Monthly Archives: June 2016

Seri Tafsir Quran Ramadhan ICC Bersama Ustaz Salman Fadhlullah

Seri Tafsir Quran Ramadhan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Selatan (23/6) bersama Ustaz Salman Fadhlullah menjelaskan tentang dunia dan realitanya. Untuk itu, Ustaz Salman menegaskan bahwa kita harus menyadari bagaimana dunia itu dan juga terkait apa yang harus kita lakukan di dunia? Seperti apa dunia itu? Dan apa saja yang akan terjadi di dunia ini?

Disadari tidak disadari, dunia menurut Ustaz Salaman adalah tempat dimana mahluk saling mendominasi dan saling berebut. Maka dari itu yang dominan di dunia ini adalah dua komunitas, yaitu untuk mempertahankan atau menolak dan untuk menarik. Oleh karena itu kadang anda harus menolak sesuatu di dunia ini dan kadang anda harus menarik sesuatu.

Untuk selengkapnya dapat ditoton dalam video berikut.

YouTube Preview Image

Related posts:


Khutbah-Jumat-Sayyid-MusaviKhutbah Jumat Bersama Sayyid Musavi


Khutbah-Jumat-ICC-20-MeiPuasa di bulan Nisfu Sya’ban


khutbah-Jumat-ICCKhutbah Jumat ICC: Menyambut Ramadhan dengan Meningkatkan Amal Kebaikan


Tafsi-Quran-Ramdhan-ICCTafsir Quran Ramadhan ICC Bersama Ustaz Muhammad Alkaff

Lailatul Qadr, Malam Keinsyafan, Pengakuan dan Permohonan Ampun atas Segala Dosa

26 June, 2016

Leave a comment

“Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menjelaskan tentang lima dasar kehidupan manusia di dunia ini. Lima dasar ini diambil dari Surah al-Isra dari ayat 11 sampai dengan 15. Mereka itu ialah ikhtiar dan takdir, hisab, hidayah, tanggung jawab, dan peringatan,” jelas Ayatullah Rafii’ dalam peringatan malam ke-19 Ramadhan atau Malam Qadr, di Shabestan Imam Khomeini, Haram Sayidah Maksumah, Qum, Jumat (24/7).

“Yang pertama adalah ikhtiar dan takdir. Perlu diketahui bahwa Allah SWT tidak menciptakan manusia secara sembarangan. Namun sesuai dengan ketetapan dan ketetapan yang telah terukur, selain itu takdir manusia ada di tangan manusia sendiri,” jelasnya.

Adapun tentang hisab, beliau menjelaskan bahwa segala yang manusia lakukan di dunia ini, dokumennya bisa dilihat nanti di hari kiamat.

“Nanti di hari kiamat, kita tidak bisa mengingkari dokumen-dokumen amal kita dan kita akan melihat rekaman-rekaman setiap apa yang kita lakukan, serta mulut-mulut kita akan tertutup rapat.”

“Selanjutnya adalah hidayah. Barangsiapa yang mendapatkan hidayah di dunia ini, maka sebenarnya mereka telah menguntungkan dirinya sendiri, namun bagi siapa saja yang tersesat maka dialah yang merugi. Seperti Abu Jahal dan Umar bin Sa’ad yang telah kehilangan dan tak mendapatkan hidayah, sebenarnya mereka sendiri yang merugi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan dua poin terakhir yaitu tanggung jawab dan peringatan.

“Dua dasar yang lain adalah tanggung jawab dan peringatan. Adapun tanggung jawab bermakna bahwa apa yang kita lakukan, maka diri kita sendirilah yang akan menanggungnya dan tentang peringatan bahwa apabila ada seseorang yang belum mengenal para nabi Allah karena terbatasnya sarana informasi maka ketika mereka meninggal dunia maka Allah swt akan mengampuninya dan memasukannya ke dalam surga. Inilah lima dasar kehidupan kita di dunia ini yang apabila diketahui maka kita akan selamat sampai tujuan.”

“Malam Qadr adalah malam muhasabah. Malam ketika kita menghisab diri kita, ada di manakah kita? Inilah halaman kita mengenal dan mengakui dosa-dosa serta aib-aib kita kepada Allah SWT,” pungkasnya. (Sutia/ Yudhi)

Related posts:


Agama dan Pancasila: Menakar Ulang Tafsir dan Makna Pancasila Sebagai Ideologi NasionalMimpi Basah Wahabi Mengganti Pancasila


Teladan Damai MUI YogyakartaTeladan Damai MUI Yogyakarta


ABI Press_Peringatan Maulid Nabi oleh Paguyuban Sabilulungan di BandungIsra’ Mi’raj ICC: Umat Agung Manifestasi Manusia Agung


Komunitas SaliharaIslam dan Spirit Kapitalisme

Apa yang Sebaiknya Dilakukan di Malam Qadr?

