Seminar-Internasional-Islam-Is-Peace-660x330

Seminar Internasional: Pesona Kedamaian Islam Nusantara

Dr.-Moh.-Husein-Safakhah-dan-Abdullah-BeikIslam Is Peace, menjadi tema seminar internasional “Pesona Kedamaian Islam di Nusantara” yang terselenggara atas kerjasama BEM Fakultas Aqidah Filsafat dengan pihak Ormas Islam Ahlulbait Indonesia. Senin (13/10) pagi acara itu dilaksanakan di kampus UIN Jakarta.

Isu perpecahan umat Islam serta perkembangan kelompok-kelompok radikal di kalangan umat Islam adalah salah satu alasan diselenggarakannya acara tersebut.

“Saya melihat ada kerinduan di kalangan mahasiswa untuk mendapatkan apa yang namanya kedamaian,” ungkap Edwin Syarif, Ketua Jurusan Aqidah Filsafat UIN Jakarta.

Selaku pemberi sambutan dalam acara tersebut, Edwin berharap, kedamaian di segala aspek dapat terwujud. “Kami mendukung penuh acara seperti ini,” pungkas Edwin.

Sementara itu, Dr. Moh. Husein Safakhah, dari Iran menjadi keynote speaker dalam acara itu. Ia menyampaikan pandangannya dalam Bahasa Persia dan diterjemahkan oleh Ustad Abdullah Beik, dari Islamic Cultural Centre (ICC) Jakarta. Dalam ceramahnya, dapat diambil kesimpulan bahwa menurutnya, inti pokok dari ajaran Islam adalah kasih sayang dan perdamaian.

(dr kiri) Umar Shahab, Abdul Mu'thi, Nanang Tahqiq, Marsudi Syuhud

KH. Marsudi Syuhud, selaku Sekjen PBNU yang menjadi salah satu narasumber dalam seminar itu sependapat dengan Husein Safakhah. Secara keindonesiaan, ia menceritakan kondisi awal Islam masuk ke Nusantara ini. “Islam disebarkan melalui kultur yang damai, tanpa ada tetesan darah yang ditumpahkan,” ungkapnya. Dan sekarang, menurut Marsudi, kondisi itu sudah berbalik arah. “Dulu, para saudagar jualan sesuatu untuk menyebarkan Islam, tapi sekarang, orang-orang jualan Islam untuk sesuatu,” tambahnya. Dulu, orang kafir masuk Islam, sekarang orang mengaku Islam mengkafirkan orang Islam sendiri,“ pungkas Marsudi.

Sementara itu, Abdul Mu’thi, selaku Sekjen Muhammadiyah juga menjadi pembicara dalam forum itu. Menanggapi banyaknya isu perpecahan di kalangan umat Islam, Abdul Mu’thi menilai, salah satu faktornya adanya kepentingan politik dalam tubuh umat Islam sendiri. “Berlomba saling berkuasa dengan melakukan gerakan-gerakan politik, dan itu terjadi di banyak negara,“ ungkapnya. 

Selain itu, problem kesukuan atau komunalisme juga menjadi penyebab terjadinya perpecahan, terutama di negara-negara Arab. “Itu yang kemudian belakangan ini dieskpor ke Nusantara,“ tambahnya.

Informasi yang berimbang juga menjadi faktor penting dalam menekan kesalahpahaman yang kemudian dapat menimbulkan perpecahan. Abdul Mu’thi menyontohkan, ketika ia masih menempuh pendidikan, gurunya sempat berkata, Syiah mempunyai Al-Quran yang berbeda. “Saya percaya begitu saja, karena guru saya yang bilang,“ ungkapnya. Namun, ketika ia telah membaca banyak hal, mempelajari kitab-kitab karangan Syiah, ia kemudian mengerti bahwa semua yang dituduhkan kepada Syiah itu ternyata tidak benar. Hal itu diperkuat lagi ketika ia sempat datang langsung ke Iran, sebagai negara dengan mayoritas umat Islamnya bermadzhab Syiah. “Disana damai, santun, tidak seperti yang diberitakan di media-media,” terangnya.

Pembicara terakhir adalah Umar Shahab. Ia adalah Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), sebagai salah satu Ormas Islam bermazhab Syiah di Indonesia. Ia merasa penting, isu Sunni dan Syiah diangkat, karena keduanya merupakan dua mazhab Islam terbesar di dunia. Dijelaskannya juga beberapa hal terkait dengan konflik yang terjadi di Timur Tengah terutama di Suriah dan Irak. “Isu yang sering dilontarkan adalah konflik Sunni-Syiah, padahal baik di Suriah maupun Irak, Sunni-Syiah hidup damai,“ ungkapnya.

Sedangkan untuk menggambarkan kesamaan antara Sunni dan Syiah, Umar Shahab menggambarkannya dalam sebuah kata, “Saya Syiah, tapi saya tidak pernah merasa, kalau saya ini bukan Sunni.” 

Banyaknya ritual keagamaan seperti tawassul, ziarah, dan sebagainya, juga menjadi parameter titik temu yang ia anggap dapat menyatukan dua mazhab besar dalam Islam ini. Bahkan ia mengutip pernyataan Gus Dur, “NU, adalah Syiah minus Imamah.”

Dalam upaya mempersatukan nilai-nilai kedamaian dalam perbedaan itu, baik NU, Muhammadiyah, maupun Syiah mempunyai cara beragam dalam prakteknya. NU dan Muhammadiyah membentuk sinergi dalam mempererat ukhuwah. 

“Bahkan kita saling memuji satu sama lain,“ kata Marsudi. Sedangkan di Syiah, Umar Shahab menegaskan tentang apa yang telah difatwakan ulama besar Syiah, Imam Ali Khamenei  tentang persatuan yaitu, diharamkannya menghina simbol-simbol yang diagungkan oleh umat Islam yang bermazhab Ahlusunnah.

Melihat apa yang terjadi saat ini, atas meningkatnya kelompok-kelompok radikal, Umar Shahab menegaskan bahwa memang tidak dapat dipungkiri di setiap kelompok ada garis keras. Namun, hal tersebut hanyalah ulah individu atau bagian-bagian kecil yang tidak mewakili organisasi secara keseluruhan, tidak mewakili mazhab tertentu, bahkan tidak mewakili Islam secara keseluruhan. (Malik/Yudhi)

 

sumber :Abi Press

About admin