Berita International

Ceramah Pak Din di Jepang: Radikalisme Muncul Karena Sempitnya Menafsirkan Teks Kitab Suci

din-syamsuddin-di-jepangJAKARTA, Arrahmahnews.com – Pada akhir kunjungan di Jepang, Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin berceramah di Markas Sasakawa Peace Foundation, Tokyo. Ceramah dihadiri seratus tokoh dari berbagai kalangan baik tokoh agama, akademisi, mahasiswa, profesional, pengusaha, dan umum. (Baca juga: Blogger dan Hacker Anak Negri Sepakat Perangi Radikalisme di Dumay) Read More »

Pantaskah Umat Islam Melarang Haul Sayidina Husein?

ya-hussein-pictures-660x330Setiap memasuki bulan Muharam, Yayasan Azzahra Balikpapan selalu memiliki agenda peringatan wafatnya Sayidina Husein ra.

Sabtu (24/10) lalu, bertempat di gedung Balai Sudirman tak jauh dari markas Kodam VI Mulawarman, haul cucunda Nabi Muhammad saw itu berlangsung, dirangkai aksi sosial donor darah bekerjasama dengan PMI dan Basarnas. Sebelum acara dimulai, para undangan secara sukarela mengikuti sesi donor darah dengan mendatangi posko yang telah disiapkan dan dibuka lebih awal oleh panitia. Read More »

Karbala Dan Asyura Milik Semua Pencinta Keadillan Dan Penentang Kezaliman

Asyuro-Karbala-660x330Pada 10 Muharam seribu tahun silam, bumi dan langit diguncang tragedi paling keji dan biadab sepanjang sejarah. Asyura, sebuah drama kesyahidan Al Husein, cucu Nabi yang bangkit membela agama dibantai secara keji oleh pasukan Ibnu Ziyad suruhan Yazid bin Muawiyah.

Namun Husein tidak mati. Husein hidup dan selalu hidup. Hingga kini, api perlawanan Husein menentang penindasan tetap menyala-nyala tak pernah padam. Husein telah membongkar dogma “yang kuat itu yang benar dan menang”.  Read More »

Sunni-Syiah Lucknow Peringati Muharam Bersama Tahun Ini

The-Historical-bara-imambara-1-660x330Masyarakat Muslim Syiah mengundang ulama Sunni untuk bergabung dalam “Majlis” mereka selama Muharam di Lucknow, india.
 
Majlis merupakan bagian integral dari peringatan berkabung selama bulan Muharam yang disampaikan dari atas podium oleh ulama Syiah terkemuka yang dikenal sebagai “Zakirs”. 

Hal yang berubah dalam Majlis tahun ini dapat disaksikan pada bergabungnya jemaah Sunni-Syiah setelah diundangnya ulama Sunni sebagai Zakirs oleh komunitas Syiah. Read More »

Asyura Di Hongkong

Asyuro-Hongkong-660x330Saat bulan Muharam tiba, sebagian kaum Muslimin kembali dirundung duka teringat pembantaian cucunda Nabi saw di padang Karbala. Dalam merefleksikan rasa duka dan untuk menyelami nilai-nilai spirit perjuangan di dalamnya, umat Islam memperingatinya dengan beragam cara di berbagai belahan dunia.  Read More »

Puluhan Tahun Bungkam di Depan Israel, Saudi Malah Serang Yaman

“Sekian dekade Arab tak pernah bergerak demi Palestina dan Lebanon sebagaimana mereka bergerak menyerang Yaman… ‘Badai Mematikan’ menerjang Yaman, sementara ketika Palestina terdera pendudukan dan penindasan selama sekian dekade, ‘badai atau bahkan semilir kematian’ tak pernah menerjang barang satu kali,”

“Sekian dekade Arab tak pernah bergerak demi Palestina dan Lebanon sebagaimana mereka bergerak menyerang Yaman… ‘Badai Mematikan’ menerjang Yaman, sementara ketika Palestina terdera pendudukan dan penindasan selama sekian dekade, ‘badai atau bahkan semilir kematian’ tak pernah menerjang barang satu kali,”

Menurut Kantor Berita ABNA, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, mengutuk “agresi Arab Saudi – Amerika Serikat” terhadap Yaman serta menegaskan rakyat Yaman berhak membela diri dan akan menang.

Pemimpin pejuang Lebanon anti Zionis Israel ini menilai serangan Saudi dan sekutunya ke Yaman jelas-jelas agresi, dan itu dilakukan di saat mereka bungkam dan tak berkutik menyaksikan kekejaman Israel terhadap bangsa Palestina.

