Monthly Archives: October 2016

Pontianak Bershalawat Dihadiri Ribuan Jamaah

Ribuan jamaah tampak antusias menghadiri acara Pontianak Bershalawat, memenuhi halaman mesjid Raya Mujahidin, Jalan Ahmad Yani Pontianak, Senin (24/10) pukul 19.15 WIB.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan peringatan hari jadi Kota Pontianak yang ke 245, acara Pontianak Bershalawat ini makin semarak dengan kehadiran Habib Syech bin Abdul Qadir as-Segaf.

Di sela-sela pembacaan shalawat, Habib Syech mengajak para hadirin untuk bersama-sama menjaga bangsa, menjaga negara dan menjaga agama, dengan berkah shalawat.

“Kita semua, mari bersatu menjaga keutuhan NKRI, jangan biarkan negara kita pecah dan bercerai berai,” terang Habib Syech.

“Pontianak jika ingin sejahtera dan makmur, maka hidupkan terus shalawat kepada Nabi Muhammad saw,” lanjut Habib Syech di hadapan para jamaah yang berasal dari pondok pesantren, majlis taklim dan masyarakat umum itu.

Usai tausiyah, acara yang diinisiasi pemerintah kota Pontianak bekerja sama dengan Banser, IBNU dan LPI untuk membantu kesuksesan dan keamanannya itu pun ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. (Reza/Yudhi)

Related posts:

Demo Tolak Revisi UU KPKKoalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi Kalbar Tolak Revisi UU KPK Dua Bulan Sudah Kami Tuntut Hak!Dua Bulan Sudah Kami Tuntut Hak! Kemenag-IAIN-PontianakMenag Resmikan Gedung Baru IAIN Pontianak Khofifah-BanjarnegaraMenteri Sosial Kunjungi Korban Longsor Banjarnegara

Diskusi Publik: Hukum dan Kejahatan Seksual

Rabu, (26/10) dalam rangka menyambut Dies Natalis FHUI ke-92, MaPPI mengadakan diskusi publik “Relasi Kuasa dalam Kejahatan Seksual” di Ruang Makes Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Depok.

Diskusi ini dihadiri beberapa narasumber, di antaranya Ratna Batara Munti (Direktur LBH APIK Jakarta), Lidwina Inge Nurtjahyo (Akademisi FH UI), Kristi Poerwandari (Akademisi FH UI) dan Adery Ardhan Suputro (Peneliti MaPPI).

Dalam sesi pertama Adery Ardhan Saputro menjelaskan mayoritas sample penelitian untuk tindak pidana kekerasan seksual persetubuhan dengan repetisi adalah tindak pidana dan dalam tindak pidana kejahatan seksual mayoritas pelaku memiliki hubungan relasi domestik dengan korban.

Kemudian Ratna Batara Munti melanjutkan penjelasan mengenai pola kekerasan, mulai kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual (pemaksaan) hingga kekerasan penelantaran rumah tangga.

Sedangkan Lidwina Inge Nurtjahyo menambahkan mengenai bagaimana kejahatan terjadi, apa saja bentuk kejahatan seksual dan bagaimana hukum mempersepsikan relasi kuasa kejahatan seksual.

Terakhir, Kristi Poerwandari menjelaskan kekerasan seksual dan relasi kuasa serta tinjauan dari sisi psikologis, seperti dinamika relasi pelaku dan korban, kompleksitas situasi masa kini dan sexual consent (persetujuan seksual).

Setelah semua pemaparan selesai, ada 5 penanya yang menanggapi poin-poin yang dipaparkan oleh narasumber, salah satunya berkaitan dengan fashion sebagai awal pemicu tindakan kekerasan seksual pada perempuan.

