Monthly Archives: May 2017

Bakti Sosial, ABI Rescue Renovasi Masjid

ABI Rescue menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di pondok pesantren yatim daerah Citayam, Bogor, Jawa Barat, pada hari Minggu 7 Mei 2017.

Abi rs jadi 2

Pada bakti sosial ini, tim ABI Rescue merenovasi masjid pesantren. “Kondisi masjid yang digunakan sebagai sarana ibadah dan belajar kurang terawat. Sebagian kusen sudah mulai lapuk,” kata Rimba Nasution salah satu tim ABI Rescue yang turut serta pada bakti sosial itu.

Rangkaian kegiatan renovasi masjid ini meliputi: bersih-bersih karpet, mengecat tembok, mengganti kusen jendela dan mengganti pintu kamar mandi.

Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama pengurus pesantren dengan tim ABI Rescue.

Abi rd jadi 3

Rimba berharap setelah direnovasi, masjid ini lebih nyaman digunakan untuk ibadah oleh masyarakat sekitar serta para santri.

(Rimba/Malik)

Related posts:

IMG-20130922-WA0007Massa Pakaian Putih-putih Menolak Gereja St. Bernadet Berkah RamadhanBakti Sosial Ramadhan Dana Mustadhafin: Berbagi Berkah Seribu Bulan 23313262-1d13-4917-b33f-e7ec198e8b17Pelatihan Dasar SAR dan Pelantikan ABI Rescue IMG-20170416-WA0107ABI Rescue Turut Serta dalam Peluncuran Kawasan Ekoriparian Ciliwung

Menag Perintahkan Pimpinan PTKIN Cegah Faham Radikal di Kampus

Jakarta (Kemenag) — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memerintahkan pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk melakukan upaya-upaya strategis dalam mencegah berkembangnya faham ekstrem dan radikal di kampus. Menurutnya, keberadaan PTKIN yang terus berkembang harus dipastikan steril dari masuknya faham yang ingin mengubah dasar negara.

Menag mengapresiasi Deklarasi Aceh yang disampaikan pimpinan PTKIN pada 26 April lalu. Menag meminta deklarasi tersebut ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkrit. “Deklarasinya mesti ditindaklanjuti dengan langkah konkrit agar pesannya bisa dipahami seluruh civitas akademika dan terimplementasi di kampus,” terang Menag di Jakarta, Kamis (04/05).

Menurutnya, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan. Pertama, menjadikan moderasi Islam sebagai gerakan segenap civitas akademika kampus. “PTKIN mempunyai modal cukup dalam hal ini. Sebab diskursus pemikiran keislaman berkembang baik sehingga tinggal didorong agar moderasi bisa menjadi gerakan bersama,” ujarnya.

Kedua, memperkuat wawasan kebangsaan mahasiswa dan civitas akademika kampus. Selain sessi-sessi perkuliahan, upaya ini bisa dikemas dalam ragam aktivitas positif yang dapat mencegah secara dini berkembangnya paham ekstrem yang tidak sesuai dengan nilai moderasi Islam serta Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ketiga, memperketat proses seleksi dan rekrutmen, baik mahasiswa, tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Komitmen keislaman dan kebangsaan yang inklusif harus menjadi indikator utama untuk memastikan mereka yang akan direkrut adalah orang-orang yang berkomitmen kepada persatuan dan kesatuan bangsa.

“Saya minta, agar rekruitmen dosen di fakultas agama maupun umum, dan tenaga kependidikan lainnya, benar-benar diseleksi dengan ketat terkait paham dan komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan,” ujarnya.

“Transformasi PTKIN harus diikuti dengan penguatan semangat kebangsaan dan moderasi Islam, bukan justru sebaliknya,” sambungnya.

