Monthly Archives: August 2017

Pernyataan Sikap Ormas Ahlulbait Indonesia tentang Rohingnya

444444

2222

 

Related posts:

benderra_abi 1Pernyataan Sikap Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) tentang Kebrutalan Rezim Zionis di Masjid Al-Aqsa ahlulbait-indonesia-benderaPernyataan Sikap Ormas Ahlulbait Indonesia tentang Bom di Kampung Melayu iedDPP Ahlulbait Indonesia Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H IMG20170816104544Pelatihan Upgrading Muslimah Ahlulbait Indonesia

Pentingnya Organisasi dalam Menghadapi Tantangan Global

Pentingnya Organisasi dalam Menghadapi Tantangan Global

Majelis Taklim Ar Radiyah bekerja sama dengan Muslimah Ahlulbait Indonesia (MAI) mengadakan peringatan Yaumul Mahabbah (Pernikahan Suci Imam Ali Fatimah Az Zahra S.a.), sekaligus dalam rangka persiapan membentuk Pimpinan Wilayah MAI DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Kegiatan bertema “Pentingnya Peran Muslimah Ahlul Bait yang Terorganisir dalam Menghadapi Tantangan Zaman,” berlangsung di Majelis Taklim Ar Radiyah, Bintaro, Jakarta, 29 Agustus 2017.

Hadir sebagai pembicara pada acara itu, Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy dan Sekjen DPP Ahlulbait Indonesia (ABI), Ust. Ahmad Hidayat. Sementara itu para peserta yang hadir terdiri dari pengurus dan anggota Pimnas MAI serta perwakilan dari berbagai yayasan dan majelis taklim di wilayah DKI Jakarta dan Provinsi Banten.

Pada kesempatan itu, Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy menyampaikan tentang tantangan global dan solusi menghadapinya.

Menurutnya, tantangan global yang saat ini dihadapi antara lain:

Pertama, berbagai peristiwa terjadi di dunia Islam juga berpengaruh di level nasional, regional, dan lokal. Anak-anak dan pemuda kita akan menghadapi problema pemikiran atau yang sifatnya kognitif.

Kedua, masalah ekstrimisme dan takfirisme. Ini sebuah kecenderungan di masyaraat global. Ekstrimisme dan takfirisme ini tidak akan berakhir. Dan kita sebagai pengikut Ahlul Bait menjadi ‘sasaran tembak’ ekstrimisme dan takfirisme.

Ketiga, sikap yang lemah dalam menghadapi berbagai tantangan. Alat-alat propaganda asing yang mereka launching dalam berbagai bentuk khususnya dalam bentuk film, memberikan ancaman bagi anak-anak kita. Mereka membuat film dalam ragam bentuk termasuk kartun dan menyasar anak-anak kita. Kalau kita tidak membuat pertahanan yang kuat, anak-anak kita akan terbius oleh ajakan atau pesan-pesan yang disampaikan oleh film-film itu.

Keempat, perlawanan atau konfrontasi yang sengit dalam menghadapi kita. Kita lihat berita, betapa banyak masjid-masjid kita seperti di Afganistan, Pakistan, Kuwait, dan di Arab Saudi mereka porak-porandakan dan hancurkan. Tentu saja itu membuat kita tidak nyaman dan tidak tenang.

Kelima, para musuh Ahlul Bait itu menginvestasikan jutaan dolar untuk memberangus dan menghentikan gerakan Ahlul Bait.

Keenam, menciptakan aliran-aliran yang menyimpang di internal komunitas Syiah itu sendiri. Kita melihat adanya fenomena yang sedang menggejala bahkan menjadi legalitas di tengah kita adanya kelompok-kelompok menyimpang di tengah masyarakat Syiah itu sendiri.

Ketujuh, kelemahan finansial dan ekonomi kita.

Kedelapan, lemahnya media kita.

Kesembilan, Tidak adanya program yang terarah, terukur dan sistematis yang disusun oleh lembaga-lembaga kita.

Kesepuluh, kurangnya SDM handal, profesional, dan berprestasi.

Kesebelas, kelemahan di dalam mengatur strategi.

Kedua belas, kurang kuat dalam menghadapi propaganda negatif atau tekanan yang dihadapkan kepada kita. Adanya lembaga-lembaga resmi yang ada, kita tidak hadir di situ dan tidak turut serta berpartisipasi dalam program-programnya.

Ketiga belas, kehadiran kita justru menjadi ancaman dan tantangan bagi lembaga-lembaga resmi, ormas-ormas ataupun yayasan-yayasan.

Keempat belas, adanya kelemahan-kelemahan dalam menyusun program-program yang bisa membentuk karakter ataupun SDM yang handal.

Apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai tantangan ini?

