Monthly Archives: February 2018

Tips Sehat menurut Imam Ali

Hal-hal sederhana yang sebenarnya penting bagi kesehatan tubuh manusia seringkali justru diabaikan, seperti pola makan dan tidur. Terkait hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib berkata pada  putranya, “Wahai Hasan! Jangan makan sebelum engkau lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Kunyahlah makanan dengan baik. Lalu setiap engkau merasakan kantuk maka pergilah ke tempat tidur. Seandainya engkau mengamalkan ini semua maka engkau tidak akan membutuhkan seorang Tabib.” (Al-Khishol, jilid.1, hal.335 )

Dari hadis tersebut Imam Ali memberikan contoh sederhana tentang pola hidup sehat. Empat hal yang jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka akan terjamin kesehatannya, yakni:

  1. Tidak makan sebelum lapar.
  2. Berhenti makan sebelum kenyang.
  3. Mengunyah makanan dengan baik.
  4. Dan tidur ketika merasa kantuk.

Apa yang diajarkan Imam Ali tentu tidak lepas dari tuntunan Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis Rasul Saw bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Barangsiapa yang ingin mendatangi kota ilmu maka harus melewati gerbangnya.” (Tuhaful ‘Uqul, hal.430). Dan apa yang dituntunkan Rasulullah tak lepas dari wahyu Allah Swt:

(4)وَ ما يَنْطِقُ عَنِ الْهَوى‏ (3) إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحى‏

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm, ayat 3-4).

(Sutia/MZ)

Related posts:

imam_reza_birthday 1Biografi Singkat Imam Ali Ar-Ridha DPPPPHidup dan Mati menurut Imam Ali 49db9395-424c-4ca0-9c46-33f672fe7fcaKisah Imam Ali Zainal Abidin a.s.: Roti Kering dan Mutiara Ahlulbait Indonesia 47Nasihat bagi Pengendara

Wajah yang Bercahaya

Ketika ditanya kenapa mereka yang melakukan shalat tahajud memiliki wajah-wajah yang bercahaya, Imam Ali bin Husain Zainal Abidin as menjawab, “Karena mereka berdua-duaan dengan Tuhan mereka sehingga Tuhan memakaikan mereka pakaian dari cahaya-Nya.” (Sumber – Buku: Maka Bertahajudlah Berdua dengan Tuhan, hal.45)

shalat tahajud

Related posts:

Ahlulbait Indonesia 923Orang yang Paling Sedikit Ketenangannya 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi Ahlulbait Indonesia 55Tanda-tanda Kebodohan tsssWaspadai Pembicaraan yang Tidak Penting

Puluhan Pengungsi Sampang Ikuti Itsbat Nikah Massal Hari Ini

Puluhan pengungsi Muslim Syiah Sampang (saat ini menempati rusun Jemundo Sidoarjo) mengikuti prosesi itsbat nikah massal di Pendopo Bupati Sampang, Jumat 23 Februari 2018. Warga Syiah yang mengikuti itsbat nikah massal itu berasal dari dua desa, yakni Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang dan Desa Blu’uran Kecamatan Omben, Sampang.

Bupati Sampang Fadhilah Budiono, mengungkapkan itsbat nikah massal itu dilakukan sebagai upaya untuk menertibkan administrasi pernikahan, mengingat sebagian pernikahan warga di Sampang belum tercatat di kantor urusan agama (KUA) setempat.

“Ada 30 pasangan yang mengikuti nikah massal hari ini, dan 21 di antaranya merupakan warga Syiah asal Kabupaten Sampang yang kini tinggal di pengungsian,” ujar Fadhilah.

Pasangan suami istri yang mengikuti program itsbat nikah dari Pemkab Sampang ini merupakan pasangan suami istri yang sudah menikah siri, namun belum didaftarkan secara resmi di KUA setempat.

