IMG_3544

Umat Muslim Bisa Saling Bergandengan Tangan

IMG_3544Berkumpulnya beberapa tokoh dan pemimpin organisasi masyarakat Islam di kediaman Ustadz Arifin Ilham, selepas insiden penurunan spanduk anti-syiah yang berujung pada pemukulan terhadap pemimpin penegak Syariah kompleks Perumahan Az-Zikra beberapa waktu lalu, membuat kesimpulan yang mengarah kepada kelompok Syiah sebagai pelakunya.

Apakah benar seperti itu? Redaksi The Geo Times berkesempatan mewawancarai Ketua Umum DPP Organisasi Masyarakat bernama Alhlulbait Indonesia (ABI) atau Syiah Indonesia, KH. Hassan Daliel Alyadrus, di kawasan perkantoran daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Berikut petikan wawancaranya

Apakah Anda tahu jika malam itu ada rencana untuk melakukan pencopotan spanduk di kawasan Az Zikra?

Saya tidak tahu sama sekali. Saya sempat dihubungi oleh seseorang soal rencana pencopotan spanduk soal Syiah, tapi saya bilang tidak usahlah ada kegiatan seperti itu. Tapi setelah ditelusuri ternyata kegiatan mencopot spanduk yang bernuansa SARA itu sudah sering dilakukan, bahkan bekerjasama dengan pihak kepolisian.

Bekerja sama dengan kepolisian? Seperti apa?

Bekerja samanya seperti mengikuti prosedur, melapor lebih dahulu ke pihak kepolisian di lokasi mana saja ada spanduk-spanduk SARA yang meresahkan, lalu polisi yang menurunkan spanduk tersebut. Kegiatan penurunan ini sudah berkali-kali dilakukan dan polisi tahu itu.  Sayangnya, yang disesalkan pada malam itu adanya pemukulan terhadap salah seorang warga Az Zikra.

Apakah benar jika orang Syiah yang melakukan penyerangan di Az Zikra pada malam itu?

Mungkin di antara mereka ada yang Syiah. Tapi yang bisa saya katakan, setelah mengetahui duduk perkaranya, mereka semua adalah orang-orang yang sederhana sekali, anak-anak bangsa yang tidak suka melihat adanya kekerasan atau tindakan provokasi terhadap kelompok atau kaum lain. Kalau dibilang penyerangan, tidak ada yang rusak, dan pemukulan yang terjadi itu di luar kebiasaan kelompok ini. Ini yang harus diselidiki, kenapa bisa ada pemukulan.

Pernyataan Ustadz Arifin Ilham, bahwa kasus ini harus diselesaikan secara hukum dan dengan kasih sayang, bagaimana menurut Anda?

Saya sangat menghormati pernyataan Ustadz Arifin Ilham, ini sangat baik. Memang kejadian ini harus diselesaikan secara hukum. Tapi harus dipisahkan lagi, karena tidak semua melakukan pemukulan, hanya 4 hingga 5 orang saja, mereka harus diserahkan ke proses hukum. Sedangkan yang lain itu hanyalah orang-orang sederhana saja, sehingga dengan kasih sayang Ustadz Arifin yang ahli Dzikir, semoga mereka bisa difasilitasi untuk meminta maaf.

Sebagian besar pemimpin organisasi masyarakat Islam, bahkan yang hadir saat pertemuan di kediaman Ustadz Arifin Ilham selepas penyerangan di Az Zikra, menganggap bahwa Syiah adalah kafir, tidak layak untuk berada di Indonesia, bagaimana menurut Anda?

Saya ralat ya, tidak semua pemimpin ormas Islam memusuhi Syiah, bisa saya sebutkan kami sangat dekat sekali dengan PBNU, bahkan almarhum Gus Dur membantu kami dalam peringatan Asyura. Selain itu kami juga dekat Pak Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah, yang sekaligus ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahkan masih banyak lagi. Kami selalu hidup secara harmonis dan saling menghormati. Yang memusuhi Syiah adalah orang-orang yang tidak suka melihat kita hidup harmonis.

Indonesia adalah Negara Pancasila, semestinya konflik-konflik horizontal macam ini sudah selesai. Sayangnya ada sekelompok kecil yang memvonis Syiah sebagai kafir. Kelompok kecil ini nyaring sekali suaranya, seolah-olah, Syiah adalah bahaya dan isu Syiah menjadi besar.