“Sekian dekade Arab tak pernah bergerak demi Palestina dan Lebanon sebagaimana mereka bergerak menyerang Yaman… ‘Badai Mematikan’ menerjang Yaman, sementara ketika Palestina terdera pendudukan dan penindasan selama sekian dekade, ‘badai atau bahkan semilir kematian’ tak pernah menerjang barang satu kali,” tegas Nasrallah, sebagaimana dilansir al-Mayadeen, Jumat malam (27/3).

“Badai Mematikan” adalah sandi operasi serangan militer koalisi Arab pimpinan Saudi anti Yaman yang dimulai sejak dini hari Kamis (26/3/2015) dan sejauh ini telah menjatuhkan sekitar 100 orang, termasuk perempuan dan anak kecil. Read More »

Pernyataan Sikap Majma Kecam Agresi Saudi atas Yaman

Brief Menyikapi agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi atas Yaman menyusul dikudetanya Presiden Yaman Mansour al Hadi oleh gerakan rakyat Yaman, Majma Jahani Ahlul Bait As mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam dan mengutuk keras agresi tersebut.

Brief
Menyikapi agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi atas Yaman menyusul dikudetanya Presiden Yaman Mansour al Hadi oleh gerakan rakyat Yaman, Majma Jahani Ahlul Bait As mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam dan mengutuk keras agresi tersebut.

Menurut Kantor Berita ABNA, Menyikapi agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi atas Yaman menyusul dikudetanya Presiden Yaman Mansour al Hadi oleh gerakan rakyat Yaman, Majma Jahani Ahlul Bait As mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam dan mengutuk keras agresi tersebut.

Berikut isi lengkap pernyataan sikap Majma Jahani Ahlul Bait As sebagai sebuah organisasi internasional non government yang menghimpun 500 ulama dan cendekiawan Islam dari berbagai Negara di dunia:

بسم الله الرحمن الرحیم

وَما نَقَموا مِنهُم إِلّا أَن يُؤمِنوا بِاللَّهِ العَزيزِ الحَميد ﴿سوره مبارکه البروج ــ آیه ۸﴾

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” [QS. Al-Buruuj: 8]

Disaat rakyat Yaman dengan persatuan antar semua kabilah melakukan gerakan revolusi untuk menciptakan Negara Yaman yang sesuai tuntutan rakyat dan tidak didikte kekuasaan asing dan berhasil mengkudeta rezim boneka, Arab Saudi menghalang-halangi gerakan revolusi itu dengan melakukan agresi militer yang membabi buta atas Yaman. Read More »

Kehidupan Sehari-Hari Imam Khomeini ra

imam_khomeini_ra_anniversary_by_islamicwallpersBagaimana dengan Pertemuan-Pertemuan yang Dilakukan Imam Khomeini?

Beliau mengatakan:

“Dahulukan mereka yang punya urusan pokok!”

Dalam pertemuan umum, kami berusaha lebih banyak bertemu dengan keluarga syuhada. Tidak ada seorangpun yang menjalankan kewajibannya untuk Islam, revolusi dan negara seperti yang dilakukan oleh syudaha yang mulia. Kita semua harus menjadi pengabdi wasiat dan pemikiran syuhada, para mantan tawanan dan keluarga mereka. Akhir-akhir ini saya mendapatkan tulisan Imam Khomeini yang menyebutkan:

“Saya menderita sakit pernafasan. Untuk sementara jangan selenggarakan pertemuan bersama saya. Tapi jangan sampai mengabaikan pertemuan dengan keluarga syuhada.”

Setiap kali Imam Khomeini bertemu dengan keluarga syuhada dan para mantan tawanan, beliau benar-benar gembira dan menegaskan kepada para pejabat untuk memperhatikan kondisi mereka.

Selain itu kami berusaha agar pertemuan ini mencakup banyak kalangan lainnya. Seperti Sepah Gorgan atau Jihad Delijan atau misalnya Golpaigan. Terkadang ketika kami menanyakan kepada Imam Khomeini kelompok mana yang bisa datang menemui beliau, Imam Khomeini menjawab:

“Apa hubungannya antara pos dan telegraf Golpaigan dengan Sepah Delijan?”

Kami mengatakan, “Lalu bagaimana dengan telpon-telpon yang ada? Anda, alhamdulillah akan menyampaikan masalah-masalah yang berguna bagi semuanya.” Misalnya masalah yang paling pedas yang disampaikan Imam Khomeini terkait Amerika, ketika para tukang roti Qom melakukan pertemuan bersama Imam Khomeini. Beliau berkata:

“Carter harus tahu bahwa dia tidak akan menjadi presiden lagi.”

Di sini saya ingatkan bahwa Imam Khomeini tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Ketika Carter mengirim sebuah pesan untuk beliau, kepada saya beliau berkata:

“Ini harus dipublikasikan. Karena kami tidak menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Yang kedua, kemungkinan besar mereka sendiri yang akan memplubikasikannya dan memikirkan hal-hal tertentu dan masyarakat juga harus berpikir bahwa ada hal-hal tertentu di balik layar. Dan kita juga harus menyampaikan apa yang sedang terjadi kepada masyarakat dan mereka sendiri yang akan mengambil keputusan.”

