Berita

Kementerian Luar Negeri buka pusat studi ASEAN di Palembang

Jakarta – Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Universitas Sriwijaya dan Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Sumatera Selatan, membuka Pusat Studi ASEAN untuk masing-masing perguruan tinggi itu di Palembang.

Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri, yang diterima di Jakarta, Selasa.

Pembentukan Pusat Studi ASEAN ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri dengan kedua universitas tersebut.

Ada pun Nota Kesepahaman itu adalah tentang Kerja Sama Bidang Pendidikan, Penelitian/Pengkajian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Rektor Universitas Sriwijaya, Anis Saggaff menyampaikan bahwa kerja sama itu telah lama ditunggu oleh pihak perguruan tinggi tersebut. Universitas Sriwijaya selama ini sudah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di negara-negara ASEAN, seperti Malaysia dan Vietnam.

Anis berharap agar kedepannya kerja sama dapat dikembangkan melalui kegiatan pengajaran oleh pejabat-pejabat Kementerian Luar Negeri.

Sementara itu, Rektor UIN Raden Fatah, M Sirozi, menilai pembukaan PSA di Palembang menjadi momentum penting karena sesuai dengan visi UIN Raden Fatah Palembang dan kota Palembang untuk melakukan internasionalisasi nilai-nilai ke-Indonesia-an dan keislaman.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri, Ashariyadi, menyambut baik kerja sama pembukaan PSA yang dinilai akan memperkaya wawasan melalui kajian-kajian ilmiah yang dilakukan oleh PSA.

Menurut Ashariyadi, PSA memiliki peran penting sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan ASEAN kepada kalangan perguruan tinggi dan masyarakat umum, selaras dengan semangat ASEAN yang berorientasi dan berpusat pada rakyat.

“Dengan dibentuknya dua PSA baru di Palembang, maka jumlah PSA hingga saat ini berjumlah 39 buah, yang tersebar dari Banda Aceh hingga Ambon,” ujar dia.

Sumber: Antaranews

Related posts:

news_19_1380875128Inisiator Muslim Syiah-Sunni Minta Dukungan Jusuf Kalla 210508820131010-185055780x390Lebih dari 2000 Pelajar Indonesia Tertarik Studi di Belanda KontraSDilema Polri: Di Bawah Presiden atau Kementerian? kemenagPenjelasan tentang Dugaan Kesalahan Terjemah Al Quran Kementerian Agama

Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Jawad

“Tambahan nikmat dari Allah tidak terputus selama rasa syukur hamba tidak terhenti.” (Imam Muhammad Al-Jawad a.s.)

Imam Muhammad Al-Jawad a.s.

Nama                    : Muhammad

Gelar                     : Taqi dan Jawwad

Ayah                      : Imam Ali Ar-Ridha as.

Ibu                         : Khaizran/Subaikah/Raihanah

Kelahiran            : Tahun 195 Hijrah

Masa Imamah    : 17 Tahun

Kesyahidan         : Tahun 220 H

Makam                 : Kota Kadzimain. Irak

Jumlah anak       : 4 orang (2 laki-laki dan 2 perempuan)

Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Jawad a.s

Berkenaan dengan tanggal kelahiran Imam Jawad a.s. terdapat perbedaan pendapat yang tajam di antara para ahli sejarah. Menurut pendapat yang masyhur, ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 10 Rajab 195 H. Julukannya adalah Abu Ja’far, ayahnya adalah Imam Ali Ridha a.s dan ibunya adalah Subaikah yang dikenal dengan julukan Khizran.

Imam Jawad a.s hidup sezaman dengan Ma’mun dan Mu’tashim Al-Abasi. Mu’tashim berhasil meracun Imam Jawad melalui perantara istrinya sendiri, Ummul Fadhl yang juga putri Ma’mun. peristiwa itu terjadi ketika Imam a.s berusia 25 tahun. Imam masuk kota Baghdad pada hari 28 Muharram tahun 220 H dan beliau meninggal pada akhir bulan Dzul Qo’dah, tahun 220 H di Baghdad. Disebutkan dalam sebagian referensi bahwa hari dan tanggal syahadah beliau adalah 5 atau 6 Dzul Hijjah, dan dalam sebagian yang lain adalah akhir bulan Dzul Hijjah.

