Monthly Archives: December 2016

Meruwat Indonesia, Merawat NKRI

Rabu (28/12), Koordinator Nasional (Kornas) Fokal IMM, menggelar Diskusi Akhir Tahun dengan tema Meruwat Indonesia, Menjaga NKRI di Auditorium PP Muhammadiyah, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo selaku salah seorang narasumber, selain Sekum PP Muhammadiyah Suyatno dan Direktur CSIS Philips J. Vermonte.

Dalam ceramahnya Jenderal Gatot membahas beberapa permasalahan global seperti turunnya produksi minyak dunia, perubahan gaya hidup sebagai dampak adanya media sosial, krisis dan depresi ekonomi, juga terjadinya kompetisi global yang makin sengit dan tak terhindarkan. Selain itu Panglima TNI juga menyinggung hal krusial terkait ancaman nyata terorisme dan narkoba di Indonesia.

Di sela ceramahnya, Gatot juga mumutar video pendek berisi pernyataan beberapa ulama berpengaruh di Timur Tengah dalam menghadapi ISIS, di antaranya ceramah Syekh Ramadhan Al Buthi dan Syekh Ahmad Badruddin Hassun.

Dalam kesempatan itu Gatot juga berharap agar masyarakat Indonesia lebih cermat dalam mencerna dan menyikapi beragam informasi yang beredar di dunia maya dan media sosial, khususnya terkait berita palsu dan konten bernada provokatif.

“Hoax dan media sosial kadang membingungkan, memprovokasi, mengadu-domba rakyat. Menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan, serta dapat memecah-belah bangsa,” tambahnya.

” Kalau bukan rakyat Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu, siapa lagi yang akan merawat kebudayaan kita? Hanya Bhinneka Tunggal Ika lah poros permersatu bangsa,” tutupnya. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab Deklarasi Menolak ISIS di Kalbar4Dialog Nasional Mengantisipasi Gerakan ISIS Pilot Project Pengajian Jarak JauhABI Sulteng, Pilot Project Pengajian Jarak Jauh KAwin air 2Kawin Air Kabuyutan Cipageran

Raker III ABI: Khidmat dan Ketulusan untuk Kemajuan Organisasi

Minggu (25/12), DPP Ahlul Bait Indonesia (ABI) mengadakan Rapat Kerja III dan Pleno III di bilangan Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Raker bertema Khidmat dan Ketulusan untuk Kemajuan Organisasi kali ini berlangsung dengan agenda pemaparan Program Kerja oleh Lembaga Otonom—dalam hal ini Pandu Ahlulbait dan Muslimah ABI, beserta masing-masing Departemen yang ada dalam kepengurusan DPP ABI seperti Departemen Organisasi, Departemen Pendidikan dan Kader, Departemen Sosial, Seni dan Budaya, Departemen Litbang, dan Departemen Ekonomi.

Usai pemaparan masing-masing Program Kerjan oleh Lembaga Otonom dan seluruh Departemen, dilanjutkan sesi tanggapan serta apresiasi atas semua rencana Program Kerja untuk periode tahun 2017 yang akan datang.

Sebelum acara berakhir, Surat Keputusan Pengesahan atas seluruh Program Kerja dari Lembaga Otonom dan Departemen dibacakan oleh Ustaz Ahmad Hidayat selaku Sekjen Ahlul Bait Indonesia.

Dengan disahkannya Program Kerja ABI tahun 2017 tersebut, seluruh jajaran pengurus ABI menyatakan siap kembali berkhidmat dengan ketulusan demi kemajuan organisasi ABI ke depan. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

SabilulunganPeletakan Batu Pertama Tugu Kujang Kembar Kabuyutan Cipageran KAwin air 2Kawin Air Kabuyutan Cipageran Seminar Titik-Temu Sunni-SyiahGus Nuril dan GusDurian Ungkap Taktik Takfiri Incar NU Sukarno-Sang-FajarMengenang Bung Karno dan Pesan Monumental Putra Sang Fajar

Sekum MUI Sulsel Ajak Kaum Muslimin Tegakkan Ukhuwah Insaniyah

Saat memberikan sambutan dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh DPW ABI Sulsel bersama Pemkot Makassar, Sabtu (24/12), Sekretaris Umum MUI Sulsel Prof. Dr. Andi Ghalib, mengutip perkataan Imam Ali Bin Abi Thalib menyatakan bahwa puncak pengetahuan adalah toleransi. Hal ini disampaikan agar para jamaah yang hadir terus mengupayakan persatuan dengan seluruh umat manusia.

