Monthly Archives: November 2016

DPW ABI Kalbar Gelar Haul, Tekankan Kembali Peran Ulama sebagai Pewaris Nabi

Sabtu, (27/11) Yayasan Amirul Mukminin dan Dewan Pengurus Wilayah Ahlul Bait Indonesia Kalimantan Barat menyelenggarakan Haul Nabi Muhammad saw di Gedung Pusat Kajian Yayasan Amirul Mukminin, Jl. Tanjung Raya I Komplek Keraton Kadriah No. 14 Pontianak Timur.

Acara tersebut diawali pembacaan salam kepada Nabi Muhammad saw dipimpin Ustaz Fathan Mun’im MA, kemudian disusul dengan pembacaan manakib atau riwayat singkat Nabi Muhammad saw.

Ustaz Syarif Muhammad Fadhlullah selaku penceramah dalam acara tersebut menyampaikan tentang posisi Rasulullah saw sebagai utusan Allah, sehingga kita tidak boleh ragu akan posisi tersebut, Allah telah memposisikan Muhammad saw di muka bumi ini (sebagai Nabi, Rasul, dan Imam) bukan pilihan manusia melainkan pilihan Allah.

“Rasulullah saw adalah utusan Allah yang pasti sangat istimewa, sebab Allah sendiri yang memilih beliau. Pilihan ini pasti benar dan mustahil keliru,” tekannya.

Menurutnya, Nabi wajib suci karena dia adalah utusan Allah. Maka Nabi mustahil berbuat salah. Jika saat ini ada sebagian pihak yang mengatakan Nabi berbuat salah dan justru Sahabat Nabi yang benar, padahal Rasulullah saw adalah pemilik akhlak yang agung, maka ini adalah sebentuk upaya penyesatan di tengah umat.

Rasul memang bukan malaikat, beliau manusia, namun bukan manusia biasa. Karena beliau adalah manusia yang lebih agung dari para malaikat.

Dikatakan pula bahwa Rasul sangat memikirkan nasib umatnya. Kesusahan umatnya menjadi perhatiannya. Sehingga sampai saat menjelang beliau wafat, yang disebut adalah “ummati, ummati, ummati”.

Dalam salah satu riwayat, ketika Allah bertanya, apa yang membuat Rasul ridha, adalah jika tidak ada satupun dari umatnya yang masuk neraka.

Rasul juga berharap agar umatnya menjadi pengasih dan penyayang. Bukan menjadi bengis, kejam, pembenci, dan kasar.

Dalam kesempatan itu, disampaikan juga tugas dan posisi Nabi Muhammad saw menurut Alquran, di antaranya: menjadi Rasul, memikirkan nasib umat, berperangai pengasih dan penyayang, sebagai saksi di dunia dan akhirat, menyampaikan berita-berita gembira, menyampaikan ancaman dan peringatan, sebagai pendakwah atau da’i, penyampai risalah atau apa saja yang datang dari Allah, mengantarkan dan membimbing manusia kepada jalan yang benar menuju Allah. Juga sebagai cahaya yang menerangi dalam artian memberikan kejelasan dan petunjuk, sebagai Rasul yang diutus untuk semua manusia dan bukan untuk golongan tertentu saja.

Terkait posisi ulama sebagai pewaris para Nabi, maka konsekuensi tugas dan tanggungjawab serupa Rasulullah juga harus ditunaikan. Jika tidak, maka seseorang tak layak disebut ulama yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana Rasul memposisikan dirinya di hadapan Allah dan umatnya? Berikut ini beberapa pernyataan dari beliau saw:
1. Aku adalah didikan Allah (Guru beliau adalah Allah), dan Ali adalah didikanku. Aku dididik Tuhanku dengan sebaik-baik pendidikan.
2. Aku rahmat yg memberikan petunjuk.
3. Aku adalah orang diharapkan oleh Ibrahim ketika membangun Ka’bah.
4. Aku adalah penghulu semua manusia dan aku tidak sombong.
5. Aku adalah penghulu para Rasul dan pemimpin para Nabi dan aku tidak sombong.
6. Akulah orang yang pertama memberi syafaat.
7. Aku orang yang paling kenal kalian dan Allah.
8. Tidak ada ciptaan yang lebih baik dariku.
9. Ada beberapa hal yang tidak diberikan kepada nabi yang lain, tapi Allah berikan untukku, yaitu: diutus untuk bangsa manusia seluruhnya, diizinkan untuk sujud dimana saja, dihalalkan bagiku harta rampasan perang, satu kalimat yang singkat tapi padat punya bobot yang luar biasa, diberi Alquran, bangun sepanjang malam untuk beribadah sampai kaki bengkak.

