Monthly Archives: August 2016

Ansor Bershalawat untuk Keselamatan dan Kebaikan Dunia

30 August, 2016

Leave a comment

Bertempat di lapangan Kalijeruk Garung Wonosobo, Minggu (28/8), Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Wonosobo menggelar acara “Ansor Bershalawat” dengan mendatangkan Habib Abdullah bin Umar Assegaf dari Yogyakarta dan Habib Zain bin Umar Al Athos dari Bekasi.

Pada kesempatan itu Mujiburrohman, pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, mengingatkan bahwa Ansor sebagai organisasi kepemudaan terbesar yang bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia, dengan jumlah anggota mencapai 1,7 juta jiwa, akan memikul tanggung jawab kemanusiaan lebih besar ke depannya nanti.

“Karena tuntutan untuk Ansor bukanlah hanya tuntutan yang berasal dari bangsa Indonesia saja, tetapi sudah menjadi tuntutan dunia agar Ansor menjadi pemimpin pemuda di seluruh dunia. Salah satunya sebentar lagi kita akan mengirimkan anggota kita untuk misi kemanusiaan di Somalia,” ungkapnya.

Selanjutnya Mujib menambahkan bahwa hal ini adalah sebagaimana Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi induk dari GP Ansor, sebagai organisasi terbesar di dunia juga diharapkan menjadi juru damai bagi kemanusiaan. Setidaknya, beberapa kali mengadakan Konferensi tingkat Internasional, yang di antaranya adalah Konferensi Lintas Agama dengan mendatangkan tokoh-tokoh muda dari berbagai agama di dunia, merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kemanusiaan.

“Walhasil, mari kita ikhlaskan bersama Gerakan Pemuda Ansor untuk keselamatan dan kebaikan dunia pada umumnya,” ajak Mujib. (Malik Az/Yudhi)

Related posts:


Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf


lomba-tilawah-dan-murotal-WonosoboMemupuk Cinta Alquran Lewat Lomba Tilawah dan Murotal


Kemenag-WonosoboTekad Kemenag Wonosobo Wujudkan Layanan Prima Tanpa Gratifikasi


pembagian takjil fathimah-Alquds-day-MakassarPeringatan Yaumul Quds yang unik di Pantai Losari Makassar


Tokoh Masyarakat Pekalongan Sesalkan Pencatutan Nama Ormas secara Sepihak dalam Tablig Akbar Habib Ahmad bin Zen Alkaff

27 August, 2016

Leave a comment

Baru-baru ini terjadi perbincangan hangat di kalangan tokoh-tokoh agama dan ormas keagamaan di kota Pekalongan terkait rencana tablig akbar yang akan diadakan di masjid Al Ikhlas, Jalan Jetayu Pekalongan, pada hari Sabtu (27/8).

Perbincangan yang kemudian berujung penolakan tersebut terjadi karena yang menjadi pembicara dalam tablig akbar tersebut adalah Habib Ahmad Zen Alkaff yang merupakan salah satu tokoh intoleran. Belum lagi adanya pencatutan nama NU dan Muhammadiyah yang seolah dikesankan turut mendukung tablig akbar tersebut.

Ustaz Marzuki selaku Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kota Pekalongan, dalam musyawarahnya dengan para tokoh masyarakat, yang di antaranya diwakili oleh Habib Sofie Alatas, pada Kamis (25/8) malam, menyatakan penyesalannya atas pencatutan nama NU dan Muhammadiyah tersebut.

“Saya pribadi tidak tahu-menahu soal tablig akbar itu. Dan pencatutan nama NU dan Muhammadiyah itu adalah pencatutan sepihak. Artinya, tidak ada permintaan izin kepada pihak NU dan Muhammadiyah itu sendiri,” kata Marzuki.

Selanjutnya dia menegaskan bahwa melihat pembicaranya yang merupakan tokoh intoleran, maka sangat dimungkinkan tablig akbar tersebut akan merusak keyakinan dan kerukunan beragama masyarakat Pekalongan.

