Monthly Archives: July 2016

Festival Potong Rambut Gembel Khas Wonosobo

30 July, 2016

Leave a comment

Sabtu (30/7), bertepatan dengan ulang tahun delapan BUMN, Kementerian BUMN menghelat sejumlah acara di Wonosobo. Salah satunya adalah acara pemotongan rambut gembel yang merupakan budaya unik masyarakat Wonosobo. Prosesi itu dilangsungkan di obyek wisata Telaga Menjer Wonosobo, di hadapan ribuan warga yang tampak antusias menyaksikannya.

“Ada lima belas anak berambut gembel yang turut serta dalam acara pemotongan rambut gembel sekarang ini,” kata Miswari, Sekwilcam Kecamatan Garung selaku panitia penyelenggara festival pemotongan rambut gembel itu.

Miswari menjelaskan bahwa pihaknya juga mendapakan bantuan dari Kementerian BUMN berupa 10 perahu yang masing-masingnya seharga 75 juta rupiah. Bantuan ini diharapkan dapat lebih mengembangkan Telaga Menjer sebagai salah satu obyek wisata di Kabupaten Wonosobo.

Acara unik yang bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke 191 Kabupaten Wonosobo ini dihadiri pula oleh Menteri BUMN Rini M. Sumarno, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Wonosobo Eko Purnomo dan tak ketinggalan para Direktur Utama BUMN serta para pejabat eselon Kementerian BUMN. (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:


erupsi-merapiMerapi Turunkan Peminat PTS di Yogya?


bgwnPosko Korban Perahu Terbalik Dipindahkan


doa-Pengugsi-Muslim-Syiah-Sampang-untuk-Korban-Banjir-SampangDoa Pengungsi Muslim Syiah Sampang Untuk Korban Banjir Sampang


Kesbangpol-WonosoboWaspadai Gerakan Radikal Berkedok Kemanusiaan

Menang di Dunia Menang di Akhirat

Hanya saja, tak semua manusia berpendapat sama dalam memaknai kemenangan. Bagi para penganut Ilahi, yang mengakui aspek maknawi dan materi, baik dalam dalam cara memaknai, cara meraih dan menggunakan perantara dalam meraih kemenangan pun akan lebih luas dibandingkan mereka yang hanya percaya pada aspek materi semata.

Bagi mereka yang menganggap kemenangan bukan hanya layak diraih di dunia saja, melainkan juga di akhirat, maka dengan sendirinya akan berupaya memahami dengan benar apa dan siapa perantara yang bisa membuatnya menang di dunia kini dan kelak di akhirat sana. Sebaliknya bagi mereka yang percaya bahwa asas dan ukuran serta tujuan kemenangan hanya sebatas dunia saja, pasti akan berpengaruh pada cara pemaknaannya atas kemenangan itu. Karena itulah mereka kerap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemenangan dunia meski cara itu dinilai tak lazim dan bahkan dianggap terlarang oleh para penganut Ilahi.

Lalu bagaimanakah sebenarnya pandangan para Maksumin as tentang kemenangan?

Imam Ali as berkata, “Kalau kalian menjadikan agama sebagai pengikut dunia kalian, maka agama dan duniamu, kedua-duanya akan musnah dan di akhirat kalian akan menjadi orang-orang yang merugi. Namun kalau kalian menjadikan dunia sebagai pengikut agama, maka agama dan duniamu, kedua-duanya akan kalian dapatkan dan di akhirat kalian akan menjadi orang-orang yang menang.”

Artinya, jika kita ingin sampai pada kemenangan atau ingin mendapatkan kemenangan maka menurut Imam Ali, kita harus menjadikan agama sebagai asas kehidupan kita. Dengan kata lain, kita harus menjadikan agama sebagai our worldview (Pandangan Dunia Kita). Dengan itu, selain mendapatkan kemenangan, kita juga akan mendapatkan dunia sebagai bonusnya. Sebaliknya, bagi mereka yang rela menjual agama untuk dunianya, semisal orang yang ketika waktu salat tiba mereka masih saja sibuk dengan urusan dunianya, maka tidak ada yang bisa mereka dapatkan selain kehancuran dan kerugian.

Selanjutnya, Nabi saw bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah! Kalian seperti orang-orang yang sakit dan Allah SWT adalah tabib. Kemaslahatan orang sakit itu berada pada yang diketahui oleh tabib dan yang dirincikan olehnya, bukan pada yang diinginkan dan diusulkan oleh orang sakit; Ingatlah! Titipkanlah pekerjaan Allah SWT kepada diri-Nya, sehingga kalian menjadi orang-orang yang menang.”

