Monthly Archives: March 2016

Maksud Kautsar Dalam Alquran Adalah Fathimah Az-Zahra as

“Orang Arab menganggap bahwa hanya anak laki-laki yang bisa melanjutkan nasab sedangkan perempuan tidak bisa melanjutkannya. Mereka berpikir ketika Rasulullah saw tidak memiliki anak laki-laki yang hidup maka nasabnya akan terputus dan begitupun agamanya. Namun Allah menurunkan kautsar kepada Nabi saw,” tutur Ayatullah ‘Abdus dalam acara peringatan hari lahir Sayidah Fathimah as, di Shabestan Imam Khomeini, Haram Sayidah Maksumah, Qum, Selasa (29/3).

Setelah itu, Ayatullah ‘Abdus  melanjutkan pembahasan sembari menyebutkan pandangan mufasir masyhur Ahlusunah yakni Fakhruddin al-Razi, terkait maksud kautsar dalam surah 108 yang tak lain adalah wujud dari Sayidah Fathimah as.

“Maksud dari kautsar di sini adalah wujud Sayidah Fathimah as. Fakhruddin al-Razi mengatakan dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Kabir, ada 15 makna terkait kautsar dan makna yang ketiga adalah anak-anak Nabi yakni wujud Sayidah Fathimah az-Zahra as.”

“Selain itu juga kita menyaksikan bahwa musuh-musuh Nabi saw membunuh keturunan az-Zahra karena ingin memutuskan rantai keturunan Nabi. Namun sekarang yang kita lihat malah sebaliknya, keturunan Bani Umayahlah yang sirna ditelan zaman,” tegasnya.
“Nabi saw dengan satu anak yang umurnya juga sangat terbatas yakni hanya 18 tahun, namun keturunannya penuh dengan berkah,” imbuhnya.

Menutup pembicaraan, Ayatullah ‘Abdus menceritakan bagaimana Nabi saw menjalani karantina (menjauh) dari Sayidah Khadijah selama 40 hari sebelum masa kehamilan Khadijah.

“Masa karantina Nabi saw dari Sayidah Khadijah itu selama 40 hari. Meski Nabi saw begitu mencintai Khadijah tapi beliau harus berpisah saat itu. Kenapa? Walaupun kita tahu bahwa Nabi saw adalah pribadi suci yang tidak mungkin berdosa. Dalam hal ini Nabi saw sendiri menjawab bahwa makanan duniawi berpengaruh pada tubuh beliau dan Tuhan hendak menghilangkan pengaruh itu. Menurut Nabi, selama 40 hari ketika berpisah dengan Khadijah itulah beliau memakan hidangan surga. Ini semua hanya untuk memindahkan nutfah Fathimah ke dalam rahim Khadijah. Begitu kata Nabi.” (Sutia/Yudhi)

Related posts:


operasi kubah hijauOperasi Kubah Hijau


BungaOBITUARI – Selamat Jalan Kembang Ahlulbait Indonesia


FoswanFOSWAN : Forum Warga NU Anti Salafi Palsu


IMG_9137Bedah Buku IBF: Bahaya dan Kesia-siaan Fitnah

Ancaman Ekspansi Bisnis Properti di Balik Reklamasi

Tak ada orang yang menolak pembangunan. Tapi jadi lain ceritanya jika pembangunan yang digadang-gadang ternyata hanya menggemukkan segelintir orang kaya saja dan malah menghancurkan nasib rakyat kecil yang tak berdaya.

Hal ini diungkapkan oleh sineas WatchDoc, Dhandy Dwi Laksono dalam acara Nobar dan Diskusi “Membaca Reklamasi Jakarta Lewat Kala Benoa” di Universitas Esa Unggul, Jakarta Barat, Senin (28/3).

“Saat ini kota-kota di Indonesia sedang menghadapi ekspansi bisnis properti,” ujar Dhandy.

“Untuk mendapatkan tanah, hanya ada tiga cara, kalau dulu tukar guling, sekarang kalau tidak menggusur tanah orang miskin, ya dengan menimbun lautan. Itu yang terjadi di Teluk Benoa dan juga Teluk Jakarta,” papar Dhandy.

Menurut Dhandy, untuk memuluskan rencananya, pertama mereka menciptakan narasi untuk menghancurkan reputasi daerah tersebut agar bisa digusur atau diuruk. Seperti diisukan ada pencemaran, pendangkalan, bukan laut produktif, dan sebagainya.

“Itu adalah image yang dibangun investor terlebih dulu, sehingga seolah-olah ia tampil sebagai orang yang membenahi. Padahal kalau kita lakukan check and re-check ke lapangan, seperti saya ke Teluk Benoa, tidak seperti itu faktanya.”

Menurut Dhandy ini dilakukan karena secara ekonomis jauh lebih menguntungkan menimbun laut ketimbang, membeli tanah di Bali atau Jakarta yang harganya tinggi. Meski dengan resiko menghancurkan ekosistem dan kehidupan masyarakat kecil.

Menunggu Pembangunan Berkerakyatan

Terkait Pilkada DKI, Dhandy berharap para calon gubernur mampu menawarkan program pembangunan yang membela rakyat kecil, bukan malah menghamba pada korporasi.