“Pengungsi yang ikut program ini langsung menerima surat nikah dari KUA. Setelah selesai acara sekitar pukul tiga sore, mereka langsung dikawal untuk kembali lagi ke pengungsian.” kata Nurcholis mewakili pengungsi.

Artikel terkait:

Pemkab Sampang Berusaha Pulangkan Pengungsi Syiah Melalui Rekonsiliasi

Video: Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang

Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang

Related posts:

7994ae0e-0650-4726-a7d0-fdc7a3bdb041Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang Bupati 1Pemkab Sampang Berusaha Pulangkan Pengungsi Syiah Melalui Rekonsiliasi WhatsApp Image 2017-09-04 at 17.49.58Muslim Syiah Sampang Rayakan Idul Kurban di Pengungsian 7994ae0e-0650-4726-a7d0-fdc7a3bdb041KontraS Surabaya: Pemerintah belum Temukan Solusi Pemulangan Pengungsi Syiah Sampang

Ahli: Diperlukan Revisi UU Penodaan Agama

Undang-Undang Nomor 1/PNPS tahun 1965 tentang Pencegahan, Penyalahgunaan, dan/atau Penodaan Agama (UU Penodaan Agama) perlu direvisi untuk mencegah salah penafsiran terhadap norma-norma yang ada di dalamnya. Hal itu disampaikan oleh Direktur Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya UGM Zainal Abidin Bagir selaku Ahli yang dihadirkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dalam sidang lanjutan UU Penodaan Agama. Sidang kelima belas Perkara Nomor 56/PUU-XV/2017 ini digelar pada Selasa (20/2) di Ruang Sidang Pleno MK.

Menurut Zainal Bagir, salah satu cara merevisi adalah Mahkamah Konstitusi (MK), memberi penafsiran tegas terhadap Pasal 1, Pasal 2, dan Pasal 3 UU Penodaan Agama sehingga tidak menimbulkan multitafsir dalam praktik. Ia menyebut ketiga pasal tersebut membuka ruang tafsir yang besar terhadap pokok ajaran suatu agama. Hal ini dapat berakibat serius terhadap kehidupan beragama di Indonesia.

“Konsekuensi yang serius dari undang-undang ini tidak sekadar melampaui urusan keyakinan keagamaan karena orang yang dihakimi dengan undang-undang ini, hak-hak yang lain, seperti hak sosial, politik, ekonomi. Karena tiga hal ini, menurut saya, Mahkamah Konstitusi bisa memberikan tafsir,” jelasnya di hadapan Majelis Hakim yang dipimpin oleh Ketua MK Arief Hidayat tersebut.

Zainal menjelaskan, perbedaan penafsiran tentang suatu agama sering dipahami sebagai penyimpangan atas ajaran-ajaran agama dari kelompok dominan atau arus utama. Sementara, kelompok dominan setiap agama itu berbeda-beda tergantung dari tempat dan bangsa yang mendiaminya. Sebab, kata Zainal, sejarah agama-agama adalah sejarah perbedaan tafsir. Seluruh agama tanpa terkecuali dalam sejarahnya pasti memiliki perbedaan tafsir.

“Sehingga nyaris mustahil menemukan pandangan yang obyektif tentang pokok-pokok agama yang benar. Saya bilang obyektif maksudnya yang tidak terpengaruh dari sudut pandang aliran tertentu,” ucapnya.

Oleh sebab itu, Zainal memandang MK perlu memberikan batasan atas frasa “penafsiran tentang suatu agama” agar pasal tersebut agar tidak melanggar hak-hak konstitusional warga negara. Ruang tafsir dalam pasal itu perlu dibatasi sebagai dasar pengambilan kebijakan negara atas UU Penodaan Agama.

“Jadi kita tidak masuk ke pembatasan ruang teologis yang selalu ada perbedaan, tapi ruang tafsir negara. Tujuannya agar keputusan apa pun yang diambil atas undang-undang ini tidak bertentangan dengan konstitusi, termasuk hak sipil politik dan ekonomi kelompok-kelompok yang terdampak,” kata Zainal.