Ma’mun yang ketika itu berusaha untuk memadamkan gelombang protes yang muncul atas nama Syi’ah, ia bersikeras untuk mendekatkan Imam Jawad a.s ke keluarga istana. Tujuan utamanya adalah ia ingin mengasingkan Imam. Tetapi, ia harus menjalankan niatnya tersebut dengan cara supaya para pendukung Imam a.s tidak murka. Dengan demikian, Ma’mun mengawinkan putrinya, Ummul Fadhl denganya sebagai taktik lama politiknya yang selama ini sudah beberapa kali diuji keampuhannya. Dengan taktik ini, Ma’mun -secara lahiriah- di samping mendapat rekomendasi dari Imam Jawad a.s. atas segala perilaku yang pernah dilakukannya, ia juga dapat menyeret Imam a.s. untuk hidup di dalam istana yang penuh dengan segala kemewahan. Akan tetapi, Imam Jawad a.s bersikeras untuk pulang ke Madinah supaya segala rencana yang telah diatur oleh Ma’mun tersebut berantakan dan keabsahan pemerintahannya dipertanyakan.

Imam Jawad a.s meneruskan program ayahnya dalam berdakwah dengan menyadarkan masyarakat secara ideologi. Ia mengundang fuqaha’ dari berbagai penjuru negeri islam untuk berdiskusi dengan tujuan supaya mereka dapat mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuknya.

Syaikh Mufid berkata: “Ma’mun sangat menyukai Imam Jawad a.s. karena ia dengan usia yang begitu muda sudah berhasil menjadi orang baik dalam bidang keilmuan maupun dalam etika. Dalam bidang hikmah dan kesempurnaan akal, ia telah berhasil sampai kepada satu tingkat yang para ulama kaliber pada masanya tidak mampu menyamainya.”

Belianya usia Imam Jawad a.s. adalah sebuah mukjizat yang (dengan keluasan pengetahuan yang dimilikinya) sangat mempengaruhinya para penguasa saat itu. Ketika ayahnya syahid, ia hanya berusia kurang dari 8 tahun. Pada usia itu juga, ia harus memegang tampuk keimamahan.

Imam Jawad a.s selalu mengadakan hubungan erat dengan kekuatan masyarakat yang siap mendukungnya. Mu’tashim merasa khawatir dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Imam a.s. Oleh karena itu, ia memerintahkannya untuk kembali ke Baghdad. Begitu Imam Jawad a.s. memasuki kota Baghdad, Mu’tashim dan Ja’far, putra Ma’mun selalu membuat rencana untuk membunuhnya. Akhirnya pada akhir bulan Dzul Qa’dah 220 H. mereka berhasil melaksanankn niatnya tersebut.

Imam Jawad a.s. menjalani mayoritas kehidupannya pada masa Ma’mun. oleh karena itu ia tidak begitu banyak mendapat tekanan pada masa ini. Melihat kesempatan yang ada, ia menggunakannya dengan sebaik-sebaiknya untuk menyebarkan misi Islam.

Related posts:

imam_reza_birthday 1Biografi Singkat Imam Ali Ar-Ridha Mbah MarijanMbah Maridjan: Pijar di Tengah Kabut Merapi Sayyid Ali AsyurResensi Buku Ramalan Akhir Zaman Imam Ali bin Abi Thalib 25 Hidangan dari Al-QURAN.Buku: 25 Hidangan dari Al-Quran

