugas maka militer Iran akan bertempur hingga titik darah penghabisan.”

Rahbar juga menilai dunia saat ini haus akan pesan kebebasan. “Arogan dunia berusaha dengan memanfaatkan seni, politik dan militeralisasi serta berbagai sarana yang lain, untuk mencegah terdengarnya suara seruan Islam yang murni. Namun seruan ini telah terdengar dan indikasinya adalah ketakutan kekuatan arogan dunia yang semakin besar,” tekan Rahbar.

Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di bagian lain pidatonya menekankan bahwa umat manusia kini sangat membutuhkan pesan-pesan Islam yang dibawa oleh bangsa Iran. “Kekuatan arogan dunia yang sangat khawatir dengan pengaruh pesan kebebasan yang disuarakan Islam serta terancamnya kepentingan mereka, memanfaatkan seluruh sarana khususnya seni untuk menakut-nakuti rakyat dunia dari Islam.

Ayatullah Khamenei menyebut pembentukan kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Islam dan pemerintah Islam, pembantaian massal warga tak berdosa oleh milisi ini sebagai contoh lain metode yang dimanfaatkan musuh untuk menebar Islamphobia.

“Pesan Islam yang murni bagi umat manusia adalah pesan ketenangan, kehormatan, kemuliaan serta kehidupan yang aman. Kubu arogan dunia tidak ingin berbagai bangsa dunia mendengar pesan ini,” tegas Rahbar. (IRIB Indonesia/MF/RM)

 

Sumber :Indonesia Irib

Mengenal Zanjan; Ibu Kota Peringatan Duka Imam Husein as

Oleh: Emi Nur Hayatizanjan_rakhtshui_kahneh

 

Slogan ‘Haihata Minna Dzillah…Pantang Hina’ adalah slogan para pecinta Abu Abdillah Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw. Detik-detik peristiwa Karbala seakan tidak mau mundur dan berlalu, bahkan dari masa ke masa semakin tumbuh dan merekat di hati umat Muhammad yang mencintai keluarga nabinya.

Sekali lagi tibalah tanggal 8 Muharram 1346 Hq bertepatan dengan 2 November 2014. Setiap tahun pada tanggal ini penduduk kota Zanjan mengadakan acara peringatan duka untuk para syuhada Karbala. Tanggal 8 Muharram ini diperingati sebagai hari khusus untuk Abu Fadhl Abbas, yang dikenal dengan Yaumul Abbas, hari Abbas. Para pecinta keluarga Rasulullah Saw dari berbagai kota bahkan dari berbagai negara lain datang ke kota ini untuk hadir mengikuti acara duka Asyura. Acara duka untuk memperingati syahadah keluarga Rasulullah Saw yang dibantai oleh manusia-manusia durjana yang mengklaim dirinya sebagai Umat Muhammad Saw.

Di hari ini para pecinta keluarga Rasulullah memperingati duka syahadah syuhada Karbala dalam bentuk barisan besar dan pawai di jalan utama kota Zanjan. Pawai acara duka ini dimulai dari masjid Huseiniyeh Azam dan berakhir di makam Imam Zadeh Ibrahim. Acara ini berakhir seiring dengan dikumandangkannya azan Maghrib. Tentunya acara duka ini akan berlanjut pada hari berikutnya yaitu hari Tasua sampai pada puncaknya hari syahadah Imam Husein as di hari Asyura dan malam keterasingan Ummul Mashaib, ibu segala musibah, Sayidah Zainab as bersama tawanan lainnya.

Kota Zanjan setiap tahun menjadi tuan rumah ratusan ribu para pecinta keluarga Rasulullah Saw. Jumlah peserta yang hadir mencapai lima ratus ribu orang. Kota Zanjan pada hari itu sangat ramai. Semua datang untuk menunjukkan rasa cintanya kepada Abu Fadhl Abbas. Tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil, semua datang, seakan-akan kita berpikir bahwa tidak ada seorangpun yang tinggal di rumah. Semuanya keluar untuk menghadiri acara hari Abbas dan mengingat keberaniaannya dengan menyuarakan slogan ‘Aku adalah Abbas, pembawa panji kebangkitan’Pengikut garis Husein wassalamHaihat Minna Dzillah dan slogan-slogan lainnya seperti Ya Husein!!!

