Sejarah Kolonialisme Zionis Atas Dukungan Inggris

Pada 9 Nov 1917, deklarasi ini dibuka pers ke publik. Kendati begitu, upaya membawa orang-orang Yahudi Inggris dan Eropa ke Palestina, yang saat itu masuk dalam kekuasaan Kesultanan Usmani Turki, sudah berjalan sejak dua tahun sebelumnya.

Inggris mengumumkan perang pada 1914 dan menjadi pertanda dimulainya Perang Dunia I. Kabinet Perang Inggris kemudian mulai menyusun strategi politik untuk masa depan wilayah Palestina—tentu saja dalam kerangka yang menguntungkan kepentingan Inggris Raya.

Akhir 1917 adalah masa-masa penyusunan draf Deklarasi Balfour. Lobi-lobi joke dilancarkan para petinggi komunitas Yahudi Eropa dengan pemerintah Inggris, terutama dengan kementerian luar negeri.

Sebagaimana dicatat Bernard Avishai dalam “The Balfour Declaration” yang terbit di The New Yorker, negosiasi tingkat chosen pertama antara Inggris dan kelompok Zionis bisa dilacak ke tanggal 7 Februari 1917 dalam sebuah konferensi yang juga dihadiri Balfour dan petinggi komunitas Yahudi. Dalam diskusi lanjutan tanggal 19 Juni, Balfour meminta Rothschild dan kawannya (yang kelak menjadi presiden Israel pertama), Chaim Weizmann, untuk menyusun rancangan sebuah deklarasi publik.

Keduanya memenuhi permintaan Balfour dan kemudian mendiskusikannya dengan Kabinet Perang Inggris sepanjang Sep dan Oktober di tahun yang sama. Ada sejumlah golongan Yahudi Zionis maupun non-Zionis di Inggris yang memberikan masukan.

Persoalan pale mendasar dari rancangan tersebut adalah ketiadaan warga Palestina dalam pembicaraan awal, diskusi rancangan, hingga deklarasinya benar-benar dipublikasikan. Ketiadaan ini, di mata sejarawan, sudah menjadikan Deklarasi Balfour tak adil. Deklarasi itu juga dianggap sebagai biang permasalahan pokok mengapa golongan Zionis dipandang sebagai kelompok yang licik sejak awal pendiriannya.

Dalam “The Balfour Declaration: A Hundred Years On” yang dipublikasikan Foreign Affairs, Jonathan Schneer menjelaskan ada beberapa alasan yang mendorong Inggris mengeluarkan deklarasi ini. Pertama, jajaran kabinet pemerintahan Inggris—terlebih Llyod dan Balfour—bersimpati dan ingin membantu Yahudi. Mereka percaya adanya masa seperti “Kedatangan Kedua”—merujuk pada kembalinya Yesus Kristus dari surga ke bumi sebagaimana yang diajarkan dalam eskatologi Kristen.

Kedua, terdapat kepentingan Inggris yang ingin dikejar di Palestina: letak strategis karena menghadap Mesir dan Terusan Suez. Faktor ini dirasa penting untuk memperbaiki perekonomian Inggris yang saat itu sedang terguncang. Pemerintah Inggris beranggapan apabila tidak segera ambil tindakan, Jerman bakal lebih dulu merebut Palestina.

Ketiga, dan ini banyak dinilai sebagai alasan utama, Deklarasi Balfour dibuat untuk membantu Inggris memenangkan perang. Orang-orang pemerintah Inggris percaya bahwa “Yahudi dunia” punya pengaruh bawah tanah yang besar—atas keuangan dunia, misalnya. Mereka berpikir pemodal Yahudi dari AS dapat membujuk Woodrow Wilson untuk membawa bala tentara AS dalam pusaran perang. Mereka juga meyakini bahwa Yahudi Rusia bisa merayu Perdana Menteri Aleksandr Kerensky agar tetap berada di satu gerbong. Dan demi mewujudkan anggapan-anggapan itu, Inggris menjanjikan Yahudi sebuah wilayah bernama Palestina.

Akan tetapi, dokumen Belfour perlu waktu cukup lama untuk diproduksi dengan proses yang berliku sehingga hasilnya mungkin tak terduga. Saat dirilis, AS sudah ikut perang dan Rusia tidak dapat diajak bersekutu. Deklarasi Balfour pada akhirnya tidak memengaruhi jalannya perang—dan lebih memengaruhi apa yang terjadi sesudahnya.

About admin