Dari penjelasan yang disampaikan kelima narasumber, dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum belum dapat menghadirkan kepastian bagi kasus kekerasan seksual dan harus ada cara penanganan yang berbeda dalam kasus kekerasan seksual daripada kasus lainnya.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat kepada narasumber secara simbolis oleh Ketua Panitia. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

donaldKPK Diminta Tancap Gas Tuntaskan Tunggakan Kasus Hari Al Quds InternasionalJelang Hari Al-Quds Internasional 2015 Indonesia Rawan BencanaBNPB: Indonesia Rawan Gempa PalestineDubes Palestina: Konflik Sektarian Lemahkan Gerakan Muqawwama

Rembuk Nasional: Membangun Pendidikan Indonesia Berkualitas

Rembuk Nasional 2 Tahun Masa Pemerintahan Jokowi-JK yang mengambil tema “Bergegas Membangun Indonesia” berlangsung dari pukul 14.00-17.00 WIB di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta, Senin (24/10).

Acara diskusi ini dibagi menjadi 7 ruang rembuk, dengan tema diskusi berbeda-beda. Salah satunya, ruang rembuk 4 yang mengambil tema diskusi Pembangunan Manusia Pendidikan Vokasi yang dihadiri 100 orang.

Turut hadir Rhenald Kasali sebagai Ketua Diskusi dan Ipang Wahid sebagai Wakil Ketua. Ada juga tim ahli terdiri dari Larasati Sedyaningsih, Taufan Rahmadim dan Helga Kumontoy yang sekaligus bertindak sebagai moderator.

Ada beberapa poin yang dibahas dalam diskusi yaitu; perubahan pradigma dalam pembangunan manusia, mengikutsertakan dunia industri dalam pengembangan Kurikulum Vokasi, meningkatkan jumlah guru keterampilan pada sekolah-sekolah vokasi, memperkuat akses masyarakat kurang mampu pada instuisi pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar, dan yang terakhir peran pegiat-pegiat sosial dalam bidang pendidikan untuk memberi akses pada kelompok kurang mampu.

Lebih dari 20 orang menyampaikan tanggapan mengenai poin-poin yang didiskusikan. Di antaranya, peran media untuk membantu membangun Indonesia yang berkarakter. Artinya, media memang sangat diperlukan dalam pengembangan vokasi.

“Vokasi itu bukan sekadar vokasi kejuruan yang tujuannya semata-mata berhubungan dengan industri tapi mesti dibangun pula vokasi budaya dan seni,” ujar Helga Kumontoy.

Namun dari semua pembahasan tersebut, yang terpenting dan tak boleh dilupakan adalah soal integritas yang tinggi untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Karena setiap orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat untuk membangun bangsa Indonesia agar lebih maju. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

BHACAGiri Suprapdiono: Nasionalisme Cegah Korupsi Bencana Longsor Bukit TelagaleleKepemimpinan Kearifan Lokal Kunci Sukses Tanggap Bencana KorupsiKampanye Anti Korupsi Untuk Anak Lebaran Syiah Sampang di Pengungsian RusunawaPengungsi Syiah Sampang Shalat Ied Bersama Warga Sekitar Rusun

Pentingnya Saling Mengungkapkan Rasa Cinta Antara Suami-Istri

Keluarga mempunyai ranah bahasan tersendiri dalam Islam. Kalau kita membaca Alquran maka kita akan mendapatkan ayat tentang keluarga. Misalnya ayat tentang pernikahan. Dalam Alquran surah Rum ayat 21, Allah SWT berfirman bahwa Dia telah menciptakan pasangan untuk setiap manusia agar mahkluk-Nya bisa menikah. Dengan adanya pasangan, maka akan tercipta ketenteraman dan ketenangan pada diri manusia.

Demikian juga pada surah al-Baqarah ayat 187 bahwa istri adalah pakaian bagi suami dan juga suami pakaian bagi istri (هن لباس لکم و انتم لباس هن). Ayat-ayat ini bisa menjelaskan kepada kita bahwa masalah keluarga merupakan salah satu tema pembahasan penting yang dibahas dalam Islam. Bahkan Allah SWT pun berjanji bahwa ketika manusia menikah atau berkeluarga, maka Dia akan memberikan mawaddah dan rahmah (جعل بینکم موده و رحمه).