Bagaimana pula Imam Ali mempromisikan dirinya di hadapan Rasulullah? Imam Ali di hadapan Rasulullah saw hanya sami’na wa atha’na (aku dengar dan taat), sebab Imam Ali merasa dirinya hanya sebagai “budak” Rasulullah.

Selain itu dijelaskan pula tentang konsep Wilayatul Faqih sebagai representasi tugas kepemimpinan ulama sebagai pewaris Nabi.

Di akhir ceramahnya, Ustaz Syarif menyimpulkan bahwa posisi Nabi saw sebagai Rasul atau Utusan Allah, posisi Imam Ali sebagai penerus kepemimpinan umat pasca Nabi, dan posisi Wali Faqih sebagai representasi kepemimpinan para Imam Ahlulbait.

Terakhir, acara haul Nabi Muhammad saw itu ditutup dengan pembacaan doa ziarah yang dipimpin Ustaz Husein Afif. (Hakim/Yudhi)

Related posts:

Sayyid Musawi (Atas 2 dr kiri)Sayyid Musawi: Syarat Utama Qurban adalah Takwa Pesan PersatuanPesan Persatuan dari Milad Sayidah Fatimah Az Zahra di Bondowoso ABI-Sulteng-BerbagiJelang Idulfitri ABI Sulteng Berbagi muktamar-nu-ke-33-ABI-PressJokowi: Islam Nusantara Role Model Islam Damai

Dr. Khamami Zada: Jangan Sampai Indonesia Alami Nasib seperti Suriah

Jumat (25/11), LAKPESDAM PBNU mengadakan diskusi yang mengambil tema “Membendung Arus Sektarianisme; Konflik Timur Tengah Perspektif Indonesia” di Perpustakaan PBNU, Jakarta.

Dalam diskusi ini turut hadir sebagai narasumber Dr. Khamami Zada yang sebelumnya aktif menulis mengenai terorisme dan peneliti dari IPAC.

Khamami menceritakan tentang kondisi di negara Eropa saat terjadi aksi terorisme dan banjir pengungsi dari Suriah, selain menanggapi upaya deradikalisasi oleh BNPT yang tidak sepenuhnya bisa menghadang “mujahidin” yang kembali dari Suriah.

“BNPT belum berhasil, khususnya dalam mengubah perilaku pelaku terorisme dari Suriah. Maka harapannya, pemerintah bisa menyusun konsep deradikalisasi yang lebih baik lagi,” harapnya.

Peneliti IPAC ini juga menceritakan tentang awal terbentuknya ISIS yang menimbulkan dua narasi besar, yaitu anti Syiah dan akhir zaman, sekaligus menceritakan motivasi ikut jihad selain karena motif keyakinan atas nilai-nilai kebaikan, ada juga yang hanya karena ingin merasakan keterlibatan di medan perang saja.

“Pelajaran yang bisa diambil untuk Indonesia adalah selain adanya hasutan SARA, jangan sampai Indonesia kedepannya mengalami kondisi yang sama akibat aksi para pelaku teror seperti di Suriah,” tambahnya.