Dalam semua wawancaranya Imam Khomeini berkata:

“Kita akan melakukan hubungan dengan Amerika selama kita tahu bahwa hubungan ini bermanfaat bagi masyarakat.”

Apakah Imam Khomeini menyukai bidang tertentu dalam olahraga?

Imam Khomeini menyukai olahraga. Tapi beliau tidak mengutamakan bidang tertentu. Boleh dikatakan bahwa beliau lebih menyukai gulat dan olahraga kuno Iran. Tapi jimnastik lebih menarik perhatian beliau daripada olahraga yang lainnya. Di masa kecilnya Imam Khomeini melakukan latihan lompat tinggi. Kedua tangan dan salah satu kakinya pernah patah karena olahraga ini. Di kepala beliau ada lebih dari sepuluh bekas luka dan dan beberapa di bagian dahinya.

Bagaimana dengan kekuatan badan Imam Khomeini?

Bagus.

Apakah kekuatan badan Imam Khomeini karena olahraga ataukah memang secara alami dan anugerah ilahi demikian?

Secara alami demikian

Apakah Imam Khomeini mengenal teknik renang?

Beliau tidak mengenal teknik renang tapi dalam batas tertentu beliau mengenal renang

Apakah di masa mudanya Imam Khomeini pergi ke medan olahraga untuk menonton pertandingan olahraga?

Bila maksud dari medan olahraga adalah stadion, tidak. Beliau tidak pernah pergi ke stadion. Tapi bila maksudnya adalah segala tempat olahraga, Imam khomeini pernah pergi ke sebagian tempat untuk menonton pertandingan gulat. Tentu saja itupun kadang-kadang. Ada juga kenangan manis terkait gulat Haj Agha Kamal Kamali, jagoan Qom dan jagoan Rusia yang datang ke Qom untuk pertandingan dengan Haj Agha Kamal Kamali. Imam Khomeini menceritakan, Jagoan Rusia lebih kuat tapi Haj Agha Kamal membawanya mendekati sebuah batu dan mendorongnya. Jagoan Rusia juga tidak tahu kalau ada batu. Kakinya kena batu dan jatuh ke belakang. Sepontan warga Qom mengumumkannya sebagai pemenang ronde dan membawanya ke makam Sayidah Fathimah Ma’sumah as.

Apakah Imam Khomeini juga menonton acara olahraga yang ditayangkan di tv?

Beliau menonton tapi biasa-biasa saja. Ketika saya mendekati beliau dan kalau salah satu dari dua chanel tersebut menayangkan acara olahraga, sementara Imam Khomeini sedang menonton chanel lainnya, beliau langsung mengalihkan ke chanel yang menayangkan olahraga dan berkata:

“Ini juga karena kamu, duduk dan tontonlah!”

Apakah Anda punya kenangan olahraga lainnya dari Imam Khomeini?

Imam sampai akhir-akhir ini setiap hari olahraga jalan kaki selama satu jam setengah dan melakukan gerakan olahraga secara teratur sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter untuk terapi sakit punggung dan sakit kaki.

Imam Khomeini berkata:

“Bila pada masa itu pertandingan balapan naik kuda hukumnya sunnah dan kaum Muslimin harus berlatih, itu karena untuk membela diri. Sekarang berperang tidak lagi menggunakan kuda, perangnya memakai phantom dan perang ini juga hukumnya sunna. Karena tujuan utama dari pertandingan ini adalah melakukan perlawanan dan membela harga diri, bangsa dan Islam.”

Menurut Anda, yang manakah dari perilaku istimewa dan khas Imam Khomeini di rumah yang bisa dijadikan sebagai teladan?

Salah satunya adalah kejujuran beliau. Apa yang dikatakannya di luar, di rumah sama sekali tidak akan dikatakan lain. Selain itu, ketika di dalam rumah, maka hal-hal yang resmi menjadi tidak resmi. Beliau menyampaikan dengan jujur apa yang beliau pahami kepada anak-anaknya dan ibu saya. Misalnya, berkali-kali saya masuk ruangan dan Imam Khomeini tidak tahu. Saya melihat beliau duduk menekuk lutut kemudian Ali anak saya naik ke atas pundaknya. Sayang ingin sekali menyotingnya atau memotret pemandang itu, tapi saya tahu Imam Khomeini tidak bakal mengizinkannya.