55 pimpinan PTKIN seluruh Indonesia bersepakat menolak segala bentuk paham intoleran, radikalisme, dan terorisme yang membahayakan Pancasila dan keutuhan NKRI. Kesepakatan ini tertuang dalam Deklarasi Aceh yang dibacakan Ketua Forum Pimpinan PTKIN se-Indonesia, Dede Rosyada di hadapan Menag Lukman dan ribuan mahasiswa dan masyarakat yang menghadiri Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh, 26 April 2017 di Banda Aceh.

Kami forum Pimpinan PTKIN dengan ini menyatakan:
1. Bertekad bulat menjadikan Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

2. Menanamkan jiwa dan sikap kepahlawanan, cinta tanah air dan bela negara kepada setiap mahasiswa dan anak bangsa, guna menjaga keutuhan dan kelestarian NKRI.

3. Menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam inklusif, moderat, menghargai kemajemukan dan realitas budaya dan bangsa.

4. Melarang berbagai bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila, dan anti-NKRI, intoleran, radikal dalam keberagamaan, serta terorisme di seluruh PTKIN.

5. Melaksanakan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 dalam seluruh penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan penuh dedikasi dan cinta tanah air.
(dimas/mkd/mkd)

Sumber:  Kemenag.go.id

Related posts:

Kunjungan Menag Lukman Hakim Saifuddin di pengungsian Muslim Syiah SampangCari Solusi Pemulangan: Menteri Agama Kunjungi Muslim Syiah Sampang (dari kiri atas) Menag (Lukman Hakim), Fajar Riza Ul Haq, Muhammad Machasin, Sheila Soraya, Favor BachinSeminar Sehari Kemenag: Refleksi Pertemuan FGD 451877Klarifikasi Menag soal Sertifikasi Khatib 466739Menag Apresiasi Ikadi Lakukan Sertifikasi Dai

Itjen Kemenag Tindak Tegas ASN Terbukti Berpaham Anti Pancasila

Jakarta (Kemenag) — Inspektorat Jenderal Kemenag akan menindaktegas Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbukti memiliki paham anti Pancasila dan anti NKRI. Hal ini ditegaskan Sekretaris Itjen Hilmi Muhammadiyah usai ratas pimpinan Itjen di Jakarta, Kamis (04/05).

Meski demikian, Hilmi mengaku kalau saat ini belum menerima laporan terkait hal itu. “Kami memastikan bahwa akan memberikan sanksi tegas jika hal itu ditemukan,” katanya.

Menurut Hilmi, komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila pada hakikatnya sudah termaktub dalam PP 53 tentang disiplin pegawai. Selain itu, komitmen yang sama juga tercantum dalam kode etik pegawai dan Panca Prasetya Korpri.

“Pancasila itu sudah final, tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tandasnya.

Kementerian Agama termasuk salah satu kementerian terbesar. Kementerian yang bertugas membina kehidupan keagamaan dan kerukunan antar umat ini memiliki lebih dari 4000 satker dengan 232.883 ASN yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebagai langkah antisipasi, Itjen ke depan akan melakukan penguatan internalisasi nilai Pancasila dalam program Pengawasan dengan Pendekatan Agama (PPA).

“Program PPA yang akan segera berjalan di tahun ini akan menyisipkan pengajaran dan pengamalan nilai-nilai ideologi Pancasila kepada ASN Kemenag di daerah yang menjadi sasar program,” ujarnya.

Hilmi berharap Program PPA yang diperkuat penguatan implementasi nilai Pancasila ini akan efektif dalam meneguhkan sikap kebangsaan dan nasionalisme ASN Kemenag.

Hilmi mengatakan bahwa Itjen akan segera membahas rencana ini dalam focus group discussion (FGD) pada 5 Mei besok. Hasil FGD akan dimatangkan dalam “Workshop Pengawasan” yang akan diikuti seluruh auditor dan perwakilan dari satker daerah pada 22 – 24 Mei 2017.