Sebelum acara ditutup, narasumber menanggapi pertanyaan peserta diskusi terkait ancaman kebangsaan dan isu-isu terorisme di Indonesia. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Sayyid Musawi (Atas 2 dr kiri)Sayyid Musawi: Syarat Utama Qurban adalah Takwa ABI-Sulteng-BerbagiJelang Idulfitri ABI Sulteng Berbagi muktamar-nu-ke-33-ABI-PressJokowi: Islam Nusantara Role Model Islam Damai Kemenang-Pontianak-2Buka Rakerda Kanwil Depag Kalbar, Menag Tekankan Jajarannya Update Isu-Isu Aktual Keagamaan

Menag Tekankan Pentingnya Kebhinekaan untuk Integrasi Bangsa

Kamis, (24/11) Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menyelenggarakan Seminar yang mengambil tema “Peran Universitas dalam Kebhinekaan” di Auditorium Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.

Dalam seminar hadir beberapa narasumber yaitu Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama Republik Indonesia), Turro Selrits  Wongkaren (Direktur Lembaga Demografi FEB UI), Bagus Takwin (Dosen Fakultas Psikologi), Arief Budhy Hardono (Ketua Alumni UI) dan Gadis Arivia (Pendiri Yayasan Jurnalis Perempuan).

Lukman Hakim dalam pemaparannya tentang kondisi kebhinekaan di Indonesia menjelaskan cara pandang kebhinekaan dalam konteks agama adalah cara Tuhan memberikan manfaat kepada manusia untuk bisa menghormati perbedaan masing-masing karena terjadinya perbedaan itu sendiri dalam makna positif untuk berintegrasi bukan saling menegasikan.

“Adanya keragaman yang kita temui harus kita ambil hikmahnya dan perbedaan harus menjadi kesatuan serta menguatkan dalam kebangsaan kita,” tambahnya.

Terkait adanya teknologi informasi yang bisa mengubah cara pandang agama dan cara pandang kebhinekaan, Lukman Hakim mengimbau bagi lembaga perguruan tinggi dan para dosen untuk memperkuat kebhinekaan dan membuat metodologi multukulturalisme yang baik yang kedepannya bisa menangkal isu-isu anti kebhinekaan.

Selanjutnya acara ditutup dengan pemberian plakat dan cindera mata oleh Dekan Fakultas Psikologi kepada Menteri Agama Republik Indoneaia dan narasumber lainnya. (Zainudin/Yudhi)⁠⁠⁠⁠

Related posts:

Romo-Magniz-GusdurRomo Magniz: Gus Dur Toleran Karena Keislamannya Kuat Tasawuf-dan-Tantangan-Dunia-ModernTasawuf dan Tantangan Dunia Modern Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf Strategi-Walisongo-Sebarkan-Islam-NusantaraStrategi Walisongo Sebarkan Islam Nusantara

Perempuan dan Hukum Islam

Kamis, (17/11) Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra mengadakan kuliah umum bertema Redefenisi Perempuan dalam Hukum Islam di Audiotorium Al Mustafa STFI Sadra, Jakarta Selatan.

Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Hasan Rahim Pour Azqadi dan penerjemah Ustaz Abdullah Beik yang beberapa waktu sebelumnya menyampaikan materi di Konferensi Pers Internasional.

Pada kesempatan pertama dijelaskan isu perempuan yang dalam Islam sudah menjadi objek pembicaraan antara laki-laki dan perempuan. Diulas pula perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan dari sikap sosial dan ada beberapa hal perempuan lebih dari laki-laki, begitu juga sebaliknya.

“Dalam soal ekonomi, perempuan dan laki-laki memiliki posisi yang sama namun dalam hukum waris perempuan mendapat bagian lebih sedikit dari laki-laki. Hal itu bukan karena laki-laki mengkonsumsi lebih banyak melainkan karena dia punya hak untuk menafkahi istri dan anaknya. Namun dalam hal yang sama, jika perempuan memiliki penghasilan pun, dia tidak punya hak untuk menafkahi suami dan anaknya. Itulah kelebihan dari perempuan,” tambahnya.

“Alquran ingin menjelaskan bahwa ada perbedaan namun bukan dalam rangka saling membanggakan dan melecehkan, namun masing-masing akan dinilai sesuai usahanya. Kenapa Tuhan menciptakan kita seperti itu? Karena ada tugas yang beda, meski sebagian ada yang bisa dilakukan oleh keduanya, namun tetap beda kualitasnya,” tutupnya.

