Monthly Archives: May 2016

Tiga Syarat Pembangunan Bisa Disebut Demi “Kepentingan Umum”

Pembangunan yang saat ini digencarkan oleh pemerintah, tak  bisa dipungkiri di beberapa tempat mengakibatkan sejumlah konflik terutama konflik agraria.

Namun seperti biasa pemerintah selalu saja beralasan bahwa pembangunan yang  dilakukan adalah demi kepentingan umum. Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan kepentingan umum? Serta apa saja syarat minimalnya?

Iwan Nurdin, Sekjen Konsorsium Pembangunan Agraria (KPA) dalam diskusi publik  bertema “Melawan Perampasan Tanah” di Gedung Joeang, Jakarta Pusat, Selasa (31/5) mengatakan bahwa konflik agraria terbanyak karena pembangunan infrastruktur.

“Konflik agraria terbanyak adalah karena pembangunan infrastruktur atas nama kepentingan umum,” terang Iwan.

Padahal menurut Iwan, sedikitnya terdapat tiga hal yang harus dikandung dalam sebuah pembangunan yang mengatasnamakan kepentingan umum.

Pertama, pembangunannya harus lintas batas segmen sosialnya. Tidak bisa disebut kepentingan umum jika tersegmen pada satu sisi sosial saja. Contohnya adalah dalam pembangunan pendidikan tidak serta merta dapat disebut sebagai kepentingan umum jika ternyata sekolahan tersebut ternyata adalah sebuah sekolah elit.

“Rumah Sakit pun tidak serta merta menjadi kepentingan umum jika ternyata adalah Rumah Sakit elit,” jelas Iwan.

Syarat kedua adalah pembangunan tersebut bukan untuk mencari keuntungan semata atau Non Profit Oriented. Sementara  di Indonesia saat ini menurut Iwan, hampir di semua lini pembangunan, pihak swasta ditarik masuk.

“Karena apa? Karena ini ada potensi keuntungannya tinggi,” ujar Iwan.

Sementara syarat yang ketiga, yang disebut kepentingan umum itu haruslah dibiayai oleh APBN dan jika pembangunannya selesai, maka operator pelaksananya adalah negara atau pemerintah.

Tiga hal tersebut menurut Iwan haruslah menjadi dasar bagi proses kepentingan umum. Tidak peduli di negara dengan ideologi apapun, istilah tanah untuk pengadaan kepentingan umum itu boleh.

“Tapi di tempat kita istilah itu telah diambil untuk hanya kepentingan bisnis dan hanya untuk menguntungkan segelintir pihak saja,” tegas Iwan.

Namun menurut Iwan, jika konsep pengadaan tanah untuk pembangunan dalam prosesnya penuh dengan korupsi dan ujung-ujungnya adalah terjadi peminggiran rakyat secara sistematis, maka hal itu tidak dapat dibenarkan.

“Saya kiira itulah yang disebut dengan perampasan tanah. Ini baru dari sisi pembangunan infrastruktur saja, belum yang lain,” tandasnya. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab


Bang Ojan Punye CeriteBang Ojan Punye Cerite


Pintu Air ManggaraiPahlawan Jakarta Yang Kita Lupa


Update Terkini Setelah Gunung Kelud MeletusUpdate Terkini Kelud (4)

Khutbah Jumat ICC: Menyambut Ramadhan dengan Meningkatkan Amal Kebaikan

Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa dimana amal-amal kebaikan dilipatgandakan, dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Ustaz Husein Shahab dalam ceramah khutbah salat Jumat di Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta, (27/5) mengingatkan pentingnya menyambut bulan Ramadhan dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

Ada banyak jalan menurutnya, orang dapat mendekatkan diri pada Allah swt sebanyak tarikan nafas-nafas para makhluk-Nya.  Ada orang mendekatkan diri pada Allah melalui kontribusi sosialnya, ia mendekatkan diri kepada Allah kerena kebermanfaatannya kepada manusia lain. Ada juga orang yang mendekatkan diri pada Allah dengan ilmu pengetahuan, ia menghabiskan usianya dengan belajar, dengan kegiatan-kegiatan keilmuan; dia mengajar, dia menulis, segala aktifitas yang namanya ilmu pengetahuan; dia lakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dengan ilmu pengetahuan. Ada juga yang mendekatkan diri kepada Allah dengan ritual-ritual ibadahnya.

