Monthly Archives: March 2015

Kehidupan Sehari-Hari Imam Khomeini ra

imam_khomeini_ra_anniversary_by_islamicwallpersBagaimana dengan Pertemuan-Pertemuan yang Dilakukan Imam Khomeini?

Beliau mengatakan:

“Dahulukan mereka yang punya urusan pokok!”

Dalam pertemuan umum, kami berusaha lebih banyak bertemu dengan keluarga syuhada. Tidak ada seorangpun yang menjalankan kewajibannya untuk Islam, revolusi dan negara seperti yang dilakukan oleh syudaha yang mulia. Kita semua harus menjadi pengabdi wasiat dan pemikiran syuhada, para mantan tawanan dan keluarga mereka. Akhir-akhir ini saya mendapatkan tulisan Imam Khomeini yang menyebutkan:

“Saya menderita sakit pernafasan. Untuk sementara jangan selenggarakan pertemuan bersama saya. Tapi jangan sampai mengabaikan pertemuan dengan keluarga syuhada.”

Setiap kali Imam Khomeini bertemu dengan keluarga syuhada dan para mantan tawanan, beliau benar-benar gembira dan menegaskan kepada para pejabat untuk memperhatikan kondisi mereka.

Selain itu kami berusaha agar pertemuan ini mencakup banyak kalangan lainnya. Seperti Sepah Gorgan atau Jihad Delijan atau misalnya Golpaigan. Terkadang ketika kami menanyakan kepada Imam Khomeini kelompok mana yang bisa datang menemui beliau, Imam Khomeini menjawab:

“Apa hubungannya antara pos dan telegraf Golpaigan dengan Sepah Delijan?”

Kami mengatakan, “Lalu bagaimana dengan telpon-telpon yang ada? Anda, alhamdulillah akan menyampaikan masalah-masalah yang berguna bagi semuanya.” Misalnya masalah yang paling pedas yang disampaikan Imam Khomeini terkait Amerika, ketika para tukang roti Qom melakukan pertemuan bersama Imam Khomeini. Beliau berkata:

“Carter harus tahu bahwa dia tidak akan menjadi presiden lagi.”

Di sini saya ingatkan bahwa Imam Khomeini tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Ketika Carter mengirim sebuah pesan untuk beliau, kepada saya beliau berkata:

“Ini harus dipublikasikan. Karena kami tidak menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Yang kedua, kemungkinan besar mereka sendiri yang akan memplubikasikannya dan memikirkan hal-hal tertentu dan masyarakat juga harus berpikir bahwa ada hal-hal tertentu di balik layar. Dan kita juga harus menyampaikan apa yang sedang terjadi kepada masyarakat dan mereka sendiri yang akan mengambil keputusan.”

Dalam semua wawancaranya Imam Khomeini berkata:

“Kita akan melakukan hubungan dengan Amerika selama kita tahu bahwa hubungan ini bermanfaat bagi masyarakat.”

Apakah Imam Khomeini menyukai bidang tertentu dalam olahraga?

Imam Khomeini menyukai olahraga. Tapi beliau tidak mengutamakan bidang tertentu. Boleh dikatakan bahwa beliau lebih menyukai gulat dan olahraga kuno Iran. Tapi jimnastik lebih menarik perhatian beliau daripada olahraga yang lainnya. Di masa kecilnya Imam Khomeini melakukan latihan lompat tinggi. Kedua tangan dan salah satu kakinya pernah patah karena olahraga ini. Di kepala beliau ada lebih dari sepuluh bekas luka dan dan beberapa di bagian dahinya.

Bagaimana dengan kekuatan badan Imam Khomeini?

Bagus.

Apakah kekuatan badan Imam Khomeini karena olahraga ataukah memang secara alami dan anugerah ilahi demikian?

Secara alami demikian

Apakah Imam Khomeini mengenal teknik renang?

Beliau tidak mengenal teknik renang tapi dalam batas tertentu beliau mengenal renang

Apakah di masa mudanya Imam Khomeini pergi ke medan olahraga untuk menonton pertandingan olahraga?

Bila maksud dari medan olahraga adalah stadion, tidak. Beliau tidak pernah pergi ke stadion. Tapi bila maksudnya adalah segala tempat olahraga, Imam khomeini pernah pergi ke sebagian tempat untuk menonton pertandingan gulat. Tentu saja itupun kadang-kadang. Ada juga kenangan manis terkait gulat Haj Agha Kamal Kamali, jagoan Qom dan jagoan Rusia yang datang ke Qom untuk pertandingan dengan Haj Agha Kamal Kamali. Imam Khomeini menceritakan, Jagoan Rusia lebih kuat tapi Haj Agha Kamal membawanya mendekati sebuah batu dan mendorongnya. Jagoan Rusia juga tidak tahu kalau ada batu. Kakinya kena batu dan jatuh ke belakang. Sepontan warga Qom mengumumkannya sebagai pemenang ronde dan membawanya ke makam Sayidah Fathimah Ma’sumah as.