“Untuk itu kami akan langsung berkoordinasi dengan teman-teman dari kepolisian, NU dan Muhammadiyah dan akan langsung mengecek lokasi spanduk di Jalan Jetayu tempat dimana tablig akbar tersebut akan berlangsung, serta berharap acara tersebut tidak jadi dilaksanakan,” lanjutnya. (Mimin/Yudhi)

Related posts:


PENAPALAHaul Rasulullah di Puncak Pangarango


ABI Press_Kabuyutan GegerkalongMaulid Nabi di Kabuyutan, Leburnya Cinta dalam Kearifan Lokal


ABI Press_Desa PanjaluNyangku: Merawat Tradisi, Introspeksi Diri 


ABI Press_Peringatan Maulid Nabi oleh Paguyuban Sabilulungan di BandungPaguyuban Sabilulungan Se-Jawa Barat Ajak Warga Hidupkan Shalawat dan Maulid Nabi


Kebersamaan, Persatuan dan Toleransi Harumkan Nama Bangsa Hingga ke Rio de Janeiro

26 August, 2016

Leave a comment

Sambutan Ketua DPR RI Ade Komarudin yang disiarkan langsung stasiun TV swasta Nasional, dalam acara menyambut kedatangan para peraih medali Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di Bandara Soekarno Hatta Tangerang  mengungkapkan bahwa berkibarnya bendera Merah Putih di Olimpiade Rio de Janeiro Brazil menunjukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar.

Ade Komarudin juga menyampaikan selamat dan terimakasih kepada para pahlawan negara yang sudah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional khususnya kepada Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang pada hari Rabu 17 Agustus 2016 bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, telah menghadiahi bangsa indonesia dengan medali emas di ajang Olimpiade Rio de Janeiro.

Ada sisi menarik yang bisa dilihat dari kemenangan tim bulu tangkis ganda campuran Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang bisa kita petik dalam rangka memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Duet ganda campuran ini adalah duet yang luar biasa karena melambangkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Kemenangan mereka diraih atas dasar rasa persatuan, persaudaraan dan kerjasama sesama anak bangsa. Tanpa rasa persatuan, persaudaraan dan kerjasama sulit dibayangkan bendera Merah Putih bisa berkibar di ajang olahraga Internasional itu.

Tantowi Ahmad yang berdarah Jawa, lahir di Banyumas dan beragama Islam sedang Liliyana  Natsir yang berdarah campuran, lahir di Manado dan beragama Kristen Katolik. Duet keduanya itulah yang setidaknya melambangkan keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia dengan kekayaan suku, etnik, budaya, adat istiadat, agama dan bahasa daerah.

Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang mempunyai latar belakang suku, budaya dan agama yang berbeda, terbukti mampu berjuang bersama, bahu-membahu mendukung satu sama lain untuk saling melengkapi dan menutupi kelemahan masing-masing demi kejayaan Indonesia di kancah International.

Dengan melihat duet luar biasa dan kesuksesan mereka menghadiahkan medali emas untuk Indonesia menandakan tak adanya rasa kebencian dan permusuhan di antara mereka. Mereka bisa menunjukkan makna toleransi, persatuan, rasa persaudaraan dan kerjasama antar bangsa Indonesia. Mereka juga bisa memberikan contoh bahwa persatuan bangsa bisa membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan berprestasi.

Dengan toleransi dan persatuan bangsa maka bangsa kita tidak akan terkotak-kotak karena isu SARA sehingga bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar dan kokoh dalam menghadapi beragam persoalan baik dari dalam maupun luar negeri.

Semoga kebanggaan kita kepada Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang sudah mengharumkan bangsa Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro bisa memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk Indonesia yang besar, damai, makmur dan sentosa. (Faizal A/Yudhi)

Related posts:


Mearajut Tali PersaudaraanMerajut Toleransi Di Tengah Perbedaan


Bima-Arya-SugiartoMasih Soal SE Walkot Bogor


Shalat-MalamTiga Penghalang Utama Gagal Salat Malam


al-Quran-penawar-akhlaqAl-Quran Penawar Akhlak Buruk Kaum Muda


Pahit-Manis Masa Muda

Perhatikanlah dua kisah di bawah ini. Dua kisah laki-laki setengah baya yang mempunyai derajat sosial yang sama. Menurut Anda, yang mana di antara mereka yang telah melakukan kekeliruan? Dan jangan lupa bahwa dua kisah ini sekaligus mewakili kehidupan masyarakat kita sehari-hari.