“Saya membayangkan ada perdebatan sengit dengan konsep pembangunan Jakarta dari para kandidat. Sialnya tak ada kandidat yang menantang petahannya dengan konsep-konsep pembangunan yang baru,” keluhnya.

“Yang ingin kita dengar dari banyaknya kandidat ini adalah apa yang membuat mereka berbeda dengan petahana dalam konsep pembangunan.”

“Soal isu reklamasi, soal Perda Tata Ruang misalnya, ndak ada tuh perdebatan Ahok dan Lulung, ndak ada tuh perdebatan sengit antara Ahok dan Taufik. Gak ada gontok-gontokan antara legislatif dan eksekutif untuk konsep-konsep pembangunan.”

“Saya jadi makin khawatir, keributan apa yang sebenarnya terjadi? Karena tak ada yang substansial dari keributan-keributan politik ini,” kritik Dhandy.

Tak hanya di Jakarta, di seluruh Indonesia, masyarakat merindukan pembangunan yang berkerakyatan, yang menyejahterakan rakyat kecil, bukan hanya segelintir pengusaha. Rakyat masih menunggu itu. (Muhammad/Yudhi)

Tujuh Strategi Kebudayaan LESBUMI

24 March, 2016

Leave a comment

KH-Agus-Sunyoto-2Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI)  yang lahir pada tahun 1962 dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan hingga sekarang masih menginduk pada Organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, merayakan hari lahirnya yang ke-54 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta (24/3) dengan tajuk “Anugerah SAPTAWIKRAMA LESBUMI PBNU”.

Ketua Umum LESBUMI, Agus Sunyoto menyatakan bahwa kita kehilangan identitas yaitu karakter sebagai bangsa Nusantara dan sibuk menjadi orang lain.

“Kta masih suka membebek, menjadi pengikut bahkan menjadi kaki-tangan bangsa-bangsa lain,” ungkap Agus.

Dalam kondisi seperti itu menurut Agus, LESBUMI merasa memiliki kewajiban untuk mengambil bagian menentukan arah sejarah bangsa ini. Bukan hanya berkepentingan memurnikan dan memverifikasi sejarah masa lalu tapi juga menyusun strategi dalam menyongsong kekinian dan masa depan.

“Semua itu untuk menegaskan kembali identitas kita sebagai sebuah bangsa dan sebagai sebuah peradaban,” tegas Agus.

Agus lebih jauh menerangkan bahwa khazanah yang dapat mempertegas identitas bangsa ini adalah keragaman melalui Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu kita mesti menghidupkan kembali nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati serta gotong-royong. Selain itu prinsip lain yang sangat penting untuk mempertegas identitas kita adalah prinsip kemandirian.

“Prinsip ini sangat penting dalam mengahdapi tantangan global saat ini,” ujar Agus.

Untuk itu Agus berupaya agar LESBUMI dengan sekuat kemampuan dan upaya siap berkhidmat menyusun strategi kebudayaan untuk kebangkitan umat di negeri ini demi kepentingan bangsa dan umat manusia di dunia.

Sikap budaya yang disebut SAPTAWIKRAMA atau Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara itu adalah:

1. Menghimpun dan mengkonsolidasi gerakan yang berbasis adat-istiadat tradisi dan budaya Nusantara.
2. Mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta’alim), yang berkaitan erat dengan realitas pendidikan terutama yang dikelola lembaga pendidikan formal (ma’arif) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah.
3. Membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistomologi keilmuan.
4. Menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.
5. Menghidupkan kembali seni-budaya yang beragam dalam ranah Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong-royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.
6. Memanfaatkan teknologi dan informasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara.
7. Mengutakaman prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global.

Anugerah SAPTAWIKRAMA LESBUMI PBNU ini dihadiri oleh sejumlah anggota keluarga dari para pendiri LESBUMI pada tahun 1962, salah satunya adalah putra dari KH. Saifudin Zuhri, yaitu Lukman Hakim Saifuddin yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. (Lutfi Yudhi)

Related posts:


Menteri-AgamaAgama dan Tradisi Laksana Dua Sisi Mata Uang


KH-Marsudi-SyuhudLima Pesan Marsudi Syuhud Untuk LESBUMI


Diskusi-JIL-19-AgustusMenanti Buah Dua Muktamar


Strategi-Walisongo-Sebarkan-Islam-NusantaraStrategi Walisongo Sebarkan Islam Nusantara


Didik Anak Dengan Suri Tauladan

Bertempat di halaman masjid YAMP Jl. Mayjen Bambang Sugeng Km 03 Mendolo Wonosobo, PPPA (Program Pembibitan Penghafal Al Qur’an) Yayasan Darul Quran Nusantara Wonosobo pada hari ini, Selasa (29/3) mengadakan tablig akbar dengan pembicara Ustaz Wijayanto.

Tablig akbar yang mengusung tema “Membangun Peradaban Islam Melalui Pendidikan Keluarga” ini dihadiri berbagai lapisan masyarakat dari beberapa kecamatan di Wonosobo.

