Monthly Archives: October 2014

Khotbah 1 (Lanjutan)

imam ali4_5378e7d628ef9Allah Memilih Para Nabi-Nya

(Lanjutan Khotbah 1)

Dari antara keturunannya, Allah Yang Mahasuci memilih nabi-nabi dan mengambil janjinya untuk wahyu-Nya dan untuk menyampaikan risalah-Nya sebagai amanat mereka. Dalam perjalanan waktu, banyak orang menyelewengkan amanat Allah dan mengabaikan kedudukan-Nya, dan meng­ambil serikat bersama-Nya. Iblis memalingkan mereka dari mengenal-Nya dan menjauhkan mereka dari menyembah kepada-Nya. Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya, untuk berhujah kepada mereka dengan tablig, untuk membukakan di hadapan mereka kebajikan-kebajikan dan kebijaksa-naan yang tersembunyi, dan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kemahakuasaan-Nya, yakni langit yang ditinggikan di atas mereka, bumi yang ditempatkan di bawah mereka, rezeki yang memelihara mereka, ajal yang mematikan mereka, sakit yang menuakan mereka, dan kejadian susul-menyusul yang menimpa mereka.

Allah Yang Mahasuci tak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argumen yang mengikat atau dalil yang kuat. Para rasul itu tidak merasa kecil karena kecilnya jumlah mereka dan besarnya jumlah yang mendustainya. Di antara mereka ada pendahulu yang akan menyebutkan nama yang akan menyusul atau pengikut yang telah dikenalkan oleh pendahulunya.

Pengutusan Muhammad SAWW

Secara demikian zaman-zaman berlalu dan waktu terus bergulir, ayah pergi sementara putra-putra mereka menggantikannya, sampai Allah mengutus Muhammad SAWW sebagai rasul-Nya, dalam memenuhi janji-Nya dan untuk melengkapi Kenabian-Nya. Janji-Nya telah diambil dari para nabi, tabiat karaktemya termasyhur dan kelahirannya mulia. Manusia bumi pada saat itu terbagi dalam berbagai kelompok, tujuan mereka terpisah dan jalan-jalan mereka beraneka. Mereka menyerupakan Allah dengan ciptaan-Nya atau menggeser nama-nama-Nya atau berpaling kepada yang selain Dia.

Melalui Muhammad SAWW, Allah memandu mereka keluar dari kesalahan, dan dengan usahanya la membawa mereka keluar dari kejahilan. Kemudian Allah memilih Muhammad SAWW dan keturunannya, untuk menemui-Nya, memilihnya untuk kedekatan kepada-Nya sendiri, memandangnya terlalu mulia untuk tinggal di dunia ini, dan memutuskan untuk mengeluarkannya dari tempat percobaan ini. la menariknya kepada Diri-Nya sendiri dengan kemuliaan. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau dan keluarganya.

Al Quran dan Sunah

Tetapi Nabi meninggalkan di antara Anda sesuatu yang sama sebagaimana yang ditinggalkan nabi-nabi lain di antara umat mereka, karena nabi-nabi tidak meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa jalan yang terang dan panji yang tegak, yakni Kitab dari Pencipta Anda yang menjelaskan yang halal dan haram, perintah-perintah dan keutamaan-keutamaannya, yang menasakh dan yang dinasakh, hal-halnya yang halal dan yang wajib, hal-halnya yang khusus dan umum, pelajaran dan amsalnya, yang panjang dan singkatnya, yang jelas dan samamya, mendetailkan singkatan-singkatannya dan menjelaskan yang samamya.

Di dalamnya ada beberapa ayat yang pengetahuan tentangnya diwajibkan,[i] dan yang lain-lainnya yang ketidaktahuan manusia tentangnya dibolehkan. la juga mengandung apa yang nampak sebagai wajib menurut Kitab[ii](2) tetapi nasakhnya disuguhkan oleh sunah Nabi atau apa yang nampak sebagai wajib menurut sunah Nabi tetapi Kitab membolehkan orang tidak mengikutinya. Atau ada yang wajib pada suatu waktu tertentu tetapi tidak sesudahnya. Larangan-larangannya juga berbeda. Ada yang berat, yang mengenainya ada ancaman api (neraka), dan yang lainnya ringan, yang untuk itu terdapat harapan keampunan. Ada pula yang dalam ukuran kecil dapat diterima (bagi Allah) tetapi dapat membesar (bila diteruskan).

Dalam Khotbah yang Sama, tentang Haji

Allah telah mewajibkan Anda berhaji ke Rumah Suci-Nya yang merupakan kiblat bagi manusia yang pergi kepadanya sebagaimana hewan liar atau merpati pergi ke sumber air. Allah Yang Mahasuci menjadikannya pertanda atas ketundukan mereka di hadapan Keagungan-Nya dan pengakuan mereka akan Kemuliaan-Nya. la memilih dari antara ciptaan-Nya orang-orang yang ketika mendengar seruan-Nya menyambutnya dan mem-benarkan sabda-Nya. Mereka berdiri pada posisi para nabi-Nya dan menyerupai para malaikat-Nya yang mengelilingi Mahligai-Nya untuk mendapatkan segala manfaat dari melaksanakan pengabdian kepada-Nya dan bergegas untuk (mendapatkan) keampunan yang telah dijanjikan-Nya. Allah Yang Mahasuci menjadikannya sebagai syiar bagi Islam dan objek penghormatan bagi orang-orang yang berpaling ke situ. la mewajibkan hajinya dan meletakkan klaimnya yang untuk itu la menuntut tanggung jawab Anda untuk melaksanakannya. Dan Allah Yang Mahasuci berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitulldh yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. ” (QS. 3:96) •

——————————————————————————–

[i] “Pangkal agama (din) adalah makrifat tentang Dia.” Makna din ialah ketaatan, dan makna populeraya tatanan. Baik dalam makna harfiah, ataupun populer, apabila pikiran kosong dari konsepsi Ketuhanan, tak akan ada masalah ketaatan, tidak ada pula urusan dengan mengikuti suatu aturan. Karena, bila tidak ada tujuan maka tidak ada alasan untuk menuju ke sana; bila tidak ada tujuan yang diharap, tidak akan ada usaha untuk mencapainya. Bagaimanapun, ketika fitrah dan naluri manusia mendekatkannya kepada Yang Mahatinggi, dan rasa taat serta penyerahan merendahkannya di hadapan Tuhan, ia merasa terikat dengan batasan-batasan tertentu, berlawanan dengan kebebasan semena-mena. Batasan-batasan inilah din, yang titik mulanya ialah pengetahuan tentang Allah serta pengakuan atas Wujud-Nya.

Setelah menunjukkan hakikat makrifat atau pengetahuan tentang Allah, Amirul Mukminin menggambarkan pokok-pokok dan syarat-syaratnya. la menganggap bahwa tahap-tahap pengetahuan yang umumnya dianggap sebagai titik pendekatan tertinggi tidaklah mencukupi. la mengatakan bahwa tahap pertamanya ialah dengan fitrah kerinduan kepada yang gaib dan bimbingan hati nurani, atau dengan mendengar dari para penganut agama, terbentuklah dalam pikiran suatu citra tentang Wujud Gaib yang dikenal sebagai Allah. Gambaran ini sesungguhnya adalah pendahulu dari kewajiban berpikir dan merenung serta mencari pengetahu­an tentang Dia. Tetapi, orang yang senang bermalas-malas, atau dalam tekanan lingkungannya, tidak melakukan pencarian ini, sehingga walaupun ada tercipta citra semacam itu, citra itu tidak sampai beroleh kesaksian. Dalam hal ini mereka tidak mendapatkan pengetahuan, dan karena mereka tidak sampai pada tahap panyaksian dan pembuktian atas pembentukan citra itu maka pelanggaran mereka itu patut dimintai pertanggungan jawab. Tetapi, orang yang digerakkan oleh kekuatan citra ini maju lebih jauh dan memandang perlu berpikir dan merenungkannya.

