Tersandera di Negara Merdeka

Sungguh ironis manakala negara telah menyatakan merdeka namun ada segilintir anak bangsa yang belum merasakan kebebasan. Ternyata ada perbedaan makna antara merdeka dengan bebas.

Hal itu disampaikan Dr. Muhsin Labib dalam orasi renungan malam “5 Tahun Warga Syiah Sampang menjadi Pengungsi di Negeri Sendiri,” di Surabaya, Selasa 21 Maret 2017.

“Merdeka mewakili institusi negara yaitu lepasnya okupasi negara lain, sementara bebas mewakili free will atau kehendak manusia sendiri,” ucap Muhsin Labib.

Bangsa Indonesia yang bangga dengan lingo kebhinnekaan ternyata masih terjadi disharmoni antara makna dengan kata. Korban disharmoni itu dialamai warga muslim Syiah Sampang yang sampai sekarang masih terusir dari kampung halamannya sendiri.

Muhsin Labib meminta kepada awak media dan para aktivis untuk terus menyuarakan kebebasan mereka. Untuk itu ia meminta kepada awak media dan aktivis untuk meluruskan tiga hal.

Pertama, persoalan Sampang bukanlah konflik antara dua kelompok masyarakat. Menurutnya, makna konflik terjadi bila dua masyarakat yang berimbang saling berbenturan. Yang terjadi di Sampang merupakan tragedi kemanusiaan.

“Yang terjadi di Sampang hanyalah sekelompok masyarakat kecil  yang tinggal di desa, diserang kelompok yang jauh lebih besar hanya karena pemegang sentra-sentra kuasa merasa terancam. Padahal Muslim Syiah Sampang ini orang-orang yang lugu, bahkan sebagiannya berbahasa Indonesia saja tidak bisa,” katanya.

Kedua, yang terjadi di pada Muslim Syiah Sampang bukan karena dongeng sengketa cinta sebagaimana yang selama ini disebarkan. Ketiga, bukan pula karena gossip sumber minyak.

“Tapi karena kehendak dominasi berselimut doktrin,” ujarnya.

Lebih jauh ia mengingatkan, konstitusi mengamanatkan tidak ada keharusan beragama tertentu di Indonesia ini. Pemaksaan untuk beragama dan berkeyakinan tertentu hanyalah upaya rezim despotik menguasai pihak lain dengan menggunakan agama.

Muhsin Labib mengutip filsuf Nietzsche yang menyatakan, kehendak pale jahat dari manusia adalah kehendak dominasi dan menghambakan orang lain.

“Padahal tauhid tujuannya untuk memastikan tidak ada orang yang menghambakan diri kepada manusia,” tegasnya.

Warga Muslim Syiah Sampang tidak lagi tinggal di kampung halamannya. Pengungsi Syiah ini sekarang mendiami rumah susun Jemundo terhitung sudah empat tahun lebih sejak Agustus 2012 diusir dari kampung halaman di Desa Karang Gayam Kecamatan Omben, dan Desa Blu’uran Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang.

(LY-Malik)

Related posts:

Pelukan RusunawaSiaran Pers YLBHU : Sampang Kondusif, Waktunya Pemerintah Bergerak IMG-20130923-WA0051Foto Dokumen Piagam Perdamaian Syiah Sampang islahUpaya Islah Sunni dan Syiah Sampang kian Menguat Muslim Syiah SampangNasib Pengungsi Muslim Syiah Sampang: Jalani Ramadhan Kedua di Rusunawa

About admin