Ustaz yang juga Dosen Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini menekankan bahwa tauladan sangat efektif dalam sebuah pendidikan keluarga. Apa yang diperintahkan orang tua tidak lebih mengena pada diri anak dibandingkan jika perintah tersebut diikuti dengan tindakan seperti apa yang diperintahkan.

“Contohnya adalah, orang tua yang memerintahkan anaknya untuk mengerjakan salat tetapi dia sendiri tidak juga melaksanakan salat maka jangan berharap anaknya akan mengerjakan apa yang diperintahkannya itu,” terang Ustaz yang kerap tampil di TV itu.

Bagi sebagian jemaah yang terdiri dari masyarakat umum ini, mungkin saja apa yang disampaikan adalah sesuatu yang sudah biasa mereka dengar dan dapatkan dari penceramah lain. Namun gaya penyampaian Ustaz Wijayanto yang unik dan humoris seperti lebih mengena dan lebih berkesan bagi mereka. (Malik AZ/Yudhi)

Related posts:


BungaOBITUARI – Selamat Jalan Kembang Ahlulbait Indonesia


fathimahazzahraKedudukan Mulia Fatimah Az Zahra sebagai Ummu Abiha


Seminar Titik-Temu Sunni-SyiahGus Nuril dan GusDurian Ungkap Taktik Takfiri Incar NU


gus-mus-MuktamarGus Mus : Islam Nusantara Jawaban Bagi Dunia Islam

Agama dan Tradisi Laksana Dua Sisi Mata Uang

24 March, 2016

Leave a comment

Lukman-Hakim-SafinuddinPerayaan hari lahir Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI) ke-54 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta (24/3) dengan tajuk “Anugerah SAPTAWIKRAMA LESBUMI PBNU” dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dalam sambutannya Menag Lukman menyatakan bahwa SAPTAWIKRAMA atau tujuh strategi kebudayaan yang dicanangkan LESBUMI merupakan indikator bahwa lembaga ini memiliki kemampuan antisipatif untuk merespon perubahan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.

“Ini merupakan indikator LESBUMI memiliki kemampuan merespon perubahan masyarakat,“ terang putra salah seorang pendiri LESBUMI, KH. Saifudin Zuhri ini.

Menteri Agama kemudian menjelaskan bahwa tradisi dan agama seperti keping mata uang logam yang memiliki dua sisi. Meskipun keduanya dapat dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan karena memiliki hubungan keterkaitan yang erat.

Budaya sendiri menurutnya, hakikatnya memadukan antara agama dan tradisi. Hal inilah menurut Menag yang seringkali disalahpahami umat Islam sendiri, karena memang implementasi agama itu berbeda-beda di satu daerah dengan daerah lain.

“Prinsip-prinsip dasar nilai-nilai Islam itu sama, tapi bagaimana implemantasi nilai-nilai itu yang menyebabkan adanya keragaman,” jelasnya.

Menag menegaskan bahwa perbedaan ini sesungguhnya adalah kekayaan yang kita miliki. Maka dia mengingatkan agar perbedaan-perbedaan ini janganlah dihadapkan antara satu dengan yang lain, apalagi hingga berujung saling menyalahkan.

“Jangan lalu kemudian saling menyalahkan apalagi terus saling mengkafir-kafirkan.”

Lebih lanjut Menteri Agama menegaskan bahwa di sinilah peran budaya berpengaruh sangat besar karena keterkaitan tradisi dengan agama. Termasuk sebaliknya,  implementasi agama dalam tradisi juga memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan.

Di akhir sambutannya, Menag berpesan bahwa budaya adalah instrumen dan yang lebih diutamakan adalah isinya dan isinya tersebut adalah nilai-nilai agama. Selain menjaga tradisi, juga harus memaknai eksistensinya, substansinya, sehingga tidak akan kehilanggan ruh dari budaya yang kita kembangkan. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


KH-Agus-SunyotoTujuh Strategi Kebudayaan LESBUMI


Strategi-Walisongo-Sebarkan-Islam-NusantaraStrategi Walisongo Sebarkan Islam Nusantara


11733483_10204315232420989_1599034813_nKemenag RI Putuskan Idulfitri 1436 H Jatuh pada Hari Jumat 17 Juli 2015


KH-Marsudi-SyuhudLima Pesan Marsudi Syuhud Untuk LESBUMI


Lima Pesan Marsudi Syuhud Untuk LESBUMI

KH-Marsudi-SuhudLembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI)  yang lahir pada tahun 1962 dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan hingga sekarang masih menginduk pada Organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, merayakan hari lahirnya yang ke-54 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta (24/3) dengan tajuk “Anugerah SAPTAWIKRAMA LESBUMI PBNU”.

Hadir mewakili Ketua Umum PBNU, KH. Said Agil Siradj, salah satu Ketua PBNU Dr. H. Marsudi Syuhud, membuka sambutannya dengan membacakan sebuah syair dalam bahasa Arab yang artinya, “Jangan sekali-sekali keluar dari rumah atau dari kampung sendiri kalau tidak untuk mencari keluhuran dan mendapatkan setidaknya salah satu dari lima hal.”

