Monthly Archives: November 2017

Diskusi Pojok Gus Dur Jepara: Ziarah, Merawat Jejak Sejarah

2a830938-59fa-4213-a5e2-4d78d1e8e7eePojok Gus Dur, sebuah forum diskusi mingguan untuk menggali pemikiran-pemikiran KH. Abdrurrahman Wahid (Gus Dur), digelar di kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara. Diskusi dengan tema “Ziarah, Merawat Jejak Sejarah” berlangsung di halaman Masjid Arrobaniyyin kampus UNISNU Jepara, Selasa sore 28 November 2017.

Ustad Muhammad Ali, Sekretaris DPD ABI Jepara menjadi pemantik diskusi  yang berlangsung dua jam itu. Menurutnya, Gus Dur dalam riwayat hidupnya adalah orang yang biasa melakukan ziarah kubur. Gus Dur pernah di Mesir dan lama di Irak, dan di Irak banyak tempat-tempat yang biasa diziarahi.

Lebih lanjut dijelaskan,  ziarah yang dilakukan Gus Dur bukan sekedar mengunjungi kuburan semata. Setidaknya, ada tiga hal pokok dari ziarah yang dilakukan. Pertama mengenal tokoh yang diziarahi, kedua mengenal peranan para tokoh dalam mengubah sejarah, dan ketiga adalah konteks religi, yaitu mendekatkan diri kepada Allah melalui orang-orang yang dekat dengan Allah, yaitu Nabi dan Keluarga Sucinya.

“Saya terharu ketika berada di gerbang haram (makam) Imam Ali dan Imam Husain. Ada salam kepada Rasulullah dan keluarganya. Seakan-akan kita memang sedang mengunjungi rumah kenabian. Sedang mengetuk pintu Nabi dan meminta ijin untuk masuk,” kata ustad Ali yang baru saja pulang dari ziarah Arbain Imam Husain di Irak kemarin.

“Ada banyak kesamaan amalan antara NU dan Syiah, di antaranya sama-sama melakukan ziarah dan merawat makam para wali dan orang-orang sholeh jaman dahulu,’ kata pengajar di Pesantren Darut Taqrib Jepara itu.

Di Syiah, lanjutnya, makam para Imam dan tokoh-toko penting dibangun megah dan dirumat dengan baik. Kubahnya berlapis emas dan bangunannya sangat luas. Mereka menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dan liburan keluarga (wisata religi) sekaligus. Masjid dan halaman yang begitu luas akan tampak dipenuhi jamaah ketia waktu-waktu shalat tiba.

“Konsep tawasul yang ada di Syiah maupun Ahlu Sunnah, begitu hidup. Mereka meyakini bahwa yang diziarahi adalah para syuhada yang akan tetap hidup di sisi Tuhannya, dan akan memberi syafaat bagi umat manusia. Sehingga para peziarah meminta kepada Allah (dengan bertawasul) melalui para Imam dan para Wali yang mereka ziarahi,” katanya.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali ‘Imran Ayat 169)

Kemudian ustad Ali bercerita tentang perjalanan ziarah Arbain (memperingati 40 hari kesyahidan Imam Husain) yang ditempuhnya selama empat hari di Irak. Perjalanan kaki sejauh 90 km itu dimulai dari makam  Imam Ali di Najaf sampai ke makam Imam Husain di Karbala.

”Selama perjalanan itu, jutaan orang dari berbagai negara berjalan kaki

menapak tilas, menyelami nilai-nilai sejarah perjuangan Imam Husain. Perjuangan berat yang dilakukan cucunda Nabi Muhammad Saw itu dimulai dari Madinah hingga menemui kesyahidannya di padang Karbala, Irak demi menjaga cahaya Islam agar tetap bersinar hingga saat ini. Sebuah megatragedi itu tak berhenti dengan syahidnya Imam Husain. Setelahnya, Sayyidah Zainab (adik Imam Husain) ditawan dan diarak dari Karbala Hingga Suriah bersama beberapa wanita dan anak-anak,” kata ustad Ali yang juga aktif dalam diskusi Kamisan Gusdurian Jepara itu.

Selama empat hari perjalan itu, lanjutnya, para peziarah dijamu oleh penduduk sekitar. Mereka menyediakan makanan, minuman dan tempat tidur secara gratis. Bahkan, di situ juga tersedia tukang pijit dan penyemir sepatu.

“Ini adalah perjalanan cinta,” katanya dalam sesi tanya jawab dengan peserta. “Sebelumnya selama ini kita hanya membaca jejak sejarah mereka, memupuk cinta, memendam rindu, sehingga hanya cukup mengucap salam dari kejauhan. Tapi sekarang kita tepat berada di hadapan makam mereka. Maka tumpah ruahlah cinta dan rindu yang terpendam selama ini. Tak terbayang bagaimana cinta dan rindu itu di hadapan makam Sang Nabi Saw suatu saat nanti?.”

