Monthly Archives: April 2017

Seruan Kemenag tentang Ketentuan Ceramah Agama di Rumah-rumah Ibadah Seluruh Indonesia

Jakarta – Dalam rangka menjaga rasa persatuan dan meningkatkan produktivitas bangsa, merawat kerukunan antar-umat beragama, dan memelihara kesucian rumah ibadah, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan seruan terkait ketentuan ceramah agama di rumah-rumah ibadah seluruh Indonesia. Seruan dibacakan Menag di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, pada Jumat (28/4/2017).

“Kehidupan masyarakat harus stabil, damai harus terwujud, dan kerukunan umat beragama adalah persyaratan keberlangsungan hidup bersama dan keberlangsungan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera dan bermartabat. Dalam pemenuhan prasyarat yang dimaksud, penceramah agama dan rumah ibadah memegang peranan sangat penting,” papar Menag.

Berikut 9 poin seruan yang dibacakan:

1. Disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.

2. Disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.

3. Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama manapun.

4. Bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spriritual, intelektual, emosional dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasihat, motivasi dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa serta kesejahteraan dan keadilan sosial.

5. Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

6. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.

7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan dan atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktik ibadah antar atau dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif.

8. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan atau promosi bisnis.

9. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

(Amar/Malik)

Related posts:

RUU Perlindungan BeragamaKemenag Persiapkan RUU Perlindungan Beragama 454271Rencana Kemenag Cetak 100 Ribu Mushaf Al-Qur’an Tahun Ini 7783Kemenag: Tidak Ada Materi Syahadat di Sekolah Menengah C63T4fVUwAAAaUaUpaya Kemenag Tingkatkan Kerukunan Umat Beragama

Muslimah ABI Ikuti Kongres Ulama Perempuan Indonesia

Cirebon – Perwakilan Muslimah Ahlulbait Indonesia (Muslimah ABI) Kota Surabaya, Ustazah Euis Daryati Lc. MA bersama ratusan delegasi dari berbagai organisasi dalam maupun luar negeri mengikuti Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Rangkaian kegiatan kongres berlangsung selama tiga hari di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat (25 – 27 April 2017).

0c338daf-6e08-4765-a028-0cecd82a8204

Dari catatan panitia, sedikitnya 1.270 orang dari dalam maupun luar negeri mendaftar menjadi peserta dan pengamat pada rangkaian kegiatan KUPI ini. Atas pertimbangan kapasitas, panitia hanya menerima 575 peserta dan 183 pengamat. Ustazah Euis dari Muslimah ABI berkesempatan menjadi peserta bersama utusan dari berbagai ormas terkemuka seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan peserta lain dari dalam maupun luar negeri.

KUPI sendiri digagas oleh tiga lembaga yaitu, ALIMAT, RAHIMA, dan FAHMINA. Beberapa lembaga yang ikut partisipasi dalam terselenggaranya KUPI di antaranya, Keluarga Besar Pesantren Kebon Jambu al-Islamy dan Pesantren Ciwaringin secara umum, Kementerian Agama RI, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, AMAN Indonesia, DPD RI dll.

Kongres mengambil tema “Peran Ulama Meneguhkan Nilai Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan” ini, diharapkan dapat menjadi ajang silaturrahim, saling belajar dan berbagi pengalaman antar para ulama perempuan, para pakar dan praktisi. Perhelatan ulama perempuan ini juga disaksikan oleh perwakilan dari 15 negara sahabat yaitu, Afganistan, Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, Belanda, Filipina, India, Malaysia, Nigeria, Kanada, Kenya, Pakistan, Saudi Arabia, Singapura, dan Thailand.

Di hari pertama (25 April), kegiatan diisi dengan seminar internasional tentang keulamaan perempuan. Seminar ini menghadirkan narasumber dari 7 negara yakni, Bushra Qadeem (Pakistan),  Roya Rahmani (Afganistan), Zaenah Anwar (Malaysia), Hatoon al-Fasi (Saudi Arabia), Ulfat Hussein Masibo (Kenya), Rafatu Abdul Hamid (Nigeria), dan dari Indonesia; Ruhaini Dzuhayatin, Eka Srimulyani, serta Kamaruddin Amin.

Hari kedua (26 April), terdiri dari dua sesi kegiatan. Pertama, Seminar Nasional tentang “Peran Ulama Perempuan dalam Meneguhkan Nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan”.