Sebagian dari mereka yang ikut hadir dalam acara ini untuk menunaikan nazarnya karena hajatnya yang sudah terkabulkan. Mulai dari mereka yang punya hajat ingin memiliki anak sampai mereka yang berkeinginan untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya dan lain-lain.

Sebagian para peserta acara duka ini menyerahkan kambing korban ke masjid Huseinieh Azam Zanjan untuk disembelih. Masjid Huseinieh Zanjanlah yang mengelola acara spiritual ini. Pada tahun 1389 Hs, kambing korban telah mencapai 12 ribu ekor. Itulah mengapa kota Zanjan ini dikenal sebagai kota tempat korban kedua setelah kota Mina di Dunia Islam.

Peserta lainnya juga ada yang menghadiahkan uang, emas, beras, gula dan lain-lain. Para petugas yang menerima hadiah dan nazar memakai seragam yang sama demikian juga para petugas penyembelih kambing korban. Bahkan mereka sudah menyiapkan POS (pos hand book) untuk menerima tranferan uang dari para pemberi hadiah dan nazar yang tidak perlu lagi membawa uang tunai.

Peringatan acara duka Yaumul Abbas ini pada 15 Dey 1389 Hs tercatat sebagai warisan tak bendawi negara yang ke 10 dalam warisan budaya Iran.

Warga Zanjan hadir dalam acara duka putra Zahra as untuk mengatakan, ‘selama suara Ya Husein tetap ada di dalam mulut setiap pecinta keluarga Rasulullah, maka peristiwa Karbala dan keteraniayaan Imam Husein dan keluarganya yang suci tidak akan terlupakan.

Tetesan air mata sebagai rasa cinta kepada Imam Husein dan keluarganya yang suci menjadi harapan untuk mendapatkan syafaatnya di dunia dan akhirat, sembari menjadikan ibunya putri semata wayang Rasulullah Saw sebagai perantara untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt dan menjadikannya sebagai peziarahnya di mana saja kita berada. (IRIB Indonesia)

Sumber :Indonesia Irib

Boroujerdi: Melawan Ketamakan AS, Strategi Permanen Iran

miriam20111102160345390Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri, Majelis Syura Islam Iran menilai resistensi dalam menghadapi ketamakan Amerika Serikat di berbagai bidang termasuk dalam proses perundingan nuklir, adalah strategi permanen Iran.

Alaeddin Boroujerdi, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran dalam wawancaranya dengan IRIB World Service (13/11) mengatakan, “Selama Amerika tidak menyusun jalur perundingan agar sesuai dengan kebijakan dua arah dan yakin bahwa Iran harus menyerah pada pandangan mereka, maka perundingan tidak akan pernah berhasil.”

Ia menjelaskan, “Iran dalam beberapa tahun terakhir berhasil mengatasi dengan baik sanksi-sanksi dan mampu mencapai sejumlah keberhasilan signifikan di bidang nuklir sekalipun dijepit banyak pembatasan-pembatasan. Oleh karena itu jika Amerika terus melanjutkan strategi lamanya, maka pihak yang kalah sebenarnya adalah mereka.”

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran berharap dalam putaran baru perundingan nuklir Iran dan Kelompok 5+1, masyarakat internasional akan menyaksikan sikap yang lebih rasional Amerika Serikat terkait hak nuklir Iran dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan final. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :Indonesia Irib

Ringkasan Pidato Rahbar di Hadapan Para Petugas Haji Iran

aks_rahbarPemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai ibadah haji sebagai kesempatan terbaik untuk menghadapi konspirasi untuk memisahkan Iran dari Dunia Islam, menjawab keraguan-keraguan dan propaganda musuh Islam, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan maknawi serta pemikiran umat.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Selasa (28/10) dalam pertemuannya dengan petugas haji tahun ini menegaskan, “Perencanaan untuk meningkatkan kinerja pelayanan haji dengan visi transformatif dan inovatif guna memenuhi kebutuhan maknawi dan intelektual umat, juga untuk menjawab keraguan dan propaganda musuh adalah sesuatu yang urgen.”