“Saya pikir program peneguhan nilai-nilai Pancasila ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi tumbuhnya faham anti Pancasila pada ASN Kemenag,” ujarnya. (itjen/mkd/mkd)

Sumber: Kemenag.co.id

Related posts:

RUU Perlindungan BeragamaKemenag Persiapkan RUU Perlindungan Beragama 454271Rencana Kemenag Cetak 100 Ribu Mushaf Al-Qur’an Tahun Ini 7783Kemenag: Tidak Ada Materi Syahadat di Sekolah Menengah C63T4fVUwAAAaUaUpaya Kemenag Tingkatkan Kerukunan Umat Beragama

Diskusi Kebangsaan, ABI Bahas Kedaulatan Pangan Nasional

“Bicara ketahanan pangan, jangan dipersempit sebatas kita mengharamkan impor. Kita memang impor beras, tapi kita juga ekspor bahan pangan lain. Kita juga eksportir minyak sawit, ikan laut, sayur-sayuran, singkong dalam bentuk gaplek, kopi, dan banyak lagi. Jadi, yang dianggap swasembada pangan itu bukan berarti tidak ada impor sama sekali,” papar Prof. Dr. Ir. Kaman Nainggolan, MS (Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional), saat menjadi narasumber diskusi “Ketahanan Pangan” yang diselenggarakan DPP Ahlulbait Indonesia (28/4).

Lebih lanjut, Prof. Kaman menjelaskan, ketahanan pangan itu meliputi beberapa dimensi yaitu, ketersediaan pangan, dimensi distribusi, dan ketiga faktor konsumsi (asupan gizi). “Ketersediaan pangan kita sebetulnya tak bermasalah, karena kita impor beras hanya sebagian. Jika kita mau makan singkong, umbi-umbian, maka pasokan beras jadi tak masalah,” ungkapnya.

Menurut data yang disampaikan, orang Indonesia rata-rata mengkonsumsi beras sebanyak 124kg per orang dalam setahun. Jumlah yang sangat banyak jika dibandingkan dengan jumlah konsumsi beras orang luar yang hanya 60kg per orang dalam setahun. “Padahal dari nilai gizinya, makan beras itu tidak lebih baik, kecuali beras merah. Bahkan, sagu, sebagai salah satu komoditi ekspor terbesar kita, memiliki kandungan karbohidrat yang terbaik. Mestinya, makanan lokal yang khas dikonsumsi di masing-masing daerah ini tak perlu digantikan dengan beras,” terang Prof Kaman.

Sementara itu, Ketua Umum Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Iwan Nurdin, juga hadir menjadi narasusmber pada diskusi ini. Untuk mencapai kedaulatan pangan, kata Iwan, langkah pemerintah di dalam membuat BUMN Pangan paling tidak harus memperhatikan beberapa unsur. Pertama, kepemilikan. Dalam kepemilikan itu terdiri dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, petani (organisasi tani/koperasi tani), dan pemerintah desa. Kepemilikan saham terbesar atau mayoritas dari BUMN harus menjadi milik organisasi tani dan pemerintah desa.

Kedua, Operasionalisasi BUMN Pangan ini seharusnya mendorong lahirnya badan usaha milik petani, badan usaha milik desa, dalam bentuk koperasi di bidang pangan yang modern yang dipayungi BUMN Pangan tersebut.

Ketiga, tujuan utama dari BUMN ini adalah menciptakan kedaulatan pangan bukan semata-mata ketahanan pangan, dengan aktor utamanya yaitu para rumah tangga petani yang sudah terorganisasi dalam wadah ekonomi yang modern.

Tanpa itu menurut Iwan, desain BUMN yang digagas pemerintah tidak akan sejalan dengan pembaruan agraria, pembangunan pedesaan dan pertanian secara menyeluruh, sesuai keinginan rakyat khususnya masyarakat petani. “Pembangunan desa lah yang harus diprioritaskan,” pungkasnya.