“Ukhuwah Islamiyah itu seperti susah ditegakkan. Padahal kalau kita bersatu, kekuatan Islam itu sangat besar,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa di sebagian kelompok Muslim saat ini muncul kekuatan-kekuatan radikal yang susah hidup dalam keberagaman padahal di lain pihak, bahkan Rasul diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan bukan monopoli umat Islam saja.

“Oleh karena itu, mari kita tegakkan ukhuwah dengan semua insan karena Rasulullah datang sebagai perwujudan kasih sayang kepada dunia,” ajaknya kepada 300 lebih hadirin di Hotel Asira Makassar.

Sementara Mursyid Tareqat Khalwatiyah Zaman, Dr. Ruslan Wahab, yang juga merupakan Ketua Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel, dalam ceramah inti, mengindikasikan bahwa munculnya kekuatan-kekuatan radikal dikarenakan kelompok tersebut tidak mengenal Nabi Muhammad dengan sebenar-benarnya.

“Ada yang mengenal Nabi secara bashar saja, bahwa beliau hanya manusia biasa saja. Ini tak lebih seperti pendekatan Abu Jahal kepada Nabi. Ada juga yang mengenal Nabi secara ilmiah saja lewat bacaan-bacaan, referensi-referensi,” tambahnya.

Namun, lanjutnya, mengutip hadis Shahih Muslim jilid 4 halaman 82, ada pendekatan lain seperti yang dilakukan Ummu Sulaim kepada Nabi.

“Ummu Sulaim mengelap keringat Nabi untuk dijadikan obat bagi sakit anaknya. Hal seperti ini pastilah sekarang sudah dianggap bid’ah, padahal ini muncul karena kecintaan dan penghormatan yang mendalam kepada Nabi,” terangnya.

Dicontohkannya juga Bilal yang mengambil sisa-sisa air wudhu Nabi sampai tak tersisa, yang merupakan tanda cinta dan kekaguman Bilal kepada Nabi.

“Sekarang ini muncul kelompok-kelompok yang berusaha memecah-belah umat, yang berusaha menghukumi apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat semacam itu adalah bid’ah. Maulid juga bid’ah, barzanji bid’ah, tasawuf bid’ah dan lain-lain, padahal ilmu fikih secara definitif juga tidak ada pada zaman Nabi. Demikian juga ilmu tasawuf secara definitif tidak ada pada zaman Nabi. Namun semua secara nyata dilakukan Nabi,” tambah Dr Ruslan.

Senada harapan para tokoh tersebut, sejak jauh hari sebelumnya DPW ABI Sulsel selaku panitia acara memang sudah berusaha agar ukhuwah Insaniyah sebagaimana dimaksud dapat benar-benar terwujud dalam acara Maulid Nabi kali ini. Untuk itu undangan sengaja disebarkan ke semua elemen masyarakat sehingga saat acara berlangsung, banyak perwakilan masyarakat dari berbagai golongan hadir; seperti dari Muhammadiyah, NU, Syiah, Ahmadiyah, bahkan Konghucu. (Mustajib/Yudhi

Related posts:

(dua dari kiri) Ustaz Hassan Alaydrus, Ustaz Jalaluddin Rakhmat, dan Kyai Alawi Nurul Alam al BantaniMaulid Bersama: Bukti Kokoh Ukhuwah Sunni-Syiah Dialog Sunnah-Syiah di Kepulauan RiauPotret “Dialog” Sunnah-Syiah di Kepulauan Riau Tugu JogjaJaga Yogya Tetap Beradab dan Toleran, Makaryo Surati MUI Maulid Nabi di YAPI Kokohkan Ukhuwah Syiah-SunniMaulid Nabi di YAPI Kokohkan Ukhuwah Syiah-Sunni

Ngaji Gus Dur: Menebar Damai, Menuai Rahmat

Jumat (23/12), peringatan 7 tahun wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mantan Presiden Republik Indonesia ke-4 digelar oleh keluarga besar Gus Dur di kediamannya, kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan.

