Monthly Archives: January 2017

Melawan Hoax, Merawat Indonesia

Rabu (25/1), Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi mengadakan diskusi dengan tema “Strategi Menang Melawan Hoax dan Fitnah” di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi ini Unifah Rosyandi (Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia), Ahmad Mukhlis Yusuf (Pokja Revolusi Mental), Yosep Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers) dan Hariqo Wibawa Satria (Ditektur Eksekutif Komunikonten).

Unifah Rosyidi menjelaskan tentang kondisi bangsa Indonesia yang sedang dihadapkan dengan perang berita. Di dunia pendidikan, hal itu bisa mendistrosi cara berpikir sehingga berpengaruh pada mutu pendidikan. Karena itu, para guru khususnya, harus peka dalam mengendalikan rasa ingin tahu untuk dirinya dan anak didiknya.

“Meningkatkan mutu pendidikan diawali dari guru, murid dan sekolah. Guru harus menjadi insan pencerah dengan membuka ruang cara berpikir anak,” ujarnya.

Sementara Ahmad Mukhlis Yusuf menjelaskan, Revolusi Mental dan perubahannya bukan hal yang mustahil diwujudkan. Bahkan Revolusi Mental merupakan paradigma untuk melawan hoax.

Selanjutnya Yosep Adi Prasetyo menambahkan tentang sejarah maraknya hoax di Indonesia, ketika medsos (Media Sosial) menjadi sumber berita alternatif dan dianggap lebih dapat dipercaya karena berasal dari orang dekat melalui jalinan pertemanan. Sehingga tak diragukan lagi kebenaran beritanya.

“Penyebaran berita hoax di medsos dapat menenggelamkan berita fakta, sehingga medsos berubah manfaatnya yang awalnya mencari dan menemukan pertemanan, kemudian menjadi perang,” tambah Yosep Adi Prasetyo selaku Ketua Dewan Pers.

Sedangkan Hariqo Wibawa Satria menjelaskan tentang langkah untuk melawan hoax yaitu dengan mengajak masyarakat lebih aktif membuat konten yang positif sesuai bidangnya masing-masing. Salah satu contoh, di dunia pendidikan bisa dilihat berapa siswa yang aktif berpartipasi untuk memosting hasil karya tulisnya di internet. Jika tingkat partisipasi mereka rendah maka perlu terus ditingkatkan. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab Seminar Titik-Temu Sunni-SyiahGus Nuril dan GusDurian Ungkap Taktik Takfiri Incar NU yapi bangilSidang Kasus YAPI Membumikan Islam NusantaraIslam Khas Nusantara Sebuah Keniscayaan

Aksi Massa Tolak Raja Salman Al-Saud Datang ke Indonesia

Raja Arab Saudi, Salman Al-Saud dijadwalkan berkunjung ke Indonesia awal bulan Maret 2017 mendatang. Lawatan selama delapan hari dengan membawa delegasi kurang lebih 800-an orang itu dinilai sebagai kunjungan terlama dengan delegasi terbanyak.

Menanggapi rencana kunjungan tersebut, Aliansi Anti Perang (A2P), Human Rights Alliance (HRA) dan Asosiasi Pelajar Indonesia (API) beserta elemen masyarakat lainnya menggelar aksi demo di Kedutaan Besar Arab Saudi, Kuningan Jakarta Selatan.

“Kami menolak Raja Salman Al-Saud penjahat kemanusiaan di berbagai belahan dunia seperti negara Yaman, Irak, Suriah bahkan di Indonesia yang menjadi sponsor terorisme serta membiayai kegiatan terorisme dimana-mana,” ujar Ahmad Taufik selaku inisiator aksi saat orasi di depan Kedubes Saudi.

Senada Taufik, peserta aksi lain, Hertasning, mengungkapkan bahwa kerajaan Saudi layak dikutuk karena telah banyak menumpahkan darah kaum Muslimin yang ada di Suriah, Irak, Yaman bahkan seluruh dunia. Belum lagi di sisi lain, Saudi selama ini terbukti kerap berperan sebagai representasi kolonial Amerika.

“Pemerintah harus mengambil sikap. Raja Salman datang ke Indonesia dengan ratusan delegasi yang berlebihan. Dia tidak boleh datang dengan tujuan-tujuan khusus, misalnya untuk tujuan memecah-belah,” seru Tasning.