“Jadi ndak perlu kesana-sini kalau nanti tidak dapat lima hal,” ungkapnya.

Yang pertama dari kelima hal itu adalah menghilangkan kesusahan. Karena itu LESBUMI dengan segala karyanya, menurut Marsudi minimal harus bisa meminimalisasi atau jika memungkinkan bisa menghilangkan kesusahan manusia Indonesia, bahkan bila perlu manusia sejagad raya.

“Sebab dengan menghilangkan kesusahan maka kekuatan bangsa Indonesia akan meningkat naik,“ tegasnya.

Yang kedua dengan menghilangkan kesusahan, kalau bisa juga dapat maisah; keluhuran, kebanggaan.

Yang ketiga, wa Ilmi. Bahwa LESBUMI harus mendidik masyarakat agar ilmunya terus bertambah dan ini ilmu apa saja. Sebab menurut Marsudi, sesungguhnya tidak ada ilmu yang tersegmentasi, semua ilmu datangnya dari Allah dan untuk kepentingan semua makhluk Allah.

“Jika makhluk Allah butuh listrik, maka fardhu kifayah mempelajari ilmu listrik,” jelas Marsudi.

Untuk itu, tantangan bagi LESBUMI saat ini adalah bagaimana bisa meningkatkan keilmuan dengan cara dan metodenya sendiri. Sebab tiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda dengan cara yang berbeda-beda pula. Pola peningkatan keilmuan yang berbeda-beda di tiap daerah inilah yang jika terus dilakukan akan menjadi budaya.

Yang keempat adalah bagaimana LESBUMI dapat menciptakan sesuatu yang nanti akan menjadi budaya dan dapat dipraktikkan oleh para Kyai NU. Hal tersebut sebagai bentuk tantangan di dunia modern dengan cara berkreatifitas nyata, bisa diterima dan langgeng diamalkan masyarakat.

“Insya Allah lembaga ini bisa menjaga budaya yang sudah ada dan menciptakan hal baru yang sesuai dengan ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah ala Thoriqoti Nahdliyah,” tegas Marsudi.

Yang kelima, adalah jaringan atau networking. Dengan kemajuan teknologi dan komunikasi saat ini memungkinkan orang berjejaring dengan mudah. Menciptakan sistem yang mau tak mau banyak orang masuk dan kemudian menjadi jaringan, pertemanan agung yang dibuat, dibentuk dan dikreasi dengan basis teknologi.

“LESBUMI ini hendaknya bisa melaksanakan lima hal yang tercantum dalam syair yang saya sampaikan tadi,” harap Marsudi menutup sambutannya. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


KH-Agus-SunyotoTujuh Strategi Kebudayaan LESBUMI


Diskusi-JIL-19-AgustusMenanti Buah Dua Muktamar


Menteri-AgamaAgama dan Tradisi Laksana Dua Sisi Mata Uang


Indonesia-darurat-RadikalismeKesenjangan Sosial Picu Radikalisme

Strategi Walisongo Sebarkan Islam Nusantara

Sejarah masuknya Islam ke Indonesia dikenal damai tanpa adanya pemaksaan apalagi dengan cara peperangan seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa.

Ketua Umum Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI), KH. Agus Sunyoto dalam pidato kebudayaannya di acara perayaan hari lahir ke-54 LESBUMI di di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta (24/3) dengan tajuk “Anugerah SAPTAWIKRAMA LESBUMI PBNU”, menceritakan beberapa peran kebudayaan Walisongo dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Menurut Agus, Islam di Indonesia menemukan bentuknya bersama dengan para Kyai dan Walisongo yang berupaya menghadirkan nilai-nilai tauhid melalui beragam bentuk dan ekspresi dengan citarasa dan estetika luhur.

“Ekspresi nilai-nilai tauhid begitu marak dan hadir menyusup ke relung hati dan laku keseharian manusia Nusantara,” terang Agus.

Strategi para Wali untuk mengajak masyarakat masa itu menjalankan ibadah wajib lima waktu tidak menggunakan istilah Shalat sebab akan terdengar asing. Tapi yang digunakan adalah istilah “Sembah Hyang”.

“Sebuah istilah yang sudah melekat dalam hegemoni sosial keagamaan masyarakat kita saat itu,” urai Agus.

Begitupun dengan tempat melaksanakan Sembahyang yang dinamai dengan Tajuk atau Langgar. Suatu nama pembeda dengan Sanggar, yaitu sebutan bagi tempat ibadah agama kuno Kapitayan dengan bentuk persegi empat dengan satu ruang kosong di tengahnya.

Tak hanya itu, nama ibadah Siyam pun tidak digunakan dengan menggunakan bahasa Arab, melainkan menggunakan istilah Upawasa atau Puasa, yaitu istilah yang merupakan salah satu ihwal serupa puasa dalam agama Kapitayan.

“Istilah puasa inilah yang sampai sekarang masih digunakan oleh umat Islam di indoensia,” terang Agus.