66 Jemaah Haji Meninggal di Tanah Suci

Rilis Data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Daker Makkah, menyebutkan ada delapan jemaah haji Indonesia wafat pada Senin, 21 Agustus 2017. Enam jemaah wafat di Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah (cardiovascular diseases).  Keenam jemaah tersebut adalah Thantawi bin Drajat Hasbullah (73), Nasrap bin Aslim Tarmono (77), Muhamad Sobri bin Syamsul Bahri (62),  Farikhin bin Masduki Jakariyah (78), Jumra binti Umar Daeng Pawinru (75), dan Andin Kadim bin Ukir Entjun (62)

Satu jemaah wafat di Madinah juga karena gangguan jantung dan pembuluh darah, yaitu Nanih binti H Rahim Tembun (77). Sedang satu jemaah lainnya wafat karena gangguan saluran pernafasan, yaitu: Uray Suarni binti Uray Hasanuddin (61).

Sebagaimana dilansir situs resmi Kemenag, sampai dengan hari ini, total jemaah haji Indonesia yang wafat di Tanah Suci berjumlah 66 orang, dengan rincian sebagai berikut:

Di Jeddah:

1. Suwanah binti Hajemin Maridin (JKG 40), wafat 17 Agustus 2017 di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Ariport Jedah karena gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 60 tahun

Di Makkah:

1. Andin Kadim bin Ukir Entjun (SUB 34), wafat 21 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 62 tahun.

2. Jumra binti Umar Daeng Pawinru  (UPG 22), wafat 21 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 75 tahun.

3. Farikhin bin Masduki Jakariyah (JKS 66), wafat 21 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 78 tahun.

4. Muhamad Sobri bin Syamsul Bahri (JKG 06), wafat 21 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 62 tahun.

5. Nasrap bin Aslim Tarmono (SUB 31), wafat 21 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 77 tahun.

6. Thantawi bin Drajat Hasbullah (BDJ 03), wafat 21 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 73 tahun.

7. Dulpani bin Asmuni Bola (SUB 37), wafat 20 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 57 tahun

8. Kardisah binti Wardi Yunus (SOC 19), wafat 20 Agustus 2017 di Masjid Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 67 tahun

9. Asiah binti Lukman Zainal Abidin (PLM 04), wafat 20 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 77 tahun

10. Marida Cecep binti Rengga (UPG 17), wafat 20 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 49 tahun

11. Abdul Hadi Santoso bin M Asnawi (SOC 25), wafat 20 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 68 tahun

12. Sumadi Marsajid bin Notosuyidno (PIHK), wafat 20 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 80 tahun

13. Abdul Gani bin Abdul Gapid Tang (BPN 06), wafat 19 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 69 tahun

14. Amin bin Samin Muliha (SUB 30), wafat 19 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena infectious and parasitic dalam usia 60 tahun

15. Surita Hartini binti Maserun (BDJ 03), wafat 19 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena Malignant Neoplasma dalam usia 49 tahun

16. Rohijah binti Adi Sunardi (JKS 16), wafat 19 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 49 tahun

17. Moh Taib bin Harun Abu Bakar (BTH 01), wafat 19 Agustus 2017 di KKHI Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 65 tahun

18. Syamsul Bahri bin Munaf (PDG 01), wafat 18 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan sirkulasi darah dalam usia 60 tahun

19. Becce Mariani bin Bacco (BPN 10), wafat 17 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah dalam usia 47 tahun

20. Syarfidin bin Syahbidin Muhammad (BTH 04), wafat 18 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah karena gangguan saluran pernafasan dalam usia 65 tahun.

21. Kaseri bin Kasan Dikromo (SUB 12), wafat 18 Agustus 2017 di Sektor Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 68 tahun

22. Jakaria bin Jawas Pallo (UPG 15), wafat 18 Agustus 2017 di perjalanan di Makkah karena gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 54 tahun

23. Marzuki bin Abdur Rahmat (PLM 01), wafat 18 Agustus 2017 di Sektor Makkah karena  gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 79 tahun

24. Enung binti Renung Ukin (JKG 03), wafat 17 Agustus 2017 di Pemondikan Makkah karena Circulatory Diseases pada usia 79 tahun.