Sesi ini terdiri dari 4 tema dengan 4 pembicara:

1. Sejarah dan Peran Ulama Perempuan di Indonesia (KH. Husein Muhammad, ketua yayasan Fahmina Cirebon)

2. Metodologi Study Islam Perspektif Ulama Perempuan (Dr. Nur Rofiah, Dosen Pascasarjana PTIQ, pengurus ALIMAT dan Rahima Jakarta)

3. Strategi Dakwah Ulama Perempuan dalam Meneguhkan Nilai-nilai Kebangsaan dan Kemanusiaan (Siti Aisyah, ketua pimpinan pusat Aisyiyah, Yogyakarta)

4. Tantangan dan Peluang Ulama Perempuan dalam Menebarkan Islam Moderat di Indonesia (Prof. Dr. Machasin, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

“Di sini saya memberikan beberapa tanggapan kepada pemateri,” kata Ustazah Euis. Lebih lanjut Ustazah Euis menguraikan beberapa tanggapan. “Pertama, dalam makalah telah banyak disampaikan ulama-ulama perempuan sejak zaman Rasulullah saw hingga sekarang, dari berbagai negara. Tapi masih ada yang luput dari perhatian, seperti ulama perempuan Iran, Mujtahidah Amin atau Banuye Isfahani, dia ulama perempuan yang telah diuji oleh 40 ulama besar, memiliki kitab tafsir “Mahzanul Irfan” dan memiliki banyak karya tulis. Ini mungkin bisa jadi tambahan referensi tentang ulama perempuan.”

53a2cbf8-f720-4b51-96f6-60ab0db38a52

Ustazah Euis saat memberikan tanggapan

“Kedua, dalam mazhab Ahlulbait, fikih keluarga tentang hak dan kewajiban suami istri sangat ramah perempuan.”

“Ketiga, hal yang perlu diperhatikan bagi ulama perempuan ialah, merubah paradigma bahwa pendidikan anak hanya menjadi kewajiban ibu semata. Karena kalau kita lihat, ayat-ayat dalam Al-Qur’an banyak menukil dialog antara anak dan bapak seperti dialog antara Lukman Hakim dengan anaknya, nabi Ibrahim dengan nabi Ismail, dll. Ini menunjukkan bahwa ayah juga memiliki peran penting dalam mendidik anak, termasuk menyiapkan generasi ulama perempuan.”

Sesi kedua adalah diskusi pararel, dengan 9 tema keulamaan perempuan (setiap peserta hanya boleh memilih 1 tema). “Saya ikut tema tentang peluang dan tantangan pendidikan ulama perempuan di Indonesia ,” imbuhnya.

Hari terakhir (27 April) diisi dengan launching buku dan musyawarah keagamaan (forum terbatas untuk pengambilan sikap keagamaan ulama perempuan yang berlangsung selama kongres).

Peserta musyawarah membahas permasalahan-permasalahan tersebut dalam 3 dimensi perempuan, yaitu sebagai Individu, sebagai umat Islam, dan sebagai warga negara. Karenanya hasil musyawarah mempertimbangkan petunjuk Nash Al-Quran dan hadis, aqwal ulama, dan konstitusi negara. Hasil dari musyawarah ini akan disusun berdasarkan struktur sebagai berikut:

1. Tashawur (gambaran masalah).

2. Adilah (dalil-dalil agama).

3. Istidlal (analisis).

4. Jawab (hasil).

5. Tazkiyah (rekomendasi).

6. Maraji’ (daftar literatur).

7. Bayan (penjelasan) hanya jika diperlukan.

8. Kutipan langsung yang dipandang penting.

Dalam musyawarah keagamaan ini hanya diprioritaskan 3 tema atau pokok permasalahan. Pertama, tema tentang kekerasan seksual. Kedua, tentang pernikahan anak. Ketiga, tentang perusakan alam dalam konteks ketimpangan sosial.

“Dalam musyawarah keagamaan ini saya ikut di tema ketiga. Setelah musyawarah, dipilih 2 orang dari peserta untuk masuk menjadi tim perumusan masalah, dan saya termasuk dari 2 peserta yg menjadi tim perumusan masalah, ” tutur Ustazah Euis.

Musyawarah keagamaan dengan tema ketiga “perusakan alam dalam konteks ketimpangan sosial” ini dalam rangka menjawab pertanyaan berikut:

1. Apa hukum melakukan perusakan alam atas nama pembangunan?

2. Bagaimana peran agama dalam memberikan perlindungan terhadap alam?

3. Bagaimana pandangan agama tentang tanggungjawab Negara dalam mengatasi perusakan alam yg memiskinkan rakyat terutama perempuan dan anak?

4. Bagaimana mengintegrasikan isu pemeliharaan alam (air, tanah, udara, flora-fauna) di dalam pendidikan keagamaan, pesantren dan institusi pendidikan lainnya?