“Saya berdoa di hadapan makam cucunda Nabi, Imam Husain, agar suatu saat teman-teman semua juga bisa menziarahai mereka,” pungkasnya.

Diskusi yang diinisiasi oleh aktivis Gusdurian Jepara ini diikuti oleh Mahasiswa-mahasiswi UNISNU Jepara. (Muh/MZ)

Related posts:

Relawan HIKDMAT di banjir JeparaHIKDMAT Jepara: Siap Berkhidmat Bantu Korban Banjir Banjir JeparaBanjir Jepara Tak Kunjung Reda Seminar Titik-Temu Sunni-SyiahGus Nuril dan GusDurian Ungkap Taktik Takfiri Incar NU dc9e2a85-4e39-458b-8484-7a2b3f28a06cKerja Sama HIKDMAT dan BANSER Bedah Rumah Warga di Jepara

Mengurai Ushul Fikih Maulid Nabi di Amsterdam

Sinau Bareng di Islamitische Basisschool el-Amien Amsterdam ini sesungguhnya sangat menarik secara ilmiah karena pembahasan yang dilakukan Cak Nun sangat komprehensif, walaupun sebenarnya ini bukan forum seminar akademis atau kajian ilmiah, melainkan “pengajian”. Tetapi, seperti di forum manapun, termasuk Maiyahan, jika dicermati betul, Cak Nun selalu bertumpu pada (atau tak pernah meningggalkan) penalaran yang ilmiah tatkala mengulas berbagai hal, di luar kemahiran Beliau dalam membangun suasana yang saling dekat di hati dan membawa berbagai analisis untuk ditarik secara spiritual. Nah di Amsterdam ini, bobot ilmiah Cak Nun amat terasa.

Para pelajar Indonesia yang akrab dengan cara berpikir metodologis ini benar-benar disuguhi olah berpikir yang solid oleh Cak Nun. Seluruh komponen analisis disertakan. Cak Nun memulai uraian dari adanya sebagian orang yang masih keberatan dengan tradisi Maulid Nabi Muhammad Saw, sekalipun tradisi ini sudah berabad-abad lamanya berlangsung. Dalih mereka, tradisi ini merupakan bid’ah. Hal yang tidak ada perintah dan contohnya dari al-Qur’an maupun Nabi Muhammad sendiri.

Dari situlah mereka diajak menyusuri dasar-dasar beragama dalam konteks penetapan hukum atas suatu pekerjaan, amal, atau hal baru. Tidak ada pretensi pada diri Cak Nun agar siapapun mengikuti logika Beliau, tetapi Beliau ingin menyumbangkan metodologi memahami beberapa aspek Islam yang dalam banyak hal meminta ketekunan dan kesabaran setahap demi setahap karena perlu dilibatkannya sejumlah unit analisis. Tidak bisa serta merta dengan gegabah mengatakan ini haram atau ini bid’ah tanpa melalui proses penalaran yang utuh.

Tiga Komponen

Sekurang-kurangnya, terdapat tiga komponen penting yang diuraikan Cak Nun. Pertama, Cak Nun memaparkan dua jenis ibadah dalam Islam, yaitu ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah, dan proporsi keduanya di dalam semesta Islam dan al-Qur’an. Kedua, Cak Nun uraikan pengertian bid’ah dan bukan bid’ah. Ketiga, Cak Nun menerangkan lima matriks hukum Islam yaitu wajib, sunnah, makruh, mubah, dan haram. Selama ini, kita hanya menyempitkan rentang itu pada ungkapan halal-haram. Tidak salah, tapi kurang lengkap. Ketiga pilar itu sangat berhubungan satu sama lain dalam proses menetapkan suatu hukum.

Ditelaah dari jenis pertama, tradisi atau peringatan Maulid Nabi tergolong pada wilayah muamalah atau ghoiru mahdhoh di mana prinsipnya adalah tindakan, tradisi, atau kebiasaan boleh dilakukan sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya atau menentang syariat Islam. Dalam wilayah muamalah, sebagaimana lazim diartikulasikan para ulama fikih, prinsipnya adalah “pada dasarnya sesuatu itu boleh, sepanjang tidak ada ayat atau dalil yang melarangnya”. Hal yang berkebalikan dengan prinsip ibadah mahdhoh.