25. Sutomo bin H Sosro Harsono (JKS 22), wafat 17 Agustus 2017 di RSAS Makkah karena keganasan penyakit/kanker (Malignant Neoplasma) pada usia 83 tahun

26. Emdenis bin Mukhtarudin (PDG 16), wafat 17 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah dalam usia 60 tahun.

27. Sumaryam binti Kerti Mat (SUB 53), wafat 16 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah dalam usia 62 tahun.

28. Bedjo Al Juwahir bin Poncokromo (SUB 05), wafat 16 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah dalam usia 73 tahun.

29. Razali Haka bin Abdul Karim (BTH 16), wafat 15 Agustus 2017 di Masjid Makkah dalam usia 82 tahun karena serangan jantung.

30. Ida Rosika P binti Marasaman Hsb (MES 07), wafat 15 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah dalam usia 78 tahun karena serangan jantung.

31. Suyahtri binti Kasmi Tohjoyo (SUB 17), wafat 14 Agustus 2017 di RSAS Makkah dalam usia 51 tahun karena serangan jantung.

32. Dahlia Hanum binti Zainal Nasution (MES 05), wafat 13 Agustus 2017 di RSAS Makkah dalam usia 61 tahun karena serangan jantung.

33. Imas Yuhana Misbah (JKS 03), wafat 13 Agustus 2017 di Pemondokan Makkah dalam usia 61 tahun karena serangan jantung.

34. Siti Aminah Janip Sain (JKS 11), wafat 12 Agustus 2017 di pemondokan Makkah dalam usia 52 tahun, karena serangan jantung.

35. Slamet Tarni Achad (SUB 08), wafat 8 Agustus 2017 di RSAS Makkah dalam usia 62 tahun, karena mengalami gangguan saluran pencernaan.

36. Engkos Kostimah (JKS06), wafat 9 Agustus 2017 di Makkah dalam usia 75  dengan riwayat penyakit hipertensi dan jantung.

Di Madinah:

1. Nanih binti H Rahim Tembun (JKG), wafat 21 Agustus 2017 di RSAS Madinah karena gangguan saluran pernafasan dalam usia 77 tahun

2. Uray Suarni binti Uray Hasanuddin (BTH 13), wafat 21 Agustus 2017 di RSAS Madinah karena gangguan saluran pernafasan dalam usia 61 tahun

3. Yuliani binti Muhid Abdullah (MES 01), wafat 19 Agustus 2017 di RSAS Madinah karena gangguan saluran pernafasan dalam usia 75 tahun

4. Sarkam bin Dasinah Sartam (JKG 26), wafat 19 Agustus 2017 di KKHI Madinah karena gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 78 tahun

5. Abdul Rahman bin Kelsabar (UPG 14), wafat 18 Agustus 2017 di RSAS Madinah karena gangguan saluran pernafasan dalam usia 68 tahun.

6. Solikhin bin Mursidik Dipawikrama (SOC 46), wafat 16 Agustus 2017 di RSAS Madinah karena Cilculatory Diseases pada usia 60 tahun

7. Iyah binti Saarih Ili (JKS 040), wafat 16 Agustus 2017 di Pemondokan Madinah karena gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 50 tahun

8. Purni binti Pungut Minan (JK 23), wafat 16 Agustus 2017 di RSAS Madinah karena gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia 65 tahun

9. Utami binti Kasan Kasti (JKS 40), wafat 15 Agustus 2017 di RSAS Madinah dalam usia 46 tahun karena Circulatory Diseases

10. Kusno bin Kadari Mursadi (SUB 41), wafat 14 Agustus 2017 di RSAS Madinah dalam usia 75 tahun karena Digestive Diseases

11. Nasiman bin Mochammad Sahlan (SOC 46), wafat 15 Agustus 2017 di Pondokan Madinah dalam usia 66 tahun karena Circulatory Diseases

12. Dadang Iskandar bin Empan (JKS 75), wafat 15 Agustus 2017 di RSAS Madinah dalam usia 65 tahun karena serangan jantung

13. Jembar Untung Semo (SUB 18), wafat 14 Agustus 2017 di di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah pada usia 61 tahun karena gangguan pernafasan.