Apakah Imam Khomeini juga menonton acara olahraga yang ditayangkan di tv?

Beliau menonton tapi biasa-biasa saja. Ketika saya mendekati beliau dan kalau salah satu dari dua chanel tersebut menayangkan acara olahraga, sementara Imam Khomeini sedang menonton chanel lainnya, beliau langsung mengalihkan ke chanel yang menayangkan olahraga dan berkata:

“Ini juga karena kamu, duduk dan tontonlah!”

Apakah Anda punya kenangan olahraga lainnya dari Imam Khomeini?

Imam sampai akhir-akhir ini setiap hari olahraga jalan kaki selama satu jam setengah dan melakukan gerakan olahraga secara teratur sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter untuk terapi sakit punggung dan sakit kaki.

Imam Khomeini berkata:

“Bila pada masa itu pertandingan balapan naik kuda hukumnya sunnah dan kaum Muslimin harus berlatih, itu karena untuk membela diri. Sekarang berperang tidak lagi menggunakan kuda, perangnya memakai phantom dan perang ini juga hukumnya sunna. Karena tujuan utama dari pertandingan ini adalah melakukan perlawanan dan membela harga diri, bangsa dan Islam.”

Menurut Anda, yang manakah dari perilaku istimewa dan khas Imam Khomeini di rumah yang bisa dijadikan sebagai teladan?

Salah satunya adalah kejujuran beliau. Apa yang dikatakannya di luar, di rumah sama sekali tidak akan dikatakan lain. Selain itu, ketika di dalam rumah, maka hal-hal yang resmi menjadi tidak resmi. Beliau menyampaikan dengan jujur apa yang beliau pahami kepada anak-anaknya dan ibu saya. Misalnya, berkali-kali saya masuk ruangan dan Imam Khomeini tidak tahu. Saya melihat beliau duduk menekuk lutut kemudian Ali anak saya naik ke atas pundaknya. Sayang ingin sekali menyotingnya atau memotret pemandang itu, tapi saya tahu Imam Khomeini tidak bakal mengizinkannya.

Keakraban dan kejujuran Imam Khomeini dengan anak-anak dan ibu saya benar-benar ajaib. Ibu kami selama 15 tahun ini memainkan peran utama. Misalnya, beliau tidak pernah mengeluh kepada Imam Khomeini tentang bagaimana kehidupan kami. Dalam peristiwa 15 Khordad, seluruh wanita daerah tempat tinggal kami datang ke rumah kami dan sebagian pingsan, ibu kami memberikan minuman sirup kepada mereka.

Malam ketika Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, saya masuk ke dalam kamar. Saya bertanya kepada ibu, “Apa yang terjadi? Ada maling? Waktu itu saya berusia 15 tahun. Ibu menjawab, “Tidak, tidak ada apa-apa. Seperti sebelumnya mereka menangkap ayahmu! Kalau kamu mau melihat beliau, keluarlah lewat pintu itu!”

Kepada para pasukan Imam Khomeini berkata:

“Apa-apaan ini? Mengapa kalian bikin ribut? Tidakkah kalian malu? Salah satu dari kalian bisa datang dan mengetuk pintu dan mengatakan, Khomeini kemarilah! Nah, saya juga akan datang.”

Setelah lama Imam Khomeini menceritakan kepada saya:

“Di dalam mobil ketika pergi dan sampai pada sumur minyak, saya berkata, “Semua kesengsaraan kita ini karena minyak ini. Mengapa kalian bersikap seperti ini? Mulai dari situ sampai Tehran saya berbicara dengan mereka dan salah satu dari mereka yang duduk dekat saya menangis sampai Tehran.” 

Ketika saya sampai di gang, saya melihat Imam Khomeini dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa. Saya mengambil batu dan menghantamkannya. Para pasukan kembali lagi untuk menangkap saya. Saya melarikan dan mengulanginya lagi. Mulai dari pintu madrasah Hakim Nezami sampai perempatan jalan penuh anggota SAVAK. Setelah lama Imam Khomeini menceritakan: 

“Di sana mobil yang saya naiki diganti. Yakni saya dipindahkan dari mobil Volkswagen kecil yang dibawanya karena kecilnya gang ke mobil yang lebih besar. Jalan yang penuh dengan manusia itu tidak terdengar suara satu orangpun. Seperti jalan yang sepi.”