(MM)

Related posts:

m.nuhMenteri Nuh: Tak Ada Tawar Menawar Soal Ideologi dpt tny merpatiDPR Pertanyakan Pembelian MA 60 KH. Muhyiddin Junaidi dari MuhammadiyahMujtahid Irak Kunjungi Muhammadiyah Freedom-InstituteEkonomi Indonesia Melemah

Upaya Tingkatkan Generasi Muda Berakhlakul Karimah, DPD ABI Jakarta Utara Gelar Peringatan Isra Miraj

Jakarta – DPD Ahlulbait Indonesia (ABI) Jakarta Utara menyelenggarakan peringatan Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW (1438 H / 2017 M) sebagai upaya meningkatkan imtaq dan akhlakul karimah untuk mencetak generasi muda yang aktif, kreatif, dan inovatif. Kegiatan terlaksana di Koja, Jakarta Utara, Minggu (30/4).

Rangkaian acara Isra Miraj di antaranya: pembacaan kosidah, penampilan anak-anak membaca sholawat, pembacaan ayat Suci Al-qur’an, sambutan-sambutan, ceramah inti, pemberian santunan untuk anak yatim dari Dana Mustadafin dan donatur lainnya, dan penutup (doa).

73695365-c74e-4868-9e94-9a1a00f620a1

Sebagai penceramah inti, Ustaz Ahmad Hidayat (Sekjen DPP ABI) menyampaikan, bahwa tidak ada modal untuk mendapatkan kecintaan dari Allah SWT kecuali dengan mencintai Rasul SAW, mencintai keluarganya, mengikuti Al-qur’an, dan menjadikan sahabat setia Rasul SAW sebagai model dalam kehidupan.

Lebih lanjut dijelaskan, Isra dan Miraj, disamping untuk menerima perintah salat, Allah SWT melantik Nabi SAW sebagai utusan-Nya bagi seluruh semesta ini, agar manusia selamat.

Selaras dengan tema, sebagai upaya mencetak generasi muda beraklakul karimah, aktif, kreatif, dan inovatif, Ustaz Ahmad mencontohkan perjuangan para sahabat nabi di kalangan para pemuda ketika itu. Diterangkan, para sahabat nabi ketika berada di Mekah, kebanyakan adalah anak-anak muda, seperti Mushab bin Umair, Ali bin Abi Tholib,  Abu Dzar, Miqdad, Bilal bin Rabah, dan Ammar bin Yasir. “Mereka adalah orang-orang yang memiliki perjuangan untuk Islam di usia muda,” lanjutnya.

Ustaz Ahmad berpesan kepada hadirin untuk meninggalkan tayangan-tayangan televisi yang tidak bermanfaat, seperti tayangan-tayangan sinetron yang tampil di layar kaca setiap hari. “Karena sinetron tidak akan menjadikan anak menjadi pintar, tidak menjadikan semakin beriman, dan tidak menjadikan semakin dekat dengan Allah SWT,” tegasnya

Pesan lain juga di sampaikan, mengutip sabda Rasul SAW: “Didiklah anak kalian dengan 4 model,  yaitu: dengan Makrifatullah (mengenal Allah), dengan tilawatul Qur’an (membaca dan memahami Al-qur’an), dengan makrifah Nabi SAW (menjadikan nabi sebagai idolanya, karena Nabi SAW adalah uswatun hasanah), dan dengan mencintai keluarga Nabi SAW.”

“In Sya’ Allah dengan 4 model ini dapat menyelamatkan anak-anak muda dari meminum minuman keras, narkoba, pacaran sembrono, hubungan bebas, dan perbuatan keji lainnya,” terang Ustaz Ahmad.

Sementara itu, perwakilan dari DPW ABI DKI Jakarta, Ahmad Dimyati, yang juga hadir memberi sambutan pada acara itu, berharap, acara ini dapat bermanfaat bagi semuanya. “Sehingga pulang dari acara ini bisa membawa ilmu yang penuh keberkahan,” ucapnya.

Acara Isra Miraj ini terselenggara oleh DPD ABI Jakarta Utara bersama warga setempat dari kalangan anak muda yang tergabung dalam komunitas Iregas.

