Monthly Archives: September 2017

Menristekdikti Siap Jaga Kampus Agar Terhindar dari Radikalisme

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pihaknya siap menjaga kampus di perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) agar terhindar dari radikalisme.

“Kami preventif. Kami jaga jangan sampai terjadi infiltrasi di kampus-kampus, baik negeri dan swasta se-Indonesia,” katanya di Kampus Universitas Jember, Rabu.

Ia mengatakan kampus yang merupakan kumpulan anak muda, para dosen dan para cendekiawan berpotensi terinflitrasi radikalisme.

“Ini harus dibendung dan dijaga,” katanya menegaskan.

Dia mengatakan deradikalisasi untuk mahasiswa dibutuhkan sebab bisa jadi mereka telah mengikuti paham radikal saat menempuh pendidikan di SD, SMP atau SMA.

Dia belum bisa memastikan jumlah atau presentase mahasiswa yang terlihat paham radikal karena yang dilakukan adalah upaya preventif.

Terkait dengan adanya dosen yang tergabung dengan organisasi massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan pemerintah, Nasir mengatakan para dosen itu harus memilih tetap bergabung dengan NKRI atau mengundurkan diri menjadi dosen.

Ia mengatakan para dosen yang terlibat HTI masih dalam pembinaan oleh para rektor dan sejauh ini belum ada dosen yang dikeluarkan karena menjadi anggota HTI.

Sebelumnya, ribuan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dari seluruh Indonesia melakukan deklarasi antiradikalisme yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (26/9).

“Perguruan tinggi harus merawat empat pilar kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

Dia mengatakan perguruan tinggi tersebut juga akan merumuskan langkah nyata dari deklarasi tersebut. Ia menyebutkan setelah rumusan dihasilkan, tahap berikutnya adalah implementasi di kampus.

“Kami juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk melakukan screening. Begitu pula dengan perguruan tinggi swasta yang juga harus menyeeleksi para dosen dan pegawai,” ujarnya.

Dia juga meminta rektor untuk mendata para dosen pegawai yang terpapar radikalisme untuk selanjutnya ada pembinaan.

Ke depan, lanjut Nasir, aksi-aksi seperti ini harus terus dilakukan, pemahaman pada Pancasila melalui pendalaman dalam kegiatan akademik mengenai sejarah lahirnya Pancasila dan mengapa harus ada lima sila dalam Pancasila.

“Perguruan Tinggi Indonesia harus menjadi pintu gerbang keberlangsungan Pancasila dan menjaga bingkai NKRI,” kata Nasir.

Sumber: Antaranews

 

Related posts:

img_8193Segera Dideklarasikan Organisasi Ahlulbait Indonesia Agama dan PolitikBersihkan Pilpres Dari Politisasi Agama Zainal-Abidin-BagirBudaya Politik, Ganjalan Kebebasan Beragama 145Amalan-amalan di Hari Arafah

Pesan Imam Husain tentang Pengorbanan

Imam Husain berkata: “Kalian tidak perlu memuja-mujaku sementara kalian enggan berkorban demi tujuanku”

3

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali as untuk Berbuat Baik benderra_abi 1Pesan Imam Ali as tentang Berbicara 19Pesan Imam Ali as tentang Budi Pekerti 18Pesan Imam Ali tentang Sulitnya Menyatukan Perpecahan

Kasih Sayang dan Toleransi Adalah Kartu Identitas Orang Islam

Ahlulbait Indonesia 25

Related posts:

RUU Perlindungan BeragamaKemenag Persiapkan RUU Perlindungan Beragama 189344171 Guru Pendidikan Agama Dapat Honor Tetap Tugu JogjaJaga Yogya Tetap Beradab dan Toleran, Makaryo Surati MUI whatsapp-image-2016-12-21-at-22-41Diskusi Keragaman Lintas Agama dan Organisasi

Pesan Rasulullah SAW tentang Salat Lima Waktu

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa senantiasa memelihara salat lima waktu maka kelak salatnya itu akan menjadi cahaya, hujah dan sumber keselamatan baginya pada hari kiamat”

 

Ahlulbait Indonesia 271

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Rasulullah SAW tentang Persaudaraan 20Jadilah Sahabat bagi Mukmin lainnya benderra_abi 1Pesan Imam Ali as untuk Berbuat Baik 21Pesan Imam Ali tentang Mencintai Saudara dalam Tingkat Ketakwaan

Pemerintah Myanmar Apresiasi Bantuan Kemanusiaan Indonesia

Yangon, Myanmar: Director General  Relief and Restlement Department, Ministry of Social Welfare, Relief and Resettlement Myanmar, U Ko Ko Naing mewakili Pemerintah Myanmar menyampaikan apresiasi atas bantuan Indonesia dan menghargai hubungan baik yang telah terbina oleh kedua negara sejak lama, baik secara bilateral maupun sebagai sesama negara anggota ASEAN.

Pemerintah Myanmar menyampaikan komitmen untuk mendistribusikan  bantuan dari Indonesia tersebut kepada para pengungsi di Rakhine State tanpa diskriminasi etnis maupun agama.

Mengingat lokasi pengungsi yang tersebar dan cukup jauh, maka Pemerintah Myanmar bekerja sama dengan organisasi internasional kemanusiaan untuk pendistribusiannya yaitu dengan Palang Merah Internasional (Internasional Committee of the Red Cross – ICRC) Myanmar.

Duta Besar RI, Dr. Ito Sumardi, mewakili  Pemerintah Indonesia, pada Kamis (21/9) telah menyampaikan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi di Rakhine State kepada Pemerintah Myanmar yang diwakili oleh DG U Ko Ko Naing. Penyerahan bantuan disaksikan oleh wakil dari BNPB, Kemlu RI, KBRI Yangon, pejabat  Kemlu Myanmar, media Myanmar dan media tanah air.

Bantuan kemanusiaan Indonesia tersebut, selanjutnya dikirim oleh  Ministry of Social Welfare, Relief and Resettlement ke Sittwe, Rakhine State pada hari yang sama. Bantuan kemanusiaan dari Pemerintah  Indonesia kepada Pemerintah Myanmar, merupakan bantuan tahap pertama, yang berjumlah ±20 ton.  Bantuan tersebut  diangkut dengan mengggunakan 2 pesawat TNI AU,  Hercules C-130 (A1319 dan A1326)  dari Bandara Han Nadiem, Banda Aceh. Pesawat tersebut membawa bantuan yang  terdiri dari Shelter Tent, Portable Water Tank, makanan siap saji, makanan khusus untuk ibu hamil dan balita, obat-obatan dan sarung.

Bantuan kemanusiaan dari Indonesia merupakan bantuan dalam bentuk barang pertama yang diterima oleh Pemerintah Myanmar dengan menggunakan mekanisme G to G sesuai kebijakan yang ditempuh Pemerintah Myanmar terkait penyaluran bantuan kemanusiaan untuk masyarakat di Rakhine State.

Selaku wakil Pemerintah Indonesia, Dubes Ito mengharapkan kiranya bantuan kemanusiaan tersebut dapat segera diserahkan kepada para pengungsi di wilayah Rakhine State. Selain itu Dubes Ito juga mengharapkan Pemerintah Myanmar dapat membuka akses bagi relawan asing yang ingin membantu para pengungsi di Rakhine State.

“Bantuan kemanusiaan Indonesia ini merupakan bantuan untuk tahap Emergency Relief.  Indonesia juga akan memberikan bantuan untuk tahapan rehabilitasi bagi pembangunan infrastruktur yang rusak,” ungkapnya.

Penyerahan bantuan telah berjalan dengan lancar atas dasar dukungan kerja sama yang penuh Pemerintah Myanmar dan Pemerintah Indonesia. Pemerintah Myanmar sangat menghargai proses penyaluran bantuan yang diberikan Indonesia yang menyesuaikan dengan prosedur yang ditetapkan oleh Pemerintah Myanmar.

Menindaklanjuti penyerahan bantuan tahap pertama tersebut, Dubes Ito bersama dua orang staf dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menuju ke Rakhine State (26/9) untuk memantau penyerahan bantuan.

Sumber: Kementrian Luar Negeri Indonesia

Related posts:

pelabuhan eksporAS Bangkrut, Bagaimana Nasib Ekspor Indonesia? Warga-MiskinStatus ”Default” Amerika Serikat Katastrofik Menlu-Retno-menuju-Myanmar-bicarakan-masalah-Rohingya.-liputan6.com_Menlu: Indonesia Segera Kirim Bantuan Kemanusiaan Rohingya 222737020131003KUMY-RALAT780x390Bendahara DPP ABI : Agenda APEC Hanya Menguntungkan Negara Maju

Manfaat Tangisan Anak menurut Imam Jafar Shadiq

Dalam sebuah kesempatan, Imam Jafar Shadiq menerangkan kepada seorang sahabatnya bernama Mufaddhal, tentang hikmah dari Zat Yang Mahaagung, Tinggi dan Suci nama-Nya dalam penciptaan alam, binatang buas, binatang berkaki empat, burung, serangga dan setiap yang bernyawa dari kelompok binatang, tumbuhan-tumbuhan, pohon-pohon yang berbuah dan tidak berbuah, biji-bijian, sayur-sayuran yang dapat dikonsumsi dan yang tidak dapat dikonsumsi. Sebuah penjelasan yang dapat menjadi pelajaran bagi yang mau mengambilnya, menenteramkan hati orang beriman, dan membingungkan orang-orang yang ingkar.

Salah satu di antara semua itu beliau menjelaskan tentang Manfaat Tangisan Anak. Imam Jafar Shadiq menjelaskan, di dalam otak anak-anak terdapat cairan. Apabila cairan itu tetap di sana, maka akan menyebabkan akibat yang fatal dan penyakit yang parah, seperti kebutaan dan lain sebagainya.

Tangisan dapat mengeluarkan cairan itu dari kepala mereka sehingga badannya sehat dan penglihatannya tak terganggu. Ada kalanya tangisan bermanfaat bagi anak, sementara kedua orangtuanya tidak mengetahuinya. Mereka justru berusaha untuk mendiamkan dan membujuknya agar berhenti menangis. Mereka tidak menyadari bahwa tangisan lebih baik dan bermanfaat bagi anak mereka.