Agus Sunyoto juga menegaskan bahwa tak hanya itu saja, para Walisongo juga membentuk inovasi budaya tertentu yang merupakan asimilasi dan akulturasi dari budaya sebelumnya namun tetap dengan mempertahankan prinsip-prinsip tauhid. Inovasi yang layak diteladani dan ditiru di masa kita kini. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


Menteri-AgamaAgama dan Tradisi Laksana Dua Sisi Mata Uang


KH-Agus-SunyotoTujuh Strategi Kebudayaan LESBUMI


KH-Marsudi-SyuhudLima Pesan Marsudi Syuhud Untuk LESBUMI


Indonesia-darurat-RadikalismeKesenjangan Sosial Picu Radikalisme

Geliat Kebangkitan Komoditas Primer Kalbar

Nilai Ekspor Kalbar pada bulan Januari 2016 mencapai 26,45 juta Dollar AS atau sekitar Rp. 338 Miliar, mengalami penurunan sebesar 40,51 % dibandingkan bulan Desember 2015 yang mencapai 44,46 juta Dollar AS atau sekitar Rp. 572 Miliar.

Menurut Asisten II Gubernur Kalbar Lensus Kandri, menurunnya nilai ekspor Kalbar ke Singapura dan Malaysia dikarenakan kebijakan pemerintah yang melarang ekspor barang mentah.

“Sekarang kita ingin menjual hasil tambang yang jadi, tapi memang permasalahan yang dihadapi untuk mengubah pola barang mentah ke barang jadi perlu prosedur dan waktu,” jelasnya, Selasa (15/3) lalu.

Untuk menyikapi hal tersebut, Lensus mengungkapkan bahwa Pemerintah Kalbar saat ini sedang menggalakkan industri pertambangan di sektor hilir.

“Kalau di Kalbar sendiri yang produksi baru di Tayan, yakni tambang bauksit, kemudian yang kedua WHW dengan nilai investasi puluhan Triliun, dengan anggaran tahap pertama Rp. 10 Triliun dan kedua Rp. 20 Triliun, ini baru berproduksi di tahun 2016.”

Selain berpengaruh terhadap kebijakan Pemerintah, penurunan nilai ekspor Kalbar juga berpengaruh terhadap penurunan harga karet, sehingga petani menyadari bertani di sektor karet tidak lagi menjanjikan.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar Pitono, mengatakan ekspor Kalbar pada Januari 2016 didominasi oleh karet dan barang dari karet, kayu dan barang dari kayu serta ampas atau sisa industri makanan.

Menurutnya, ketiga golongan barang ini menyumbang 92,58 % dari total ekspor Kalbar.

Hal tersebut menunjukkan fenomena perekonomian Kalbar dalam kondisi berbahaya. Beberapa bulan terakhir nilai ekspor Kalbar semakin merosot dan diikuti secara drastis meningkatnya nilai impor. Tercatat Kalbar mengalami defisit neraca perdagangan hingga minus USD 49,45 juta, ini hanya untuk bulan September saja. Ekspor Kalbar bahkan tidak sampai separuh dari nilai impor sebesar USD 94,58 juta.

Melemahnya kondisi perekonomian Kalbar yang ditandai dengan turunnya nilai ekspor, menunjukkan perekonomian Kalbar mesti mengandalkan potensi-potensi alam sebagai penopang perekonomian.

Di sisi lain, buruknya infrastruktur juga menjadi salah satu penghambat industrialisasi. Walaupun perekonomian tahun ini masih tetap tumbuh, tetapi pertumbuhannya sangat lambat, terhitung hanya akan berada di angka 4,4 – 4,5 % saja. Sementara inflasi terus meningkat 6,17 % dari tahun lalu. Hal ini membuat pertumbuhan perekonomian Kalbar kembali berada di bawah rata-rata Nasional.

Prihatinnya lagi, berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Kalbar saat ini justru ditopang oleh konsumsi domestik.
Sementara nilai ekspor Kalbar yang menjadi andalan dari sektor pertambangan, perkebunan dan kehutanan tidak bisa diharapkan. Sejumlah komoditas primer Kalbar semua harganya anjlok di pasar Internasional.

Selain buruknya infrastruktur, pemberhentian ekspor bauksit akibat pemberlakuan larangan ekspor mineral dan batubara sejak tahun 2014 juga menjadi sebab turunnya nilai ekspor komoditas primer Kalbar.

Melemahnya pertambangan bauksit sangat identik dengan peraturan larangan ekspor mineral mentah oleh Pemerintah sebelumnya. Niatnya baik, untuk mendorong perusahaan-perusahaan membangun smelter agar bauksit memiliki nilai tambah. Namun apa yang terjadi, hanya dua perusahaan yang mampu membangun industri pengolahan. Pemerintah hanya bisa melarang dengan berbagai macam peraturan tetapi tidak menyiapkan sesuatu sebagai solusi.

Berkaitan dengan infrastruktur, investor tidak akan tertarik untuk membangun industrialisasi di sektor hilir apabila kondisi infastruktur masih seperti ini.

Pembangunan smelter untuk pengolahan bauksit menjadi barang jadi atau barang setengah jadi tidak akan berjalan dengan baik, karena masalahnya ada pada kondisi infastruktur Kalbar, terutama listrik, akses jalan dan air bersih. Maka dapat dipastikan upaya hilirisasi akan berjalan sangat lambat.