Maksud Nabi, seorang tabib pasti jauh lebih mengetahui kemaslahatan pasien dibandingkan si pasien sendiri. Akan terasa lucu jika seorang pasien mengusulkan obat kepada seorang tabib untuk kesembuhan dirinya. Begitu pun halnya dengan Allah SWT. Dialah Yang Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Maka dari itu, bagi mereka yang ingin tergolong sebagai orang-orang yang menang maka berbaik sangkalah kepada Allah SWT, karena Dia Maha Tahu akan apa yang Dia lakukan. Setelah bertakwa kepada-Nya, pasrahkanlah semua urusan dan keputusan kepada-Nya, niscaya kita akan termasuk dalam golongan orang-orang yang menang.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalah Alquran Surah al-Maidah ayat 56:

وَ مَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ وَ الَّذينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغالِبُونَ 

Barangsiapa yang berwilayah kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman maka sesungguhnya Hizbullah adalah benar-benar orang-orang yang menang.

Terkait ayat di atas, Syaikh Makarim Sirazi menuliskan bahwa ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya atau penyempurna kandungan ayat sebelumnya. Yaitu ayat tentang wilayah Imam Ali as. Jadi siapa saja yang ingin mendapatkan kemenangan tentunya bukan hanya kemenangan di dunia saja, namun kemenangan di akhirat maka dia mesti berwilayah. Yakni dengan menjadikan Imam Ali as sebagai pemimpin dalam segala urusan baik maknawi maupun materi. Namun apabila yang kita lakukan adalah sebaliknya maka konsekuensinya, kita tak akan bisa sampai pada kemenangan.

Kesimpulannya, jika kita ingin tergolong sebagai orang-orang yang menang maka kita harus menjadikan agama sebagai pandangan hidup dunia kita, berbaik sangka kepada Allah SWT, dan berwilayah kepada Allah SWT, Rasul saw, dan Ahlulbait as. Jika hal ini telah kita aplikasikan dalam kehidupan kita maka kita akan menjadi pemenang di dunia dan akhirat kelak, Insya Allah. (Sutia/Yudhi)

Bela Negara dengan Jihad bi Nafs

Sebanyak 69 ulama Thariqah dari 40 negara berpartisipasi dalam Konferensi Ulama Internasional Bela Negara, Rabu (27/7) bertempat di Hotel Santika, Jl. Gajah Mada No.7A Pekalongan.

Acara yang digagas Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini resmi dibuka bersama-sama oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI dan Habib Luthfi bin Yahya selaku Rais Aam.

Berbarengan dengan itu diadakan pula seminar-seminar dengan tema umum “Bela Negara” untuk para ulama nasional. Salah satu di antaranya adalah seminar dengan tema Mewaspadai Gerakan Anti NKRI (Neo-Komunisme, Neo-Fundamentalisme, Neo-Liberalisme) dengan pembicara Dr. KH. As’ad Said Ali dan moderator Dr. Ali M. Abdillah. Forum yang terbuka untuk umum ini digelar di Gedung Junaid, Jl. Pelita 2, Buaran, Pekalongan Barat.

Forum ini diharapkan dapat menjadi forum pencerahan bagi umat Islam dalam mempersepsikan makna jihad yang sesungguhnya, khususnya terkait upaya Bela Negara demi menjaga keutuhan NKRI.

Menurut KH. As’ad Said Ali, sudah seharusnya kita lebih fokus pada perbaikan diri, sehingga jihad yang kita lakukan pun bukanlah dalam makna lain kecuali dalam makna jihad bi nafs.

“Salah satu jihad bi nafs ini adalah melalui thariqah-thariqah, yang ke depannya sangat memungkinkan melalui thariqah ini akan muncul sebuah kekuatan spiritual tersendiri,” terangnya.

Di akhir acara, Ali M. Abdillah selaku moderator pun menyimpulkan hasil seminar.

“Sebagaimana kelompok-kelompok Thariqah di Turki yang berkembang dan mampu menjadi penyeimbang kelompok radikalis, maka demikian juga insya Allah yang terjadi di Indonesia.” (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:


Demo di Depan Kedubes SaudiAliansi Anti Perang (A2P) Kembali Demo Kedubes Arab Saudi


Nirkekerasan-Adalah-Ruh-Agama-IslamNirkekerasan Adalah Ruh Agama Islam


Bank-Syariah-IranMengintip Bank Syariah Iran


Asyuro-HongkongAsyura di Hongkong

Bedah Buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi, Upaya Lestarikan Pencak Silat di Tanah Air

Bedah buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi dan Halal bi Halal O’ong Maryono Pencak Silat Award (OMPSA), di gedung Kemendikbud RI, Senayan, Jakarta Pusat (26/7) dihadiri beberapa perguruan seni bela diri atau pencak silat khas Indonesia khususnya Betawi, seperti Seni Maen Pukul Gado-gado Betawi, Laskar Betawi Bekasi, dan Pencinta Seni Bela Diri Betawi aliran Rahmat Al-Husna Tanah Abang.