Begitulah, banyak hal tidak diketahui manfaatnya oleh mereka yang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan ketidaksengajaan. Seandainya mereka tahu, maka mereka tidak akan menganggap sesuatu itu tidak bermanfaat semata-mata karena mereka tidak mengetahui sebab dan alasannya. Setiap hal yang tidak diketahui (rahasianya) oleh orang-orang ingkar, diketahui oleh orang-orang arif. Banyak juga hal yang tidak diketahui oleh makhluk, namun diketahui oleh ilmu Sang Pencipta Yang Maha Suci dan Maha Tinggi kalimat-Nya.

Adapun air liur yang keluar dari mulut anak-anak, maka itu adalah keluarnya cairan yang jika tetap di dalam tubuh mereka, niscaya akan mengakibatkan hal-hal yang sangat berbahaya. Seperti orang yang kau lihat berlebihan cairan, hal itu dapat membuatnya bodoh, gila, linglung dan lain sebagainya seberupa penyakit-penyakit mematikan seperti kelumpuhan, mulut perot dan yang sejenisnya. Maka Allah menjadikan cairan itu keluar melalui mulut anak ketika masih kecil agar ia tetap sehat ketika mencapai usia dewasa. Allah memuliakan makhluknya dengan sesuatu yang tidak mereka mengerti dan mengasihi mereka dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Seandainya mereka mengetahui nikmat-nikmatnya atas diri mereka, niscaya hal itu akan mencegah mereka untuk terus bermaksiat kepada-Nya. Maha Suci Dia! Betapa agung dan berlimpah nikmat-Nya. Dia telah memberikan nikmat-nikmat itu kepada yang berhak dan yang tidak berhak dari makhluk-Nya. Maha Tinggi Dia dari apa-apa yang dikatakan oleh orang batil.

Sumber: Buku “Buana Tauhid (Jejak Tuhan di Alam Raya)”

WhatsApp Image 2017-09-24 at 15.34.34

Related posts:

elegi-cinta-salman-al-farisi 1KISAH – SALMAN AL FARISI Sayyid Ali AsyurResensi Buku Ramalan Akhir Zaman Imam Ali bin Abi Thalib IMG_20160205_131832Kisah Iblis Menjerumuskan Kaum Nabi Luth a.s. 25 Hidangan dari Al-QURAN.Buku: 25 Hidangan dari Al-Quran

Jadilah Sahabat bagi Mukmin lainnya

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya orang Mukmin adalah orang yang menjadi sahabat bagi orang-orang Mukmin lainnya”

20

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Rasulullah SAW tentang Persaudaraan benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 14Pesan Rasulullah tentang Persaudaraan Sesama Muslim 12Orang-orang Mukmin adalah Bersaudara

KISAH – Kumail dan Doa Nabi Khidhir

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.”

Imam Ali bin Abi Thalib adalah seorang ulama besar. Ia berkata, “Rasulullah mengajarkan padaku seribu pintu ilmu pengetahuan. Setiap pintunya membukakan seribu pintu (pengetahuan).” Imam juga berkata, “Zakat dari ilmu pengetahuan adalah menyebarkannya.”

Maka, Imam Ali mengajarkan pada sahabat-sahabatnya apa pun yang mereka ingin tahu.

Suatu malam, Imam Ali mengajak Kumail ke luar kota Kufah. Imam berkata kepada sahabatnya itu, “Kumail, hati ini adalah tempat menampung ilmu. Yang terbaik dari manusia adalah mereka yang memelihara ilmu. Oleh karena itu, peliharalah apa yang aku ajarkan ini.

Ada tiga kelompok manusia. Kelompok pertama, mereka yang mengetahui Allah. Kelompok kedua, mereka yang mempelajari ilmu pengetahuan hanya untuk keselamatan (diri). Dan kelompok ketiga, adalah orang awam, yang hanya meniru apa kata orang, yang mengikuti ke mana angin berlalu. Mereka ini tidak mencari pencerahan ilmu, tidak juga mengikuti kewenangan apa pun.

Kumail, ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sementara engkau yang menjaga harta. Harta menjadi berkurang ketika dibelanjakan. Sementara ilmu semakin bertambah bahkan ketika diberikan.

Kumail, penimbun harta sebenarnya mati meskipun mereka hidup, sementara mereka yang berilmu akan terus hidup sepanjang waktu.”

Doa Al Khidhir

Imam Ali sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Salah satu dari mereka bartanya tentang tafsir dari sebuah ayat:

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Q.S. Ad Dukhan: 4).

Imam berkata, “Ayat itu mengenai Nisfu Sya’ban. Demi Allah, orang harus memohon kepada Allah pada malam itu. Ia harus membaca Doa al Khidhir. Maka Allah pasti mengabulkan doanya.”

Pertemuan itu pun berakhir. Imam pulang ke rumahnya. Malam pun tiba, dan suasana menjadi gelap gulita. Ketika orang-orang terlelap tidur, Kumail bangkit dan pergi ke rumah Imam Ali. Ia mempunyai sebuah pertanyaan.

Kumail mengetuk pintu. Imam Ali bertanya, “Kumail, apa yang membawamu kemari?” Kumail berkata dengan sopan, “Amirul Mukminin, apa itu Doa al Khidhir?” Imam Ali dengan ramah berkata, “Kumail, duduklah.” Kemudian Imam melanjutkan, “Aku akan membacakan doa untukmu. Bacalah pada setiap malam Jumat.”

Imam mulai membacakan doa itu, dan Kumail pun menulisnya. Sampai sekarang, jutaan Muslimin membaca doa itu. Mereka menyebutnya dengan Doa Kumail.

Doa Kumail merupakan salah satu doa yang sangat terkenal. Allamah al-Majlisi ra berkata, “Doa ini adalah doa terbaik. Doa ini adalah doa Nabi Khidhir as. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengajarkan doa ini kepada Kumail, salah seorang sahabat dekat beliau. Doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca setiap malam Nisfu Sya’ban dan malam Jumat. Doa ini mampu menolak kejahatan musuh, membuka pintu rezeki dan mengampuni dosa.” Syeikh Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra juga menukil doa ini.

 

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على محمد وآل محمد

يَادَآئِمَ اْلفَضْلِ عَلَى اْلبَرِيَّةِ، يَابَاسِطَ اْليَدَيْنِ بِالْعَطِيَّةِ،

يَاصَاحِبَ الْمَوَاهِبِ السَّنِيَّةِ، صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ خَيْرِ الْوَرَى سَجِيَّةً،

وَاغْفِرْ لَنَا يَاذَاالْعُلَى فِي هَذِهِ الْعَشِيَّةِ.

Yâ Dâimal fadhli ‘alal bariyyah. Yâ Bâsithal yadayni bil-‘athiyyah. Yâ Shâhibal mawâhibis saniyyah. Shalli ‘alâ Muhammadin wa âlihi khayral warâ sajiyyah. Waghfir lanâ yâ Dzal ‘ulâ fî hâdzihil ‘asyiyyah.

Wahai Yang Selalu Memberi karunia pada makhluk-Nya

Wahai yang tangan-Nya terbuka dengan pemberian-Nya

Wahai Pemilik karunia yang mulia

sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya

manusia yang terbaik akhlaknya

ampuni kami pada malam ini wahai Yang Maha Mulia.

*****

Doa Kumail

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على محمد وآل محمد

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَسْئَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء

Allâhumma innî as-aluka birahmatikal latî wasi‘at kulla syây’

Ya Allah,  aku bermohon kepada-Mu, dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu

وَبِقُوَّتِكَ الَّتِيْ قَهَرْتَ بِهَا كُلَّ شَيْءٍ

wa biquwwatikal latî qaharta bihâ kulla syây’

dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu

وَخَضَعَ لَهَا كُلُّ شَيْءٍ وَذَلَّ لَهَا كُلُّ شَيْءٍ

wa khadha‘a lahâ kullu syay’  wa dzalla lahâ kullu syây’

dan karenanya merunduk segala sesuatu dan karenanya merendahkan segala sesuatu

وَبِجَبَرُوْتِكَ الَّتِيْ غَلَبْتَ بِهَا كُلَّ شَيْءٍ

wa bijabarûtikal latî ghalabta bihâ kulla syây’

dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu

وَبِعِزَّتِكَ الَّتِيْ لاَيَقُوْمُ لَهَا شَيْءٌ

wa bi‘izzatikal latî lâ yaqûmu lahâ syây’

dengan kekuatan-Mu yang tak tertahankan

oleh segala sesuatu

وَبِعَظَمَتِكَ الَّتِيْ مَلأَتْ كُلَّ شَيْءٍ

wa bi‘azhamatikal latî malaat kulla syây’

dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu

وَبِسُلْطَانِكَ الَّذِيْ عَلاَ كُلَّ شَيْءٍ

wa bisulthânikal ladzî ‘alâ kulla syây’

dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu

وَبِوَجْهِكَ الْبَاقِيْ بَعْدَ فَنَآءِ كُلِّ شَيْءٍ

wa biwajhikal bâqî ba‘da fanâi kulli syây’

dengan wajah-Mu yang kekal setelah punah segala sesuatu

وَبِأَسْمَآئِكَ الَّتِيْ مَلأَتْ اَرْكَانَ كُلِّ شَيْءٍ

wa biasmâikal latî malaat arkâna kulli syây’

dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesutu

وَبِعِلْمِكَ الَّذِيْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ

wa bi‘ilmikal ladzî ahâtha bikulli syây’

dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu

وَبِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِيْ اَضَآءَ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ

wa binûri wajhikal ladzî adhâa lahû kullu syây’

dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu

يَانُوْرُ يَاقُدُّوْسُ

Yâ Nûru yâ Quddûs

Wahai Nur, wahai Yang Mahasuci!

يَاأَوَّلَ اْلأَوَّلِيْنَ وَيَاآخِرَ اْلأَخِرِيْنَ

yâ Awwalal awwalîn wa yâ آkhiral âkhirîn

Wahai Yang Awal dari segala yang awal!

Wahai Yang Akhir segala yang akhir!