Ia menambahkan, “Membangun tembok untuk memisahkan Iran dan Dunia Islam merupakan salah satu langkah musuh persatuan umat Islam, dan semua harus menggunakan kesempatan haji dengan sebaik-baiknya sebagai medan umat Islam untuk meruntuhkan tembok ini dan merubah gambaran serta keyakinan keliru akibat propaganda musuh.”

Ayatullah Khamenei menganggap penting persatuan Islam sebagai kebutuhan nyata hari ini Dunia Islam. “Persatuan dan persaudaraan di antara umat Islam merupakan bagian dari ajaran Islam dan dalam hal ini, Iran tidak berkompromi dengan siapapun,” tegasnya.

Menurutnya, persatuan Islam bukan berarti berpindah keyakinan mazhab Islam. “Persatuan Islam yang merupakan slogan mendasar Republik Islam Iran, yaitu, umat Islam satu sama lain tidak bermusuhan dan saling membantu dalam masalah-masalah penting dunia,” katanya.

Ayatullah Khamenei juga menekankan urgensi mengenal potensi kerugian dan menemukan faktor-faktor efektif dalam menyikapi propaganda musuh. (IRIB Indonesia/HS)

Sumber :< a href=”http://indonesian.irib.ir/iran/rahbar/item/87136-ringkasan-pidato-rahbar-di-hadapan-para-petugas-haji-iran”>Indonesia Irib

Mengenang Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy

said-ramadhanDekat penguasa bukan berarti menjilat. Ia memanfaatkan kedekatan itu dalam rangka amar makruf nahi munkar. Ketika kecil Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy tinggal di perbatasan Iraq-Suriah-Turki, bersama ayahnya tercinta, Syaikh Mulla Ramadhan Al-Buthy. Karena kekhalifahan Al-Utsmani jatuh, lalu Ataturk berkuasa, dan memerangi syariat Islam, maka Syaikh Mulla mengajak Al-Buthy hijrah ke Damaskus.

Sejak tinggal di Damaskus, Al-Buthy langsung digembleng ayahnya sendiri, yang merupakan ulama besar waktu itu. Saat usianya menginjak sekolah dasar, sang ayah mengajarkan sejarah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kitab Dzakhirah Al-Labib fi Ma’rifati Al-Habib. Setiap hari sang ayah juga mengajarkan tafsir al-Qur`an hingga 5 sampai 6 ayat. Dalam ilmu nahwu, sang ayah juga mewajibkan Al-Buthy menghafal bait-bait Alfiyahnya Ibnu Malik, hingga mampu menghafalnya kurang dari satu tahun. Dan dalam usia belum baligh, dia sudah hafal Nadzam Ghayah wa At-Taqrib karya Al-Imrithi yang jumlahnya lebih dari seribu bait.

Lulus ibtidaiyah, ayahnya mengirim Al-Buthy kepada ulama besar Suriah, Syaikh Hasan Habanakah Al-Maidani. Maka tak heran bila ayah dan Habanakahlah yang sangat mempengaruhi kehidupan Al-Buthy. Hal ini terlihat dari sikap dan penghormatan Al-Buthy kepada sang ayah.

Dr Ahmad Bassam, Rektor Universitas Ladzikiyah berkisah. Suatu kali Al-Buthy meminta izin kepada sang ayah melalui telepon saat hendak memperpanjang kunjungan ke Ladzikiyah. Ketika sang ayah tidak mengizinkan, ia menurut begitu saja, tanpa ada upaya diplomasi untuk memperoleh izin. Padahal, saat itu usia Al-Buthy sudah 40 tahun dan menjadi Dekan di Univeristas Damaskus!

Dari Habanakah, Al-Buthy mengambil pelajaran terkait sikapnya kepada penguasa. Habanakah pernah diajak oleh beberapa ulama lain untuk melakukan gerakan melawan pemerintah. Namun ia menolak. Seorang ulama bertanya kepadanya, mengapa menolak?

Lalu Habanakah balik bertanya, ”Siapa yang menggerakkan aksi itu. Apakah kalian sendiri yang menggerakkannya?” Si penanya menggelengkan kepala. Belakangan terkuak, penggerak aksi demo itu tak lain adalah intelijen sendiri. Pelajaran itulah yang diambil oleh Al-Buthy, tidak mudah bergabung dengan gerakan anti pemerintah jika tidak jelas siapa yang menggerakannya.