Sebagai informasi, OMPSA adalah sebuah program hibah kecil yang mendanai upaya-upaya penelitian, dokumentasi dan publikasi mengenai pencak silat yang telah dirintis sejak tahun 2014 oleh keluarga besar (Alm) tokoh pencak silat Guru O’ong Maryono dan dikelola oleh Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa).

Buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi didasari penelitian sejarah dan antropologi mengenai aliran-aliran Betawi yang dilakukan oleh Bapak Gusman Natawijaya dan mendapatkan dukungan OMPSA dalam menyelesaikan penelitian, penyuntingan dan penerbitan awal tahun ini oleh Yayasan Obor. Dengan keyakinan bahwa hasil penelitian ini penting diketahui secara luas dalam rangka memperkenalkan dan melestarikan pencak silat, maka bedah buku tersebut sengaja digelar oleh Pendiri dan Direktur O’ong Maryono Pencak Silat Award (OMPSA), Rosalia “Lia” Sciortino Sumaryono.

Sebelum bedah buku dimulai, acara diawali dengan penampilan pentas seni pencak silat yang dibawakan para muda-mudi Betawi. Mereka menunjukkan kebolehan masing-masing dalam bertarung.

Tak ketinggalan, digelar pula pertunjukan budaya Betawi, “Palang Pintu” oleh B2PRO (Belantara Betawi Production). Dalam tradisi masyarakat Betawi, Palang Pintu merupakan bagian dari prosesi penyambutan tamu kehormatan, selain biasa juga dihelat dalam prosesi pernikahan.

Selain Rosalia S. Sumaryono sebagai moderator, turut hadir pula Dirjen Dikbud Hilmar Farid, Kartini Nurdin mewakili Penerbit Buku, Edi M. Nalapraya selaku tokoh Betawi yang sekaligus tokoh Pencak Silat, Dr. JJ Rizal, Sejarawan dan pendiri Komunitas Bambu, Prof. Dr. Yasmin Zakki Shahab, Ahli Antropologi UI, dan Henri Nurcahyo selaku Budayawan.

Rosalia menuturkan, banyak gaya dan aliran dalam pencak silat Betawi O’ong yang merefleksikan kehidupan sebelum dan sesudah Batavia. Meski Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi menurutnya masih perlu tambahan referensi, namun dengan mengalirnya dukungan banyak pihak akhirnya buku tersebut dapat dirilis juga.

Sebagai sesepuh Betawi, Edi M. Nalapraya dalam ungkapan singkatnya menuturkan bahwa pencak silat tak hanya ada di Indonesia, melainkan sudah menyebar di 50 negara. Selain ilmu beladiri, Nalapraya menyebutkan beberapa aspek yang ada dalam pencak silat seperti mental-spiritual, seni, dan olahraga. Di sisi lain, bukan hanya pintar berpencak-silat, orang Betawi menurutnya juga agamis dan toleran terhadap orang luar dan tidak pernah mempermasalahkan adat-istiadat yang berbeda dengan mereka.

Prof. Dr. Yasmin Zakki Shahab menyoroti pentingnya aspek budaya dalam pencak silat. Dia menyayangkan pencak silat belum dihargai secara layak di Indonesia. Padahal menurutnya, siapa lagi selain bangsa kita sendiri yang seharusnya mengembangkan pencak silat, baik sebagai sejenis beladiri khas Indonesia maupun sebagai atraksi budaya untuk menarik perhatian wisatawan? Untuk itulah dipandang penting adanya penerbitan buku-buku biografi berisi kisah para jawara silat, tak terkecuali para jawara silat asal Betawi.

Di sisi lain, Henry Nurcahyo menyayangkan bahwa di antara sekitar 300-an aliran silat di Indonesia, Silat Betawi Maen Pukul termasuk salah satu yang statusnya di ambang kepunahan. Tak dapat dipastikan apakah hal ini akibat masuknya seni bela diri dari luar sehingga remaja sekarang tidak tertarik pada seni beladiri bangsa sendiri atau hal itu akibat tidak adanya UU Kebudayaan.