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَهْتِكُ الْعِصَمَ

Allâhummaghfirliyadz dzunûbal latî tahtikul ‘isham

Ya Allah,  ampunilah dosa-dosaku yang menuruntuhkan penjagaan.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُنْزِلُ النِّقَمَ

Allâhummaghfirliyadz dzunûbal latî tunzilun niqam

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تُغَيِّرُ النِّعَمَ

Allâhummaghfirliyadz dzunûbal latî tughayyirun ni‘am

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak karunia

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوْبَ الَّتِيْ تَحْبِسُ الدُّعَآءَ

Allâhummaghfirliyadz dzunûbal latî tahbisud du‘â’

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menahan doa

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيَ الذُّنُوْبَ الَّتيْ تُنْزِلُ الْبَلآءَ

Allâhummaghfirliyadz dzunûbal latî tunzilul balâ’

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merunkan bala’

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ كُلَّ ذَنْبٍ اَذْنَبْتُهُ وَكُلَّ خَطِيْئَةٍ اَخْطَأْتُهَا

Allâhummaghfirlî kulla dzanbin adznabtuh wa kulla khathîatin akhtha’tuhâ

Ya Allah,  ampunilah segala dosa yang telah kulakukan

dan segala kesalahan yang telah kukerjakan

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَتَقَرَّبُ اِلَيْكَ بِذِكْرِكَ وَاَسْتَشْفِعُ بِكَ اِلَى نَفْسِكَ

Allâhumma innî ataqarrabu ilayka bidzikrik wa astasyfi‘u bika ilâ nafsik

Ya Allah, aku datang menghampiri-Mu dengan zikir-Mu,

aku memohon pertolongan-Mu dengan diri-Mu,

وَاَسْئَلُكَ بِجُوْدِكَ اَنْ تُدْنِيَنِيْ مِنْ قُرْبِكَ

wa as-aluka bijûdika an tudniyanî min qurbik

aku bermohom pada-Mu dengan kemurahan-Mu,

dekatkan daku keharibaan-Mu,

وَاَنْ تُوْزِعَنِي شُكْرَكَ وَاَنْ تُلْهِمَنِي ذِكْرَكَ

wa an tûzi‘ani syukrak wa an tulhimanî dzikrak

sempatkan daku untuk bersyukur pada-Mu,

bimbinglah daku untuk selalu mengingat-Mu.

اَللّهُمَّ اِنِّيْ اَسْأَلُكَ سُؤَالَ خَاضِع مُتَذَلِّلٍ خَاشِعٍ

Allâhumma innî as-aluka suâla khâdhi‘in mutadzallilin khâsyi‘

Ya Allah, aku bermohon pada-Mu dengan permohonan hamba yang rendah,

hina dan ketakutan,

اَنْ تُسَامِحَنِيْ وَتَرْحَمَنِيْ وَتَجْعَلَنِيْ بِقِسْمِكَ رَاضِيًا قَانِعًا

an tusâmihanî wa tarhamanî wa taj‘alanî biqismika râdhiyan qâni‘â

maafkan daku, sayangi daku,

dan jadikan daku ridha dan senang pada pemberian-Mu.

وَفِيْ جَمِيْعِ اْلأَحْوَالِ مُتَوَاضِعًا

wa fî jamî‘il ahwâli mutawâdhi‘â

dan dalam segala keadaan tunduk kepada-Mu

اَللّهُمَّ وَاَسْأَلُكَ سُؤَالَ مَنِ اشْتَدَّتْ فَاقَتُهُ

Allâhumma wa as-aluka suâla manisytaddat fâqatuh

Ya Allah, aku bermohon pada-Mu

dengan permohonan orang yang berat keperluannya

وَاَنْزَلَ بِكَ عِنْدَ الشَّدَآئِدِ حَاجَتَهُ وَعَظُمَ فِيْمَا عِنْدَكَ رَغْبَتُهُ

wa anzala bika ‘indasy syadâidi hâjatah wa ‘azhuma fîmâ ‘indaka raghbatuh

yang ketika kesulitan menyampaikan hajatnya pada-Mu

yang besar kedambaannya untuk meraih apa yang ada di sisi-Mu

اَللّهُمَّ عَظُمَ سُلْطَانُكَ وَعَلاَ مَكَانُكَ وَخَفِيَ مَكْرُكَ وَظَهَرَ اَمْرُكَ

Allâhumma ‘azhuma sulthânuka wa ‘alâ makânuk wa khafiya makruka wa zhahara amruk

Ya Allah, mahabesar kekuasaan-Mu, mahatinggi kedudukan-Mu,

selalu tersembunyi rencana-Mu, selalu tampak kuasa-Mu

وَغَلَبَ قَهْرُكَ وَجَرَتْ قُدْرَتُكَ وَلاَيُمْكِنُ الْفِرَارُ مِنْ حُكُوْمَتِكَ

wa ghalaba qahruka wa jarat qudratuk wa lâ yumkinuk firâru min hukûmatik

selalu tegak kekuatan-Mu, selalu berlaku kodrat-Mu

tak mungkin lari dari pemerintahan-Mu

اَللّهُمَّ لاَ اَجِدُ لِذُنُوْبِيْ غَافِرًا وَلاَ لِقَبَآئِحِيْ سَاتِرًا

Allâhumma lâ ajidu lidzunûbî ghâfirâ walâ liqabâihi sâtirâ

Ya Allah, tidak kudapatkan pengampunan bagi dosaku,

tiada penutup bagi kejelekanku,

وَلاَ لِشَيْءٍ مِنْ عَمَلِيَ الْقَبِيْحِ بِالْحَسَنِ مُبَدِّلاً

walâ lisyay-in min ‘amaliyal qabîhi bil hasani mubaddilâ

tiada yang dapat menggantikan

amalku yang jelek dengan kebaikan,

غَيْرَكَ لاَاِلهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ

ghayraka lâilâha illâ Anta, subhânaka wa bihamdik

melainkan Engkau, Tiada Tuhan kecuali Engkau

Mahasuci Engkau dengan segala puji-Mu

ظَلَمْتُ نَفْسِي

Zhalamtu nafsî

Telah aku aniaya diriku

وَتَجَرَّأْتُ بِجَهْلِي

wa tajarra’tu bijahlî

telah berani aku melanggar, karena kebodohan,

وَسَكَنْتُ اِلَى قَدِيْمِ ذِكْرِكَ لِي وَمَنِّكَ عَلَيَّ

wa sakantu ilâ qadîmi dzikrika lî wa mannika ‘alayya

tetapi aku tenteram,karena bersandar pada sebutan-Mu dan karunia-Mu padaku

اَللّهُمَّ مَوْلاَيَ كَمْ مِنْ قَبِيْحٍ سَتَرْتَهُ

Allâhumma Mawlâya kam min qabîhin satartah

Ya Allah, Pelindungku,

betapa banyak kejelekan telah Kaututupi,

وَكَمْ مِنْ فَادِحٍ مِنَ الْبَلآءِ اَقَلْتَهُ

wa kam min fâdihin minal balâi aqaltah

betapa banyak malapetaka telah Kauatasi,

وَكَمْ مِنْ عِثَارٍ وَقَيْتَهُ

wa kam min ‘itsariw waqaytah

betapa banyak rintangan telah Kausingkirkan,

وَكَمْ مِنْ مَكْرُوْهٍ دَفَعْتَهُ

wa kam min makrûhin dafa‘tah

betapa banyak bencana telah Kautolakkan,

وَكَمْ مِنْ ثَنَآءٍ جَمِيْلٍ لَسْتُ اَهْلاً لَهُ نَشَرْتَهُ

wa kam min tsanâin jamîlin/l lastu ahlan/l lahu natsartah

betapa banyak pujian baik yang tak layak bagiku telah Kausebarkan.

اَللّهُمَّ عَظُمَ بَلآئِي وَاَفْرَطَ بِي سُوْءُ حَالِي.

Allâhumma ‘azhuma balâî wa afratha sûu hâlî

Ya Allah, besar sudah bencanaku,

berlebihan sudah kejelekan keadaanku,

وَقَصُرَتْ بِي اَعْمَالِي وَقَعَدَتْ بِي اَغْلاَلِي

wa qashurat bihi a‘mâlî wa qa‘adatbî aghlâlî

rendah benar amal-amalku, berat benar belenggu (kemalasanku).

وَحَبَسَنِي عَنْ نَفْعِي بُعْدُ اَمَلِي

wa habasanî ‘an naf‘î bu‘du amalî

Angan-angan panjang telah menahan manfaat dari diriku,

وَخَدَعَتْنِي الدُّنْيَا بِغُرُوْرِهَا وَنَفْسِي بِجِنَايَتِهَا وَمِطَالِي

wa khada‘atnid dun-yâ bighurûrihâ wa nafsî bijinâyatihâ wa mithâlî.

dunia dengan tipuannya telah memperdayaku,

dan diriku (telah terpedaya) karena ulahnya, dan karena kelalainku.

يَاسَيِّدِي فَأَسْئَلُكَ بِعِزَّتِكَ اَنْ لاَيَحْجُبَ عَنْكَ دُعَآئِي سُوْءُ عَمَلِي وَفِعَالِي

Yâ Sayyidî fa-as-aluka bi‘izzatika an/l lâ yahjuba ‘anka du‘âî sûu ‘amalî wa fi‘âlî

Wahai Junjunganku,

aku bermohon pada-Mu dengan segala kekuasaan-Mu,

jangan Kaututup doaku  karena kejelekan amal dan perangaiku,

وَلاَ تَفْضَحْنِي بِخَفِيِّ مَااطَّلَعْتَ عَلَيْهِ مِنْ سِرِّي

walâ tafdhahnî bikhafiyyi maththala‘ta

‘alayhi min sirrî

jangan Kauungkapkan rahasiaku yang tersembunyi,

yang telah Engkau ketahui,

وَلاَتُعَاجِلْنِي بِالْعُقُوْبَةِ عَلَى مَاعَمِلْتُهُ فِي خَلَوَاتِي

walâ tu‘ajilnî bil‘uqûbati ‘alâ mâ ‘amiltuhu

fî khalawâtî

jangan Kausegerakan siksa padaku yang kulakukan dalam kesendirianku,

مِنْ سُوْءِ فِعْلِي وَاِسَآئَتِي وَدَوَامِ تَفْرِيْطِي وَجَهَالَتِي

min sûi fi‘lî wa isâatî wa dawâmi tafrithî wa jahâlatî

karena perbuatan buruk dan kejelekan

karena kebiasaanku untuk melanggar batas, dan kebodohan,

وَكَثْرَةِ شَهَوَاتِي وَغَفْلَتِي

wa katsrati syahawâtî wa ghaflatî

karena banyaknya nafsuku dan kelalaianku.

وَكُنِ اللَّهُمَّ بِعِزَّتِكَ لِي فِي كُلِّ اْلأَحْوَالِ رَؤُفًا

Wa kunillâhumma bi‘izzatikalî fî kullil ahwâli raûfâ

Ya Allah, dengan kemulian-Mu,

sayangi daku dalam segala keadaan,

وَعَلَيَّ فِي جَمِيْعِ اْلأَمُوْرِ عَطُوْفًا

wa ‘alayya fî jamî‘il umûri ‘athûfâ

kasihi daku dalam segala perkara.