Dengan jalan ini ia sampai ke tahap berikut dalam mencapai pengetahuan Ilahi, yakni mencari Yang Maha Pencipta melalui aneka ragam penciptaan dan makhluk, karena setiap gambar merupakan pandu yang kuat menuju kepada penggambarnya, dan setiap akibat merupakan hasil tindakan dari penyebabnya. Apabila ia melemparkan pandangan ke sekitarnya, ia tidak mendapatkan suatu apa pun yang menjadi ada tanpa tindakan si pembuat; ia tak dapat memperoleh suatu jejak langkah tanpa pejalan yang meninggalkan jejak, tiada pula bangunan tanpa pem-bangun. Bagaimana ia dapat memahami bahwa langit biru ini, dengan matahari dan bulan di cakrawala, bumi dengan kelimpahan rumputan dan bunga-bungaan dapat menjadi ada tanpa perbuatan Pencipta. Oleh karena itu, setelah mengamati segala yang ada di dunia dan sistem teratur dari seluruh penciptaan, orang tak dapat menyimpulkan lain kecuali bahwa ada Pencipta atas keanekaragaman dan keberadaan dunia; ini tak mungkin terjadi dari tak ada, tak ada keberadaan muncul dari ketiadaan. Al Quranul Karim menunjukkan penalaran ini,

“Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?” (QS. 14:10)

Tetapi, tahap ini pun tak akan cukup, apabila bukti-bukti adanya Allah ini dicemari oleh kepercayaan akan ketuhanan sesuatu yang lain.

Tahap ketiga, keberadaan-Nya diakui bersama kepercayaan akan Keesaan-Nya, Tauhid. Tanpa ini maka kesaksian akan adanya Allah tak mungkin sempuma; karena, apabila ada kepercayaan akan adanya banyak tuhan, maka la tidak akan Esa, padahal la Esa. Nalarnya, bila ada lebih dari satu tuhan maka akan timbul pertanyaan apakah salah satu darinya, atau mereka semua bersama-sama menciptakan semua ciptaan ini. Apabila salah satu darinya yang menciptakannya maka harus ada sebab yang membedakannya dari yang lain; kalau tidak, ia akan mendapatkan kedudukan istimewa tanpa alasan, yang tak dapat diterima akal. Apabila semua telah menciptakannya secara bersama-sama maka posisinya hanya mempunyai dua bentuk: ia tak dapat melakukan tugasnya tanpa pertolongan dari yang lain, atau ia tidak memerlukan bantuan mereka.

Kasus pertama berarti ia tidak mampu dan memerlukan bantuan pihak lain, sedang kemungkinan kedua berarti bahwa ada beberapa pelaku bersama dari suatu tindakan tunggal, dan kepalsuan tentang keduanya telah ditunjukkan. Apabila kita anggap semua tuhan itu melaksanakan penciptaan dengan saling membagi di antara sesamanya maka dalam hal ini tidak semua ciptaan akan mempunyai hubungan dengan pencipta itu, karena setiap makhluk hanya mempunyai hubungan dengan penciptanya sendiri, padahal setiap makhluk harus mempunyai hubungan yang satu dan sama kepada semua pencipta itu. Sebab, semua ciptaan harus mem­punyai hubungan yang satu dan sama kepada semua pencipta itu, karena semua ciptaan, dalam kemampuannya untuk menerima pengaruh, dan semua pencipta, dalam kemampuannya untuk menghasilkan pengaruh, harus sama. Singkatnya, tidak ada jalan kecuali mengakui-Nya sebagai Esa; karena, bila ada banyak pen­cipta maka tidak akan ada apa pun lainnya, kehancuran pasti menimpa bumi, langit dan segala sesuatu dalam penciptaan. Allah SWT telah mengungkapkan argumen ini dalam kata-kata berikut:

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah ke­duanya itu telah rusak-binasa …. (QS. 21:22)

Tahap keempat ialah bahwa Allah harus bebas dari segala cacat dan kekurangan, dan kosong dari jasad, bentuk, gambaran, kesamaan, kedudukan tempat dan waktu, gerak, diam, ketidakmampuan dan ketidaktahuan. Tak mungkin ada kekurangan atau cacat pada Wujud yang sempurna itu, tiada pula yang dapat disamakan dengan Dia, karena sifat cacat itu menurunkan Wujud dari posisi tinggi Pencipta ke posisi rendah ciptaan. Itulah sebabnya maka Keesaan dan Kesucian Allah dari segala kekurangan adalah sama pentingnya.

“Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. dan tidak ada seorang pun yang setara dangan Dia.'” (QS. 112:1-4)

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Mahahalus lagi Mahatahu.” (QS. 6:103)

“Makajanganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 16:74)

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. 42:11) .

Tahap kelima penyempurnaan pengetahuan tentang Dia ialah sifat-sifat itu harus tidak dilekatkan kepada-Nya dari luar, supaya tidak ada kegandaan dalam Keesaan-Nya, dan bila kita menyimpang dari konotasinya yang semestinya tentang Keesaan, kita mungkin jatuh ke dalam jebakan satu dalam tiga dan tiga dalam satu; karena Wujud-Nya bukanlah suatu kombinasi hakikat dan bentuk maka sifat-sifat itu tak dapat melekat pada-Nya seperti bau dalam bunga atau cahaya pada bintang. la adalah sumber segala sifat dan tidak memerlukan perantara untuk perwujudan Sifat-sifat-Nya yang sempuma. la dinamakan Maha Mengetahui karena tanda-tanda pengetahuan-Nya nyata. la dinamakan Mahakuasa karena setiap partikel menunjukkan Kemahakuasaan dan kegiatan-Nya, dan bila pada-Nya disifatkan Kemampuan untuk mendengarkan atau melihat, hal itu disebabkan kepaduan antara seluruh penciptaan dan pengurusannya tidak dapat dilakukan tanpa mendengar atau melihat; tetapi adanya sifat-sifat ini pada-Nya tidak dapat dipandang sama dengan yang ada pada ciptaan, yakni tidaklah la baru dapat mengetahui setelah la beroleh pengetahuan, atau baru berkuasa setelah tenaga masuk ke dalam anggota-Nya, karena mengambil sifat sebagai terpisah dari Wujud-Nya akan mengandung makna ganda, dan di mana ada kegandaan maka keesaan menghilang. Itulah sebabnya Amirul Mukminin menolak ide sifat-sifat sebagai tambahan kepada Wujud-Nya; ia mengajukan Keesaan (Tauhid) dalam maknanya yang sesungguhnya, dan tidak mengizinkan Tauhid dinodai dengan kemajmukan.