14. Ilyas Muhammad Jasa (BTH 08), wafat 13 Agustus 2017 di RSAS di Madinah dalam usia 64 tahun karena serangan jantung.

15. Ramlah Abdul Jalil Silalahi (MES 08), wafat 13 Agustus 2017 di  pemondokan di Madinah dalam usia 69 tahun karena serangan jantung.

16. Risda Yarni Muhammad Rasyid (BTH 06), wafat 12 Agustus 2017 di pemondokan di Madinah dalam usia 47 tahun, karena serangan jantung.

17. Diah Rialati Kasbullah Tjasuri (SOC 05), wafat 7 Agustus 2017 di RS Al Ansaar karena sakit pada saluran pernafasan.

18. Samidi Ciro Sentono (BTH 06), wafat 7 Agustus 2017 di RS King Fahd karena serangan jantung.

19. Mudjiono Sukibat bin Somodimedjo (SUB 08), wafat 5 Agustus 2017 pukul 10.43 WAS di hotel karena mengalami serangan jantung.

20. Supono Suseno Satari bin Suseno (SUB 07), wafat 5 Agustus 2017 jelang Salat Subuh di halaman Masjid Nabawi karena mengalami serangan jantung.

21. Amnah Hasri Husin binti Husin (MES 02), wafat 4 Agustus 2017 pukul 03.00 WAS di hotel karena serangan jantung.

22. Sarnata Sarun (JKG 05), wafat 3 Agustus 2017 pukul 20.00 di hotel karena serangan jantung.

23. Ilebbi binti Jinatta Lepu (UPG 08), wafat 3 Agustus 2017 jam 16.16 WAS di pelataran Masjid Nabawi karena serangan jantung.

24. Hadiarjo Singarejo Singaleksana Kasenet bin Singarejo Kasenet (SOC 01), wafat 3 Agustus 2017 jam 13.00 WAS di hotel karena serangan jantung.

25. Sukamto bin Sudarman Muryadi (JKS 16), wafat 3 Agustus 2017 di RS Al Anshoor, karena serangan jantung.

26. Indriyani Wahadi Wiyono (SOC 02), wafat 2 Agustus 2017 di RS Al Anshoor, karena penyakit jantung.

27. Agus Salim Mulia Siregar (MES 02), wafat 1 Agustus 2017, karena trauma pada tulang leher disebabkan terjatuh.

28. Umi Nadiroh Yunus Husen (SUB 05), wafat 31 Juli 2017 di RS Al Anshoor, karena mengalami serangan jantung.

29. Marfuah merupakan jemaah dari kloter 17 embarkasi Surabaya (SUB 17), wafat di Al Dar Hospital pada 7 Madinah karena mengalami serangan jantung.

Related posts:

50528620 Jemaah Haji Indonesia Meninggal di Tanah Suci 467189Aturan Baru Mengurus Paspor Umrah dan Haji Khusus Jokowi 1Presiden Ingin Pelayanan Ibadah Haji Semakin Baik 505284Virus MERS Masih Mengancam Jemaah Haji

Arahan dan Kebijakan DPP ABI Tentang Persatuan Umat Islam untuk Kedaulatan NKRI

9f184531-bf1a-4f8e-ac99-7914cb064e96

b871d6e3-6de2-401d-81db-a099cbe56ab2

 

Related posts:

img_8193Segera Dideklarasikan Organisasi Ahlulbait Indonesia Zainal-Abidin-BagirBudaya Politik, Ganjalan Kebebasan Beragama Anhar Gonggong, Hendi Jo, Henny Supolo Sitepu, Budi DoremiSejarah Orang Kecil, Pilar Bangsa yang Besar ahlulbait-indonesia-benderaPernyataan Sikap Ormas Ahlulbait Indonesia tentang Bom di Kampung Melayu