Peringatan wafat atau haul ini dihadiri beberapa kalangan, baik aparat pemerintah, tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Tak terkecuali Presiden Republik Indonesia Joko Widodo beserta jajaran kabinetnya.

Agenda acara diisi dengan pembacaan Al-Quran, tahlil dan doa, pembacaan puisi, atraksi lukisan bayang pasir tebang sejarah hidup Gus Dur dan pembacaan ikrar damai umat beragama yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa pemuka agama lainnya.

Setelah dibacakan dan ditandatangani oleh para tokoh lintas agama, ikrar damai yang disebut Ikrar Ciganjur tersebut selanjutnya diserahkan secara simbolis kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

(dua dari kiri) Ustaz Hassan Alaydrus, Ustaz Jalaluddin Rakhmat, dan Kyai Alawi Nurul Alam al BantaniMaulid Bersama: Bukti Kokoh Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia Darurat HAM Dialog GusDurian: Sunni-Syiah Wajib BersatuDialog GusDurian: Sunni-Syiah Wajib Bersatu Penembakan di Paniai PapuaAksi Koalisi Peduli HAM Papua Tuntut Keadilan di Bundaran HI

Khotbah Jumat ICC 23 Desember 2016

Khutabah Jumat di ICC pada tanggal 23 November 2016 yang dipimpin oleh Ustaz Hafidz Al-kaff yang menceritakan Rasulullah SAW. dalam puncak ketakwaannya yang tidak mampu di goda oleh iblis.

selain itu beliau menceritakan biografi Imam Ja’far yang mmemiliki kesempatan emas untuk menyampaikan ilmu dari Rasulullah SAW.

Related posts:

Rahasia Seputar Malam Nisyfu Sya'banMaulid Nabi di ICC screen-shot-2016-12-19-at-8-40-52-pmMaulid Nabi ICC Jakarta 2016 wwwwwwwwDPW ABI Sulsel Gelar Acara Maulid Nabi Muhammad Saw Bersama Pemkot Makassar ArbaeenUsaha Menghentikan Peziarah Abi Abdillah

DPW ABI Sulsel Gelar Acara Maulid Nabi Muhammad Saw Bersama Pemkot Makassar

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) ABI Sulsel bersama Pemkot Makassar mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Hotel Asyra Makassar, Sabtu (24/12).

Acara ini dihadiri oleh Sekretrasi MUI Sulawesi Selatan Prof. Dr. Ghalib, Ketua Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel Dr. Ruslan Wahab LC MA yang juga Mursyid Tariqat Khalwatiyah Samman dan juga elemen-elemen dari NU, Ansor, Gusdurian, Ahmadiyah dan bahkan dari Konghucu.

Semula acara direncanakan akan digelar di ruang Rujab Wali Kota Makassar, tapi karena mendadak ada kegiatan lain, maka dipindahkan di ruang meeting Hotel Asyra.

“Bapak Wali Kota menyatakan permintaan maaf tidak bisa hadir dalam acara ini karena ada kegiatan lain,” ujar Kasi Kesra kota Makassar, Syarifuddin, dalam sambutannya, mewakili Pemkot di hadapan lebih 300 orang yang menghadiri acara tersebut.

Dalam sambutan tertulisnya, Wali Kota Makassar Danny Pomanto, menyampaikan apresiasinya kepada Keluarga Besar Ahlul Bait Indonesia yang selama ini telah terlibat aktif membangun kebersamaan, dan telah membawa kemaslahatan dan kesejahteraan bagi umat.

“Kita patut meneladani buah pikiran yang cerdas dan jernih, ucapan yang santun dan lembut, serta tindakan yang arif dan bijaksana dari Rasullullah. Itulah perilaku yang diwarnai oleh akhlak mulia,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Ahlul Bait Indonesia, Ustaz Ahmad Hidayat, dalam ceramah inti juga menegaskan bahwa tujuan kehadiran Nabi Muhammad diutus ke dunia ini adalah agar kita memiliki akhlak mulia.

“Apakah orang yang menyemaikan kebencian dan permusuhan termasuk orang-orang yang akhlaknya mulia, Ibu-ibu, Bapak-bapak?“ tanya Ustaz Ahmad kepada hadirin.

Dia menyayangkan kondisi terkini, ketika masih banyak anggota masyarakat yang atas nama agama, atas nama Allah, tapi pekerjaannya menebarkan kebencian, tidak toleran, menyebar fitnah, dan melakukan kekerasan atas nama agama.