اِلَهِي وَرَبِّي مَنْ لِي غَيْرُكَ

Ilâhî wa Rabbî mallî ghayruk

Ialhi, Rabbi,

kepada siapa lagi selain Engkau,

اَسْئَلُهُ كَشْفَ ضُرِّي وَالنَّظَرَ فِي اَمْرِي

as-aluhu kasyfa dhurrî wan nazhara fî amrî

aku memohon dihilangkan kesengsaraanku, dan diperhatikan urusanku.

اِلَهِي وَمَوْلاَيَ اَجْرَيْتَ عَلَيَّ حُكْمًا اتَّبَعْتُ فِيْهِ هَوَى نَفْسِي

Ilâhî wa Mawlâya ajrayta ‘alayya hukmanittaba‘tu fîhi hawâ nafsî

Ilahi, Pelindungku, Engkau kenakan padaku hukum, tetapi disitu aku ikuti hawa nafsuku;

وَلَمْ اَحْتَرِسْ فِيْهِ مِنْ تَزْيِيْنِ عَدُوِّيْ فَغَرَّنِي بِمَا اَهْوَى

walam ahtaris fîhi min tazîni ‘aduwwî fagharranî bimâ ahwâ

aku tidak cukup waspada terhadap tipuan (setan) musuhku,

maka terkecohlah aku lantaran nafsuku,

وَاَسْعَدَهُ عَلَى ذَلِكَ الْقَضَآءُ

فَتَجَاوَزْتُ بِمَاجَرَى عَلَيَّ مِنْ ذَلِكَ بَعْضَ حُدُوْدِكَ

wa as‘adahu ‘alâ dzâlikal qadhâu

fatajâwaztu bimâ jarâ ‘alayya min dzâlika ba‘dha hudûdik

dan berlakulah ketentuan-Mu atas diriku

ketika kulanggar sebagian batas yang Kautetapkan bagiku,

وَخَالَفْتُ بَعْضَ اَوَامِرِكَ

wa khâlaftu ba‘dha awâmirik

dan kubantah sebagian perintah-Mu

فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَيَّ فِي جَمِيْعِ ذَلِكَ

falakal hamdu ‘alayya fî jamî‘i dzâlik

Namun bagi-Mu segala pujiku atas semua itu;

وَلاَحُجَّةَ لِي فِيْمَا جَرَى عَلَيَّ فِيْهِ قَضَآؤُكَ

walâ hujjatalî fîmâ jarâ ‘alayya fîhi qadhâuk

tiada alasan bagiku (menolak) ketentuan yang Kautetapkan bagiku,

وَاَلْزَمَنِي حُكْمُكَ وَبَلآؤُكَ

wa alzamanî hukmuka wa balâuk

demikian pula hukum dan ujian yang menimpaku.

وَقَدْ اَتَيْتُكَ يَااِلَهِي بَعْدَ تَقْصِيْرِي وَاِسْرَافِي عَلَى نَفْسِي

wa qad ataytuka yâ Ilâhî ba‘da taqshîrî wa isrâfî ‘alâ nafsî

Aku datang kini menghadap-Mu, ya Ilahi,

dengan segala kekuranganku,

dengan segala kedurhakaanku (pelanggaranku),

مُعْتَذِرًا نَادِمًا مُنْكَسِرًا مُسْتَقِيْلاً

mu‘tadziran nâdimâ, munkasiran/m mustaqîlâ

sambil menyampaikan pengakuan dan penyesalanku

dengan hati yang hancur luluh,

مُسْتَغْفِرًا مُنِيْبًا مُقِرًّا مُذْعِنًا مُعْتَرِفًا

mustaghfiran/m minîbâ, muqirran/m mudz‘inan/m mu‘tarifâ

memohon ampun dan berserah diri,

dengan rendah hati mengakui segala kenistaanku.

وَلاَاَجِدُ مَفَرًّا مِمَّاكَانَ مِنِّي وَلاَمَفْزَعًا

lâ ajidu mafarran/m mimmâ kâna minnî walâ mafza‘â

Karena segala cacatku ini,

tiada aku dapatkan tempat melarikan diri,

اَتَوَجَّهُ اِلَيْهِ فِي اَمْرِي غَيْرَ قَبُوْلِكَ عُذْرِي

atawajjahu ilayhi fî amrîghayra qabûlika ‘udzrî

tiada tempat berlindung untuk menyerahkan urusanku,

selain pada kehendak-Mu untuk menerima pengakuan kesalahanku

وَاِدْخَالِكَ اِيَّايَ فِي سَعَةِ رَحْمَتِكََ

wa idkhâlika iyyâya fî sa‘ati rahmatik

dan memasukkan aku pada kesucian kasih-Mu.

اَللَّهُمَّ فَاقْبَلْ عُذْرِي وَارْحَمْ شِدَّةَ ضُرِّي

Allâhumma faqbal ‘udzrî  warham syiddata dhurrî

Ya Allah,  terimalah pengakuanku, dan kasihanilah beratnya kepedihanku

وَفُكَّنِي مِنْ شَدِّ وَثَاقِي

wa fukkanî min syaddi watsâqî

lepaskan dari kekuatan belengguku.

يَارَبِّ ارْحَمْ ضَعْفَ بَدَنِي

Yâ Rabbirham dha‘fa badanî

Ya Rabbi,

kasihanilah kelemahan tubuhku,

وَرِقَّةَ جِلْدِي وَدِقَّةَ عَظْمِي

wa riqqata jildî wa diqqata ‘azhmî

kelembutan kulitku dan kerapuhan tulangku.

يَامَنْ بَدَءَ خَلْقِي وَذِكْرِي وَتَرْبِيَتِي وَبِرِّي وَتَغْذِيَتِي

Yâ Man bada-a khalqî wa dzikrî wa tarbiyatî wa birrî wa taghdiyatî

Wahai Tuhan yang mula-mula menciptakanku,

menyebutku, mendidikku, memperlakukanku dengan baik,

dan memberiku kehidupan,

هَبْنِي لابْتِدَآءِ كَرَمِكَ وَسَالِفِ بِرِّكَ بِي

habnî libtidâi karamika wa sâlifi birrika bî

karena permulaan karunia-Mu,

karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan,

berilah aku karunia-Mu.

يَااِلَهِي وَسَيِّدِي وَرَبِّي

اَتُرَاكَ مَعَذِّبِي بِنَارِكَ بَعْدَ تَوْحِيْدِكَ

Yâ Ilâhî wa Sayyidî aturâka mu‘adzdzibî binârika ba’da tawhîdik

Ya Allah, Junjunganku, Pemeliharaku!

Apakah Engkau akan menyiksaku dengan api-Mu,

setelah mengesakan-Mu

وَبَعْدَ مَاانْطَوَى عَلَيْهِ قَلْبِي مِنْ مَعْرِفَتِكَ

wa ba‘da manthawâ ‘alayhi qalbî min ma‘rifatik

setelah hatiku tenggelam dalam makrifat-Mu

وَلَهِجَ بِهِ لِسَانِي مِنْ ذِكْرِكَ

wa lahija bihi lisânî min dzikrik

setelah lidahku bergetar menyebut-Mu

وَاعْتَقَدَهُ ضَمِيْرِي مِنْ حُبِّكَ

wa‘taqadahu dhamîrî min hubbik

setelah jantung terikat dengan cinta-Mu

وَبعْدَ صِدْقِ اعْتِرَافِي وَدُعَآئِي خَاضِعًا لِرُبُوْبِيَّتِكَ

wa ba‘da shidqi‘tirâfî wa du‘âî khâdhi‘an/l lirubûbiyyatik

setelah segala ketulusan pengakuanku dan permohonanku,

seraya tunduk bersimpuh pada rububiyah-Mu

هَيْهَاتَ اَنْتَ اَكْرَمُ مِنْ اَنْ تُضَيِّعَ مَنْ رَبَّيْتَهُ

hayhâta Anta akramu min an tudhayyi‘a man/r rabbaytah

Tidak, Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang Kau ayomi,

اَوْ تُبَعِّدَ مَنْ اَدْنَيْتَهُ اَوْتُشَرِّدَ مَنْ آوَيْتَهُ

aw tuba“ida man adnaytah(u) aw tusyarrida man âwaytah

atau menjauhkan orang yang Engkau dekatkan, atau menyisihkan

orang yang Engkau naungi,

اَوْتُسَلِّمَ اِلَى الْبَلآءِ مَنْ كَفَيْتَهُ وَرَحِمْتَهُ

aw tusallima ilal balâi man kafaytahu wa rahimtah

atau menjatuhkan pada bencana orang yang Enkau cukupi dan Engkau sayangi

وَلَيْتَ شِعْرِي يَاسَيِّدِي وَاِلَهِي وَمَوْلاَيَ

اَتُسَلِّطُ النَّارَ عَلَى وُجُوْهٍ خَرَّتْ لِعَظَمَتِكَ سَاجِدَةً

wa layta syi‘rî yâ Sayyidî wa Ilâhî wa Mawlâya

atusallithun nâra ‘ala wujûhin kharrat li‘azhamatika sâjidah

Aduhai diriku!

Junjunganku, Tuhanku, Pelindungku!

Apatah Engkau akan melemparkan ke neraka

wajah-wajah yang tunduk rebah karena kebesaran-Mu,

وَعَلَى اَلْسُنٍ نَطَقَتْ بِتَوْحِيْدِكَ صَادِقَةً

wa ‘ala alsunin nathaqat bitawhîdika shâdiqah

lidah-lidah yang dengan tulus mengucapkan keesaan-Mu

وَبِشُكْرِكَ مَادِحَةً

wa bisyukrika mâdihah

dan dengan pujian mensyukuri nikmat-Mu,

وَعَلَى قُلُوْبٍ اعْتَرَفَتْ بِإِلَهِيَّتِكَ مُحَقِّقَةً

wa ‘alâ qulûbini‘tarafat bi-ilâhiyyatika muhaqqiqah

kalbu-kalbu yang dengan sepenuh hati mengakui

uluhiyah-Mu.