UU Penodaan Agama Bukan Solusi Kerukunan

Sepekan sebelumnya, dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan oleh Kupas (Komunitas Pembelajar Islam) dan YLBHU (Yayasan Lembaga Bantun Hukum Universalia), di Jakarta (15/02), Zainal Bagir menilai ada pandangan keliru yang mengatakan bahwa UU Penodaan Agama sebagai solusi untuk menjamin kerukunan. “Ada pertarungan kepentingan antar para pengguna pasal atas nama kerukunan bergama tapi justru melahirkan hal yang terbalik dari yang diharapkan,” kata Zainal. Bahkan menurutnya, angka kasus penggunaan pasal dalam undang-undang ini naik dalam beberapa tahun terakhir. “Yang sebelumnya dari tahun 1965 sampai tahun 2000 hanya tercatat 10 kasus, dari tahun 2000 sampai sekarang ada 75 kasus,” ungkapnya.

“Maka, kami mengusulkan adanya kombinasi solusi yang bersifat legal dan non legal. Dalam hal tertentu bisa kita menempuh jalur hukum tetapi ada hal-hal yang tidak perlu hukum. Jadi jangan sampai menjadi euforia demokrasi bahwa ada supremasi hukum, yang seakan-akan semua masalah bisa diselesaikan dengan hukum. Tetapi banyak hukum yang justru tidak sesuai. Artinya, kita perlu melihat masalah apa yang akan diselesaikan dengan UU ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Komnas HAM sendiri pernah menekankan perlunya revisi UU Penodaaan Agama ini karena dinilai terdapat pasal-pasal yang tidak sejalan dengan kewajiban negara melindungi hak warga negara. Bahkan, ada pula yang mengumpulkan petisi untuk Presiden Jokowi agar menghapus Pasal 156A tentang penodaan agama. (M/Z)

Related posts:

Peran Negara dan Pemuka Agama Atasi Kekerasan Terhadap PerempuanPeran Negara dan Pemuka Agama Atasi Kekerasan Terhadap Perempuan Megawati-InstituteNasionalisme Kebangsaan Soekarno 506087Menag: Agama Tidak Hanya Bisa Didekati Dengan Nalar, Tapi Juga Dengan Rasa WhatsApp Image 2018-02-10 at 18.34.26Tujuh Pokok Hasil Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa

Menyoroti Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta kembali menyoroti pelaksanaan diversi dalam sistem peradilan pidana anak setelah melakukan pengumpulan data dan menemukan berbagai permasalahan. LBH Jakarta kemudian mengadakan diskusi publik, Kamis (22/2) dengan menghadirkan berbagai pihak seperti Kepolisian dan KPAI untuk membahas persoalan ini.

Diversi sendiri merupakan pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) yang dinilai dapat meminimalisir anak dari stigma buruk karena berhadapan dengan proses hukum.

Berkaca pada rentannya pelanggaran terhadap hak-hak anak, terutama yang berhadapan dengan proses hukum, LBH Jakarta melakukan penelitian berjudul “Potret Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Kepolisian Sepanjang Tahun 2013-2016.”

Data yang diperoleh dalam penelitian didapat secara langsung dari lembaga Kepolisian (pengambilan data terbatas hanya pada wilayah Kepolisian Polda Metro Jaya dan Kepolisian di bawahnya) melalui mekanisne Keterbukaan Informasi Publik (KIP) serta pengalaman LBH Jakarta dalam mengadvokasi kasus-kasus anak.

Jenis tindak pidana yang kerap dihadapi anak-anak

Sepanjang tahun 2013-2016 LBH Jakarta mengumpulkan data sebanyak 229 anak yang berkonflik dengan hukum. Kasus pidana yang paling banyak menjerat anak adalah pencurian dengan 95 kasus. Berikutnya adalah kekerasan sebanyak 34 kasus; kepemilikan senjata tajam 20 kasus; terkait narkotika 16 kasus; pemerasan 10 kasus; pemerkosaan 3 kasus; pembunuhan, pencabulan, KDRT masing-masing 2 kasus; judi, penghinaan, serta perbuatan tidak menyenangkan masing-masing 1 kasus. Dari 229 laporan yang diterima, sebanyak 17 laporan tidak terisi mengenai klasifikasi kasusnya.