Kisah yang pertama hadir dari seorang pria berumur 35 tahun yang telah melewati masa mudanya dengan belajar dan bekerja keras. Karena saking giatnya belajar ia mendapatkan jurusan terbaik di salah satu kampus terbaik pula. Sehari-harinya, ia begitu banyak membaca buku dan melakukan penelitian-penelitian terbaru. Selain belajar, ia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja part time dengan mengajar les. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja di salah satu perusahaan. Meski tak diupah banyak, ia tetap melakukannya dengan senang hati. Dia pikir, inilah saatnya bagi saya untuk mengembangkan dan mematangkan potensi yang ada. Upah yang didapatkan selama ini, ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya dan sisanya ia tabungkan. Akhirnya tak lama setelah itu, ia pun menikah dan sekarang ia mempunyai seorang anak perempuan yang lucu.

Ia berkata, “Aku tak melihat kebahagiaan dalam masa mudaku (antara 20 sampai 30 tahun). Aku melewatinya untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan di saat teman-teman berfoya-foya, aku bekerja di pasar.”

Kalimat yang jadi perhatian penulis adalah ‘aku tak melihat kebahagiaan dalam masa mudaku’.

Kisah yang kedua juga hadir dari seorang pria berumur 36 tahun yang dengan susah-payah menamatkan gelar Diplomanya. Ia melewati masa mudanya dengan penuh kemudahan dan karena ayahnya punya harta berlimpah sampai sekarang ia masih sendiri dan belum beristri.

Dengan harta ayahnya, ia tak membutuhkan pekerjaan. Apa yang ia butuhkan tinggal ia minta kepada sang Ayah. Begitu mudahnya kehidupan pria ini. Ketika yang lainnya di pagi hari sibuk bekerja, ia dengan tenang tidur dan baru bangun menjelang Zuhur. Sekarang di umur 36-nya, ia sering mengeluh kepada keluarganya, “Kenapa kalian tidak pernah mengingatkanku ketika masih muda untuk mempelajari sesuatu dengan benar dan sungguh-sungguh, untuk mempelajari sebuah keterampilan yang bermanfaat untuk sekarang ini. Kalau kalian mengingatkanku, mungkin sekarang aku bisa hidup di rumahku sendiri dengan seorang istri dan anak-anak,” keluhnya.

Kalimat inilah yang sering diulang-ulang oleh seorang pemuda yang menyesali dan menggunakan masa mudanya untuk berfoya-foya dan hanya menghambur-hamburkan uang orang tua.

Dari dua kisah ini sekarang Anda bisa menilai. Menurut Anda, yang mana di antara dua kisah pria ini yang masa mudanya lebih pahit dan lebih manis dan menurut Anda yang mana di antara dua pria ini yang menghambur-hamburkan masa mudanya?

Sebenarnya yang dimaksud dengan kebahagiaan masa muda itu apa? Kebanyakan orang yang telah mencapai usia paruh baya mengatakan, “Oh..seandainya aku kembali ke masa muda!”

Lalu semestinya yang dimaksud dengan kemudahan masa muda itu seperti apa? Sehingga kadang ada orang tua yang mengatakan, “Oh.. akan aku berikan apapun yang aku punya untuk mengembalikan masa mudaku!”

Janganlah lupa! Kadang sebuah kalimat cukup untuk membangunkan kita dari kelalaian yang panjang ini. Kalau kita tidak merasa kagum dengan kalimat-kalimat yang bisa membangunkan ini, maka di luar sana, kalimat-kalimat ini bisa membuat para pembacanya memikirkan berjuta rencana ke depan. Sekarang, apa pendapat Anda?

Disadur dari Majalah Muwafaqiyyat, No 327. 1395 (Tahun Persia) (Sutia/Yudhi)

UU Perlindungan Anak Larang Nikahkan Anak Di Bawah Umur

25 August, 2016

Leave a comment

Eko Purnomo, Bupati Wonosobo, dalam sebuah sambutannya di acara kursus pra nikah bagi pelajar SMA/SMK/MAN/MA seluruh Kabupaten Wonosobo menegaskan himbauannya agar semua pelajar Wonosobo tidak terburu-buru dalam melaksanakan pernikahan. Hal itu disebabkan pernikahan membutuhkan banyak persiapan.

“Menikah tidak hanya butuh cinta tetapi dibutuhkan pula kedisiplinan, kemandirian, dan berbudi pekerti. Ini perlu dilakukan agar dapat mengemban amanah sebagai penerus perjuangan bangsa,” kata Bupati.

