General

Husain Sayyidus Syuhada’

zakhmi_zuljana-normalSyahid artinya orang yang gugur mulia di jalan Allah karena membela agama-Nya.

Al-Quran menyebut para syuhada’ sebagai manusia-manusia yang telah diberikan nikmat oleh Allah, selain daripada para Nabi, orang-orang yang jujur dan orang-orang yang soleh. “an’amallahu ‘alaihim minan nabiyyin was shiddiqin was syuhada’ was sholihin’.

Banyak sahabat yang gugur di jalan Allah menjadi syuhada’ (jamak dari syahid). Mereka gugur di medan-medan jihad dan menjadi manusia- manusia mulia di sisi Allah dan di dalam catatan sejarah ummat manusia. Nabi saw sangat mengagungkan mereka, bersedih untuk mereka bahkan Nabi menangis karena kepergian mereka.

Ketika sayyidina Hamzah syahid di medan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan Nabi saw menangis bahkan menyuruh para sahabat untuk datang bertakziah ke Rumah Sayyidina Hamzah dan berduka di sana.

Ketika Nabi mendengar Abdullah bin Rawahah, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur syahid di Mu’tah, di kota Madinah Nabi duduk berduka dan lama berdiam diri bersama para sahabatnya.

Nabi berkata bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang terputus kedua tangannya itu kelak akan diganti oleh Allah dengan dua sayap di syurga. Dan Nabi menghargainya dengan menyebutnya sebagai  Ja’far at-Thayyar, artinya Ja’far yang akan terbang di syurga dengan dua sayap.

Nabi juga menyebut Sayyidina Hamzah yang gugur di peperangan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan dimana jantungnya dicopot dan dikunyah-kunyah oleh  Hindun ( ibunya Muawiyah dan neneknya Yazid) sebagai Sayyidus Syuhada’ Penghulu para syuhada’.

Lima puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah saw cucu Nabi tercinta yang bernama Husain bin Ali gugur di medan Karbala bersama beberapa cucu-cucu Nabi yang lain seperti Ali Akbar, Ali Asghar, Qasim bin Hasan dan lain-lain dalam keadaan yang lebih mengenaskan: kepala dipenggal, tangan diputus, kaki ditebas, bahkan puluhan kepala para syuhada’ itu ditancapkan di atas tombak dan diiring keliling kota Kufah dan Syam bersama wanita- wanita suci keluarga Nabi yang ditawan bagaikan budak-budak tawanan.

Bayangkan sekiranya Nabi yang mulia menyaksikan tragedi Karbala ini apa yang akan beliau katakan?

Bagaimana cucuran air mata Nabi akan tumpah?

Assalamu alal Husain

Wa ala Ali ibnul Husain

Wa ala awladil Husain

Wa ala ashabil Husain

Hasan Farhan al-Maliki

hasan-frhnHasan Farhan al-Maliki adalah seorang ilmuwan Saudi yang sangat berpengaruh sekarang ini. Beliau dikenal sebagai peneliti ilmu-ilmu tradisional yang kritis, yang menuai banyak kecaman terutama dari ulama-ulama wahabi dan salafi yang ekstrem.

Upayanya untuk melakukan definisi ulang tentang makna sahabat melahirkan kontroversi yang cukup besar di semenanjung Arab. Beliau berteori bahwa para sahabat harus kita bedakan antara mereka yang masuk Islam sebelum Fathu Mekah dengan sahabat yang masuk Islam setelah Fathu Mekah. Para sahabat yang dipuji oleh Allah dalam al-Quran adalah mereka yang masuk dalam kategori sahabat pra-fathu Mekah. Sementara orang-orang seperti Abu Sufyan, Muawiyah dan Bani Umayyah dan Bani Marwan lainnya termasuk dalam kategori sahabat pasca Fathu Mekah.

Studi kritisnya tentang Muawiyah telah membuat merah telinga para ulama salafi dan wahabi Saudi. Apalagi buku-bukunya dalam tema ini sering kali keluar dengan judul yang cukup bombastis. Misalnya “Hadis Muawiyah adalah Firaun Ummat ini”; atau buku “Hadis Apabila Kalian Melihat Muawiyah di Mimbarku maka Bunuhlah Ia”; atau buku “Apakah Muawiyah Mati dalam Keadaan Islam” dan lain sebagainya.