Namun kabar baiknya menurut Prof. Edy Suratman, di tahun ini ada beberapa raksasa di bidang pengolahan tambang seperti PT Antam dan Harita akan bekerjasama dengan perusahaan China dan diperkirakan akan memulai produksi aluminanya. Dengan kerjasama ini diperkirakan pertambangan bauksit di Kalbar akan bangkit kembali.
Ditambah lagi upaya Pemerintah akan menggalakkan industri pertambangan di sektor hilir, sebagaimana yang disampaikan Asisten II Gubernur Kalbar Lensus Kandri.

Hilirisasi telah dimulai di daerah Tayan yaitu tambang bauksit dan WHW dengan nilai investasi 20 Triliun dan akan berproduksi di tahun ini.

Sementara itu, dua komoditas utama lainnya yaitu karet dan sawit juga menurun, disebabkan permintaan akan barang tersebut juga menurun. Hal ini membuat kondisi masyarakat Kalbar makin memilukan. Saat ini karet hanya dihargai Rp. 3.000 – Rp. 5.000 per kilo. Turunnya permintaan terhadap karet karena belum pulihnya permintaan dunia, antara lain karena Tiongkok yang menjadi konsumen karet terbesar tengah mengalami perlemahan ekonomi dan pertumbuhannya kian terbatas.

Minyak kelapa sawit juga merupakan komoditas Kalbar yang cukup mempengaruhi perekonomian masyarakat. Namun sejauh ini kelapa sawit juga mengalami nasib serupa seperti karet. Dua negara pengimpor utama China dan India telah mengurangi belanja kelapa sawit karena kondisi perekonomian mereka sedang lesu.

Menjadi catatan penting juga adalah Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan menguasai lebih dari 50% pasar dunia. Tetapi ironisnya justru Indonesia tidak dalam kondisi dapat mengendalikan naik-turunnya harga sawit dunia melainkan harga sawit dikendalikan oleh harga pasar dunia yang menggunakan patokan nilai mata uang Ringgit Malaysia dan harga nilai mata uang Rotterdam Belanda. (Hakim/Yudhi)

Related posts:


MaksumKritik Nahdliyin atas Bebas Bahan Makanan Import


rizal panggabeanMungkinkah Rekonsiliasi di Sampang?


Syafinuddin Al-MandariPesan Peradaban dari Karbala


Memaknai KemerdekaanMakna Pengorbanan Bagi Masa Depan

Reklamasi Semarang, Bali dan Jakarta: Berkah atau Bencana?

Dua pertiga wilayah bumi adalah lautan. Dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, dan sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di pesisir pantai. Sehingga, semestinya, lautan juga mendapat perhatian besar seperti halnya daratan. Kesalahan dalam memperlakukan lautan, dampaknya akan sangat besar bagi daratan.

Salah satu bentuk perhatian pada urusan laut adalah reklamasi. Ya, tentunya adalah reklamasi yang ideal sesuai fungsi dan tujuannya.

Banyak definisi tentang reklamasi, salah satunya adalah memperbaiki sesuatu yang rusak. Dalam arti lain, reklamasi adalah pemanfaatan kawasan berair yang tidak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Ada juga yang berpendapat, reklamasi merupakan pembuatan daratan baru dengan cara pengurukan di daerah perairan.

Namun dalam praktiknya, dampak reklamasi justru berbanding terbalik dengan tujuannya. Tentu bukan salah reklamasi itu sendiri, melainkan penerapannya yang tidak sesuai fungsi. Misal, reklamasi yang dilakukan di suatu wilayah yang seharusnya tidak direklamasi, reklamasi yang lebih mengedepankan pembangunan dan keuntungan bisnis ketimbang menjaga ekosistem dan keseimbangan alam.

Ada kalanya juga reklamasi dapat memberi keuntungan, di saat yang sama juga berdampak kerugian. Sebagai contoh, reklamasi yang terjadi di pantai utara Semarang. Khususnya reklamasi perluasan pelabuhan Tanjung Mas sejak tahun 1980-an. Bagi para pengembang dan pebisnis yang berkepentingan dengan pelabuhan ini, tentu sangat diuntungkan. Bagi masyarakat sekitar, tentu ini menimbulkan kerugian dan ancaman. Hal ini dapat dilihat dengan meluasnya banjir rob dan tergenangnya rumah-rumah warga sekitar pelabuhan yang tak lagi dapat ditempati. Belum lagi kerusakan ekologi yang tak terhitung jumlah kerugiannya.

Tak mau bernasib sama, di Bali, rencana reklamasi di Teluk Benoa ditolak warga secara berbondong-bondong. Tidak hanya warga Bali, di media sosial pun banyak yang mendukung penolakan reklamasi yang dianggap hanya menguntungkan pengusaha dan akan menimbulkan kerusakan alam yang lebih besar ini.

Setelah Semarang dan Bali, kini Jakarta. Reklamasi Teluk Jakarta dengan pembangunan Giant Sea Wall dengan biaya 500 Triliun itu pun membuat banyak orang angkat bicara. Tidak hanya itu, masyarakat nelayan pun beramai-ramai melakukan berbagai aksi penolakan.