 Ketika saya kembali, saya melewati tangga naik ke atas dan masuk rumah. Saya melihat ibu meletakkan bantal dan menutupi kepalanya dengan selimut dan tidur. Ibu saya benar-benar memainkan peran dengan sangat baik selama ini.   

Ibu saya memaksa untuk pergi ke Turki. Tapi Imam Khomeini tidak mengizinkan. Beliau mengirimkan dua surat dari Turki untuk kami, tapi sayangnya dalam salah satu serangan, orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami dan membawa surat tersebut. Kamipun pada waktu itu tidak terpikir untuk memfoto-kopikannya. Di dalam surat itu tertulis: 

“Anda jangan datang ke Turki dan tetaplah berada di Qom!” 

Dari sejak saat itu Imam Khomeini memiliki hubungan perasaan yang sangat ajaib dengan ibu kami. Kalaupun seandainya tidak ada hukum terkait masalah haji seperti yang disampaikan oleh Rahbar kita yang mulia Ayatullah Khamenei, hanya karena alasan ibu saya mengatakan kepada saya, ‘saya tidak rela’, maka spontan saya meninggalkan segalanya, karena saya punya alasan yaitu ayah saya di hari-hari terakhir kehidupannya memegang tangan ibu saya dan meletakkannya di atas tangan saya seraya mengatakan: 

“Jangan melakukan satu pekerjaan apapun yang tidak diridai beliau. Ibumu tidak memiliki siapa-siapa selain Allah!”

 Satu lagi saya sampaikan sebagai contoh, bila ibu kami belum siap untuk makan, maka Imam Khomeini tidak akan makan. Beliau akan menunggu dan ketika ibu kami sudah datang maka Imam Khomeini baru memulai makan. 

Contoh lainnya lagi, ketika orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami untuk menangkap Imam Khomeini, Imam menyerahkan stempelnya kepada ibu saya, seraya berkata: 

“Ambil stempel ini dan nanti bila saya mengirim pesan, maka serahkan kembali!” 

Ibu saya menyembunyikan stempel tersebut dan kami tidak mengetahuinya. Sampai ketika Imam Khomeini pergi ke Turki dan dari sana ke Najaf dan dari Najaf mengutus seseorang menemui ibu saya, kemudian ibu saya menyerahkan stempel tersebut kepadanya. 

Setiap kali terjadi sebuah peristiwa seperti sakit, Imam Khomeini memanggil anak-anaknya dan mewasiatkan ibu kami. Beliau menjelaskan tentang kesusahan dan kesulitan yang dialami ibu kami dan berkata: 

“Kalian harus bisa mengambil keridaan ibu kalian!” 

Imam benar-benar halus perasaannya. Yakni misalnya ketika di Najaf, terkadang saudara-saudara perempuan saya datang ke sana. Ketika ingin kembali dan berpisah saya tidak pernah tahan untuk berdiri di halaman atau melihat perpisahan mereka. Almarhum saudara saya juga berkata, “Saya tidak bisa melihat detik-detik perpisahan itu.” Namun masalah ini sedikitpun tidak mempengaruhi beliau dalam mengambil keputusan. 

Dalam situasi dibombardir, bagaimana keberadaan Imam Khomeini dalam memberikan ketenangan kepada keluarga? 

Saya katakan bahwa ketika bom jatuh atau ada sesuatu yang terjadi, keluarga kami tidak lantas semuanya gemetaran. Kelihatan dari foto-foto yang ada, kami juga seperti warga lainnya hanya menempelkan isolasi pada kaca-kaca jendela dan tidak melakukan hal lain. Suatu hari ketika Tehran dibombardir, dengan tenang ibu saya masuk ke kamar. Selimut di atas tempat tidur miring. Beliau berkata, “Ahmad, pegang ujung selimut itu, kita luruskan!” Anti udarapun berfungsi dan Imam Khomeini tertawa. Yakni Imam Khomeini bukannya lantas berbicara setiap saat ada bom jatuh untuk menenangkan yang lainnya. Di awal hari-hari perang, seseorang dari tim insinyur staf gabungan datang ke Jamaran dan membangun sebuah tempat anti bom untuk Imam Khomeini. Ketika tempat itu dibangun, Imam Khomeini berkata:

 “Saya tidak akan ke sana.”