Memasuki sepuluh hari di penghujung Ramadhan, terdapat apa yang kita kenal sebagai lailatul qadr. Sebagaimana dalam surah Al-Qadr disebutkan bahwa malam qadr adalah malam ketika Alquran diturunkan atau “Lailatul qadri khairum min alfi shahriin…” yakni malam yang lebih baik dari seribu bulan, saat para malaikat dan roh suci turun memenuhi bumi dan menyampaikan salam kepada kita.

Benarkah Alquran diturunkan pada salah satu malam di bulan Ramadhan? Bukankah Alquran pertama kali diturunkan pada hari pengangkatan Nabi saw di bulan Rajab dengan surah Al-‘Alaq? 

Kalau kita merujuk pada ayat “Shahru ramadhana alladzi unzila fiihil Quranu hudan linnasi wa bayyinati minal huda…”[1] dalam ayat ini dikatakan bahwa bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan. Sekarang kita dapati bahwa Alquran turun di bulan Ramadhan. Lalu bagaimana dengan bulan Rajab? Mana yang benar apakah Alquran turun di salah satu hari atau malam di bulan Ramadhan atau di bulan Rajab bertepatan dengan pengangkatan kenabian Nabi Muhammad saw?

Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita harus mengetahui bahwa terdapat pembagian turunnya Alquran.

1.    Turun secara berangsur-angsur. Artinya, Alquran turun dari awal malam pengangkatan kenabian sampai akhir hayat Nabi Muhammad saw.[2]

2.    Turun secara sekaligus. Artinya, turunnya hakikat dan maarif Alquran ke dalam hati suci Nabi saw secara sekaligus.[3]

Dari penjelasan di atas maka kita akan memahami bahwa yang dimaksud bahwa Alquran turun di malam qadr adalah turunnya hakikat dan maarif Alquran secara sekaligus ke dalam hati Nabi Muhammad saw. Jadi tidak ada pertentangan dalam kedua hal ini.

Malam Penetapan Takdir

Dalam surah Ad-Dukhan ayat 4-5, malam qadr dikenal juga dengan malam penetapan takdir. Seperti makna dari qadr sendiri adalah ukuran. Di malam ini Tuhan menetapkan takdir hamba-Nya selama satu tahun sampai malam qadr di tahun depan. Maksudnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan hamba-Nya ditentukan di malam ini.[4]

Maka dari itu, merupakan sebuah kesempatan yang besar bagi kita untuk memohon takdir yang baik menurut-Nya di malam qadr ini.

Turun Setiap Tahun

Abu Dzar al-Ghifari ra pernah bertanya kepada Rasul saw, “Wahai Rasulullah, apakah malam qadr hanya turun ketika ada para nabi di dunia ini saja? Sehingga ketika mereka meninggal dunia, malam qadr pun menghilang?” Rasul saw menjawab, “Tidak seperti itu, malam qadr hadir sampai hari kiamat.”[5]

Dengan demikian, karena malam qadr hadir setiap tahun, maka apabila kita mendapatkannya setiap tahun, sama artinya kita akan mendapatkan seribu bulan setiap tahun. Luar biasa bukan?

Malam ke-23

Dengan melihat keistimewaan malam qadr, alangkah sayangnya bila kita melewatkannya begitu saja. Maka kita harus benar-benar mendapatkannya. Mengetahui dengan jelas kapan malam ini hadir adalah satu langkah untuk mendapatkannya.

Lalu terdapat di malam keberapakah malam qadr tersebut?

Dari beberapa riwayat diketahui bahwa malam qadr terdapat di malam-malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan dan kemungkinan besar ia terdapat di malam ke-23. Seperti apa yang dikatakan oleh Syekh Shaduq dan Sayid bin Thawus, mereka berkata bahwa malam qadr terdapat di malam ke 23.[6]

Dalam hadis yang lain dicatat bahwa Hamzah bin Abdillah berkata, “Aku berada dalam kumpulan Bani Salamah. Dan mereka berkata: Siapa yang akan pergi menemui Rasul saw untuk bertanya tentang malam qadr. Maka aku pun, Hamzah, berkata: diriku yang akan pergi.”