Hal ini tidak berarti bahwa sifat-sifat sama sekali tak dapat diatributkan kepada-Nya, karena ini akan memberikan dukungan kepada orang-orang yang meraba-raba di jurang gelap negativisme, sekalipun setiap penjuru dan sudut di seluruh eksistensi melimpah dengan sifat-sifat-Nya dan setiap zarah ciptaan menyaksikan bahwa la mempunyai pengetahuan, la berkuasa, la mendengar, la melihat. la memelihara dan mengizinkan pertumbuhan dengan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa bagi Dia tak ada sesuatu yang dapat disarankan sebagai tambahan kepada-nya, karena diri-Nya meliputi sifat-sifat, dan sifat-sifat-Nya bermakna diri-Nya meliputi sifat-sifat. Marilah kita pelajari tema ini dalam kata-kata Imam Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq (as) dengan membandingkannya dengan keimanan akan Keesaan yang ditempuh oleh paham-paham lain, kemudian menilai siapakah pembela konsep Tauhid yang sesungguhnya.

Imam Ja’far Shadiq mengatakan,

“Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi sejak semula telah mempunyai penge-tahuan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu untuk diketahui, (mem­punyai) penglihatan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu untuk dilihat, (mempunyai) pendengaran sebagai Diri-Nya, sekalipun tiada sesuatu untuk didengar, mempunyai kekuasaan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu di bawah kekuasaan-Nya. Ketika la menciptakan benda-benda dan obyek pengetahuan menjadi nyata, pengetahuan-Nya menjadi berhubungan dengan yang diketahui, pendengaran dengan yang didengar, penglihatan dengan yang dilihat, dan kekuasaan dengan objek-objeknya.” (Syeikh Shaduq, at-Tauhid, hal. 139)

Para imam Ahlulbait sepaham dalam kepercayaan ini, tetapi kalangan mayoritas telah menempuh jalan berbeda dengan menciptakan gagasan pembedaan antara Diri-Nya dan Sifat-sifat-Nya. Asy-Syahristani menulis dalam bukunya Kitab al-Milal wa an-Nihal,

“Menurut Abul Hasan Al-Asy’ari, Allah mengetahui melalui (sifat) tahu, Kuasa melalui kegiatan, berbicara melalui bicara, mendengar melalui pendengaran, dan melihat melalui penglihatan.”

Apabila kita memandang sifat-sifat berbeda dan Diri-Nya secara ini, maka akan ada dua alternatif: sifat-sifat itu sudah ada pada-Nya sejak semula atau sifat-sifat itu terjadi kemudian. Apabila sifat-sifat itu sudah ada pada-Nya sejak semula, kita terpaksa mengakui objek-objek itu kekal sejauh sifat-sifat itu, yang semuanya bersaham dengan-Nya dalam kekekalan, tetapi “Mahasuci Allah dari apa yang merekapersekutuan”. (QS. 9:31) Apabila kita menganggap bahwa sifat-sifat itu baru terjadi kemudian maka, di samping menundukkan-Nya pada perubahan-perubahan itu, akan berarti pula bahwa sebelum mendapatkan sifat-sifat itu la tidak tahu, tidak kuasa, tidak mendengar, dan tidak melihat, dan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mendasar.

[ii] Tentang Al Quran, Amirul Mukminin berkata bahwa ia mengandung uraian tentang perbuatan-perbuatan yang halal dan yang haram, seperti firman Allah:

“… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ….” (QS. 2:275)

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa) ….” (QS. 4:103)

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ter-dapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyatd bagimu.” (QS. 2:168)

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal kepada Tuhannya.dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.'” (QS. 18:110)

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. 2:44)

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. 2:275)

Ia menjelaskan perbuatan-perbuatan yang wajib dan sunah, seperti:

“Apabilah kamu telah menyelesaikan shalat (takut), ingatlah akan Allah di waktu kamu berdiri, duduk atau berbaring, dan bilamana kamu merasa aman (dari musuh) maka dirikanlah shalat (sebagaimana biasa).” (QS. 4:103)

Di sini shalat (mengingat Allah) adalah wajib, sementara bentuk-bentuk lainnya dalam mengingat Allah adalah sunnah. Ia mengandung ayat-ayat yang n?sikh dan mans?kh, seperti masa iddah setelah kematian suami “empat bulan sepuluh hari”, (QS. 2:234) atau yang mans?kh seperti “hingga setahun lamanya tanpa disuruh pindah (dari rumah)”, (QS. 2:240) yang menunjukkan bahwa masa iddah itu harus setahun.

Di tempat-tempat tertentu ia menghalalkan yang haram, seperti, “Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 5:3)

la mengandung perintah-perintah yang khusus dan umum. Khusus ialah perin-tah di mana kata itu menunjukkan keumuman tetapi maknanya terbatas, seperti, “Aku telah melebihkan kamu (Bam Isra’il) atas seisi dunia.” (QS. 2:47) Di sini kata dial- ‘alamin (seisi dunia) terbatas pada masa tertentu itu, walaupun kata itu umum dalam makna harfiahnya.

Perintah-perintah yang umum ialah perintah yang luas dalam pengertiannya, seperti, “‘Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. 4:32)

la mengandung pelajaran dan gambaran, seperti:

“Allah menghukum di dunia ini dan yang akan datang, dan di situ terdapat pelajaran.” (QS. 79:25-26)

“Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. 78:25)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)”. (QS. 79:26)

“Perkataan yang baik dan pemberian maaflebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun”. (QS. 2:263)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (QS. 2:63)

Maka Kamijadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. 2:66)

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS. 3:5)

Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS. 47:21)

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa danjanganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. 4:19)

Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS. 2:139)

Terdapat pelajaran di dalamnya bagi orang yang bertakwa kepada Allah.” (QS. 3:138)

Ayat yang berisi gambaran misalnya, “Misal orang-orang yang menafkahkan harta bendanya di jalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan lima butir yang masing-masing butir mengandung seratus butir,” (QS. 2:261)

la mengandung ayat-ayat yang kh?sh dan ‘?m. ‘?m ialah ayat yang tidak mengandung batasan tentang spesifikasi, seperti, “Ingatlah ketika Musa mengatakan kepada kaumnya, ‘Allah memerintahkan kamu untuk menyembelih seekor sapi betina.'” (QS. 2:67)

Ayat yang kh?sh ialah ayat di mana penujukannya terbatas, seperti, “bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah maupun mengairi tanaman”. (QS. 2:71)

Ada ayat muhkam?t dan mutasy?bih?t di dalamnya. Ayat muhkam?t ialah ayat yang tidak ada kerumitan di dalamnya, seperti, “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu,” (QS. 33:27) sedang ayat mutasy?bih?t ialah yang pengertiannya mengandung komplikasi, seperti, “Yang Rahman yang bersemayam di ‘arsy” (QS. 20:5), yang arti lahiriahnya memberi kesan seakan-akan Allah secara jasmani duduk di singgasana padahal maksudnya ialah untuk menekankan wewenang dan kekuasaan-Nya.

Di dalamnya ada perintah-perintah singkat, seperti, “Dirikanlah shalat,” (QS. 17:78) dan yang mengandung makna yang mendalam, seperti ayat-ayat yang mengatakan, “Dan tiadalah yang mengetahui takwilnya selain Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.” (QS. 3:7)

Kemudian Amirul Mukminin meluaskan tema ini dalam gaya lain dengan mengatakan bahwa ada beberapa hal di dalamnya yang wajib diketahui, seperti, “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah.” (QS. 47:19), dan ada lain-lain yang tidak perlu diketahui, seperti “alif l?m m?m” (QS. 2:1) dan sebagainya.

la juga mengandung perintah-perintah yang telah diulang-ulang oleh sunah Nabi, seperti, “Tentang perempuan-perempuan kamu yang berbuat zina, ambillah empat saksi laki-laki dan, apabila empat saksi itu datang, kurunglah perempuan itu hingga ajal mengakhiri hidupnya.” (QS. 4:15) Hukuman ini berlaku di masa dini Islam, tetapi kemudian diganti dengan rajam dalam hal wanita bersuami.

