Sukses menurut Al-Quran

Allah swt berfirman,

قَدْأَفْلَحَمَنتَزَكَّى

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (Al-A’la: 14)

قَدْأَفْلَحَمَنزَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (As-Syams: 9)

Tidak ada surat di dalam Al-Quran yang menyebutkan sumpah sebanyak As-Syams. Surat ini didahului 7 sumpah. Dan ternyata, sumpah sebanyak itu hanya untuk menekankan betapa beruntungnya seorang yang menyucikan diri.

وَالشَّمْسِوَضُحَاهَا -١- وَالْقَمَرِإِذَاتَلَاهَا -٢- وَالنَّهَارِإِذَاجَلَّاهَا -٣- وَاللَّيْلِإِذَايَغْشَاهَا -٤- وَالسَّمَاءوَمَابَنَاهَا -٥- وَالْأَرْضِوَمَاطَحَاهَا -٦- وَنَفْسٍوَمَاسَوَّاهَا -٧- فَأَلْهَمَهَافُجُورَهَاوَتَقْوَاهَا -٨- قَدْأَفْلَحَمَنزَكَّاهَا -٩-

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan(ciptaan)nya, maka Dia Mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (As-Syams: 1-9)

Ya, orang yang sukses adalah orang yang menyucikan dirinya, karena penyucian diri adalah syarat utama bagi seorang untuk menaiki tangga kesempurnaan. Ketika hati masih kotor, mustahil dia akan mendekat pada kesempurnaan nan suci.

Semua perintah dan larangan Allah itu bertujuan untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan. Akankah dia akan sempurna, jika hatinya penuh dengan noda dosa?

Bahkan salah satu tugas penting para nabi adalah menyucikan jiwa umatnya. Karena nabi diutus untuk membimbing manusia menuju kesempurnaan. Dan salah satu fase terpenting untuk menjadi sempurna adalah penyucian diri.

هُوَالَّذِيبَعَثَفِيالْأُمِّيِّينَرَسُولًامِنْهُمْيَتْلُوعَلَيْهِمْآيَاتِهِوَيُزَكِّيهِمْوَيُعَلِّمُهُمُالْكِتَابَوَالْحِكْمَةَ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah” (QS. Jumu’ah: 2)

Dengan sifat Pengasih dan Penyayangnya, Allah ingin melihat hambanya berhasil, sukses dan sempurna, serta berada dalam kenikmatan abadi di surga. Tapi apakah Allah hanya ingin kita sukses ketika di akhirat saja?

Banyak orang berpikir, bahwa Islam adalah agama yang fokus kepada akhirat saja. Dia secara tidak sadar telah mendzalimi Islam itu sendiri. Seakan-akan pengikut Islam itu pasti akan tertindas, miskin dan hidupnya tidak enak karena yang dipikirkan hanya kehidupan akhirat saja.

Sungguh tidak mungkin! Allah tidak hanya ingin hamba-hambanya sukses di akhirat. Dia ingin melihat hambanya sukses di dunia sampai di akhirat. Coba perhatikan, apa janji Allah bagi manusia yang memilih jalan kebaikan,

مَنْعَمِلَصَالِحًامِنْذَكَرٍأَوْأُنْثَىٰوَهُوَمُؤْمِنٌفَلَنُحْيِيَنَّهُحَيَاةًطَيِّبَةًوَلَنَجْزِيَنَّهُمْأَجْرَهُمْبِأَحْسَنِمَاكَانُوايَعْمَلُونَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Dalam ayat ini, Allah menjanjikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan berlipat di akhirat ketika seorang memilih jalan keimanan dan berbuat baik. Islam bukan agama protocol saja yang menghabiskan umur hanya di dalam mihrab saja. Islam sangat memperhatikan kehidupan dunia, walaupun selalu diingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.

وَالْآخِرَةُخَيْرٌوَأَبْقَىٰ

“padahal kehidupan akhirat itu baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 17)

Berusahalah untuk mencari kesuksesan duniawi. Silahkan menikmati kenikmatan di dalamnya. Karena tolak ukur kesuksesan bukanlah seberapa menderita ia di dunia, tetapi seberapa dekat seorang hamba kepada Tuhannya.

Sementara kedekatan itu mustahil diraih tanpa kesucian hati. Sesuatu yang kotor tidak bisa mendekat kepada sumber kesucian. Karenya, seorang yang berpaling dari Allah swt tidak akan mencapai kesuksesan walau di alam dunia ini. Dia tidak akan memperoleh kebahagiaan dan ketenangan hati.

وَمَنْأَعْرَضَعَنْذِكْرِيفَإِنَّلَهُمَعِيشَةًضَنْكًا

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Garasi yang dipenuhi mobil mewah, rekening berisi milyaran rupiah dan jabatan tinggi apapun tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Berapa banyak orang yang bunuh diri di puncak karir kehidupannya? Karena bukan di situ letak kebahagiaan. Bahagia ada di dalam hati. Dan hati itu tidak akan pernah bahagia sebelum kita serahkan pada pemilik sebenarnya.

أَلَابِذِكْرِاللَّهِتَطْمَئِنُّالْقُلُوبُ

”Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28)

Apa yang Allah inginkan dari kita? Dia hanya ingin kita sukses di dunia sampai kelak di akhirat. Dan orang yang berpaling dari-Nya sungguh telah mendzolimi dirinya sendiri. Kenapa? Karena Allah telah memberi sarana dan fasilitas yang lengkap untuk mengantarkannya pada pintu kesuksesan. Akal yang sempurna diberikan, para nabi diutus untuk membimbing, Al-Qur’an dijaga agar tetap menjadi petunjuk. Semua itu disediakan untuk mengantar manusia pada kesuksesan dan kesempurnaan. Tapi masih ada saja yang menolak. Bukankah mereka telah menzalimi diri mereka sendiri?