Reklamasi ini pada mulanya dibangun berkait dengan ketakutan-ketakutan pada banjir rob besar, membuat Jakarta terancam banjir besar sehingga penting mambangun Giant Sea Wall (GSW). Nah, setelah konsep GSW itu dikenalkan, para pengusaha mulai berpikir bahwa di GSW, di belakang benteng-benteng itu, bisa dibuat pulau-pulau. Tentu dengan dalil akan menolong Jakarta dari banjir. Menolong Jakarta dari kerusakan ekologi yang parah di sekitar teluk Jakarta. Jadi problemnya sama dengan Bali, alasannya adalah ekologi yang rusak.

Sejarahwan JJ Rizal pun sering angkat bicara soal reklamasi ini. Dalam forum diskusi “Reklamasi Teluk Jakarta Untuk Kepentingan Siapa?” yang berlangsung di Rumah Kedaulatan Rakyat (24/3), Jakarta, ia kembali angkat bicara.

Apakah betul bahwa reklamasi itu akan menolong Jakarta dan membebaskan Jakarta dari banjir?

“Saya pikir jawabannya sudah banyak dari para pakar yang justru terbalik. Bukan menolong Jakarta dari banjir malah akan menjadikan banjir Jakarta menghebat,” ungkap JJ Rizal.

Ada juga yang mengatakan reklamasi ini akan membantu kehidupan nelayan dan memulihkan kembali ekologi di sekitar teluk Jakarta.

“Akan tetapi ada riset dan ini menarik, Ibu (Menteri) Susi pernah ngomong dan berdialog dengan pemerintah kota Jakarta tentang dua pokok besar bahwa, reklamasi tidak akan memulihkan ekologi Jakarta malah akan merusak,” imbuhnya.

“Belum lagi ancaman terhadap situs-situs misalnya yang menarik, yang mungkin akan membuat umat Islam marah. Ada makam namanya Habib Husein Alaydrus di Luar Batang. Ini juga disebutkan akan terkena masalah karena reklamasi itu,” terang JJ Rizal sembari menjelaskan bahwa Habib Husein Alaydrus merupakan salah seorang penyebar Islam pertama di Batavia (Jakarta).

Reklamasi ini, menurutnya, juga akan mengantarkan Jakarta mendapat cap baru sebagai penjahat lingkungan.

“Karena untuk mendapat lingkungan baru mereka masuk pulau reklamasi itu dengan mengkanibal wilayah lain, daratan lain, atau pulau lain. Karena pro reklamasi, pro pasir dalam jumlah raksasa,” kata JJ Rizal.

Nah, untuk reklamasi Jakarta pasirnya dari mana? Ternyata menurut JJ Rizal, pasir didapat dari Serang yang pantainya disedot beberapa kilometer.

“Jakarta akan punya gelar baru sebagai penjahat lingkungan karena merestui pulau reklamasi.”

Yang lebih esensial lagi, sebenarnya, apakah Jakarta memerlukan reklamasi?

“Kalau dihubungkan dengan Nekolim, bagaimana ya cara menghubungkan reklamasi dengan Nekolim? Dalam pidato Bung Karno, Indonesia Menggugat, Bung Karno menerjemahkan kolonialisme itu menarik sekali. Apakah kolonialisme itu? Kata Bung Karno, kolonialisme adalah nafsu. Nafsu mencari rezeki dengan menggunakan cara-cara apapun yang mempersetankan segala hal, tak peduli apakah itu merusak lingkungan atau mengorbankan kemanusiaan. Saya pikir ada kaitannya kalau kita bisa bicarakan reklamasi itu dengan nafsu mencari rezeki. Dengan mengorbankan bukan hanya kemanusiaan karena disitu ada nasib nelayan. Ada sekitar 17.000 nelayan di Jakarta. Kemudian, merusak lingkungan sudah jelas. Bahwa ekologi di sekitar Jakarta akan mengalami kerusakan hebat, dan itu urusannya adalah nafsu mencari rezeki, dengan menciptakan daratan (baru) yang bisa dijual 6 kali atau 10 kali lipat harga dari modalnya,” papar JJ Rizal.

Neokolonialisme, kolonialisme bentuk baru ini menurut Rizal bisa berjalan dan bisa massif karena ada perkawinan atau sebentuk kerjasama antara kaum kapitalis dengan penguasa. (Malik/Yudhi)

Related posts:


ABI Press_Training Penguatan Advokasi Kelompok MinoritasSEMATA, Sekolah Masyarakat Setara


AKP Ita PuspitalenaKabag Humas Polres Bogor: Tak Ada Penyerangan Terhadap Az Zikra


Undang-Undang Perlindungan Umat BeragamaKemenag Rancang UU Perlindungan Umat Beragama


Menolak Hukuman MatiSetara Institute: Tolak Hukuman Mati

Wisata Religi Menjahit Masa Lalu dan Masa Kini

Makam-KeramatKetapang adalah nama salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Terletak di bagian selatan Kalbar, Ketapang berjarak 562,3 km dari Kota Pontianak.

