Berita

Perjalanan Cinta Dali Menuju Karbala

Selasa malam, 24 Oktober 2017 menjadi hari tersulit bagi Dali. Sudah empat hari ayahnya dirawat di ICU RSUD Usada Insani, Tangerang karena mengalami pembengkakan jantung dan paru-paru. Malam itu juga ia harus bergegas menyiapkan keberangkatan perjalanan ziarahnya esok hari menuju Karbala, Irak menyambut peringatan 40 hari gugurnya Imam Husain a.s. cucunda Nabi Muhammad Saw. Perjalanan spiritualnya menuju Karbala memang sudah direncanakan Dali sejak lama.

22789027_142928033120191_6078299867885295575_n“Ayahmu sedang sakit keras Dali,” kata sebagian saudara menasihati Dali supaya mengurungkan kepergiannya. Sebagian yang lain tetap menyuruhnya berangkat. “Pergi saja ziarah baba (ayah) sudah ikhlas, yang penting doain baba biar cepat sembuh dan keluarga kita diberikan kesehatan dan keberkahan ya Dali,” pesan ayah menguatkan langkahnya.

Perjuangannya memenuhi panggilan cinta Imam Husain a.s memang tidak semulus jalan tol. “Banyak hambatan silih berganti,” kata Dali. Bahkan pemilik nama lengkap Muhammad Murdali ini sempat berencana membatalkan ziarahnya karena tak sanggup membayar visa dan pelunasan tiket. Belum lagi untuk kebutuhan makan dan penginapan selama kurang lebih 20 hari perjalanan.

Ia juga sempat ingin menggadaikan motornya yang baru lunas cicilan untuk menutupi kebutuhan. “Tapi nggak jadi karena motor itu buat bolak-balik mengurus baba di rumah sakit,” kata Dali. Sedangkan sebagai anak pertama ia juga bertanggungjawab membantu adik-adiknya yang masih sekolah. Apalagi ayahnya hanya bekerja sebagai pemungut sampah dengan penghasilan tak seberapa.

“Sampai akhirnya saya meminjam perhiasan istri, dijual untuk bayar tiket dan visa,” tutur remaja yang sudah dua tahun mengakhiri masa lajangnya ini. Beruntung bagi Dali dikarunia seorang istri yang selalu mendukung langkah-langkahnya.

Perlahan, permasalahannya terselesaikan dengan bantuan dari berbagai pihak. Ada yang meminjamkan uang untuk keperluan keluarganya, ada pula dermawan yang membantu memenuhi kebutuhan keberangkatan ziarahnya.

Keberangkatan

Selasa Malam 24 Oktober, pukul 19:30 WIB, dengan perasaan sedih Dali pergi meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan ayah dan keluarganya. Ia segera menuju kantor DPP Ahlulbait Indonesia (ABI) tempatnya mengabdikan diri, untuk bergabung dengan rombongan peziarah lain dari pelbagai daerah. Rombongan backpacker ini terdiri dari 10 orang. Salah satu dari mereka adalah Eman Sulaiman, rekan Dali yang juga mengabdikan diri DPP ABI. Mereka sengaja memilih perjalanan backpacker karena minimnya dana, “meski harus tidur di mana saja dan makan seadanya, ini demi menyambut panggilan Imam Husain a.s.,” tutur Dali.

Rombongan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta hari Rabu pukul 3 pagi. Satu jam kemudian mereka sampai di Bandara. Sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat dua jam kemudian, Dali bersama rombongan menggunakan waktu senggangnya untuk berdoa dan beribadah salat subuh.

Pukul 06:15 WIB, pesawat berangkat menuju Bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka sampai di Kuala Lumpur pukul 9 pagi (waktu Malaysia) dengan menempuh perjalanan lebih dari dua jam. Setelah transit lebih dari 10 jam, rombongan melanjutkan perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Teheran, Iran untuk transit perjalanan selanjutnya.