Selain diakhiri penandatanganan pernyataan menolak kedatangan Raja Salman ke Indonesia, para peserta demo menegaskan bakal terus menggelar aksi serupa secara rutin setiap minggu, bersamaan dengan momen Car Free Day. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

whatsapp-image-2016-12-28-at-15-05-34Meruwat Indonesia, Merawat NKRI Membumikan Islam NusantaraIslam Khas Nusantara Sebuah Keniscayaan Buah PirIngin Cantik dan Sehat? Makan Buah Pir! festival-Islam-Cinta-2015Festival Islam Cinta

Perang Digital dalam Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi

Pola pikir, perilaku, termasuk kebudayaan sangat erat kaitannya dengan berita dan informasi yang diterima.

“Dunia yang sudah terdigitalisasi menjadikan siapapun dapat mengakses informasi dari manapun dan kapanpun secara bebas. Indonesia, sebagai salah satu ladang media digital terbesar, jika tidak berhati-hati dalam penggunaannya maka kemungkinan kita akan di acak-acak dalam banyak bidang kehidupan secara tidak sadar.”

Demikian prolog dari Sekjen Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat dalam Diskusi Publik bertema “Perang Digital dalam Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi” yang diselenggarakan oleh DPP Ahlul Bait Indonesia di Jakarta, Sabtu (14/1).

Meski banyak manfaat dari penggunaan media digital, ternyata banyak juga kerugiannya. Ketimpangan keadilan yang berujung pada ketimpangan ekonomi adalah salah satunya.

“Perusahaan-perusahaan besar search engine, sosial media, dan e-commerce mendapat keuntungan yang sangat banyak dari iklan, tetapi tidak mau membayar pajak,” jelas Agus Sudibyo, narasumber dari Dewan Pers.

“Termasuk juga kesulitan kita mengontrol arus informasi yang terlalul bebas di media sosial, berita palsu, hoax, dan sebagainya sehingga di negara kita harus membentuk lembaga siber nasional meski juga masih blank di beberapa sisi,” tambah Agus.

Adie Marzuki, seorang Penggiat Koperasi Digital bernama Digicoop, mengatakan bahwa perang digital ini sebenarnya belum terjadi, kecuali ketika industri kita ini sudah melawan korporasi-korporasi digital raksasa seperti Google dan Facebook.

“Kita mulai membangun daya tawar kita ke korporasi-korporasi itu. Kalau membuat Google dan Facebook untuk membayar pajak saja kita masih sulit, kita belum perang, ini. Kita masih terjajah oleh perusahaan besar ini. Masih terjadi kolonialisasi digital ini, sampai mereka tunduk terhadap regulasi-regulasi yang ada di negara kita dan bukan mereka yang ciptakan,” kata Adie.

“Perang digital yang didefinisikan akhir-akhir ini saya kira kurang pas, kecuali yang terjadi ini hanyalah simptom-simptom dari peristiwa lain misalnya, pengalihan isu, atau manajemen konflik, dan sebagainya yang menggunakan media digital di ranah maya,” tambahnya.

Lebih lanjut Adie manyampaikan bahwa untuk masuk ke persaingan global, maka kita harus bisa membangun industri digital kita sendiri dulu. Sebab industri digital, termasuk di dalamnya ekonomi digital ini bukan hanya tanggung jawab pelaku-pelau industri, tetapi segenap lapisan masyarakat. Keberpihakan masyarakat ini juga yang sangat diharapkan untuk menumbuhkan industri lokal. Kita ini masih terjajah secara digital, jika kita ingin berdaulat, maka kita harus rebut kedaulatan itu. Setelah menyadarkan masyarakat bahwa kita ini terzalimi, serta sumber ekonomi dan potensi potensi kita telah diambil oleh Kapitalis secara digital. (Mujib M/Yudhi)

Related posts:

Indojalito Peduli (IJP)Jilbab Dipandang dari Berbagai Aspek nicolas-maduro-_131001224828-332Venezuela Usir Dubes AS screen-shot-2016-12-19-at-8-40-52-pmMaulid Nabi ICC Jakarta 2016 asasasaRaker III ABI: Khidmat dan Ketulusan untuk Kemajuan Organisasi

Ucapan Belasungkawa Untuk Syeikh Akbar Hashemi Rafsanjani

                                                                                                                                                                                برقية تعزية
بوفاة رئيس مجمع تشخيص مصلحة النظام
الجمهورية الإسلامية الإيرانية
سماحة حجة الإسلام والمسلمين الشيخ أكبر هاشمي رفسنجاني