“Setelah itu aku pun pergi ke Madinah menemui Rasul saw. Ketika sampai di hadapan beliau, akupun bertanya, Wahai Rasulullah, Bani Salamah mengirimkan diriku kepadamu untuk bertanya tentang malam qadr. Rasul saw bersabda: malam ini malam ke berapa ramadahan? Aku menjawab: Malam ke dua puluh dua. Lalu beliau bersabda: besok, malam ke dua puluh tiga adalah malam qadr.[7]

Apa yang Harus Dilakukan di Malam Qadr?

Dalam sejarah dicatat bahwa Rasul saw beribadah melebihi hari-hari biasanya pada sepuluh hari terakhir dan pada malam ke 23, beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allah SWT.[8]

Imam Ali as pun berkata bahwa Rasul saw membangunkan keluarga beliau supaya banyak beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dan seluruh waktu malam-malam akhir ini dihabiskan dengan sujud dan rukuk. Lalu beliau bersabda, “Mintalah malam qadr di sepuluh malam ini.”[9]

Beribadah sesuai dengan yang diajarkan Rasul saw dan para Imam as merupakan cara yang paling meyakinkan untuk mendapatkan malam seribu bulan ini. Seperti halnya dokter adalah orang yang paling tahu tentang aturan resep yang harus dikonsumsi oleh pasien, maka Rasul saw serta para Imam as adalah yang paling tahu mengenai malam ini dan bagaimana harus mengisinya. Malam qadr, malam ke-23 Ramadhan adalah malam ibadah. (Sutia/Yudhi)

[1] Surah Al-Baqarah, ayat 185

[2] Sayid Hadi Muhadits, Hamid Safar Harandy, dan Abu Fadhl A’lamy, Amuzesh-e Tarjumeh va Mafahiim-e Quran-e Kariim, Penerbit Tahsin, Qum, 1388 (Tahun Persia), hlm. 124

[3] ibid

[4] Muhammd Reza, Tasir-e Sureh-e Qadr, Penerbit Bani az-Zahra, Qum, 1388 (Tahun Persia), hlm.75

[5] ibid

[6] Ibid, hlm. 79

[7] Ibid, hlm. 80

[8] Ibid

[9] ibid

Related posts:


IZ. Muttaqin DarmawanMengapa Imam Husain Menjadi Simbol Abadi Perjuangan Moral Universal?


Dr. Muhsin LabibTanda Tanya seputar Hijrah dan Muharram


Antara Keadilan dan Kemurahan HatiKasus Bully Presiden: Antara Keadilan dan Kemurahan Hati


Al-GhadirAl-Ghadir dan Imam Ali Pemersatu Umat

Nikmatnya Puasa 17 Jam di Negeri Orang

Teriakan itu hanya terdengar di kampung kami di Indonesia, tapi tidak di sini, di negeri Persia, Iran. Jika di setiap masjid kampung, sejak pukul dua dini hari, penjaga masjid mulai bersuara dan anak-anak sudah ramai memainkan alat pukul mereka untuk membangunkan warga dengan panggilan sahur yang khas itu di kampung kami, namun di Iran, tepatnya di asrama kami, untuk membangunkan para mahasiswa, yang “diputar” adalah munajat Doa Iftitah pada pukul 03.00 pagi.

Di sisi lain, waktu berpuasa di Iran terhitung lebih lama dibandingkan di Indonesia, yakni kurang lebih 17 jam; tepatnya sejak pukul 04.07 pagi sampai dengan pukul 20.35 malam. Hampir setiap hari durasinya seperti itu. Dibutuhkan tenaga ekstra selain kesabaran untuk menjalaninya. Selain itu, untuk menjaga stamina, kami pun banyak memakan buah-buahan di tengah malam; seperti semangka, melon, dan semacamnya.

Memahami kondisi kami, di Sekolah Bahasa sekitar dua tahun lalu, Kepala Sekolah membuka kelas di malam hari bagi mahasiswa dari Indonesia dan Thailand, sehingga kami bisa tidur bakda salat Subuh sampai satu jam sebelum salat Zuhur.

Terhitung sudah tiga kali saya jalani puasa Ramadhan di Iran, ketiganya bertepatan dengan musim panas. Nekat keluar di siang hari, akan serasa berada di depan tungku masak dengan api membara. Apalagi dengan berhembusnya angin kencang, bukannya segar tapi malah makin terasa panas. Entah bagaimana halnya dengan para pekerja bangunan, jalan raya, dan pekerja lain yang berada di luar. Pasti mereka lebih berat bebannya daripada kami.