Di saat berada di bawah bimbingan Habanakah, para guru mendorongnya untuk menghafal al-Qur`an, namun sang ayah melarangnya karena besarnya dosa mereka yang menghafalkan tetapi melupakannya. Namun karena Al-Buthy dasarnya gemar membaca al-Qur`an, dalam 3 hari dia berhasil menghatamkan 30 juz.

Pada umur 18 tahun Al-Buthy menikah. Lalu pada tahun 1954 dia melanjutkan belajar ke Al-Azhar Mesir. Pada saat menjadi mahasiswa, Al- Buthy rajin menulis artikel sastra dan masalah sosial kemasyarakatan ke koran Al-Ayyam.

Setelah memperoleh gelar sarjana dalam bidang fiqih dan ushul fiqih, Al- Buthy ditunjuk menjadi dosen di Universitas Damaskus. Pada tahun 1977, dia diangkat menjadi Dekan Fakultas Aqidah.

Al-Buthy jauh dari kehidupan luar, karena sibuk mengajar, baik di Universitas Damaskus mapun di beberapa masjid seperti Masjid Tinkiz dan Masjid Al-Iman dan Masjid Al-Umawi. Hal itu berlaku hingga tahun 1981.

Tetap Memegang Prinsip

Pada tahun 1985 terjalin hubungan khusus antara Al-Buthy dengan Presiden Suriah Hafidz Al-Assad. Hubungan itu terbangun dengan dipanggilnya Al-Buthy oleh Hafidz Al-Assad, setelah dia membaca beberapa buku karya Al-Buthy. Setelah itu, Al-Buthy sering menghadiri undangan khusus dari Hafidz Al-Assad.

Dari hubungannya itu, Hafidz Al-Assad yang sebelumnya dikenal amat keras terhadap gerakan Islam langsung membebaskan puluhan tahanan politik dari para aktivis Islam, terutama Al-Ikhwan Al-Muslimun. Dengan kejadian itu, Al-Ikhwan yang sebelumnya mengkritik keras sikap Al-Buthy berbalik memberikan penghormatan. Salah satu tokoh Al-Ikhwan yang mengakui hal ini adalah Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Al-Buthy juga mengkritik gerakan perlawanan aktivis Muslim di Aljazair. Kritik itu dituangkan dalam sebuah buku berjudul Al-Jihad fi Al-Islam.

Ternyata banyak pihak yang menentang buku itu. Tetapi tiga tahun kemudian, para pengkritik membenarkan pendapat Al-Buthy setelah mengetahui bahwa dalang peristiwa Aljazair adalah intelijen Perancis.

Al-Buthy juga tetap konsisten. Amar makruf nahi munkar juga terus dia tunjukan kepada pemerintah di masa Bashar Al-Assad (anak Hafidz Al-Assad), Presiden Suriah sekarang. Baik secara terang-terangan maupun langsung. Kritiknya terhadap kurikulum yang jauh dari Islam, serial TV pemerintah yang isinya merendahkan nilai-nilai Islam, hingga kasus pemecataan beberapa guru yang memakai cadar.

Pada kasus terakhir, Al-Buthy terang-terangan menyampaikan kritik dan mengajak Pemerintah dan umat Islam bertaubat, karena di saat yang sama pemerintah mengumumkan agar umat Islam melaksanakan shalat Istisqa’. Alhamdulillah, pemerintah pun mengubah kebijakannya setelah kritikan itu.

Para pengamat juga menilai bahwa keputusan Pemerintah Suriah mendukung organisasi perlawanan Palestina juga karena pengaruh Al-Buthy.

Meski demikian, Al-Buthy bukanlah ulama yang mendapat gaji dari pemerintah seperti mufti negara dan mufti wilayah atau pegawai bidang keagamaan. Bahkan dia menolak dimasukkan dalam Kementerian Perwakafan Suriah.