                                                                                      تلقت القيادة المركزية لمنظمة أهل البيت إندونيسيا ببالغ الأسى والحزن العميقين نبأ وفاة رئيس
مجمع تشخيص مصلحة النظام بالجمهورية الإسلامية الإيرانية سماحة حجة الإسلام والمسلمين
الشيخ أكبر هاشمي رفسنجاني الذي يعد ركنا من أركان الثورة الإسلامية الإيرانية ومن مؤسسيها
وواضعي لَبِناتها الأولى والذي وقف إلى جانبها طيلة أكثر من أربعة عقود مدافعاً صامدا صابراً أمام
.كل المؤامرات والحروب والمقاطعات التي تعرضت لها الجمهورية الإسلامية

                                                                              لقد كان الشيخ رفسنجاني ابنا بارًّا للثورة الإسلامية الإيرانية وجنديا وفيا مخلصا قضى عمره الشريف
.وهو يجاهد من أجل نصرتها وتعزيز دورها في حلبة المعادلات الإقليمية والدولية

                                                                                   إننا / القيادة المركزية لمنظمة أهل البيت إندونيسيا، إذ نبتهل إلى المولى عز وجل أن يتغمد الفقيد
بواسع رحمته ويسكنه فسيح جنته ويحشره مع الأولياء والشهداء والصديقين وحسن أولئك رفيقاً
نرفع أكفنا متضرعين إلى الباري عز وجل أن يحفظ الجمهورية الإسلامية بقيادتها الحكيمة والرشيدة
سماحة الإمام القائد الخامنئي وأن يُعلي مقامه ويجعل على أيادي رجاله النصر والتمكين للمؤمنين
.وجميع المستضعفين في العالم

جاكرتا ٨ /١ /٢٠١٧

منظمة أهل البيت إندونيسيا

القيادة المركزية

 الرئيس التنفيذي

حسن العيدروس

رئيس مجلس الشورى

الدكتور عمر شهاب

Related posts:

Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab Kerja PahlawanKerja Husain, Kerja Zainab, Kerja Pahlawan Dubes-Mesir-IndonesiaAhmed El-Kewaisny: Mesir Belajar dari Indonesia img_20161130_111815-copyKonferensi Islam Galang Persatuan Islam dalam Islam Berkemajuan

Bedah Buku Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat

Dalam acara bedah buku karya Dr. Kholid Alwalid berjudul Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat, di Jakarta, Senin (9/1), Akmal Kamil dalam sambutannya mengatakan bahwa bedah buku terbitan Sadra Pers yang sedang dibedah tersebut merupakan hasil Disertasi penulis di UIN Jakarta, sedangkan Sadra International Institute telah menerbitkan dua buku hasil disertasi.

“Dalam buku ini seolah kita diantarkan mendatangi kematian. Seakan kita tidak akan takut mati, akan tetapi kita akan menjemput kematian itu,” ujar Akmal.

Penulis buku, Kholid Alwalid menjelaskan ada tiga bidang keilmuan yang terlibat dalam penulisan bukunya ini yaitu; Teologi atau Ilmu Kalam yang seluruh agama meyakini kehidupan pasca kematian, Filsafat dalam kehidupan, yang itu dibuktikan secara rasional, Irfan atau Tasawuf terkait perjalanan mengenai proses kematian.

“Dalam Filsafat juga sedang menjadi perdebatan, manusia itu akan dibangkitkan ruhnya atau fisiknya,” tambah Kholid selaku penulis buku Perjalanan Jiwa Menuju Akhirat.

Dia lalu menyimpulkan pemikiran Mulla Sadra yang mencoba menggunakan dasar filsafatnya untuk membuktikan tentang adanya ma’ad.

Selain itu dijelaskannya juga tentang kiamat dan makna akhirat, yang dalam pandangan Mulla Sadra merupakan perjalanan progresif, saat semua orang “tersingkap” sehingga tidak ada pembatas antara dirinya dengan Allah.

“Masyarakat Indonesia juga perlu membaca secara luas tentang kematian, akan tetapi Mulla Sadra telah membuktikan tentang adanya kematian setelah kehidupan,” terang Kholid.

Salah seorang Dosen STFI Sadra, Ikhlas Budiman mengapresiasi terbitnya buku karya Kholid serta mengkritisi pemikiran Mulla Sadra mengenai teori jasmani kudus dan rohani baqa’.