Dr. Abdul Majid menyampaikan 3 pilihan pekerjaan yang dapat dilakukan:

1. Duduk diam dan berpangku tangan; tidak menyusun program; tidak menyusun agenda; tidak menyusun strategi atau langkah-langkah yang harus ditempuh. Tentu ini bukan langkah (tindakan) seorang yang berakal. Tentu saja kita harus menyusun program, agenda, strategi untuk menyongsong dan menghadapi tantangan tersebut dan mencarikan solusi atasnya.

2. Gerakan sporadis. Artinya, ada yayasan, ada majelis taklim, masing-masing punya peran, punya saham masing-masing dalam menyebarkan dan menyiarkan ajaran Ahlul Bait. Ini sifatnya sporadis dan tidak integral satu sama lain. Tentu saja anda tahu sendiri untuk menghadapi tantangan global hari ini, tentu tidak akan membuahkan hasil maksimal karena gerakan individual atau satu dua majelis taklim yang bergerak tidak akan menjawab tantangan global secara maksimal. Tentu saja akal strategis kita itu tidak akan setuju dengan gerakan-gerakan sporadis dan individual tersebut.

3. Yang harus kita lakukan untuk menghadapi dan keluar sebagai pemenang atas tantangan global ini tentu saja harus terorganisir, terencana, sistematis, dan memanfaatkan secara maksimal atas potensi yang ada. Makanya perlu kita duduk seperti ini untuk mengorganisir dan memanfaatkan peluang yang kita miliki secara maksimal dan bersama-sama.

“Harus ada satu organisasi, satu institusi atau lembaga yang mengorganisir dan memanfaatkan pemberdayaan segala potensi yang ada, yang kita miliki untuk kita gunakan sebagai modal dan kekayaan kita. Dan lembaga ini mengusung rencana program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dan di dalam penyusunan rencana itu, harus fokus pada setiap persoalan,” papar Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy.

Related posts:

img_7994Organisasi ‘Ahlul Bait Indonesia’ Dideklarasikan Siaran Pers DPP Ahlulbait IndonesiaSiaran Pers DPP Ahlulbait Indonesia Menyambut Asyura 1436H Pilot Project Pengajian Jarak JauhABI Sulteng, Pilot Project Pengajian Jarak Jauh f1f3da1a-a70b-4640-a187-6bd1b8d456afPenyusunan Kurikulum Diniyah Muslimah Ahlulbait Indonesia

Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Baqir

Imam Muhammad Al-Baqir a.s.

Nama                    : Muhammad

Gelar                     : Al-Baqir

Panggilan             : Abu Ja’far

Ayah                      : Ali Zainal Abidin

Ibu                         : Fatimah

Kelahiran             : Madinah, 1 Rajab 57 H

Kesyahidan         : 7 Dzulhijjah 114 H

Makam                 : Pemakaman Baqi’, Madinah

Jumlah Anak      : 8 orang (6 laki-laki dan 2 perempuan)

Imam Muhammad Al-Baqir a.s dilahirkan di Madinah pada tanggal 1 Rajab atau 3 Shafar  57 H. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan ibunya  adalah Fatimah binti Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. yang lebih dikenal dengan julukan Ummu Abdillah. Dengan demikian, nasabnya bersambung ke Bani Hasyim, baik dari sisi ayah maupun ibu.

Imam Baqir a.s. syahid pada hari Senin, 7 Dzulhijjah 114 H. dalam usia 57 tahun. Ia diracun oleh Hisyam bin Abdullah Malik, salah seorang khalifah Bani Umaiyah, dan dikuburkan di pemakaman Baqi’.

Imam Baqir a.s. dikenal karena keluasan ilmu dan takwanya. Ia selalu menjadi rujukan Muslimin dalam setiap problema. Keberadaaan Imam Baqir a.s. adalah sebuah pengantar bagi perbaikan umat. Masyarakat mengenalnya sebagai putra orang-orang luhur yang rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi mencegah penyelewengan umat yang hampir saja memusnahkan Islam. Dengan pengorbanan mereke, Muslimin dapat mengetahui adanya penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan penguasa atas nama Islam.

Imam Baqir a.s. mengambil keputusan untuk mengekspos penyelewengan para penguasa dari garis Islam tersebut kepada khalayak ramai, dan memahamkan kepada mereka bahwa peristiwa itu bukan sekedar mimpi belaka.

Hisyam bin Abdul Malik, seorang khalifah dinasti Bani Umaiyah ketika melihat Imam Baqir a.s. dan bertanya siapakah dia, masyarakat di sekelilingnya menjawab bahwa ia adalah seorang yang dikagumi oleh penduduk Kufah, orang ini adalah pemimpin Irak.