وَتِلْكَحُدُودُاللَّهِوَمَنيَتَعَدَّحُدُودَاللَّهِفَقَدْظَلَمَنَفْسَهُ

“Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum -hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (At-Thalaq: 1)

Karena itu bahasa Al-Quran menyebut orang yang melakukan dosa dengan sebutan “menzalimi dirinya sendiri”

وَمَنيَعْمَلْسُوءاًأَوْيَظْلِمْنَفْسَهُ

“Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya.” (An-Nisa’: 110)

Manusia telah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Sementara Allah swt tidak pernah sedikit joke mendzolimi hamba-Nya.

وَمَااللّهُيُرِيدُظُلْماًلِّلْعَالَمِينَ

“Dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam.” (Ali Imran: 108)

وَمَااللَّهُيُرِيدُظُلْماًلِّلْعِبَادِ

“Padahal Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba- hamba-Nya.” (Ghafir: 31)

Apa yang Allah inginkan dari manusia?

Setelah penjelasan panjang tadi, sebenarnya Allah menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya. Allah berfirman,

يُرِيدُاللّهُبِكُمُالْيُسْرَوَلاَيُرِيدُبِكُمُالْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

Sebenarnya agama ini tidaklah sulit. Jangan pernah menganggap agama membelenggu kita. Islam hanya membimbing kita untuk menjadi manusia sempurna. Hanya orang yang tidak memahami yang menganggap agama adalah beban. Bukankah Allah tidak pernah menentukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan hamba-Nya?

لاَيُكَلِّفُاللّهُنَفْساًإِلاَّوُسْعَهَا

“Tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Bukankah Allah tidak pernah menyiksa sebelum memberi peringatan dan mengutus para nabi? Semua itu Allah lakukan agar manusia mencapai kesuksesan dunia akhirat. Dia tidak ingin merepotkan hamba-Nya dengan perintah dan larangan. Karena semua keuntungan hanya akan kembali kepada si hamba.

مَايُرِيدُاللّهُلِيَجْعَلَعَلَيْكُممِّنْحَرَجٍوَلَـكِنيُرِيدُلِيُطَهَّرَكُمْوَلِيُتِمَّنِعْمَتَهُعَلَيْكُمْلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ

“Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (Al-Ma’idah: 6)

يُرِيدُاللّهُأَنيُخَفِّفَعَنكُمْوَخُلِقَالإِنسَانُضَعِيفاً

“Allah hendak Memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (An-Nisa’: 28)

Imam Muhammad Al-Baqir pernah berkata,

“Demi Allah, Dia tidak mengingingkan sesuatu dari manusia kecuali 2 hal. (Dia menginginkan) agar manusia mensyukuri nikmat agar ditambah (kenikmatan itu) kepada mereka. Dan menyesali dosa-dosa agar (Allah) mengampuni mereka.”

Akhirnya, tidak akan sempurna iman seseorang sebelum ia rela dan tidak merasa keberatan dengan ketentuan Allah swt.

فَلاَوَرَبِّكَلاَيُؤْمِنُونَحَتَّىَيُحَكِّمُوكَفِيمَاشَجَرَبَيْنَهُمْثُمَّلاَيَجِدُواْفِيأَنفُسِهِمْحَرَجاًمِّمَّاقَضَيْتَوَيُسَلِّمُواْتَسْلِيماً

“Maka demi Tuhan-mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ :65)

Mengapa kita menganggap agama ini beban padahal yang dihalalkan jauh lebih banyak dari yang diharamkan. Ingatkah anda ketika Nabi Adam berada di surga, Allah menghalalkan semuanya dan hanya mengharamkan satu buah saja. Begitulah gambaran kehidupan dunia. Allah menghalalkan segala sesuatu dan mengharamkan sebagian kecil darinya tapi kita selalu merasa keberatan untuk meninggalkannya. Padahal semua hal yang dilarang itu karena akan membahayakan diri manusia sendiri.

Jika kita mau berpikir logis, dimana beban agama itu? Padahal sekecil apapun kebaikan akan kita nikmati sendiri.

إِنْأَحْسَنتُمْأَحْسَنتُمْلِأَنفُسِكُمْوَإِنْأَسَأْتُمْفَلَهَا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (Al-Isra’: 7)

Kesimpulannya, Manusia diciptakan untuk beribadah ⇒ Ibadah bertujuan untuk menumbuhkan takwa ⇒ Dibalik ketakwaan ada kesuksesan ⇒ Dan puncaknya, Allah hanya ingin manusia mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Semoga dengan mengetahui apa yang diinginkan Allah dari manusia, kita tidak lagi merasa terbebani dengan aturan agama. Karena Syariat Allah ini hanya untuk keuntungan kita semata.

Semoga kita juga termasuk orang-orang yang sukses di dunia hingga di alam abadi kelak.

Artikel sebelumnya: Apa yang Diinginkan Allah dari Manusia?

25 Hidangan dari Al-Quran

Related posts:

67720_10200489903630160_229093377_nIslah: Jalan Damai Sampang ABI Press_Muhsin LabibNatal Tanpa Salju Pilot Project Pengajian Jarak JauhABI Sulteng, Pilot Project Pengajian Jarak Jauh Rahasia Seputar Malam Nisyfu Sya'banMaulid Nabi di ICC

About admin