Usai memaparkan materinya, narasumber merespon beberapa tanggapan dan menjawab pertanyaaan peserta. Setelah itu acara diakhiri dengan sesi foto bersama. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

 Teladan Ukhuwah Guru Besar Imam 4 Mazhab STFI ShadraSekolah Filsafat Hikmah Muta’aliyah STFI Sadra Kelas Filsafat SADRALebih Dekat Mengenal Filsafat Pandangan Islam tentang PengemisPengemis Dalam Sudut Pandang Islam

Pementasan Teater Panglima Akbar: Upaya Pelestarian Kesenian Mendu dan Apresiasi terhadap Seniman Melayu

pementasan-teater-panglima-akbar-upaya-pelestarian-kesenian-mendu-dan-apresiasi-terhadap-seniman-melayu-2Komunitas Teater Mata menampilkan teater Mendu yang merupakan seni teater khas Melayu di gedung pementasan teater Taman Budaya Kalimantan Barat, Jl. A.Yani I Pontianak. Kamis (17/11).

Penampilan teater ini mengusung tema “Panglima Akbar”. Menariknya, tiga hal penting yang disampaikan dalam teater tersebut ialah apresiasi, historis, dan kekuasaan.

Semuanya dibalut dalam adegan demi adegan historik, meskipun dibumbui dengan aroma-aroma kontemporer agar tetap mengikuti perkembangan zaman yang ada.

Ilham Setia selaku sutradara mengatakan bahwa apresiasi, adalah harga mati bagi seniman untuk saat ini.

“Konsistensi yang ditunjukkan, meskipun tidak pernah mendapat timbal balik yang jelas, para seniman tetap berusaha menggelar panggung,  sekaligus juga menjadi pelaku-pelaku seni di Tanah Air tercinta ini,” tuturnya.

“Kemelayuan, menjadi ciri khas tersendiri dari pementasan ini, selain dialek-dialek Melayu fasih dari para aktor,” tambah Ilham.

“Dalam kesenian Mendu kita bisa belajar bahwa perebutan takhta kepemimpinan bisa tetap terjadi,” jelas Ilham.

“Saat ini, juga bisa kita lihat sendiri perebutan takhta kekuasaan menjadi problematika pelik di tengah-tengah masyarakat.”

“Belajar dari itu, haus akan kekuasaan hanya menambah rentetan panjang penderitaan,” lanjut Ilham.

Selain itu, tata ruang maupun properti panggung bernuansa kerajaan Melayu turut menjadi ciri khas yang menunjukkan adanya kearifan lokal.

Terkait kesenian Mendu yang berasal dari Mempawah sudah bukan hal baru di Kalimantan Barat. Mendu merupakan kesenian Melayu yang telah diakui oleh negara sebagai warisan Kalimantan Barat bersama Kepulauan Riau 2014 silam.

Mendu merupakan bentuk teater yang mengkombinasikan seni tari, drama, silat dan berladon atau nyanyian yang berisi pantun-pantun yang disampaikan oleh satu pemain ke pemain lain secara bergantian.

Teater Mendu syarat dengan kisah-kisah kerajaan seperti Kisah 1001 Malam, Kisah Zainal Abidin Raja Kebayan, Indra Bangsawan dan lain-lain.

Di akhir acara, Ilham Setia mengajak seluruh penonton yang hadir untuk mendoakan para pendahulu dari pelaku kesenian Mendu. (Hakim/Yudhi)

Related posts:

ABI Press_Desa PanjaluNyangku: Merawat Tradisi, Introspeksi Diri  ABI Press_KOBASepeda Onthel Masih Eksis di Jakarta SabilulunganPeletakan Batu Pertama Tugu Kujang Kembar Kabuyutan Cipageran KAwin air 2Kawin Air Kabuyutan Cipageran

Prof. Hasan Rahim Pour: Cegah Hegemoni Musuh Islam dengan Persatuan dan Berpegang pada Alquran-Hadis

Kamis, (17/11) pada pukul 09.00-12.00 WIB, Thoughts on Human Sciences in Islam (IC-THUSI) mengadakan The Third Internasional Conference yang diselenggarakan di STFI-SADRA Jakarta Selatan, di antaranya untuk menyikapi pandangan-pandangan miring terhadap Islam.