WhatsApp Image 2017-10-28 at 17.47.06Rombongan ziarah sampai di Bandara Teheran Rabu malam pukul 23:00 (waktu Iran) setelah menempuh 9 jam perjalanan. “Alhamdulillah semua berjalan lancar,” kata Dali. Rombongan disambut pelajar di Tehran dan mendapat persinggahan sementara di sana.

84ac4dab-c40e-4b40-842b-216123798042Hari Kamis, rombongan memanfaatkan waktu untuk menziarahi makam tokoh revolusi Islam Imam Khomeini di Teheran dan beberapa tokoh lain di sana. Hari itu juga rasa bahagia menyelimuti hati Dali setelah mendengar kabar kondisi ayahnya sudah membaik. “Alhamdulillah Ya Allah akhirnya bapak hamba sudah pulang ke rumah dengan keadaan sehat wal afiat,” tulis Dali di akun Facebooknya.

Dari Teheran, rombongan melanjutkan perjalanan ke Mashad menggunakan kereta pada malam hari. Setelah menempuh 8 jam perjalanan, Jumat pagi rombongan sampai di Mashad untuk berziarah ke makam Imam Ali Ar-Ridha a.s dilanjut dengan Salat Jumat di komplek pemakaman Imam. Setelah itu rombongan berjalan kaki sejauh 400 meter menuju penginapan.

Kurang lebih selama 8 hari rombongan akan menghabiskan waktunya untuk menziarahi beberapa tempat di Iran. Pada tanggal 2 November, rombongan akan melanjutkan perjalanan ziarah ke makam Imam Husein a.s di Karbala, Irak dan bergabung dengan jutaan kaum Muslimin dari seluruh dunia. (M/Z)

Bersambung …

Related posts:

Mbah MarijanMbah Maridjan: Pijar di Tengah Kabut Merapi Syafinuddin Al-MandariPesan Peradaban dari Karbala jadi 1Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Jawad Belajar-Parenting-IBFBelajar Parenting Bersama Munif Chatib

Sedekah itu Wajib

Disebutkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya wajib bagi setiap Muslim dalam setiap harinya untuk bersedekah.”

Rasulullah saw ditanya, “Siapakah yang sanggup melakukan itu, (Wahai Rasulullah?)”

Rasulullah saw menjawab, “Engkau menyingkirkan gangguan dari jalan, itu adalah sedekah. Engkau menunjukkan jalan kepada seseorang (yang tersesat), itu adalah sedekah. Engkau menjenguk orang sakit, itu adalah sedekah. Engkau menyuruh pada kebaikan, itu sedekah. Engkau melarang terhadap kemungkaran, itu sedekah. Dan engkau membalas salam, itu adalah sedekah.”

Rasulullah saw:

“Setiap kebaikan itu adalah sedekah”

“Meninggalkan perbuatan jahat itu adalah sedekah.”

(Sumber: Mizanul Hikmah)

Related posts:

Sayyid Ali AsyurResensi Buku Ramalan Akhir Zaman Imam Ali bin Abi Thalib 25 Hidangan dari Al-QURAN.Buku: 25 Hidangan dari Al-Quran elegi-cinta-salman-al-farisi 1KISAH – SALMAN AL FARISI anak menangisManfaat Tangisan Anak menurut Imam Jafar Shadiq

Nasihat bagi Pengendara

Imam Ali a.s. berkata, “jika seseorang ingin naik kendaraannya seraya membaca ‘Bismillah,’ malaikat akan menjaganya sampai dia turun. Namun, jika dia tidak mengingat nama Allah, setanlah yang akan menemaninya dan akan berkata kepada orang itu, ‘Bernyanyilah!’ Kalau orang itu tidak mau, dia akan berkata, ‘Berangan-anganlah!’ Dan orang itu akan tetap mengkhayal sampai dia turun.” (Dikutip dari buku “Perjumpaan dengan Iblis”)

Ahlulbait Indonesia 47

 

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara benderra_abi 1Pesan Imam Ali as untuk Berbuat Baik 21Pesan Imam Ali tentang Mencintai Saudara dalam Tingkat Ketakwaan DPPPPHidup dan Mati menurut Imam Ali

Nasihat tentang Ajal

“setiap ada orang yang mau meninggal, Iblis mewakilkan setannya untuk membuat orang itu kafir atau meragukan agamanya sampai ruhnya keluar. Kalau orang itu beriman, si setan tidak akan mampu. Oleh karena itu, kalau kalian menjenguk orang yang mau meninggal, talqin-kanlah dengan syahadat, bahwa tiada Tuhan selain Allah  dan Muhammad adalah utusan Allah sampai dia meninggal.” (Imam Ja’far Ash Shadiq a.s.)