Menu berbuka di Iran pun, tak semewah dan sekomplit yang ada di Indonesia. Apalagi seperti di Bandung, yang menyediakan aneka makanan dan takjil, di pinggir-pinggir jalan. Di Iran, nyaris tak ada yang istimewa. Semuanya biasa saja, tak terkecuali di asrama. Menu berbuka kami hampir sama dengan menu makan malam sehari-hari, kecuali kadang ada tambahan tiga butir kurma untuk takjil.

Soal takjil, hampir sama kondisinya dengan apa yang ada di Indonesia. Setelah salat Maghrib, di masjid-masjid Iran pun disediakan menu takjil. Di masjid kampus pun, disediakan susu murni hangat dan kurma.

Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di makam Imam Ridha as. Konon tersedia meja hidangan berbuka begitu besar setiap harinya. Ingin sekali rasanya berada di sana, bergabung dengan ribuan peziarah lain menikmati hidangan buka puasa.

Saat lebaran, kami, mahasiswa Indonesia, biasanya saling berkunjung satu sama lain. Bagi yang tinggal di asrama, lebaran dilalui dengan mendatangi para senior yang sudah menikah. Dalam silaturahmi inilah kami bisa menemukan hidangan dengan menu khas lebaran Indonesia, seperti ketupat dengan rendang dan opornya, termasuk bakso, juga aneka kue. Betapa bahagianya di hari itu, karena kami bisa bertemu makanan yang biasa kami santap bersama keluarga saat lebaran di Tanah Air.

Begitulah suasana puasa 17 jam di musim panas. Belum lagi kurangnya menu spesial Ramadhan, dan jauh dari keluarga. Tapi semua ini kami nikmati saja. Siapa tahu kami bisa lebih ikhlas berpuasa.

Seperti pernah disampaikan Ayatullah Jawadi Amuly, berpuasa hampir 17 jam disertai musim panas ini, kalau kita melihat secara lahiriahnya saja maka kita akan merasa tersiksa. Apalagi kalau kita berpuasa bukan untuk Allah SWT, sudah pasti kita akan merasa tersiksa. Namun, bila kita lihat dari sisi maknawinya, maka akan terasa berbeda. Artinya, setelah 11 bulan kita beri makan tubuh kita maka wajarlah jika hanya satu bulan ini giliran kita memberi makan jiwa kita. Pendek kata, asal kita berpuasa dengan ikhlas hanya untuk Allah, maka puasa 17 jam itu tak ada apa-apanya, bahkan akan terasa nikmat bagi kita. (Sutia/Yudhi)  

Titik Temu Tasawuf dan Kebatinan Jawa

Kehidupan masyarakat Nusantara sejak zaman dahulu sangat kental aroma mistik dan esoteris. Hingga saat ini nuansa itu masih terjaga dengan baik. Mendiskusikan hal ini di  bulan suci Ramadhan, Nurcholis Madjid Society mengadakan Kajian Titik-Temu ke-36 dengan tema “Tradisi Tasawuf dan Kebatinan Jawa”.

Dalam kajian ini, Ir. Achmad Chodjim, MM, seorang pemerhati kebatinan Jawa menyebutkan bahwa dalam Serat Wedhatama yang banyak dirujuk oleh para penganut kebatinan menyebutkan bahwa inti ajaran kebatinan Jawa adalah membebaskan jiwa dari belenggu hawa nafsu.

“Dalam Serat Wedhatama, diajarkan untuk membebaskan jiwa dari hawa nafsu, dari tarikan raga,” ujar Chodjim.

“Seperti puasa. Puasa itu tujuannya agar makin bisa menghindar dari tarikan duniawi. Dengan itulah maka bisa liqa Allah, bertemu dengan Allah,” terang Chodjim. 

“Makanya kan juga disebut kalau dalam Alquran itu, ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rela dan Tuhanmu pun rela.’ Itu artinya adalah jiwa yang sudah bersih dari tarikan dunia,” tambah Chodjim.

Sementara pembicara lainnya, Abdul Moqsith Ghazali, dosen dari UIN Syarif Hidayatullah menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, oleh kelompok puritan, kebatinan Jawa pernah ditekan dan dianggap tak bisa disatukan bahkan dicap bertentangan dengan Islam. Tapi kemudian oleh beberapa cendekiawan Muslim dihidupkan lagi. 