Terdapat tiga jalur yang dapat ditempuh untuk sampai ke salah satu pusat peradaban tua di Kalbar ini, yakni jalur air (sungai), udara dan darat.
Menggunakan jalur sungai, perjalanan ke Ketapang naik kapal cepat dari Pelabuhan Tua Senghie di Kota Pontianak dengan menyisir perairan Kalbar ini akan memakan waktu ± 6 jam. Sepanjang perjalanan akan kita lihat barisan tanaman bakau laksana benteng alami daratan menghadapi gelombang air yang mencegahnya dari abrasi.
  
Menuju Ketapang dengan kendaraan pribadi juga dapat dilakukan karena angkutan feri pun tersedia dengan waktu tempuh ± 12 jam perjalanan.

Jika memilih jalur udara, dari Bandar Udara Supadio menuju Bandar Udara Rahadi Osman Ketapang akan memakan waktu ± 40 menit. Lain halnya dengan jalur darat yang butuh waktu ± 13 jam untuk sampai ke Ketapang melewati Jalan Trans Kalimantan.

Hingga saat ini, belum seluruh jalan menuju Ketapang dalam kondisi baik. Sekitar 40 km perjalanan, akan Anda tempuh dengan kondisi jalan tidak laik –untuk tak mengatakannya rusak parah. Belum lagi di sepanjang jalur yang rusak ini kita akan berjumpa dengan 20-an miting –istilah yang digunakan untuk warga lokal yang “menambal” jalan yang rusak parah dengan kayu atau batang pohon agar bisa dilalui pengendara roda 2 dan roda 4. Pengendara yang melalui miting pun harus membayar dua sampai dengan lima ribu rupiah. Persediaan uang kontan dengan nominal tersebut “wajib” disiapkan demi “kelancaran” perjalanan.

Entah mengapa jalan rusak itu terkesan dibiarkan, padahal Ketapang merupakan salah satu pusat industri ekstraktif di Kalbar yang dengannya mengharuskan infrastruktur turut dibenahi sebagai pendukung distribusi hasil industri.

Ada dua industri ekstraktif primadona di Ketapang; bauksit dan sawit, sehingga tak mengherankan jika pemandangan yang kita saksikan di kiri-kanan jalan adalah areal perkebunan sawit, baik berupa bibit maupun pepohonan yang telah beberapa kali dipanen.

Terkait pertambangan bauksit, menurut riset yang dilakukan Swandiri Institute, jumlah unit tambang di Ketapang merupakan yang terbesar di Kalbar, mencapai 156 unit dengan luasan 1.331.231,50 ha. Koordinator Swandiri Institute, Hermawansyah menuturkan, Ketapang menjadi penyuplai bauksit terbesar ke China.

Terlepas dari itu semua, Ketapang menyimpan banyak kisah masa lalu, yang peninggalannya menjadi saksi perkembangan Bumi Tanjungpura.

Salah satu yang populer adalah situs Makam Keramat Tujuh yang berlokasi di Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang. Hanya lima menit perjalanan dari Istana Kerajaan Matan dengan kendaraan. Melihat komplek pemakaman ini, penat dan suntuk karena beratnya perjalanan pun bakal terobati.

Makam ini cukup populer di kalangan peziarah, baik lokal maupun mancanegara, terutama ketika Hari Raya Islam. Sayangnya, belum diketahui pasti sosok yang dikebumikan di situ, meski beberapa penelitian pernah dilakukan.

Makam Keramat Tujuh merupakan salah satu makam tua di Ketapang yang terbuat dari batu berukir kaligrafi Arab dan huruf Jawa pada kaki makam. Hal ini merupakan bukti akulturasi budaya Islam dan Hindu di Ketapang.

Tempat ini dinamakan Keramat Tujuh karena ketika pertama kali ditemukan hanya terdapat tujuh makam. Seiring waktu, Makam Keramat Tujuh menjadi kompleks pemakaman kerabat Kesultanan Matan yang mangkat.

Terdapat salah satu nisan di Makam Keramat Tujuh yang bertahun 1363 Saka atau 1441 Masehi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam sudah masuk ke Ketapang sebelum era itu. Ini juga menjadi bukti sejarah penyebaran Islam di Kalbar.

Banyak sekali kepercayaan masyarakat lokal terkait Makam Keramat Tujuh, hingga tak heran jika ada saja peziarah yang datang untuk mencari berkah dan sebagainya.

Selain Makam Keramat Tujuh, ada juga Makam Keramat Sembilan dan Makam Raja-raja Matan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Menziarahi jejak-jejak sejarah ini merupakan upaya mengkoneksikan diri kita yang hidup di era modern ini dengan peradaban masa lalu, setidaknya untuk mengenang dan mengetahui kisah mereka dalam memulai peradaban baru yang Islami di Nusantara. (Hakim/Yudhi)

Related posts:


FeatureSosok Sahaja Arif, Marbot Masjid Al-Mahdy Bekasi


Seni LukisKang Rahmat, Lewat Seni Merekam Aksi


ABI Press_Aminah Ali AssegafPerjalanan Cinta Aminah Menuju Karbala


Semeru-Semangat-Merah-PutihMereguk Spirit Merah Putih Bung Engki