Di dalamnya ada beberapa perintah yang menasakh perbuatan Nabi, seperti, “Hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram” (QS. 2:149) yang dengan itu perintah untuk berkiblat ke Baitul Maqdis dinasakh.

la juga mengandung perintah-perintah yang hanya wajib pada masa waktu tertentu, yang sesudahnya perintah itu berakhir, seperti, “Apabila seruan untuk shalat dilakukan pada hari Jumat, maka bergegaslah kamu mengingat Allah.” (QS. 62:9) la juga menunjukkan derajat-derajat larangan seperti pembagian dosa dalam yang ringan dan yang berat—yang ringan seperti “katakanlah kepada orang-orang mukmin untuk merendahkan matanya” (QS. 24:30), dan yang berat seperti “barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka imbalannya ialah tinggal di neraka selama-lamanya “. (QS. 4:39) la juga berisi perintah-perintah di mana sedikit pelaksanaannya sudah cukup, tetapi ada kesempatan untuk pelaksanaan lebih jauh, seperti, “Bacalah Al Quran sebanyak yang dapat kamu lakukan dengan mudah. ” (QS. 73:20)

Katakanlah kapada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka mena-han pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetaui apa yang mere­ka perbuat.” (QS. 24:30)

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyui uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka danjiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berji­had dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surgu) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. 4:95)

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagi-mu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang \ang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yung berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperolehnyu di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguh­nya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 73:20)

Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (QS. 26:9)

 

Sumber : Syiah Menjawab

KHOTBAH 1 (1)

Dalam khotbah ini ia menggambarkan penciptaan bumi dan langit serta kelahiran Adam

imam ali4_5378e7d628ef9Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.

Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.

Barangsiapa mengatakan “dalam apa la berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa la berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.

la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.

Tentang Penciptaan Alam

la memulai penciptaan dan memulainya secara paling awal, tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. la memberikan waktunya pada segala sesuatu, mengumpulkan variasi-variasinya, mem­berikan kepadanya sifat-sifatnya, dan menetapkan corak wajahnya dengan mengetahuinya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batasnya dan kesudahannya, dan menilai kecenderungan dan kerumitannya.

Ketika Yang Mahakuasa menciptakan lowongan-lowongan atmosfer, mengembangkan ruang angkasa dan lapisan-lapisan angin, la mengalirkan ke dalamnya air yang ombak-ombaknya membadai dan yang gelombang-gelombangnya saling melompati. la memuatnya pada angin yang kencang dan badai yang mematahkan, memerintahkannya untuk mencurahkannya kembali (sebagai hujan), memberikan kepada angin kendali atas kekuatan hujan, dan memperkenalkannya dengan batasan-batasannya. Angin meniup di bawahnya sementara air mengalir dengan garang atasnya.

Kemudian Yang Mahakuasa menciptakan angin dan membuat gerakannya mandul, mengekalkan posisinya, mengintensifkan gerakannya dan menyebarkannya menjauh dan meluas. Kemudian la memerintahkan angin itu membangkitkan air yang dalam dan mengintensifkan gelombang laut. Maka angin mengocoknya sebagaimana mengocok dadih dan mendorongnya dengan sengit ke angkasa dengan melemparkan posisi depannya di belakang, dan yang berdiam pada yang terus mengalir, sampai permukaannya terangkat dan permukaannya penuh dengan buih. Kemudian Yang Mahakuasa mengangkat buih ke angin yang terbuka dan cakrawala yang luas dan membuat darinya ketujuh langit dan menjadikan yang lebih rendah sebagai gelombang yang berdiam dan yang di atas sebagai atap yang melindungi dan suatu bangunan tinggi tanpa tiang untuk menopang atau paku untuk menyatukannya. Kemudian la menghiasinya dengan bintang-bintang dan cahaya meteor dan menggantungkan padanya matahari dan bulan yang bercahaya di bawah langit yang beredar, langit yang bergerak dan cakrawala yang berputar.

Tentang Penciptaan Malaikat

Kemudian la menciptakan rongga-rongga di antara langit-langit yang tinggi dan mengisinya dengan segala golongan malaikat-Nya. Sebagian dari mereka dalam bersujud dan tidak bangkit berlutut. Yang lain-lainnya dalam posisi berlutut dan tidak berdiri. Sebagian dari mereka dalam keadaan berbaris dan tidak meninggalkan posisinya. Yang lain-lainnya sedang memuji Allah tanpa menjadi lelah. Tidurnya mata atau tergelincirnya akal, atau kelelahan tubuh atau kelupaan tidak menimpa mereka.

Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pembawa risalah-Nya yang terpercaya, yang merupakan lidah-lidah berbicara untuk para nabi-Nya, dan mereka ini yang membawa kesana kemari perintah-perintah dan suruhan-Nya. Di antara mereka ada para pelindung makhluk-makhluk-Nya dan pengawal pintu surga. Di antara mereka ada yang langkah-langkahnya tetap di bumi tetapi lehernya menjulang ke langit, anggota badan mereka keluar dari segala sisi, bahu mereka sesuai dengan tiang-tiang ‘Arsy Ilahi, mata mereka tertunduk di hadapannya, mereka membentangkan sayap-sayapnya dan mereka membuat di antara sesama mereka dan semua yang selainnya tirai kehormatan dan layar kekuasaan. Mereka tidak memikirkan Pencipta mereka melalui khayal, tidak memberikan kepada-Nya sifat-sifat makhluk, tidak membataskan-Nya dalam suatu tempat kediaman dan tidak menunjuk kepada-Nya melalui gambaran.

Gambaran tentang Penciptaan Adam

Allah mengumpulkan lempung tanah yang keras, lembut, manis dan asam, yang dicelupkan-Nya ke dalam air dan mengadoninya dengan uap lembab sampai itu menjadi rekat. Darinya ia membuat patung dengan lekukan-lekukan, persendian, anggota dan bagian-bagian. la memadukannya sampai ia mengering untuk waktu tertentu dan jangka waktu yang diketahui. Kemudian la meniupkan ke dalamnya Ruh-Nya sehingga ia mengambilpola manusia dengan pikiran yang mengaturnya, kecerdasan yang digunakannya, anggota badan yang melayaninya, organ-organ yang merigubah posisinya, kebijaksanaan yang membedakan antara yang benar dan salah, rasa dan bau, warna dan jenis. la adalah suatu campuran antara lempung berbagai warna, bahan-bahan rekat, yang berlawanan, yang aneka ragam dan sifat-sifat yang berbeda seperti panas, dingin, lembut dan keras.