(Iid/Malik)

Related posts:

nahdlatul ulamaNU Persiapkan Ensiklopedia Anggota DPR Bantah Anggaran Pulsa Rp14 Juta img_8084Ormas Ahlulbait Indonesia Dideklarasikan peringatan bagi pemimpinPeringatan bagi Pemimpin

Mengenang 40 Hari Wafatnya Ahmad Taufik Jufry

Jakarta – Ate Center for Justice menyelenggarakan acara tahlil mengenang 40 hari wafatnya aktivis kemanusiaan, Ahmad Taufik (Ate). Selain tahlil dan doa, acara diisi dengan diskusi/testimoni bertema “Apapun yang pahit telah kita lakukan,” serta pembacaan puisi-puisi warisan Ate.

Terselenggara di aula Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Senin (1/5), acara dihadiri para aktivis, tokoh politik, mahasiswa, serta masyarakat umum lainnya.

Ate dikenal sebagai jurnalis dan aktivis yang getol menyuarakan kebebasan pers sejak masa pemerintahan Orde Baru. Ia pernah dipenjara pada masa Orde Baru lantaran menerbitkan majalah Suara Independen di bawah naungan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang ia dirikan bersama rekan seperjuangan. Ia juga dikenal sebagai wartawan senior Tempo. Belakangan, Ate juga menekuni profesi sebagai pengacara. Bersama teman-temannya dari Unisba, ia mendirikan LBH Keadilan sebagai salah satu dari sekian wadah perjuangannya.

Semasa hidup di penjara, Ate menuliskan banyak puisi tentang rintihan keadilan dan kemanusiaan. Salah satu puisinya dibacakan oleh Ramdansyah, Sekjen Partai Idaman yang hadir di acara tahlil kali ini.

Puisi lain berjudul Karbala Ladang Pembantaian. Puisi itu bernada doa, harapan, serta perlawanan untuk menegakkan kebenaran, keadilan serta kemanusiaan. Pesan terakhir dalam ditulisnya menyatakan, “di mana pun bumi dipijak, di situ kebenaran harus ditegakkan.”

Malik, seorang yang pernah menemaninya di penjara pada tahun 1995 juga hadir di acara ini. “Semasa di penjara Ate mengajarkan pada kami bahwa siapa saja, apapun identitasnya, kebenaranlah yang harus menjadi barometer perjuangan kita,” kata Malik.

Lebih lanjut Malik bercerita, dirinya menjadi penjamin ketika membebaskan Tajul Muluk (korban kriminalisasi terhadap Muslim Syiah di Sampang Madura 5 tahun lalu). Saat itu ia bersama Ate terlibat dalam menangani kasus Tajul Muluk di bawah naungan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia (YLBHU).

Tak hanya itu, Malik sempat diajak Ate menggugat Ancol. Garis pantai yang seharusnya menjadi fasilitas publik, tapi dikuasai oleh pihak tertentu. “Intinya, siapapun penindas, kita lawan,” tegas Malik.

Sementara itu, Toni, aktivis Pro-Demokrasi menyatakan bahwa Ate adalah kawan seperjuangan yang nyata baginya. “Ate aktif di Bandung membela ketertindasan disana. Dalam beberapa kasus kita berbagi tugas, terutama saat melawan kediktatoran Orde Baru. Kemerdekaan Pers adalah beberapa hal yang diperjuangkannya. Ate dikenal di kalangan para aktivis sebagai Man of Idea and Man of Action. Dia tidak wafat, tetapi dia bersemayam di sanubari kami,” pungkas Toni saat memberikan testimoni.

(MM)

Related posts:

NU Pulang Kampung Ke PKB?NU Pulang Kampung Ke PKB? JICSerba-serbi Alih Fungsi Lokalisasi Kramat Tunggak Dolly Wahid-InstituteKonten Kreatif, Cara Efektif Tangkal Aksi Provokatif rakernas-abiJelang Rakernas, DPP ABI Siap Tingkatkan Kinerja Tahun 2017