Letak Bid’ah dan Evolusi Kehidupan Budaya Manusia

Sementara dilihat dari sudut yang kedua, yakni hal bid’ah atau bukan, Cak Nun mengintroduksi pemahaman yang cukup mendasar, yang sejauh ini belum banyak diartikulasikan dalam berbagai literatur. Cak Nun mengaitkan ihwal bid’ah atau bukan ini dengan ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah. Korelasi bid’ah itu sebenarnya terletak ranah ibadah mahdhoh. Secara terminologis, bid’ah itu melakukan sesuatu yang tak ada contohnya atau perintahnya. Jika disinkronkan dengan prinsip ibadah mahdhoh, yaitu melakukan persis seperti yang diperintah atau dicontohkan, dan ini adalah rukum Islam (Syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji), maka letak urusan bid’ah itu ada di wilayah ibadah mahdhoh. Artinya, jika kita melakukan sesuatu di wilayah rukun Islam yang tak ada perintah dan contoh atau dalilnya, maka itulah bid’ah.

Sementara itu, dalam wilayah muamalah (di luar lima rukun Islam, dan betapapun bukan berarti tidak diatur oleh syariat Islam), praktik atau kegiatan umat Islam itu tidak terlalu terkait dengan pengertian spesifik bid’ah, sebab prinsip ibadah muamalah lebih memberi “kelonggaran”, ketimbang pengertian mahdhoh dan bid’ah yang lebih “membatasi”. Ia justru akan lebih berhubungan langsung dengan matriks lima hukum Islam (wajib, sunnah, makruh, mubah, dan haram), dengan penekanan bahwa jumlah kemubahan jauh lebih luas, karena prinsipnya pada dasarnya semua hal adalah boleh sampai ada dalil yang mengatakakn sebaliknya. Dalam bahasa Cak Nun, yang mahdhoh itu 3,5 persen, sedangkan yang muamalah itu 96,5 persen di dalam al-Qur’an. Yang pertama sifatnya fixed, baku, dan tak bisa ditawar. Sedang yang kedua memberikan ruang kreativitas, pencarian, dan diskusi atau berpikir.

Pada titik ini, mengaitkan bid’ah dan bukan bid’ah dengan kategori wilayah ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah merupakan kontribusi tersendiri dari Cak Nun. Sejauh ini tampaknya pembahasan bid’ah langsung dihubungkan dengan ada tidaknya dalil. Tidak didasari dengan kesadaran akan bahwa wilayah bid’ah itu ada pada ibadah mahdhoh, karena pada ibadah mahdhoh tak boleh ada praktik baru yang menyimpang. Tidak adanya dasar seperti inilah yang barangkali memunculkan adanya terminologi bid’ah hasanah (baik) yang dioposisikan dengan bid’ah dholalah (sesat). Bid’ah yang dholalah bagi Cak Nun adalah bid’ah yang menyentuh atau mengubah rukun Islam.

20161227-cnmv-amsterdam-05

Sementara apa yang selama ini diperdebatkan mengenai bid’ah atau bukan lebih cenderung terletak pada wilayah pemahaman akan apa yang disebut khasanah itu dan seperti apa kriterianya. Untuk hal ini, Cak Nun melengkapi analisisnya dengan mengingatkan bahwa Allah sendiri memiliki sifat al-Badi’ (yang mengawali). Kata bid’ah itu serumpun dengan badi’ yaitu melakukan atau membuat hal yang belum ada sebelumnya. Selain itu, Cak Nun juga mengingatkan mengenai natur hidup manusia atau kehidupan sejarah, di mana ada evolusi dan perkembangan dari sesuatu yang belum ada menjadi ada. Dulu belum ada peci, sekarang ada. Dulu belum ada gadget, sekarang ada. “…hari ini kita menggunakan gadget untuk berkomunikasi. Apakah itu disebut bid’ah dholalah? Tentu tidak. Karena baik atau buruknya sebuah kreativitas manusia bergantung pada situasi dan kondisinya… Apakah digunakan untuk kebaikan atau keburukan,” terang Cak Nun.

Selama ini pengkategorian bid’ah khasanah dan bid’ah dholalah cenderung diterima begitu saja, tanpa disertai eksplorasi dan pengembangan pemahaman. Artinya, apa yang masuk dalam kategori bid’ah khasanah atau bid’ah dholalah seakan sudah jelas. Sementara khasanah atau tidak khasanahnya sesuatu merupakan sesuatu yang dinamis dan perlu dikaji terus. Di sini, Cak Nun punya sumbangan cukup baik, yaitu memandang khasanah atau tidak itu sebagai sesuatu yang dinamis, tidak statis, dan bergantung pada banyak variabel. Karena itulah prinsip-prinsip ushul fikih diperlukan. Sebab baik tidaknya sesuatu perlu dilihat manfaat mudaratnya, perlu dilihat ruang dan waktu pelaksanaannya. Sesuatu yang pada dasarnya wajib atau baik pun jika dilaksanakan tidak pada ruang dan waktu yang tepat juga akan tidak baik.