Ketika musim haji tiba, ribuan Muslim yang berasal dari Irak, Khurasan dan kota-kota lain bertanya kepada Imam tentang hal mengenai Islam. Hal ini menunjukkan betapa ia sangat berpengaruh di dalam hati umat manusia.

Fuqaha’ dari berbagai aliran disiplin ilmu sering mengadakan dialog dengan Imam Baqir a.s. berkenaan dengan permasalahan-permasalahan ilmiah yang sangat pelik dengan tujuan untuk mempermalukannya di hadapan khalayak. Akan tetapi, dengan jawaban-jawaban yang mematikan dan memuaskan ia memaksa mereka untuk bertekuk lutut di hadapannya.

“Universitas” Imam Baqir a.s. adalah sebuah tempat penting bagi para ilmuwan dan muhaddis yang pernah belajar darinya. Jabir Al-Ja’fi berkata: “Abu Ja’far a.s. meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis kepadaku”.  Muhammad bin Muslim berkata: “Dalam setiap permasalahan yang kuanggap sulit, aku pasti menanyakannya kepada Abu Ja’far a.s. sehingga aku mendapatkan tiga pilih ribu hadis darinya”.

Imam Baqir a.s. pernah berkata tentang pengikut Syi’ah: “Para pengikut kami, Syiah Ali akan membela kami sepenuh hati dan demi menjaga agar  agama tetap hidup mereka selalu bersatu dalam membela kami. Jika mereka marah, kemarahan tidak akan menjadikan mereka berbuat zalim, dan jika mereka sedang bahagia, mereka tidak akan melampaui batas. Mereka adalah sumber berkah bagi tetangganya dan dalam menghadapi para penentang, mereka selalu memilih jalan damai. Syi’ah kami taat kepada Allah”.

Keutamaan dan Ilmu Imam Baqir a.s.

Imam Baqir a.s. pada masa Imamahnya telah berhasil menyebarkan pengetahuan, khususnya dalam bidang hukum dan fiqih. Di samping ikut aktif dalam menangani problema ilmiah yang berkembang waktu itu, ia juga aktif mendidik para murid handal seperti Muhammad bin Muslim, Zurarah bin A’yan, Abu Nashir, Hisyam bin Salim, Jabir bin Yazid, Hamran bin A’yan dan Buraid bin Mu’awiyah Al-‘Ajali.

Imam Baqir a.s. adalah kebanggaan Bani Hasyim pada zamannya dalam zuhud, takwa dan akhlak. Keilmuannya dikenal di seluruh penjuru negeri sehingga ia dijuluki dengan uluum (penyingkap rahasi ilmu pengetahuan).

Seorang ulama besar Ahlussunnah yang bernama Ibnu Hajar Al-Haitsami menulis: “Muhammad Al-Baqir telah menyingkap rahasia ilmu pengetahuan dan menjelaskan hakikat hukum dan hikmah ilmu pengetahuan sehingga hal itu tidak tersembunyi kecuali bagi orang-orang yang bodoh atau berhati kotor. Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan penyingkap rahasia ilmu, pemilik rahasia dan pengibar bendera ilmu pengetahuan.”

e9c21474-ee64-4348-8859-01afd5461bf5

Related posts:

jadi 1Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Jawad imam_reza_birthday 1Biografi Singkat Imam Ali Ar-Ridha Yasta RajasaLika-Liku Jalan Sufi Yasta (Bagian Ketiga) diskusi-1024x576 (1)Launching Buku Biografi Imam Khomeini di UIN Jakarta

Tanya Jawab Seputar Hari Raya Kurban

Berikut ini kami sajikan tanya jawab (konsultasi) fikih bersama Ustaz Abdullah Beik, M. A. seputar hukum-hukum yang berkaitan dengan Hari Raya Kurban (Idul Adha).

1. Memotong kuku dan rambut bagi yang akan Berkurban

Pertanyaan: Apakah benar bagi orang yang akan berkurban sejak tanggal 1 Dzulhijjah tidak boleh memotong kuku, rambut, jenggot dan kumis?

Jawaban: Boleh. Memang, dalam riwayat ada yang menyebutkan hal itu bagi orang yang berhaji. Maksimalnya anjuran, tidak wajib.

2. Berkurban secara kolektif

Pertanyaan: Apakah boleh berkurban sapi secara bersama-masa misalnya 7 orang untuk 1 ekor sapi?

Jawaban: Bagi orang yang sedang melaksanakan haji tamattu’ di Mina, maka ia wajib mengurbankan satu ekor hewan kurban untuk satu orang. Tapi untuk kurban mustahab yang kita lakukan di sini, boleh saja, bahkan walaupun dihasilkan dari patungan beberapa orang.

3. Cara membagikan daging kurban

Pertanyaan: Bagaimana cara membagikan daging kurban?