وَعَلَى ضَمَآِئرَ حَوَتْ مِنَ الْعِلْمِ بِكَ حَتَّى صَارَتْ خَاشِعَةً

wa ‘ala dhamâira hawat minal ‘ilmi bika hattâ shârat khâsyi‘ah

hati nurani yang dipenuhi ilmu tentang Engkau

sehingga bergetar ketakutan

وَعَلَى جَوَارِحَ سَعَتْ اِلَى اَوْطَانِ تَعَبُّدِكَ طَائِعَةً

wa ‘alâ jawâriha sa‘at ilâ awthâni ta‘abbudi thâi‘ah

tubuh-tubuh yang telah biasa tunduk untuk mengabdi-Mu

وَاَشَارَتْ بِاسْتِغْفَارِكَ مُذْعِنَةً

wa asyârat bistighfârika mudz‘inah

dan dengan merendah memohon ampunan-Mu

مَاهَكَذَا الظَّنُّ بِكَ

mâ hâkadzazh zhannu bik

Tidak sedemikian itu persangkaan kami tentang-Mu

وَلاَاُخْبِرْنَا بِفَضْلِكَ عَنْكَ

walâ ukhbirnâ bifadhlika ‘anka

padahal telah diberitakan kepada kami tentang

keutamaan-Mu

يَاكـَرِيْمُ يَارَبِّ

Yâ Kârîmu yâ Rabb

Wahai Pemberi karunia, wahai Pemelihara!

وَاَنْتَ تَعْلَمُ ضَعْفِي عَنْ قَلِيْلٍ مِنْ بَلآءِ الدُّنْيَا وَعُقُوْبَتِهَا

wa Anta ta‘lamu dha‘fî ‘an qalîlin/m min balâid dun-ya wa ‘uqûbâtihâ

Engkau mengetahui kelemahanku

dalam menanggung sedikit dari bencana dan siksa dunia

وَمَايَجْرِي فِيْهَا مِنَ الْمَكَارِهِ عَلَى اَهْلِهَا

wa mâ yajrî fîhâ minal makârihi ‘alâ ahlihâ

serta kejelekan yang menimpa penghuninya;

عَلَى اَنَّ ذَلِكَ بَلآءٌ وَمَكْرُوْهٌ قَلِيْلٌ مَكْثُهُ

‘alâ anna dzâlika balâun/w wa makrûhun qalîlum maktsuh

Padahal semua (bencana dan kejelekan) itu

يَسِيْرٌ بَقَآئُهُ قَصِيْرٌ مُدَّتُهُ

yasîrun/m baqâuh, qashîrun/m muddatuh

singkat masanya, sebentar lalunya, dan pendek usianya.

فَكَيْفَ احْتِمَالِي لِبَلآءِ اْلأخِرَةِ

fakayfahtimâlî libalâil âkhirah

Maka apatah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhirat

وَجَلِيْلِ وُقُوْعِ الْمَكَارِهِ فِيْهَا

wa jalîlil wuqû‘il makârihi fîhâ

dan kejelekan hari akhir yang besar,

وَهُوَ بَلآءٌ تَطُوْلُ مُدَّتُهُ وَيَدُوْمُ مَقَامُهُ

wa huwa balâun tathûlu muddatuh, wa yadûmu maqâmuh

bencana yang panjang masanya dan kekal menetapnya

وَلاَيُخَفَّفُ عَنْ اَهْلِهِ لأَنَّهُ لاَيَكُوْنُ اِلاَّ عَنْ غَضَبِكَ وَانْتِقَامِكَ وَسَخَطِكَ

wala yukhaffafu ‘an ahlihi liannahu lâ yakûnu illâ ‘an ghadhabik

wantiqâmika wa sakhathik

serta tidak diringankan bagi orang yang menanggungnya; sebab semuanya tidak terjadi kecuali karena murka-Mu, karena balasan dan amarah-Mu.

وَهَذَا مَالاَتَقُوْمُ لَهُ السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ

wa hâdzâ mâ taqûmu lahus samâwatu wal ardh

Inilah, yang bumi dan langit pun tak sanggup memikulnya

يَاسَيِّدِيْ فَكَيْفَ لِي

وَاَنَا عَبْدُكَ الضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ الْحَقِيْرُ الْمِسْكِيْنُ الْمُسْتَكِيْنُ

Ya Sayyidî fakayfa lî

wa ana ‘abdukadh dha‘îfudz dzalîlul, al-haqîrul miskînul mustakîn

Wahai Junjunganku,

bagaimana mungkin aku (menanggungnya)?

Padahal aku hamba-Mu yang lemah, rendah, hina,

malang, dan papa.

يَااِلَهِي وَرَبِّ وَسَيِّدِي وَمَوْلاَيَ

Ya Ilâhî wa Rabbi wa Sayyidî wa Mawlâya

Ya Ilahi, Tuhanku, Junjunganku, Pelindungku!

لأَيِّ اْلأُمُوْرِ اِلَيْكَ اَشْكُوا

liayyil umûri ilayka asykû

Urusan apa lagi kiranya yang akan aku adukan pada-Mu?

وَلِمَا مِنْهَا اَضِجُّ وَاَبْكِي لأَلِيْمِ الْعَذَابِ وَشِدَّتِهِ

wa limâ minhâ adhijju wa abkî lialîmil adzâbi wa syiddatih

Mestikah aku menagis menjerit? karena kepedihan dan beratnya siksaan?

اَمْ لِطُوْلِ الْبَلآءِ وَمُدَّتِهِ

am lithûlil balâi wa muddatih

atau karena lamanya cobaan?

فَلَئِنْ صَيَّرْتَنِي لِلْعُقُوْبَاتِ مَعَ اَعْدَآئِكَ

falain shayyartanî lil‘uqûbâti ma‘a a‘dâik

Sekiranya Engkau siksa aku beserta nusuh-musuh-Mu

وَجَمَعْتَ بَيْنِي وَبَيْنَ اَهْلِ بَلآئِكَ

wa jama‘ta baynî wa bayna ahli balâik

dan Engkau himpunkan aku bersama penerima bencana-Mu

وَفَرَّقْتَ بَيْنِي وَبَيْنَ اَحِبَّآئِكَ وَاَوْلِيَآئِكَ

wa farraqta baynî wa bayna ahli ahibbâika wa awliyâik

dan Engkau ceraikan aku dari para kekasih-Mu dan kecintaan-Mu

فَهَبْنِي يَااِلَهِي وَسَيِّدِي وَمَوْلاَيَ وَرَبِّ

fahabnî ya Ilâhî wa Sayyidî wa Mawlâya wa Rabbî

Oh … seandainya aku,

Ya Ilahi, Junjunganku, Pelindungku, Tuhanku!

صَبَرْتَ عَلَى عَذَابِكَ فَكَيْفَ اَصْبِرُ عَلَى فِرَاقِكَ

shabartu ‘ala ‘a dzâbik

fakayfa ashbiru ‘alâ firâqik

Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu,

mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dengan-Mu?

وَهَبْنِي صَبَرْتُ عَلَى حَرِّ نَارِكَ

wa habnî shabartu ‘ala harri nârik

Dan sekiranya aku mampu bersabar menahan

panas api-Mu?

فَكَيْفَ اَصْبِرُ عَنِ النَّظَرِ اِلَى كَرَامَتِكَ

fakayfa ashbiru ‘anin nazhari ilâ karâmatik

mana mungkin aku bersabar tidak melihat kemuliaan-Mu?

اَمْ كَيْفَ اَسْكُنُ فِي النَّارِ وَرَجَآئِي عَفْوُكَ

am kayfa askunu fin nâri wa rajâî ‘afwuk

Mana mungkin aku tinggal di neraka-Mu,

padahal harapanku hanya maaf-Mu!

فَبِعِزَّتِكَ يَاسَيِّدِي وَمَوْلاَيَ

fabi‘izzatika ya Sayyidî wa Mawlâya

Demi kemuliaan-Mu, wahai Junjunganku dan Pelindungku!

اُقْسِمُ صَادِقًا لَئِنْ تَرَكْتَنِي نَاطِقًا

uqsimu shâdiqâlain taraktanî nâthiqâ

Aku bersumpah dengan tulus;

Sekiranya Engkau biarkan aku berbicara di sana

لأَضِجَّنَّ اِلَيْكَ بَيْنَ اَهْلِهَا ضَجِيْجَ اْلأَمِلِيْنَ

la-adhijjanna ilayka bayna ahlihâ dhajîjal amilîn

di tengah penghuninya, aku akan menangis

tangisan mereka yang menyimpan harapan

وَلأَصْرُخَنَّ اِلَيْكَ صُرَاخَ الْمُسْتَصْرِخِيْنَ

wa la-ashrukhanna ilayka shurâkhal mustashrikhîn

Aku akan menjerit

jeritan mereka yang memohon pertolongan

وَلأَبْكِيَنَّ عَلَيْكَ بُكَاءَ الْفَاقِدِيْنَ

wa la-abkiyanna ‘alayka bukâal fâqidîn

Aku akan merintih – rintihan mereka yang kekurangan

وَلأُنَادِيَنَّكَ اَيْنَ كُنْتَ يَاوَلِيَّ الْمُؤْمِنِيْنَ

wa launâdiyannaka ayna kunta yâ Waliyyal mu’minin

Sungguh, aku akan menyeru-Mu,

di mana pun Engkau berada,

Wahai Pelindung kaum mukminin,

يَاغَايَةَ آمَالِ الْعَارِفِيْنَ

yâ Ghâyata âmâlil ‘ârifîn

wahai tujuan harapan kaum arifin,

يَاغِيَاثَ الْمُسْـتَغِيْثِيْنَ

ya Ghiyâtsal mustaghîtsîn

wahai lindungan kaum yang memohon perlindungan,

يَاحَبِيْبَ قُلُوْبِ الصَّادِقِيْنَ

ya Habîba qulûbish shâdiqîn

wahai kekasih kalbu para pecinta kebenaran

وَيَااِلَهَ الْعَالَمِيْنَ

wa yâ Ilâhal ‘âlamîn

wahai Tuhan seru sekalian alam

اَفَتُرَاكَ سُبْحَانَكَ يَااِلَهِي وَبِحَمْدِكَ

afaturâka subhânaka yâ Ilâhî wa bihamdik

Mahasuci Engkau, Ilahi, dengan segala puji-Mu!