***

Dari pemaparan struktur hukum Islam itu, para peserta mendapatkan penjelasan bahwa bid’ah tidak semestinya dipahami dalam konteks lima hukum (wajib, sunnah, makruh, mudah, dan haram) seakan menambahi jenis hukum selain yang lima itu. Dalam maknanya yang umum, bid’ah adalah sesuatu yang baru dan belum ada contoh sebelumnya. Ia adalah kreativitas, inovasi, dan pembaharuan. Dari situlah kemudian orang didorong untuk menemukan kira-kiranya hukumnya apa. Dan hukum itu akan berhubungan dengan baik-buruk dan manfaat-tidaknya sesuatu yang baru itu. Baik dan buruk sangat bergantung situasi dan kondisi. Cak Nun memberikan contoh pisau. Ia akan buruk kalau digunakan untuk menyakiti orang atau membunuh orang, tetapi akan baik dan bermanfaat bila dipakai untuk mengupas atau memotong buah-buahan.

Di dalam menetapkan baik buruk itu, Islam sudah membekali dengan dasar, bahwa pada wilayah muamalah (ghoiru mahdhoh) ‘segala sesuatu itu pada dasarnya boleh atau mubah.’ Di dalam mengoperasikan lima matriks hukum Islam pun demikian. Apa yang tidak diperintahkan Allah, belum tentu ia pasti haram atau tidak boleh. Contohnya adalah tradisi atau peringatan Maulid Nabi itu sendiri. Cak Nun mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini memang tidak ada perintahnya dari Allah untuk melaksanakannya tetapi juga tidak ada larangannya. Dan sebagaimana dalam prinsip wilayah ibadah muamalah yaitu kebolehan, manusia berhak menentukan untuk melakukannya atau tidak melakukannya.

Dari paparan Cak Nun ini pula para peserta memahami bahwa dalam Ibadah Mahdhloh rumusnya sederhana: “Jangan lakukan apapun kecuali apa yang diperintahkan oleh Allah. Sementara dalam Ibadah mumalah rumusnya adalah ‘lakukan apa saja kecuali yang dilarang oleh Allah Swt”.

Yang menarik pula adalah bahwa mereka diajak memahami dan menyertakan kesadaran budaya dalam memahami hukum Islam. Cak Nun menjelaskan banyak sekali budaya yang lahir dan berkembang yang sejalan dengan evolusi manusia. Sarung misalnya, itu merupakan produk budaya. Islam hanya mengatur bahwa ketika sholat, kita harus menutup aurat. Sarung dan Mukena adalah produk budaya dan inovasi manusia yang kemudian diaplikasikan dalam salah satu perangkat ketika melakukan sholat. Begitu juga dengan Sajadah, Tasbih, Peci, Baju Koko, dan lain sebagainya. Seperti halnya Nasi, secara dzat-nya hukum Nasi adalah halal. Tetapi barangnya belum tentu halal, bergantung pada dinamikanya. Kalau beras yang digunakan untuk diolah menjadi nasi adalah beras curian, maka hukumnya haram secara benda. Tetapi secara dzatnya, nasi tersebut tetap halal. “Halal dan haram itu ada dinamikanya, ada konteksnya, ada illat-nya. Maka Fiqih itu berkembang, maka ada Ushulul Fiqih, ada filsafat hukum”, urai Cak Nun memberi contoh.

Hukum dan Akhlak Sesama Muslim

Meskipun sebenarnya cukup kompleks ihwal hukum Islam ini, namun Cak Nun mampu menerangkan semua itu dengan sederhana, dengan contoh yang relevan, dan dalam alur yang mudah dipahami pula. Jika dilihat dari sudut yang lain, apa yang disampaikan Cak Nun ihwal peringatan Maulid Nabi ini merupakan pelajaran tentang logika dan metodologi hukum Islam. Hal yang sebenarnya makin perlu diperhatikan di masa-masa sekarang.

20161227-cnmv-amsterdam-06

Pada tahap selanjutnya, Cak Nun memberi contoh bagaimana tidak bisa lepasnya perilaku kita dalam memahami hukum Islam dengan adab, di mana adab itu sendiri cukup jelas disebutkan di dalam al-Qur’an, tetapi kita masih belum optimal melakukannya. Kita masih punya jarak antara hukum dan akhlak. Contoh yang saat ini sedang Cak Nun prihatinkan adalah kecenderungan kita untuk gampang menghakimi dan menyakiti sesama orang Islam, sementara al-Qur’an meminta kita untuk bersikap lemah lembut dan penuh perasaan (adzillatin ‘alal mukminin).