 Bangunan itu selesai dalam waktu empat sampai lima bulan. Ruangan yang berbentuk leter L dan luas 5×4 meter. Sampai akhir Imam Khomeini tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan sekali saya berkata kepada Imam, “Ke sinilah, setidaknya Anda melihatnya!” Imam Khomeini berkata: 

“Dari luar sini sudah kelihatan dan saya juga sedang melihatnya dari luar bagaimana bangunannya.”

 Suatu hari setelah zuhur kira-kira ada tujuh sampai delapan bom jatuh di sekitar Jamaran. Saya menemui Imam Khomeini dan berkata, “Kalau sekali saja salah satu dari rudal kita jatuh di atas istana Saddam dan dia mengalami sesuatu, betapa senangnya kita? Kalau sebuah rudal jatuh di sini dan atapnya roboh dan Anda mengalami sesuatu, bagaimana?” Imam Khomeini menjawab:

 “Demi Allah, saya tidak menganggap istimewa dan beda antara saya dengan seorang Sepah yang berada di pertigaan jalan rumah. Demi Allah, bila saya yang mati atau dia yang mati, bagi saya tidak ada bedanya.” 

Saya berkata, “Kami tahu Anda seperti ini, tapi bagi masyarakat beda.” Imam Khomeini berkata: 

“Tidak, Masyarakat harus tahu bahwa bila saya berlindung di sebuah ruangan dan bom membunuh para Pasdaran di sekitar rumah saya dan tidak membunuh saya, maka saya sudah tidak layak lagi sebagai pemimpin masyarakat ini. Saya terhitung mengabdi kepada masyarakat selama kehidupan saya seperti kehidupan mereka. Bila masyarakat atau para Pasdarqn atau orang-orang yang tinggal di daerah ini mengalami sesuatu, biarkan saya juga harus mengalami sesuatu sehingga masyarakat tahu bahwa kita semua bersama-sama berdampingan.” 

Saya berkata, “Lalu sampai kapan Anda mau duduk di sini?” Imam Khomeini mengisyaratkan pada dahinya, seraya berkata: 

“Sampai rudal mengena di sini.” (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan almarhum Hujjatul Islam Sayid Ahmad Khomeini, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

Read More »

Imam Khomeini ra di Mata Putri Tertuanya Seddigheh Mostavafi

imam-khomeiniSaya akan menceritakan tentang keberagamaan beliau. Saya pikir sejak saya usia sembilan tahun saya bisa menilai beliau. Saya ingat sejak kecil saya tidak banyak tidur. Sampai saat ini saya juga tidak banyak tidur. Berkali-kali di pertengahan malam saya terbangun dan senantiasa melihat ayah mengerjakan salat tahajud. Tapi karena saya waktu itu masih kecil saya tidak tahu persis apa kesibukan ayah. Kami tidur di halaman dan saya melihat beliau bangun untuk mengambil wudu dan salat tahajud. Dalam hati saya bertanya, mengapa ayah di malam hari menangis tersedu-sedu? Saya waktu itu masih kecil. Saya bergumam, untuk apa menangis di tengah malam? Saya pikir ayah sedih. Misalnya karena ada masalah sehingga menangis. Di malam-malam bulan purnama saya melihat air mata ayah dan hal ini bagi saya sangat aneh.

Read More »

Ketika Farideh Mostafavi, Putri Kedua Imam Khomeini Bercerita Tentang Ayahnya

putri imamMohon kenalkan diri Anda?

 

Saya adalah Farideh Mostafavi, putri kedua Imam Khomeini.

 

Mohon jelaskan tentang nama famili Imam Khomeini dan Anda!

Karena Imam Khomeini datang ke hauzah berasal dari Khomein, di madrasah Feiziyeh beliau terkenal dengan nama Khomeini. Yakni setiap santri yang ingin mengatakan si fulan, mengatakan ‘seorang yang datang dari Khomein atau Sayid Khomeini. Pelan-pelan beliau terkenal dengan Khomeini. Lalu, orang-orang harus membuat kartu tanda penduduk dan ditetapkan bahwa setiap orang harus memilih nama famili. Pada masa itu Imam Khomeini menyukai nama famili ‘Mostafavi’ sementara alasannya apa kami tidak tahu. Beliau memilih nama Mostafavi. Paman tua kami, kakak Imam Khomeini memilih ‘Pasandideh’ dan paman yang lainnya memilih ‘Hindi’. Itulah mengapa nama famili masing-masing dari mereka berbeda.

Mohon ceritakan terkait bagaimana pernikahan Imam Khomeini!