Lebih lanjut Ustazah Euis menjelaskan, di akhir acara, sebelum penutupan, dibacakan ikrar keulamaan perempuan Indonesia, pandangan dan sikap keagamaan tentang isu perempuan kontemporer perspektif Islam dalam konteks kebangsaan di Indonesia dan kemanusiaan secara global, termasuk metodologi musyawarah keagamaan, serta Rekomendasi KUPI dalam menjawab masalah kekerasan seksual, pernikahan anak, dan kerusakan alam atas nama pembangunan.

Selanjutnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hadir menyampaikan sambutan dalam penutupan acara tersebut. Pada kesempatan itu, Menag menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kongres ini. “Tidak kalah penting adalah prosesnya. Saya banyak mendengar laporan, bahwa ini sepenuhnya adalah insiatif dari masyarakat, dari kaum perempuan itu sendiri. Mereka kemudian berupaya untuk membuat suatu kongres ulama perempuan yang untuk pertama kalinya terselenggara di dunia,” papar Menag.

Menteri Agama saat memberikan sambutan di acara penutupan kongres.

Menteri Agama saat memberikan sambutan di acara penutupan kongres.

Di sela acara, Ustazah Euis memberikan hadiah buku kepada ketua panitia KUPI, serta menyempatkan diri bersilaturrahim ke salah satu Kyai pondok pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin.

c3fec3e0-17f5-45ae-8226-55dafb428291

Silaturrahim dengan salah satu kyai pondok pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin.

2f7e24ef-3976-4d2b-9d83-e234e23706a9

Ustazah Euis memberikan hadiah buku kepada ketua panitia KUPI

(Ustazah Euis/Malik)

Related posts:

Anti Kekerasan Terhadap PerempuanMengenang Tragedi Pelanggaran HAM Diskusi Ciputat SchoolTiga Roadmap Atasi Kekerasan Bernuansa Agama Dialog mahasiswa UHAMKAWaspadai Meningkatnya Gerakan ISIS di Indonesia Wahid InstituteYenny Wahid: Pemerintah Indonesia Harus Tegas Kepada Myanmar

Tingkatkan Kualitas Kader, DPW ABI DKI Jakarta Gelar “Upgrading and Coaching Programme”

Jakarta – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia DKI Jakarta melalui Departemen Kaderisasi dan Pengembangan Organisasi menyelenggarakan kegiatan “Upgrading and Coaching Programme” untuk meningkatkan kualitas kader serta meningkatkan kinerja dan performa organisasi. Kegiatan berlangsung Senin (24/04/17) di bilangan Jakarta.

“Kegiatan ini merupakan program Departemen Kaderisasi dan Pengembangan Organisasi yang rencananya akan diselenggarakan secara berseri dan berjenjang sekali dalam sebulan, sekaligus salah satu bentuk turba (turun ke bawah) Dewan Syura ABI untuk menjangkau dan bertatap muka dengan level terbawah organisasi.” kata Pasky Abimanyu selaku panitia acara.

Program ini diawasi dan dibimbing langsung oleh Dewan Syura ABI, dan materi-materi di dalamnya disampaikan oleh anggota Dewan Syura ABI, Dr. Muhsin Labib, MA.

Pada acara itu, Dr. Muhsin Labib menjelaskan mengenai pentingnya menggunakan akal untuk berfikir. “Manusia adalah hewan yang berakal. Disebut hewan karena manusia adalah makhluk biologis, disebut berakal karena manusia memiliki akal yang memiliki potensi untuk berfikir,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kebanyakan orang malas berfikir, dan banyak orang yang suka dengan penjelasan yang sudah ada dalam dirinya (yang sudah diketahui) sehingga ia merasa cocok dengan penjelasan itu. Tapi kalau penjelasannya tidak sesuai dengan pengetahuannya, ia merasa tidak cocok. “Ini ciri orang yang tidak mau menggunakan akalnya,” terang Dr. Muhsin Labib.

“Akal adalah sistem yang membatasi kehendak. Kalau tidak menggunakan akal sebagaimana semestinya, manusia sama dengan hewan,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, dijelaskan pula bahwa manusia tidak cukup hanya memiliki akal, akan tetapi harus menggunakan akal itu untuk berfikir. “Berfikir pun tidak sembarang berfikir, tetapi harus sistematis,” tegasnya. Menurutnya, pola pikir seseorang akan berpengaruh pada tindakan. “Berfikir benar baru bisa bertindak benar,” paparnya.

Kegiatan “Upgrading and Coaching Programme” perdana ini diikuti sebanyak 28 peserta dari pengurus dan anggota DPW dan DPD DKI Jakarta.