Keakraban dan kejujuran Imam Khomeini dengan anak-anak dan ibu saya benar-benar ajaib. Ibu kami selama 15 tahun ini memainkan peran utama. Misalnya, beliau tidak pernah mengeluh kepada Imam Khomeini tentang bagaimana kehidupan kami. Dalam peristiwa 15 Khordad, seluruh wanita daerah tempat tinggal kami datang ke rumah kami dan sebagian pingsan, ibu kami memberikan minuman sirup kepada mereka.

Malam ketika Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, saya masuk ke dalam kamar. Saya bertanya kepada ibu, “Apa yang terjadi? Ada maling? Waktu itu saya berusia 15 tahun. Ibu menjawab, “Tidak, tidak ada apa-apa. Seperti sebelumnya mereka menangkap ayahmu! Kalau kamu mau melihat beliau, keluarlah lewat pintu itu!”

Kepada para pasukan Imam Khomeini berkata:

“Apa-apaan ini? Mengapa kalian bikin ribut? Tidakkah kalian malu? Salah satu dari kalian bisa datang dan mengetuk pintu dan mengatakan, Khomeini kemarilah! Nah, saya juga akan datang.”

Setelah lama Imam Khomeini menceritakan kepada saya:

“Di dalam mobil ketika pergi dan sampai pada sumur minyak, saya berkata, “Semua kesengsaraan kita ini karena minyak ini. Mengapa kalian bersikap seperti ini? Mulai dari situ sampai Tehran saya berbicara dengan mereka dan salah satu dari mereka yang duduk dekat saya menangis sampai Tehran.” 

Ketika saya sampai di gang, saya melihat Imam Khomeini dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa. Saya mengambil batu dan menghantamkannya. Para pasukan kembali lagi untuk menangkap saya. Saya melarikan dan mengulanginya lagi. Mulai dari pintu madrasah Hakim Nezami sampai perempatan jalan penuh anggota SAVAK. Setelah lama Imam Khomeini menceritakan: 

“Di sana mobil yang saya naiki diganti. Yakni saya dipindahkan dari mobil Volkswagen kecil yang dibawanya karena kecilnya gang ke mobil yang lebih besar. Jalan yang penuh dengan manusia itu tidak terdengar suara satu orangpun. Seperti jalan yang sepi.”

 Ketika saya kembali, saya melewati tangga naik ke atas dan masuk rumah. Saya melihat ibu meletakkan bantal dan menutupi kepalanya dengan selimut dan tidur. Ibu saya benar-benar memainkan peran dengan sangat baik selama ini.   

Ibu saya memaksa untuk pergi ke Turki. Tapi Imam Khomeini tidak mengizinkan. Beliau mengirimkan dua surat dari Turki untuk kami, tapi sayangnya dalam salah satu serangan, orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami dan membawa surat tersebut. Kamipun pada waktu itu tidak terpikir untuk memfoto-kopikannya. Di dalam surat itu tertulis: 

“Anda jangan datang ke Turki dan tetaplah berada di Qom!” 

Dari sejak saat itu Imam Khomeini memiliki hubungan perasaan yang sangat ajaib dengan ibu kami. Kalaupun seandainya tidak ada hukum terkait masalah haji seperti yang disampaikan oleh Rahbar kita yang mulia Ayatullah Khamenei, hanya karena alasan ibu saya mengatakan kepada saya, ‘saya tidak rela’, maka spontan saya meninggalkan segalanya, karena saya punya alasan yaitu ayah saya di hari-hari terakhir kehidupannya memegang tangan ibu saya dan meletakkannya di atas tangan saya seraya mengatakan: 

“Jangan melakukan satu pekerjaan apapun yang tidak diridai beliau. Ibumu tidak memiliki siapa-siapa selain Allah!”

 Satu lagi saya sampaikan sebagai contoh, bila ibu kami belum siap untuk makan, maka Imam Khomeini tidak akan makan. Beliau akan menunggu dan ketika ibu kami sudah datang maka Imam Khomeini baru memulai makan. 

Contoh lainnya lagi, ketika orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami untuk menangkap Imam Khomeini, Imam menyerahkan stempelnya kepada ibu saya, seraya berkata: 

“Ambil stempel ini dan nanti bila saya mengirim pesan, maka serahkan kembali!” 

Ibu saya menyembunyikan stempel tersebut dan kami tidak mengetahuinya. Sampai ketika Imam Khomeini pergi ke Turki dan dari sana ke Najaf dan dari Najaf mengutus seseorang menemui ibu saya, kemudian ibu saya menyerahkan stempel tersebut kepadanya. 

Setiap kali terjadi sebuah peristiwa seperti sakit, Imam Khomeini memanggil anak-anaknya dan mewasiatkan ibu kami. Beliau menjelaskan tentang kesusahan dan kesulitan yang dialami ibu kami dan berkata: 

“Kalian harus bisa mengambil keridaan ibu kalian!” 