Selengkapnya, Anda bisa simak dalam ceramah khutbah Jumat berikut ini:

YouTube Preview Image

 

Related posts:


Khutbah JumatVideo : Khutbah Jumat Sayyid Murtadho Musavi


Khutbah-Jumat-Sayyid-MusaviKhutbah Jumat Bersama Sayyid Musavi


Khutbah-Jumat-ICC-8-April-2016Khutbah Jumat ICC 8 April 2016


Khutbah-Jumat-ICC-20-MeiPuasa di bulan Nisfu Sya’ban

Mengkaji ‘Syianologi’ di UI

Munculnya banyak pemberitaan yang simpang-siur dan bahkan provokasi-provokasi sektarian yang berupaya membenturkan antara Muslim Sunni dan Syiah di Indonesia,  menuai kekhawatiran banyak pihak.

Berupaya mencari kejelasan akademis secara lebih jernih, Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia melakukan Kajian Syianologi, Sabtu (28/5) di UI Depok.

Prof. Muhammad Iskandar, menyebutkan bahwa memahami Syiah ini sangat penting karena ternyata Syiah memiliki banyak kesamaan dengan Sunni.

“Kita mengkaji hal ini karena ciri-ciri Syiah kok banyak nempel di kita (Sunni). Seperti Tabuik, shalawat, tawassul, itu kan tradisinya orang Syiah. Paling erat di orang-orang Syiah. Padahal di sini, Tawassul itu di kalangan Sunni juga banyak,” ujar Iskandar.

“Dalam penulisan lama kan kita sebenarnya tidak membedakan mana Sunni mana Syiah. Nah, sekarang ada yang mempermasalahkan mana yang jejak Sunni, ternyata adalah Syiah juga,” tambah Iskandar.

Tiga Gerakan Syiah di Timteng

Dalam membahas Syiah di Timur Tengah, Musa Kazim Habsyi menyebutkan bahwa ada tiga model gerakan Syiah di Timteng. Yaitu model Muhammad Baqir Shadr di Iraq yang terinspirasi Ikhwanul Muslimin, Musa Shadr di Lebanon yang inklusif, dan model Imam Khomeini dengan gerakan politik sosial yang masif dari berbagai elemen.

“Di Iran inilah, satu-satunya ekspresi politik Syiah di abad ini yang bisa dikatakan ekspresi itu viable, hidup dan bisa berjalan,” ujar Musa.

Menurut Musa ada tiga penyebab utama Revolusi Islam Iran ini berhasil. Pertama adalah masyarakatnya homogen, kedua ada satu kepemimpinan kolektif yang sudah memiliki pasukan kader dan ketiga kondisi Timteng saat itu yang penuh kontradiksi dan memuncaknya kemuakan pada hegemoni Amerika.

Satu hal yang patut dicatat adalah, keberhasilan Imam Khomeini dengan gerakan revolusinya, tak hanya memiliki pengaruh sosial politik, tapi juga memiliki peran penting dalam perubahan kurikulum akidah atau ushuluddin Syiah.

“Revolusi Imam Khomeini itu bukan cuma revolusi dalam bidang politik, tapi dia juga berdampak pada metodologi pengajaran agama,” ujar Musa.

Upaya ‘Revisi’ Ushuluddin Syiah

Sebagaimana diketahui bahwa dalam Syiah, terbagi menjadi dua, penganut Ushulli yang filosofis dan Akhbari yang tekstual sebagaimana kaum Salafi di dunia Sunni. Dan perbedaan perspektif antara dua corak ke-Syiahan ini bahkan sangat membedakan definisi tentang ke-Syiahan itu sendiri. Dan Imam Khomeini adalah seorang penganut Ushulli.

“Imam Khomeini dan Baqir Shadr, selain melakukan gerakan politik, juga menyasar pada kurikulum pendidikan agama. Kemudian muncul apa yang kemudian disebut al-Masyru al-Islah lil Hauzah, atau proyek Reformasi Kurikulum Pendidikan Hauzah. Yang satu konklusinya, adalah mere-definisikan ke-Syiahan itu tidak lagi dengan standar Akhbari, tapi dengan standar yang lebih kritis,” ujar Musa.

Menurut Musa dan penjelasan Ushulli sendiri, susunan ushuluddin dan susunan ushul mazhab Syiah itu lebih banyak dipengaruhi oleh Akhbari.

“Contoh, bahwa keyakinan kepada Imam itu adalah keyakinan yang mutlak, itu adalah bagian dari ushuluddin. Itu adalah pendapat Akhbari yang secara keliru diterima oleh orang-orang Ushulli sebagai bahan mentah. Karena keyakinan Syiah tentang Imamah itu sendiri bukan ‘Dharurah min Dharurayatuddin’. Itu hanya pandangan (ijtihad) bahwa orang wajib meyakini adanya Imamah. Yang tidak meyakini adanya Imamah ya tidak apa-apa,” terang Musa.