“Orang-orang yang mengatasnamakan Tuhan untuk menyebarkan kebencian, sesumgguhnya bertentangan dengan ajaran suci Islam,” tegasnya.

Padahal menurutnya, Islam datang untuk membawa kedamaian, sebagai rahmat, sebagai kasih sayang kepada seluruh makhluk di dunia.

“Yang disebut akhlak mulia kalau membawa kedamaian. Damai dengan keluarga, dengan tetangga, dengan anak-anak dan seluruh umat manusia,” tegasnya.

Oleh karena itu dalam pesannya, Ahmad Hidayat mengimbau kepada para orang tua untuk berhati-hati dengan halaqah-halaqah, pengajian-pengajian yang mengajarkan paham ekstrem, yang muatan ceramahnya selalu tentang pengkafiran, bid’ah dan menebarkan kebencian.

“Kalau Bapak-Ibu biarkan, orang tua sendiri nanti bisa juga dikafirkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, atas nama seluruh jajaran pengurus ABI di seluruh Indonesia, Sekjen ABI juga menyampaikan penghargaan, rasa terima kash dan apresiasi mendalam atas upaya Pemkot Makassar yang telah memberikan dukungan sehingga acara Maulid bersama tersebut berjalan aman dan lancar. (Mustajib/Yudhi)

Related posts:

Rahasia Seputar Malam Nisyfu Sya'banMaulid Nabi di ICC bagaaKhotbah Jumat ICC 23 Desember 2016 UntitledAktivis Persis: Rasionalitas dan Akhlakul Karimah, Sendi Dakwah Islam screen-shot-2016-12-19-at-8-40-52-pmMaulid Nabi ICC Jakarta 2016

Diskusi Keragaman Lintas Agama dan Organisasi

Menyikapi kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang sedang mengalami persoalan cukup memprihatinkan terutama terkait maraknya aksi-aksi intoleran terhadap kaum minoritas, Rabu (21/12) Setara Institut pun menggelar diskusi di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta Pusat.

Dipimpin Direktur Setara Institut Ismail Hasani, turut hadir dalam diskusi ini Silvana selaku staf Kepresidenan, juga ada perwakilan dari Khonghucu, Hindu, Baha’i, Gafatar, PGI, NU, Ahmadiyah dan Syiah.

Banyak hal dibahas dalam diskusi tersebut, di antaranya tentang kondisi keabsahan agama atau kepercayaan, penentuan hak pemeluk kepercayaan, mengelola kerja dalam skala kecil dan rekomendasi dalam jangka pendek hingga jangka panjang.

Selama diskusi berlangsung, banyak cerita, tanggapan dan masukan dari perwakilan penganut agama dan perwakilan organisasi yang hadir, antara lain menyangkut hak-hak layanan publik untuk penghayat yang belum dipenuhi, begitu juga halnya dengan layanan pendidikan. Selain itu, diungkap pula masih adanya stigma buruk terhadap penghayat. Harapannya pemerintah bisa bersikap netral sehingga tidak berpihak kepada suatu kepercayaan saja. Karena itu dipandang perlu adanya sosialisasi tentang suatu kepercayaan yang bisa membantu masyarakat lebih terbuka menerima perbedaan.

Menanggapi semua rekomendasi itu, Silvana berjanji akan menyampaikan beragam tanggapan dari berbagai pihak yang sudah di sampaikan dalam diskusi kepada forum Staf Kepresidenan. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Perlak Aceh 2Kerajaan Perlak, Kerajaan Islam Indonesia yang Pertama 7653_17064Saningwar : Warga Sunni Ajak Pulang Pengungsi Syiah Screen Shot 2013-12-30 at 2.41.06 PMAlissa Wahid: Negara Wajib Tegakkan Keadilan Untuk Semua ICRPDr. Iftikhar: Konsep Mayoritas-Minoritas Itu Menyesatkan

Maulid Nabi ICC Jakarta 2016

Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Selatan (16/12), menceritakan sosok baginda Rasulullah SAW. Beliau menjelaskan diantara lain tugas Rasulullah adalah membimbing, dan menyampaikan serta membenahi kekeliruan yang ada dan menjaga ketenangan semua umat.