Imam benar-benar halus perasaannya. Yakni misalnya ketika di Najaf, terkadang saudara-saudara perempuan saya datang ke sana. Ketika ingin kembali dan berpisah saya tidak pernah tahan untuk berdiri di halaman atau melihat perpisahan mereka. Almarhum saudara saya juga berkata, “Saya tidak bisa melihat detik-detik perpisahan itu.” Namun masalah ini sedikitpun tidak mempengaruhi beliau dalam mengambil keputusan. 

Dalam situasi dibombardir, bagaimana keberadaan Imam Khomeini dalam memberikan ketenangan kepada keluarga? 

Saya katakan bahwa ketika bom jatuh atau ada sesuatu yang terjadi, keluarga kami tidak lantas semuanya gemetaran. Kelihatan dari foto-foto yang ada, kami juga seperti warga lainnya hanya menempelkan isolasi pada kaca-kaca jendela dan tidak melakukan hal lain. Suatu hari ketika Tehran dibombardir, dengan tenang ibu saya masuk ke kamar. Selimut di atas tempat tidur miring. Beliau berkata, “Ahmad, pegang ujung selimut itu, kita luruskan!” Anti udarapun berfungsi dan Imam Khomeini tertawa. Yakni Imam Khomeini bukannya lantas berbicara setiap saat ada bom jatuh untuk menenangkan yang lainnya. Di awal hari-hari perang, seseorang dari tim insinyur staf gabungan datang ke Jamaran dan membangun sebuah tempat anti bom untuk Imam Khomeini. Ketika tempat itu dibangun, Imam Khomeini berkata:

 “Saya tidak akan ke sana.”

 Bangunan itu selesai dalam waktu empat sampai lima bulan. Ruangan yang berbentuk leter L dan luas 5×4 meter. Sampai akhir Imam Khomeini tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan sekali saya berkata kepada Imam, “Ke sinilah, setidaknya Anda melihatnya!” Imam Khomeini berkata: 

“Dari luar sini sudah kelihatan dan saya juga sedang melihatnya dari luar bagaimana bangunannya.”

 Suatu hari setelah zuhur kira-kira ada tujuh sampai delapan bom jatuh di sekitar Jamaran. Saya menemui Imam Khomeini dan berkata, “Kalau sekali saja salah satu dari rudal kita jatuh di atas istana Saddam dan dia mengalami sesuatu, betapa senangnya kita? Kalau sebuah rudal jatuh di sini dan atapnya roboh dan Anda mengalami sesuatu, bagaimana?” Imam Khomeini menjawab:

 “Demi Allah, saya tidak menganggap istimewa dan beda antara saya dengan seorang Sepah yang berada di pertigaan jalan rumah. Demi Allah, bila saya yang mati atau dia yang mati, bagi saya tidak ada bedanya.” 

Saya berkata, “Kami tahu Anda seperti ini, tapi bagi masyarakat beda.” Imam Khomeini berkata: 

“Tidak, Masyarakat harus tahu bahwa bila saya berlindung di sebuah ruangan dan bom membunuh para Pasdaran di sekitar rumah saya dan tidak membunuh saya, maka saya sudah tidak layak lagi sebagai pemimpin masyarakat ini. Saya terhitung mengabdi kepada masyarakat selama kehidupan saya seperti kehidupan mereka. Bila masyarakat atau para Pasdarqn atau orang-orang yang tinggal di daerah ini mengalami sesuatu, biarkan saya juga harus mengalami sesuatu sehingga masyarakat tahu bahwa kita semua bersama-sama berdampingan.” 

Saya berkata, “Lalu sampai kapan Anda mau duduk di sini?” Imam Khomeini mengisyaratkan pada dahinya, seraya berkata: 

“Sampai rudal mengena di sini.” (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan almarhum Hujjatul Islam Sayid Ahmad Khomeini, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

Read More »

Imam Khomeini ra di Mata Putri Tertuanya Seddigheh Mostavafi

imam-khomeiniSaya akan menceritakan tentang keberagamaan beliau. Saya pikir sejak saya usia sembilan tahun saya bisa menilai beliau. Saya ingat sejak kecil saya tidak banyak tidur. Sampai saat ini saya juga tidak banyak tidur. Berkali-kali di pertengahan malam saya terbangun dan senantiasa melihat ayah mengerjakan salat tahajud. Tapi karena saya waktu itu masih kecil saya tidak tahu persis apa kesibukan ayah. Kami tidur di halaman dan saya melihat beliau bangun untuk mengambil wudu dan salat tahajud. Dalam hati saya bertanya, mengapa ayah di malam hari menangis tersedu-sedu? Saya waktu itu masih kecil. Saya bergumam, untuk apa menangis di tengah malam? Saya pikir ayah sedih. Misalnya karena ada masalah sehingga menangis. Di malam-malam bulan purnama saya melihat air mata ayah dan hal ini bagi saya sangat aneh.

