Tiada Perdamaian Tanpa Solidaritas dan Keadilan

Lahirnya Indonesia dibidani oleh berbagai agama dan golongan, semua komponen bangsa turut terlibat. Tugas kita sekarang adalah merawat Indonesia dengan saling menghormati dan menjaga.

Demikian kata Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar Pranowo dalam acara peringatan Hari Perdamaian Internasional di Omah Joglo Jl. Pemuda Jepara pada Rabu (21/9).

Ganjar lalu mengutip kata-kata bijak dalam kiat hidup berbangsa dan bernegara: “Jangan pernah berjalan di belakangku, karena belum tentu aku layak memimpin. Tapi berjalanlah di sampingku, karena kita akan berjalan sebagai sahabat.”

Gubernur kelahiran Karanganyar ini menyebutkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ramah, bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun banyak agama, suku dan bahasa yang berbeda-beda, akan tetapi tetap satu, Indonesia.

“Menjaga perbedaan itu keindahan, menjaga perbedaan itu persatuan,” ungkap Ganjar.

Acara yang mengusung tema “Just Peace Solidarity” itu dimulai pukul empat sore, dihadiri berbagai kalangan dan melibatkan anak-anak lintas iman, di antaranya ada perwakilan dari Gereja Injil Tanah Jawa (GITJ), kalangan pesantren, PMII, Nahdliyin, Ahlul Bait Indonesia(ABI) dan juga kalangan seniman dan komunitas budaya, dengan harapan solidaritas tumbuh sejak belia.

Acara yang di gelar dengan gaya lesehan itu, berlangsung hangat. Menurut Ganjar, bangsa Indonesia terbiasa berdialog dan berkomunikasi dengan baik, inilah cara merawat kebersamaan dan solidaritas.

“Ada nilai kultural yang ditinggalkan, jagongan, dialog dan saling mengerti,” sesalnya terkait kondisi bangsa saat ini.

Menurut Ganjar, ada zona netral seperti kampus, organisasi, pasar, pos ronda, dan sarasehan atau forum-forum saling menghormati yang bisa dijadikan media komunikasi.

Saat ditanya Duta Besar dari Timur Tengah, kenapa Indonesia bisa merawat damai, Ganjar menjawab hagwa alasannya adalah karena kami suka berkomunikasi, berdialog dan silaturahmi.

Diharapkan, kata Ganjar, dengan terbiasa berdialog dan berkomunikasi dengan baik, maka itulah cara merawat kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

“Acara yang digagas komunitas lintas iman dan seni dan budaya ini  sudah memasuki tahun ketiga,” ungkap Romo Danang, salah satu panitia.

Menurut pendeta di GITJ ini, alasan tema tahun ini “Just Peace Solidarity” karena tiada perdamaian tanpa keadilan dan solidaritas.

Diharapkan masyarakat Jepara dan umumnya Indonesia bisa mendapatkan keadilan dan kedamaian yang merupakan haknya sebagai warganegara. (Muh/Yudhi)

Related posts:

Bersama Membangun Hidup Berbhinneka Tunggal IkaBersama Membangun Hidup Berbhinneka Tunggal Ika Seminar BaliPesan Toleransi Dari Bali Candra Malik, Islam Nusantara, Dari Langit turun ke BumiCandra Malik: Islam Nusantara, Ajaran Langit yang Membumi Satu Truk Bantuan Untuk Korban Banjir ManadoSatu Truk Bantuan Untuk Korban Banjir Manado

About admin