Kemudian Allah menyuruh kepada malaikat untuk memenuhi janji-Nya dengan mereka dan memenuhi janji menaati perintah-Nya kepada mereka dengan pengakuan kepada-Nya melalui sujud kepada-Nya dan tunduk kepada kedudukannya yang mulia. Maka Allah berfirman, “Tunduklah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun tunduk kecuali iblis.” (QS. 2:34; 7:11; 17:61; 18:50; 20:116). Kesombongan mencegah dia dan keburukan mengalahkannya. Maka ia membangga-banggakan penciptaannya sendiri (yang) dari api dan bersikap menghina ciptaan dari lempung. Maka Allah memberikan waktu kepadanya agar ia sepenuhnya patut menerima kemurkaan-Nya, dan melengkapi ujian (pada manusia) dan untuk me­menuhi janji (yang telah diberikan-Nya kepada iblis). Maka la berkata, “Sesungguhnya engkau telah diberi waktu sampai pada hari yang diketahui.” (QS. 15:37-38; 38:81) Setelah itu Allah menempatkan Adam di suatu rumah di mana la membuat kehidupannya senang dan kediamannya aman, dan la memperingatkannya supaya berhati-hati terhadap iblis dan musuhnya. Lalu musuhnya (iblis) merasa iri atas tinggalnya di surga dan hubungan-hubungannya dengan yang bajik. Maka ia pun mengubah keyakinannya menjadi goyah, dan tekadnya menjadi lemah. Dengan demikian ia mengubah kebahagiaan Adam menjadi ketakutan, dan martabatnya men­jadi sesal dan malu. Kemudian Allah memberikan kepada Adam kesempatan untuk bertaubat, mengajarkan kepadanya kata-kata dari Rahmat-Nya, menjanjikan kepadanya untuk kembali ke surga-Nya dan mengirimkannya ke tempat percobaan dan perkembangbiakan keturunan. [Bersambung]

 

Sumber : Syiah Menjawab

Peringatan Asyura di Berbagai Negara

img_0087-544f1e713458cAsyura adalah hari kesepuluh Muharram. Di Jawa, Asyura dikenal dengan sebutan Suro. Hari yang bertepatan dengan peristiwa pembantaian cucu Nabi Husein bin Ali bin Abi Thalib di padang Karbala tahun 61 Hijriah (9-10 Oktober 680 Masehi) ini diperingati di berbagai belahan dunia.

Di sejumlah negara seperti Afghanistan, Iran, Azerbaijan, Irak, Lebanon, Bahrain, dan Pakistan, Asyura adalah hari libur nasional. Di semua negara itu Asyura diperingati dengan berbagai upacara keagamaan di samping juga pawai dan teater rakyat di jalanan kota-kota besar.

 

 

Peringatan 10 Muharram di Bahrain

Teater rakyat yang memperagakan peristiwa Asyura di Manama, Bahrain.

Khusus di Irak, Asyura dipusatkan di Karbala, tempat peristiwa pembantaian itu berlangsung sekaligus menjadi pusara Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keluarga serta sahabatnya yang ikut gugur dalam peristiwa itu. Jutaan orang dari seluruh Irak dan mancanegara berkumpul di sekitar makam untuk berziarah, mendengar pembacaan narasi peristiwa pembantaian yang dikenal dengan maqtal, hikmah Asyura, melakukan berbagai ritus  shalat dan doa serta mengadakan beragam acara budaya.

Di India yang merupakan negara sekuler dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, Asyura juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Masyarakat Turki juga sejak lama mengenang hari ini dengan berbagai upacara dan menyebutnya sebagai hari Asure.

Di Nusantara, Asyura juga sudah lama diperingati. Orang Jawa yang menyebutnya dengan Suro memperingati hari ini dengan berbagai upacara yang bertujuan meminta keselamatan dan membuang kesialan. Masyarakat Pariaman mengenang hari ini dengan upacara agung yang disebut dengan Tabuik.

Tabuik di Pariaman

Upacara Tabuik di Pariaman.

Pembuatan jenang di Yogya.

Pembuatan jenang di Pakualaman Yogyakarta untuk peringatan 10 Muharram.

Seluruh etnik dan komunitas agama di Trinidad dan Tobagoserta Jamaika berpartisipasi memperingati hari Asyuro. Mereka menyebut Asyura dengan “Hosay” atau “Hussay”, yang diambil dari nama “Husain”.

Peringatan 10 Muharram di Turki

Upacara Hosay di Port of Spain.

(MK/Islam Indonesia)

Sumber :Islam Indonesia

Apakah Ahlul Bait hanya milik orang Syiah ?

Tanya:Ustadz kenapa orang syiah itu selalu bilang ikut Ahlul Bait. Apakah Ahlul Bait itu hanya milik orang Syiah. Mohon pencerahan?

 

Jawab:

Ahlul Bait artinya keluarga. Ahlul Bait Nabi berarti keluarga Nabi. Allah menyebut Ahlul Bait Nabi sebagai manusia- manusia suci dan yang telah Allah hilangkan dari mereka segala nista. (Lihat Alquran surah 33:33)

Dalam banyak hadis Nabi memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait ini setelah ketiadaannya, sama seperti merek wajib berpegang teguh kepada Alquran. Hadis Nabi yang sangat populer tentang ini adalah hadis tsaqalain dimana beliau bersabda: “Kutinggalkan kepada kalian dua pusaka yang besar : pertama Kitab Allah dan kedua Itrah Keluargaku. Merek tidak akan pernah berpisah selama- lamanya sampailah mereka menemuiku kelak di telaga ( syurga).”

Memang Syiah secara tegas mendeklarasikan bahwa mereka ikut Ahlul Bait setelah Nabi Muhammad. Beda dengan Sunni yang tidak mengatakan secara tegas siapa yang diikutinya setelah wafatnya Rasulullah saw.

Hal ini karena perselisihan yang sangat serius terjadi antara Ahlul Bait dengan para sahabat setelah Nabi tiada. Seperti perselisihan antara Abubakar, Umar dan Usman dengan Imam Ali bin Abi Thalib. Atau perselisihan internal antara para sahabat sendiri seperti perselisihan antara Abubakar dan Malik bin Nuwairah atau antara Umar dan Khalid bin Walid dsb. Dan puncak perselisihan ini adalah terbunuhnya Usman bin Affan di tangan para sahabat yang mengepung rumahnya.

Ummat bingung. Terjadi perselisihan yang sangat hebat di awal periode Islam ini. Dan itu sudah dikatakan oleh Nabi. Itulah kenapa Nabi memerintahkan ummat ini untuk ikut Ahlul Bait karena Ahlul Bait adalah manusia-manusia suci yang tidak akan mengajak mereka kepada kepentingan pribadi atau kelompok. Tetapi benar-benar membawa mereka kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dalam hal ini Nabi bersabda: “perumpamaan Ahlul Baitku bagaikan bahtera Nabi Nuh. Yang ikut akan selamat dan yang enggan ikut akan tenggelam dan tersesat.”

Jadi Ahlul Bait itu bukan milik orang Syiah. Tetapi titipan Nabi untuk seluruh kaum Muslimin. Orang Syiah hanya berkomitmen untuk ikut mereka saja.

Wallahualam

Pertanyaan Satier Anak Palestina Kepada Gembong Takfiri Al-ARifi

10526094_737749346271587_4791019672983660222_nSatu Islam – “Nama-ku Muhammad dari Gaza dan usia-ku 11 tahun. Saya berharap dapat mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu, Syaikh:

Apakah tanah dan batu-batu yang masuk kedalam mulutku akibat dari roket-roket yang yang jatuh itu, membatal-kan puasa-ku?