Read More »

Ketika Farideh Mostafavi, Putri Kedua Imam Khomeini Bercerita Tentang Ayahnya

putri imamMohon kenalkan diri Anda?

 

Saya adalah Farideh Mostafavi, putri kedua Imam Khomeini.

 

Mohon jelaskan tentang nama famili Imam Khomeini dan Anda!

Karena Imam Khomeini datang ke hauzah berasal dari Khomein, di madrasah Feiziyeh beliau terkenal dengan nama Khomeini. Yakni setiap santri yang ingin mengatakan si fulan, mengatakan ‘seorang yang datang dari Khomein atau Sayid Khomeini. Pelan-pelan beliau terkenal dengan Khomeini. Lalu, orang-orang harus membuat kartu tanda penduduk dan ditetapkan bahwa setiap orang harus memilih nama famili. Pada masa itu Imam Khomeini menyukai nama famili ‘Mostafavi’ sementara alasannya apa kami tidak tahu. Beliau memilih nama Mostafavi. Paman tua kami, kakak Imam Khomeini memilih ‘Pasandideh’ dan paman yang lainnya memilih ‘Hindi’. Itulah mengapa nama famili masing-masing dari mereka berbeda.

Mohon ceritakan terkait bagaimana pernikahan Imam Khomeini!

Ibu, ayahnya adalah seorang ulama, terhormat, salah satu imam salat jamaah di masanya dan penulis tafsir dan buku. Kakeknya ibu juga seorang ulama terkenal di masanya. Pernikahan mereka karena adanya hubungan kekeluargaan. Dengan demikian sekelompok keluarga sebagai ulama dan memiliki hubungan persahabatan dan akhirnya terjadilah ikatan pernikahan. Ibu, waktu itu sedang belajar. Pada masa itu ada sekolah-sekolah khusus. Meskipun ibu tinggal di rumah ayahnya, beliau tetap belajar dan Agha (Imam Khomeini) sedang belajar di Qom. Ayahnya ibu di Qom sebagai santri dan putri-putrinya juga berada di Qom. Agha (Imam Khomeini) dan Agha Saghavi memiliki teman yang sama, bernama Agha Lavasani yang keluarganya sekarang juga masih ada. Ketika Agha Lavasani tahu Imam Khomeini ingin menikah, dia berkata kepada Agha, “Agha Saghavi punya anak perempuan dua-tiga orang dan mereka sangat baik. Bila Anda ingin menikah, ambillah salah satu dari mereka!” Agha berkata:

“Kalau begitu Anda saja yang melamarkan!”

Agha Lavasani datang menemui Agha Saghavi, kakek kami untuk melamar. Agha Saghavi berkata, “Menurut saya tidak masalah. Namun dari sisi ibu mereka berada dalam alam lain. Mereka sendiri harus rela.” Kemudian melakukan istikharah dan setelah Agha Lavasani pulang pergi ke keluarga ini, ibu sekali-dua kali bermimpi. Kemudian mau dan menikah. Sementara usia ibu pada waktu itu 15 tahun dan Agha 28 tahun.

Apa sebab Imam Khomeini terlambat menikah?

Agha mengatakan:

“Saya tidak secepatnya merasa ingin menikah. Pikiran saya hanya belajar dan belum ingin menikah.”

Jelaskan tentang pandangan dan tolak ukur Imam Khomeini dan Khanum (istri Imam Khomeini) dalam memilih pasangan hidup!

Tolak ukur Imam Khomeini adalah menikah dengan seseorang dari sebuah keluarga yang beragama dan sudah dikenal. Beliau mengatakan:

“Saya tidak ingin menikah dengan orang Khomein. Karena saya ingin mendapatkan orang yang sekufu dengan saya. Kalau saya belajar, sayang ingin mendapatkan istri yang sepemikiran dengan saya. Kesimpulannya adalah saya harus menikah dengan orang dari Qom dan dari keluarga ulama dan selevel dengan saya.”

Karena ketika Imam Khomeini berusia 28 tahun beliau sudah berhasil menulis beberapa buku, sementara di Khomeini pada masa itu rata-rata pendidikan keluarga berada di tingkat rendah. Itulah mengapa Agha Lavasani berkata kepada Imam Khomeini, “Agha Saghavi dan keluarganya punya syarat-syarat ini. Selain beragama, dari sisi pemikiran termasuk yang terbuka pikirannya. Akhirnya setelah lamaran dan acara sederhana, Imam Khomeini menyewa sebuah rumah di Qom dan jahiziyeh (parabot rumah) ibu dibawa dan mengadakan resepsi pernikahan.