Sementara sebagai sejarawan, selain memaparkan tentang dua sosok utama dalam pencak silat Betawi yaitu M.H. Thamrin dan Pitung, Dr. JJ Rizal juga menyebut beberapa basis nilai utama dalam pencak silat Indonesia seperti kemanusiaan, kejujuran, dan budi pekerti yang luhur serta sikap peka terhadap nasib wong cilik. Maka tak heran menurut Rizal, jika mayoritas ahli silat Betawi kebanyakan dari kalangan Ustaz dan Kiai. (Putra/Yudhi)

Menggali Potensi Daerah Dengan “Jagong Budoyo”

26 July, 2016

Leave a comment

Sekitar 3000 masyarakat Kecamatan Garung Wonosobo, Selasa, (26/7) dengan kostum adat Jawa berkumpul di lapangan Gemblengan Wonosobo dalam rangka “Jagong Budoyo.

Acara yang menampilkan berbagai kesenian daerah Wonosobo dan sajian 831 tumpeng “selamatan” itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari jadi Wonosobo yang jatuh pada tanggal 24 Juli.

Kepala Desa Gemblengan, Topo, mengatakan dalam sambutannya bahwa acara “Jagong Budoyo” merupakan upaya pemersatu dalam merajut keragaman yang ada di tengah masyarakat.

“Karena dengan seni budaya yang ada inilah segala keberbedaan yang ada pada kita tidak lagi akan menjadi sumber perpecahan.”

Topo juga menyebut “Jagong Budoyo” sebagai upaya bersama untuk menggali potensi daerah dalam rangka menciptakan masyarakat yang lebih maju dan mandiri.

“Dengan menggali potensi yang ada pada kita dan kemudian bersama-sama kita kembangkan, maka akan kita peroleh kemajuan masyarakat bukan hanya dari sisi ekonominya, bahkan kemajuan pada bidang-bidang lainnya juga,” tegasnya. (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:


ABI Press_KUII VI di YogyakartaKongres Umat Islam Indonesia (KUII) Bukan Kongres Satu Ormas


ABI Press_KOBASepeda Onthel Masih Eksis di Jakarta


Membumikan Islam NusantaraIslam Khas Nusantara Sebuah Keniscayaan


Kerjasama-Unisa-Palu-dan-Unievrsitas-IrakUniversitas Alkhairaat Palu Jalin Kerjasama dengan Universitas di Irak

Akhiri Kekerasan Terhadap Anak

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional sekaligus Hari Keluarga Nasioal, Sabtu (23/7) ribuan anak dari berbagai TK dan PAUD se-Kabupaten Wonosobo meramaikan karnaval dengan rute dari depan pendopo Bupati menuju Plaza kemudian memutar melalui jalan Ahmad Yani lalu kembali ke alun-alun.

Acara bertema “Akhiri Kekerasan terhadap Anak” ini dibuka langsung oleh Bupati Wonosobo, Eko Purnomo.

“Hendaknya saat ini kita jadikan sebagai momen untuk lebih meningkatkan perhatian kita terhadap anak-anak kita,” kata Bupati dalam sambutannya ketika membuka acara karnaval.

Kekerasan terhadap anak harus benar-benar diakhiri saat ini sebagai wujud perhatian kita terhadap perkembangan generasi penerus agar masa depan mereka lebih baik.

“Apalagi pada saat ini bertepatan pula dengan peringatan Hari Keluarga Nasional,” lanjutnya.

Acara di alun-alun Wonosobo ini juga diramaikan lomba menggambar dan mewarnai, lomba kriya dan lomba esay, yang dikoordinir anak-anak FORKOS, lomba dolanan anak yang dikoordinir Gabungan Organisasi Wanita Wonosobo, Festival PAUD yang dikoordinir Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo, serta pemberian 100 Akte Kelahiran gratis dan 4 kursi roda bagi penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus. Sebanyak 2 kursi merupakan sumbangan dari Gerakan Wonosobo Berbagi Kursi Roda, sedangkan 2 kursi roda lainnya berasal dari kepedulian siswa-siswi MTs Negeri Wonosobo. (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:


Kerjasama-Unisa-Palu-dan-Unievrsitas-IrakUniversitas Alkhairaat Palu Jalin Kerjasama dengan Universitas di Irak


IMG-20150711-WA004Demo Akbar Yaumul Quds Semarang


Haidar Bagir menyikapi Islam Nusantara dan Sejarah IndonesiaHaidar Bagir: Jangan Gampang Anggap Budaya Lokal Bertentangan dengan Syariat


12295047_10204964528212978_198820946_oTantangan Islam Rahmatan Lil Alamin

Pesta Seni Budaya Dalam Rangka Hari Jadi Wonosobo Ke-191

Dalam rangka hari jadi Wonosobo ke-191, Minggu (24/7) ribuan warga memadati alun-alun Wonosobo menyaksikan berbagai pentas seni budaya dari berbagai kelompok kesenian tradisional.