Jawaban: Dianjurkan bahwa daging kurban dibagikan kepada tiga golongan, yaitu:  Fakir miskin, Sahabat atau tetangga walaupun tidak miskin, dan dikonsumsi sendiri bersama keluarga dengan niat mengambil berkahnya.

4. Daging kurban bagi Sayyid dan Syarifah

Pertanyaan: Bolehkan Sayyid/sayyidah memakan hewan kurban dari masjid yang pengkurbannya dari masyarakat umum?

Jawaban: Boleh.

Sumber: ICC Jakarta

Related posts:

khmaneiHaram Menghujat Istri Nabi dan Simbol-Simbol Ahlusunah Hukum Obat Berbahan NajisHukum Obat Berbahan Najis salat seorang musafirPerihal Salat Seorang Musafir Bersuci dengan Mandi WajibTerkait Bersuci

Dua Belas Strategi dalam Menjalankan Organisasi

Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun riwayat, banyak disinggung mengenai kewajiban seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Hal itu menunjukkan adanya pola khusus yang harus disiapkan oleh manusia dalam kehidupan materialnya maupun kehidupan sipiritualnya. Oleh sebab itu dalam penerapannya, manusia harus mempunyai program: jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang.

Begitu juga dalam organisasi. Dalam menjalankan aktifitasnya, organisasi  tidak akan sukses jika tidak ada program yang mengaturnya. Karenanya, berbagai strategi disiapkan agar organisasi berjalan lancar.

Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy mengatakan setidaknya ada 12 unsur penting dalam sebuah manajemen kepemimpinan atau strategi dalam menerapkan organisasi. Beliau menyampaikannya secara singkat saat memberikan sambutan di acara pelatihan upgrading Muslimah Ahlulbait Indonesia (MAI) yang diselenggarakan pada tanggal 16 Agustus 2017. Berikut uraiannya:

Pertama: Hikmat

Maksud dari sebuah hikmat adalah setiap manusia memiliki pandangan atau akal yang luas. Tidak boleh memandang segala sesuatu secara dangkal maupun pendek.

Kedua: Pandangan Jauh ke Depan

Sebelum kita menjalankan segala sesuatunya kita memikirkan kebaikan atau keburukan dari perbuatan tersebut. Sampai mana atau hasil apa yang ingin dicapai ketika kita melakukan hal tersebut.

Jika tidak bisa menerapkan apa yang dipikirkan, maka tidak akan mengetahui masa depan, dan terpaksa mengerjakan pekerjaan yang monoton setiap harinya. Kita harus bisa memprediksikan 10 tahun ke depan dalam bidang kebudayaan apa-apa saja yang akan terjadi di negara ini dan itu harus dipikirkan.

Ketiga: Harapan atau Cita-Cita yang Tinggi

Objek yang harus dipikirkan bukan hanya Muslimin yang ada di Indonesia saja; bahkan tidak hanya masyarakat di Indonesia saja. Seharusnya, mencakup semua masyarakat di dunia.

Nilai seorang manusia adalah tergantung pada cita-cita yang ada di pikirannya. Semakin tinggi cita-cita yang ada di dalam diri manusia, maka nilai dari manusia itu adalah mengikuti apa yang dicita-citakannya.

Dengan perkembangan media sosial yanga ada di dunia ini, maka kita bisa bilang bahwa kehidupan 7 milyar manusia ada di dalam rumah. Cita-cita harus tinggi. Jangan menganggap diri kita kecil dan tidak boleh objek kita mencakup hal yang kecil.

Keempat: Keberanian

Dalam melakukan sesuatu, jika tidak memiliki keberanian terhadap pekerjaaan yang besar maka tidak akan terlihat kesuksesan dalam dirinya.

Kelima: Memberantas Kebiasan-Kebiasaan Buruk di Masyarakat

Seperti yang kita ketahui bersama manusia hidup dengan kebiasaan masing-masing. Terkadang untuk maju kedepan, kita perlu mematahkan tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak bagus di masyarakat.

Keenam: Percaya pada Diri Sendiri

Jika seseorang tidak percaya atau meyakini kemampuan diri sendiri maka dia tidak akan bisa melakukan segala sesuatu. Seseorang harus punya keimanan pada dirinya.

Ketujuh: Menjalin Hubungan dengan Pihak Luar

Sebuah organisasi akan sukses akan berhasil jika berhubungan dengan orang lain. Komunikasinya diperbanyak dengan pihak luar.

Kedelapan: Kemampuan Memobilisasi Semua Unsur yang Ada di Organisasi

Fasilitas kita terbatas. Maka akan lebih bagus jika memanfaatkan potensi dan kemampuan dari luar.

Salah satu negara yang kuat dan bagus adalah negara Swiss. Perlu diketahui bahwa kemampuan dan kekuatan negara Swiss itu adalah karena harta atau finansial dari negara-negara lain. Dia memanfaatkan investasi dari negara-negara lain. Kita bisa meniru hal itu.