DPP ABI Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-72

WhatsApp Image 2017-08-14 at 13.44.16

Related posts:

clockJK: Saya Tolak Pembelian MA 60 Dewan Syuro, Para Guru  Ustad Memberikan Salam kepada Masyarakat Ahlulbait Indonesia, Foto by Lutfi JydAhlulbait Indonesia Dideklarasikan Diskusi-Buku-ICRPKebebasan Memilih Agama Jang-Oetama-Hos-TjokroMeneladani Gerakan Kebangkitan Tjokroaminoto

Pelatihan Upgrading Muslimah Ahlulbait Indonesia

Jakarta – Pimpinan Nasional Muslimah Ahlulbait Indonesia (Pimnas MAI) menyelenggarakan pelatihan upgrading dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi. Upgrading dengan tema “Bekerja Cerdas dan Ikhlas” ini diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Rabu 16 Agustus 2017.

Ketua Pimnas MAI, Dra. Endang Sri Rahayu, M.Ud., mengatakan, dengan adanya motivasi upgrading ini diharapkan terbangun kerja sama yang lebih baik, sehingga program-program kerja dan tujuan bersama dapat terselesaikan dengan baik pula. “Bagaimana mungkin akan mencapai tujuan bersama tanpa kerjasama,” tuturnya. “Dengan kinerja yang lebih baik nantinya, organisasi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” imbuhnya.

Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy, Direktur ICC menghadiri acara ini dan memberikan sambutan. Beliau menyampaikan bahwa seseorang dalam kehidupannya, begitu juga organisasi dalam menjalankan aktifitasnya, tidak akan sukses jika tidak ada program yang mengaturnya.

“Manusia dalam kehidupan materialnya maupun spiritualnya harus punya program, baik itu program jangka pendek, menengah maupun jangka panjang,” ucapnya. Kemudian beliau mengakhiri sambutannya dengan menyampaikan 12 unsur penting agar organisasi berjalan dengan baik (unsur-unsur penting yang disampaikan akan diuraikan pada artikel selanjutnya).

Sementara itu, materi upgrading disampaikan oleh Ir. Budhi Sulistijowarno, M. Eng. Untuk meningkatkan kinerja organisasi, menurutnya hal penting untuk disiapkan adalah perencanaan strategi. Begitu juga pelatihan ini adalah dalam rangka perencanaan strategi.

Setelah pemaparan materi, para peserta upgrading dipandu untuk melakukan simulasi hasil-hasil materi yang disampaikan. Pada sesi simulasi, peserta dibagi menjadi beberapa tim untuk membentuk kelompok diskusi.

Rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan tes kepribadian yang dipandu oleh Ibu Ema Rachman. Tes kepribadian dilakukan untuk mengetahui potensi-potensi yang ada dalam diri masing-masing anggota. Mengetahui potensi kepribadian ini dirasa penting untuk memudahkan setiap orang memilih tugas atau melakukan sesuatu sesuai bidang yang tepat menurut kepribadiannya.

Kegiatan diselenggarakan sejak pagi hingga sore hari dan diikuti segenap pengurus serta anggota Pimnas MAI. Acara juga dihadiri Ustaz Musa Kazim Al Habsyi selaku Ketua Lembaga Otonom Ahlulbait Indonesia. Pada kesempatan itu beliau menyampaikan tausiyah untuk memotivasi para peserta upgrading. (M/Z)

IMG20170816094944

IMG20170816101031

IMG20170816104544

IMG20170816141924

Related posts:

222737020131003KUMY-RALAT780x390Bendahara DPP ABI : Agenda APEC Hanya Menguntungkan Negara Maju 23313262-1d13-4917-b33f-e7ec198e8b17Pelatihan Dasar SAR dan Pelantikan ABI Rescue IMG20170416215849Siap Bentuk Lembaga Falak, ABI Gelar Pelatihan Rukyatul Hilal iedDPP Ahlulbait Indonesia Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H