(Iid/Malik)

Related posts:

Posko Banjir Jakarta oleh Ahlulbait IndonesiaAntisipasi Curah Hujan Tinggi, Posko Ahlulbait Siaga Kembali Perpustakaan KontainerPerpustakaan Kontainer Masyarakat Jakarta ahlulbait-indonesia-benderaSurat Edaran Dewan Syura Ahlulbait Indonesia terkait Pilkada Serentak img_8193Segera Dideklarasikan Organisasi Ahlulbait Indonesia

Presiden Lebanon Tolak Sanksi Baru AS terhadap Hizbullah

Presiden Lebanon Michel Aoun dalam pertemuan dengan delegasi AS yang dipimpin oleh Edward Gabriel mengatakan, Undang-undang yang sedang disusun oleh Kongres AS untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Hizbullah, institusi dan individu Lebanon akan menimbulkan kerugian besar bagi negara dan rakyat Lebanon.

Aoun menegaskan, dalam hal ini Lebanon telah melakukan kontak dan aksi yang diperlukan untuk mencegah pengesahan aturan ini.

Di bagian lain statemennya, Aoun menjelaskan kondisi negaranya.

“Setelah Lebanon melewati krisis yang dipicu instabilitas keamanan dan lemahnya negara di semua lini, kini kembali ceria pasca terpilihnya presiden di akhir Oktober tahun lalu,” papar presiden Lebanon, seperti dikutip dari situs ParsToday, (25/4).

Lebih lanjut dijelaskan, kongres AS sedang menyiapkan sebuah aturan baru untuk menekan perbankan Lebanon dengan alasan memberantas pencucian uang dan bantuan finansial kepada Hizbullah serta menghalangi transaksi Hizbullah dengan perbankan negara ini.

Sebelumnya, Kongres AS mengeluarkan sanksi terhadap institusi dan individu yang berkaiatan dengan Hizbullah serta melarang segala bentuk kerja sama dengan mereka.

Michel Aoun menerangkan, senjata yang dimiliki pasukan Hizbullah tidak melanggar legitimasi pemerintah Lebanon dan senjata ini merupakan bagian utama dan asasi untuk melindungi negara.

Pada pertengahan Februari lalu, menjelang kunjungannya ke Mesir dalam wawancara dengan stasiun televisi CBC, Aoun menyatakan wilayah Lebanon berada dalam pendudukan rezim Zionis Israel dan militer Lebanon tidak punya kemampuan yang memadai untuk memerangi rezim itu. Oleh karena itu pemerintah Lebanon merasa senjata Hizbullah sangat penting untuk menyempurnakan senjata militer negara ini.

Aoun menambahkan, Hizbullah sumber ketenangan pemerintah dan rakyat Lebanon.

Michel Aoun dalam wawancara dengan surat kabar Mesir, Al Ahram, Setibanya di Mesir, Minggu (12/2), dalam wawancara dengan surat kabar Mesir, Al Ahram Michel Aoun juga mengecam kejahatan-kejahatan rezim Zionis Israel terhadap rakyat Palestina.

Aoun menjelaskan, negara-negara Barat untuk meraih kepentingan-kepentingannya, sengaja menciptakan krisis di kawasan.

“Dengan berinteraksi, negara-negara Arab dapat masuk ke dalam jalur perdamaian dan mewujudkan gencatan senjata serta ketenangan di antara mereka,” imbuhnya.

Sumber: ParsToday

Related posts:

barack-obama-dan-hassan-rouhani-_130929205942-123Israel Khawatirkan Kedekatan Obama-Rouhani nicolas-maduro-_131001224828-332Venezuela Usir Dubes AS barack-obama-_130501142511-672Obama Tolak Buka Aktivitas Pemerintah, Ini Sebabnya Warga-MiskinStatus ”Default” Amerika Serikat Katastrofik

Pelatihan Dasar Kader DPD ABI Kota Bandung

Dewan Pengurus Daerah Ahlulbait Indonesia (DPD ABI) Kota Bandung menyelenggarakan pelatihan dasar kader dengan tema “Bersama ABI Membangun Ukhuwah dan Kesadaran Bersistem”. Kegiatan berlangsung dua hari dari tanggal 22 hingga 23 April 2017 di Bogor Jawa Barat.

Tujuan pelatihan ini di antaranya: Sebagai wujud kaderisasi formal ABI; media pembelajaran dan pembekalan calon pengurus DPD; serta merealisasikan/mengaktualisasikan nilai-nilai profetik (kenabian) dan kebangsaan.

Rangkaian kegiatan pelatihan meliputi pembekalan materi tentang keimanan, keislaman, keorganisasian, ke-ABI-an, patriotisme (kebangsaan), serta tata kelola.

61203bd8-91bc-4c2a-9513-62fde8928415

Materi pelatihan disampaikan oleh Ustaz Dede Azwar (Ketua Departemen Organisasi DPP ABI), Ustaz Muhammad Jawad (Ketua Departemen Pendidikan dan Kader DPP ABI), Ustaz Hafidz Al-Kaff, Ustaz Musa Kadzim Siraj, Ustaz Erwin, serta Ustaz Arif.