Syaikh Hasan Farhan al-Maliki juga dikenal sebagai pegiat pluralism, tolerans dan prinsip-prinsip moderat lainnya. Ia menentang extremism, terrorism, dan menyeru kepada Islam yang moderat, dan penuh toleran. Pandangan-pandangan beliau sangat banyak diapresiasi oleh berbagai kalangan di Saudi terutama dari kalangan yang non-salafi. Namun melahirkan keterancaman yang sangat serius di kalangan para ulama salafi, sehingga mereka meminta pemerintah untuk menangkapnya.

Pada hari Jumat 17 oktober 2014 yang lalu beliau ditangkap oleh kerajaan Saudi Arabia dengan tuduhan bahwa Syaikh Hasan memprotes pemerintah yang telah menjatuhkan hukuman mati terhadap Syaikh Nimr an-Nimr, ulama syiah yang ditangkap 2 tahun yang lalu.

Sebelumnya beliau juga menanggapi pidato putra mahkota Saudi yang berpidato ingin mencabut terorisme dan extremism di Saudi dengan mengajukan beberapa usulan. Antara lain beliau berkata:

“Kalau pemerintah Saudi serius ingin mencabut extremism dari Saudi maka yang ia harus lakukan bukan hanya membersihkan dampak-dampaknya saja namun harus pergi ke akar-akarnya. Dan akar-akarnya itu ada di Dewan Majlis Fatwa Saudi, Kementerian Penerangan Saudi, Ulama-ulama Salafi yang sektarian, dan system pembelajaran dan pendidikan di Saudi yang sectarian dan jauh dari logika dialog dan metode ilmiah yang objektif. Bersihkan itu semua dari para extremis salafi, niscaya Saudi akan bersih dari para teorisme”. Begitu kata Hasan Farhan.

Berita tertangkapnya Syaikh Hasan membuat para ulama salafi bergembira ria bahkan ada yang meminta kepada pemerintah Saudi untuk menghukumnya seberat-beratnya.

Lebih jauh tentang Syaikh Hasan Farhan al-Maliki bisa merujuk ke alamat berikut:

http://almaliky.org/news.php?action=view&id=9

Tradisi Suro di Tanah Jawa

tradisi-asyuraKalender jawa dimulai dengan bulan Suro. Bulan-bulan berikutnya mengambil nama bulan-bulan Islam atau mengambil nama peristiwa besar yang terjadi pada bulan itu. Bulan Rabiul disebut sebagai bulan Mulud. Bulan Ramadhan disebut bulan Puso.

Pertanyaannya kenapa bulan Muharram disebut sebagai bulan Suro? Kemungkinan besar itu adalah kata lain dari ‘Asyuro. Kenapa menjadi Suro? Karena lidah Jawa sulit menyebut huruf ‘ain maka untuk lebih mudahnya disingkat menjadi Suro.

Orang-orang Jawa memperlakukan bulan Suro dengan sangat sakral. Mereka berpakaian serba hitam; tidak mau berpesta-pesta apalagi mengadakan acara “mantenan”. Mereka lebih suka berdiam dan merenung sambil mencuci dan membersihkan barang-barang purba yang sakti.  Mengambil berkah dari makanan dan minuman yang sudah diarak pada malam Suro. Dan masih banyak lagi yang intinya adalah “duka”.

Apakah ada kaitannya dengan “duka” Karbala yang diperingati oleh orang-orang syiah seluruh dunia setiap masuk bulan Muharram?

Sangat sulit untuk mengatakannya tidak setelah melihat persamaan-persamaan dalam tradisi “duka” itu.

Apalagi kalau kita lihat fakta sejarah ummat Islam secara lebih luas dimana acara menyambut bulan Muharram dengan warna hitam-hitam hanya ada dan hanya ada dalam komunitas syiah saja. Tidak dalam komunitas Muslim lainnya.

Tidak berlebihan apabila kita berkesimpulan bahwa tradisi Suro di Tanah Jawa adalah Tradisi Syiah (ala) Jawa.