Ibu, ayahnya adalah seorang ulama, terhormat, salah satu imam salat jamaah di masanya dan penulis tafsir dan buku. Kakeknya ibu juga seorang ulama terkenal di masanya. Pernikahan mereka karena adanya hubungan kekeluargaan. Dengan demikian sekelompok keluarga sebagai ulama dan memiliki hubungan persahabatan dan akhirnya terjadilah ikatan pernikahan. Ibu, waktu itu sedang belajar. Pada masa itu ada sekolah-sekolah khusus. Meskipun ibu tinggal di rumah ayahnya, beliau tetap belajar dan Agha (Imam Khomeini) sedang belajar di Qom. Ayahnya ibu di Qom sebagai santri dan putri-putrinya juga berada di Qom. Agha (Imam Khomeini) dan Agha Saghavi memiliki teman yang sama, bernama Agha Lavasani yang keluarganya sekarang juga masih ada. Ketika Agha Lavasani tahu Imam Khomeini ingin menikah, dia berkata kepada Agha, “Agha Saghavi punya anak perempuan dua-tiga orang dan mereka sangat baik. Bila Anda ingin menikah, ambillah salah satu dari mereka!” Agha berkata:

“Kalau begitu Anda saja yang melamarkan!”

Agha Lavasani datang menemui Agha Saghavi, kakek kami untuk melamar. Agha Saghavi berkata, “Menurut saya tidak masalah. Namun dari sisi ibu mereka berada dalam alam lain. Mereka sendiri harus rela.” Kemudian melakukan istikharah dan setelah Agha Lavasani pulang pergi ke keluarga ini, ibu sekali-dua kali bermimpi. Kemudian mau dan menikah. Sementara usia ibu pada waktu itu 15 tahun dan Agha 28 tahun.

Apa sebab Imam Khomeini terlambat menikah?

Agha mengatakan:

“Saya tidak secepatnya merasa ingin menikah. Pikiran saya hanya belajar dan belum ingin menikah.”

Jelaskan tentang pandangan dan tolak ukur Imam Khomeini dan Khanum (istri Imam Khomeini) dalam memilih pasangan hidup!

Tolak ukur Imam Khomeini adalah menikah dengan seseorang dari sebuah keluarga yang beragama dan sudah dikenal. Beliau mengatakan:

“Saya tidak ingin menikah dengan orang Khomein. Karena saya ingin mendapatkan orang yang sekufu dengan saya. Kalau saya belajar, sayang ingin mendapatkan istri yang sepemikiran dengan saya. Kesimpulannya adalah saya harus menikah dengan orang dari Qom dan dari keluarga ulama dan selevel dengan saya.”

Karena ketika Imam Khomeini berusia 28 tahun beliau sudah berhasil menulis beberapa buku, sementara di Khomeini pada masa itu rata-rata pendidikan keluarga berada di tingkat rendah. Itulah mengapa Agha Lavasani berkata kepada Imam Khomeini, “Agha Saghavi dan keluarganya punya syarat-syarat ini. Selain beragama, dari sisi pemikiran termasuk yang terbuka pikirannya. Akhirnya setelah lamaran dan acara sederhana, Imam Khomeini menyewa sebuah rumah di Qom dan jahiziyeh (parabot rumah) ibu dibawa dan mengadakan resepsi pernikahan.

Dari sisi materi Imam Khomeini memiliki fasilitas apa saja?

Tentunya Imam Khomeini memiliki warisan dari ayahnya. Beliau mendapatkan harta peninggalan dari ayahnya. Imam Khomeini bukanlah seorang santri yang hanya menjalani hidupnya dengan uang bulanan yang didapatkan dari hauzah. Oleh karena itu Imam Khomeini bisa menyewa sebuah rumah. Rumah sewaan meskipun kecil tapi beliau sendiri bersama istrinya dan tidak tinggal barengan dengan para penyewa lainnya. Ibu juga membawa perabot rumah tangga, dan Imam Khomeini tidak memiliki barang selain barang-barang yang diambilnya dari madrasah Feiziyeh setelah sebulan atau dua bulan. Ibu menceritakan, “Ada satu (gelim) karpet, satu kasur, kompor kecil, dua lampu templek, satu ceret, dan gelas dan lepeknya serta panci sangat kecil. Tentunya setelah satu-dua tahun beliau mendapatkan warisan berupa barang-barang dari ayahnya (Karena ketika usia lima bulan ayahnya mencapai syahadah karena dibunuh) yang dijaga oleh Agha Pasandideh. Barang-barang itu dikirim untuk Imam Khomeini dan dibilang bahwa barang-barangnya juga kuno. Ada sejumlah wadah sangat kuno dan beberapa karpet kuno yang sudah jelek. Pokoknya kehidupan seorang santri yang juga terhormat.