Acara yang diadakan oleh Kemenag Wonosobo dan diselenggarakan di gedung Pendopo Kabupaten Wonosobo pada hari Rabu–Jumat (24-26/8) tersebut diikuti oleh 230 peserta perwakilan dari sekolah-sekolah di Kabupaten Wonosobo.

Adapun berkenaan dengan tujuan dari acara tersebut Drs. Muhtadin, MSi., Kepala Kantor Kementerian Agama Wonosobo mejelaskan bahwa acara itu bertujuan untuk memberi wawasan yang cukup bagi pelajar Wonosobo tentang pernikahan.

“Namun demikian bukan berarti selesai kursus ini para pelajar itu terus mendaftar untuk menikah, tetapi justru setelah ini ada wawasan dan semangat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi,” ujar Muhtadin.

Dalam kesempatan tersebut Agus Suryo Suripto, Kepala Sesi Pemberdayaan Kantor Urusan Agama Kementerian Agama Wilayah Jawa Tengah juga membeberkan bahwa tingginya angka perceraian di Jawa Tengah menduduki peringkat ke-3 setelah DKI dan Jawa Barat.

“Untuk Wonosobo sendiri menurut server yang dilaporkan oleh Pengadilan Agama Wonosobo di tahun 2016 sampai bulan ini (Agustus-red) ada 2.302 angka perceraian sementara jumlah pernikahan ada 3.195 dan dari angka tersebut ada pernikahan anak di bawah umur 16 tahun sejumlah 118 anak,” jelasnya.

Selanjutnya Muhtadin menambahkan bahwa tingginya angka pernikahan anak ini adalah karena adanya ‘married by accident’ atau sering dikenal dengan sebutan MBA. Sehingga fenomena tersebut ditanggapi dengan serius oleh Nuraini, Ketua Unit Pelayanan Informasi Perempuan dan Anak (UPIPA) Wonosobo dengan mengatakan bahwa masalah anak di bawah 18 tahun yang melakukan persetubuhan/pencabulan haruslah diselesaikan sesuai UU Perlindungan Anak dan tidak dibenarkan mereka dinikahkan, karena mereka rentan sekali terdampak kekerasan bahkan kemiskinan dan kerap menjadi korban perceraian. (Betty NK/Yudhi)

Related posts:


ISIS Indonesia Kepung Polsek Bekasi SelatanISIS Indonesia Kepung Polsek Bekasi Selatan


ABI Press_Kyai Alawi Nurul Alam Al BantaniBerita Foto: Maulidur Rasul 1436 H di Pemalang


ABI Press_Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (13/1)Hakim Tunda Putusan Swastanisasi Air DKI Jakarta


Hadad-AlwiBolmut Bershalawat: Momentum Bangun Ukhuwah dan Kerukunan Umat


Kirab dan Grebeg Gunungan Hasil Bumi Banjarnegara

Senin (22/8), dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185, Pemerintah Daerah Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah mengadakan Kirab Panji Pusaka dan Gunungan Hasil Bumi khas Banjarnegara. Kirab tersebut dimulai dengan penyerahan lambang daerah dan panji pusaka di daerah Banjarkulon sebagai Ibu Kota Kabupaten sampai di pendopo kabupaten Banjarnegara.

Kirab Panji Pusaka Banjarnegara kali ini diikuti pula oleh Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara, anggota DPRD Banjarnegara, jajaran SKPD Banjarnegara serta Camat se-kabupaten Banjarnegara bersama istri.

Pada tahun ini gunungan hasil bumi yang dibawa kirab berjumlah tujuh gunungan yang berisi hasil bumi dari sayuran dan buah-buahan serta makanan khas Banjarnegara.

“Sudah dua tahun ini gunungan tumpeng yang dikirab berjumlah tujuh gunungan, yang pada tahun-tahun sebelumnya hanya tiga gunungan,” kata Azis, salah seorang warga Banjarnegara yang ikut berebut gunungan.

Selain Panji Banjarnegara dan gunungan hasil bumi, diarak juga 14 foto mantan Bupati Banjarnegara yang pernah memimpin Kabupaten Banjarnegara dari pertama hingga sekarang.

Ratusan warga tampak tumpah-ruah berebut gunungan yang berisi hasil bumi dan makanan khas Banjarnegara ketika kirab tersebut sampai di rute terakhir yakni di depan pendopo kabupaten Banjarnegara. Suka-cita tampak di wajah semua warga meski tidak semua warga yang berebut isi gunungan tersebut mendapatkan hasil dari gunungan itu.