“Selain sama-sama mengajarkan untuk membersihkan diri dari tarikan hawa nafsu, salah satu kesamaan antara tasawuf, baik tasawuf falsafi maupun tasawuf Sunni, dan juga kebatinan, semuanya mengakui adanya sebuah kekuatan suprarasional seperti karamah,” ujar Moqsith. 

Menurut Moqsith kisah-kisah mistis mengenai karamah dan hal-hal yang bernuansa supranatural itu merata di dunia tasawuf falsafi, tasawuf Sunni, dan kebatinan. Dalam kajian itu, Moqsith juga menyitir beberapa kisah karamah beberapa Kiai dan Sufi terkenal. (Muhammad/Yudhi) 

Related posts:


PPIM-SeminarKontestasi Islam di Tanah Sunda


Kesenian-di-Pembukaan-MTQ-26-Pontianak-2Atraksi Seni Islami Buka MTQ 26 Kota Pontianak


Guru-PAIPeran Guru PAI Sebagai Agen Toleransi


Jadikan-Kewajiban-Bukan-BebanKunci Sederhana Jadikan Kewajiban Bukan Beban

Tumpeng Petani Kendeng di Ultah Jokowi

Di hari ulang tahunnya yang ke-55, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, mendapat hadiah slametan tumpeng dari petani Kendeng yang jauh-jauh datang dari Jawa Tengah ke depan Istana Negara, Selasa (21/6).

Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gun Retno menyebutkan bahwa slametan ini mendoakan agar Jokowi mampu mengemban tugasnya sebagai Presiden.

“Kami membuat slametan ini supaya Pak Jokowi tetap sehat dalam mengemban tugasnya. Dan supaya Pak Jokowi ingat dengan janji-janjinya kepada masyarakat pegunungan Kendeng,” ujar Gun.

“Masyarakat masih besar punya rasa percaya kepada Jokowi agar bisa menyelesaikan persoalan ini dengan baik,” tambah Gun, mengingatkan Jokowi akan janjinya menyelesaikan masalah petani Kendeng yang terancam wilayah karsnya rusak oleh pabrik semen.

“Data-data dan kajian dari para ahli sudah banyak. Jangan hancurkan sumber air kars di Kendeng. Dampak lingkungannya sangat besar. Selama ini kan dibiarkan. Pemerintah harus tegas,” ujar Gun. 

Gun Retno juga menyayangkan kenapa sampai saat ini pemerintah tidak pernah mendengarkan suara masyarakat. Tiap ada usaha dialog, tidak pernah kesampaian. 

Sukinah, salah seorang srikandi Kendeng yang juga ikut nylameti Jokowi menyatakan bahwa ia akan terus berjuang agar jangan sampai pegunungan Kendeng dihancurkan oleh pabrik semen.

“Jangan sampai kita dilaknat sama bumi. Walaupun aku ini tidak sekolah, tapi hati kecilku ini mengatakan kalau Ibu Pertiwi ini sedang menangis dan minta tolong. Makanya sampai sekarang aku bersikukuh untuk jangan sampai ada pengerusakan,” ujar Sukinah. 

Sukinah juga mengingatkan agar Jokowi sebagai orang Jawa tidak lupa dengan ke-Jawaannya, yaitu menepati janjinya. 

“Wong Jowo kan kudu eling Jowone. Ampun ngantos dadi jawal (edan),” pesan Sukinah. (Muhammad/Yudhi)

Related posts:


222737020131003KUMY-RALAT780x390Bendahara DPP ABI : Agenda APEC Hanya Menguntungkan Negara Maju


Dhoom 3.1Pesan Zionis di Film India


Diskusi-Sejuk-Dewan-PersSejuk dan Dewan Pers Rumuskan Panduan Jurnalisme Keberagaman


Demo-Bukan-KriminalUntuk Apa Membungkam Suara Rakyat?

Tafsir Quran Ramadhan ICC Bersama Ustaz Babul Ulum

Seri Tafsir Quran Ramadhan Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta Selatan (20/6) diisi oleh Ustaz Babul Ulum. Dalam kesempatan kali ini utsaz Babul Ulum menerangkan tentang tafsir Quran terkait terjemahan tentang kondisi Rosulullah SAW yang dijelaskan sebagai Ummi yang oleh sebagian Umat Islam diartikan sebagai Nabi yang buta huruf dan tidak bisa membaca dan menulis.

Terjemahan tersebut menurut Ustaz Babul Ulum sangat menganggu dan bertentangan dengan salah satu diantara empat sifat Nabi yaitu Fathonah yang berarti Cerdas. Akibatnya, penerjemahan Ummi kepada arti buta huruf, yaitu tidak bisa membaca dan menulis akan kontradiktif dan bertentangan dengan sifat Fathinah Nabi Muhammad SAW.