Pidato Ketua Umum DPP ABI Menyambut HUT RI ke-72

Related posts:

iedDPP Ahlulbait Indonesia Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H gedung-dpr20Oknum DPR Menampar Karena Tidak Sabar Masuk Lift clockJK: Saya Tolak Pembelian MA 60 Jang-Oetama-Hos-TjokroMeneladani Gerakan Kebangkitan Tjokroaminoto

Dua Tipe Orang Bodoh dan Cara Menyikapinya

Orang bodoh itu ada dua macam. Orang yang tidak mengerti dan sadar bahwa dirinya tidak tahu. Dan orang yang bodoh tapi merasa paling pintar dan paling benar.

Rasulullah diberikan perintah untuk membimbing orang bodoh tipe pertama, dan diberikan perintah pula untuk tidak mempedulikan orang bodoh tipe kedua.

Perintah membimbing orang bodoh type pertama dijelaskan dalam ayat berikut:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dia-lah yang Mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Al-Jumu’ah ayat 2).

Perintah mengabaikan orang bodoh tipe kedua, dijelaskan dalam ayat berikut:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Q.S Al-A’raf ayat 199).

Tipe orang bodoh kedua adalah orang-orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Mereka merasa paling benar dan yang berbeda dianggap salah. Dan orang-orang seperti ini tidak bisa dihadapi dengan argumentasi.

Jika kita saksikan di media sosial, akan banyak sekali kita temui perilaku orang-orang bodoh tipe kedua ini. Perdebatan terjadi di mana-mana, dan merasa saling benar di antara satu sama lainnya. Sehingga tidak sedikit dampak buruk diakibatkan oleh tipe orang bodoh seperti ini. Fenomena hujat-menghujat dan saling mencaci di media sosial adalah salah satu hal yang ditimbulkannya. (AM)

#Dikutip dari buku “25 Hidangan dari Al-Quran”

25 Hidangan dari Al-Quran

Related posts:

Al-qur'an 1Cara Al-Quran Mengajak Manusia Berbuat Baik Wahabi dan Israel bekerjasama memecah Sunni-SyiahBancakan Multinasional “Rasa Mazhab” IMG_20160205_131832Kisah Iblis Menjerumuskan Kaum Nabi Luth a.s. PKTQ 2Tafsir: Kerusakan yang Ditimbulkan Orang Munafik

Rajut Toleransi di Sekolah Harmoni Indonesia

Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK-Indonesia) pimpinan Yudi Latief menghadirkan muda-mudi lintas agama dalam Program Sekolah Harmoni Indonesia (SHI). Program ini diselenggarakan dalam rangka mencegah terjadinya sikap intoleransi yang seringkali berujung pada kekerasan di masyarakat.

SHI diselenggarakan selama tiga hari di Wisma Catur, Ciruas, Serang, Banten, 11 sampai 13 Agustus 2017.

“Selama tiga hari ini kami adakan SHI sebagai wadah para pemeluk agama dan keyakinan untuk berdialog satu sama lain. Sehingga semakin mereka saling mengenal, mereka akan saling rukun untuk hidup berdampingan,” kata Sunaryo, selaku Direktur Eksekutif SHI.

Sunaryo menambahkan, orang yang tidak terbiasa dengan heterogenitas, akan menjadi sempit cara berpikirnya sehingga mereka akan cenderung menolak perbedaan. Penolakan terhadap adanya perbedaan itulah yang memicu sikap intoleransi dan kekerasan terhadap penganut keyakinan lain.

“Kami percaya bahwa keberagaman merupakan sebuah keniscayaan. Tidak ada jalan lain bagi setiap orang kecuali mengenali, memahami, dan menerima keberagaman tersebut.“ Tutur Mujib, salah satu peserta yang berasal dari Jakarta.