“Syaikh Mufid sendiri punya buku berjudul Tashihul I’tiqadad al-Imamiyah, yaitu revisi terhadap akidah-akidah Imamiyah. Jadi sejak 1.100 tahun yang lalu, sudah muncul pikiran untuk merevisi banyak hal yang diyakini oleh orang Syiah, padahal bukan keyakinan Syiah,” tambahnya.

Upaya revisi ini sekarang banyak dilakukan oleh ulama-ulama Ushulli untuk tidak menjadikan unsur-unsur yang bersifat ijtihadi (debatable) menjadi bahan utama agama. Apalagi, Musa menjelaskan bahwa dalam pandangan Ushulli, secara keseluruhan dari keyakinan tentang Allah sampai keyakinan tentang Imam itu adalah sesuatu yang wajib diraih oleh satu upaya rasional masing-masing orang. Tidak boleh orang bertaklid dalam urusan akidah. (Muhammad/Yudhi)

Related posts:


189344171 Guru Pendidikan Agama Dapat Honor Tetap


Pengajian-Bulanan-MuhammadiyahMuhammadiyah: Konflik di Timteng Murni Soal Politik Bukan Konflik Sektarian


Seminar-Pengaruh-Arab-Iran-di-IndonesiaEfek Kontestasi Global Terhadap Gerakan Fundamentalis Islam Indonesia


Sinta-Nuriyah-WahidPentingnya Dimensi Spiritual Dalam Pendidikan

Tokoh Ahlusunnah Pakistan: Ada Proyek Pecah Belah Zionis Di Balik Langkah Saudi Larang Berhaji Warga Iran

Pemimpin Jamiah Ulama Pakistan, Sayyid Muhammad Maksom Husein Naqawi, dalam pidatonya dalam konferensi “Defa-e-Haramain Sharifain Conference” di Lahore, Rabu (25/5) mengatakan, “Ibadah Haji merupakan salah satu unsur yang tak terpisahkan dalam Islam.”

Ia menekankan bahwa Kakbah dan Haram Syarifain adalah warisan untuk seluruh umat Islam.

“Kami tidak mengizinkan kerajaan Saudi melarang siapapun dalam melakukan ibadah Haji,” tegasnya.

Tokoh Ahlusunnah ini, sembari mengutuk aksi pelarangan Arab Saudi atas jamaah haji Iran tahun ini dan upaya mencegah pemberian visa kepada jamaah haji Iran, mengatakan bahwa Arab Saudi sedang menjalankan proyek perselisihan dalam tubuh umat Islam. Sebuah proyek sejatinya dipimpin oleh Zionis.

Ia menambahkan bahwa pada tahun 1987 pasukan polisi Saudi juga melakukan penembakan terhadap jamaah haji Iran yang menggelar unjuk rasa menentang kebiadaban Zionis dan menyebabkan banyak jamaah haji Iran menjadi syahid kala itu. (Yudhi)

Related posts:


Tango Maut AS-al-Qaeda: Rencana Strategis Menguasai Dunia Islam pada 2020 (2)Tango Maut AS-al-Qaeda: Rencana Strategis Menguasai Dunia Islam pada 2020 (2)


The Syrian Virus: Apa Antisipasi Jakarta?The Syrian Virus: Apa Antisipasi Jakarta?


Prof.Dr.Taufiq-Ramadhan-al-ButhiKonflik Sektarian Suriah Sengaja Diciptakan Dari Luar Suriah


Haul Sayidah FathimahTeladan Sayidah Fathimah Mendahulukan Orang Lain Sebelum Diri dan Keluarganya

Pameran Produk Unggulan Disperindag Provensi Kalbar

30 May, 2016

Leave a comment

Pameran-Dinas-KalbarDinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Kalimantan Barat menggelar pameran produk-produk unggulan dari berbagai Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat bertema “Pameran Produk Kreatif Daerah” di halaman Disperindag Provinsi Kalbar, Jalan Sutan Syahrir, Sabtu (28/5).

Kegiatan yang diikuti para pengusaha, akademisi dan instansi pemerintah ini menampilkan berbagai produk unggulan mulai dari olahan makanan khas, kerajinan tangan, seperti kain tenun khas daerah, hingga berbagai produk inovatif lainnya. Rata-rata produk yang ditampilkan merupakan produk dari UKM atau industri skala rumahan yang dibina oleh Dekranasda masing-masing Kabupaten/Kota.