Ahlulbait Indonesia 51

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 1234Karakter terbaik menurut Imam Hasan Al-Askari 34Kata-kata Mutiara Imam Ali: Antara Lidah dan Hati 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi

Kalah Gugatan Bukit Duri, Pemprov DKI Wajib Bayar Ganti Rugi

Jakarta – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutus gugatan warga Bukit Duri terkait penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta pada 28 September 2016. Dalam putusan yang dibacakan pada Rabu (25/10/2017), hakim memenangkan warga.

Pemprov diwajibkan membayar ganti rugi materiil masing-masing Rp 200 juta kepada 93 warga karena terbukti melanggar hukum dalam penggusuran.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan menghormati putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memenangkan gugatan warga Bukit Duri, Jakarta Selatan. Anies mengaku siap mengadakan pertemuan dengan warga. Pertemuan menurutnya bukan hanya terkait kewajiban Pemprov membayar ganti rugi sesuai gugatan, namun juga membicarakan konsep permukiman di sekitar bantaran Kali Bukit Duri.

“Mengenai Bukit Duri kita menghormati keputusan pengadilan. Kita tidak berencana melakukan banding,” kata Anies kepada wartawan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2017). (M/Z)

Related posts:

Kemerdekaan IndonesiaMembangun semangat juang dengan Napak Tilas Proklamasi PuskatriKelangkaan BBM: Ngantri Premium Dapat Pertamax seminar Jaringan Kerjasama PerpustakaanAlih Media: Langkah Perpusnas Sambut Era Perpustakaan Digital ketua-umum-pbnu-kh-said-aqil-siradj-beserta-sejumlah-_170711150717-486Pengurus NU Dilarang Salatkan Jenazah Koruptor

Adab ketika Saling Bertemu

Rasulullah saw bersabda: “Jika kalian saling bertemu, hendaklah kalian bertemu dengan memberi salam dan berjabat tangan; dan jika kalian saling berpisah, hendaklah kalian berpisah dengan istighfar.” (Mizanul Hikmah)

Ahlulbait Indonesia 48

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 34Kata-kata Mutiara Imam Ali: Antara Lidah dan Hati 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi Ahlulbait Indonesia 51Nasihat tentang Ajal

Kisah Imam Ali Zainal Abidin a.s.: Roti Kering dan Mutiara

Pada suatu hari, Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad a.s. berada di sebuah majelis yang dihadiri oleh para pencinta dan orang-orang yang tidak mempercayai keimaman beliau a.s. Tiba-tiba datang seorang lelaki dari pencinta beliau yang menampakkan wajah sedih dan murung.

Imam Ali Zainal Abidin a.s. bertanya, “Kenapa engkau tampak bersedih? Apa yang sedang terjadi padamu?”

Lelaki tersebut menjawab, “Wahai putera Rasulullah! Aku memiliki hutang sebesar 4 dinar. Saat ini aku tidak memiliki sesuatu yang dapat aku pergunakan untuk melunasi hutangku tersebut. Selain itu, keluargaku juga berjumlah banyak dan aku tidak memiliki pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhan mereka.”

Setelah mendengar penuturan lelaki tersebut, Imam Ali As-Sajjad a.s. berlinang air mata. Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Imam! Kenapa Anda menangis?”

Imam Sajjad a.s. menjawab, “Menangis dapat memberikan ketenangan terhadap musibah yang menimpa dan tidak ada musibah yang lebih besar daripada ketika seseorang tidak dapat membantu kesulitan seorang sahabatnya yang mukmin.”