Allamah Thaba-Thabai menjelaskan perbedaan makna antara rahmah dan mawaddah. Menurut beliau, mawaddah itu berada di dalam hati sedangkan rahmah berada dalam aspek amal.

Mungkin suatu saat, seseorang menyukai seseorang namun ia tidak mengungkapkannya. Namun suatu saat pula selain menyukai, ia juga mengungkapkannya dan mengatakan bahwa aku menyukai dan mencintaimu. Misalnya ia membelikan sesuatu untuknya, dan mengekspresikan rasa cintanya, inilah yang dinamakan rahmah.

Berhubungan dengan hal ini, ada sebuah riwayat menyatakan, ketika seorang suami mengatakan kepada istrinya, “Aku cinta kamu” maka untaian kalimat ini akan terpendam dalam hati sang istri, abadan, yakni selamanya.

Para Imam Maksumin as pun biasa mengungkapkan perasaannya kepada pasangannya. Misalnya Imam Husain as berkata, “Aku menyukai sebuah rumah yang di sana ada istriku.” Dari perkataan Imam, penulis memahami bahwa Imam begitu mencintai istrinya sehingga ia tak ingin sendiri ketika sedang di rumah. Kalimat ini pun merupakan ungkapan rasa cinta Imam secara tidak langsung kepada sang istri.

Dalam catatan sejarah, Imam Ali as pun kerap mengungkapkan rasa cintanya kepada Sayidah Fathimah as dan begitupun Sayidah Fathimah kepada Imam Ali as. Nabi saw pun demikian. Beliau mengungkapkan cintanya kepada Sayidah Khadijah Kubra as, salah satunya Nabi saw menjadikan tahun wafat Khadijah as sebagai tahun kesedihan. Begitu berartinya Khadijah bagi Nabi saw.  Ini adalah contoh bagi kita dari Rasulullah dan para Imam Maksumin as.

Menurut penulis, mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan bisa membuat hubungan keluarga menjadi harmonis. Ketika sudah berkeluarga, bukan zamannya lagi memendam dan tak mengungkapkan rasa suka, rasa cinta, dan rasa sayang kepada pasangan. Justru karena tak adanya ungkapan itulah yang bisa menyebabkan keretakan dalam rumah tangga. Tidak ada ungkapan rasa cinta dan sayang bisa menimbulkan keraguan dalam diri pasangan. Bisa jadi karena jarang atau bahkan hampir tidak pernah menyatakan perasaan itu maka akan timbul keraguan dalam alam pikiran masing-masing, “Apakah dia memang benar-benar mencintaiku?”

Maka dari itu, alangkah baiknya bila suami-istri sering-sering mengungkapkan rasa cinta dan sayang di waktu dan tempat yang pas supaya hubungan keluarga menjadi lebih harmonis. Terlebih karena hal inilah yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para Maksumin as. (Sutia/Yudhi)

Related posts:

Garuda PancasilaNegara dan Agama dalam Bingkai Pancasila BOM MARRIOTT4Terorisme dan Hilangnya Motif ABI Press_Muhsin LabibMusibah; antara Proses dan Ulah Manusia Merawat Islam Rahmatan Lil Alamin di Bumi NusantaraMerawat Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Di Bumi Nusantara

Mengeja Patriotisme Beberapa Tokoh Nasional

Tiba-tiba saja beberapa tokoh nasional berkumpul dan menunjukkan patriotismenya menyikapi wawancara Sukanto Tanoto yang dimuat di halaman Indonesiana Tempo. Beberapa tokoh itu muncul dan terlihat sangat bersemangat dalam membela tanah airnya. Hanya saja sesuatu yang lagi-lagi membuat hati terasa miris adalah ketika kembali mereka menyinggung soal yang berbau SARA. Karena itu, wajar saja jika kemudian muncul sebuah pertanyaan, tuluskah mereka dalam patriotismenya itu?