Adapun 3 poin penting dalam dakwah Rasulullah adalah kebebasan, ketentraman dan kenyamanan serta ukhuwah mengajak persaudaraan.

Related posts:

Rahasia Seputar Malam Nisyfu Sya'banMaulid Nabi di ICC ABI Press_Peringatan Maulid Nabi oleh Paguyuban Sabilulungan di BandungIsra’ Mi’raj ICC: Umat Agung Manifestasi Manusia Agung Agresi Saudi ke YamanBuya: Agresi Saudi ke Yaman Murni Politik Revolusi-MentalMaulid Nabi, Momentum Tegaskan Islam Itu Damai

Sambutan Wakil Ketua Komnas Perempuan

(15/12) Dalam rangka pemenuhan HAM dan Hak Konstitusional Perempuan wakil ketua KOMNAS PEREMPUAN oleh Yuniyanti chuzaifah memeberi sambutan untuk berlangsungnya acara ini.

Dalam sambutanya beliau mengatakan bahwa intoleransi adalah isu yang harus diperhatikan oleh masyarakat Indonesia serta membangun dan merawat Bhineka Tunggal Ika.

Related posts:

Takfirisme dan ZionismeTakfirisme dan Zionisme IMG_4743Peringatan Yaumul Quds Serentak di 12 Kota Besar Indonesia Umar-ShahabTafsir Quran Ramdhan ICC Bersama Ustaz Umar Shahab Al-Quds-Surabaya-2Al Quds Day; Jakarta, Semarang dan Surabaya

Mengelola Keberagaman Meneguhkan Keindonesiaan

Kamis (8/12), dalam rangka HUT LIPI ke-50 Kedeputian IPSK LIPI mengadakan acara dialog kebangsaan pertama di auditorium LIPI, Jakarta Selatan.

Dioalog ini dinarasumberi oleh Prof. Dr. Syamsuddin Haris yang berbicara tentang Politik, Keberagaman dan Kebangsaan, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat memaparkan tentang Problematika Kebangsaan dan Yenny Wahid yang bicara soal Konservatisme Agama, Toleransi dan Keindonesiaan.

Yenny Wahid menyampaikan hasil survei bahwa 7,7% masyarakat Indonesia berpotensi akan melakukan tindakan radikal dan 8,3% masyarakat Indonesia cenderung menolak tindakan radikal. Menurutnya, pada kondisi survei seperti itu Indonesia masih aman. Namun jika 11 juta orang yang berpotensi melakukan tindakan radikal itu terus dibiarkan maka hal ini harus menjadi peringatan bagi masyarakat Indonesia untuk mencegah tindakan massif yang membahayakan keselamatan bangsa dan negara.

“Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sudah final dan layak kita pertahankan mati-matian,” tekan putri almarhum Gus Dur itu.

Selanjutnya Komaruddin Hidayat menambahkan di negara Indonesia yang pada awalnya dijajah Belanda, dari wilayah Papua sampai Sumatra hingga saat ini masalah hubungan agama dan negara belum tuntas. Hal ini berbeda dengan negara-negara Barat yang menganggap agama murni urusan pribadi karena hukum yang mereka pakai adalah hukum positif.

Dalam kesempatan yang sama Komaruddin juga menyitir pendapat Ibnu Khaldun terkait tipe-tipe pemimipin.

“Setidaknya ada empat macam tipe pemimpin negara yaitu; pendiri, pembangun, penikmat dan perusak,” terang Komaruddin.

Sedangkan Syamsuddin Haris menjelaskan bahwa spirit Nasionalisme Indonesia itu berbasiskan keberagaman. Karena itu perlu diperhatikan bagaimana caranya setiap warga bangsa mampu berkiprah di Indonesia dalam suasana kemajemukan berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Diakuinya bahwa di satu pihak keberagaman dapat menjadi anugerah namun di sisi lain keberagaman juga berpotensi menjadi musibah jika kita tidak mampu merawat dan menjaga keberagaman itu kedepan. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Komunitas SaliharaIslam dan Spirit Kapitalisme ABI Press_Nelayan Ujung KulonSujud Syukur Damo Usai Divonis Bebas Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf whatsapp-image-2016-12-07-at-06-3232 Tahun Kiprah Sanggar Bougenville Lestarikan Budaya dan Ukir Prestasi