Pada saat itu, orang-orang yang berada di majelis tersebut mulai bubar. Orang-orang yang tidak meyakini Imam Sajjad a.s. meninggalkan majelis sambil berbisik-bisik bahwa para imam yang mengaku memiliki segalanya dan dapat memohon apapun dari Allah swt, tidak mampu menyelesaikan kesulitan yang menimpa salah seorang pencintanya.

Lelaki yang menghadap Imam Sajjad a.s. juga mendengar cibiran mereka. Ia berkata kepada Imam Sajjad a.s., “Wahai Imam! Mendengar ucapan mereka ini lebih sulit bagiku daripada harus memikul kesulitan hidup.”

Imam Sajjad a.s. berkata, “Allah swt akan memberikan jalan keluar untuk semua urusanmu.”

Kemudian Imam Sajjad a.s. berkata kepada salah seorang budak beliau, “Ambilkan makanan yang akan aku santap untuk berbuka puasa dan sahurku!”

Budak tersebut membawakan dua potong roti kering.

Imam Sajjad a.s. berkata kepada lelaki pencintanya itu, “Ambillah dua potong roti kering ini, karena Allah swt akan memberikan kebaikan dan berkah melaluinya.”

Kemudian lelaki itu mengambil dua potong roti kering tersebut dan pergi dari sisi Imam Sajjad a.s. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang penjual ikan dan berkata, “Berikan seekor ikan kepadaku dan aku akan membayarnya dengan sepotong roti yang aku bawa ini.”

Penjual ikan pun menerimanya dan memberikan seekor ikan kepada lelaki itu.

Kemudian lelaki tersebut membawa pulang ikan yang bayar dengan sepotong roti kering pemberian Imam Sajjad a.s. Setelah tiba di rumah, ia membersihkan dan akan memasak untuk keluarganya.

Saat membelah perut ikan untuk membersihkannya, ia menemukan dua butir mutiara berharga dari dalam perut ikan itu. Dengan perasaan gembira, ia memungut batu berharga itu dan segera bersyukur kepada Allah swt.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk seseorang diiringi ucapan salam. Ketika ia keluar dan membuka pintu, ia melihat penjual ikan berdiri di depan pintu. Penjual ikan berkata, “Kita tidak bisa memakan roti yang telah kering ini karena sangat keras sekali. Sepertinya kondisimu memang sedang dalam kesulitan. Ambillah roti kering ini kembali dan aku pun mengikhlaskan ikanku untukmu.”

Setelah penjual ikan pergi dan beberapa saat berlalu, terdengar kembali pintu diketuk dan ucapan salam dari luar rumah. Ketika ia membukanya, orang yang mengetuk pintu berkata, “Aku datang untuk menyampaikan pesan Imam Ali Zainal Abidin a.s. Beliau berkata, “Allah swt telah menyelesaikan kesulitanmu, sekarang kembalikan roti itu, karena orang selain kami tidak dapat memakannya.””

Lalu lelaki pencinta Imam Sajjad a.s. tersebut menjual batu mutiara bernilai yang ditemukan di perut ikan itu dengan harga yang sesuai saat itu. Sebagian ia gunakan untuk membayar hutang-hutangnya dan sebagian lain ia manfaatkan sebagai modal kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (Safinah-Online)

Related posts:

elegi-cinta-salman-al-farisi 1KISAH – SALMAN AL FARISI benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 21Pesan Imam Ali tentang Mencintai Saudara dalam Tingkat Ketakwaan DPPPPHidup dan Mati menurut Imam Ali

Peran Motivasi dalam Meningkatkan Kualitas Kerja

Banyak definisi yang disampaikan para ilmuan tentang apa yang dimaksud dengan motivasi. Meski tidak ada kata sepakat di antara mereka tentang definisi motivasi, tapi di antara semuanya menekankan satu hal yaitu sebuah faktor dari dalam diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan kegiatan. Dapat juga disimpulkan bahwa semua tindakan yang dilakukan seseorang  itu adalah akibat dari sebuah motivasi yang ada dalam dirinya. Semakin kuat motivasi seseorang, maka tindakannya akan semakin bagus; dengan bahasa lain bisa dikatakan bahwa jika keinginannya semakin kuat maka tindakannya juga semakin kuat.

Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Syekh Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy (Syekh Hakim) menerangkan, karena motivasi tidak lepas dari pekerjaan dan tindakan manusia, maka sebaik-baik sumber untuk memahami lebih dalam tentang motivasi adalah al-Quran. “Karena al-Qur’an adalah firman Allah swt, dan Allah lah yang menciptakan manusia, maka Dia lah yang paling tahu tentang semua dimensi yang ada dalam diri manusia termasuk motivasi di dalamnya,” papar Syekh Hakim saat memberikan sambutan acara Rakornas II Muslimah Ahlulbait Indonesia, Jumat (20/10).

Lalu, bagaimana cara menguatkan motivasi agar melahirkan kerja-kerja yang bermanfaat? Syekh Hakim menjelaskan, setidaknya ada dua hal yang bisa diambil pelajaran dari al-Qur’an untuk menguatkan motivasi dalam diri seseorang.

Pertama, metode pengetahuan. Yaitu al-Qur’an selalu mengajak manusia untuk memperdalam makrifatnya tentang Allah, yang merupakan wujud paling mulia yang menjadi sebab dari segala sesuatu sehingga dengan makrifat yang semakin dalam, motivasi seseorang juga akan semakin kuat.

Kedua, metode yang berhubungan dengan tindakan. Contoh, seperti kita ketahui bahwa manusia memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan keburukan. Perbuatan manusia akan menjadi akibat daripada kecendrungan-kecenderungan. Kecenderungan baik akan melahirkan perbuatan baik; kecenderungan buruk melahirkan perbuatan buruk.

Karena itu perbuatan baik dan buruk menurutnya adalah kesempatan yang semestinya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Syekh Hakim kemudian mengutip riwayat dari Imam Ja’far Shadiq yang membagi tindakan manusia menjadi tiga golongan. Pertama, tindakan manusia yang dilakukan karena takut. Mereka beribadah karena takut neraka. Kedua, tindakan dilakukan karena menginginkan pahala dan surga. Ketiga, melakukan tindakan karena kecintaan dan kebebasan. “Walaupun yang disampaikan Imam Ja’far Shadiq berhubungan dengan tindakan ibadah, tetapi bisa diluaskan kepada hal-hal lainnya,” terang Syekh Hakim.

Dalam praktiknya, tiga golongan tersebut bisa digambarkan juga dalam hal berorganisasi. Bisa saja sebagian orang melakukan berbagai program kerjanya karena takut dipecat dari keanggotaan atau pengurus, atau malu kepada yang lain; bisa juga melakukan itu karena menginginkan pahala atau kedudukan yang tinggi; bisa juga karena kecintaan, dedikasi yang tinggi.

Berkaitan dengan tiga hal itu ada beberapa contoh yang bisa diambil dalam al-Quran.  Pertama, untuk sekelompok orang yang melakukan ibadah atau pekerjaannya karena rasa takut. Dengan bahasa peringatan, misalnya dalam surat Ali Imran ayat 12, Al-Baqarah ayat 11, Surat At-Taubah ayat 68 juga dalam ayat-ayat lain Allah memperingatkan kepada mereka akan siksa api neraka sehingga mereka mampu melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan.

Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil inspirasi bahwa kalau saat ini tidak bekerja dengan baik, tidak bekerja keras, akibatnya dalam waktu ke depan akan mendapat kegagalan. Ketika mengatakan akibat, tidak hanya berbicara tentang akhirat. Di dunia pun kita akan mendapat akibatnya. Jika tidak bekerja dengan baik dan memanfaatkan waktu sungguh-sungguh, yang ada akan mendapat kesulitan demi kesulitan di masa yang akan datang.

Kedua, tindakan yang dilakukan karena ingin pahala. Dalam al-Quran digambarkan juga, oleh Allah Swt, untuk menggerakan sekelompok orang melakukan sebuah tindakan dan pekerjaan dengan sebuah imbalan atau keuntungan.

