Sekum MUI Sulsel Ajak Kaum Muslimin Tegakkan Ukhuwah Insaniyah

Saat memberikan sambutan dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh DPW ABI Sulsel bersama Pemkot Makassar, Sabtu (24/12), Sekretaris Umum MUI Sulsel Prof. Dr. Andi Ghalib, mengutip perkataan Imam Ali Bin Abi Thalib menyatakan bahwa puncak pengetahuan adalah toleransi. Hal ini disampaikan agar para jamaah yang hadir terus mengupayakan persatuan dengan seluruh umat manusia.

“Ukhuwah Islamiyah itu seperti susah ditegakkan. Padahal kalau kita bersatu, kekuatan Islam itu sangat besar,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa di sebagian kelompok Muslim saat ini muncul kekuatan-kekuatan radikal yang susah hidup dalam keberagaman padahal di lain pihak, bahkan Rasul diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan bukan monopoli umat Islam saja.

“Oleh karena itu, mari kita tegakkan ukhuwah dengan semua insan karena Rasulullah datang sebagai perwujudan kasih sayang kepada dunia,” ajaknya kepada 300 lebih hadirin di Hotel Asira Makassar.

Sementara Mursyid Tareqat Khalwatiyah Zaman, Dr. Ruslan Wahab, yang juga merupakan Ketua Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel, dalam ceramah inti, mengindikasikan bahwa munculnya kekuatan-kekuatan radikal dikarenakan kelompok tersebut tidak mengenal Nabi Muhammad dengan sebenar-benarnya.

“Ada yang mengenal Nabi secara bashar saja, bahwa beliau hanya manusia biasa saja. Ini tak lebih seperti pendekatan Abu Jahal kepada Nabi. Ada juga yang mengenal Nabi secara ilmiah saja lewat bacaan-bacaan, referensi-referensi,” tambahnya.

Namun, lanjutnya, mengutip hadis Shahih Muslim jilid 4 halaman 82, ada pendekatan lain seperti yang dilakukan Ummu Sulaim kepada Nabi.

“Ummu Sulaim mengelap keringat Nabi untuk dijadikan obat bagi sakit anaknya. Hal seperti ini pastilah sekarang sudah dianggap bid’ah, padahal ini muncul karena kecintaan dan penghormatan yang mendalam kepada Nabi,” terangnya.

Dicontohkannya juga Bilal yang mengambil sisa-sisa atmosphere wudhu Nabi sampai tak tersisa, yang merupakan tanda cinta dan kekaguman Bilal kepada Nabi.

“Sekarang ini muncul kelompok-kelompok yang berusaha memecah-belah umat, yang berusaha menghukumi apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat semacam itu adalah bid’ah. Maulid juga bid’ah, barzanji bid’ah, tasawuf bid’ah dan lain-lain, padahal ilmu fikih secara definitif juga tidak ada pada zaman Nabi. Demikian juga ilmu tasawuf secara definitif tidak ada pada zaman Nabi. Namun semua secara nyata dilakukan Nabi,” tambah Dr Ruslan.

Senada harapan para tokoh tersebut, sejak jauh hari sebelumnya DPW ABI Sulsel selaku panitia acara memang sudah berusaha agar ukhuwah Insaniyah sebagaimana dimaksud dapat benar-benar terwujud dalam acara Maulid Nabi kali ini. Untuk itu undangan sengaja disebarkan ke semua elemen masyarakat sehingga saat acara berlangsung, banyak perwakilan masyarakat dari berbagai golongan hadir; seperti dari Muhammadiyah, NU, Syiah, Ahmadiyah, bahkan Konghucu. (Mustajib/Yudhi

Related posts:

(dua dari kiri) Ustaz Hassan Alaydrus, Ustaz Jalaluddin Rakhmat, dan Kyai Alawi Nurul Alam al BantaniMaulid Bersama: Bukti Kokoh Ukhuwah Sunni-Syiah Dialog Sunnah-Syiah di Kepulauan RiauPotret “Dialog” Sunnah-Syiah di Kepulauan Riau Tugu JogjaJaga Yogya Tetap Beradab dan Toleran, Makaryo Surati MUI Maulid Nabi di YAPI Kokohkan Ukhuwah Syiah-SunniMaulid Nabi di YAPI Kokohkan Ukhuwah Syiah-Sunni

About admin