تَسْمَعُ فِيْهَا صَوْتَ عَبْدٍ مُسْلِمٍ سُجِنَ فِيْهَا بِمُخَالَفَتِهِ

tasma‘u fîhâ shawta ‘abdin/m muslimin sujina fîhâ bimukhâlafatih

Akankah Engkau dengar di sana suara hamba muslim,

yang terpenjara dengan keingkarannya,

وَذَاقَ طَعْمَ عَذَابِهَا بِمَعْصِيَتِهِ

wa dzâqa tha‘ma ‘adzâbihâ bima‘shiyatih

yang merasakan siksanya karena kedurhakaannya

وَحُبِسَ بَيْنَ اَطْبَاقِهَا بِجُرْمِهِ وَجَرِيْرَتِهِ

wa hubisa bayna athbâqihâ bijurmihi wa jarîratih

yang terperosok ke dalamnya karena dosa dan nistanya;

وَهُوَ يَضِجُّ اِلَيْكَ ضَجِيْجَ مُؤَمِّلٍ لِرَحْمَتِكَ

wa huwa yadhijju ilayka dhajîja muammilin lirahmatik

ia merintih pada-Mu dengan mendambakan rahmat-Mu,

وَيُنَادِيْكَ بِلِسَانِ اَهْلِ تَوْحِيْدِكَ

wa yunâdîka bilisâni ahli tawhîdik

ia menyeru-Mu dengan lidah ahli tauhid-Mu,

وَيَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِرُبُوْبِيَّتِكَ

wa yatawassalu ilayka birubûbiyyatik

ia bertawasul pada-Mu dengan rububiyah-Mu,

يَامَوْلاَيَ فَكَيْفَ يَبْقَى فِي الْعَذَابِ

Yâ Mawlâya fakayfa yabqâ fil ‘adzâb

Wahai Pelindungku!

Bagaimana mungkin ia kekal dalam siksa,

وَهُوَ يَرْجُو مَاسَلَفَ مِنْ حِلْمِكَ

wa huwa yarjû ma salafa min hilmik

padahal ia berharap pada kebaikan-Mu yang terdahulu.

اَمْ كَيْفَ تُؤْلِمُهُ النَّارُ وَهُوَ يَأْمُلُ فَضْلَكَ وَرَحْمَتَكَ

am kayfa tu’limuhun nâr wa huwa ya’mu’mulu fadhlaka wa rahmatak

Mana mungkin neraka menyiksanya

padahal ia mendambakan karunia dan kasih-Mu.

اَمْ كَيْفَ يُحْرِقُهُ لَهِيْبُهَا وَاَنْتَ تَسْمَعُ صَوْتَهُ

وَتَرَى مَكَانَهُ

am kayfa yuhriquhu lahîbuhâ wa Anta tasma`u shawtahu watara makanah

Mana mungkin nyalanya membakarnya,

padahal Engkau dengar suaranya

dan Engkau lihat tempatnya.

اَمْ كَيْفَ يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ زَفِيْرُهَا وَاَنْتَ تَعْلَمُ ضَعْفَهُ

am kayfa yasytamilu ‘alayhi zafîruhâ

wa Anta ta‘lamu dha‘fah

Mana mungkin jilatan apinya mengurungnya,

padahal Engkau mengetahui kelemahannya.

اَمْ كَيْفَ يَتَقَلَقَلُ بَيْنَ اَطْبَاقِهَا وَاَنْتَ تَعْلَمُ صِدْ قَهُ

am kayfa yataqalqalu bayna athbâqihâ

wa Anta ta‘lamu shidqah

Mana mungkin ia jatuh bangun di dalamnya,

padahal Engkau mengetahui ketulusannya.

اَمْ كَيْفَ تَزْجُرُهُ زَبَانِيَتُهَا وَهُوَ يُنَادِيْكَ يَارَبَّهُ

am kayfa tazjuruhu zabâniyyatuhâ

wa huwa yunâdîka yâ Rabbah

Mana mungkin Zabaniyah menghempaskannya,

padahal ia memanggil-manggil-Mu: Ya Rabbi!

اَمْ كَيْفَ يَرْجُو فَضْلَكَ فِي عِثْقِهِ مِنْهَا فَتَتْرُكُهُ فِيْهَا

am kayfa yarjû fadhlaka fî ‘itqihi minhâ

fatatrukuhu fîhâ

Mana mungkin ia mengharapkan karunia kebebasan daripadanya, lalu Engkau meninggalkannya di sana.

هَيْهَاتَ مَاذَلِكَ الظَّنُّ بِكَ

hayhâta mâ dzâlikazh zhannu bik

Tidak, tidak demikian itu sangkaku pada-Mu.

وَلاَالْمَعْرُوْفُ مِنْ فَضْلِكَ

walal ma‘rûfu min fadhlik

tidaklah demikian yang makruf tentang karunia-Mu

وَلاَمُشْبِهٌ لِمَاعَامَلْتَ بِهِ الْمُوَحِّدِيْنَ

walâ musybihun limâ ‘âmalta bihil muwahhidîn

Tidak mungkin seperti itu perlakuan-Mu

terhadap kaum beriman,

مِنْ بِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ

min birrika wa ihsânik

melainkan kebaikan dan karunialah yang Engkau berikan.

فَبِالْيَقِيْنِ اَقْطَعُ لَوْ لاَ مَاحَكَمْتَ بِهِ مِنْ تَعْذِيْبِ جَاحِدِيْك

fabil yaqîni aqtha‘u law lâ mâ hakamta bih(i)

min ta‘dzîbi jâhidîk

Dengan yakin aku berani berkata, kalaulah bukan

karena keputusan-Mu untuk menyiksa

orang yang mengingkari-Mu

وَقَضَيْتَ بِهِ مِنْ اِخْلاَدِ مُعَانِدِيْكَ

wa qadhayta bihi min ikhlâdi mu‘ânidîk

dan putusan-Mu untuk mengekalkan di sana

orang-orang yang melawan-Mu,

لَجَعَلْتَ النَّارَكُلَّهَا بَرْدًاوَسَلاَمًا

laja-altan nâra kullahâ bardaw wa salâmâ

tentu Engkau jadikan api seluruhnya sejuk dan damai,

وَمَاكَانَ  لأَحَدٍ فِيْهَا مُقَرًّا وَلاَمُقَامًا

wa mâ kâna liahadin fîhâ maqarraw walâ muqâmâ

tidak akan ada lagi di situ tempat tinggal

dan menetap bagi siapa pun

لَكِنَّكَ تَقَدَّسَتْ اَسْمَآؤُكَ

lâkinnaka taqaddasat asmâuk

Tetapi, mahakudus nama-nama-Mu.

اَقْسَمْتَ اَنْ تَمْلأَهَا مِنَ الْكَافِرِيْنَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

aqsamta an tamla-ahâ minal kâfirîn

minal jinnati wan nâsi ajma‘în

Engkau telah bersumpah

untuk memenuhi neraka dengan orang-orang kafir

dari golongan jin dan manusia seluruhnya

وَاَنْ تُخَلِّدَ فِيْهَا الْمُعَانِدِيْنَ

wa an tukhallida fîhâl mu‘ânidîn

Engkau  akan mengekalkan di sana kaum durhaka

وَاَنْتَ جَلَّ ثَنَآؤُكَ قُلْتَ مُبْتَدِئًا وَتَطَوَّلْتَ بِالإِنْعَامِ مُتَكَرِّمًا

wa Anta jalla tsanâuka qulta mubtadiâ wa tathawwalta bil-in‘âmi mutakarrimâ

Engkau dengan segala kemulian puji-Mu!

Engkau telah berkata, setelah menyebutkan nikmat yang Engkau berikan

اَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لاَيَسْتَوُوْنَ

afaman kâna mu’minan kaman kâna fâsiql lâ yastawûn

“Apakah orang mukmin seperti orang kafir,

sungguh tidak sama mereka itu.”

اِلَهِي وَسَيِّدِي فَأَسْئَلُكَ بِالْقُدْرَةِ الَّتِي قَدَّرْتَهَا

Ilâhî wa Sayyidî

fa-as-aluka bilqudratil latî qaddartahâ

Ilahi, Junjunganku!

Aku memohon pada-Mu

dengan kodrat yang telah Engkau tentukan,

وَبِالْقَضِيَّةِ الَّتِي حَتَمْتَهَا وَحَكَمْتَهَا

wa bilqadhiyyatil latî hatamtahâ wa hakamtahâ

dengan qadha yang telah Engkau tetapkan dan putuskan,

وَغَلَبْتَ مَنْ عَلَيْهِ اَجْرَيْتَهَا

wa ghalabta man ‘alayhi ajraytahâ

dan yang telah Engkau tentukan berlaku

pada orang yang dikenai;

اَنْ تَهَبَ لِي فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَفِي هَذِهِ السَّاعَةِ

an tahabalî fî hâdzil laylah wa fî hâdzihis sâ‘ah

Ampunilah bagiku, di malam ini, di saat ini,

كُلَّ جُرْمٍ اَجْرَمْتُهُ وَكُلَّ ذَنْبٍ اَذْنَبْتُهُ

kulla jurmin ajramtuh wa kulla dzanbin adznabtuh

semua nista yang pernah aku kerjakan, semua dosa yang pernah aku lakukan,

وَكُلَّ قَبِيْحٍ اَسْرَرْتُهُ وَكُلَّ جَهْلٍ عَمِلْتُهُ

wa kulla qabîhin asrartuh wa kulla jahlin ‘amiltuh

semua kejelekan yang pernah aku rahasiakan, semua kedunguan

yang pernah aku amalkan,

كَتَمْتُهُ اَوْ اَعْلَنْتُهُ اَخْفَيْتُهُ اَوْ اَظْهَرْتُهُ

katamtuhu aw a‘lantuh akhfaytuhu aw azhhartuh

yang aku sembunyikan atau tampakkan, yang aku tutupi atau tampakkan.

وَكُلَّ سَيِّئَةٍ اَمَرْتَ بِإِثْبَاتِهَا الْكِرَامَ الْكَاتِبِيْنَ

wa kulla sayyiatin amarta bi-itsbatihal kirâmal kâtibîn

Ampuni semua keburukan, yang telah Engkau perintahkan

malaikat yang mulia mencatatnya

اَلَّذِيْنَ وَكَّلْتَهُمْ بِحِفْظِ مَايَكُوْنُ مِنِّي

alladzîna wakkaltahu bihifzhi mâ yakûnu minnî

Mereka yang Engkau tugaskan untuk merekan

segala yang ada padaku;

وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِي

wa ja‘altahum syuhûdan ‘alayya ma‘a jawârihî

mereka yang Engkau jadikan saksi-saksi bersama seluruh anggota badanku;

وَكُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيَّ مِنْ وَرَآئِهِمْ

wa kunta Antar raqîba ‘alayya miw warâihim

Dan Engkau sendiri mengawal di belakang mereka,

وَالشَّاهِدَ لِمَا خَفِيَ عَنْهُمْ

wasy syâhida limâ khafiya ‘anhum

menyaksikan apa yang tersembunyi pada mereka.