Dalam al-Quran surat Ali-Imran ayat 145, An-Nisa ayat 134, Surat Fussilat ayat 30 dan At-Taubah ayat 72 dan beberapa ayat lain Allah mensifati tentang surga dan menjelaskan berbagai kebahagiaan dan kesuksesan yang akan didapatkan, sehingga hal ini menjadi motivasi bagi setiap manusia. Maka setiap melakukan program kerja dengan baik, tentu akan ada masa depan yang cerah dan masa depan yang menjanjikan.

Ketiga, tindakan manusia yang disebutkan oleh al-Quran adalah yang dilakukan dengan kecintaan. Banyak yang melakukan tindakan atau program bukan karena takut apa-apa atau karena ingin sesuatu. Seorang ibu misalnya, ketika menyusui anaknya tentu ibu itu bukan karena ingin apa-apa tapi menyusui anaknya karena kecintaan.

Apresiasi

Ketika Imam Ali bin Abi Thalib a.s. mengangkat Malik Al-Asytar menjadi Gubernur Mesir saat itu, Imam Ali mengatakan dalam suratnya memerintahkan Malik untuk memberikan kebaikan-kebaikan (imbalan) bagi orang yang melakukan kebaikan di antara masyarakat, dengan berbagai hal yang kemudian mendorong yang lain juga untuk melakukan kebaikan. Karena itu sebagai pimpinan juga perlu melakukan apresiasi bagi mereka yang telah melakukan sebuah kebaikan, sehingga apresiasi itu menjadi motivasi bagi yang lain untuk meniru.

Apresiasi bisa dalam dua bentuk. Pertama, apresiasi verbal atau melalui lisan. Tidak perlu biaya apapun. Misalnya, pimpinan pusat menelfon bawahannya yang sudah melakukan karya dengan mengucapkan terima kasih kepadanya. Itu merupakan apresiasi yang dapat mendorong melakukan perbuatan-perbuatan baik lagi.

Kedua, adalah non verbal. Bisa bermacam-macam bentuk: Pertama dengan memberi hadiah materi. Karena itu Allah swt menggunakannya juga dalam al-Quran, untuk meningkatkan motivasi yaitu dengan pemberian hadiah di dunia sebagaimana tercantum di surat al-A’raf ayat  96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Surat An-Nur ayat 55: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.”

Apresiasi non verbal kedua, dalam bentuk non materi tetapi dunia. Allah Swt dalam surat al-Fath ayat 18: “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu dia memberikan ketenangan atas  mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.“ Ini adalah sesuatu yang penting. Saya yakin bahwa kita bisa untuk malakukan itu. Para pimpinan bisa melakukan itu, bagi mereka yang telah melakukan pekerjaan dan program yang baik bisa diberikan apresiasi non materi seperti yang tadi ketenangan diri dan seterusnya.

Apresiasi non verbal ketiga, dalam bentuk non materi tapi adanya di akhirat. Kita dapatkannya di akhirat. Banyak sekali dalam al-Quran yang menjelaskan hal itu, bahwa Allah swt memberikan janji kenikmatan surga bagi mereka yang melakukan berbagai kebaikan. Dan bagi setiap pimpinan hendaknya bisa mengambil inspirasi seperti ini untuk menumbuhkan motivasi. (M/Z)

Related posts:

Upgreding jadi1Tingkatkan Kualitas Kader, DPW ABI DKI Jakarta Gelar “Upgrading and Coaching Programme” Ahlulbait IndonesiaWAWANCARA SEKJEN ABI DENGAN ASTRO TV Bantuan RCTI Peduli bekerjasama dengan DPW ABI Sulawesi TengahKiprah RCTI Peduli dan ABI Dongkrak Mutu Pendidikan di Palu Aparat Sigap Peringatan Asyura Semarang Berjalan LancarAparat Sigap, Peringatan Asyura Semarang Berjalan Lancar

Rakornas II Muslimah Ahlulbait Indonesia

Jakarta – Muslimah Ahlulbait Indonesia (MAI) mengadakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ke-2 di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Jumat 20 Oktober 2017. Kegiatan diikuti sebanyak 40 peserta terdiri dari perwakilan MAI di Pimpinan Pusat dan Wilayah seperti DKI, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi  Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.