Kesembilan: Menciptakan Hal Baru

Yaitu setiap hari kita harus mengajukan, mengusulkan dan memberi pendapat hal yang baru.

Kesepuluh :Mempunyai Kemampuan dalam Mengevaluasi Kegiatan-Kegiatan di Masa Lalu

Saya yakin salah satu agenda yang dilaksanakan hari ini (pelatihan upgrading MAI) adalah supaya bisa mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang lampau.

Kesebelas: Kesabaran

Perbedaan antara manajemen sebuah pabrik dan manajemen manusia ada di poin ini. Manajemen industri sangat mudah sekali, karena objeknya sebuah besi, apapun yang diinginkan misalnya dalam membuat sebuah bangunan, bisa dilakukan.

Sedangkan dalam manajemen manusia objeknya bukan saja manusia itu sendiri akan tetapi juga ruh manusia yang ada di dalamnya.

Sangat susah bekerja atau mempengaruhi ruh seseorang. Allah sendiri mengatakan bahwa tentang masalah ruh, hanya Allah yang mengetahuinya.

Seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, bertahun-tahun Nabi Nuh berdakwah, menyeru kepada kaumnya, akan tetapi tidak ada pengaruhnya dan kebanyakan dari mereka berpaling.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam.” (QS. Nuh ayat 5-9).

Oleh sebab itu, kesabaran sangat diperlukan. Jangan berharap dapat melihat hasil karya dalam satu atau dua tahun ke depan. Hasil dari kerja kita mungkin baru bisa terlihat 50 atau 60 tahun ke depan.

Kedua Belas: Tawakkal

Faktor terpenting terakhir menurut saya dari kesuksesan sebuah organisasi yaitu tawakal kepada Allah. Kita bermohon kepada Allah swt semoga kerja kita dan apa yang kita lakukan dapat berkah dan inayah dari Allh swt.

Artikel sebelumnya: Pelatihan Upgrading Muslimah Ahlulbait Indonesia

Related posts:

Garuda PancasilaNegara dan Agama dalam Bingkai Pancasila ABI Press_Perubahan Iklim di IndonesiaBijak dan Cerdas Hadapi Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia (2) stop the hateIndonesia Darurat Benci jadi 1Biografi Singkat Imam Muhammad Al-Jawad

Yaumul Mahabbah di Sulawesi Selatan

Sulawesi – Yayasan Marajal Bahrain memperingati Yaumul Mahabbah atau Hari Kasih Sayang, yang merupakan hari pernikahan dua insan mulia yaitu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatunnisa’il alamin Fatimah Az-Zahra a.s. Kegiatan diselenggarakan pada Rabu malam, 23 Agustus 2017 di aula Yayasan Marajal Bahrain, Pakatto, Sulawesi Selatan.

2

“Tujuannya untuk memahami arti pernikahan yang sebenarnya, dan menjadikan pernikahan Imam Ali dan Sayyidah Fatimah Az -Zahra as.  sebagai tauladan dalam hidup berumah tangga dan menjadikan anak-anak sebagai generasi yang berakhlak mulia sebagai pecinta Ahlul Bait Nabi,” jelas Mahdi sebagai koordinator acara.

 

3

Related posts:

di Madrasah Muthahhari, Kiara Condong, BandungKue Pernikahan Ali dan Fatimah di Yaumul Mahabbah Festifal Qasidah IV PontianakFestival Qasidah IV Pontianak Marakkan Wiladah Sayyidah Fathimah IMG-20170319-WA0009Pelantikan Pimwil Muslimah ABI Provinsi Sulawesi Selatan Spanduk anti takfiri BatamDemo Anti Wahabi/Salafi di Batam

Pesan Cinta untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia

Dzulhijjah, bulan penuh perkah. Di awal bulannya terdapat Yaumul Mahabbah atau Hari Kasih Sayang. Hari di saat terjadinya pernikahan suci Amirul Mukmikin Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidatunnisa il alamin, Fatimah Az Zahra a.s.

Pada momen indah ini, DPW Ahlulbait Indonesia (ABI) DKI Jakarta, menyelenggarakan Halal Bi Halal sekaligus memperingati Yaumul Mahabbah di Islamic Cultural Center Jakarta (ICC), Kamis malam, 24 Agustus 2017. Acara dibuka pukul 8 malam dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai wujud cinta pada negeri.

Dalam sambutannya, Ketua DPW ABI DKI Jakarta, Ust. Hasyim Adnan, M.A., berpesan, dengan mengambil keberkahan hari cinta kasih ini diharapkan terjalin ukhuwah yang lebih baik di antara sesama.