وَبِرَحْمَتِكَ اَخْفَيْتَهُ وَبِفَضْلِكَ سَتَرْتَهُ

wa birahmatika akhfaytah wa bifadhlika satartah

Dengan rahmat-Mu, Engkau sembunyikan kejelekan itu;

Dengan karunia-Mu, Engkau menutupinya.

وَاَنْ تُوَفِّرَ حَظِّي مِنْ كُلِّ خَيْرٍ اَنْزَلْتَهُ

wa an tuwaffira hazhzhî min kulli khayrin anzaltah

Perbanyaklah bagianku pada setiap kebaikan yang Engkau turunkan

اَوْ اِحْسَانٍ فَضَّلْتَهُ اَوْ بِرٍّ نَشَرْتَهُ اَوْ رِزْقٍ بَسَطْتَهُ

aw ihsânin fadhdhaltah aw birrin nasyartah aw rizqin basathtah

atau setiap karunia yang Engkau limpahkan

atau setiap keberuntungan yang Engkau sebarkan

atau rizki yang Engkau curahkan

اَوْ ذَنْبٍ تَغْفِرُهُ اَوْ خَطَإٍ تَسْتُرُهُ

aw dzanbin taghfiruh aw khathain tasturuh

atau dosa yang Engkau ampunkan

atau kesalahan yang Engkau sembunyikan

يَارَبِّ يَارَبِّ يَارَبِّ

Ya Rabbi ya Rabbi ya Rabbi

Y Rabbi, ya Rabbi, ya Rabbi!

يَااِلَهِي وَسَيِّدِي وَمَوْلاَيَ وَمَالِكَ رِقِّي

Ya Ilâhî wa Sayyidî wa Mawlâya wa Mâlika riqqî

Ya Ilahi, Junjunganku, Pelindungku, Pemilik nyawaku!

يَامَنْ بِيَدِهِ نَاصِيَتِي يَاعَلِيْمًابِضُرِّي وَمَسْكَنَتِي

ya Man biyadihi nâshiyatî

ya ‘Alîman/m bidhurrî wa maskanatî

Wahai Zat yang di tangan-Nya ubun-ubunku!

Wahai yang mengetahui kesengsaraan dan kemalanganku!

يَاخَبِيْرًابِفَقْـرِي وَفَاقَتِي

ya Khabîran/m bifaqrî

Wahai yang mengetahui kefakiran dan kepapaanku!

يَارَبِّ يَارَبِّ يَارَبِّ

Yâ Rabbi yâ Rabbi yâ Rabbi

Ya Rabbi, ya Rabbi, ya Rabbi!

اَسْئَلُكَ بِحَقِّكَ وَقُدْسِكَ

as-aluka bihaqqika wa qudsik

Aku memohon pada-Mu dengan kebenaran

dan kesucian-Mu

وَاَعْظَمِ صِفَاتِكَ وَاَسْمَآئِكَ

wa a‘zhami shifâtika wa asmâik(a)

dengan keagungan sifat dan asma-Mu!

اَنْ تَجْعَلَ اَوْقَاتِيْ مِنَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِبِذِكْرِكَ مَعْمُوْرَةً

an taj‘ala awqâtî minal layli wan nahâri bidzikrika ma‘mûrah

Jadikan waktu-waktu malam dan siangku

dipenuhi dengan zikir pada-Mu

وَبِخِدْمَتِكَ مَوْصُوْلَةً وَاَعْمَالِي عِنْدَكَ مَقْبُوْلَةً

wa bikhidmatika mawshûlah

wa a‘mâlî ‘indaka maqbûlah

dihubungkan dengan kenaktian pada-Mu

diterima amalku di sisi-Mu,

حَتَّي تَكُوْنَ اَعْمَالِي وَاَوْرَادِيْ كُلَّهَا وِرْدًا وَاحِدًا

hattâ takûna a‘mâlî wa awrâdî kulluhâ

wirdan/w wâhidâ

sehingga jadilah amal dan wiridku seluruhnya

wirid yang satu,

وَحَالِي فِي خِدْمَتِكَ سَرْمَدًا

wa hâlî fî khidmatika sarmadâ

dan kekalkanlah selalu keadaanku dalam berbakti pada-Mu

يَاسَيِّدِي يَامَنْ عَلَيْهِ مُعَوَّلِي

ya Sayyidî ya Man ‘alayhi mu‘awwâlî

Wahai Junjunganku, wahai Zat yang kepada-Nya

aku percayakan diriku!

يَامَنْ اِلَيْهِ شَكَوْتُ اَحْوَالِي

ya Man ilayhi syakawtu ahwâlî

wahai Zat yang kepada-Nya

aku adukan keadaanku!

يَارَبِّ يَارَبِّ يَارَبِّ

Yâ Rabbi yâ Rabbi yâ Rabbi

Ya Rabbi, ya Rabbi, ya Rabbi!

قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِي

qawwi ‘alâ khidmatika jawârihî

Kokohkan anggota badanku untuk berbakti pada-Mu.

وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيْمَةِ جَوَانِحِي

wasydud ‘alal ‘azîmati jawânihî

Teguhkan tulang-tulangku untuk melaksanakan niatku.

وَهَبْ لِيَ الْجِدَّ فِي خَشْيَتِكَ

wa hab liyal jidda fî khasyyatik

Karuniakan padaku kesungguhan untuk bertakwa

pada-Mu,

وَالدَّوَامَ فِي اْلإِتِّصَالِ بِخِدْمَتِكَ

wad dawâma fil ittishâli bikhidmatika

kebiasaan untuk meneruskan bakti pada-Mu,

حَتَّى اَسْرَحَ اِلَيْكَ فِي مَيَادِيْنِ السَّابِقِيْنَ

hattâ asraha ilayka fî mayâdînis sâbiqîn

sehingga aku bergegas menuju-Mu bersama para penghulu

وَاُسْرِعَ اِلَيْكَ فِي الْبَارِزِيْنَ

wa usri‘a ilayka fil bârizîn

dan berlari ke arah-Mu bersama orang-orang terkemuka,

وَاَشْتَاقَ اِلَى قُرْبِكَ فِي الْمُشْتَاقِيْنَ

wa asytâqa ilâ qurbika fil musytâqîn

merindukan dekat pada-Mu bersama yang merindukan-Mu.

وَاَدْنُوَ مِنْكَ دُنُوَّ الْمُخْلِصِيْنَ

wa adnuwa minka dunuwwal mukhlishîn

Jadikan daku dekat pada-Mu – dekatnya orang-orang yang ikhlas,

وَاَخَافَكَ مَخَافَةَ الْمُوْقِنِيْنَ

wa akhâfaka makhâfatal mûqinîn

dan takut pada-Mu – takutnya orang-orang yang yakin.

وَاَجْتَمِعَ فِي جِوَارِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ

wa ajtami‘a fî jiwârika ma‘al mu’minin

Sekarang aku berkumpul di hadirat-Mu bersama kaum mukminin.

اَللَّهُمَّ وَمَنْ اَرَادَنِي بِسُوْءٍ فَأَرِدْهُ وَمَنْ كَادَنِي فَكِدُْهُ

Allâhumma wa man arâdanî bisûin fa-arid-hu

wa man kâdanî fakid-hu

Ya Allah!

Siapa saja yang bermaksud buruk padaku, tahanlah dia,

siapa saja yang memperdayaku, gagalkan dia.

وَاجْعَلْنِي مِنْ اَحْسَنِ عَبِيْدِكَ نَصِيْبًا عِنْدَكَ

waj‘alnî min ahsani ‘abîdika nashîban ‘indak(a)

Jadikan aku hamba-Mu yang paling baik nasibnya

di sisi-Mu,

وَاَقْرَبِهِمْ مَنْزِلَةً مِنْكَ

wa aqrabihim manzilatam minka

yang paling dekat kedudukannya dengan-Mu,

وَاَخَصِّهِمْ زُلْفَةً لَدَيْكَ

wa akhashshihim zulfatan/l ladayk(a)

yang paling istimewa tempatnya di dekat-Mu.

فَإِنَّهُ لاَيُنَالُ ذَلِكَ اِلاَّ بِفَضْلِكَ

fainnahu lâ yanâlu dzâlika illâ bifadhlik(a)

Sungguh, semua ini tidak akan tercapai,

kecuali dengan karunia-Mu.

وَجُدْلِي بِجُوْدِكَ  وَاعْطِفْ عَلَيَّ بِمَجْدِكَ

wa judlî bijûdik(a) wa‘thif ‘alayya bimajdik(a)

Limpahkan padaku kemurahan-Mu

Sayangi aku dengan kebaikan-Mu

وَاحْفَظْنِي بِرَحْمَتِكَ

wahfazhnî birahmatik(a)

Jaga diriku dengan rahmat-Mu

وَاجْعَلْ لِسَانِي بِذِكْرِكَ لَهِجًا وَقَلْبِي بِحُبِّكَ مُتَيَّمًا

waj‘al lisânî bidzikrika lahijâ

wa qalbî bihubbika mutayyamâ

Gerakkan lidahku untuk selalu berzikir pada-Mu

Penuhi hatiku supaya selalu mencintai-Mu

وَمُنَّ عَلَيَّ بِحُسْنِ اِجَابَتِك

wa munna ‘alayya bihusni ijâbatik(a)

Berikan padaku yang terbaik dari ijabah-Mu

وَاَقِلْنِي عَثْرَتِي وَاغْفِرْ زَلَّتِي

wa aqilnî ‘atsratî waghfir zallatî

Hapuslah bekas kejatuhanku

Ampuni ketergelinciranku

فَإِنَّكَ قَضَيْتَ عَلَى عِبَادِكَ بِعِبَادَتِكَ

fainnaka qadhayta ‘alâ ‘ibâdika bi‘ibâdatik(a)

Sungguh, telah Engkau wajibkan hamba-hamba-Mu beribadah pada-Mu,

وَاَمَرْتَهُمْ بِدُعَآئِكَ وَضَمِنْتَ لَهُمُ اْلإِجَابَةَ

wa amartahum bidu‘âik(a) wa dhaminta

lahumul ijâbah

Engkau perintahkan mereka untuk berdoa pada-Mu

Engkau jaminkan pada mereka ijabah-Mu

فَإِلَيْكَ يَارَبِّ نَصَبْتُ وَجْهِي

failayka yâ Rabbi nashabta wajhî

Karena itu, kepada-Mu, ya Rabbi,

aku hadapkan wajahku

وَاِلَيْكَ يَارَبِّ مَدَدْتُ يَدِيْ

wa ilayka yâ Rabbi madadtu yadî

kepada-Mu, ya Rabbi, aku ulurkan tanganku

فَبِعِزَّتِكَ اسْتَجِبْ لِي دُعَآئِي وَبَلِّغْنِي مُنَايَ

fabi‘izzatikastajiblî du‘âî wa ballighnî munây(a)

Demi kebesaran-Mu, perkenankan doaku,

sampaikan daku pada cita-citaku

وَلاَتَقْطَعْ مِنْ فَضْلِكَ رَجَآئِيْ

walâ taqtha‘min fadhlika rajâî

Jangan putuskan harapanku akan karunia-Mu

وَاكْفِنِي شَرَّ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ مِنْ اَعْدَآئِيْ

wakfinî syarral jinni wal insi min a‘dâî

Lindungi aku dari kejahatan jin dan manusia musuh-musuhku.