Assalamu ‘alal Husain

Wa ‘ala ‘Ali Ibnil Husain

Wa ‘ala aulad al-Husain

Wa ‘Ala ashabil Husain

Tahun Baru Hijriah 1436

asyura1Tgl 25 Oktober 2014 adalah hari pertama dari tahun baru Hijriah 1436 H.

Berbagai macam cara orang-orang Islam menyambutnya. Ada yang memeriahkannya dengan bergembira ria. Ada juga yang sebaliknya, awal dari hari duka. Dan, fakta yang tak bisa diinkari bahwa mayoritas kaum muslimin tidak perduli dengannya.

Ahlul Bait menyambut bulan Muharram dengan kesedihan dan duka. Dan itu tergambar dari warna-warna hitam yang menjadi pakaian setengah resmi para syiahnya. Hal itu karena pada bulan ini, persisnya pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H putra-putra Islam terbaik telah gugur di jalan Allah SWT.

Mereka adalah para pahlawan Islam yang abadi yang telah menyelamatkan misi besar Rasulullah saw dari penyelewengan dan pemutarbalikan yang telah dilakukan oleh para penguasa yang zalim. Para pahlawan sejati itu dipimpin oleh cucu Rasulullah saw tercinta yakni al-Imam al-Husain as.

Husain as telah gugur bersama belasan keluarganya dan 72 para sahabatnya di sebuah tempat yang bernama Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H.

Kesyahidan Husain ternyata berbuah menjada bara api yang terus membakar semangat juang hati-hati orang yang beriman selamanya. Bara itu tidak akan pernah padam selama-lamanya.

Kullu yaumin ‘Asyuro

Kullu ardhin Karbala

Pendeta Koptik Mesir : Islam Bukan Ekstremis

Pendeta-Koptik-Mesir-200x300Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), sebagai organisasi yang bertujuan untuk dialog antar iman, demokrasi dan kedamaian menggelar dialog pada hari Selasa (16/9) dengan seorang tokoh agama Kristen Koptik Mesir Abuna Youhanna Bestawros. Orthodok Koptik adalah Gereja Alexandria yang merupakan salah satu dari tiga kepatriakan tradisional yang kanonik setetal Roma dan Antiokhia.

Dalam dialog yang dihadiri oleh sejumlah tokoh-tokoh lintas agama, seperti Islam, Kristen, Konghucu dan juga Sinkh, Bapa Youhanna menyingung soal ekstremisme yang terjadi di Mesir, yang setelah gejolak politik Mesir sering disematkan pada umat Islam.

Menurut Bapa Youhanna, ekstremisme itu bukanlah bagian dari Islam, sebab umat Islam beriman pada Al-Quran. Jika ada umat Islam yang melakukan tindakan ekstremis, maka sesungguhnya mereka sedang membuat orang-orang takut kepada Islam dan Al-Quran tidak mengajarkan hal itu.

“Islam tidaklah seperti itu,” terang Bapa Youhanna.

Dia ambil contoh Mesir sebagai sebuah negara yang besar dan memiliki Universitas Islam terbesar seperti Al-Azhar, kehidupan beragama antara umat Islam dan Kristen cukup harmonis. Walaupun terdapat dari mereka yang berpindah agama, dari Kristen ke Islam dan sebaliknya, namun hal tersebut tidak mengganggu keharmonisan di antara mereka.

Yang menjadi masalah menurut Bapa Youhanna adalah ketika para ekstremis datang ke Mesir dan mencoba untuk merusak indahnya kerukunan yang ada di Mesir, dengan menggunakan kekuatan dan pedang. Hal tersebut dapat mengganggu keharmonisan masyarakat yang ada. Namun terlepas dari itu, sebagian besar dari masyarakat Mesir tidak memiliki masalah untuk hidup bersama antara umat Islam dan Kristen.