8

Pada acara bertema “Merawat Ukhuwah dalam Bingkai Cinta NKRI melalui Keteladanan Ahlulbait a.s.” Ust. Hasyim Adnan juga menyampaikan, adanya perbedaan pandangan politik adalah pertanda berdemokrasi yang sehat dan baik. Boleh jadi juga adanya perbedaan pendapat secara ilmiah, pertanda telah mengalami kedewasaan berfikir.

“Karena itu janganlah perbedaan-perbedaan ini bertujuan untuk saling melemahkan. Sebaliknya, sebagai khazanah intelektual kita; dengan keberkahan hari Yaumul Mahabbah ini, kita jadikan sebagai jalinan cinta kasih, persaudaraan, seagama, sebangsa, dan se-Tanah Air, untuk menjaga keutuhan negeri yang kita cintai ini,” papar Ust. Hasyim.

“Tanda cinta kita kepada Tanah Air kita buktikan dengan menjaga keutuhan dan kesatuan NKRI,” pungkasnya.

Sementara itu, mewakili DPP ABI, Ust. Ahmad Hidayat menyampaikan bahwa momen pertemuan ini adalah dalam rangka menumbuhkan cinta. “Kita yakin betul bahwa agama yang dibawa nabi kita Muhammad saw adalah agama yang mengajarkan cinta kasih. Agama yang mengajarkan kepada kita untuk saling memberi peluang. Saling memberi penghargaan. Saling memberi harapan. Dan saling mendorong menjadi manusia-manusia terbaik di sisi Allah swt,” ucapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa peristiwa Yaumul Mahabbah yang terjadi bertepatan dengan 1 Dzulhijjah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dan Sayyidah Fatimah Az Zahra a.s., dipertemukan Allah swt dalam mahligai bahtera cinta yang paling indah. Hal itu mencerminkan bahwa agama ini memang harus berlanjut melalui keturunan suci nabi Muhammad saw dan hanya bisa eksis apabila orang-orang yang mengaku pecinta dan pengikutnya juga mengamalkan ajaran cinta yang tumbuh bersemai dari rumah cinta Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra a.s.

6

Pada momen yang baik ini, Ust. Ahmad Hidayat memberikan dua catatan penting:

“Pertama, hari-hari ini apalagi menjelang pemilu 2019, sangat dekat dengan suasana fitnah di negeri kita. Sebagai masyarakat pecinta Ahlul Bait, kita saksikan dalam banyak riwayat Nabi Muhammad saw dan para Imam Maksumin a.s. bahwa tidak ada satupun keluar dari mulut-mulut suci mereka kata-kata mencela. Tidak ada ajaran untuk mencela antara satu sama lain betapapun terjadi perbedaan antara sesama manusia.

Karena itu pilihan yang dipilih oleh Ahlulbait Indonesia sepanjang berdirinya dari 2010, atau 7 tahun sekarang ini, tidak pernah menyatakan berpihak kepada satu partai, kepada satu kelompok manapun, kecuali hanya berpihak kepada kebenaran. Itulah pilihan politik yang dipilih Ahlulbait Indonesia, sebagai ormas yang terdaftar di negara ini. Semua itu tidak lain karena ingin membangun keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dengan pilihan-pilihan politik yang berbeda.

Ahlulbait Indonesia memandang tidak ingin ikut dalam arus yang mungkinkan menciptakan fitnah di antara sesama anak bangsa, apalagi kalau itu terjadi di antara sesama pecinta Ahlul Bait. Musibah besar kalau itu terjadi di antara sesama pengikut Ahlul Bait!

Karena itu pilihan halal bi halal malam ini kita harapkan menjadi momentum agar kita menjadi dewasa dan pandai dalam menempatkan situasi. Di saat yang sama, juga bisa memberikan kontribusi untuk terpilihnya pemimpin-pemimpin bangsa yang terbaik, yang bisa mengantar negeri ini pada kehidupan yang lebih, mulia, dan bermartabat.

Kedua, pilihan halal bi halal yang bertepatan dengan Yaumul Mahabbah dipilih oleh DPW ABI DKI Jakarta juga dalam rangka melakukan konsolidasi. Konsolidasi secara internal bagi masyarakat Ahlul Bait di Jakarta, sebagai barometer kehidupan beragama ataupun kehidupan bermadzhab, dalam dunia Ahlul Bait di seluruh Indonesia ini.