Dari sisi materi Imam Khomeini memiliki fasilitas apa saja?

Tentunya Imam Khomeini memiliki warisan dari ayahnya. Beliau mendapatkan harta peninggalan dari ayahnya. Imam Khomeini bukanlah seorang santri yang hanya menjalani hidupnya dengan uang bulanan yang didapatkan dari hauzah. Oleh karena itu Imam Khomeini bisa menyewa sebuah rumah. Rumah sewaan meskipun kecil tapi beliau sendiri bersama istrinya dan tidak tinggal barengan dengan para penyewa lainnya. Ibu juga membawa perabot rumah tangga, dan Imam Khomeini tidak memiliki barang selain barang-barang yang diambilnya dari madrasah Feiziyeh setelah sebulan atau dua bulan. Ibu menceritakan, “Ada satu (gelim) karpet, satu kasur, kompor kecil, dua lampu templek, satu ceret, dan gelas dan lepeknya serta panci sangat kecil. Tentunya setelah satu-dua tahun beliau mendapatkan warisan berupa barang-barang dari ayahnya (Karena ketika usia lima bulan ayahnya mencapai syahadah karena dibunuh) yang dijaga oleh Agha Pasandideh. Barang-barang itu dikirim untuk Imam Khomeini dan dibilang bahwa barang-barangnya juga kuno. Ada sejumlah wadah sangat kuno dan beberapa karpet kuno yang sudah jelek. Pokoknya kehidupan seorang santri yang juga terhormat.

Meskipun ayahnya adalah orang yang kaya, tapi resepsi pernikahannya sangat sederhana. Acara resepsi dihadiri oleh para sanak kerabat dan sahabat dekat.

Bagaimana sikap Imam Khomeini terhadap istrinya?

Ibu menikah dengan Imam Khomeini ketika sudah menyelesaikan kelas sembilan, yakni lulusan SMP. Kemudian ibu belajar bahasa Arab pada Imam Khomeini sampai ketika melahirkan anaknya yang kelima, ibu tetap masih belajar kepada Imam. Ketika adik perempuan saya lahir (anak kelima) ibu berhenti dari belajar karena banyak kerjaan dan kesibukan. Tentunya Agha (Imam Khomeini) senantiasa siap untuk mengajari ibu. Demi kemajuan ibu, beliau senantiasa memberikan semangat kepada ibu untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Sikap Imam Khomeini terhadap istrinya benar-benar penuh keakraban dan kasih sayang sekaligus benar-benar penuh penghormatan. Dalam urusan pribadi dan kekeluargaan, pendapat ibu sangat dihormati dan tidak mencampuri urusan dalam rumah sama sekali. Tentu saja ibu sangat menjaga dan tidak melangkah sama sekali di luar keinginan dan keridaan Imam Khomeini. Sejak di awal-awal pernikahan, Imam Khomeini berkata kepada ibu:

“Saya ingin kamu mengerjakan kewajibam-kewajiban dan berusahalah untuk tidak mengerjakan yang haram. Tapi terkait urusan sosial tidak ada masalah dan engkau bebas.”

Imam Khomeini dalam kehidupan sehari-hari tidak mempersulit sama sekali. Terkait masalah keluar rumah dan memakai pakaian ibu memiliki kebebasan dan benar-benar menjaga jangan sampai bermaksiat. Beliau benar-benar menyayangi dan menghormati ibu, sehingga kami anak-anaknya juga terpengaruh oleh sikap-sikap beliau. Kami sejak awal membuka mata, menyaksikan bahwa selama ibu belum berada di tepi hidangan makanan dan belum mengambil makanan, Imam Khomeini sama sekali tidak pernah mendahului untuk duduk di tepi hidangan makanan dan memakan makanan yang ada. Dengan sendirinya kami juga bersabar sampai ibu kami datang dan memulai makan, kemudian kami menyusulnya untuk makan juga.

Saya masih ingat ketika masih kecil bermain bola di dalam kamar dan kami menendang bola dan memecahkan kaca. Ayah marah dan datang untuk menegur kami mengapa kalian melakukan hal ini? Saya menjawab, “Ibu menyuruh kami, bermainlah, tidak masalah.” Begitu saya mengatakan hal ini, beliau tidak berbicara apa-apa lagi. Kemudian beliau pergi keluar kamar. Kalau beliau, mau bisa saja untuk menjatuhkan sanksi kepada kami, tapi tidak melakukannya.

Sama sekali kami tidak pernah melihat beliau berkata kepada ibu, “Kerjakan pekerjaan fulan untukku!” atau bahkan “Tuangkan teh untukku!” Beliau senantiasa memanggil kami atau pembantu rumah. Bila suatu hari tidak ada siapa-siapa beliau mengatakan:

“Khanum! Katakan agar mereka membawakan teh untukku!”