Sebagai sebuah negara yang besar dan penuh ragam, Indonesia tentu juga tidak luput dari permasalahan terkait kerukunan umat beragama. Maka berbagi cerita terkait kerukunan umat beragama dengan tokoh agama dari negara lain akan memberi pembelajaran bagi umat beragama Indonesia untuk dapat lebih mengembangkan kerukunan umat beragama yang terjalin selama ini. Apalagi Mesir memiliki catatan pergolakan kerukunan antar umat beragama dua tahun terakhir terkait dengan pergolakan politik yang terjadi di sana. (Lutfi/Yudhi)

Sumber : Abi Press

Seminar Kemanusiaan Untuk Gaza

Jose-Rizal2-e1411201179401-300x195Demi aktualisasi sikap peduli terhadap rakyat Gaza Palestina, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA mengadakan seminar kemanusiaan dengan tema “We Love We Care For Gaza” di Auditorium STFI SADRA yang berlokasi di Jakarta. “Mengaktualkan dalam bentuk pemikiran maupun tindakan,” kata Amar selaku ketua panitia seminar.

Seminar yang berlangsung pada hari Rabu (17/9) ini juga dimaksudkan untuk penggalangan dana untuk Palestina. Presidium Mer-C, dr. Jose Rizal,  yang tengah menggarap rumah sakit Indonesia di Gaza menjadi narasumber dalam seminar itu.

Jose Rizal memaparkan tiga hal yang menjadi dasar bagi Indonesia dalam memberikan bantuan ke Gaza.

Pertama, bangsa Indonesia memiliki amanah konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan.

Kedua, sebagai perwujudan ukhuwah Islamiyah, karena di Gaza terdapat masjid Al-Aqsa, tempat suci tiga agama, termasuk umat Islam yang saat ini direbut Zionis Israel.

Ketiga, atas dasar kemanusiaan. Ini yang paling penting. Karena kemanusiaan menembus sekat batas; ideologi, ras, agama dan sebagainya.

Dengan wilayah yang begitu kecil, melawan Zionis Israel yang memiliki kekuatan militer terbesar ke-5 di dunia, apa yang menyebabkan Palestina bisa bertahan?

“Membangun aliansi,” kata Jose. Aliansi dari berbagai kelompok perlawanan, baik Hamas, Fatah, Front Liberal Palestine, Jihad Islam dan sebagainya. Selain itu, kerahasiaan juga kerjasama menjadi alasan penting sebagai kunci pertahanan. Hal itu dibuktikan dengan tidak menerima mujahidin dari luar karena akan berbahaya menurut mereka, terlebih banyaknya intelijen asing yang memiliki banyak kepentingan. Bentuk kerjasama pun mereka rahasiakan. “Ketika orang tahu, Iran-Hizbullah, dan Hamas bekerjasama, tidak happy orang-orang yang suka pecah-belah,” ungkap Jose.

Untuk itulah, Jose menekankan agar mewaspadai adanya ‘sub kontraktor konflik’ yang dapat menghembuskan isu perpecahan dimana-mana.

Isu Suriah juga berpengaruh penting terhadap Palestina. Sebab, menurut Jose, kalau Suriah berhasil dikuasai pemberontak, jalan perlawanan Hizbullah terhadap Zionis Israel akan tertutup. Sebab itulah, Hizbullah merasa harus turun tangan menyelamatkan Suriah.

Isu yang sering digunakan dalam konflik Suriah menurut Jose adalah Isu Sunni-Syiah. Hal tersebut dilakukan guna mengadu domba umat Islam agar perlawanan terhadap penjajah menjadi lemah. Selain itu, juga untuk menyamarkan dalam memandang siapa kawan dan siapa lawan.

Untuk menjelaskan kepada masyarakat Indonesia, Jose beberapa kali mencoba mengadakan dialog dengan kelompok ‘garis keras’ agar mampu memandang lebih jernih saat menyikapi perang yang terjadi di Suriah maupun tempat lain. Hal itu Jose lakukan agar kaum Muslimin tidak terpecah, dan jelas dalam memandang siapa musuh. “Tapi malah saya dituduh Syiah,” kata Jose.

Sempat juga ia ingin mengadakan diskusi tentang hal itu di sebuah universitas di Solo, Jawa Tengah, malah Rektornya diancam, akhirnya tidak jadi diskusi. Itulah yang dialami Jose Rizal, seorang aktivis kemanusiaan yang mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya yang  ia temui di medan pertempuran.