Saya jalan dari Aceh sampai Papua. Saya menyaksikan ada harapan dari masyarakat Ahlul Bait di seluruh Indonesia ingin melihat bahwa di Jakarta, masyarakat Syiah Jakarta, berada dan menciptakan suasana yang kondusif, untuk melakukan konsolidasi dalam rangka memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Kita orang syiah. Tapi darah kita, diri kita, jiwa kita, hidup kita, dan mati kita ada di negeri ini. Dan karena itu kita wajib memberikan kontribusi kita yang terbaik untuk bangsa dan negara kita, di tengah-tengah kita dalam keadaan dipersekusi, dalam keadaan kita difitnah, dalam keadaan kita dituduh, dan dalam keadaan dianggap sebagai barang impor yang datang ke negeri kita ini.

Kita ingin mengatakan bahwa Indonesia sesungguhnya adalah bagian integral dari masyarakat Syiah yang ada di Indonesia. Bukan barang impor. Kita adalah barang asli yang tumbuh bersamaan dengan hadirnya agama Islam di negeri yang kita cintai ini. Di saat itulah kita diminta memberikan kontribusi. Dan kontribusi hanya bisa kita berikan kalau kita bersatu. Kalau kita kuat. Kalau kita kokoh. Kalau kita bersama-sama bergandengan tangan untuk menunjukkan kepada masyarakat di negeri kita ini. Kita tunjukkan bahwa inilah profile masyarakat Islam yang mencintai Rasulullah dan Keluarga Rasulullah. Yang damai. Yang sejuk. Yang mengajarkan cinta kasih di tengah-tengah perbedaan yang memang modal sosial bangsa kita adalah plural. Karena itu siapa saja yang menolak pluralitas sesungguhnya menolak eksistensi NKRI.” Pungkas Ust. Ahmad.

Sambutan juga disampaikan oleh Dr. Abdul Majid Hakim Ilahiy selaku Direktur ICC Jakarta. Sementara itu, ceramah inti disampaikan Ust. Muhammad Rusli Malik hingga acara selesai pukul 10 malam. (M/Z)

2

IMG20170824204258[1]

1

 

Related posts:

CSOM-Apec-011013-nym-2Agenda APEC Hanya Mementingkan Negara Maju Kelas PelangiKelas Pelangi Kota Tua IMG20170202141835Menyikapi Kebijakan Trump Larang 7 Negara Muslim Masuk Amerika Serikat KongresKongres Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Doa dan Puisi untuk Palestina

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di bumi Palestina mengetuk nurani kita sebagai sesama anak manusia.

“Berbicara Palestina, tidak hanya bercerita tentang darah dan penderitaan. Puisi, syair, serta banyak sastrawan lahir di sana. Beberapa penyair terkenal yag banyak menyuarakan suara kemerdekaan, antara lain Mahmoud al-Gharbawi, Abdunnasir Saleh, Muadz al-Hanafi, Mahmud Darwis, adalah penyair-penyair yang sangat terkenal dan beberapa karyanya akan dibacakan pada malam ini.” Kata Ulil Absar Abdalla pada sambutannya mewakili penyelenggara acara “Doa untuk Palestina,” Kamis, 24 Agustus 2017.

Doa bersama yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) terselenggara atas inisiasi KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan kawan-kawan. Selain doa, acara juga diisi dengan pembacaan berbagai puisi.

“Di Taman Ismail Marzuki, 35 tahun lalu saya mulai menjadi penyair. Dan puisi yang saya bacakan waktu itu adalah puisi tentang Palestina. Sekarang ini (setelah 35 tahun berlalu) Palestina masih dalam keadaan yang sama, yaitu masih terjajah. Itulah yang membuat saya berkeinginan untuk menyelenggarakan pentas puisi dan Doa untuk Palestina ini.” Kata Gus Mus sebelum beliau tampil membacakan puisi berjudul Ana Falastiniy (Aku adalah Orang Palestina).

Selain Gus Mus, puisi juga dibacakan oleh para penyair lain, di antaranya: Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Butet Kartaredjasa, D. Zawawi Imron, Husain Muhammad, Inayah Wahid, Jose Rizal Manua, Slamet Rahardjo, Sosiawan Leak, Taufik Ismail, dan beberapa tokoh lain seperti Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Syafii Maarif, Prof. Dr Mahmud MD,  Jamal D Rahman, Najwa Shihab, Ulil Absar A, dan beberapa tokoh lain.

Turut hadir juga budayawan Muhammad Sobari, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendi, dan Staf Kepresidenan Teten Masduki, serta beberapa pejabat lain turut menyemarakkan acara Doa untuk Palestina. (Mujib)

Related posts:

di depan Kedubes Amerika SerikatAksi Solidaritas Palestina di Kedubes Amerika Kenduri CintaCara Malu Menjadi Indonesia Viva PalestinaViva Palestina d3b8bafe-3c8e-4c89-8380-d02949d897d0Aksi Massa Tuntut Bebaskan Tahanan Palestina

Mendikbud Sebut 30.000 Sekolah Berada di Zona Bencana

Magelang – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mengatakan sekitar 30.000 sekolah berada di zona bencana yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Sebanyak 30.000 sekolah yang masuk dalam zona bencana dan nanti akan kita prioritaskan untuk mendapatkan pendidikan kebencanaan,” kata Mendikbud di Magelang, Kamis.