Semestinya di negara yang 80-an persen adalah kaum muslim, dan Syiah adalah bagian di dalamnya, kita bisa memberikan kontribusi besar terhadap NKRI. Kita bisa menjadi kekuatan yang besar untuk mencegah keburukan-keburukan yang datang. Kekuatan bersama bisa untuk mencegah korupsi, pemerkosaan, narkoba, dan kerusakan lainnya.

Sayangnya masih ada kelompok yang merasa memiliki tafsir tunggal atas kitab suci saja. Kelompok ini yang disebut Takfiri yang suka mengkafirkan kelompok Islam lainnya. Ini yang justru harus kita waspadai.

Lalu apa yang dilakukan oleh Ahlulbait dalam menghadapi isu-isu sektarian?

Ahlulbait selalu mendorong pemerintah untuk duduk bersama dan membuat model penyelesaian hingga peraturan atau undang-undang mengenai penyelesaian konflik agama, yang dibuat oleh Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan Kejaksaan. Isinya mengedepankan persatuan bangsa dan melarang segala bentuk penghinaan terhadap keluarga nabi, penghinaan terhadap sahabat nabi, dan melarang seseorang atau kelompok untuk mengkafirkan ajaran umat lain. Kalau ada pelanggaran atas tiga hal itu, mereka harus ditangkap dan diproses secara hukum.

Saya yakin, umat muslim bisa saling bergandengan tangan. Harus ada evaluasi besar-besaran dari kaum muslim untuk memberikan kontribusi yang besar terhadap Indonesia.

Siapa yang harus berperan besar dalam penanganan isu-isu sektarian dan memberantas kelompok kecil yang tidak suka melihat umat muslim hidup harmonis?

Dari kami, Ahlulbait, sudah berteriak keras agar jangan menghina tokoh-tokoh yang dihormati oleh Ahli Sunnah, baik itu sahabat atau ulama Ahli-Sunnah, itu sudah kami teriak kencang sekali. Tidak ada dalam tradisi ABI membenarkan dan melakukan hal tersebut. Karena itu, kami harap Ahli Sunnah juga harus berteriak keras agar jangan gampang mengkafirkan ayah bunda Nabi SAW, yang biasa diucapkan oleh sebagian dari mereka.

Negara kita bukan negara Islam, tapi negara Pancasila, negara Bhineka Tunggal Ika, jadi seperti yang saya katakan tadi, bikin peraturan yang disepakati untuk tidak saling menghina sahabat, keluarga Nabi SAW serta melarang tegas untuk saling mengkafirkan sehingga penghormatan terhadap keyakinan bertemu dengan persatuan bangsa.

Negara harus hadir dalam setiap konflik yang melibatkan warganya. Satu orang saja terancam negara harus hadir, apalagi satu kelompok yang terancam.

Sejauh ini, apakah Anda pernah melakukan atau bertemu dengan Ustadz Arifin Ilham untuk mediasi?

Saya sudah komunikasi dengan beberapa tokoh yang dekat dengan Ustadz Arifin Ilham. Bahkan saya minta tolong dengan orang yang dekat dengan beliau untuk mengatakan bahwa ini tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Ustadz Arifin Ilham. Saya kaget saat Ustadz Arifin Ilham menggunakan kata ‘Gerombolan Syiah’. Ini konotasinya tidak baik, padahal mereka ini orang-orang baik, tidak dalam rangka menyerang siapa pun dan pencopotan spanduk itu karena tidak suka ada konflik horizontal.

Jika memang mereka ini gerombolan, tidak mungkin mereka melapor ke polisi. Mereka ini potret anak bangsa yang tidak suka melihat ada kaum yang dijelek-jelekkan. Namun, saya menyesalkan terjadi pemukulan dan cara-cara yang tak baik. Kejadian itu harus kita hindari untuk menjaga martabat dan persatuan di antara sesama umat Islam.

Bisa dijelaskan gerakan Ahlulbait Indonesia itu seperti apa?

Ahlulbait Indonesia (ABI) atau organisasi Syiah Indonesia adalah organisasi resmi dan terang. Dalam arti bukan organisasi bawah tanah, agenda kita jelas. Badan Intelijen Indonesia (BIN) dan polisi tahu keberadaan kami, Kementerian Agama juga tahu. Kami bahkan pernah mengundang Badan Penanggulangan Teroris (BNPT) hadir dalam muktamar yang kami adakan. Kami selalu mendukung pemerintah, saling bekerja sama untuk membangun bangsa dan hidup harmonis. [*]

 

Sumber : ww1.geotimes.co.id/

About admin