Meskipun ayahnya adalah orang yang kaya, tapi resepsi pernikahannya sangat sederhana. Acara resepsi dihadiri oleh para sanak kerabat dan sahabat dekat.

Bagaimana sikap Imam Khomeini terhadap istrinya?

Ibu menikah dengan Imam Khomeini ketika sudah menyelesaikan kelas sembilan, yakni lulusan SMP. Kemudian ibu belajar bahasa Arab pada Imam Khomeini sampai ketika melahirkan anaknya yang kelima, ibu tetap masih belajar kepada Imam. Ketika adik perempuan saya lahir (anak kelima) ibu berhenti dari belajar karena banyak kerjaan dan kesibukan. Tentunya Agha (Imam Khomeini) senantiasa siap untuk mengajari ibu. Demi kemajuan ibu, beliau senantiasa memberikan semangat kepada ibu untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Sikap Imam Khomeini terhadap istrinya benar-benar penuh keakraban dan kasih sayang sekaligus benar-benar penuh penghormatan. Dalam urusan pribadi dan kekeluargaan, pendapat ibu sangat dihormati dan tidak mencampuri urusan dalam rumah sama sekali. Tentu saja ibu sangat menjaga dan tidak melangkah sama sekali di luar keinginan dan keridaan Imam Khomeini. Sejak di awal-awal pernikahan, Imam Khomeini berkata kepada ibu:

“Saya ingin kamu mengerjakan kewajibam-kewajiban dan berusahalah untuk tidak mengerjakan yang haram. Tapi terkait urusan sosial tidak ada masalah dan engkau bebas.”

Imam Khomeini dalam kehidupan sehari-hari tidak mempersulit sama sekali. Terkait masalah keluar rumah dan memakai pakaian ibu memiliki kebebasan dan benar-benar menjaga jangan sampai bermaksiat. Beliau benar-benar menyayangi dan menghormati ibu, sehingga kami anak-anaknya juga terpengaruh oleh sikap-sikap beliau. Kami sejak awal membuka mata, menyaksikan bahwa selama ibu belum berada di tepi hidangan makanan dan belum mengambil makanan, Imam Khomeini sama sekali tidak pernah mendahului untuk duduk di tepi hidangan makanan dan memakan makanan yang ada. Dengan sendirinya kami juga bersabar sampai ibu kami datang dan memulai makan, kemudian kami menyusulnya untuk makan juga.

Saya masih ingat ketika masih kecil bermain bola di dalam kamar dan kami menendang bola dan memecahkan kaca. Ayah marah dan datang untuk menegur kami mengapa kalian melakukan hal ini? Saya menjawab, “Ibu menyuruh kami, bermainlah, tidak masalah.” Begitu saya mengatakan hal ini, beliau tidak berbicara apa-apa lagi. Kemudian beliau pergi keluar kamar. Kalau beliau, mau bisa saja untuk menjatuhkan sanksi kepada kami, tapi tidak melakukannya.

Sama sekali kami tidak pernah melihat beliau berkata kepada ibu, “Kerjakan pekerjaan fulan untukku!” atau bahkan “Tuangkan teh untukku!” Beliau senantiasa memanggil kami atau pembantu rumah. Bila suatu hari tidak ada siapa-siapa beliau mengatakan:

“Khanum! Katakan agar mereka membawakan teh untukku!”

Nah. Bila tidak ada siapa-siapa di rumah, ibu yang melakukannya sendiri tapi Imam Khomeini tidak pernah menyuruhnya. Beliau senantiasa menghormati ibu dan sering sekali menyampaikan rasa kasih sayangnya dan secara terang-terangan menyampaikan rasa kasih sayangnya di depan kami anak-anaknya.

Bila suatu hari ibu memasak, meskipun masakan itu tidak enak, tidak seorangpun boleh memprotesnya dan Imam Khomeini memuji masakan itu.

Bila ibu melakukan pekerjaan di dalam rumah meskipun hanya memindahkan gelas dari tempat yang satu ke tempat lainnya, sementara kami anak-anaknya sedang duduk-duduk, dengan rasa tidak suka Imam Khomeini berkata kepada kami:

“Kalin duduk-duduk saja, sementara ibu sedang bekerja.”

Bila suatu hari Imam Khomeini melihat ibu sedang mengerjakan sesuatu di rumah, maka hari itu adalah hari duka Imam Khomeini dan mengatakan:

“Ibu kalian lebih baik dari kalian. Tidak seorangpun bisa seperti ibu kalian.”