Penahanan masih menjadi opsi pertama

Dari 229 kasus, 122 anak dilakukan tindakan penahanan dan 107 anak tidak ditahan. LBH Jakarta menilai Sistem Peradilan Pidana Anak belum berjalan baik karena penahanan masih menjadi hal yang utama dilakukan. Hal tersebut diperparah dengan adanya over masa penahanan (melebihi waktu penahanan yang telah ditentukan).

Terlanggarnya hak atas bantuan hukum terhadap anak

Dari 229 kasus, sebanyak 51 anak didampingi penasihat hukum, dan 178 anak tidak didampingi penasihat hukum pada tahap I. Sedangkan pada tahap ll sebanyak 61 anak didampingi penasihat hukum dan dan 168 anak tidak didampingi.

Tidak maksimalnya upaya diversi

Pada tahap 1 yaitu pada proses penyidikan, banyak hak anak juga tidak terpenuhi pada laporan yang diterima LBH Jakarta, yaitu terkait upaya diversi. Dari 229 kasus yang masuk, hanya 32 kasus yang dilakukan diversi sedangkan sebanyak 158 kasus tidak dilakukan diversi pada tahap penyidikan. Sebanyak 39 kasus kosong dan tidak diberikan keterangan diversi atau tidak. Selanjutnya, pada tahapan pra-penuntutan (berkas P-21) sebanyak 13 kasus selesai karena laporan dicabut, dan sebanyak 41 kasus selesai karena diversi di tahap pra-penuntutan. Sebanyak 20 kasus dinyatakan berhenti melalui SP3, dan sebanyak 113 diselesaikan di persidangan. Sebanyak 30 kasus tidak diberikan keterangan keberlanjutannya.

Tidak maksimalnya upaya diversi yang dilakukan untuk kepentingan terbaik anak, menurut data yang didapat oleh LBH Jakarta dikarenakan bahwa jenis tindak pidana yang melibatkan anak merupakan jenis tindak pidana yang tidak dapat didiversi (tidak sesuai dengan syaratnya diversi). Tindak pidana tersebut adalah tindak pidana yang memiliki ancaman pidana lebih dari 7 tahun penjara. Ini merupakan alasan dengan jumlah terbesar upaya diversi tidak dapat dilakukan.

Namun demikian, dari sejumlah data yang diberikan oleh kepolisian dapat diketahui secara jelas adanya kejanggalan dalam proses-proses penangan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum. Kejanggalan tersebut ditandai dengan adanya ketidaksesuaian data dari kepolisian. Data dari kepolisian menyebutkan jumlah perkara yang masuk dalam kategori yang tidak dapat didiversi namun dilakukan upaya cabut perkara atau diversi dari pihak kepolisian. Dari data di kepolisian dapat diketahui terdapat 150 kasus yang tidak termasuk kasus yang dapat diversi ataupun bukan merupakan delik aduan, namun sebanyak 63 kasus di antaranya dilakukan upaya diversi ataupun cabut perkara.

Sulitnya upaya diversi

Selain belum maksimalnya pelaksanaan diversi sebagaimana dipaparkan di atas, faktor-faktor lain juga muncul menghambat upaya diversi itu sendiri. Misalnya penahanan anak yang dilakukan pihak Kepolisian adakalanya sebagai upaya untuk mengamankan korban dari amukan massa atau ancaman-ancaman lainnya. Selain itu juga persoalan lain muncul ketika keluarga korban tidak bisa menerima upaya diversi dan menginginkan pelaku tetap dipidana; atau pihak pelaku tidak bisa memenuhi tuntutan (syarat diversi).