Selain fokus pada produk konvesional seperti kerajinan tangan dan makanan, pemerintah juga berfokus kepada pengembangan industri kreatif. Disperindag Provinsi Kalbar saat ini memang mulai melirik sektor industri kreatif untuk dijadikan industri yang dapat memajukan daerah.

Dalam mengembangkan sektor industri kreatif ini, Pemerintah Provinsi  Kalbar membentuk Pontianak Creative Association (PCA) sebagai asosiasi yang berfokus membina para pelaku sektor industri kreatif di Kota Pontianak.

Upaya merangkul pelaku industri kreatif juga dilakukan dengan melibatkan, di antaranya, Sekolah Animasi Borneo yang memamerkan pelatihan alat peraga berbasis flash dan lain-lain.

“Keterlibatan kita dalam pameran kali ini adalah agar produk yang dipamerkan dikenal oleh kalangan anak muda dan bisa membantu pendidikan generasi muda,” ujar Dwi, dari Sekolah Animasi Borneo, di sela-sela kegiatan yang berlangsung hingga Senin (30/5). (Hakeem/Yudhi)

Related posts:


Rehab Sekolah Kerjasama DPW ABI Sulteng  RCTI PeduliRehab Sekolah Kerjasama DPW ABI Sulteng RCTI Peduli


ABI Press_DPW ABI KalbarAksi Solidaritas Masyarakat Sipil Kalbar Dukung KPK


Demo Tolak Revisi UU KPKKoalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi Kalbar Tolak Revisi UU KPK


Pengobatan-Gratis-Pengungsi-SyiahPengobatan Gratis BAZNAS Sidoarjo Komunitas HATI BENING untuk Pengungsi Muslim Syiah Sampang


Menimbang Kebijakan Ekonomi Jokowi

Membincangkan kondisi bangsa saat ini, Institute Peradaban bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina dan Pusat Studi Kelirumologi menggelar Seminar 11 Langkah Kebijakan Ekonomi Presiden Joko Widodo di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (24/5).

Dalam seminar kebangsaan ini Arif Budimanta menyebutkan bahwa Presiden Jokowi telah berupaya memperbaiki ekonomi dengan beberapa kebijakannya.

“Presiden Jokowi berupaya menggerakkan sektor riil di Indonesia, mengembangkan koperasi dan UKM, memperlancar distribusi perdagangan antar daerah dan menyejahterakan nelayan,” ujar Arif.

“Caranya dengan melakukan deregulasi dan debirokratisasi, mempercepat proyek strategis dengan menyederhanakan perizinan dan upaya meningkatkan investasi properti,” tambah Arif.

Dengan itu diharapkan ekonomi akan membaik. Tetapi menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Anwar Nasution, sampai detik ini hasilnya mengecewakan.

“Tak satu pun yang jalan. Hasilnya mengecewakan. Tak bisa merangsang ekonomi kita,” keluh  Anwar.

“Dulu dan sekarang ndak jauh beda, struktur kita dari jaman VOC sampai sekarang sama. Dulu jual rempah-rempah sekarang diganti sawit saja,” tambahnya. “Kita pun masih ekspor TKI saja, ndak beda. Tetap jadi kuli.”

Menurut Anwar, realitas sosial ini merupakan cermin kurang efektifnya kebijakan ekonomi pemerintah.

“Ini mencerminkan kurang baiknya kebijakan ekonomi pemerintah. Juga menggambarkan mutu menteri Jokowi itu buruk,” ujar Anwar.

Untuk memperbaiki itu semua Jokowi harus memilih menteri-menteri yang kompeten dan komitmen untuk menjaga stabilitas perekonomian bangsa. (Muhammad/Yudhi)

Related posts:


osmOsama Tewas, Bisnis Bendera AS Laris Manis


pengrajin tahuTemui Perajin Tahu dan Tempe, Gita Janji Stabilkan Harga Kedelai


Sarasehan KebangsaanTiga Solusi Atasi Miskin Energi


Masa-Depan-Ekonomi-Kreatif-IndonesiaMasa Depan Ekonomi Kreatif Indonesia

Ehsan: Penghargaan terhadap Perbedaan adalah Penghargaan terhadap Proses Pencarian Jati Diri

Kajian rutin Malam Jumat di Husainiyah Amirul Mukminin kali ini sedikit berbeda karena kedatangan tamu istimewa seorang tokoh masyarakat Kota Pontianak, H. Andi Ehsan, SH., M.Si. sebagai narasumber.