Kita dengan mudah menghakimi dan menyakiti, seakan kita tak punya hati dan perasaan, dan itu semuanya boleh jadi hanya karena kita tidak sependapat dengan pandangan hukum atau ijtihad saudara kita yang lain, atau praktik amaliyah-nya kita anggap bid’ah padahal yang terjadi dia tidak sependapat dengan metodologi penetapan hukumnya. (Caknun.com)

 

Related posts:

(dua dari kiri) Ustaz Hassan Alaydrus, Ustaz Jalaluddin Rakhmat, dan Kyai Alawi Nurul Alam al BantaniMaulid Bersama: Bukti Kokoh Ukhuwah Sunni-Syiah KALIGRAFI MuhammadMaulid Bersama Perekat Persatuan Bangsa Fikih Peradaban Dalam Seminar Nasional UINFikih Peradaban Dalam Seminar Nasional UIN Novel karya MultatuliMengenang Kembali Spirit Multatuli Dalam Max Havelaar

Ranting Pohon Surga yang Menjulang ke Bumi

Sayyidah Fathimah a.s. berkata: “Rasulullah SAW pernah berpesan kepadaku: ‘Peganglah sifat kedermawanan, karena sifat itu adalah sebuah pohon di surga yang ranting-rantingnya menjulang ke bumi. Barang siapa berpegangan dengan sebatang tangkainya (di dunia), maka tangkai tersebut akan menuntunnya menuju surga.” (Sumber: Buku “Manusia Suci: Biografi Singkat, Mutiara Hikmah dan Adab Menziarahinya”)

Ahlulbait Indonesia 70

Related posts:

38Haramnya Surga bagi Pencela 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi Ahlulbait Indonesia 55Tanda-tanda Kebodohan tsssWaspadai Pembicaraan yang Tidak Penting

Hindari Sifat Dengki

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Janganlah sekali-kali sebagian kalian mendengki sebagian yang lain karena sesungguhnya kekafiran berasal dari kedengkian.”

“Luqman berkata kepada anaknya, ‘Orang dengki memiliki tiga tanda, yaitu: Mengumpat orang lain saat tidak ada di hadapannya, mengambil muka (hati) orang lain saat di hadapannya, dan merasa senang dengan musibah yang menimpa orang lain.” (Mizanul Hikmah: Jilid 2, Hal. 109, Hadis No. 1614-1615)

Ahlulbait Indonesia 70

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi Ahlulbait Indonesia 55Tanda-tanda Kebodohan tsssWaspadai Pembicaraan yang Tidak Penting

“Doktrin Wahabi di Balik Aksi Teror”

Aksi teror di Masjid Al Rawdah di Bir al Abed, sebelah barat Kota Arish, Sinai Utara, Mesir, Jumat (24/11/17) menyisakan duka mendalam khususnya bagi keluarga korban dan kaum Muslimin di seluruh dunia pada umumnya. Aksi kejam ini diduga dilakukan oleh pengikut ISIS terhadap kelompok Muslim beraliran Sufi. Serangan tersebut menewaskan 235 orang dan ratusan lainnya luka-luka.

Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M Abdillah menilai, alasan kelompok teroris menyerang kaum Sufi ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdarah Wahabi yang ada di Arab Saudi.

“Pada saat Wahabi berkuasa di Arab Saudi, ulama-ulama yang dijadikan target operasi adalah ulama-ulama Sufi,” kata Kiai Ali sebagaimana dilansir situs NU Online, kemarin.

Menurutnya, kaum Sufi adalah orang yang independen dan tidak bergantung kepada siapapun kecuali Allah. Mereka memiliki keyakinan dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Sementara kelompok Wahabi menuding kaum Sufi sebagai orang ‘sesat’ yang menyembah kuburan dan orang yang telah menyekutukan Allah. Dengan demikian, kelompok Wahabi menilai kalau kaum Sufi halal darahnya untuk dibunuh. Dalam sejarahnya, banyak ulama-ulama Sufi yang dibunuh polisi Arab Saudi dengan tuduhan pelaku syirik.

“Sebenarnya doktrin Wahabi ini menjadi dasar para terorisme,” tegas Kiai Ali. “Yang menyedihkan mereka melakukan pembunuhan dengan dasar dalil agama,” tambahnya.

Persoalan kini makin luas. Target teroris tidak hanya kelompok tertentu saja, tidak hanya kaum Muslimin dari dua mazhab besar seperti Sunni dan Syiah, juga siapapun dan agama apapun yang tidak mau mengikuti paham mereka, dan yang dianggap menghalangi cita-cita mereka dalam mendirikan ‘Negara Rampasan.’ Di samping itu juga adanya kepentingan-kepentingan besar dari pihak-pihak yang mempersenjatai kelompok ekstrimis ini. (M/Z)

Related posts:

FOSWAN: Forum Warga NU Anti Salafi PalsuFOSWAN: Forum Warga NU Anti Salafi Palsu Buku-buku Kyai Alawi Nurul Alam al-Bantani“Fatwa NU Lebih Kuat Dibanding Fatwa MUI” Peran Penting Saudi Dalam Pembantaian Muslimin SuriahPeran Penting Saudi Dalam Pembantaian Muslimin Suriah STFI Sadra, Hasan Rahim Pour Azqadi, Perempuan, Hukum IslamPerempuan dan Hukum Islam

Catatan Perjalanan Ziarah Arbain Imam Husain as: Refleksi atas Diri di Hadapan Al-Haq

Dalam penggalan pernyataan Imam Husain a.s. di Karbala, Imam Husain berkata, “Sungguh manusia adalah hamba dunia dan agama hanya ada dalam lisan-lisan mereka yang dikemas dengan apik demi kepentingan duniawi mereka sendiri. Lihatlah..! Apakah kalian tidak memperhatikan kebenaran yang tidak dilakoninya dan kebatilan yang tak kunjung ditinggalkannya? Dengan modal itukah seorang Mukmin berharap untuk berjumpa dengan Allah? Sesungguhnya aku tidak melihat kematian kecuali kebahagiaan dan hidup bersama orang-orang zalim kecuali kehinaan”.

Ooo… Duhai Imamku…. di hadapanmu aku bawa diri ini…! Dan kini aku telah kembali setelah aku berdiri di hadapanmu mengucap janji setia bahwa aku pengikut dan pecintamu yang setia…

Wahai diriku…Wahai diriku…Wahai diriku yang telah kembali dari perjalanan Arbain dari Najaf hingga Karbala. Bagaimana kabarmu wahai diriku?

Wahai diriku yang telah berpeluh keringat dan debu menyusuri jalan panjang menuju Karbala… Apa yang telah engkau perbuat untuk shalatmu? Bukankan shalat adalah tiang agama? Bukankah kematian Al-Husain demi tegaknya Tiang Agama..?!

Wahai mataku yang telah menangis ketika memandang Pusara Suci Aba Abdillah, bagaimana nasibmu setelah jauh dari pusara suci beliau a.s.? Apakah mata ini masih memandang huruf-huruf dalam Kitabullah Al-Quran lebih sering dibandingkan sebelumnya?

Wahai diriku yang telah berdiri di Pusara Duci Aba Abdillah a.s. sambil meneriakan “Labbaika Ya Husain” menyambut panggilan beliau yang suci, apakah aku menghindar ketika ada panggilan khidmat di jalan Aba Abdillah a.s.?

Wahai diriku… Apa yang telah engkau lakukan terhadap kedua orangtua yang melahirkan? Padahal saat di Pusara Suci Aba Abdillah dikau meneriakan, Demi Ayah Ibuku..!

Wahai tanganku yang telah menyentuh Pusara Suci Aba Abdillah a.s., maukah mengangkat orang sekitarmu yang terpuruk dalam kesulitan?

Wahai kakiku yang melepuh dan letih berjalan menuju pusara Aba Abdillah, apakah kaki ini akan terus melangkah di Jalan Kebaikan?

Wahai diriku yang meneriakan Pantang Hina di hadapan Pusara Aba Abdillah a.s.! Mampukah berdiri tegak di hadapan para Tirani?

Wahai diriku ….Apakah engkau masih memandang strata kedudukan kepada sesama padahal engkau telah berdiri di hadapan Aba Abdillah a.s. tanpa perbedaan?

Wahai diriku yang bersimpuh di hadapan Pusara Abbas… Apakah engkau siap seperti layaknya Abbas yang berkorban demi memenuhi kebutuhan saudaranya?

Wahai diriku… Wahai jiwaku….. Wahai akalku… Wahai egoku….Sadarlah…

Takutlah wahai diriku…Dan saksikan dengan sebenar- benarnya kesaksian Bahwa Al-Husain itu ada ….Janganlah engkau berpaling dari jalan Aba Abdillah. Wahai diriku….Sadarlah wahai diriku akan baiat di hadapan Pusara Al-Husain…!

Oh diriku… Selamatkah diri ini hingga kelak kita berjumpa Pemilik Pusara Suci itu di kehidupan yang akan datang….?

Sungguh getir dan pedih jiwa ini ya Aba Abdillah, memikirkan nasib diri agar istiqamah di atas janji setia yang pernah terbersit di hati ketika berdiri di altar Baynal Haramain.