Ia mengatakan hal tersebut pada penutupan Konferensi Nasional Pendidikan Bencana Tahun 2017 di Universitas Muhammadiyah Magelang.

Menurut dia sekolah yang berada di zona bencana tersebut penanganannya tergantung tipe bencana di daerah tersebut.

“Sekarang sekolah-sekolah yang kita bangun baru sudah mulai standard, terutama di daerah rawan bencana gempa,” katanya.

Ia menuturkan di masing-masing daerah itu sudah ada ukurannya berapa, daya tahannya berapa, bencana alam gempa di sana berapa besarnya, termasuk longsor dan banjir juga dihitung untuk penyesuaian pembangunan sekolah-sekolah baru.

Menyinggung tentang pendidikan kebencanaan apakah akan menjadi materi pelajaran di sekolah, dia mengatakan pendidikan kebencanaan tersebut tidak harus menjadi pelajaran di sekolah, tetapi menjadi tema-tema di dalam program ekstra kurikuler.

“Pendidikan kebencanaan menjadi tema-tema di dalam program ekstra kurikuler terutama dalam program penguatan karakter, karena nanti program penguatan karakter termasuk karakter yang suka menolong, gotong-royong, kemandirian. Itu bisa diakomodasi di dalam pendidikan kebencanaan,” katanya.

Selain melakukan pemetaan sekolah di zona bencana, katanya pihaknya juga memperhatikan sekolah yang tidak layak.

“Sekolah yang tidak layak akan kita perbaiki. Anggaran untuk memperbaiki sekolah tahun ini sekitar Rp3 miliar,” katanya.

Sumber: Antaranews

Related posts:

Posko Banjir Jakarta oleh Ahlulbait IndonesiaAntisipasi Curah Hujan Tinggi, Posko Ahlulbait Siaga Kembali BMKG: Jaga Ekosistem Demi Masa DepanBMKG: Jaga Ekosistem Demi Masa Depan 41Bijak dan Cerdas Hadapi Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia (1) 232771dd-fc9e-4566-b822-c157e712bb76Rajut Toleransi di Sekolah Harmoni Indonesia

Azyumardi Azra: Fragmentasi Politik Mundurkan Iptek Islam

Jakarta – Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra mengatakan fragmentasi politik menjadi salah satu penyebab kemunduran ilmu pengetahuan dan teknologi Islam di dunia.

“Penyebab kemunduran iptek Islam karena fragmentasi politik yang jelas mengakibatkan iptek sulit berkembang, seperti pascaperang di Baghdad,” kata penerima LIPI Sarwono Award ini, di Jakarta, Rabu.

Faktor kedua, menurut dia, juga telah menyebabkan iptek Islam mengalami kemunduran adalah faktor ekonomi yang tidak tumbuh sebagai dampak terjadi fragmentasi politik. “Bagaimana iptek mau berkembang jika dana riset tidak ada karena ekonomi macet,” katanya lagi.

Faktor ketiga yang menjadi penyebab iptek Islam mengalami kemunduran yakni peningkatan sektarianisme yang menyala-nyala.

Dalam konteks Indonesia, ia mengatakan bahwa watak budaya toleran membuat konflik keagamaan tidak sampai terjadi bertahun-tahun, sehingga mendorong ekonomi terus bertumbuh. Bahkan pada 2017, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pendapatan PDB mencapai Rp1.000 triliun.

“Jika Indonesia tetap aman dan stabil, maka prediksi Indonesia akan menjadi negara kelima terkuat dari sisi ekonomi bisa terjadi,” ujar dia pula.

Karena itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 1998 hingga 2006 ini, meminta masyarakat muslim Indonesia jangan bertengkar jika muncul perbedaan. “Karena kita ini show case untuk negara lainnya bahwa justru yang berbeda-beda itu lah yang bisa memperkuat Indonesia,” ujarnya lagi.

Ia juga mengimbau agar masyarakat lebih mengedepankan cara dialog. Tidak hanya Islam, tapi juga demokrasi Indonesia yang akan maju jika menggunakan cara-cara dialogis, kata Azyumardi Azra.

Sumber: Antaranews

Related posts:

IMG-20130923-WA0081Sunnah dan Syiah Deklarasikan Perdamaian Diskusi Budi UtomoBudi Utomo dan Tantangan Nasionalisme Masa Kini UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta (17/9)Konsep Kenabian Sunni, Syiah dan Ahmadiyah Fikih Peradaban Dalam Seminar Nasional UINFikih Peradaban Dalam Seminar Nasional UIN