Dapat dikatakan, keseluruhan rangkaian acara kirab ini dinilai tertib dan teratur. Hal ini ditandai dengan suksesnya Grebeg Gunungan yang dilaksanakan di lokasi yang direncanakan. (Faisal A/Yudhi)

Related posts:


ISIS Indonesia Kepung Polsek Bekasi SelatanISIS Indonesia Kepung Polsek Bekasi Selatan


ABI Press_Kyai Alawi Nurul Alam Al BantaniBerita Foto: Maulidur Rasul 1436 H di Pemalang


ABI Press_Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (13/1)Hakim Tunda Putusan Swastanisasi Air DKI Jakarta


Hadad-AlwiBolmut Bershalawat: Momentum Bangun Ukhuwah dan Kerukunan Umat

Tari Geol 1000 Siswi SD Marakkan Hari Jadi Banjarnegara

23 August, 2016

Leave a comment

Bertempat di jalan samping alun-alun Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sebanyak 1000 siswi SD se-Kabupaten Banjarnegara, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Banjarnegara yang ke-185, Senin (22/8) bersama-sama menarikan Tari Geol khas Banjarnegara. Ke-1000 siswi SD itu berasal dari 20 kecamatan yang masing-masing mengirimkan 50 penari untuk turut serta menampilkan tarian khas Banjarnegara tersebut. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Azis Purwanto sebagai Ketua Panitia.

“Setiap kecamatan mengirim 50 penari, jadi kalau sejumlah 20 kecamatan di Banjarneara ini maka semuanya ada 1000 penari,” ungkap-nya.

Azis menjelaskan bahwa Tari Geol adalah tari khas Kabupaten Banjarnegegara yang diciptakan para pelaku seni di Banjarnegara pada tahun 2002. Tarian ini mempunyai ciri khas dalam unsur gerak yang dinamis dan tematik karena menggambarkan tradisi dan budaya yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

Menurutnya, tahun lalu Kabupaten Banjarnegara juga menggelar tari massal dengan 1000 penari tetapi dengan tarian yang berbeda yaitu Tari Aplang. Namun demikian, baik Tari Geol maupun Tari Aplang, keduanya adalah hasil kreativitas para pelaku seni di Banjarnegara.

Selanjutnya Azis juga menuturkan bahwa terselenggaranya tari massal tersebut adalah berkat inisiatif Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara yang menugaskan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara dan dikoordinasi oleh Badan Kepegawaian Daerah Banjarnegara.

Kegiatan tari massal itu bertujuan lebih memperkenalkan tarian khas Banjarnegara kepada masyarakat umum sekaligus untuk memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara. (Faisal A/Yudhi)

Related posts:


Laporan-pernyataan-sikap-di-jejaring-sosial-DPD-Tanah-BumbuKlarifikasi Atas Akun Palsu Pencatut Nama DPD ABI Tanah Bumbu


Melawan KezalimanSpirit Idulfitri: Eratkan Ukhuwah, Melawan Kezaliman


Peringatan Milad Imam Ali Ridho di SemarangJadilah Pioner Kerukunan dan Penebar Kebahagiaan


doa-Pengugsi-Muslim-Syiah-Sampang-untuk-Korban-Banjir-SampangDoa Pengungsi Muslim Syiah Sampang Untuk Korban Banjir Sampang

Parade Budaya Banjarnegara Kokohkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

21 August, 2016

Leave a comment

Persatuan yang dimaknai perkumpulan beberapa komponen berbeda menjadi satu adalah suatu prinsip yang mesti dan harus dipegang erat oleh semua komponen masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Hal itu dikarenakan negara dan bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, bangsa yang mempunyai beragam suku atau etnik, bahasa, adat-istiadat dan agama.

Menurut sensus BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2010 ada 1.340 suku di Indonesia, sedangkan bahasa di Indonesia terdiri dari 746 bahasa daerah. Atas dasar itulah persatuan menjadi sesuatu yang vital bagi kemajuan bangsa Indonesia. Tanpa persatuan, bangsa Indonesia tidak akan bisa menghadapi tantangan-tantangan dari dalam dan dari luar untuk menjadi negara yang berkedaulatan.