Memang benar bahwa apa yang dikatakan oleh Sukanto Tanoto yang notabene adalah seorang konglomerat merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan. Dia yang lahir di Indonesia, besar di Indonesia, kemudian menikah dan memulai bisnisnya di Indonesia, tiba-tiba dia katakan Indonesia hanyalah ayah angkatnya, sedangkan Cina adalah ayah kandungnya. Lebih miris lagi hal itu dia katakan karena dia masih merasa sebagai orang Cina. Bahwa kecinaannya melebihi apapun. Dengan kata lain, rasa keindonesiaan tidak sedikitpun melekat pada dirinya. Seolah dia mengingkari dari tanah mana dia tumbuh besar dan bahkan kemudian menjadi seorang yang bergelimang harta.

Menilik kehidupan bangsa Indonesia yang bhineka, maka tidaklah salah jika mengatakan bahwa Sukanto Tanoto adalah seorang yang sektarian. Sebagaimana tidak berbeda dengan seorang Jawa yang menonjolkan kejawaannya, orang Sunda dengan kesundaannya, atau orang dari etnis manapun yang menonjolkan kesukuannya. Jelas, ujung-ujungnya dari sikap yang demikian ini adalah sikap yang akan lebih mengarah kepada sikap intoleran, yakni sebuah sikap yang sama sekali tidak dikehendaki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri yang menjunjung tinggi prinsip Bhinneka Tunggal Ika ini.

Namun terlepas dari itu semua, siapapun tentu memahami bahwa Sukanto Tanoto tidaklah bisa dikatakan sebagai sosok yang cukup mewakili isi jiwa seluruh etnis Cina yang ada di Indonesia. Artinya, masih ada kemungkinan bahwa orang-orang yang satu etnis dengan Sukanto Tanoto namun jiwa patriotismenya berbeda dengannya. Perlu digarisbawahi, ini bukanlah pembelaan pada etnis tertentu. Hanya saja, sudah seharusnya kita mesti obyektif dalam melihat dan menilai sesuatu. Itu saja.

Karenanya, sekali lagi, sangat wajar muncul pertanyaan ketika beberapa tokoh nasional tiba-tiba sangat bersemangat menunjukkan sikap patriotismenya disebabkan kata-kata Sukanto Tanoto, namun berbarengan dengan itu mereka besar-besarkan persoalan terkait perbedaan etnis. Untuk apa?

Jika tak mau menjawabnya, renungkan saja andai di pojokan jalanan ada seorang yang menghela nafas panjang setelah membaca berita itu dan kemudian bergumam: “Kepentingan apa lagikah yang sedang mereka usung?” (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:

Muhsin“Habib” ABI Press_Ada Apa dengan BahrainAda Apa dengan Bahrain ? Keutamaan Salat MalamKeutamaan Salat Malam Shalat-MalamTiga Penghalang Utama Gagal Salat Malam

Romo Magnis: Bela Agama Lokal Sesuai Undang-Undang Dasar

Franz Magnis Suseno selain dikenal sebagai Guru Besar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara juga dikenal sebagai Ketua Kerukunan Umat Beragama. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan artikel. Buku Etika Jawadan buku lain yang sangat berpengaruh adalah Etika Politikyang menjadi acuan pokok bagi mahasiswa filsafat dan ilmu politik di Indonesia.

Senin (17/10) sore, pria yang akrab disapa Romo Magnis ini memberi pemaparan tentang diskriminasi dalam pluralisme di Ruang Media Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).

Dalam kesempatan itu ia menjelaskan, masyarakat awam harus kembali menegaskan bahwa negara menjamin kebebasan beragama dalam Undang-Undang Dasar. Di dalamnya sama sekali tidak disebutkan soal mana agama yang diakui dan tidak diakui.

“Karena memang kebebasan beragama itu masalah hormat kepada Tuhan,” tegasnya.