Ya Aba Abdillah kami ingin seperti Burair Sahabatmu, Qari kota Kufah yang menyahuti panggilanmu sambil berkata, “Wahai Putra Rasulullah, sesungguhnya adalah sebuah kenikmatan bagi kami bisa berdiri di samping/di hadapanmu dan berperang bersamamu, walaupun jasad-jasad kami akan hancur tercabik-cabik oleh pedang musuh. Bagi kami cukuplah kakek Anda sebagai pemberi syafaat kepada kami di hari kiamat.” (Abu Mustafa)

arba1arba2arba3arba4arba6

Related posts:

WhatsApp Image 2017-11-09 at 19.57.56Arbain, Upaya Menggali Spirit Perjuangan Imam Husain a.s. WhatsApp Image 2017-11-20 at 20.12.08Catatan Perjalanan Arbain Kafilah Ahlulbait Indonesia apppFoto – Perjalanan Ziarah Arbain Kafilah Ahlulbait Indonesia WhatsApp Image 2017-11-13 at 15.18.44Pesan Ketua MUI Jepara di Peringatan Arbain Imam Husain as.

Terhalangnya Doa Tanpa Shalawat

Imam Ali a.s. berkata: “Setiap doa akan terhalang kecuali dia bersalawat atas Nabi SAW.” (Mizanul Hikmah)

Ahlulbait Indonesia 45

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 2341Pesan Imam Ja’far As-Shadiq tentang Amalan Penimbul Permusuhan 20Jadilah Sahabat bagi Mukmin lainnya Ahlulbait Indonesia 51Nasihat tentang Ajal

Ulama Yaman Reaksi Pernyataan Terbaru Liga Arab

Ulama Yaman mereaksi keputusan anti-Republik Islam Iran dan Hizbullah Lebanon yang dikeluarkan oleh Liga Arab baru-baru ini dan menilainya sebagai keputusan yang bertentangan dengan realitas serta mengecamnya.

Seperti dilansir jaringan televisi al-Masirah, Kamis (23/11/2017), para ulama Yaman merespon keputusan terbaru Liga Arab itu dalam pernyataan mereka di pertemuan di Sanaa, ibukota Yaman.

Dalam pernyataan tersebut, para ulama Yaman juga mengharamkan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis Israel dan menekankan pentingnya untuk menghadapi pasukan agresor serta mendukung gerakan Muqawama di Palestina.

Mereka mengecam pembunuhan brutal terhadap rakyat Yaman dan blokade keji negara ini oleh Arab Saudi dan sekutunya.

Ditegaskan bahwa rakyat Yaman berhak untuk menggunakan semua sarana legal guna melawan pasukan agresor.

Allamah Nu’man al-Mizhaji dalam pertemuan tersebut mengatakan, bagi kita dan semua umat Islam adalah wajib untuk melawan mereka yang membela Zionis.

Allamah Shamsuddin Sharafuddin, Mufti Agung Yaman menuturkan, kekuatan-kekuatan agresor dengan dalih palsu telah melancarkan perang terhadap Yaman, dan membunuh warga dan anak-anak dengan brutal.

Kami membela diri, lanjut Allamah Sharafuddin, dan kami menyerukan persatuan rakyat Yaman dalam perang yang dipaksakan terhadap negara ini oleh Amerika Serikat dan Zionis.

4bn36e45472547xisj_800C450

Sebelumnya, Liga Arab menggelar sidang luar biasa tingkat Menlu negara-negara anggotanya di Kairo, ibukota Mesir pada 19 November 2017.

Di akhir sidang yang diselenggarakan atas permintaan Arab Saudi ini dikeluarkan pernyataan yang mengklaim intevensi Iran di negara-negara kawasan dan menuding Hizbullah Lebanon dan gerakan Ansarullah Yaman sebagai kelompok teroris.

Para pakar menilai perkembangan di Liga Arab disebabkan mengikuti kebijakan keliru yang didiktekan oleh Arab Saudi.

Agresi militer Arab Saudi ke Yaman yang memperoleh dukungan dari Amerika Serikat dimulai sejak Maret 2015. Invasi militer ini hingga sekarang telah merenggut nyawa belasan ribu warga Yaman, terutama anak-anak dan perempuan.

Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman juga telah memporak-porandakan infrastruktur vital Yaman seperti rumah sakit, sekolah dan fasilitas publik lainnya. Sementara blokade darat, laut dan udara oleh pasukan agresor semakin menambah penderitaan rakyat di negara ini.

Menyebarnya penyakit kolera akibat hancurnya insfrastruktur kesehatan Yaman juga mengancam nyawa rakyat negara ini. Selain itu, rakyat Yaman menghadapi kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. (Pasrtoday)

Related posts:

Isis-Ancam-Tumbangkan-HamasISIS Ancam Tumbangkan Hamas dan Agresi Palestina kondisi-wilayah-di-sanaa-yaman-akibat-perang-antara-milisi-_150507053004-627Dunia Penonton Tragedi Yaman qatarMenlu Qatar: Daftar Tuntutan Arab Saudi Tidak Realistis 9338369_20161224085756Menlu Iran: Kondisi Yaman Mengkhawatirkan

Menag Harap Habaib Lanjutkan Dakwah Sufistik Leluhurnya

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap, para Sayyid atau Habaib di Indonesia melanjutkan kiprah leluhurnya dalam menyebarkan dakwah sufistik di Indonesia. Pesan itu Menag sampaikan saat membuka International Conference on the Dynamics of Hadhramis in Indonesia di Jakarta, (22/11).