Dalam acara bertema “Kelola Potensi Wonosobo Entaskan Kemiskinan” kali ini diadakan pula kirab budaya serta upacara peringatan dengan nuansa Jawa yang kental. Bukan saja semua peserta upacara dari unsur-unsur pemerintahan daerah serta berbagai komponen masyarakat itu memakai pakaian adat Jawa, bahkan upacara peringatan pun dilakukan dengan bahasa Jawa. Nampaknya hal ini adalah untuk lebih menghidupkan budaya Wonosobo.

“Momen untuk mempertahankan dan menjunjung tinggi budaya luhur Wonosobo khususnya seperti saat ini haruslah tetap kita pertahankan,” kata Eko Purnomo, Bupati Wonosobo, dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut Eko Purnomo juga mengajak semua komponen masyarakat untuk meningkatkan kerja sama dan selalu bahu-membahu untuk menciptakan Wonosobo yang lebih aman dan makmur. (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:


Kerjasama-Unisa-Palu-dan-Unievrsitas-IrakUniversitas Alkhairaat Palu Jalin Kerjasama dengan Universitas di Irak


IMG-20150711-WA004Demo Akbar Yaumul Quds Semarang


Haidar Bagir menyikapi Islam Nusantara dan Sejarah IndonesiaHaidar Bagir: Jangan Gampang Anggap Budaya Lokal Bertentangan dengan Syariat


12295047_10204964528212978_198820946_oTantangan Islam Rahmatan Lil Alamin

Berburu Sunrise ke Bukit Kembang

Sunrise-Bukit-Kembang-Puncak-SariGunung Bromo! Siapa tak pernah mendengar namanya yang sudah termasyhur hingga ke mancanegara? Keindahan alam yang ada di gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan baik di dalam maupun di luar negeri. Terutama untuk menikmati keindahan matahari terbit tiap pagi hari.

Ada beberapa tempat alternatif untuk menyaksikan keindahan matahari terbit di wilayah gunung Bromo. Pertama, di wilayah Pananjakan 1 dan 2 yang masuk wilayah Kabupaten Malang. Sementara yang kedua adalah tempat yang baru populer dengan sebutan Negeri Atas Awan atau dikenal dengan istilah B29 yang masuk wilayah Kabupaten Lumajang.

Tapi ternyata kawasan wisata Bromo tak hanya punya dua tempat alternatif tersebut. Saat penulis sedang berada di Jawa Timur, tersiar kabar tentang Bukit Kembang, Desa Sapih, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur. Sebuah tempat dengan ketinggian 2.533 meter dari permukaan laut (MDPL) yang menawarkan pemandangan matahari terbit, meliputi Bromo dan sejumlah kota di Jawa Timur.

Tergiur dengan cerita yang diisampaikan oleh sejumlah kawan, penulis akhirnya memutuskan untuk membuktikan sendiri dan membandingkan keindahan B29, Pananjakan dan Bukit Kembang.

Setelah beberapa hari mencari informasi untuk dapat mencapai lokasi puncak, akhirnya di hari kedua penulis berkesempatan untuk langsung membuktikan isu tentang keindahan panorama Bukit Kembang. Untuk mencapai puncak Bukit Kembang, diperlukan perjuangan yang tidak ringan. Alasannya, tempat ini belum menjadi tempat wisata resmi, maka wajar jika jalur ke arahnya cukup terjal dan memacu andrenalin. Tak seperti jalur ke B29 atau Pananjakan.

Jalanan terjal dan penuh batu menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi bagian kanan atau kiri jalan tak jarang merupakan jurang yang cukup dalam. Kadang juga harus melintasi jalanan tanah yang jika tak beruntung seteleh hujan akan menjadi licin. Sementara lebar jalan tak lebih dari satu meter. Dengan bagian kiri adalah tebing bukit dan bagian kanan adalah perkebunan milik warga yang memiliki kemiringan layaknya jurang.

Demi untuk membuktikan keindahan matahari terbit di Bukit Kembang, penulis terpaksa bermalam di rumah warga di dusun terdekat dari Bukit Kembang, Dusun Puncak Sari.