Romo Magnis berpendapat bahwa perlu adanya perubahan mindset dalam pendidikan bahwa manusia harus keluar dari sikap asal ikut-ikutan. Kita perlu menjadi manusia berkepribadian dewasa. Pendidikan itu penting karena manusia harus diberikan pemahaman tentang cara bersikap dan punya pendirian serta karakter untuk menghormati keyakinan orang lain.

“Sebetulnya moderenitas itu membantu untuk kritis terhadap diri kita sendiri,” tambahnya.

Selanjutnya beliau menjelaskan keharusan menuntut negara untuk memberikan hak penuh kepada setiap warganya dalam beragama. Perlu disediakan mekanisme-mekanisme hukum yang memadai bagi mereka untuk memperjuangkan hak asasi mereka. Negara dan masyarakat pun harus menghilangkan unsur-unsur diskriminatif terhadap penganut agama lain. Salah satu contohnya adalah memastikan bahwa perkawinan adat agama asli mesti diakui penuh secara hukum.

“Saya sebagai salah satu anggota dari enam agama yang diakui, harus siap di barisan pertama untuk mendukung dan memastikan agar mereka itu dilindungi, dihormati, diayomi,” tutupnya. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Kembalikan Kedaulatan Rakyat (09/10)Demokrasi Ala Romo Magnis best_islamic_buildings_hd_wallpaper copyIslam Penyempurna Bukan Penghapus Agama Sebelumnya

Kang Jalal dan Fathimiyah Siap Perjuangkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Seusai audensi FPL (Forum Pengada Layanan) dan Komnas Perempuan, Kamis (13/10) di gedung DPR RI,  Anggota Fraksi PDIP DPR RI Dr. Jalaluddin Rahmat yang sekaligus menjabat Ketua Dewan Syuro IJABI beserta anggota Fathimiyah mengunjungi perwakilan komunitas dari 4 kecamatan, yang terdiri dari 26 orang dan 12 orang pengurus Fathimiyah. Kunjungan dilakukan di salah satu wilayah Kecamatan Pacet, Bandung pada Minggu (16/10).

Agenda ini merupakan tindak lanjut dari audiensi penyerahan draft dan naskah akademik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang diberikan kepada 8 Fraksi di DPR RI. Naskah itu berisi pengalaman korban kekerasan seksual dan para pendamping korban kekerasan seksual dari seluruh Indonesia yang berhasil dihimpun oleh FPL dan Komnas Perempuan.

Dalam kesempatan dialog itu, Kang Jalal sebagai Anggota Komisi 8 dari Fraksi PDIP menuturkan bahwa pihaknya akan memperjuangkan RUU Penghapusan  Kekerasan Seksual, mendorong adanya rumah aman bagi perempuan korban kekerasan seksual dan sekolah gratis untuk anak yang menjadi korban kekerasan.

Dia juga mengajak aktivis Fathimiyah sebagai Forum Perempuan di IJABI untuk bersinergi dalam penguatan kapasitas pendamping dan layanan (medis psikologis). Fathimiyah MUTI Institute juga akan bergabung dengan FPL.

Ketua SAPA Institute, Sri Mulyati, salah satu anggota FPL yang pada waktu itu hadir sebagai tim lobi dalam audensi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menyatakan bahwa Fathimiyah bisa memperkaya pemahaman FPL, misalnya bagaimana mengadakan layanan untuk perempuan korban kekerasan yang menjadi korban konflik agama. Untuk itu diharapkan Fathimiyah mempunyai sumber daya penulis dan psikolog dengan latar belakang akademisi dan kelompok profesional. (Betty/Yudhi)

Related posts:

Pelajaran Penting Pak KetingPelajaran Penting Pak Keting Festival Bintang Vokalis Qasidah Gambus tingkat nasional ke-19 tahun 2014 di PaluQasidah Gambus: Sisi Lain Dakwah Islam Jalaluddin RakhmatKang Jalal: Peziarah Arbain Digerakkan Cinta Jalaludin Rahmat dan Todung Mulya LubisBongkar Mitos HAM, Kuatkan Bingkai Kewarganegaraan

Festival Suran Lintas Agama dan Budaya Kabupaten Wonosobo

Kabupaten Wonosobo kembali mengukir sejarah baru dalam menciptakan kerukunan hidup dalam kebhinekaan. Sabtu (15/10), Kepolisian Resor Kabupaten Wonosobo bekerjasama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo mengadakan Festival Suran Lintas Agama dan Budaya.