Dengan saling mengenal ajaran agama dan keyakinan lain, akan membuat kita menjadi semakin terbuka menerima perbedaan. “Kita harus legowo menerima perbedaan yang ada di masyarakat, sehingga kita akan lebih toleran terhadap pemeluk agama atau keyakinan lain.” Pungkas Mujib.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan dari pemeluk agama Islam, Katolik, Hindu dan Budha di daerah Banten dan Jakarta. Dari kalangan Muslim sendiri dihadiri perwakilan dari berbagai ormas seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Ahlulbait Indonesia, dan beberapa Ormas Islam lainnya. (AM/Munawan)

Related posts:

Asian Muslim Action NetworkAsian Muslim Action Network (AMAN): Tidak Ada Konflik Berbasis Agama Ali Musthafa YakubDiskusi Publik Fenomena ISIS Konferensi Nasional Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam yang diadakan WALHI di Balai Kartini Jakarta 2WALHI: Kerusakan Hutan Indonesia Terparah Sedunia m nasir 1Publikasi ilmiah internasional Indonesia lewati Thailand

Syarat Memakmurkan Masjid menurut Al-Quran

إِنَّما يَعْمُرُ مَساجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ وَ أَقامَ الصَّلاةَ وَ آتَى الزَّكاةَ وَ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسى‏ أُولئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Serta melaksanakan shalat, membayar zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah, ayat 18)

Bila kita perhatikan ayat di atas, kita dapati bahwa Allah swt hendak menjelaskan kepada hamba-Nya tentang siapa saja mereka yang dapat memakmurkan masjid. Ayatullah Makarim mengatakan memakmurkan masjid di sini bisa saja diartikan dengan menghidupkan masjid dan beribadah di masjid.

Dua syarat pertama adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau hari kiamat. Keduanya merupakan dasar keyakinan dari agama Islam sehingga mereka yang ingin memakmurkan masjid haruslah mereka yang meyakini dua dasar ini.

Syarat selanjutnya adalah (أَقامَ الصَّلاةَ وَ آتَى الزَّكاةَ) mereka yang mendirikan shalat dan membayar zakat. Hal ini menegaskan bahwa mereka yang memakmurkan masjid, adalah orang yang memiliki keimanan dan keyakinan bukan sebatas di bibir saja namun mereka mengamalkan keyakinan mereka dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan mendirikan salat dan membayar zakat.

Mereka yang ingin memakmurkan masjid bukan hanya harus mengurus ibadah mereka dengan Allah saja namun juga harus mampu menjalin hubungan dengan mahluk-Nya yaitu dengan membayar zakat.

Sedangkan syarat terakhir yang disebutkan ayat di atas adalah mereka yang tidak takut kepada apa pun kecuali kepada Allah swt. Hati mereka penuh dengan cinta Allah dan yang ada dalam pikiran mereka adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah serta larangan-Nya. Dalam hal beribadah, mereka menganggap diri mereka lebih hina dari yang lainnya. Mereka selalu merasa bahagia ketika membantu sesama mahluk-Nya.

(فَعَسى‏ أُولئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدينَ) di akhir ayat, Allah swt berfirman bahwa mudah-mudahan mereka menjadi orang yang diberi petunjuk. Sehingga Allah bisa memberikan mereka petunjuk untuk meraih tujuan mereka dan bisa memakmurkan masjid. Lalu tatkala mereka bisa memakmurkan masjid maka mereka akan mendapatkan pahala dari-Nya.

Setelah mengetahui hal ini, apabila kita ingin termasuk sebagai para pemakmur masjid maka kita harus berusaha dan mendidik diri kita agar bisa memenuhi syarat-syarat yang al-Quran sebutkan. Semoga Allah swt memberikan pertolongan kepada kita supaya bisa meraih dan memenuhi syarat-syarat ini. (MZ/Sutia)

Related posts:

ABI Press_Muhsin LabibNatal Tanpa Salju Geliat-Ekonomi-KalbarGeliat Kebangkitan Komoditas Primer Kalbar OLYMPUS DIGITAL CAMERAMenjadi Pemilik Hari Raya yang Sesungguhnya Islam-Agama-CintaIslam (Agama) Cinta Kasih