Ulasan selengkapnya dapat ditonton dalam video berikut.

YouTube Preview Image

Related posts:


Khutbah JumatVideo : Khutbah Jumat Sayyid Murtadho Musavi


Khutbah-Jumat-ICC-22-April-2016Khutbah Jumat ICC 22 April 2016


Khutbah-Jumat-ICCKhutbah Jumat ICC 10/6/16


Umar-ShahabTafsir Quran Ramdhan ICC Bersama Ustaz Umar Shahab

Belajar Dermawan dari Imam Hasan

Di bulan suci Ramadhan, Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta mengadakan peringatan milad insan suci cucunda nabi, Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Bertempat di aula ICC, Sabtu (16/6), acara berlangsung khidmat, dihadiri ribuan umat Islam dari berbagai kalangan.

Hikmah milad atau tausiyah disampaikan oleh dua orang penceramah. Ustaz Fuad Hadi menyampaikan hikmah maulid menjelang buka puasa bersama, dan Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat menyampaikan hikmah maulid pada malam harinya.

Al Hasan tumbuh dalam pelukan kesucian Rasulullah (Sayyidul Mursalin), dalam pelukan kehangatan ibunda Fathimah (Sayyidatunnisa’il awwalin wal akhirin), dan dalam didikan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (Sayyidul washiyyin). Imam Hasan besar dalam bimbingan dan pendidikan insan-insan suci yang tidak ada dalam keluarga manapun.

Banyak keteladanan dalam diri Imam Hasan yang tak mampu terlukiskan secara keseluruhan melalui tulisan tangan-tangan insan biasa. Begitu agungnya Imam Hasan di mata Rasulullah, hingga suatu ketika Rasul menyampaikan cintanya kepada orang-orang yang mencintai Imam Hasan dan memohon kepada Allah SWT supaya mencintai orang-orang yang mencintai Imam Hasan. Adakah prestasi umat Islam yang lebih tinggi selain mendapatkan cinta Allah dan Rasul-Nya?

Memperingati hari kelahiran, mempelajari kehidupan Imam Hasan, setidaknya menjadi mawaddah atau bukti kecintaan kita kepada Imam sekaligus sebagai upaya mengambil keteladanan dari lautan keagungan Ahlulbait Nabi ini.

Salah satu keteladanan yang dapat diambil pelajaran dari Imam Hasan adalah kedermawanan. Ia memberi kepada orang yang meminta maupun tidak meminta. Ia tak pernah menolak memberikan sesuatu kepada orang yang datang meminta.

Ustaz Fuad Hadi dalam akhir ceramahnya berkisah, suatu ketika Imam Hasan melihat seorang budak makan, mengunyah, lalu mengeluarkan makanannya dan diberikan kepada seekor anjing. Usai dia makan Imam Hasan bertanya kepada budak itu, “Kenapa engkau lakukan itu?” Budak menjawab, “Aku malu di hadapan makhluk yang bernyawa kalau aku makan sendiri.”

Apa yang kemudian dilakukan Imam Hasan kepada budak ini? Imam Hasan mencari majikan si budak dan budak itu pun dibebaskan. Imam Hasan pun memberikan hadiah sebidang tanah kepada budak itu berkat perbuatan baiknya pada seekor anjing yang lapar.

“Dan orang-orang yang memberikan hadiah Nobel karena kemanusiaan, ketahuilah itu telah dilakukan Imam Hasan jauh-jauh hari sebelum perayaan itu ada. Memberikan makanan kepada anjing diapresiasi sangat dahsyat. Dimerdekakan dan diberikan sebidang tanah untuknya. Kenapa? Karena, Imam Hasan mengatakan ini adalah akhlak mulia. Ada kemuliaan dalam diri budak ini. Dia tidak mau makan di hadapan orang yang melihat atau makhluk yang bernyawa hanya menatap dan mungkin kita pernah melakukan ini. Kita menyantap makanan yang begitu nikmat orang hilir-mudik menatap kita dan kita tidak peduli,” terang Ustaz Fuad.