Setelah pembacaan Doa Kumail, sekitar pukul 22.00 WIB kajian dimulai dengan pemaparan permasalahan kepemimpinan yang ada dalam Islam, terutama dari perspektif dua mazhab besar Sunnah dan Syiah.

Menurut Ehsan, dasar dari perbedaan antara Sunnah dan Syiah ada pada permasalahan kepemimpinan (leadership) dan “penggandengan” Kitab Suci Alquran dan Ahlulbait Nabi Saw.

“Hal ini menjadi permasalahan yang tidak kunjung selesai,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Ehsan menceritakan kembali kronologis peristiwa di Saqifah, yang pada kemudian hari dikenal sebagai salah satu dasar demokrasi dalam sejarah Islam. Demokrasi adalah istilah yang dipopulerkan oleh Montesquieu, yakni konsep pemilihan dari rakyat-untuk rakyat dengan slogan Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Hal ini berbeda dengan Muslim Syiah yang memandang kepemimpinan sebagai otoritas Tuhan dengan kriteria kesucian (ma’shum) yang melekat pada pemimpin tersebut.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah figur istimewa, banyak keutamaan yang dimilikinya, sebagaimana dikatakan oleh lisan suci Baginda Nabi Saw. Syiah –sebagai kelompok yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib– bukanlah kelompok yang menuhankan Ali, melainkan kelompok yang berusaha berjalan di khittah Ali bin Abi Thalib, sebagaimana disampaikan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. Demikian pula Syiah bukan hal baru dalam sejarah Islam.

Pria yang berprofesi sebagai advokat ini mengatakan bahwa ketika kita mengatakan sebagai penyanjung atau pengikut Ali, maka dipastikan kita akan berhadapan dengan kondisi yang berat.

Terkait dengan perbedaan mazhab dalam dunia Islam , Ehsan mengatakan bahwa kita seharusnya mempelajari, tidak serta-merta menjustifikasi.

“Jangan menjustifikasi seseorang, semua memiliki dasar hukum,” lanjutnya lagi.

“Selama kita berpandangan bahwa ketika seseorang telah bersyahadat, berarti orang tersebut adalah seorang Muslim,” tegas Ehsan.

Perbedaan, menurut Ehsan, pada dasarnya merupakan upaya manusia dalam proses pencarian jati diri, sebagai upaya manusia untuk menemukan kebenaran.

Setelah diskusi dan tanya-jawab, kajian diakhiri dengan penyerahan cinderamata buku Syiah Menurut Syiah dan Studi Komparatif Buku Mengenal Kesesatan Syiah dari Dewan Pengurus Wilayah Ahlulbait Indonesia Kalimantan Barat, Muhammad Darwin, SE., MM., kepada narasumber. (Hakeem/Yudhi)

Related posts:


Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab


muktamar-nu-ke-33-ABI-PressJokowi: Islam Nusantara Role Model Islam Damai


Kemenag-WonosoboTekad Kemenag Wonosobo Wujudkan Layanan Prima Tanpa Gratifikasi


Cak-NunCak Nun: Mustahil Cinta Allah Tapi Benci Sesama

Khidmat Muslimah ABI Jelang Ramadhan

Bazar-Muslimah-ABI-3Muslimah Ahlulbait Indonesia (Muslimah ABI) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Muslimah, Dana Mustadhafin dan Yayasan Pembangunan Jaya mengadakan aksi sosial Gerakan Muslimah Peduli Umat. Kegiatan yang diisi dengan bazar serta pembagian sembako murah ini terlaksana di halaman parkir SMP Pembangunan Jaya Bintaro, Minggu (29/5).

“Dalam rangka menyambut Ramadhan dan berbagi kepada masyarakat, baik dhuafa maupun mustadhafin,” kata Mega Hartati selaku Ketua Panitia saat memberikan sambutan, sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan acara.

Zaenab Endang Sri Rahayu, Ketua Muslimah ABI menilai, menjelang Ramadhan, harga-harga kebutuhan pokok cenderung naik.

“Aksi sosial yang kita lakukan guna mengurangi beban, atau memberikan sedikit keringanan atas harga-harga barang yang semakin melonjak,” paparnya.

Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan marawis, nasyid, serta pembacaan puisi yang dibawakan oleh anak-anak Ummul Ushul Children Islamic Studies (ULCIS) dan Islamic Sunday School. Lantunan Tahsin Alquran oleh anak-anak dari lembaga Darul Qur’an Indonesia juga menghiasi suasana saat itu.