Begitulah bunyi pertanyaan yang ditujukan oleh seorang anak palestina kepada gembong terorist takfiri yang selama ini memprovokasi anak-anak muda untuk berjihad di suriah. Sebagaimana diketahui al arafi terlibat secara langsung dalam proses perekrutan dan penyebaran propaganda-propaganda kalangan oposisi suriah yang berniat melengserkan pemerintahan Bashar al-assad.

Baru-baru ini santer terdengar kabar perpecahan dikalangan pemberontak yang berakhir dengan kontak senjata atau bahkan saling sembelih. Da’i dan Ulama terkemuka Arab Saudi ini sempat menggugat surat kabar Inggris ‘Daily Mail’ atas pemberitaan yang merugikannya.

Ulama wahabi itu keberatan dengan pemberitaan Daily Mail yang menyebutkan bahwa Syaikh Al-Arifi memainkan peran dalam perekrutan Muslim Inggris untuk bertempur di Suriah. Ulama yang beberapa waktu lalu sempat ditahan pemerintah Saudi itu mengatakan dalam siaran pers yang dikeluarkan kantornya pada Selasa 24 Juni 2014 bahwa pihaknya telah menunjuk seorang pengacara Inggris untuk melayangkan gugatan tersebut.

Saat ini, gugatan itu tersebut telah sampai dan diterima pengadilan di Inggris. Dalam siaran pers itu, Syaikh Al-Arafi membantah semua tuduhan yang dilontarkan koran tersebut. Ia menegaskan bahwa kajiannya di Inggris diikuti oleh ribuan orang dari berbagai latar belakang budaya dan pemikiran. Al-Arafi mengaku tidak memiliki tanggung jawab atas pemikiran dan orientasi para peserta.

Al-Arafi,  tidak akan menyampaikan kajian kecuali para hadirin setuju dengan tema tersebut. Al-Arafi juga menunjukkan bahwa berita yang diturunkan Daily Mail tersebut mengacu pada ceramahnya beberapa tahun yang lalu, sebelum meletusnya konflik di Suriah. Ketika itu, ia menyampaikan kajian dengan temah ‘Ahklak Muslim dan Bagaimana Berdampingan dengan Barat’.

Dalam kajian itu, kata Syaikh Al-Arifi, lebih fokus membahas tentang pentingnya akhlak baik dan dakwah dengan bijaksana. Surat kabar Daily Mail menurunkan sebuah laporkan tentang tiga pemuda Inggris yang berangkat ke medan tempur Suriah. Belakangan diketahui, ketiga pemuda itu aktif di sebuah masjid yang pernah dikunjungi Syaikh Al-Arafi. Laporan itu menuduh bahwa kajian Syaikh Al-Arifi mendorong orang untuk berjihad ke Suriah.

Namun fakta-fakta yang terkumpul mengenai keterlibatan gembong takfiri ini baik berupa video ceramah dan pernyataan-pernyataan terbuka al arafi sepanjang masa konflik bersenjata antara pemerintah suriah dan pemberontak tidak dapat menutupi kebohongan yang di lontarkan melalui tuntutan hukum tersebut. Pertanyaan anak palestina kepada Al Arafi ini jika diselami bukanlah pertanyaan yang berangkat dari sikap keluguan, melainkan pertanyaan Satier yang ingin mengungkap hipokrasi pola keberagamaan yang di anut oleh al arafi. LONG LIVE PALESTINE!!

 

Sumber :Satu Islam

Malam 1 Suro, Mistis atau Mitos?

malam-1-suro-ribuan-pusaka-kediri-dan-nusantara-dijamasSatu Islam – Malam 1 Suro yang juga bertepatan dengan 1 Muharam di Indonesia memiliki makna yang sedikit unik. Bagi golongan tertentu terutama masyarakat Jawa yang masih meyakini, malam 1 Suro sangat identik dengan nuansa mistis. Benarkah atau hanya mitos?

Di malam 1 Suro ini mereka yang memiliki senjata pusaka atau gaman akan mencucinya. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan Penjamasan.

Untuk menjamas senjata pusaka seperti keris, tombak dan lainnya juga tidak sembarangan. Ada ritual khusus yang harus dilakukan seperti puasa, pati geni, sesaji, bakar menyan, tumpengan dan segala tetek bengeknya.

Mereka meyakini dengan menjamas di malam 1 Suro bakal membuat pusaka mereka semakin sakti. Tak pelak, bagi masyarakat Jawa yang mempercayai ritual ini, malam 1 Suro menjadi sangat teramat penting. Dimensi gaib dan mistis di malam ini sangat kuat.

Bagi mereka yang tidak memiliki pusaka juga tetap melakukan ritual khusus di malam 1 Suro. Di Keraton Surakarta, warga sekitar sering melakukan ritual Mubeng Benteng (Mengitari Benteng Surakarta), ada pula yang melakukan ritual kungkum atau berendam di kali dan masih banyak lagi.

Keraton Surakarta dan Yogyakarta hingga kini masih melanggengkan ritual penjamasan keris pusaka tiap malam 1 Suro. Bahkan usai dimandikan, air yang digunakan untuk penjamasan menjadi rebutan warga. Mereka meyakini air yang digunakan untuk memandikan keris pusaka itu mengandung tuah dan berkah.

Sebagian orang Jawa juga menyakini bahwa Bulan Suro sebagai bulan penuh kesialan, itulah yang menyebabkan pada bulan tersebut ‘dilarang’ melakukan pesta khususnya pernikahan. Bagi mereka yang percaya itungan-itungan Primbon, tentu tidak akan menggelar pesta pernikahan di Bulan Suro.

Dalam persepsi Islam, bulan sial seperti Suro tentu tidak ada. Semua hari adalah baik dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada manusia. Munculnya kepercayaan tentang bulan Suro sebagai bulan sial, hal ini tidak lepas dari latar belakang sejarah zaman kerajaan tempo dulu. Pada zaman dahulu di Bulan Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka keraton.

Ritual menjamas pusaka keraton pada zaman dahulu menjadi sebuah tradisi yang menyenangkan bagi masyarakat yang memang masih haus akan hiburan. Sehingga dengan kekuatan karisma keraton dibuatlah stigma tentang ‘angker’ bulan Suro.

Jika di bulan Suro rakyat mengadakan hajatan khususnya pesta pernikahan, bisa mengakibatkan sepinya ritual yang diadakan keraton alias keraton kalah pamor. Dampaknya akan mengurangi legitimasi dan kewibawaan keraton, yang pada saat itu merupakan sumber segala hukum. Tradisi memandikan keris dan pusaka ini juga menjadi ajang untuk memupuk kesetiaan rakyat kepada Keraton.

Mitos tentang keangkeran bulan Suro ini demikian kuat dihembuskan, agar rakyat percaya dan tidak mengadakan kegiatan yang bisa menganggu acara keraton. Dan hingga kini kepercayaan tersebut masih demikian kuat dipegang oleh sebagian orang. Sehingga ada sekelompok orang yang pada bulan Suro tidak berani mengadakan acara tertentu karena dianggap bisa membawa sial.

Namun bagaimana pun juga kepercayaan akan malam 1 Suro dan Bulan Suro masih mengakar kuat. Segala ritual yang dilakukan di malam 1 Suro seolah menjadi tradisi unik yang dimiliki dan dipercayai masyarakat Jawa yang kaya budaya adiluhung.