Ditambah lagi persoalan lain yakni eksploitasi anak dengan memanfaatkan anak sebagai kurir narkotika dan tindakan-tindakan kejahatan lainnya.

Related posts:

UntitledKPAI: 3 Strategi Menekan Angka Kriminalitas pada Anak odomi 111Psikolog: Pelaku Bully Kurang Pendidikan Toleransi kak-seto- jadi 1Kak Seto Tekankan Apresiasi dalam Mendidik Anak Kemerdekaan IndonesiaMembangun semangat juang dengan Napak Tilas Proklamasi

10 Tanda Sempurnanya Akal menurut Imam Ali Ar-Ridha as

Imam Ali Ar-Ridha as: “Akal seorang Muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia memiliki sepuluh karakter berikut:

  1. Kebaikannya selalu diharapkan orang.
  2. Orang lain merasa aman dari kejahatannya.
  3. Menganggap banyak kebaikan orang yang sedikit.
  4. Menganggap sedikit kebaikan yang telah diperbuatnya kepada orang lain.
  5. Tidak pernah menyesal jika orang lain selalu meminta bantuan darinya.
  6. Tidak pernah bosan mencari ilmu sepanjang umurnya.
  7. Kefakiran di jalan Allah lebih disukainya dari pada kekayaan.
  8. Hina di jalan Allah lebih disukainya dari pada mulia di dalam pelukan musuhnya.
  9. Ketidaktenaran lebih disukainya dari pada ketenaran”. Kemudian Imam Ridha as bertanya:”Yang kesepuluh, apakah yang kesepuluh?” “Apakah yang kesepuluh?”, Tanya seorang sahabat.
  10. “Ia tidak melihat seseorang kecuali berkata (dalam hatinya): ‘Ia masih lebih baik dariku dan lebih bertakwa’”, jawabnya singkat.

(Sumber: Buku “Manusia Suci; Biografi Singkat, Mutiara Hikmah dan Adab Menziarahinya”)

Ahlulbait Indonesia 100 - Copy

Related posts:

tesss1Tanda Kesempurnaan Akal 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi Ahlulbait Indonesia 55Tanda-tanda Kebodohan tsssWaspadai Pembicaraan yang Tidak Penting

Program “Jumat Berbagi Berkah” MAI Sulawesi Selatan

Muslimah Ahlulbait Indonesia (MAI) Sulawesi Selatan melalui program “Jumat Berbagi Berkah” membagikan makanan gratis bagi mustadhafin, para janda dan anak-anak yatim piatu. Pada Jumat terakhir di bulan Februari ini, Pengurus MAI membagikan sejumlah makanan itu di wilayah perkampungan sekitar Komplek BTN Tirasa Sudiang, dan Kampung Berua Daya, Makassar.

Jumat Berbagi Berkah (JBB) merupakan program rutin MAI Sulawesi Selatan sebagai wujud kasih sayang terhadap sesama sekaligus untuk membantu mereka yang membutuhkan. Terlaksananya program ini tidak terlepas dari peran para dermawan yang menyalurkan bantuannya melalui pengurus MAI Sulsel. Selain makanan, biasanya MAI Sulsel juga membagikan paket sembako gratis.

WhatsApp Image 2018-02-23 at 14.41.55WhatsApp Image 2018-02-23 at 14.41.56WhatsApp Image 2018-02-23 at 14.41.57 (1)WhatsApp Image 2018-02-23 at 14.41.57WhatsApp Image 2018-02-23 at 14.41.59 (1)WhatsApp Image 2018-02-23 at 16.15.00WhatsApp Image 2018-02-23 at 16.15.01

Related posts:

IMG20170816104544Pelatihan Upgrading Muslimah Ahlulbait Indonesia WhatsApp Image 2017-09-30 at 19.29.36Berbagi Kasih 10 Muharram, Muslimah ABI Santuni Anak Yatim WhatsApp Image 2017-10-22 at 13.22.56Rakornas II Muslimah Ahlulbait Indonesia 123Sarasehan Nasional SAR dan Sosial Ahlulbait Indonesia

Puluhan Pengungsi Sampang Ikuti Nikah Massal Hari Ini

Puluhan pengungsi Muslim Syiah Sampang (saat ini menempati rusun Jemundo Sidoarjo) mengikuti prosesi nikah massal di Pendopo Bupati Sampang, Jumat 23 Februari 2018. Warga Syiah yang mengikuti nikah massal itu berasal dari dua desa, yakni Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang dan Desa Blu’uran Kecamatan Omben, Sampang.