“Ketahuilah semua yang lelah dan siapapun yang memiliki saham kaitannya dengan mengagungkan Ahlulbait, baik kedatangannya ke acara-acara milad atau peringatan kesyahidan Ahlulbait, maupun bantuan apapun, Imam Hasan melihat. Kalau untuk seekor anjing Imam Hasan memberikan sesuatu yang besar, bagaimana kalau perbuatan itu ditujukan untuk Imam Hasan?” tanya Ustaz Fuad Hadi di akhir tausiyahnya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama kemudian hikmah maulid kedua disampaikan Dr. KH Jalaluddin Rakhmat usai salat berjamaah. (Malik/Yudhi)

Related posts:


Letjen TNI (Purn) Djaja Suparman: Syiah Bukan Ancaman NKRILetjen TNI (Purn) Djaja Suparman: Syiah Bukan Ancaman NKRI


Mencintai Rasul: Menghargai Perbedaan Di Tengah UmatnyaMencintai Rasul: Menghargai Perbedaan Di Tengah Umatnya


Islamic Book FairIKAPI: IBF Milik Umat Islam Dari Semua Golongan


The Syrian Virus: Apa Antisipasi Jakarta?The Syrian Virus: Apa Antisipasi Jakarta?

Mengenal Hakikat dan Tujuan Puasa

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِين

Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang yang bertakwa (QS. al-Maidah:27).

Sepuluh hari pertama Ramadhan sudah kita lalui. Apa yang telah kita dapatkan? Buka bersama dengan sanak keluarga atau dengan teman dekat? Berencana membeli hijab dan baju koko terbaru? Atau sudahkah para ibu membeli terigu untuk membuat kue-kue lebaran?

Lebih penting dari semua itu, sudahkah kita mengetahui apa itu puasa dan untuk apa kita berpuasa di bulan mulia ini? Inilah pertanyaan mendasar yang harus bisa kita jawab sebelum melakukan berbagai tradisi menyambut lebaran.

Jika pertanyaan itu belum terjawab, mungkin kita takkan pernah merasakan hakikat perayaan lebaran. Hari Raya hanya akan dapat dinikmati secara jasmani, tidak secara rohani. Artinya, kita tudak akan pernah sampai pada hakikat dan tujuan berpuasa.

Lalu apa sebenarnya hakikat dan tujuan puasa?

Hakikat Berpuasa

Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah, khotbah 110 berkata, “Wa shaumu shahri ramadhana fainnahu junnatun minal ‘iqab.”Maknanya adalah “Dan puasa di bulan Ramadhan adalah perisai dan tameng dalam menghadapi azab Ilahi.” Ketika seorang Mukmin berpuasa maka niscaya ia sedang melindungi dirinya dari azab Ilahi. Apalagi bagi pendosa seperti kita, kalau kita tidak melaksanakan puasa di bulan ini, sama saja kita tidak melindungi diri dari azab Ilahi. Maka dari itu berpuasalah dan bertobatlah. Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja. 

Selain itu Imam Ali as dalam hikmah 136 berkata, “Walikulli syaiin zakaatun, wa zakaatul badani ash-shiyaamu,” yang artinya “Dan segala sesuatu itu ada zakatnya, dan zakat dari badan adalah berpuasa.” Dari sini dapat dipahami bahwa puasa adalah zakat untuk badan.

Berkenaan dengan hal ini, Ayatulah Jawadi Amuli hfz pernah berkata, “Sebelas bulan lamanya kita memberi nafkah untuk badan kita namun kita hanya sebulan memberi nafkah untuk jiwa kita. Apakah masih pantas kita mengeluh? Seandainya puasa dilaksanakan dengan ikhlas dan senang hati semata-mata karena Allah SWT maka puasa selama 17 jam (waktu Iran) tidak akan pernah terasa susah. Ini seperti seorang bapak yang tidak makan dari malam sampai menjelang sore karena mempersiapkan acara pernikahan anaknya. Ia tidak akan sakit dan tak merasa lapar.[1]

Tujuan Berpuasa adalah Bertakwa

Selanjutnya, seperti yang tercantum dalam Alquran bahwa hasil dari berpuasa menurut apa yang diinginkan Allah SWT adalah la’alakum tattaqun[2]supaya kalian bertakwa.

Menyangkut orang-orang bertakwa Alquran mengungkapkan, “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.’”[3]

Jadi, jika kita berpuasa dan sampai pada derajat takwa maka kita akan masuk ke dalam surga dan kekal di dalamnya. Nikmat dan karunia besar yang patut disyukuri, bukan?