Bazar-Muslimah-ABI-2Di pertengahan acara, juga disuguhkan tausiyah singkat, menjelaskan pentingnya menyambut bulan suci Ramadhan serta apa saja yang perlu dipersiapkan. Disampaikan oleh Ustaz Abdullah Beik, tausiyah diawali dengan sebuah kalimat tanya, “Apakah kita perlu mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan?”

“Jawabannya adalah perlu!”

“Kenapa perlu? Karena di bulan suci Ramadhan itu kita akan menjadi tamu-tamu spesial Allah SWT. Setiap hari kita menjadi tamu Allah. Kita makan dan minum dari karunia yang diberikan oleh Allah. Di bulan suci Ramadhan kita akan menjadi tamu spesial.”

“Kenapa menjadi tamu spesial harus dipersiapkan? Jawabannya jelas, untuk menjadi tamu orang besar di dunia (saja), kalau (kita) misalnya diundang oleh Bupati, Gubernur, apalagi diundang Presiden, pasti kita persiapkan diri kita. Kita siapkan bajunya, kita siapkan sepatunya, bahkan kita siapkan sisir rambut kita, kita siapkan juga apa yang akan kita bicarakan, … dan banyak hal lain yang perlu dipersiapkan. Apalagi kita akan menjadi tamu spesial Allah SWT. Maka pasti perlu kita persiapkan diri kita.”

Bazar-Muslimah-ABI“Kita siapkan diri kita, bersihkan dan sucikan diri kita. Kalau menjadi tamu Presiden baju kita harus bersih, kalau jadi tamu Allah, diri kita, jiwa kita juga harus bersih. Dengan cara memperbanyak istighfar, minta ampun kepada Allah.”

“… yang (juga) perlu dipersiapkan adalah, kita latihan berpuasa, supaya nanti tidak kaget ketika masuk bulan Ramadhan kita langsung berpuasa wajib. Karena itu di sisa-sisa bulan Sya’ban kita dianjurkan untuk berpuasa sunnah. Dengan puasa sunnah diri kita lebih bersih dan juga supaya kita tidak kaget karena sudah dibiasakan.”

“…untuk membersihkan diri, banyak-banyak bersedekah, banyak-banyak berbagi, dan yang dilakukan oleh Gerakan Muslimah hari ini adalah bagian untuk kita bisa membersihkan diri kita, dengan berbagi, dengan menjual barang-barang dengan harga murah,” tegas Ustaz Abdullah sembari berpesan supaya kita menjaga kesehatan untuk memperoleh kesempurnaan puasa. Untuk itulah Dana Mustadhafin juga membuka stand pemeriksaan kesehatan, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan menyambut bulan Ramadhan. (Malik/Yudhi)

Related posts:


Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab


Banjarnegara Bershalawat bersama Haddad AlwiBanjarnegara Bershalawat


Agama dan Pancasila: Menakar Ulang Tafsir dan Makna Pancasila Sebagai Ideologi NasionalMimpi Basah Wahabi Mengganti Pancasila


Teladan Damai MUI YogyakartaTeladan Damai MUI Yogyakarta

Tugu Digulis, Simbol Juang Bumi Enggang Gading

Selain Tugu Khatulistiwa yang terletak di utara Kota Pontianak, di pusat Kota Pontianak, juga berdiri kokoh sebuah monumen bersejarah. Monumen berbentuk tugu dengan beberapa pilar bambu runcing itu dikenal dengan Tugu Bambu Runcing atau akrab disebut Tugu Digulis. Tugu ini dikenal sebagai simbol perjuangan rakyat Kalimantan Barat dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Heroisme tampak dari sebelas (11) buah bambu runcing pada tugu yang berlokasi di persimpangan jalan Ahmad Yani. Kesebelas bambu runcing berbeda ukuran itu melambangkan 11 pahlawan yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat. Mereka ialah Achmad Marzuki, Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, Gusti Djohan Idrus, Gusti Hamzah, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Soeloeng Lelanang, Jeranding Sari Sawang Amasundin, Hj Rais bin H Abdurahman, Moehammad Hambal alias Bung Tambal, Moehammad Sohordan dan Ya’ Moehammad Sabran. Nama para tokoh tersebut kini diabadikan menjadi nama-nama jalan di Pontianak.