Selain menyampaikan keadaan tersebut, Jose juga memetakan arah pertempuran di Timur Tengah saat ini, terutama di Suriah.
“Iran, Hizbullah, dan Rusia berada dalam plot perlawanan membela Suriah,” kata Jose. Sementara di pihak oposisi, ada “Amerika, NATO, Quwait, Qatar, Mesir, Turki, Saudi Arabia”. Tapi lucunya, di Mesir, ketika Mursi jatuh, pecah kongsi. “Saudi Arabia mendukung militer, Qatar mendukung Mursi.”

Di akhir seminar itu, Jose mengajak para peserta untuk terus melakukan kampanye membela Palestina, melalui media sosial maupun media lainnya. (Malik/Yudhi)

Jose Rizal: Rahmatan Lil Alamin dan Kemanusiaan Bekal Dasar Kemanusiaan

Sumber :Abi Press

Cari Solusi Pemulangan: Menteri Agama Kunjungi Muslim Syiah Sampang

IMG-20140805-WA0008-660x330Dua tahun sudah ratusan pengungsi Muslim Syiah Sampang teraniaya. Terlunta-lunta di pengungsian jauh dari kampung halaman. Momen lebaran yang mestinya menjadi momen penuh kehangatan untuk menyambung silaturrahmi dengan sanak keluarga pun menjadi lembaran pahit di asingnya pengungsian. Pemda Sampang dan Pemprov Jatim menghalangi mereka berlebaran di kampung halaman.

Namun harapan para pengungsi Muslim Syiah Sampang tak pernah bergeming. Mereka tetap ingin pulang. Harapan ini kembali tumbuh segar kala Menteri Agama yang baru, Lukman Hakim Saifuddin, yang menggantikan posisi Suryadharma Ali, kemarin datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah di Jemundo Sidoarjo.

Bersama Menteri Agama, hadir juga beberapa pejabat Pemprov Jawa Timur, seperti, Asisten III Gubernur, pejabat di Birokesra, dan Kanwil Kemenag. Pihak Polres juga masuk dalam rombongan yang mendampingi Menag Lukman Hakim Saifuddin. Ikut juga Dr. Abdul A’la dari IAIN Sunan Ampel bersama rombongan. Rombongan yang terlebih dahulu singgah di Madura ini datang jam 18.30 WIB dan meninggalkan lokasi pengungsian jam 19.45 WIB.

Dari pihak pengungsi, empat wakil pengungsi diberi kesempatan menyampaikan unek-unek dan harapannya selama dua tahun teraniaya dan menjadi pengungsi di hadapan Menteri Agama. Keempatnya adalah Ustad Iklil Al-Milal selaku koordinator pengungsi, dan tiga pengungsi lainnya, Nur Kholis, Muhlisin dan Muhammad Zaini.

Pemda Dan Pemprov Menghalangi Islah

Nur Kholis saat diberi kesempatan berbicara menyampaikan bahwa sebenarnya baik pengungsi dan warga kampung sudah sama-sama ingin islah dan berdamai. Hanya segelintir kiai dan pemerintah daerah baik kabupaten dan propinsi yang entah mengapa menghalangi proses islah. Fakta ini berbeda dengan dalih yang selama ini dikemukakan pihak pemerintah daerah tersebut bahwa mereka bermaksud melindungi pengungsi dari kemungkinan berulangnya tindak kekerasan jika pulang kampung sebab ancaman warga setempat masih kerap terjadi.

“Sebenarnya kami sudah berdamai dengan masyarakat di sana dan menandatangani pakta perdamaian (islah). Kami menjawab perdamaian warga dengan perdamaian juga. Tapi pemerintah tidak memanfaatkan modal itu malah kami yang disalahkan,” keluh Nur Kholis yang mengaku sudah memberikan file perjanjian damai antara pengungsi dan warga kampungnya kepada Menteri Agama ini.

Hal senada diungkapkan oleh Ali Ridha Assegaf, pengurus DPW ABI Jawa Timur yang mendampingi pengungsi bahwa sebenarnya modal perdamaian ini di akar rumput sudah ada. Namun patut disayangkan pemkab dan pemprov serta segelintir kiai malah menghalangi terjadinya proses islah.