Ketua Pimpinan Nasional (Pimnas) MAI, Dra. Endang Sri Rahayu M.Ud., mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka membangun koordinasi. “Supaya bisa membangun program-program yang sinergi dari Pimpinan Pusat dengan Pimpinan Wilayah hingga Pimpinan Cabang,” tutur Dra. Endang.

Sementara itu, KH. Hassan Alaydrus selaku Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), dan Ustaz Husein Shahab mewakili Dewan Syura ABI, hadir memberikan sambutan pada saat pembukaan Rakornas.

KH. Hassan Alaydrus menekankan, untuk membangun koordinasi yang baik harus mengutamakan kerja-kerja prioritas, yaitu dengan membangun silaturrahmi kepada berbagai kalangan masyarakat dan tokoh pemerintah. “Setan bekerja keras memecah-belah kaum Muslimin. Kelompok garis keras muncul di mana-mana. Mestinya dengan kondisi seperti itu kita harus makin kencang silaturrahminya. Silaturrahmi akan bagus dengan menjaga sikap sopan santun, berpakaian rapi agar enak dilihat, kemudian memahami juga apa yang disebut dengan kearifan lokal,” pesan KH. Hassan Alaydrus.

MAI harus menjadi semacam pemantik yang menggerakkan program-program besar, kata Ustaz Husein Shahab. Beliau menurturkan bahwa misi besar ABI adalah menjadi sebuah organisasi Ahlulbait yang bukan hanya untuk komunitasnya saja, tetapi sebuah organisasi yang bisa berkhidmat untuk bangsa dan kaum Muslimin seluruhnya. “Koordinasi adalah kata kunci yang paling penting,” paparnya.

“Jangan pernah minder dengan jumlah kita yang sedikit. Sedikit tapi berkualitas jauh lebih baik daripada banyak tetapi tidak berkualitas. Sedikit yang bisa menggerakkan itu jauh lebih baik daripada banyak tapi statis,” pungkasnya.

Hadir pula Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy, pada pembukaan acara Rakornas ini. Dengan tema “Peran Motivasi dalam Meningkatkan Kualitas Kerja,” beliau menyampaikan ceramahnya untuk memberikan semangat kepada para peserta.

Di akhir acara, hadir Ustaz Musa Kazim Al-habsyi selaku Ketua Bidang Otonom ABI mengisi acara penutupan.

Rakornas ini terselenggara selama tiga hari sejak Jumat 20 Oktober hingga Minggu 22 Oktober 2017. Rangkaian kegiatan diisi dengan beragam materi di antaranya: Sosialisasi Kurikulum Diniyah, Penyelarasan Kesekretariatan MAI, Membangun Kaderisasi bersama ABI dan MAI, Sinergitas Keanggotaan, Advokasi, Konsepsi Gerakan Organisasi Muslimah ABI. (M/Z)

WhatsApp Image 2017-10-22 at 13.39.33

WhatsApp Image 2017-10-22 at 13.32.39

WhatsApp Image 2017-10-22 at 13.34.39

 

Related posts:

IMG20170816104544Pelatihan Upgrading Muslimah Ahlulbait Indonesia 123Sarasehan Nasional SAR dan Sosial Ahlulbait Indonesia pengungsi-sampang-130923cSIARAN PERS DPP ABI : PEMKAB SAMPANG MENOLAK UPAYA DAMAI WARGA WhatsApp Image 2017-09-30 at 19.29.36Berbagi Kasih 10 Muharram, Muslimah ABI Santuni Anak Yatim

Celaka bagi Orang yang Lalai terhadap Salatnya

Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.

(فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ)

Dalam ayat ini Allah menyebut orang-orang yang celaka adalah yang lalai terhadap shalatnya bukan yang lalai di dalam shalatnya. Atau dalam bahasa arab Allah menyebutkan

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Bukan

الَّذِينَ هُمْ في صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Kenapa demikian?