Tentang orang yang bertakwa, Imam Ali as berkata bahwa mereka aman dari azab, tenteram dari cacian, dan jauh dari api neraka. Mereka bahagia di dalam surga Ilahi. Akhlak mereka ketika di dunia itu bersih, mata-mata mereka sering menangis, siang dan malam mereka adalah tunduk dan istighfar, siang dan malam mereka dalam ketakutan atas dosa.[4]

Imam Ali as berkata bahwa takwa adalah pemimpin dari seluruh nilai-nilai akhlak.  Ulama akhlak berkata bahwa takwa adalah kunci dari rumah hidayah.[5] Siapa saja yang menanam pohon takwa maka ia akan memetik buah hidayah.[6]

Kesimpulan:

1.    Puasa di bulan Ramadhan menurut Imam Ali as adalah perisai dari azab Ilahi dan zakat untuk badan.

2.    Menurut Alquran, tujuan berpuasa adalah supaya kita bertakwa. Siapapun yang bisa sampai pada derajat orang yang bertakwa, akan kekal di dalam surga dan bisa dikatakan mempunyai masa depan yang cerah di alam akhirat nanti. Adapun yang disebut orang bertakwa adalah akhlak mereka ketika di dunia itu bersih, mata-mata mereka sering menangis, siang dan malam mereka adalah tunduk dan istighfar, siang dan malam mereka dalam ketakutan atas dosa.

3.    Allah hanya menerima amal orang yang bertakwa. Maka merupakan kedudukan yang luar biasa jika setiap amal kita diterima oleh Allah SWT.

4.    Kita perlu berupaya agar puasa kita bukan puasa yang hanya sekadar diakhiri dengan membeli baju koko dan hijab baru, namun puasa yang mendidik kita menjadi orang yang bertakwa. (Sutia/Yudhi)


[1] Acara Haft daqiqeh

[2] QS. al-Baqarah ayat 183

[3] QS. az-Zumar ayat 73

[4] Nahjul Balaghah, khotbah ke 190

[5] Akhlak dar putuv-e quran wa hadits, hal. 42

[6] Imam Ali as dalam Biharul Anwar, Jilid 78, hal. 90 dikutip dari Akhlak dar putuv-e quran wa hadits, hal. 42

Related posts:


Ade ArmandoKebengisan atas Nama Islam itu Bermula dari yang Ada di Kepala


Geliat-Ekonomi-KalbarGeliat Kebangkitan Komoditas Primer Kalbar


Puasa-Ibadah-IstimewaPuasa, Ibadah Istimewa


Benteng-KeluargaKeluarga, Basis Utama Pencegahan Dini Kekerasan Seksual

Tafsir Quran Ramadhan ICC Bersama Ustaz Hasan Alaydrus

Seri Tafsir Quran Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta Selatan (17/6), bersama Ustaz Hasan Alaydrus berbicara tentang  Janji Allah akan Kemenangan. karena kalau kita membaca sejarah, termasuk Indonesia yang punya pengalaman pahit dijajah bangsa asing ratusan tahun. Bahkan steelah merdekapun ekonomi kita dikuasai oleh 1 atau 2 persen masyarakat kita kemudian nilai-nilai kesucian banyak yang tidak diperdulikan termasuk dalam bulan ramadhan saat ini. Bahwa pada akhirnya nanti Allah berjanji, kemenangan untuk orang baik, kemenangan untuk orang soleh dan untuk orang mulia. Akan tetapi kita bangsa Indonesia arus mengetahui jalan-jalan menuju kepada kemuliaan tersebut.

Meninggikan Allah, membesarkan Allah, orang-orang yang senang berpuasa, kaum beriman yang gembira hatinya didatangi Ramadhan dan nangis hatinya ketika ditinggalkan Ramadhan menjadi komunitas atau kelompok yang membesarkan Allah. Secara ekspresi membesarkan Allah adalah dengan cara mengaungkan gema takbir menjelang Idul Fitri, yaitu takbir secara verbal. Tapi Allah kemudian ingin melihat, benarkah mereka yang mengemakan takbir secara verbal ini benar-benar membesarkan Allah juga dalam tindakan mereka?

Selengkapnya dapat disaksikan dalam Video berikut.

YouTube Preview Image

Related posts:


Khutbah-Jumat-15-April-2016Khutbah Jumat 15 April 2016


Tafsir-Quran-ICCTafsir Quran Ramadhan ICC Bersama Sayyid Syahir Al-Idrus


Tafsi-Quran-Ramdhan-ICCTafsir Quran Ramadhan ICC Bersama Ustaz Muhammad Alkaff


Ustaz-Husein-ShahabKhutbah Jumat ICC Bersama Ustaz Husein Shahab