Tepat pukul 4 dini hari esok harinya, dengan menyewa jasa warga Dusun Puncak Sari, penulis diantar ke puncak Bukit Kembang yang masih berjarak sekitar 2 km dari Dusun Puncak Sari. Rute tanah liat yang diguyur hujan sebelumnya membuat jalanan semakin susah untuk dilalui. Bahkan beberapa kali kendaraan bermotor yang kami kendarai terpaksa harus berhenti dan memaksa penulis berjalan kaki sampai ke batas jalanan yang lumayan layak dilintasi kendaraan bermotor.

Setelah hampir 30 menit  berjuang melewati lika-liku jalanan licin dan berlumpur, akhirnya sampailah penulis di puncak Bukit Kembang. Disini, pada saat malam hari, seolah berada di tempat dengan pemandangan dua bintang yang berbeda. Pertama adalah pemandangan bintang yang ada di atas langit yang terasa begitu luasnya dan menjadi sangat dekat. Yang kedua adalah “bintang” dari lampu-lampu beberapa kota di bawah kaki gunung seperti Pasuruan, Probolinggo dan wilayah sekitarnya.

Kini, matahari terbit telah muncul dan penulis beruntung dapat mengabadikan beberapa gambarnya. Belum lagi pemandangan gunung Bromo dengan lautan pasir yang dipenuhi dengan kabut tertimpa pancaran sinar matahari pagi seolah berada tepat di depan sebuah lukisan kanvas, karya pelukis ternama.

Keberadaan Bukit Kembang sebagai tempat wisata alternatif untuk menikmati keindahan gunung Bromo, tentu membuka sejumlah kemungkinan tempat lain di sekitar gunung Bromo yang dapat dieksplorasi lebih jauh menjadi salah satu objek wisata di kawasan gunung Bromo.

Lebih jauh hal ini membuktikan bahwa masih banyak tempat-tempat yang indah dan sangat berpotensi untuk menjadi tempat wisata di Indonesia yang sangat luas ini, sekaligus membuktikan bahwa keindahan Indonesia sudah tidak bisa dibantah lagi. Bahkan tidaklah perlu untuk berwisata ke luar negeri jika ternyata Indonesia sendiri telah menawarkan keindahan yang tiada tara. Bisa jadi memang benar Indonesia adalah belahan surga yang jatuh ke bumi.

Tentu yang lebih penting lagi adalah perjalanan penulis ini semakin menambah kecintaan penulis pada Indonesia. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


Koh LuminGeliat Bisnis Uang Kuno


Teluk Hijau copyTeluk Hijau, Eksotisme Ujung Timur Jawa


SuroboyoWarung Budoyo, Lestarikan Budaya


Surat Tilang Warna BiruKisah Surat Tilang Warna Biru

Muslim yang Tak Berkitab Suci

ذلِكَالْكِتابُلارَيْبَفيهِهُدىًلِلْمُتَّقين

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. al-Baqarah:2)

Jawady Amuly menulis, kenapa dalam ayat di atas dikatakan bahwa “Tidak ada keraguan di dalamnya” karena keraguan itu ditimbulkan oleh bercampurnya antara kebenaran dan kebatilan. Namun kalau di sana hanya ada tentang kebenaran saja atau hanya ada salah satu di antaranya maka ia tidak akan mengandung keraguan di dalamnya. Keraguan tidak sesuai dengan Alquran, itu karena Alquran adalah kebenaran yang murni (بل هو الحق من ربک ).

Hal ini menjadi perenungan sendiri bagi penulis khususnya dan mungkin untuk kita semua umat Islam bahwa ketika kita meyakini bahwa tidak ada keraguan dalam Alquran maka segala kabar dan perintah yang ada di dalam Alquran harusnya menjadi sebuah pedoman kita untuk menjalani hidup. Kenapa? Karena fitrah manusia dan secara akal, manusia akan mengikuti segala sesuatu yang membuatnya yakin yaitu tidak menjadi ragu. Namun pada hakikatnya sekarang kita masih saja seakan-akan tidak mempercayai Alquran dan menjadi umat Muslim yang tak berkitab suci.

Apa buktinya bahwa kita masih tidak mempercayai Alquran yang tidak ada keraguan di dalamnya? Buktinya yaitu tatkala kita masih berakhlak buruk, berdosa, dan tidak menjalankan perintah-Nya. Padahal jelas-jelas setiap kitab suci, terlebih Alquran, menasihatkan kita untuk beramal baik, salah satunya dikarenakan adanya hari kiamat dan hari pembalasan.

Sekarang, salah satu yang penulis ingin kabarkan adalah tentang adanya kabar hari kiamat di dalam Alquran.