Salah satu narasumber dalam konferensi ini adalah Prof. Dr. Hasan Rahim Pour Azqadi yang merupakan Direktur Lembaga Riset untuk Peradaban Islam Teheran.

Pada sesi pertama Hasan menjelaskan secara singkat arti dan sebab kata Syiah dan Sunni digunakan. Menurutnya, Syiah dan Sunni memiliki persamaan dalam banyak hal, baik dalam hal shalat, puasa, zakat, dan haji, begitu juga hukum-hukum lainya. Meski demikian, ada pula beberapa perbedaan pandangan yang bisa diselesaikan dengan dialog yang sehat.

“Tapi musuh Islam lah yang kerap menebar benih permusuhan dengan menciptakan dan merekayasa opini agar para ulama Sunni dan Syiah terkesan seolah bermusuhan sehingga memperkeruh suasana demi melanggengkan kekuasaan mereka (musuh Islam-red) sebagai rezim,” tambahnya.

“Selama kaum Muslimin bersatu dan berpegang teguh dengan Alquran dan Hadis Nabi maka musuh tidak akan bisa lagi menghegemoni mereka,” pungkasnya.

Sebelum acara berakhir, berlangsung sesi tanya jawab yang disambut antusias para peserta. Terutama pertanyaan terkait tuduhan miring terhadap Islam sebagai agama teror,  langkah-langkah menghadapi dekadensi moral dan pengaruh ISIS.

Selanjutnya acara ditutup dengan Shalat Zuhur dan makan siang bersama. (Zainudin/Yudhi)

Related posts:

Aula Terapung Universitas IndonesiaPopulerkan Islam Damai Untuk Indonesia Diskusi-utan-KayuFenomena Ateisme Arab: Tantangan Baru Umat Islam Milad-Imam-MusaHikmah Milad Imam Musa Kazhim as SabilulunganSabilulungan: Selami Budaya Nusantara Kembalikan Islam Damai Di Tengah Umat

Khatulistiwa Berdoa: Aksi 1000 Lilin untuk Intan Olivia

Aksi 1000 Lilin, Intan Olivia

Aksi 1000 lilin untuk Intan-Olivia (korban bom Gereja di Samarinda)

Sejumlah pemuda dari berbagai organisasi menggelar aksi 1000 lilin untuk Intan Olivia korban meninggal akibat bom di Gereja Oikumene Samarinda di Bundaran Digulis Pontianak, Selasa (15/11/) malam.

Aksi ini mengusung tema Khatulistiwa Berdoa, pesan damai dari Kota Khatulistiwa yang diinisiasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kalimantan Barat.

Beberapa organisasi kepemudaan yang hadir di antaranya GMKI, GMNI, PMII, PMKRI, Ikatan Alumni Bujang Dara Gawai Dayak dan organisasi kemahasiswaan lainnya.

Selain pemuda, tampak pula beberapa warga dan anak-anak hadir dalam aksi damai 1000 lilin untuk Intan Olivia.

Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan mengheningkan cipta, pembacaan puisi dan doa bersama 3 agama yakni Islam, Katolik dan Kristen.

Ketua GMKI Cabang Pontianak Kaleb Elevensi mengatakan, aksi ini dilatarbelakangi kejadian di Indonesia yang saat ini kerap mengalami teror dengan tujuan memecah-belah NKRI.

“Puncaknya aksi teror di Gereja Oikumene Samarinda yang menyasar anak-anak. Kemudian Vihara di Kota Singkawang dan Gereja Katolik di Malang,” jelasnya.