Rustana Adhi, selaku ketua pelaksana berharap, dengan terselenggaranya pelatihan kaderisasi ini dapat mencetak generasi cakap dalam agama, unggul dalam berorganisasi, berwawasan kebangsaan, serta mampu menjalin ukhuwah di masyarakat.

Kegiatan pelatihan ini terlaksana oleh DPD ABI Kota Bandung berkoordinasi dengan DPW ABI Jawa Barat serta DPP ABI.

999a42be-3f4a-4d61-8ffc-66ed6c0c8e24

Sebanyak 40 peserta mengikuti pelatihan kader ini. Di antaranya: perwakilan dari Pimpinan Pusat Muslimah Ahlulbait Indonesia (MAI) 3 orang, DPD MAI Bandung 2 orang, DPD MAI Bogor 1 orang, DPW ABI Jawa Barat 8 orang, DPD ABI Kab. Bandung 6 orang, DPD ABI Kota Bandung 8 orang, DPD ABI Kab. Sukabumi 3 orang, DPD ABI Purwakarta 2 orang, dan DPD ABI Karawang 7 orang.

Secara resmi, kegiatan ini dibuka dan ditutup oleh perwakilan dari DPP ABI, Ustaz Muhammad Jawad.

(AM)

Related posts:

Sepuluh Tahun Mengajar di Tengah BanjirSepuluh Tahun Mengajar di Tengah Banjir 103197_aliran-deras-banjir-lahar-dingin-dari-merapi_300_225Banjir Lahar Dingin, Satu Rumah Hanyut yapi bangilSidang Kasus YAPI PDIsuryadiPDI “Suryadi” Yakin Ikut Pemilu 2014

Milad Imam Ali di Majelis Bunga-bunga Qur’ani

Majelis Taklim Bunga-bunga Qur’ani (BBQ) menyelenggarakan peringatan milad Imam Ali bin Abi Thalib di Depok, Jawa Barat. Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Dr. Hakimelahi (Syekh Hakim) hadir sebagai penceramah di acara yang terselenggara pada Minggu pagi 23 April itu.

“Kita sekarang berada di bulan Rajab, dan kita akan memasuki bulan Sa’ban. Ini merupakan kesempatan untuk menyiapkan diri kita memasuki bulan jamuan-jamuan Allah, yaitu bulan Ramadhan. Oleh karena itu kita manfaatkan bulan Rajab ini dan menyiapkan diri kita sebagai tamu Allah, sehingga kita mendapakan sebaik-baiknya manfaat,” Kata Syekh Hakim.

Lebih lanjut, Syekh Hakim juga bercerita tentang masa Khalifah Ma’mun Ar-Rasyid, yakni pada kekhalifahan Bani Abbas. Menurutnya, banyak buku-buku berkenaan dengan sejarah peradaban Islam ditulis di zamannya. Ma’mun sangat mencintai ilmu dan pengetahuan serta banyak melakukan diskusi-diskusi melibatkan para ulama pada saat itu. Ma’mun memiliki keyakinan yang dia imani yakni tentang sebaik-baiknya orang setelah Rasulullah adalah Ali bin Abi Thalib.

“Pasti kita juga mengetahui tentang sejarah kelarihan Imam Ali yang lahir di dalam Ka’bah. Akan tetapi, pelajaran apa yang mampu kita ambil dari kelahiran Imam Ali? Kita harus memperhatikan kondisi dunia dan kondisi masyarakat saat ini. Pelajaran utama yang dapat kita ambil dari milad Imam Ali adalah wahdah Muslimin. Sekarang kita harus menciptakan persatuan di antara saudara-saudara kita,” pungkasnya.

(Zen-Malik)

Related posts:

jayim Jadi1Pesan Persatuan pada Milad Imam Ali di Berbagai Daerah c64265b0-3540-479d-b00d-b29747f42ccdPeringatan Milad Imam Ali di STFI Sadra Jakarta Syarifuddin Sudding Wakili DPR Dipertanyakan ustazMilad Fatimah Az Zahra di ICC Jakarta

Nasihat Prof. Quraish Shihab saat Peringati 40 Hari Wafatnya KH Hasyim Muzadi

29097c6a-9b22-46c4-9870-dd1254f087cd“Di antara orang-orang Mukmin ada suatu kebenaran yang sudah dijanjikan, yaitu orang yang meninggal ada yang sudah menyelesaikan tugasnya, ada juga yang belum,” kata Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, MA (Pak Quraish) saat menyampaikan testimoni pada acara peringatan 40 hari wafatnya KH Hasyim Muzadi.