Bila suatu saat kami dua atau tiga orang menemui Imam Khomeini dan berbicara, Imam mengatakan:

“Mengapa kalian duduk-duduk di sini, sementara ibu kalian sendirian di halaman, pergilah ke sisi ibu kalian dan ajaklah bicara.”

Suatu hari Imam Khomeini sakit dan ibu juga sakit, kami biasanya dua atau tiga orang berada di rumah, bila salah satu dari kami duduk didekat Imam, beliau langsung mengatakan:

“Saya tidak memerlukan seseorang, tunggui ibu kalian.”

Dan beliau meminta kami keluar dari kamar.

Imam menetapkan bahwa setiap tahun ibu hendaknya pergi ke Tehran dan tinggal di Tehran selama tiga bulan musim panas. Beliau sendiri pergi ke Khomein. Program ini selalu berjalan bahkan sampai kami besar tetap berlanjut. Imam tidak suka bila ibu pergi di musim dingin. Bila ibu sedang bepergian, Imam merasa sedih sampai ketika ibu datang. Imam Khomeini akan tertawa ketika ibu masuk rumah. Dan ini adalah salah satu penyampaian rasa kasih sayang Imam Khomeini kepada ibu.

Bagaimana reaksi ibu Anda ketika menghadapi masalah?

Ibu juga sangat menghormati Imam Khomeini. Ibu sangat sabar. Ibu termasuk anak perempuan yang besar di Tehran dan di sebuah keluarga yang memiliki fasilitas yang cukup bagus. Kemudian harus hidup di Qom. Seseorang tidak akan bisa membayangkan bagaimana kondisi Qom sekitar enam- tujuh puluhan tahun yang lalu selama ia belum pernah melihat. Sementara ibu bisa bertahan hidup di sana. Itu karena kasih sayangnya kepada Imam Khomeini dan kasih sayang Imam Khomeini kepadanya. Ibu bertahan menghadapi rasa keterasingan dan hidup di pengasingan. Saya masih ingat dalam mengasuh anak, sebagai ibu rumah tangga dan menyambut tamu serta mengerjakan pekerjaan lainnya beliau tidak pernah mengeluh.

Misalnya pada masa perjuangan, masa-masa sedih dan pengasingan, ibu senantiasa memberikan semangat. Salah satu masalah yang di kemudian hari kami baru tahu adalah ketika kali terakhir Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, di detik-detik terakhir Imam Khomeini menyerahkan stempelnya ke tangan ibu seraya berkata:

“Di sisimu saja amanat ini dan jangan bilang kepada siapa-siapa!”

Ibu tidak mengatakannya kepada siapapun dan stempel itu tetap di sisinya. Kemudian Imam Khomeini dari Turki menuju Najaf. Beberapa bulanpun berlalu. Di masa itu saudara lelaki kami pergi ke Turki dan Najaf. Tapi ibu tidak membicarakan masalah ini kepada siapapun meskipun dengan saudara lelaki kami.

Ibu juga tidak pernah mengatakan kepada Imam Khomeini, “Mengapa engkau melakukan ini. Akhirnya bagaimana? Apa hasilnya? Atau tidak ada faedahnya? Di hari-hari perang juga beliau tidak pernah menyampaikan rasa lemah atau rasa takut dan senantiasa menjadi penguat hati bagi yang lainnya. Hal-hal seperti dalam kehidupan seorang lelaki merupakan syarat yang sangat penting yakni istrinya tidak boleh takut terhadap apapun dan harus menghadapi semua masalah dengan lapang dada. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Farideh Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

Read More »

Rahbar Hadiri Acara Tahlilan untuk Almarhumah Ibunda Presiden Iran

rahbarRahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menghadiri majlis doa dan tahlilan untuk almarhumah ibunda Presiden Republik Islam Iran.

Seperti dilaporkan IRNA, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghadiri acara doa dan tahlilan untuk almarhumah Sakineh Peivandi, ibunda Presiden Hassan Rouhani yang digelar sebelum shalat Zuhur  di Tehran, Rabu (25/3).

Acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat negara, militer, perwakilan partai dan organisasi politik, ekonomi, dan sosial, serta duta-duta besar.