Bangsa Indonesia yang majemuk di satu sisi mempunyai nilai positif sebagai kekayaan bangsa yang dimiliki oleh Indonesia dan di sisi lain bisa menjadi potensi konflik, mudah dipecah-belah dan dikuasai bangsa lain.  Maka dari itu kunci kemajuan bangsa Indonesia adalah persatuan antar elemen bangsa yang harus selalu dijaga dan selalu ditumbuhkan pada setiap generasi bangsa Indonesia. Menyadari pentingnya persatuan setiap elemen bangsa, para Bapak Bangsa kita menuangkan prinsip persatuan dalam sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.

Berkaitan dengan itu, pada hari Sabtu (20/8), kota Banjarnegara mengadakan Parade Budaya dengan mengangkat tema “Lestarikan Budaya Banjarnegara Menuju Terwujudnya Generasi Bangsa Yang Berkarakter”. Parade tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 71 dan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185. Parade pada hari itu diikuti oleh pelajar dari tingkat TK (Taman Kanak-kanak) sampai dengan tingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) dan kebanyakan dari mereka memakai pakaian tradisional sesuai tema yang diangkat.

Parade budaya dilakukan dengan karnaval star dari depan Pendopo Kabupaten mengitari kota Banjarnegara. Acara tersebut terlihat meriah dengan antusiasme warga yang menyaksikan dan para peserta karnaval berbaju adat dari suku-suku yang ada di Indonesia yang penuh semangat mengikuti jalannya acara sampai sore.

Parade budaya dan karnaval yang diikuti kontingen pelajar TK sampai SLTP di Kabupaten Banjarnegara dan mengusung tema keberagaman suku dan budaya di Indonesia dengan pakaian adat yang berbeda-beda dari suku-suku yang ada dari Sabang sampai Merauke diharapkan bisa menumbuhkan dan melatih rasa kesatuan dan persatuan bagi masyarakat Banjarnegara. Khususnya bagi peserta yang semuanya masih dalam periode anak–anak sampai remaja, sehingga diharapkan para penerus bangsa ini bisa tertanam karakter persatuan sejak dini dalam diri mereka sehingga ketika mereka dewasa bisa melekat jiwa persatuan antara sesama anak bangsa.

“Apabila karakter persatuan sudah tertanam pada jiwa bangsa Indonesia, maka akan tercipta kehidupan kebangsaan sesuai dengan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan juga Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Arifin, salah seorang warga yang terlibat dalam karnaval tersebut. (Faizal A/Yudhi)

Related posts:


Kemenag-IAIN-PontianakMenag Resmikan Gedung Baru IAIN Pontianak


Gerakan-Senyum-Kapuas-di-Pelabuhan-Senghie-Pontianak-1Gerakan Senyum Kapuas Bukti Warga Pontianak Peduli Lingkungan


Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf


LGBT IndonesiaPraktisi Kesehatan Sebut LGBT Terkait Kepentingan Global Bidang Kesehatan

Saatnya Perempuan Lebih Berani Ungkap Kejahatan yang Menimpanya

Dalam workshop Penyusunan Draft SOP Pelayanan untuk LBK (Layanan Berbasis Komunitas) yang bertempat di Krisna Resto Garden, Jl. Kyai Mansyur No 100 Wonosobo, Wariyatun yang merupakan Dewan PengarahRegion Tengah Forum Pengada Layanan (FPL) menegaskan bahwa anak yang melakukan hubungan seksual berkalikali merupakan korban kekerasan seksual. Hal ini disebabkan anak belum mampu mandiri dalam membuat sebuah keputusan, sehingga orang dewasa wajib melindungi atau mencegah anak untuk melakukan hubungan tersebut.

“Dengan  demikian dapat dikatakan bahwa  kejahatan pada perempuan adalah kejahatan kemanusiaan, ungkapnya.

Workshop yang berlangsung selama dua hari (19-20/8) ini difasilitasi oleh UPIPA (Unit Pelayanan Informasi Perempuan dan Anak) karena penunjukan oleh Forum Pengada Layanan  bagi perempuan korban kekerasan yang merupakan mitra kerja Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Nuraini Ariswari, Ketua UPIPA Wonosobo menyatakan bahwa hingga saat ini, sejak Januari sampai awalAgustus 2016 sudah ada 87 kasus yang dilaporkan langsung  dan mereka datang sendiri  dengan kesadaran. Tentu saja hal ini adalah sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan 5 atau 10 tahun yang lalu.