Sementara Ustadz Iklil Al-Milal, koordinator pengungsi Syiah Sampang, sekaligus kakak dari Ustadz Tajul Muluk yang hingga saat ini masih dipenjara melalui putusan pengadilan yang sarat kejanggalan itu, berharap masalah pengungsi ini cepat diselesaikan pemerintah.

“Harapan saya ada penyelesaian masalah ini secepatnya. karena dengan berlarutnya masalah ini ada pihak tertentu yang ingin terus memprovokasi dan mengadu-domba kami sesama warga negara,” terang Ustad Iklil.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai mendengarkan keluhan dan aspirasi para pengungsi Muslim Syiah Sampang optimis bisa menyelesaikan masalah ini karena pengungsi memiliki keinginan kuat kembali ke kampung halaman. “Yang paling penting adalah toleransi kedua belah pihak,” ujar Lukman Hakim.

Usai bertatap muka dengan Menteri Agama yang baru Nur Kholis berharap, Lukman Hakim tidak bersikap seperti Menteri Agama yang lalu, Suryadharma Ali, yang menurutnya hanya memberi harapan palsu. (Muhammad/Hammada)

Foto pertemuan Menteri Agama Lukman Hakim dengan pengungsi Muslim Syiah Sampang di Jemundo Sidoarjo:

IMG-20140805-WA0011
     IMG-20140805-WA0010IMG-20140805-WA0002 (1)IMG-20140805-WA0005

Sumber :Abi Press

 

Menag Optimis Pengungsi Syiah Sampang Pulang Ke Kampung Halaman

IMG-20140805-WA0005Kunjungan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menumbuhkan harapan baru yang lama mengering akibat abainya pemerintah terhadap nasib pengungsi Syiah Sampang. Seperti diketahui para korban tindak kekerasan dan penyerangan yang kini menempati lokasi pengungsian itu, sudah mengalami distrust terhadap sejumlah janji pemulangan mereka ke tanah kelahirannya di Sampang.

Selasa Malam (5/8) ba’da Maghrib, rombongan Menteri Agama datang mengunjungi pengungsi Muslim Syiah Sampang di Rusun Jemundo Sidoarjo, Jawa Timur. Lukman Hakim selaku Menteri Agama yang baru menyatakan bahwa  masalah ini harus cepat diselesaikan agar tidak ada pihak ketiga yang memancing di air keruh. “Kita harus segera menemukan titik temu agar tidak ada pihak ketiga yang memanfaatkan,” ujar Lukman Hakim. Read More »

Muslim Syiah Sampang Rayakan Idul Adha Kedua Di Pengungsian

Pengungsi-Syiah-Sampang-Qurban-di-PengungsianBersamaan dengan prosesi wukuf di Arafah, Mina, bagi para jamaah haji, pada Minggu (5/10) umat Islam di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya merayakan Idul Adha atau yang juga dikenal dengan Hari Raya Haji. Pada hari itu akan dipotong sejumlah hewan qurban berupa kambing atau sapi yang dagingnya akan dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Lalu bagaimana Muslim Syiah Sampang yang sudah dua tahun dipaksa hidup sebagai pengungsi menyambut Idul Adha tahun ini?

Sebagai seorang Muslim, para pengungsi Syiah Sampang juga turut memperingati Hari Raya Qurban. Menggunakan sejumlah kendaraan emergensi yang berada di rusunawa, pagi-pagi mereka sudah berbondong-bondong melaksanakan shalat Idul Adha bersama warga sekitar di SMP 2 Tamanan Sidoarjo. Read More »

Seminar Internasional: Pesona Kedamaian Islam Nusantara

Dr.-Moh.-Husein-Safakhah-dan-Abdullah-BeikIslam Is Peace, menjadi tema seminar internasional “Pesona Kedamaian Islam di Nusantara” yang terselenggara atas kerjasama BEM Fakultas Aqidah Filsafat dengan pihak Ormas Islam Ahlulbait Indonesia. Senin (13/10) pagi acara itu dilaksanakan di kampus UIN Jakarta.

Isu perpecahan umat Islam serta perkembangan kelompok-kelompok radikal di kalangan umat Islam adalah salah satu alasan diselenggarakannya acara tersebut. Read More »