Kegiatan yang bertujuan menciptakan keharmonisan antar pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai pemeluk agama dan aliran kepercayaan di Wonosobo, serta mahasiswa dan pelajar dari sekolah umum maupun sekolah-sekolah agama yang berbeda.

Bupati Wonosobo, Eko Purnomo, dalam sambutannya ketika apel kebhinekaan yang diadakan sebagai pembuka acara, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan yang bertujuan meningkatkan kerukunan hidup beragama itu.

“Saya megucapkan terimakasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kapolres Wonosobo serta FKUB yang menginspirasi Festival Suran Lintas Agama dan Budaya ini,” kata Bupati.

Sementara itu Ketua FKUB, Zaenal Sukawi, dalam sambutannya dalam apel kebhinekaan yang dilanjutkan dengan penandatanganan Ikrar Kebhinekaan Lintas Agama dan Budaya itu juga menyampaikan terimakasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi aktif dalam Festival Suran Lintas Agama dan Budaya Kabupaten Wonosobo kali ini.

“Akhir-akhir ini kita merasa prihatin dengan adanya skenario besar yang menginginkan adanya ketidakharmonisan dalam masyarakat melalui adu-domba, provokasi, gerakan radikalisasi, anarkisme, dan bahkan mengusik persoalan SARA dan sendi-sendi kehidupan beragama dan bernegara. Karena itulah even Festival Suran Lintas Agama dan Budaya ini menjadi sangat penting dan strategis,” tegas Zaenal. (Malik Az/Yudhi)

Related posts:

Kesenian-di-Pembukaan-MTQ-26-Pontianak-2Atraksi Seni Islami Buka MTQ 26 Kota Pontianak Jadikan-Kewajiban-Bukan-BebanKunci Sederhana Jadikan Kewajiban Bukan Beban Pameran-Dinas-Kalbar-1Pameran Produk Unggulan Disperindag Provensi Kalbar Muslim Indonesia dan Iran Banyak KesamaanMuslim Indonesia dan Iran Banyak Kesamaan

Azriana, Ketua KOMNAS Perempuan: Kekerasan Seksual adalah Masalah Budaya

Jumlah pelaporan terkait korban kekerasan seksual yang dialami oleh masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Selain jumlah korban, jenis dan bentuk kekerasan seksual pun makin beragam.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN) bermitra dengan Forum Pengada Layanan (FPL) yang tersebar di seluruh Indonesia, Selasa (11/10) menggelar diskusi untuk memahamkan tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, di Hotel Millenium, Jalan Fachrudin No.3 Komplek Tanah Abang, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh 40 peserta perwakilan anggota FPL dari seluruh provinsi di Indonesia.

Dalam kesempatan itu Azriana sebagai Ketua Komnas Perempuan yang lebih akrab dipanggil Kak Nana dalam forum itu mengatakan bahwa Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual ini merupakan karya besar FPL dan Komnas Perempuan karena disusun berdasarkan pengalaman korban kekerasan seksual dan pengalaman pendamping korban dalam menangani kasus selama lebih dari 3 tahun.

“Kekerasan seksual tentu saja tidak akan berhenti begitu saja dengan adanya UU ini, karena masalah kekerasan seksual adalah masalah budaya. Tetapi UU ini sangat diperlukan untuk memperbaiki budaya agar lebih pantas dan layak bagi korban,”ujar Azriana melanjutkan sambutannya.