Aksi ini kata Kaleb juga ingin menyampaikan bahwa masyarakat di Kota Pontianak bisa hidup berdampingan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (Hakim/Yudhi)

Khatulistiwa Berdoa, Aksi 1000 lilin, Bom Gereja di Samarinda

Khatulistiwa Berdoa: Aksi 1000 lilin untuk Intan-Olivia (korban bom Gereja di Samarinda)

Related posts:

Hadad-AlwiGema Shalawat Bersama Haddad Hibah-Quran-KalbarPasca Ramadhan, FAUSAN Ketapang dan Kubu Raya Salurkan Hibah Alquran Disabilitas-WonosoboWonosobo Berbagi Kursi Roda pray-for-garut-ahlulbait-indonesiaPeduli Korban Banjir Bandang Sungai Cimanuk, DPD ABI Garut Bentuk Posko Gabungan

Innalillah! Tentara Nigeria Tembaki Ribuan Muslim Syiah Saat Peringati Arbain

Kabar duka menimpa para pencinta Ahlulbait di Nigeria. Dalam peringatan Arbain, 40 hari wafatnya Imam Husain di Karbala, tentara rezim Nigeria dengan brutal menyerang dan menembaki massa saat mengadakan peringatan Arbain di utara kota Kano.

IHRC melaporkan, setidaknya setidaknya ada 50 korban yang terluka parah akibat serangan ini dan ratusan orang lainnya luka-luka. Saksi mata melaporkan bahwa tentara Nigeria melakukan serangan pada tiga tempat yang berbeda.

Gas air mata juga ditembakkan pada rombongan massa yang berkumpul dari seluruh penjuru negeri menuju Zaria, di mana mereka akan bergabung dengan prosesi utama yang tahun lalu dihadiri jutaan orang ini.

Islamic Human Rights Comission (IHRC) sebelumnya telah menyurati pemerintah Nigeria meminta agar menjaga keamanan masyarakat yang memperingati Arbain seminggu ke depan. Dalam surat tersebut terdapat laporan bahwa pihak militer berencana menyabotase prosesi Arbain sebagai kelanjutan persekusi terhadap gerakan Islamic Movement of Nigeria (IMN) yang mengadakan acara ini.

Aksi keji ini pun dikecam oleh banyak pihak. Aksi ini dianggap telah melukai nilai-nilai kemanusiaan. Aksi militer ini disebutkan mirip dengan serangan bulan lalu saat peringatan Asyura juga diserang oleh tentara di utara Nigeria. Lebih dari belasan orang terbunuh oleh polisi dan tentara Nigeria dalam peringatan duka atas terbunuhnya al-Husain di padang Karbala. (MN)

Related posts:

Tango Maut AS-al-Qaeda: Rencana Strategis Menguasai Dunia Islam pada 2020 (2)Tango Maut AS-al-Qaeda: Rencana Strategis Menguasai Dunia Islam pada 2020 (2) Peran Penting Saudi Dalam Pembantaian Muslimin SuriahPeran Penting Saudi Dalam Pembantaian Muslimin Suriah Bakti-Sosial-IranUrdu Sozandeghi Kenalkan Wajah Islam dengan Khidmat dan Cinta Haji-IranPernyataan Organisasi Haji dan Ziarah RII tentang Haji Tamattu’ Tahun Ini

Apresiasi Pahlawan dan Cinta NKRI

Sabtu, (12/11) dalam rangka memperingati Hari Pahlawan dan haul Sayidina Husein ra. STFI Sadra mengadakan seminar nasional bertema “Pahlawan Kemanusiaan dan Pahlawan Kebangsaan” di Auditorium STFI Sadra, Jakarta Selatan.

Dalam seminar ini turut hadir tiga narasumber yaitu; Dr. I Gusti Putu Buana S. AP, Msc (tenaga profesional bidang pertahanan Lemhanas RI), Dr. KH. Jalaluddin Rahmat, M.Sc (Komisi 8 DPR RI) dan Prof. Dr. Abdul Majid Hakimullahi (Direktur ICC, Jakarta Selatan).

Pada kesempatan pertama I Gusti Putu Buana memutar film pendek tentang semangat juang pemuda Indonesia menghadapi pasukan penjajah di Surabaya. Setelah pemutaran film selesai, dia berharap peserta seminar bisa melihat perjuangan pahlawan melawan penjajah dan bisa mewarisi nilai-nilai perjuangan sekaligus mengaplikasikannya dalam kehidupan bernegara.