Acara terselenggara di Pondok Pesantren Al Hikam Depok, Minggu malam (23/4). ”Dan Pak Hasyim ini sudah menyelesaikan tugasnya di masyarakat dan negara. Murid-muridnya banyak.  Beliau sudah meletakkan dasar-dasar pemahaman agama terhadap para santrinya,” terang Pak Quraish di hadapan para tamu dan santri.

Di saat yang sama, Pak Quraish menyampaikan kesedihan atas kepergian almarhum. “Masih ada orang yang lebih tua tapi belum dipanggil.  Seperti saya,” seloroh penulis buku Kematian adalah Nikmat itu.

Ia mengungkapkan, kematian orang baik akan menyebabkan orang tersebut senang karena ia di sana tidak merasakan kesedihan dan keresahan. Sementara, meninggalnya orang jahat akan menjadikan orang yang hidup mendapatkan kedamaian karena sudah tidak ada lagi dirinya di kehidupan ini.

“Kita optimis bahwasanya Pak Hasyim bagian dari orang baik,” ucap Pak Quraish. “Bahkan beliau di sana melihat kita. Jangan anggap orang yang sudah mati tidak bisa melihat kita,” imbuhnya.

Beliau berharap, langkah-langkah almarhum sampai detik ini terus dirawat, dijaga dan dikembangkan agar menjadi amal jariyahnya.

Peringatan 40 hari wafatnya KH Hasyim Muzadi ini diisi dengan beberapa kegiatan, di antaranya: bedah buku tentang almarhum, serta acara tahlil dan doa.

(Ahyar-Malik)

Related posts:

Mntri AgamaKH Hasyim Muzadi Tutup Usia, Menag: Kita Semua Kehilangan m.nuhMenteri Nuh: Tak Ada Tawar Menawar Soal Ideologi Nasib-NelayanNasib Nelayan di Tengah Rencana Penyempurnaan RUU Kelautan Resolusi-konflikPatologi Birokrasi Salah Satu Sumber Konflik

Pesan Persatuan pada Milad Imam Ali di Berbagai Daerah

Peringatan kelahiran (Milad) Imam Ali bin Abi Thalib mulai mendapat sambutan hangat di bumi pertiwi. Terpantau, masyarakat Muslimin di berbagai daerah seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Jawa Timur mengadakan peringatan Milad ‘Putra Ka’bah’ ini.

Bicara tentang Islam, tak lepas dari sosok Imam Ali. Ia adalah ayah dari dua pemuda penghulu surga, Hasan dan Husein. Suami dari wanita penghulu surga, Fatimah Az Zahra. Menantu, orang terdekat, sekaligus orang pertama dari kaum laki-laki yang mengakui Muhammad sebagai utusan Allah.

Sejak kecil hingga dewasa Imam Ali berada dalam bimbingan dan asuhan Nabi. Apa pun yang diterima nabi dari Allah diajarkan kepada Imam Ali.

Sehingga dalam sabdanya, rasul berkata: “Akulah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Siapa yang menginginkan kota (ilmuku), maka datangilah dari pintunya”. Ringkasnya, beliaulah insan terbaik sepeninggal rasulullah. Hal ini dipertegas dalam banyak riwayat lain.

Ketegasan rasul salah satunya tertuang dalam sabda: “Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpinnya.”

Setiap ilmu dan wahyu yang diterima rasulullah tak terlewat sedikitpun diajarkan kepada Imam Ali. Dari satu cabang ilmu yang diterima kemudian dikembangkan menjadi banyak cabang.

Dalam riwayat disebutkan, “Tanyailah aku tentang jalan-jalan yang ada di langit. Karena sesungguhnya demi Allah aku lebih mengetahui jalan-jalan yang ada di langit dibandingkan jalan-jalan yang ada di bumi.”

Ungkapan tersebut menegaskan keluasaan pengetahuan Imam Ali. Lebih mengetahui jalan-jalan di langit bukan berarti kurang mengetahui jalan-jalan di bumi. Kalau sesuatu yang jauh, sulit dilihat saja bisa diketahui, apalagi yang tampak, tentu lebih mudah.

Dengan kata lain, pengetahuan Imam Ali melintasi batas pengetahuan manusia biasa. Tentu semua itu didapat dengan upaya yang juga tak biasa.

Sebuah keniscayaan, bagi seorang pendamba jalan kebenaran akan mengikuti jejak Imam Ali. Sebagaimana mengikuti jejak Rasulullah sebagai pendahulunya.

Budaya Maulid/Milad khususnya peringatan kelahiran rasulullah sudah membudaya di Indonesia. Akan tetapi lain dengan Milad Imam Ali, yang masih jarang diperingati di negeri ini.