Tentu tidak ada salahnya juga tetap menjaga tradisi di masyarakat. Lalu benarkah Malam 1 Suro itu benar-benar keramat? Atau hanya mitos belaka? Setiap orang tentu memiliki cara dan sudut pandang sendiri untuk menilai dan mengukurnya. Selamat Tahun Hijriyah.(merdeka)

 

Sumber :Satu Islam

Benarkah Wali Songo Penganut Syiah?

 

 

Oleh : Nashih Nashrullah
Wali-Songo-KAISatu Islam –
“Wahai Ahlul Bait Rasulullah SAW, kecintaan kepada kalian kewajiban dari Allah SWT yang turun dalam Alquran, cukup lah bukti betapa tinggi nilai kalian, tiada sempurna shalat tanpa shalawat untuk kalian.” (Imam Syafi’i)

Sejarah memang mencatat pelbagai diskusi tentang asal muasal kedatangan Islam, siapa saja penyebarnya, dan kapan  agama ini masuk ke bumi Nusantara. Tetapi, diakui masih minim referensi klasik yang mengulas secara khusus, kiprah para keturunan Rasulullah Saw. dalam islamisasi Nusantara.

Kondisi itu menjadi faktor pemicu, mengapa muncul polemik tentang apa mazhab teologi dan fikih yang dianut oleh para penyebar Islam di Tanah Air yang notabene merupakan keturunan Rasul itu. Sebagian, akhirnya mengklaim bahwa Ahmad bin al-Muhajir yang menjadi muara nasab para pendakwah Islam di Indonesia, termasuk Wali Songo, pendukung Imamah yang menjadi doktrin Syiah.

Idrus Alwi al-Masyhur dalam Sejarah, Silsisah dan Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW, menegaskan bahwa Imam al-Muhajir yang bernama lengkap Ahmad bin Isa bin Muhammad (an-Naqib) bin Ali al-Uraidhi bin Imam Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah RA putri Rasulullah itu, al-Muhajir bukan penganut Imamiyah dalam makna sebagaimana dipahami oleh Syiah.

Ia menukilkan sejumlah pendapat ulama. Di antaranya, kitab Nasim Hajir, karangan Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah as-Saqqaf. Menurutnya, makna dari imamiyah yang disematkan kepada Imam al-Muhajir tersebut, adalah berdasarkan maqam kepemimpinan spiritual (qutbaniyah) yang diwariskan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Mereka membuang perilaku mencaci sahabat, taqiyah, dan lainnya.

Penegasan itu ia sampaikan dalam kitab “Samum Naji. Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad juga menafikan Imamiyah  yang disematkan ke Imam al-Muhajir melalui kitabnya yang berjudul Jana Samarikh min Jawab Asilah fi at-Tarikh. Ia menegaskan, bahwa keimamiyahan yang ada pada diri al-Muhajir, adalah versi yang benar, sebagaimana mazhab ayah dan kakek-kakeknya.

Bahkan, para ulama menegaskan Imam al-Muhajir bermazhab Sunni dalam teologi dan menganut mazhab Syafi’i, di biding fikih. Ini seperti ditegaskan oleh Sayid Muhammad bin Ahmad al-Syatri, dalam kitabnya yang bertajuk al-Adwar.” Tetapi, Imam al-Muhajir, tetap bersikap kritis dan tidak taklid buta terhadap Mazhab Syafii.

Menurut Dhiya’ Syahab dalam bukunya yang berjudul al-Muhajir, mengutip perkataan Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dalam majalah al-Rabithah, Imam al-Muhajir mengikuti mazhab para pendahulunya, mereka hanya tinggal sebentar hingga mazhab-mazhab fikih itu tersebar dan muncul kecenderungan untuk bermazhab. Dan akhirnya mereka memilih untuk mengikuti mazhab Syafii, tanpa bertaklid. Hal itu berlangsung setelah abad ke-5 Hijriah.

Mazhab Syafii, ungkap Alwi bin Thahir, telah tersebar di Yaman pada abad ke-3 Hijriyah, tetapi masih belum masif penyebarannya. Di Yaman ketika itu, terdapat Mazhab Hanafi, sebagian besar Mazhab Zaidiyah dan Mazhab Usmaniyah di Hadramaut, dan Mazhab Ismailiyah.

Tetapi, ungkap Sayid Abu Bakar al-Adeni bin Ali al-Masyhur dalam kitabnya al-Abniyat al-Fikriyah, sebagai seorang mujtahid, al-Muhajir berhasil menyebarkan pandangannya kepada penduduk Yaman. Heterogenitas mazhab di Yaman membuat itu tidak mudah dilakukan, namun ia mampu melakukannya dengan jalan damai.

Abdullah bin Nuh dalam kitab yang bertajuk al-Imam al-Muhajir wa Ma Lahu wa Linaslihi wa lil aimmati min Aslafihi min al-Fadhail wa al-Maatsir mengatakan, salah satu alasan mengapa mazhab as-Syafi’i menjadi pilihannya, karena kecintaan tokoh kelahiran Gaza tersebut kepada Ahlul Bait.

Keputusan untuk tetap berada pada Mazhab Syafii dengan disertai sikap kritis sebagai mujtahid, bertahan hingga keturunan berikutnya. Inilah mengapa Indonesia mayoritas penduduknya bermazhab Syafii. Berbagai klaim miring dan klaim miring yang disematkan kepada Imam al-Muhajir, mengingatkan hal yang sama, saat Imam as-Syafi’i dituduh penganut Rafidhah.

Syafii mengatakan, “Jika kita istimewakan Ali maka kita akan dituding Rafidhah bagi mereka yang tidak tahu. Dan jika Abu Bakar yang kita sanjung, maka Aku akan dituduh Nashib (penentang Rafidhah). Maka, Aku akan tetap punya dua sisi itu ‘Rafidhah dan Nashib’ dengan mencintai keduanya (cinta Ali dan Abu Bakar) hingga Aku terkubur tanah.”

Syafii cinta kepada Ahlul Bait, tetapi ia tak pernah membenci, menghujat, dan menistakan para sahabat Rasulullah SAW yang dicintai. Sebab cinta kepada Ahlul Bait begitu agung, seagung risalah shalat yang tak lengkap tanpa untaian doa dan shalawat, bagimu wahai Baginda Rasul, dan keluargamu yang tercinta.

Nashih Nashrullah, adalah alumnus Universitas Al Azhar, Kairo

 

Sumber :Satu Islam

Husain Sayyidus Syuhada’

zakhmi_zuljana-normalSyahid artinya orang yang gugur mulia di jalan Allah karena membela agama-Nya.

Al-Quran menyebut para syuhada’ sebagai manusia-manusia yang telah diberikan nikmat oleh Allah, selain daripada para Nabi, orang-orang yang jujur dan orang-orang yang soleh. “an’amallahu ‘alaihim minan nabiyyin was shiddiqin was syuhada’ was sholihin’.

Banyak sahabat yang gugur di jalan Allah menjadi syuhada’ (jamak dari syahid). Mereka gugur di medan-medan jihad dan menjadi manusia- manusia mulia di sisi Allah dan di dalam catatan sejarah ummat manusia. Nabi saw sangat mengagungkan mereka, bersedih untuk mereka bahkan Nabi menangis karena kepergian mereka.

Ketika sayyidina Hamzah syahid di medan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan Nabi saw menangis bahkan menyuruh para sahabat untuk datang bertakziah ke Rumah Sayyidina Hamzah dan berduka di sana.