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya… (QS. al-Imran:25)

Kalau kita benar-benar meyakini datangnya hari kiamat maka kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena menurut Alquran seperti dalam surah ‘Abasa ayat 34-37 bahwa pada hari itu manusia lari dari sanak saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Karena begitu menakutkannya hari itu saat mereka harus menanggung apa yang mereka amalkan di dunia fana ini, maka mereka berlari dan kabur dari satu sama lainnya. Padahal mereka dahulu mempunyai ikatan sangat dekat.

Namun sebaliknya bagi mereka yang benar-benar mempercayai Alquran yang tidak ada keraguan di dalamnya sehingga mereka mengamalkan apa-apa yang diperintahkan Allah SWT di dalamnya, maka mereka mendapatkan kabar baik dan keadaan yang baik ketika hari kiamat. Wajahnya berseri-seri dan berbahagia.

Kalau kita benar-benar yakin bahwa Alquran tidak ada keraguan di dalamnya, para kaum muda Muslim tidak akan pernah melakukan yang namanya pacaran. Karena jelas-jelas Alquran melarang hal-hal yang bisa mendekati zina dan kebanyakan dari pacaran yang kita saksikan sehari-hari adalah mendekati zina.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. al-Isra’:32)

Dan anak-anak Muslim tidak ada yang akan membantah kepada orang tuanya tatkala ia diperintahkan untuk sesuatu yang baik.

Tapi faktanya, masih banyak akhlak dan perilaku kita yang berseberangan dengan Alquran yang sudah menjamur di negeri tercinta Indonesia yang tak mungkin disampaikan kesemuanya di sini.

Sangat disayangkan budaya dan kebiasaan masyarakat Muslim yang ada di Indonesia ini sudah seperti kondisi umat yang tidak beragama Islam atau Muslim yang tak berkitabkan Alquran. Padahal harusnya menjadi sebuah kebanggan bagi kita bahwa negara yang pemeluk agama Islamnya terbanyak di dunia adalah negara kita, negara Indonesia.

Sebenarnya hal ini adalah PR bersama bagi para cendekiawan, para pemikir, para guru agama Islam Indonesia untuk bisa mengenalkan ajaran Alquran dengan tafsir yang diinginkan Allah SWT dan Rasul-Nya kepada para penduduk Muslim sehingga kita bisa sama-sama mengamalkan tentang apa yang dikabarkan Allah SWT melalui Rasulullah saw dalam kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya yaitu Alquran. Jangan sampai kita seperti orang beragama Islam namun tidak mengimani kitabnya.

Terlepas dari semua yang telah disampaikan, yaitu tatkala kita masih berdosa, tatkala kita masih durhaka kepada orang tua, tetap saja kita harus kembali kepada Allah SWT dengan bertaubat.

Tak ada lagi seruan paling mesra dari Allah SWT kepada hamba-Nya yaitu “Wahai hamba-hambaku…”

Maka ketika kita melakukan dosa, bergegaslah kembali kepada-Nya, meminta ampun dan bertaubatlah. Sesungguhnya Ia adalah yang Maha Mengasihi kita yang mempunyai tubuh yang lemah ini.

“یا رب ارحم ضعف بدنی”

Wahai Tuhanku, kasihinilah kelemahan tubuhku… (Sutia/Yudhi)

Related posts:


Parasitisme Takfiri (Bagian Kedua): Belati di Leher al-QaedaParasitisme Takfiri (Bagian Kedua): Belati di Leher al-Qaeda


Syafinuddin Al-MandariImunitas Sosial dan Toleransi Rasional


RUMAH PRESIDEN DAN NASIB PENGUNGSI SAMPANGRumah Presiden dan Nasib Pengungsi Sampang


haji_indJagoan Haji

Membincang Polemik Beda Data Perkara di Kepolisian dan Kejaksaan

Dalam peluncuran hasil penelitian LBH Jakarta dan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia – Fakultas Hukum Universitas Indonesia (MaPPI FHUI), Kamis (21/7) di kantor LBH Jakarta, Jakarta Pusat dengan judul “Pra-Penuntutan Sekarang, Ratusan Ribu Perkara Disimpan, Puluhan Ribu Perkara Hilang; Penelitian Pelaksanaan Mekanisme Pra-Penuntutan di Indonesia Sepanjang Tahun 2012-2014”.

Salah satu temuan dari penelitian tersebut adalah adanya kurang lebih 255.618 perkara dari total kurang lebih 645.780 perkara yang disidik oleh penyidik kepolisian, yang penyidikannya tidak diberitahukan kepada Penuntut Umum sepanjang tahun 2012-2014. Perkara semacam inilah yang oleh peneliti disebut sebagai Perkara yang Disimpan.