“Buku ini bagus untuk mengajarkan, untuk mengenal diri kita, dengan konsep pemikiran Mulla Sadra, sekaligus membantu kita membaca realitas kehidupan,” kesan Ikhlas. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Dr. Kholid Al WalidNasib Filsafat Islam Klasik Kelas Filsafat SADRALebih Dekat Mengenal Filsafat Agus PurwantoDunia Islam Mesti Kembali Pada Filsafat Dubes-Mesir-IndonesiaAhmed El-Kewaisny: Mesir Belajar dari Indonesia

Medsos Mudahkan Penyebaran Terorisme, Orangtua Wajib Lebih Waspada

Jumat (6/1), diskusi film Jihad Selfie digelar di Griya Gusdur, Jakarta. Dalam diskusi ini hadir Rizky Maulana, seorang Peneliti dari Yayasan Prasasti Perdamaian dan Windu Jusuf, Dosen Perfilman dari Binus.

Rizky Maulana menceritakan perekrutan pelaku aksi teror kerap dilakukan melalui media sosial. Tapi menurutnya yang paling penting dalam hal ini adalah peran orang tua dalam membantu anak-anaknya menghadapi pengaruh radikalisme. Demikan pula halnya dengan masyarakat, agar selalu berhati-hati dalam memilah dan memilih informasi atau isu yang beredar, serta berupaya mencari tahu lebih jauh tentang kebenarannya.

“Ada proses becoming, sehingga anak mencari komunitas yang besar dan remaja ingin mencoba dunia baru yang belum pernah dicobanya,” terang Windu terkait pola perilaku remaja dalam menyikapi upaya rekrutmen melalui media sosial dimaksud.

Usai acara, selain mengapresiasi film karya anak bangsa sendiri, ada pula tanggapan terkait belum adanya kepastian revisi undang-undang tentang terorisme oleh pemerintah sebelum disahkan DPR.

Di sisi lain, melalui diskusi film Jihad Selfie ini para peserta juga merasa makin sadar bahwa pendidikan, kasih sayang, perhatian dan pengawasan dari keluarga merupakan benteng bagi anak dan remaja yang rentan terdampak pengaruh radikalisme. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab whatsapp-image-2017-01-05-at-01-25Potret Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Tahun 2016 BOM MARRIOTT4Terorisme dan Hilangnya Motif PDIsuryadiPDI “Suryadi” Yakin Ikut Pemilu 2014

Potret Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Tahun 2016

Kamis, (5/1) The Wahid Institute mengadakan diskusi perdamaian di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan. Hadir sebagai narasumber di antaranya Jayadi Damanik (Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Komnas HAM), Awi Setiyono (Divisi Humas Polri), KH Imam Aziz (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Asfinawati dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan Engkus Ruswana (Penghayat Kepercayaan).

Awi Setiyono dalam pemaparannya menjelaskan setidaknya 25 kasus intoleransi beragama telah terjadi di tahun 2016 dengan faktor pemicu intoleransi di antaranya berupa perbedaan pemahaman dan penafsiran.

Menyambung penjelasan Awi, Damanik menambahkan gambaran umum dengan mengutip data pada tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2014 sampai 2015, dan menyatakan bahwa ada peningkatan pengaduan atas hak kebebasan beragama dan berkeyakinan di tahun 2016.

Selanjutnya Asfinawati menjelaskan tentang kerangka pikir Hak Asasi Manusia yaitu; non diskriminasi, tidak membela keyakinan atau agama, melainkan membela hak kebebasan setiap keyakinan selama tidak melakukan kekerasan atau ujaran kebencian.

“Kasus intoleransi seharusnya bukan urusan polisi, tapi merupakan urusan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan pemuka agama lainnya,” tambahnya.

Dari semua pemaparan yang disampaikan, para narasumber telah sepakat untuk lebih optimis dalam meneguhkan kebangsaan serta saling mengeratkan hubungan satu sama lain untuk menghadapi persoalan-persoalan bangsa ke depan. Dengan itu diharapkan, pada tahun 2017 ini kasus intoleransi tidak akan terjadi lagi. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab asasasaRaker III ABI: Khidmat dan Ketulusan untuk Kemajuan Organisasi bgwnPosko Korban Perahu Terbalik Dipindahkan whatsapp-image-2016-12-28-at-15-05-34Meruwat Indonesia, Merawat NKRI

1,6 Milyar Muslim Dunia: Syiah 20% Salafi 1%