Sakineh Peivandi, ibunda presiden Iran, wafat pada hari Jumat di usia 90 tahun. (IRIB Indonesia/RA)

 

Sumber : Irib Indonesia

MUI Sulsel Gelar Tablig Akbar Melawan Kelompok Takfir

MUI sulselMakassar, Satu Islam — Marak dan gegap gempitanya kampanye penyesatan dan pengkafiran (takfirisme) akhir-akhir ini membuat keprihatinan yang dalam bagi sebagian anak bangsa yang peduli kerukunan dan kedamaian antar sesama umat beragama dan sesama umat seagama. Read More »

Habib Muhammad Rizieq Shihab: “Fatwa MUI hanya untuk Syiah Ghulat”

Habib Riziq Shihab

Habib Riziq Shihab

“Namanya juga media massa, ada orang di pinggir jurang belum jadi berita. Tapi kalau sudah nyebur ke jurang baru jadi berita. Kadang-kadang dia tunggu dulu sampai orang itu masuk jurang. Bahkan bila perlu didorong agar masuk jurang supaya jadi berita.” Read More »

Apa Kata Tokoh Indonesia Tentang Syiah

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia)

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia)

 

KH.Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia): ?Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.?(tempointeraktif)

 

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):

 

 

 

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU): ? Ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat ?(tempo.co)

 

 

 

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

 

 

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah):? Tidak ada beda Sunni dan Syi?ah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim? (republika.co.id)

Buya Syafii Maarif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Buya Syafii Maarif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

 

 

 

Buya Syafii Maarif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah):?      Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,? (okezone.com)

 

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

 

 

Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah):?Sunnah dan Syi?ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam ? (satuislam.wordpress.com)

Marzuki Ali (Ketua DPR RI)

Marzuki Ali (Ketua DPR RI)

 

 

 

Marzuki Ali (Ketua DPR RI): ? Syi?ah itu mahzab yang diterima di negara manapun diseluruh dunia, dan tidak ada satupun negara yang menegaskan bahwa                                                       Islam Syi?ah adalah aliran sesat ?(okezone.com)

Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI)

Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI)

 

 

 

 

Jusuf Kalla ( Wakil Presiden RI): ? Harus ada toleransi terhadap perbedaan karena perbedaan adalah rahmat ? (tempo.co)

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta)

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta)

 

 

 

 

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta): ?Syiah adalah bagian integral dari umat Islam dan tidak ada perbedaan yang prinsipil dan fundamental dalam Syiah dan Sunni, kecuali masalah kepemimpinan politik?

 

Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah Islamiyah di Indonesia,? (republika.co.id)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

 

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): ? Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, Karenanya akidahnya sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama,?

(republika.co.id)

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh )

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh )

 

 

 

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh ): ?Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat kita sama, sholat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama, kenapa harus saling mengkafirkan? (tempo.co)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU)

 

 

 

 

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU): ? Caranya terus menjaga persamaan sesama Umat Islam, bukan mencari perbedaannya,?(republika.co.id)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK)

 

 

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK): ? Kalau saya mengatakan semua keyakinan itu tidak boleh diintervensi oleh negara. Keyakinan itu tak boleh diganggu orang lain, kecuali dia mengganggu keyakinan orang lain,?(Okezone.com)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat)

 

 

 

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat):? Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam,? (rakyamerdekaonline.com)

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

 

 

 

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat): Mengutip pernyataan Imam Syafi?i ? Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad     Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah?(majalah.tempointeraktif.com)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP)

 

 

 

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP):? Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah, ?(Inilah.com)

Di kota Jawa Tengah ini, Sunni dan Syiah hidup rukun

Persahabatan dan toleransi adalah sifat hubungan Sunni-Syiah di wilayah pelabuhan yang membanggakan riwayat penuh toleransinya ini.

Banyak orang berkata Indonesia semakin tidak toleran terhadap kaum minoritasnya, tetapi hal itu tidak terjadi di beberapa tempat. Di desa Banjaran, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Muslim Sunni dan Syiah hidup rukun. Read More »

Mantan Muballigh Wahabi: Keterzaliman Fathimah Az-Zahra, Kenyataan Sejarah yang Tidak Bisa Ditolak

2604536553_aac470296d

“Dalam penelitian saya, saya menemukan kalimat yang menarik dari Imam Fakhruddin al Razi, yang saat membacanya, membuat saya yakin bahwa kebenaran bersama Sayyidah Fatimah as. Kalimatnya adalah, ‘Aku heran, dengan adanya fakta ayat dan sabda Nabi mengenai warisan, dan penegasan dari Nabi sendiri bahwa perlunya seseorang untuk berusaha meninggalkan warisan harta dan tanah namun bagaimana mungkin Rasulullah Saw sendiri tidak mewariskan apapun untuk anak perempuannya?”

Read More »