Dia juga sempat ditawari menjadi pengisi tetap siaran di televisi Aljazeera dan pernah diminta menjadi pengajar sebuah universitas di luar Suriah, dengan tempat tinggal yang nyaman dan memperoleh uang yang lebih dari cukup. Namun, Al-Buthy lebih memilih mengajar di masjid-masjid Damaskus, yang telah dia lakukan selama lebih dari 40 tahun. Al-Buthy menaggapi tawaran itu dengan menyatakan, ”Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy malu jika dihadapan Allah ditanya mengenai nasib 5 ribu pencari ilmu yang ditinggalkan karena mencari dunia”.

Ulama yang juga menjadi ketua Ikatan Ulama Negeri Syam ini akhirnya tetap dalam posisinya, sebagai pengajar di beberapa masjid di Damaskus dan kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan sedang mengajar.

Dia meninggalkan lebih dari 60 karya, seperti Tarikh Dirasat Al-Quraniyah (3 jilid), Syarh Al-Hikam Al-Athaiyah (5 jilid), Qadhaya Fiqhiyah Muashirah (2 jilid), Ma’a An-Nas Musyawarat wa Al-Fatawa (2 jilid), Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah dan lain-lain. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal kebaikannya dan mengampuni semua kesalahannya. Aamiin (Liputan Islam/ AF)

Sumber :Liputan Islam

[Sebuah Kesaksian] Indahnya Akhlak Asy Syahid Syeikh al-Buthi

syeikh-buthi-2-278x300LiputanIslam.com– Dalam satu pertemuan,  (alm) Presiden Hafez al-Assad curhat kepada (Asy Syahid) Syeikh al-Buthi tentang kampung halamannya Latakia (orang Suriah menamakannya Mantiqah Jabaliyah, mayoritas penduduknya sekte Alawiyin atau lebih dikenal dengan Nushayriyah).

“Doktor, apakah sekarang ada para mahasiswa dari sekte Alawiyin yang belajar di Fakultas Syariah Universitas Damaskus yang Anda pimpin sekarang?”

Syeikh al-Buthi menjawab, “Tidak ada satu orangpun.”

Lalu Presiden berkata, “Apakah Anda akan menerima mereka jika saya memberi mereka beasiswa tiap tahun kepada 40-50 orang anak berbakat dari sekte Alawiyin agar bisa masuk ke Fakultas Syariah? Karena masalah yang dihadapi masyarakat di kampung halaman saya adalah jahil (kebodohan), tidak ada yang mengajari mereka. Kalau mereka berteman dengan orang Sunni mereka menjadi Sunni. Kalau berteman dengan Syiah maka akan jadi Syiah. Kalau berteman dengan Kristen ya jadi Kristen. Bahkan jika berteman dengan atheis, mereka akan jadi atheis. Hal ini benar-benar membuat saya bersedih, jadi saya sangat berharap Anda bisa menerima mereka.”

Syeikh al-Buthi menjawab, “Wahai Bapak Presiden seharusnya tanggung jawab kami untuk datang kepada mereka, dan kalau Anda mau melakukan itu seharusnya kami yang berterima kasih.”

Dan tahun ajaran selanjutnya beasiswa mulai berjalan, sekitar 40-50 mahasiswa utusan dari sekte Alawiyin terdaftar di kuliah di Fakultas Syariah.

Suatu hari saat Syeikh al-Buthi keluar dari kelas, salah satu mahasiswi yang menerima beasiswa, menghampiri beliau dalam keadaan menangis dia bertanya, “Ustadz, saya dengar dari orang-orang, kami sekte Nushayriyah bukan orang Islam, apa benar seperti itu?”

Syeikh al-Buthi balik bertanya, “Bukankah kamu mengucap syahadat?”

“Iya, saya juga shalat 5 waktu,” jawab mahasiswi tersebut sambil terus menangis.

Air mata Syeikh al-Buthi mulai menetes lalu beliau berkata kepada mahasiswi itu, “Kalau begitu kamu seorang muslimah, dan bahkan kamu jauh lebih baik daripada saya. Tolong doakan saya.”