Bupati Sampang Fadhilah Budiono, mengungkapkan nikah massal itu dilakukan sebagai upaya untuk menertibkan administrasi pernikahan, mengingat sebagian pernikahan warga di Sampang belum tercatat di kantor urusan agama (KUA) setempat.

“Ada 30 pasangan yang mengikuti nikah massal hari ini, dan 21 di antaranya merupakan warga Syiah asal Kabupaten Sampang yang kini tinggal di pengungsian,” ujar Fadhilah.

Pasangan suami istri yang mengikuti program isbat nikah dari Pemkab Sampang ini merupakan pasangan suami istri yang sudah menikah siri, namun belum didaftarkan secara resmi di KUA setempat.

“Pengungsi yang ikut program ini langsung menerima surat nikah dari KUA. Setelah selesai acara sekitar pukul tiga sore, mereka langsung dikawal untuk kembali lagi ke pengungsian.” kata Nurcholis mewakili pengungsi.

Artikel terkait:

Pemkab Sampang Berusaha Pulangkan Pengungsi Syiah Melalui Rekonsiliasi

Video: Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang

Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang

Related posts:

7994ae0e-0650-4726-a7d0-fdc7a3bdb041Deklarasi Bersama Pulangkan Pengungsi Sampang Bupati 1Pemkab Sampang Berusaha Pulangkan Pengungsi Syiah Melalui Rekonsiliasi WhatsApp Image 2017-09-04 at 17.49.58Muslim Syiah Sampang Rayakan Idul Kurban di Pengungsian 7994ae0e-0650-4726-a7d0-fdc7a3bdb041KontraS Surabaya: Pemerintah belum Temukan Solusi Pemulangan Pengungsi Syiah Sampang

Luwes dalam Bergaul

Sayyidah Fathimah Az Zahra as meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang baik di antara kalian adalah orang yang paling luwes bergaul dengan orang-orang sekitarnya dan yang paling pengertian terhadap istrinya”. (Sumber: Buku “Manusia Suci; Biografi Singkat, Mutiara Hikmah dan Adab Menziarahinya”)

Ahlulbait Indonesia 100

Related posts:

Posko Banjir Jakarta oleh Ahlulbait IndonesiaAntisipasi Curah Hujan Tinggi, Posko Ahlulbait Siaga Kembali ustazMilad Fatimah Az Zahra di ICC Jakarta Upgreding jadi1Tingkatkan Kualitas Kader, DPW ABI DKI Jakarta Gelar “Upgrading and Coaching Programme” WhatsApp Image 2017-12-06 at 19.58.34Bakti Sosial Pandu Ahlulbait Jakarta

Ceramah Hikmah Syahadah Fathimah Az Zahra di ICC Jakarta

Ceramah Hikmah Syahadah Fathimah Az Zahra di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, 19 Februari 2018, disampaikan oleh Ustad Muhammad bin Alwi BSA.

Related posts:

WhatsApp Image 2018-02-01 at 21.20.36Video – Ceramah KH. Hassan Alaydrus Memperingati Syahadah Fathimah Az-Zahra a.s screen-shot-2016-12-19-at-8-40-52-pmMaulid Nabi ICC Jakarta 2016 Ahlulbait - CopyUcapan Belasungkawa atas Syahadahnya Fathimah Az-Zahra a.s. Rahasia Seputar Malam Nisyfu Sya'banMaulid Nabi di ICC