Memperingati Milad Imam Ali tak kalah penting dengan peringatan Milad Rasulullah. Karena hakikatnya, mengenal Imam Ali adalah jalan mengenal rasulullah (seperti sabda rasul di atas: Aku kota Ilmu, Ali adalah pintunya) dan mengenal rasulullah adalah jalan mengenal Allah.

Perlahan, peringatan Milad Imam Ali mulai bermunculan. Di Kalimantan, masyarakat Muslim dari organisasi Ahlulbait Indonesia (ABI) daerah Kalimantan Timur mengadakan Milad Imam Ali pada hari Selasa (11/4/17).

Di Kaltim, Milad Imam Ali digelar dengan tujuan mengenal sosok agung Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, sang pahlawan Khandaq dan khaibar.

Sebagai penceramah acara itu, Sayyid Thoha Musawa menyampaikan tentang kemulian dan keagungan Imam Ali. Menurutnya, proklamasi pada peristiwa Ghodir Khum merupakan bukti keagungan Imam Ali sebagai penyempurna nikmat Allah kepada hamba-NYA sebagaimana ditegaskan dalam Firman-NYA.

Sementara itu di Kalimantan Barat, peringatan Milad Imam Ali dilaksanakan hari Kamis (13/4/17). Diselenggarakan olah ABI Kalimantan Barat. Acara digelar dengan tujuan sama, yakni mengenalkan keutamaan Imam Ali, dan pentingnya menjaga persatuan. “Kita mengakui setiap kita mempunyai perbedaan. Tapi kita hidup di ruang yang sama. Toleransi itu penting untuk bekal menuju Indonesia damai,” kata Muhammad Darwin selaku ketua DPW ABI Kalimantan Barat menyampaikan pesan Milad.

Sayyid Ahmad Al-Muthahhar sebagai penyampai tausiyah saat itu menyampaikan pesan tentang ajaran Imam Ali, yakni ajaran persatuan.

Di Sulawesi, peringatan Milad Imam Ali juga digelar ormas ABI Sulawesi Selatan. Kegiatan berlangsung hari Senin (10/4/17) dengan menghadirkan Dr Hakimelahi (Direktur ICC Jakarta) sebagai penceramah.

Menurutnya, Imam Ali merupakan sosok yang memiliki semua sifat-sifat kenabian dalam dirinya.

Hakimelahi jadi1

Di Sulawesi Tenggara, Peringatan Milad Imam Ali juga digelar. Sekjen DPP ABI ustaz Ahmad Hidayat hadir menyampaikan ceramah saat itu. Beliau menerangkan, keteladanan Imam Ali patut dicontoh, khususnya dalam hal berdakwah. “Berdakwah jangan arogan, dan mengutamakan persatuan antar umat beragama,” Pesannya.

Di Jawa Timur, Peringatan Milad Imam Ali dilaksankan hari kamis (13/14/17). Acara diselenggarakan di tempat pengungsian Muslim Syiah Sampang yaitu Rumah Susun Jemundo, Sidoarjo.

Ustaz Abdillah Baabud dalam tausiyahnya di Rusun meyampaikan tentang keutamaan Imam Ali dan konsekuensi menjadi Syiah (pengikut) Imam Ali.

rusun jatim jadi 1

Sementara itu, di Jakarta peringatan Milad Imam Ali juga terselenggara di Yayasan Fatimah, Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur pada hari Sabtu (15/4/2017), dan di Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta Selatan pada hari Senin (10/4/2017) serta beberapa tempat lainnya.

Imam Ali lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/ 599 Masehi dan wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/ 661 Masehi.

Imam Ali wafat terkena sambaran pedang Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi ketika shalat subuh di masjid. Ironisnya, pembunuh Imam Ali dikenal sebagai orang Islam, umat Nabi Muhammad, serta penghafal Al-Quran.

Munculnya kelompok Islam radikal, yang jauh dari nilai-nilai kebenaran dalam Islam memang sudah tergambar sejak zaman Imam Ali. Pembunuh Imam Ali dan para penentang kebenaran berjubah Islam pada zaman itu, sudah tiada. Akan tetapi sifat dan perilaku mereka akan tetap hidup dan terwariskan kepada anak cucunya hingga kini.

Dengan berkendara hawa nafsu, gila kuasa, dan upaya menumpuk harta, para preman berjubah agama senantiasa bekerja memutarbalikkan fakta, mengadudomba, mengorbankan keutuhan bangsa, demi tercapai tujuannya.

Meneladani Imam Ali adalah meneladani jalan ilahi, yang senantiasa mengusung persatuan, dan persaudaraan sebagaimana pesan Imam, “dia yang bukan saudaramu dalam Iman, adalah saudara dalam kemanusiaan”.