*****

Tanpa kita sadari betapa zalimnya kita, kita sadari atau tidak kita sering membuat orang lain merasa kalau mereka tidak pantas menjadi muslim, dengan mudahnya kita sambil bersender dan minum kopi pahit, lalu update status dan memvonis mereka dengan cap kafir, bajingan, fasiq, taghut, zalim, sesat, tanpa pernah sekalipun kita mencoba berdakwah secara baik-baik kepada mereka.

Bahkan kita memvonis hanya bermodal info dari YouTube, Google, dll, tanpa sekalipun bertemu mereka, atau membaca buku-buku yang menjadi rujukan mereka.

Apakah seperti ini ajaran Islam? Apakah dulu Rasul Saw seperti itu ketika berdakwah? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sudah sangat jauh dari agama?

Sumber :Liputan Islam

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (2)

qaeda1-53fcafebd4e63Setelah menyodorkan sejumlah referensi yang mendukung asumsinya, Hasan melanjutkan argumennya: alih-alih berpijak pada motif-motif religius, terorisme lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor radikalisasi yang lain. Di antaranya, kemarahan moral, kekecewaan, tekanan kelompok sebaya, krisis identitas, hiangnya rasa memiliki dan tujuan hidup.

Antropolog Scott Atran meringkaskan motif-motif itu dalam kesaksiannya di Senat AS, Maret 2010 lalu: “… Apa yang menginspirasi para teroris paling mematikan di dunia saat ini bukanlah Al-Qur’an atau ajaran-ajaran agama, melainkan dorongan dan gairah menggelora untuk melakukan aksi yang menjanjikan kejayaan dan kehormatan di mata teman-teman sebaya, dan melalui mereka, penghargaan dan kenangan abadi di dunia yang lebih luas.” Atran melukiskan para calon jihadis sebagai remaja yang “dirundung kejenuhan, kurang pekerjaan, kelebihan sanjungan dan kurang gairah” yang melihat “jihad sebagai sesuatu yang egalitarian, kesempatan kerja yang setara… penuh keseruan, kejayaan dan keasyikan.”

Atau, mengutip Chris Morris, penulis dan sutradara komedi hitam produksi 2010 berjudul Four Lions—yang mensatirkan kedunguan, kekonyolan dan keluguan murni beberapa jihadis Muslim asal Inggris—pernah menyatakan: “Terorisme memang berkaitan dengan ideologi, tapi lebih banyak lagi berkaitan dengan kedunguan.”

Orang-orang lugu, bukan para martir—itulah mereka.

“Sosok-sosok dungu,” kata kepala MI6 Richard Dearlove, bukan pejuang-pejuang suci. Jika kita ingin menangani jihadisme, kita perlu berhenti membesar-besarkan ancaman remaja ini dan memberi oksigen ketenaran dan kemasyhuran yang mereka idam-idamkan, lalu mulai menggarisbawahi bagaimana banyak dari mereka benar-benar hidup bertentangan dengan aturan Syariat di luar dinas “jihad” mereka.

Semasa hidup di Filipina tahun 1990-an, Khalid Sheikh Mohammed, yang digambarkan sebagai “arsitek utama” serangan 11 September oleh Komisi 9/11, pernah menerbangkan helikopter di atas gedung kantor tempat pacarnya bekerja dengan spanduk bertuliskan “I love you.” Keponakannya, Ramzi Yousef, yang divonis penjara seumur hidup karena perannya dalam aksi teror World Trade Center 1993, juga punya pacar dan, seperti pamannya, kerap terlihat di daerah pelacuran Manila. Agen FBI yang memburu Yousef mengatakan bahwa dia “bersembunyi di balik jubah Islam.” Sejumlah keterangan saksi mata menyatakan bahwa para pembajak 9/11 sering mengunjungi bar dan klub tari telanjang di Florida dan Las Vegas beberapa saat sebelum melakukan aksi teror mereka. Para tetangga Hamid Ahmidan—terpidana kasus peledakan kereta di Madrid tahun 2004—mengenangnya sebagai “pria yang suka berkeliling dengan motor dengan pacarnya yang berambut panjang, wanita Spanyol yang berselera mengenakan busana super ketat,” menurut berbagai laporan media.