Selanjutnya pada sesi kedua dilanjutkan pemaparan oleh Kang Jalal yang menyampaikan secara singkat biografi Soekarno dan menjelaskan definisi dan karakter pahlawan dari pemikir filsafat sejarah di antaranya Thomas Carly yang menyebutkan karakter pahlawan sebagaimana nabi memiliki ketulusan dalam menjalankan misinya, sedikit pendiam bila tidak ada kata yang perlu diucapkan, tepat, bijak dan jujur dalam bicara. Memiliki karakter yang serius dan ikhlas, ramah penuh kasih dan keteguhan pendirian dalam menghadapi tantangan.

Pada sesi terakhir, Hakimullahi menyampaikan beberapa macam pahlawan; pahlawan mencapai kedudukan, pahlawan yang menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan manusia, pahlawan yang mempertahankan keadilan, kehormatan, nilai-nilai kemanusiaan dan berusaha untuk mencapai ridha Allah SWT. Direktur ICC itu juga menjelaskan keutamaan Imam Husein sehingga disebut pahlawan, diawali niatnya yang kuat serta kerelaannya berkorban. Sedangkan tujuan perjuangan dan pengorbanannya itu semata-mata demi umat Islam dan seluruh umat manusia di dunia.

Dari pemaparan ketiga narasumber dapat diambil kesimpulan bahwa setiap warga negara, mesti terus menggali kreativitas di setiap profesi masing-masing dengan maksimal untuk menciptakan kemakmuran dan kedamaian. Hal ini didasarkan pada keteladanan pengorbanan dan perjuangan pahlawan yang telah gugur demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Tasawuf-dan-Tantangan-Dunia-ModernTasawuf dan Tantangan Dunia Modern Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf Strategi-Walisongo-Sebarkan-Islam-NusantaraStrategi Walisongo Sebarkan Islam Nusantara www.nu.or.idDeklarasi Nahdlatul Ulama untuk Dunia

Kalbar Smesco Expo 2016 Pamerkan Produk Unggulan UMKM Nusantara

Sejumlah stan ikut serta dalam Kalbar Smesco Expo 2016, pameran produk unggulan kerajinan daerah koperasi UMKM PKBl seluruh Indonesia di gedung Pontianak Convention Center (PCC), Minggu (13/11).

Marsianus, selaku Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kalbar mengatakan Kalbar Smesco Expo 2016 akan dilaksanakan mulai dari tanggal 10 sampai dengan 13 November 2016.

“Di dalamnya ada tekstil, kerajinan tangan, kerajinan perak, tenun, dan produk olahan pangan, dan masih banyak lagi,” paparnya.

Dia berharap dengan digelarnya pameran ini dapat menunjukkan kekayaan Nusantara di bidang UMKM serta bisa menggairahkan aktivitas pasar di Indonesia khususnya di Kalbar.

“Juga diharapkan bisa mendorong dan merangsang tumbuhnya wirausahawan baru untuk menumbuhkan ekonomi di Kalbar dan Indonesia,” sebutnya.

“Ada 81 stan yang ikut dalam Kalbar Smesco Expo 2016 ini dari seluruh Indonesia,” terang Marsianus yang sekaligus Ketua Panitia acara tersebut.

Selain pameran produk unggulan dan kerajinan daerah, acara tersebut juga dimeriahkan panggung hiburan. (Hakim/Yudhi)

Related posts:

ISIS Indonesia Kepung Polsek Bekasi SelatanISIS Indonesia Kepung Polsek Bekasi Selatan Hadad-AlwiBolmut Bershalawat: Momentum Bangun Ukhuwah dan Kerukunan Umat Al-Quds-Day-Pemalang-3Demo Al Quds Warga Pemalang dan Sekitarnya Carica-DayDeklarasi Carica Day, Angkat Buah Lokal Khas Wonosobo ke Tingkat Nasional dan Internasional