“Waktu itu kami harus blusukan ke desa-desa untuk mendatangi perempuan yang dilaporkan. Itu pun si korban masih malu-malu dan sulit sekali kami tanyai, lanjut Nuraini.

Dia juga menambahkan bahwa setidaknya fenomena tersebut menunjukkan semakin meningkatnya keberanian perempuan dalam mengungkap kekerasan yang menimpanya baik dalam ranah personal, komunitas maupun negara.

“Hal ini dibuktikan, setiap tahun di wilayah Wonosobo kasus kekerasan terhadap perempuan menunjukkangrafik data semakin tinggi.”

Meskipun demikian fenomena tersebut juga harus terus diimbangi dengan penanaman niai-nilai kemanusiaan terutama pada perempuan.

“Penanaman nilai kemanusian terutama pada perempuan terus digalakkan di kabupaten Wonosobo bahkan di tingkat desa terpencil. Jadi kita harus mengembalikan nilainilai kepedulian terhadap korban perempuan seperti KDRT, pemerkosaan, bahkan bayi yang dibuang,” ungkap Evi dari LBK Karangluhur Kertek Wonosobo.(Betty NK/Yudhi)

Related posts:


ABI Press_Pengobatan UmumPengobatan Gratis: Wujud Khidmat DPD ABI Bandung Bagi Islam 


the-protester.com dan C20 Library SurabayaGema Perlawanan Masyarakat Samin di Surabaya


Milad Sayyidah Zahra di SemarangMilad Sayyidah Fatimah Az Zahra di Semarang


Laporan-pernyataan-sikap-di-jejaring-sosial-DPD-Tanah-BumbuKlarifikasi Atas Akun Palsu Pencatut Nama DPD ABI Tanah Bumbu

Wonosobo Berbagi Kursi Roda

Suasana haru menyelimuti alun-alun Wonosobo, Rabu (17/8) di tengah berlangsungnya acara penyaluran bantuan kursi roda bagi para penyandang disabilitas Wonosobo dengan slogan “Berbagi itu Keren”.

Dapat dikatakan HUT ke-71 Kemerdekaan RI Tahun ini adalah sejarah baru untuk Wonosobo karena pada peringatan kali ini mengikutsertakan para penyandang disabilitas dalam upacara detik-detik Proklamasi, yang kemudian dilanjutkan penyerahan bantuan kursi roda serta karnaval mengelilingi alun-alun Wonosobo bersama Bupati dan Wakil Bupati Wonosobo, Kapolres Wonosobo, Dandim 0707 Wonosobo, Kepala Kejaksaan Wonosobo, Ketua DPRD Wonosobo beserta istri  dan jajaran SKPD.

“Karnaval keliling alun-alun Wonosobo ini adalah sebagai pesan positif kota yang cinta damai, peduli, dan selalu berbagi, serta kota ramah disabilitas”,  Kata Khufi, aktivis sekaligus juru bicara Komunitas Keluarga Sosial.

Acara Wonosobo berbagi yang difasilitasi oleh PKH (Program Keluarga Harapan) Wonosobo yang tergabung dalam  Komunitas Keluarga Sosial ini berhasil menyalurkan 111 unit kursi roda yang merupakan donasi dari masyarakat Wonosobo, dan 100 unit kursi roda dari PLN Wonosobo.

“Rencana kami akan terus mengumpulkan hingga 400 unit dan akan memecahkan rekor MURI,” tutur Riska, anggota Komunitas Keluarga Sosial.

Terkait tujuan dari kegiatan Wonosobo berbagi tersebut, Mita yang merupakan aktivis lain di komumitas yang sama, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar anak-anak usia produktif masih bisa berkarya dan kursi roda yang diberikan dapat bermanfaat terutama dalam membantu aktivitas keseharian mereka. (Betty/Yudhi)

Related posts:


Kemenag-IAIN-PontianakMenag Resmikan Gedung Baru IAIN Pontianak


Gerakan-Senyum-Kapuas-di-Pelabuhan-Senghie-Pontianak-1Gerakan Senyum Kapuas Bukti Warga Pontianak Peduli Lingkungan


Salat berjamaahSambut Gerhana Matahari Total Warga Pontianak Gelar Salat Kusuf


LGBT IndonesiaPraktisi Kesehatan Sebut LGBT Terkait Kepentingan Global Bidang Kesehatan