Ketika Nabi mendengar Abdullah bin Rawahah, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur syahid di Mu’tah, di kota Madinah Nabi duduk berduka dan lama berdiam diri bersama para sahabatnya.

Nabi berkata bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang terputus kedua tangannya itu kelak akan diganti oleh Allah dengan dua sayap di syurga. Dan Nabi menghargainya dengan menyebutnya sebagai  Ja’far at-Thayyar, artinya Ja’far yang akan terbang di syurga dengan dua sayap.

Nabi juga menyebut Sayyidina Hamzah yang gugur di peperangan Uhud dalam keadaan yang sangat mengenaskan dimana jantungnya dicopot dan dikunyah-kunyah oleh  Hindun ( ibunya Muawiyah dan neneknya Yazid) sebagai Sayyidus Syuhada’ Penghulu para syuhada’.

Lima puluh tahun setelah wafatnya Rasulullah saw cucu Nabi tercinta yang bernama Husain bin Ali gugur di medan Karbala bersama beberapa cucu-cucu Nabi yang lain seperti Ali Akbar, Ali Asghar, Qasim bin Hasan dan lain-lain dalam keadaan yang lebih mengenaskan: kepala dipenggal, tangan diputus, kaki ditebas, bahkan puluhan kepala para syuhada’ itu ditancapkan di atas tombak dan diiring keliling kota Kufah dan Syam bersama wanita- wanita suci keluarga Nabi yang ditawan bagaikan budak-budak tawanan.

Bayangkan sekiranya Nabi yang mulia menyaksikan tragedi Karbala ini apa yang akan beliau katakan?

Bagaimana cucuran air mata Nabi akan tumpah?

Assalamu alal Husain

Wa ala Ali ibnul Husain

Wa ala awladil Husain

Wa ala ashabil Husain

Hasan Farhan al-Maliki

hasan-frhnHasan Farhan al-Maliki adalah seorang ilmuwan Saudi yang sangat berpengaruh sekarang ini. Beliau dikenal sebagai peneliti ilmu-ilmu tradisional yang kritis, yang menuai banyak kecaman terutama dari ulama-ulama wahabi dan salafi yang ekstrem.

Upayanya untuk melakukan definisi ulang tentang makna sahabat melahirkan kontroversi yang cukup besar di semenanjung Arab. Beliau berteori bahwa para sahabat harus kita bedakan antara mereka yang masuk Islam sebelum Fathu Mekah dengan sahabat yang masuk Islam setelah Fathu Mekah. Para sahabat yang dipuji oleh Allah dalam al-Quran adalah mereka yang masuk dalam kategori sahabat pra-fathu Mekah. Sementara orang-orang seperti Abu Sufyan, Muawiyah dan Bani Umayyah dan Bani Marwan lainnya termasuk dalam kategori sahabat pasca Fathu Mekah.

Studi kritisnya tentang Muawiyah telah membuat merah telinga para ulama salafi dan wahabi Saudi. Apalagi buku-bukunya dalam tema ini sering kali keluar dengan judul yang cukup bombastis. Misalnya “Hadis Muawiyah adalah Firaun Ummat ini”; atau buku “Hadis Apabila Kalian Melihat Muawiyah di Mimbarku maka Bunuhlah Ia”; atau buku “Apakah Muawiyah Mati dalam Keadaan Islam” dan lain sebagainya.

Syaikh Hasan Farhan al-Maliki juga dikenal sebagai pegiat pluralism, tolerans dan prinsip-prinsip moderat lainnya. Ia menentang extremism, terrorism, dan menyeru kepada Islam yang moderat, dan penuh toleran. Pandangan-pandangan beliau sangat banyak diapresiasi oleh berbagai kalangan di Saudi terutama dari kalangan yang non-salafi. Namun melahirkan keterancaman yang sangat serius di kalangan para ulama salafi, sehingga mereka meminta pemerintah untuk menangkapnya.

Pada hari Jumat 17 oktober 2014 yang lalu beliau ditangkap oleh kerajaan Saudi Arabia dengan tuduhan bahwa Syaikh Hasan memprotes pemerintah yang telah menjatuhkan hukuman mati terhadap Syaikh Nimr an-Nimr, ulama syiah yang ditangkap 2 tahun yang lalu.

Sebelumnya beliau juga menanggapi pidato putra mahkota Saudi yang berpidato ingin mencabut terorisme dan extremism di Saudi dengan mengajukan beberapa usulan. Antara lain beliau berkata:

“Kalau pemerintah Saudi serius ingin mencabut extremism dari Saudi maka yang ia harus lakukan bukan hanya membersihkan dampak-dampaknya saja namun harus pergi ke akar-akarnya. Dan akar-akarnya itu ada di Dewan Majlis Fatwa Saudi, Kementerian Penerangan Saudi, Ulama-ulama Salafi yang sektarian, dan system pembelajaran dan pendidikan di Saudi yang sectarian dan jauh dari logika dialog dan metode ilmiah yang objektif. Bersihkan itu semua dari para extremis salafi, niscaya Saudi akan bersih dari para teorisme”. Begitu kata Hasan Farhan.

Berita tertangkapnya Syaikh Hasan membuat para ulama salafi bergembira ria bahkan ada yang meminta kepada pemerintah Saudi untuk menghukumnya seberat-beratnya.

Lebih jauh tentang Syaikh Hasan Farhan al-Maliki bisa merujuk ke alamat berikut:

http://almaliky.org/news.php?action=view&id=9

Apa Pandangan Anda Tentang Syiah

Tanya: Asww. Saya mau tanya, ada sebagian orang menyebut syiah dengan sangat sinis sehingga mereka berkata bahwa syiah itu adalah agama tersendiri. Mana yang benar agama syiah atau mazhab syiah?

 

Jawab:

Adalah fakta yang tak dapat diinkari bahwa orang-orang Islam ini terbagi kepada berbagai mazhab dan aliran. Baik itu dalam akidah, fikih maupun tasawuf.

Dalam hal akidah ada mazhab Asya’ari, Muktazlah, Maturidiah dan Syiah. Dalam hal fikih ada Hanafi, Maliki, Syafei, Syiah dll. Dalam hal tasawuf ada Naqsyabandi, Qadiriah dll,

Peebedaan mazhab artinya perbedaan pandangan dalam mengartikan nas al-Quran dan Hadis. Dan itu sah-sah saja selagi penafsiran itu berdiri di atas prinsip yang ilmiah, objektif dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Problem biasanya muncul ketika ada pihak yang mengatakan bahwa penafsiran saya benar dan penafsiran orang lain salah; mazhab saya benar dan mazhab orang lain salah.

Dan itu pasti lambat laun akan melahirkan perpecahan bahkan peperangan sesama ummat Islam itu sendiri.

Yang mengatakan syiah sebagai agama dengan kata Agama Syiah datangnya dari kelompok ini. Kelompok takfiri. Mereka tidak mau tunduk pada fakta historis dan objektifitas ilmiah. Mereka menjadi kelompok yang arogan dan intoleran.

Adapun yang mengatakan syiah dengan kata Mazhab Syiah adalah mereka yang berpandangan ilmiah, objektif dan bermotifasi baik.

Apalagi kalau  kita lihat rukun-rukun prinsip dalam ajaran syiah adalah sama dengan prinsip ajaran ahlu sunnah wal jamaah. Allah mereka satu, Nabi mereka satu, kitab al-Quran mereka satu dan syareat mereka satu.