Menag mencontohkan dakwah yang dilakukan oleh Habib Ali bin Abdurrahman melalui Majelis Taklim di Kwitang yang bertahan hingga lebih dari satu abad. Menag menilai, inti ajaran Habib Ali yang terkenal juga dengan sebutan Habib Kwitang berlandaskan tauhid, solidaritas sosial, dan akhlaqul karimah.

Menurut Menag, ajaran dakwah Habib Ali berupa pelatihan kebersihan jiwa, tasawuf mu’tabarah, dialog antara makhluk dengan al-Khalik serta antara sesama makhluk.

“Habib Ali mengembangkan tradisi kakek-kakeknya dari Ahlul Bait yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghotmati hak setiap manusia tanpa membedakan latar belakang status sosial mereka,” sambungnya.

Menag menilai, hakikat dakwah mereka adalah akhlak. Perilaku mereka menjadi contoh dan teladan yang sangat baik bagi Muslim Indonesia selama ini. Mereka mengajarkan kedamaian, kesejukan, dan keramahtamahan.

“Ini yang menurut saya penting dalam konteks kekinian, di tengah kontestasi politik yang sangat keras, tekanan intensi kehidupan yang semakin kompleks, maka kita harus kembali kepada akhlak mulia, kepada ajaran pendahulu kita, khususnya para habaib, sayyid, dan mereka yang memiliki kedalaman ilmu agama,” tandasnya.

“Saya kira dakwah sufistik Habaib yang mengedepanan akhlak mulai sejak zaman dulu dan diikuti Walisongo dan da’i lainnya inilah yang berhasil mengislamkan nusantara,” imbuhnya.

Menag mengapresiasi konferensi strategis ini.  Ada enam isu utama yang akan dibahas, yaitu: pertama, peran keagamaan dan pengaruh Hadrami (komunitas Arab yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan) di Indonesia.

Kedua, diaspora orang Hadrami; ketiga, politik kontemporer dan nasionalisme orang Hadrami; keempat, identitas budaya Hadrami (bahasa, musik, seni, sastra, makanan, dan pakaian); kelima, identitas sosial Hadrami (pernikahan, sistem kekeluargaan, serta hubungan dengan masyarakat lokal); dan keenam, aktivitas orang Hadrami dalam perdagangan.

“Keberadaan Hadrami yang datang dari Hadramaut Yaman Selatan itu sudah panjang sejarahnya. Kontribusi mereka bagi bangsa dan negara juga sangat besar. Selain mengembangkan kebudayaan, kesenian, juga yang penting adalah mengembangkan nilai agama sehingga kehidupan masyarakat Indonesia berjalan dengan baik,” ucapnya.

Konferensi ini digelar LIPI bekerjasama dengan The Hadhramaut Center for Historical Research Documentation and Publication, Menara: Study and Research Center of Arab Descents in Indonesia, serta Balai Litbang Agama Jakarta.

Tampak hadir, Kepala LIPI Bambang Subiyanto dan sejumlah Duta Besar negara sahabat, seperti Mesir, Yaman, dan Palestina. Konferensi juga diikuti para peneliti LIPI dan menghadirkan sejumlah Narasumber, antara lain: Azyumardi Azra (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Syed Farid Alatas (National University Singapore), Huub de Jonge (Radbound University, Netherlands), serta Martin Siama (Austrian Academy os Sciences). (Kemenag/MZ)

Related posts:

91160313-kekerasaan agama358 santri se-Indonesia ikrar “Say No to Adu Jotos” 451877Klarifikasi Menag soal Sertifikasi Khatib 466739Menag Apresiasi Ikadi Lakukan Sertifikasi Dai 123Sarasehan Nasional SAR dan Sosial Ahlulbait Indonesia

Akibat Perbuatan Maksiat

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Perbuatan maksiat jika dilakukan oleh seorang hamba secara sembunyi maka akibatnya hanya akan dirasakan oleh dirinya sendiri. Namun jika dilakukan secara terang-terangan sedang yang lain tidak berusaha untuk mencegahnya maka bahayanya akan menimpa seluruh orang.” (Sumber: Buku “560 Hadis dari 14 Manusia Suci”)

Ahlulbait Indonesia 69

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 36Pesan Imam Muhammad Al-Baqir tentang Silaturrahmi Ahlulbait Indonesia 55Tanda-tanda Kebodohan tsssWaspadai Pembicaraan yang Tidak Penting