Kita harus bersyukur karena Allah tidak menyebut celaka kepada orang-orang yang lalai di dalam shalatnya. Karena kita sendiri merasakan bahwa ketika takbir telah terucap, pikiran sudah tidak fokus lagi kepada shalat.

Tiba-tiba teringat hutang seseorang yang belum dibayar, ingin pergi keluar kota dan berbagai masalah tiba-tiba memenuhi pikiran. Bahkan sering kita lupa jumlah rokaat karena memikirkan hal lain diluar shalat.

Imam Ja’far As-Shodiq pernah ditanya apakah arti lalai dalam ayat ini? Apakah yang dimaksud adalah was was atau keraguan dalam shalat? Imam menjawab,

“Tidak. Jika itu yang dimaksud maka banyak orang yang tidak bisa melewatkannya. (Arti lalai dalam ayat ini) adalah tidak memperhatikan waktu shalat dan menunda-nunda untuk melaksanakannya.”

Jika yang celaka dalam ayat ini adalah orang yang lalai di dalam shalat, berapa banyak orang yang akan celaka?

Tentu hampir semua orang merasakan gangguan dalam shalat sehingga ia lalai. Namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah mereka yang meremehkan waktu shalat. Menunda-nunda ketika ingin melaksanakannya. Mendahulukan urusan lain daripada shalatnya. Merekalah orang yang shalat namun celaka, kata Allah swt.

Padahal, sifat malas untuk shalat dan mengulur-ulur waktunya adalah sifat orang-orang munafik. Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً -١٤٢-

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang Menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa’ 142)

Masalah mengulur waktu memang sudah menjadi penyakit yang merata. Setan tidak akan tinggal diam dan berusaha membuat shalat menjadi beban yang begitu berat. Tapi kita harus selalu sadar bahwa menunda waktu shalat sama saja mengundang celaka. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berpesan,

“Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah melebihi shalat. Maka janganlah kalian disibukkan dengan urusan dunia sehingga melalaikan waktunya. Karena Allah mencela suatu kaum dalam firman-Nya (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya yaitu mereka yang meremehkan waktu shalat.”

Bukankah kita merasa tidak enak ketika harus meninggalkan tamu saat waktu shalat tiba? Bukankah kita sering menunda shalat karena takut melewatkan acara di tv? Bukankah kita sering mengakhirkan waktu shalat karena takut bisnis kita akan gagal jika pembicaraannya terputus?

Imam Ja’far pernah ditanya, bagaimanakah lalai terhadap shalat itu? Beliau menjawab,

“Ketika seorang mendahulukan urusan dunianya atas urusan akhiratnya.”

Padahal mereka adalah orang-orang yang shalat, tapi sayang sekali Allah menyebut mereka orang-orang yang celaka. Tidakkah kita ingat Rasulullah saw di akhir hayatnya berpesan, “Umatku umatku… Jagalah shalat…” Bahkan beliau pernah bersabda,

“Kelak tidak akan mendapat syafaatku, orang yang meremehkan (waktu) shalat.”

Kenapa memperhatikan waktu shalat itu begitu penting?

Karena ketika kita meremehkan waktu shalat, kita telah meremehkan sesuatu yang paling dicintai Allah swt. Dan meremehkan sesuatu yang paling dicintai Allah sama saja meremehkan Allah swt. Bukankah kita akan bangun lebih pagi jika ada janji dengan orang yang penting bagi kita? Kita akan berangkat lebih awal agar jangan sampai terlambat menemuinya. Akankah Allah lebih rendah dibandingkan manusia termulia sekalipun?

Sumber: Khazanahalquran.com

 

Related posts:

logo-OKI25 Juta Orang dari Penduduk Negara-negara OKI Mengungsi PKTQ 2Tafsir: Kerusakan yang Ditimbulkan Orang Munafik bingungDua Tipe Orang Bodoh dan Cara Menyikapinya Ahlulbait Indonesia 25Kasih Sayang dan Toleransi Adalah Kartu Identitas Orang Islam