يَاسَرِيْعَ الرِّضَا

Yâ Sarî‘ar ridhâ

Wahai Yang Mahacepat ridha-Nya!

اِغْفِرْ لِمَنْ لاَيَمْلِكُ اِلاَّ الدُّعَآءُ.

ighfir liman lâ yamliku illad du‘â

Ampunilah orang yang tidak memiliki apa pun kecuali doa,

فَإِنَّكَ فَعَّالٌ لِمَاتَشَآءُ

fainnaka fa“âlun/l limâ tasyâ’

karena Engkau perbuat apa kehendak-Mu

يَامَنِ اسْمُهُ دَوَآءٌ وَذِكْرُهُ شِفَآءٌ وَطَاعَتُهُ غِنَى

yâ Manismuhu dawâ’ wa dzikruhu syifâ’ wa thâ‘atuhu ghinâ

Wahai Yang nama-Nya adalah obat

Yang zikir-Nya adalah penyembuhan

Yang ketaatan-Nya adalah kekayaan!

اِرْحَمْ مَنْ رَأْسُ مَالِهِ الرَّجَآءُ وَسِلاَحُهُ الْبُكَاءُ

irham man ra’su mâlihir rajâ’ wa silâhuhul bukâ’

Kasihanilah orang yang hartanya hanya harapan

dan senjatanya hanya tangisan

يَاسَابِغَ النِّعَمِ يَادَافِعَ النِّقَمِ

yâ Sâbighan ni‘am(i) yâ Dâfi‘an niqâm(i)

Wahai Penabur karunia!

Wahai Penolak bencana!

يَانُوْرَ الْمُشْتَوْحِشِيْنَ فِي الظُّلَمِ  يَاعَالِمًا لاَيُعَلَّمُ

yâ Nûral musytawhisyîna fizh zhulam(i)

Yâ ‘Aliman la yu‘allam(u)

Wahai Nur yang menerangi mereka yang terhempas

dalam kegelapan!

Wahai Yang Mahatahu tanpa diberitahu!

صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَافْعَلْ بِي مَااَنْتَ اَهْلُهُ

shalli ‘alâ Muhammadin wa âli Muhammad

waf‘al bî mâ Anta ahluh(u)

Sampaikan shalawat kepada Muhammad

dan keluarga Muhammad

Lakukan padaku apa yang layak bagi-Mu

وَصَلَّى اللهُ عَلَى رَسُوْلِهِ وَاْلأَئِمَّةِ الْمَيَامِيْنَ مِنْ آلِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًاكَثِيْرًا.

wa shallallâhu ‘alâ rasûlihi  wal aimmatil mayâmîna min âlihi

wa sallama taslîman katsîrâ

Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan

kepada Rasul-Nya serta para Imam yang mulia dari keluarganya; sampaikan salam kepada mereka.

Sumber:

Buku “Kisah-kisah Ksatria Surga”

Buku “Senarai Doa Sepanjang Masa”

Nurmadinah.com

zahraSenarai Doa

Related posts:

kisah-nabi-harun-dan-musaKISAH – Pembela Mereka yang Teraniaya IMG_20160205_131832Kisah Iblis Menjerumuskan Kaum Nabi Luth a.s. c92f8c78-77a2-4687-a559-5bc6bc95ff0aKisah Iblis dan Ketabahan Nabi Ayyub a.s. elegi-cinta-salman-al-farisi 1KISAH – SALMAN AL FARISI

Arahan Dewan Syura ABI Berkaitan dengan Penyelenggaraan Majelis Duka & Asyura Imam Husein AS 1439 H

1. Hari-hari Muharram adalah momentum untuk menyadarkan hadirin tentang keagungan peringatan dan urgensi penyelenggaraannya demi mendapatkan rahmat Allah SWT, syafaat Rasulullah SAW dan Ahlul Bait AS.

2. Peringatan ini juga merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan spiritualitas, khususnya adanya unsur menangis yang bahkan memiliki kekuatan gaya tarik melebihi majelis Laylatul Qadr.

3. Antusiasme besar dan spirit kecintaan kepada Imam Husein AS ini akan tetap bergelora dalam hati setiap Mukmin. Karenanya saat airmata mengalir, kita wajib menyadari bahwa Imam Husein AS adalah manifestasi kasih sayang Allah yang sangat luas.

4. Imam Husein AS adalah magnet setiap orang untuk menghadiri majelis-majelis dalam berbagai situasi dan kondisi. Karenanya, kita dapat menjadikannya sebagai ajang menyampaikan pesan-pesan Islam.

5. Manfaat lain yang tak kalah penting adalah kesempatan untuk menumbuhkan tekad dan cita-cita dengan menanamkan jiwa keberanian, kesatriaan, kepribadian, perlawanan, zuhud dan kebergantungan mutlak kepada Allah SWT.

6. Majelis-majelis Muharram dan Asyura penting untuk diselenggarakan sedapat mungkin tidak kurang dari 10 hari di setiap kota dan desa.

7. Sebagai syiar, peringatan diselenggarakan di ruang publik, khususnya masjid dan husainiyah sehingga masyarakat terikat secara spiritual dengan tempat-tempat tersebut.

8. Perlu memperhatikan aspek-aspek lahiriah, seperti simbol-simbol dan suasana duka dalam berbusana, kerapian acara, kebersihan tempat, aroma semerbak serta menjaga keamanan, ketertiban hadirin dan masyarakat umum termasuk di dalamnya disiplin waktu serta mematuhi aturan yang berlaku.

9. Hendaklah isi ceramah menitikberatkan pada isu-isu keagamaan dan menjauhkan diri dari isu politik praktis;

10. Memprioritaskan tema-tema penting dengan penyajian yang mudah dipahami masyarakat umum, bukan yang hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu.

11. Mengingat keberadaan generasi muda yang belum mengetahui hal-hal yang terjadi pada kebangkitan Imam Husein AS secara terperinci, maka selayaknya pembahasan aspek sejarah perjalanan Imam Husein AS menjadi titik fokus utama.

12. Aspek yang harus dipilih dari sejarah Imam Husein AS adalah yang memberikan efek edukatif dalam kehidupan, seperti latar belakang pengkhianatan terhadap Muslim bin Aqil.

13. Hendaklah menukil kejadian sejarah secara tidak berlebihan (proporsional) serta tidak menyampaikan hal-hal yang masih kontroversial.

14. Hendaklah tidak menyampaikan pembahasan akidah yang sulit dipahami, karena tingkat pemahaman hadirin berbeda-beda. Hendaknya juga tidak menyampaikan kritik dan bantahan yang tajam yang tidak sepadan dengan jawaban dan solusinya.

15. Hendaklah tidak menyampaikan kisah-kisah yang sulit dicerna, meski boleh jadi benar, “Berbicaralah dengan banyak orang sesuai dengan kemampuan akal mereka”.

16. Hendaklah menghindari penisbatan ungkapan yang tidak disampaikan oleh Imam Husein AS atau para maksum lainnya.

17. Hendaklah tidak menyampaikan sesuatu yang kontradiktif.

18. Menangisi duka Imam Husein dan membuat hadirin menangis adalah sesuatu yang mulia dengan tetap mengedepankan pemahaman dan pengahayatan terhadap pesan, spirit perjuangan dan kebangkitan Imam Husein AS.

19. Kesalahan kebanyakan orang adalah menitikberatkan pada satu dimensi dengan mengabaikan dimensi lainnya. Seperti mengeksplorasi secara berlebihan sifat keberanian Imam Husein AS yang karena sifat itulah beliau bangkit, sehingga akan disalahpahami, bahwa para Imam lainnya tidak bangkit karena tidak memiliki sifat berani seperti Imam Husein AS. Tetapi pemahaman yang benar adalah kewajiban melaksanakan taklif, “Kerelaan Allah ada pada kerelaan kami Ahlul Bait”.

20. Sangat penting untuk membandingan situasi kita saat ini dengan situasi masa lampau, misalnya;  akibat-akibat tidak mendukung Imam Husein AS dan tidak berjuang bersamanya. Perhatikanlah bagaimana bencana yang menimpa kota Madinah karena penduduknya tidak mendukung Imam Husein AS salah satunya; penyerangan dan penodaan kota Nabi (Waq’atul Harrah oleh Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi, gubernur bengis Khalifah Umawi Abdul Malik bin Marwan).  Pertanyaan dan renungannya di saat kita meninggalkan jihad hari ini, maka apa yang akan kita terima esok?

Dikutip dari rubrik Suara DS, Buletin Al-Wilayah, edisi 16, September 2017, Dzulhijjah 1438 H

Related posts:

benderra_abi 1Prediksi Hilal Muharram 1439 H Screen Shot 2017-09-21 at 12.18.33 AMKetum ABI: Selamat Menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1439 H dengan Gembira dan Duka ahlulbait-indonesia-benderaABI: 1 Rajab 1438 H Jatuh pada Hari Kamis benderra_abi 1Arahan dan Kebijakan DPP ABI Tentang Persatuan Umat Islam untuk Kedaulatan NKRI

Pesan Imam Ali as tentang Budi Pekerti

Imam Ali as berkata: “Al-Itsar (Mengutamakan orang lain atas diri sendiri) adalah budi pekerti (al-makarim) yang peling tinggi”

19

Related posts:

benderra_abi 1Pesan Imam Ali as untuk Berbuat Baik benderra_abi 1Pesan Imam Ali as tentang Berbicara benderra_abi 1Pesan Imam Ali tentang Mencintai Negara 21Pesan Imam Ali tentang Mencintai Saudara dalam Tingkat Ketakwaan