tradisi-asyura

Tradisi Suro di Tanah Jawa

tradisi-asyuraKalender jawa dimulai dengan bulan Suro. Bulan-bulan berikutnya mengambil nama bulan-bulan Islam atau mengambil nama peristiwa besar yang terjadi pada bulan itu. Bulan Rabiul disebut sebagai bulan Mulud. Bulan Ramadhan disebut bulan Puso.

Pertanyaannya kenapa bulan Muharram disebut sebagai bulan Suro? Kemungkinan besar itu adalah kata lain dari ‘Asyuro. Kenapa menjadi Suro? Karena lidah Jawa sulit menyebut huruf ‘ain maka untuk lebih mudahnya disingkat menjadi Suro.

Orang-orang Jawa memperlakukan bulan Suro dengan sangat sakral. Mereka berpakaian serba hitam; tidak mau berpesta-pesta apalagi mengadakan acara “mantenan”. Mereka lebih suka berdiam dan merenung sambil mencuci dan membersihkan barang-barang purba yang sakti.  Mengambil berkah dari makanan dan minuman yang sudah diarak pada malam Suro. Dan masih banyak lagi yang intinya adalah “duka”.

Apakah ada kaitannya dengan “duka” Karbala yang diperingati oleh orang-orang syiah seluruh dunia setiap masuk bulan Muharram?

Sangat sulit untuk mengatakannya tidak setelah melihat persamaan-persamaan dalam tradisi “duka” itu.

Apalagi kalau kita lihat fakta sejarah ummat Islam secara lebih luas dimana acara menyambut bulan Muharram dengan warna hitam-hitam hanya ada dan hanya ada dalam komunitas syiah saja. Tidak dalam komunitas Muslim lainnya.

Tidak berlebihan apabila kita berkesimpulan bahwa tradisi Suro di Tanah Jawa adalah Tradisi Syiah (ala) Jawa.

Assalamu ‘alal Husain

Wa ‘ala ‘Ali Ibnil Husain

Wa ‘ala aulad al-Husain

Wa ‘Ala ashabil Husain

About admin