Nah. Bila tidak ada siapa-siapa di rumah, ibu yang melakukannya sendiri tapi Imam Khomeini tidak pernah menyuruhnya. Beliau senantiasa menghormati ibu dan sering sekali menyampaikan rasa kasih sayangnya dan secara terang-terangan menyampaikan rasa kasih sayangnya di depan kami anak-anaknya.

Bila suatu hari ibu memasak, meskipun masakan itu tidak enak, tidak seorangpun boleh memprotesnya dan Imam Khomeini memuji masakan itu.

Bila ibu melakukan pekerjaan di dalam rumah meskipun hanya memindahkan gelas dari tempat yang satu ke tempat lainnya, sementara kami anak-anaknya sedang duduk-duduk, dengan rasa tidak suka Imam Khomeini berkata kepada kami:

“Kalin duduk-duduk saja, sementara ibu sedang bekerja.”

Bila suatu hari Imam Khomeini melihat ibu sedang mengerjakan sesuatu di rumah, maka hari itu adalah hari duka Imam Khomeini dan mengatakan:

“Ibu kalian lebih baik dari kalian. Tidak seorangpun bisa seperti ibu kalian.”

Bila suatu saat kami dua atau tiga orang menemui Imam Khomeini dan berbicara, Imam mengatakan:

“Mengapa kalian duduk-duduk di sini, sementara ibu kalian sendirian di halaman, pergilah ke sisi ibu kalian dan ajaklah bicara.”

Suatu hari Imam Khomeini sakit dan ibu juga sakit, kami biasanya dua atau tiga orang berada di rumah, bila salah satu dari kami duduk didekat Imam, beliau langsung mengatakan:

“Saya tidak memerlukan seseorang, tunggui ibu kalian.”

Dan beliau meminta kami keluar dari kamar.

Imam menetapkan bahwa setiap tahun ibu hendaknya pergi ke Tehran dan tinggal di Tehran selama tiga bulan musim panas. Beliau sendiri pergi ke Khomein. Program ini selalu berjalan bahkan sampai kami besar tetap berlanjut. Imam tidak suka bila ibu pergi di musim dingin. Bila ibu sedang bepergian, Imam merasa sedih sampai ketika ibu datang. Imam Khomeini akan tertawa ketika ibu masuk rumah. Dan ini adalah salah satu penyampaian rasa kasih sayang Imam Khomeini kepada ibu.

Bagaimana reaksi ibu Anda ketika menghadapi masalah?

Ibu juga sangat menghormati Imam Khomeini. Ibu sangat sabar. Ibu termasuk anak perempuan yang besar di Tehran dan di sebuah keluarga yang memiliki fasilitas yang cukup bagus. Kemudian harus hidup di Qom. Seseorang tidak akan bisa membayangkan bagaimana kondisi Qom sekitar enam- tujuh puluhan tahun yang lalu selama ia belum pernah melihat. Sementara ibu bisa bertahan hidup di sana. Itu karena kasih sayangnya kepada Imam Khomeini dan kasih sayang Imam Khomeini kepadanya. Ibu bertahan menghadapi rasa keterasingan dan hidup di pengasingan. Saya masih ingat dalam mengasuh anak, sebagai ibu rumah tangga dan menyambut tamu serta mengerjakan pekerjaan lainnya beliau tidak pernah mengeluh.

Misalnya pada masa perjuangan, masa-masa sedih dan pengasingan, ibu senantiasa memberikan semangat. Salah satu masalah yang di kemudian hari kami baru tahu adalah ketika kali terakhir Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, di detik-detik terakhir Imam Khomeini menyerahkan stempelnya ke tangan ibu seraya berkata:

“Di sisimu saja amanat ini dan jangan bilang kepada siapa-siapa!”

Ibu tidak mengatakannya kepada siapapun dan stempel itu tetap di sisinya. Kemudian Imam Khomeini dari Turki menuju Najaf. Beberapa bulanpun berlalu. Di masa itu saudara lelaki kami pergi ke Turki dan Najaf. Tapi ibu tidak membicarakan masalah ini kepada siapapun meskipun dengan saudara lelaki kami.

Ibu juga tidak pernah mengatakan kepada Imam Khomeini, “Mengapa engkau melakukan ini. Akhirnya bagaimana? Apa hasilnya? Atau tidak ada faedahnya? Di hari-hari perang juga beliau tidak pernah menyampaikan rasa lemah atau rasa takut dan senantiasa menjadi penguat hati bagi yang lainnya. Hal-hal seperti dalam kehidupan seorang lelaki merupakan syarat yang sangat penting yakni istrinya tidak boleh takut terhadap apapun dan harus menghadapi semua masalah dengan lapang dada. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Farideh Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

Read More »