(Zen/Malik)

Related posts:

IMG-20130923-WA0081Sunnah dan Syiah Deklarasikan Perdamaian antasariInilah Kejanggalan Kasus Antasari gedung-dpr20Oknum DPR Menampar Karena Tidak Sabar Masuk Lift nurkholisNegeri yang Dibajak Radikalisme

Peringatan Milad Imam Ali di STFI Sadra Jakarta

Jakarta – Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra mengadakan acara peringatan Milad Imam Ali as. Kegiatan berlangsung di Auditorium Al-Mustafa STFI Sadra Jakarta, Jum’at (21/4/17). Peringatan milad, mengambil tema ‘Membangun Karakter Pemuda atas Lahirnya Imam Ali as’.

Dr. Muhammad Babul Ulum (Ustaz Babul Ulum) selaku penceramah pada acara itu menegaskan bahwa Imam Ali bukan milik golongan tertentu. “Imam Ali as. adalah milik semua manusia,” paparnya.

Lebih lanjut ustaz Babul Ulum menerangkan, Imam Ali as memiliki keutamaan begitu tinggi, yang tidak semua orang dapat mengetahui. Imam Ali lahir di dalam ka’bah, “dan ini merupakan peristiwa langka sepanjang sejarah,” imbuhnya.

Sejak usia muda, Imam Ali as telah berjuang bersama rasulullah di berbagai medan peperangan. Selain garang di medan perang, Imam Ali as juga terkenal lemah lembut dan penuh kasih sayang. Sehingga dikatakan, Islam berdiri tegak tidak lepas dari peran harta Khadijah dan Pedang Imam Ali as, dalam membantu dakwah Rasulullah dan menghadapi musuh-musuhnya.

Kemuliaan Imam Ali as, juga dipertegas dalam sabda rasulullah saw: “Akulah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Siapa yang menginginkan kota (ilmuku), maka datangilah dari pintunya”.

“Kelahiran Imam Ali as adalah kelahiran cahaya, meskipun ditutup-tutupi, cahaya itu tetap akan bersinar. Seperti cahaya matahari yang tertutup awan, cahayanya masih bersinar,” terang ustaz Babul Ulum.

Peringatan Milad Imam Ali as ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti pembacaan puisi, penampilan nasyid, serta pementasan drama oleh mahasiswa-mahasiswi STFI Sadra. Selain itu, juga ada pengumuman juara penulisan artikel dengan tema ‘Surat Cinta untuk Imam Ali as’.

(Iid-Malik)

Related posts:

jayim Jadi1Pesan Persatuan pada Milad Imam Ali di Berbagai Daerah ustazMilad Fatimah Az Zahra di ICC Jakarta nurkholisNegeri yang Dibajak Radikalisme Perpustakaan KontainerPerpustakaan Kontainer Masyarakat Jakarta

Indonesia-Iran Jalin Kerjasama di Bidang Teknologi Nano

Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto menyerukan perluasan kerjasama dengan Iran di bidang teknologi nano.

Dalam pertemuan dengan Sekjen Dewan Pengembangan Teknologi Nano Iran, Saeid Sarkar di Jakarta, Selasa (11/4/2017) malam, Airlangga menyampaikan minat untuk memanfaatkan pengalaman dan prestasi Iran di bidang teknologi nano. Demikian dikutip kantor berita IRNA.

Ia berharap dalam kunjungan ke Tehran nanti, bisa mengetahui lebih jauh tentang kebijakan Iran di bidang teknologi nano dan menyaksikan pretasi-prestasi industri Iran.

Sementara itu, Saeid Sarkar mengatakan, salah satu tujuan Dewan Pengembangan Teknologi Nano Iran adalah membantu negara-negara Muslim dan membangun kerjasama erat dengan mereka demi memacu perkembangan teknologi nano.

“Indonesia – sebagai negara Muslim terbesar dan punya hubungan baik dengan Iran – berada dalam prioritas untuk melakukan kerjasama kolektif,” tambahnya.

Ia juga telah melakukan pertemuan dengan rektor Universitas Indonesia untuk menawarkan kerjasama pendidikan di bidang teknologi nano.

Saeid Sarkar dan rombongan tiba di Jakarta pada hari Selasa untuk membahas upaya pengembangan kerjasama Iran-RI di bidang teknologi nano.

Sumber: Pars Today

Related posts:

mahasiswa-tuntut-pelurusan-sejarah-30s-pki-kesaktian-pancasila-rev-1Mahasiswa tuntut pelurusan sejarah 30S PKI Kesaktian Pancasila Ulama dan Tokoh Masyarakat Bekasi Deklarasi Tolak ISISUlama dan Tokoh Masyarakat Bekasi Deklarasi Tolak ISIS TMIIPesan Moral Di Balik Tari Topeng Buni 41Bijak dan Cerdas Hadapi Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia (1)