Selanjutnya Samsidar sebagai Ketua Dewan Pengarah Nasional FPL menjelaskan,“Rangkaian diskusi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini untuk membumikan harapan dan menggali tantangan apa yang mungkin muncul dalam implementasinya.”

Dalam perjalanan menuju terbitnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agar segera disahkan menjadi UU maka sangat dibutuhkan kerja keras FPL sebagai gerakan sosial.

“Pemerintah tanpa adanya FPL sulit sekali melakukan pendampingan korban,” tambah Samsidar.

Sementara itu Fathurozi sebagai Tim Substansi memaparkan proses penyusunan sampai terbitnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini ditopang kontribusi 248 orang.

“Mereka berasal dari Lembaga Pengada Layanan, organisasi masyarakat baik dari bidang keagamaan maupun hukum, juga 29 Lembaga Pengada Layanan yang mengirim data sehingga menjadi dasar terciptanya 9 bentuk kekerasan seksual, termasuk 25 orang Tim Substansi, 5 Pembaca Kritis dan 5 orang Tim Penyelaras.” (Betty/Yudhi)

Related posts:

ABI Press di BandungRemaja Karbala: Membagikan Air Minum, Mengingatkan Kehausan Al Husein ABI Press_KOBASepeda Onthel Masih Eksis di Jakarta Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf Karnaval Budaya PurbalinggaCermin Kerukunan Antar Etnis dan Agama dalam Karnaval Budaya Purbalingga

Jihad Selfie Ungkap Cara ISIS Gaet Simpatisan Lewat Media Sosial

Bertempat di Sekreteriat ICRP Jakarta Pusat, Jumat (14/10), digelar acara Nonton dan Diskusi Film Jihad Selfie yang menghadirkan narasumber Taufiq Andrie, Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian dan Dr. Ghazi Shalom, Pakar Psikologi Teroris UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Hadir pula perwakilan beragam penganut agama dan aliansi perdamaian, salah satunya Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) yang sangat antusias mengikuti diskusi kali ini.

Memasuki sesi diskusi, Taufiq Andrie menyebutkan beberapa sebab dan latar belakang orang tertarik melibatkan diri ke dalam kelompok teroris dan bersedia melakukan aksi teorisme, di antaranya hanya dengan obrolan singkat di Facebook, Twitter, dan Telegram.

Taufiq dan tim yang kemudian fokus mempelajari fenomena keterkaitan sosial media dan ISIS menemukan bahwa salah satu faktor yang menjadikan orang ingin berperang adalah karena didorong gairah maskulinitasnya.

Selanjutnya Ghazi menambahkan ada lima tahap seseorang menjadi terorisme yaitu; krisis identitas, proses seleksi alam, anggota kelompok eksklusif, kemudian berpikir dikotomis, dan yang terakhir proses ketika seseorang sudah tidak bisa lagi dipengaruhi atau diajak dalam kebaikan.

“Ada dua poin penting yang perlu diperhatikan untuk menyelamatkan anak-anak muda kita. Pertama adalah keluarga dan yang kedua adalah pendidikan dalam konteks kemampuan untuk menanggulangi menjamurnya radical thinking,” tambah Taufiq.

“Dengan memperhatikan dua hal itu diharapkan, pemerintah dan pihak-pihak terkait bisa secara bersama-sama mendorong dan lebih mengaktifkan peran keluarga dalam membendung efek buruk penyebaran konten radikalisasi, khususnya melalui media sosial,” tutupnya. (Zainudin/Yudhi)

Related posts:

Ustaz Husein Al KaffSayyidah Fatimah Az-Zahra, Pemilik Tiga Kemuliaan Sekaligus LIPIKendeng: Eksploitasi vs Konservasi Alam The Habibie CentreAsimetri Kekerasan dan Pembangunan Bangsa Anti Kekerasan Terhadap PerempuanMengenang Tragedi Pelanggaran HAM