Kisah Tugu Digulis berawal dari peristiwa 1914, ketika Partai Sarikat Islam (SI) terbentuk di Ngabang, Kabupaten Landak. Organisasi berbasis keagamaan ini mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat lokal. Karena maraknya gerakan pemberontakan Sarekat Islam di Jawa dan Sumatera yang dikhawatirkan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan, akhirnya pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah untuk membekukan gerakan SI dan menangkap 11 tokohnya.

Tiga dari 11 tokoh itu meninggal dalam pengasingan di Boven Digoel, Irian Barat. Sementara lima (5) di antaranya meninggal dalam tragedi pembantaian Mandor di Kabupaten Landak, dan tiga (3) lainnya lagi meninggal karena sakit.

Karena tokoh-tokoh tersebut sempat diasingkan di Digoel, maka tugu ini juga dinamai “Digulis”. Digulis berasal dari kata Digul (Digoel), wilayah yang menjadi tempat pengasingan di era kolonial Belanda. Akhiran is merupakan imbuhan bahasa Inggris yang menunjukkan orang atau pelaku. Sehingga kata “Digulis” artinya adalah orang yang dibuang atau diasingkan ke Digoel, walaupun memang tidak semua dari pahlawan tersebut diasingkan di Digoel.

Hal ini dibenarkan sejarawan, Ridwan Saidi, dalam kunjungannya pada Forum Pembauran Kebangsaan yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Hotel Orchardz Perdana Pontianak.

Tugu Digulis yang berbentuk bambu runcing dan bewarna kuning polos ini dibangun pada 1986 dan pertama kali diresmikan pada 10 November 1987 (bertepatan dengan hari Pahlawan) oleh Gubernur Kalimantan Barat, H. Soedjiman.

Selanjutnya, bertepatan dengan hari ulang tahun Kota Pontianak yang ke 242 (2013) lalu, Pemerintah Kota Pontianak meresmikan renovasi dan pembangunan di kawasan Tugu Digulis. Hal ini menjadikan Tugu Digulis tampak lebih indah dan menarik perhatian dengan pesona air mancur dan di sekeliling kawasan Tugu Digulis diperindah dengan taman bunga mawar. Karena lokasi Tugu Digulis yang cukup strategis di pusat Kota, maka tak jarang dimanfaatkan untuk aksi demonstrasi dan unjuk rasa di kawasan tersebut. (Ridha/Yudhi)

Related posts:


Relawan Sanggar PelangiAli dan Sanggar Pelangi


SuroboyoWarung Budoyo, Lestarikan Budaya


Surat Tilang Warna BiruKisah Surat Tilang Warna Biru


Dusun-Giyanti-WonosoboTeladan Toleransi Warga Giyanti

Kenalilah Kematian, Niscaya Kau Tak Akan Takut

الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَ الحْيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكمُ‏ْ أَحْسَنُ عَمَلًا  وَ هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُور

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. al-Mulk:2)

Kebanyakan dari manusia merasa ketakutan ketika mendengar kata kematian. Mereka merasa takut akan mati, seperti seorang mahasiswa yang ketakutan dengan ujian atau seorang pemuda yang takut untuk menikah.

Semua rasa takut mereka pasti ada alasannya. Misalnya seorang yang takut menikah, karena ia belum punya penghasilan, tidak punya rumah, dan lain-lain. Atau siswa yang takut dengan ujian, karena merasa dirinya tidak serius dalam belajar, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Tentang kematian pun seperti ihwal di atas. Banyak manusia yang takut akan kematian padahal kematian adalah bagian dari kehidupan yang fana ini. Keberadaannya pun tidak perlu pembuktian, sudah badihi. Anehnya, hampir setiap hari mereka menyaksikannya namun mereka tetap saja takut dengan adanya mati. Entah mengapa?!

Ada orang yang mati untuk menenangkan orang lain dan yang lain untuk menenteramkan dirinya sendiri. Adapun untuk menenangkan orang lain seperti orang-orang kafir dan untuk menenteramkan dirinya adalah bagi orang mukmin. Ia bersitirahat dengan tenang dari hiruk pikuk dunia ini.

Tentang hal ini, Imam Hasan al-Mujtaba as berkata, “Kematian mengantar orang mukmin pada kebahagiaan yang paling besar, karena ia telah hijrah dari kesusahpayahan menuju nikmat yang abadi. Namun kematian mengantar orang kafir pada kecelakaan yang paling besar, karena ia dipindahkan dari surganya (dunia) menuju api neraka yang tiada akhir. [1]

Lalu apa sebenarnya alasan manusia takut akan mati?