“Perkara yang Disimpan adalah perkara yang disidik tapi tidak diberitahukan ke Penuntut Umum,” jelas Ichsan Zikry, Pengacara Publik LBH Jakarta.

Sementara terkait dengan temuan Perkara yang Hilang, terdapat kurang lebih 44.273 perkara “Hilang” dari total 353.000 perkara yang diterima oleh Penuntut Umum dalam kurun waktu yang sama.

Yang dimaksud dengan Perkara yang Hilang disini adalah perkara yang menggantung di Pra-Penuntutan. Sebab idealnya perkara yang telah disidik diserahkan kepada Penuntut Umum. Jika ada yang kurang lengkap, maka Penuntut Umum akan mengembalikan berkas tersebut ke Kepolisian untuk dilengkapi dan diserahkan kembali ke Penuntut Umum.

“Dimana akhir dari bolak-balik berkas perkara ini jika tidak P21, ya SP3,” ungkap Ichsan. “Nah, kasus ini yang dimaksud dengan perkara hilang dan tergantung di Pra-Penuntutan,” tambahnya.

Hal ini menurut Peneliti MaPPI FHUI, Adery Ardhan menunjukkan terdapat dua gejala permasalahan.

Pertama, tidak optimalnya pemberian SPDP dan yang kedua adalah tidak padunya sistem koordinasi antar lembaga.

“Dalam hal ini pihak Kepolisian dan Kejaksaan,” tegas Adery.

Menanggapi temuan penelitian ini, Pultoni, selaku Komisioner Komisi Kejaksaan yang hadir dalam peluncuran hasil penelitian tersebut tidak menyangkal data yang dipaparkan para peneliti. Bahkan dia menegaskan adanya kemungkinan data pasti dari temuan penelitian itu bisa lebih. Alasannya menurutnya adalah karena adanya masalah pengolaan data informasi database di jajaran pemerintahan.

“Data temuan itu bisa lebih, karena memang sistem informasi kita yang kurang baik,” tegas Pultoni.

Lebih jauh Pultoni menerangkan bahwa kita sudah punya sistem tindak pidana terintegrasi. Tapi dalam faktanya, menurutnya proses yang terjadi itu belum sepenuhnya ada kesepahaman antara Kepolisian dan Kejaksaan.

AKBP Iwan Kurniawan, SIK, MsiDalam acara hari itu hadir juga Kasubdit I Dittipidum Bareskrim Polri, AKBP Iwan Kurniawan, SIK, Msi yang juga memberikan tanggapannya atas hasil penelitian tersebut. Dalam kesempatan tersebut Iwan mengungkapkan awalnya terkejut ketika mendengar ada istilah “Perkara Hilang” dan “Perkara Disembunyikan”.

“Ternyata itu adalah perkara yang belum tuntas,” ujarnya.

Dalam paparannya, Iwan menjelaskan bahwa data laporan dari masyarakat akan masuk ke Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK). Jadi data itu tidak hanya di tangan penyidik atau direktorat yang menangani. Setelah masuk ke penyidikan, di situ terdapat juga buku register dan terdaftar lengkap semua dalam buku register tersebut.

“Jadi laporan yang masuk, tidak mungkin bisa kami hilangkan datanya,” tegas Iwan.

Karena suatu saat ada yang namanya status mekanisme sistem pengawasan. Ada yang namanya laporan mingguan dan bulanan akan dipaparkan oleh Biro Operasi. Disinilah pencocokan data akan dilakukan. Jika ada data yang tidak cocok akan ditelusuri dan diselidiki.

“Kalau ada satu saja data berbeda, itu akan diselidiki dan akan turun pengawas.”

Iwan menegaskan bahwa semua kasus yang tercatat itu masih ada, tidak ada istilah hilang atau disimpan. Semua masih dalam proses yang dalam prosesnya sedang mengalami kendala.

Peluncuran hasil penelitian tersebut ditutup dengan adanya kesepakatan dari Kepolisian dan Kejaksaan untuk lebih terbuka memberikan data dan informasi kepada para peneliti. Selain itu mereka juga sepakat untuk memperbaikai lagi sistem informasi data dan senergi antara keduanya untuk meminimalkan terjadinya perbedaan data. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


IMG-20130923-WA0051Foto Dokumen Piagam Perdamaian Syiah Sampang


syiah01_23092013200946Aktivis Kebebasan Beragama Yakin Warga Syiah Bisa Berbaur


din-duga-ada-pihak-yang-membesar-besarkan-konflik-sunni-syiahDin duga ada pihak yang membesar-besarkan konflik Sunni-Syiah


islahUpaya Islah Sunni dan Syiah Sampang kian Menguat