Agama, sudah tentu saja, memainkan peran penting dalam semua ini, terutama bentuk Islam yang diselewengkan dan dipolitisasi menjadi “kendaraan emosional”, sebagai sarana mengartikulasi kemarahan dan memobilisasi massa di belahan dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tapi, prasangka bahwa bahaya itu datang dari mereka yang taat beragama dapat menghilangkan nyawa yang tak berdosa. Harus ada penawar generalisasi yang kian mengharu-biru media. Bahwa tidak semua Muslim itu Islamis, tidak semua Islamis itu jihadis dan sebagian terbesar semua jihadis justru tidak taat dalam beragama. Mengklaim sebaliknya bukan saja tidak akurat dan melenceng tapi juga dapat mengakibatkan korban jiwa yang tak berdosa.

Kesimpulannya, menurut Hasan, di dunia nyata, bukan dunia yang dibentuk media, calon-calon jihadis umumnya justru tidak begitu paham agama, tidak taat menjalankannya dan memiliki motif-motif yang justru dikecam oleh agama, seperti mencari kemuliaan kemasyhuran pribadi dan sejenisnya. Di sisi lain, aparat keamanan dan hukum juga harus mulai membaca buku-buku yang mengambil perspektif lain tentang para jihadis tersebut dan menonton—setidaknya—film-film sejenis The Four Lions yang memperlihatkan para calon pejuang suci dari sudut pandang yang terbalik.

Sumber :Islam Indonesia

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (1)

qaeda1-53fcafebd4e63Bisakah Anda menerka bahan bacaan macam apa yang dipesan dua teroris Yusuf Sarwar dan Mohammed Ahmed dari Amazon sebelum mereka berangkat dari Birmingham untuk berjihad di Suriah, Mei silam? Tidak mudah. Mereka tidak membaca karya-karya ideolog macam Sayyid Qutb, pesan-pesan Usama bin Laden, buku-buku kaum anarkis atau sejenisnya. Tidak.

Sarwar dan Ahmed, yang sama-sama telah menyatakan bersalah atas tuduhan terorisme, membeli buku pengantar Islam berjudul Islam for Dummies dan The Koran for Dummies. Kedua buku ini menunjukkan tingkat pemahaman Islam kedua “mujahid” tersebut. Dua karya tingkat dasar itu mengukuhkan lebih jauh argumen yang menyatakan bahwa ajaran Islam nyaris tidak berhubungan dengan gerakan jihad modern.

Kaum remaja Muslim bermata nanar yang terlihat menikmati penyembelihan dan pemboman sadistis itu boleh jadi berupaya menjustifikasi aksi-aksi kekerasan mereka dengan retorika religius— seperti aksi-aksi eksekusi mati dan penyembelihan mereka yang selalu dimeriahkan oleh teriakan “Allahu Akbar”; ISIS yang menyembelih fotojurnalis James Foley sebagai bagian dari “jihad”. Tapi, faktanya, semangat agama bukan yang paling besar memotivasi mereka.

Mehdi Hasan, kolumnis dan pemerhati masalah agama, membeberkan kesahihan argumen di atas. Pada tahun 2008, sebuah catatan rahasia ihwal radikalisasi, yang dipersiapkan oleh unit sains perilaku lembaga MI5, bocor ke koran The Guardian. Catatan itu menyebutkan, “jauh sikap dari orang-orang yang taat beragama, sejumlah besar mereka yang terlibat dalam terorisme tidak mengamalkan ajaran agama secara teratur. Banyak dari mereka minim pengetahuan agama dan dapat dianggap sebagai awam dalam agama.” Para analis di lembaga itu menyimpulkan bahwa “identitas agama yang mapan justru dapat mencegah radikalisasi yang keras,” tulis koran tersebut.

Untuk pembuktian yang lebih banyak, bacalah buku-buku psikiater forensik dan mantan petugas CIA, Marc Sageman; ilmuwan politik Robert Pape; sarjana hubungan internasional Rik Coolsaet; pakar Islamisme Olivier Roy; antropolog Scott Atran. Mereka semua telah mempelajari kehidupan dan latarbelakang ratusan jihadis (mujahid) penggemar bedil, pelempar bom dan penyembelih leher. Dan semua pakar itu sepakat bahwa Islam sama sekali tidak berhubungan dengan perilaku mereka.

Sumber :Islam Indonesia