Tidak Paham Hakikat Kematian

Tak adanya pengetahuan tentang kematian adalah salah satu alasan manusia takut mati. Manusia masih takut akan mati, padahal di satu sisi Rasul saw bersabda bahwa perginya orang mukmin dari dunia seperti keluarnya bayi dari kegelapan perut ibunya menuju kebahagiaan dunia.[2]

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa kematian adalah pintu menuju alam yang lebih luas dan lebih menyenangkan seperti beranjak dari alam perut ibu menuju dunia, yang awalnya gelap dan sempit menuju alam yang terang dan lebih luas. Begitu pun halnya dengan kematian, ia mengantarkan manusia pada alam yang lebih hebat dibandingkan alam dunia. Namun semua ini bersyarat dan syaratnya adalah menjadi orang mukmin.

Selain itu beliau saw juga berkata bahwa kematian bagi seorang mukmin bagaikan sekuntum bunga yang harum.[3]

Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan Anda ketika melihat dan mencium bunga yang harum. Selain perasaan menyenangkan dan ingin menciumnya, tiada lagi perasaan takut yang akan muncul. Maka dari itu kematian bagi orang mukmin adalah sesuatu yang menyenangkan dan ia ingin segera mencicipinya.

Tak Ada Persiapan

Ada seseorang yang bertanya pada Rasul saw, “Kenapa aku tidak suka dengan kematian?” Rasul saw menjawab, “Apakah kamu mempunyai harta?”

“Iya.” Lalu beliau bertanya kembali, “Apakah hartamu engkau gunakan untuk akhiratmu?” “Tidak.” “Maka dari itu kamu tidak menyukai kematian.”[4]

Dari cerita ini dapat diambil hikmah bahwa ketika kita menyiapkan segala sesuatu yang kita punya di dunia untuk kematian atau akhirat kita, maka kita tidak akan merasa takut dengan kematian.

Selain itu, kalau kita tidak merusak akhirat kita dan menyejahterakan dunia kita, maka kita akan merasa takut pada kematian. Imam Hasan as berkata, “Engkau takut akan mati karena akhirat engkau rusak dan dunia engkau  sejahterakan. Maka sesungguhnya kau tidak akan suka berangkat dari kesejahteraan menuju kehancuran.[5]

Tidak ada persiapan adalah termasuk salah satu alasan manusia takut mati.

Banyak Berbuat Dosa

Imam Ali as berkata, “Tidak ada yang takut akan mati kecuali mereka adalah orang-orang yang berdosa.”[6]

Lalu bagaimana dengan kita yang telah hidup berlumur dosa? Bertaubatlah dan sesalilah dosa-dosa di masa lalu dan jangan mengulanginya. Seperti seorang pasien yang meminta nasihat dari dokter dan dokter pun menasihati untuk jangan memakan pantangan ini-itu.

Memang, dulu kita memakan makanan tersebut dan sekarang janganlah memakannya lagi kalau tidak ingin sakit kembali. Begitupun dengan dosa, ketika kita telah bertaubat kepada Allah SWT, berusahalah untuk tidak mengulanginya kembali, karena kalau kita mengulangi sama saja dengan pasien yang kembali memakan makanan yang telah dilarang oleh dokter.

Terakhir, jika seseorang telah mengetahui hakikat kematian, maka ia tak akan takut mati. Seandainya ia persiapkan dirinya untuk akhirat, ia banyak melakukan kebaikan,  dan mematuhi perintah Allah SWT, maka ia tidak akan takut dengan kematian, malah ia akan selalu merindukannya. Seperti Imam Ali as yang mengatakan, “Aku mencintai kematian melebihi seorang bayi yang mencintai susu ibunya,” maka dari itu kenalilah kematian dan persiapkanlah diri kita untuk menyambutnya. (Sutia/Yudhi)

[1] Mizanul Hikmah, jilid 6, hal. 5669

[2] Ibid, hal. 5673

[3] ibid

[4] Ibid, hal. 5699

[5] ibid

[6] Ceramah Dr. Rafei di acara Haft Daqiqeh-i

Related posts:


IZ. Muttaqin DarmawanMengapa Imam Husain Menjadi Simbol Abadi Perjuangan Moral Universal?


Dr. Muhsin LabibTanda Tanya seputar Hijrah dan Muharram


Antara Keadilan dan Kemurahan HatiKasus Bully Presiden: Antara Keadilan dan Kemurahan Hati


Al-GhadirAl-Ghadir dan Imam Ali Pemersatu Umat