Reformasi Sejati Imam Husein

**

Telah dikatakan dalam sejarah bahwa siapapun yang menghidupkan perkara kami (Ahlulbait, Keluarga Suci Nabi) maka mereka bersama kami kelak di surga.

Itulah harapan para pencinta cucunda Nabi ketika menghidupkan perkara Ahlulbait.

Allah SWT berfirman ketika memanggil kembali manusia, sebagaimana dinyatakan dalam Alquran surah al-Fajr ayat 27-30:

﴾يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠
27). Hai jiwa yang tenang. 28). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 29). Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, 30). masuklah ke dalam surga-Ku.

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa konsekuensi dari penghambaan kepada Allah SWT adalah surga. Kaitannya dengan peringatan-peringatan seperti Asyura ini tak lain ialah imbalan dalam bentuk surga-Nya.

Terjadinya peristiwa Karbala pada 13 abad lalu seharusnya telah dikubur masa. Tetapi nyatanya tidak, bahkan tahun demi tahun diperingati dan semakin terasa hidup kembali peristiwa ini seakan-akan kejadian itu baru saja terjadi.

Dengan peringatan semacam itu kita berusaha mengembalikan nilai-nilai elemental agama dan kemanusiaan. Begitu pentingnya bagi kita untuk mengembalikan nilai-nilai Asyura meskipun telah lama peristiwanya terjadi.

Asyura menembus cakrawala ruang dan waktu. Begitu lama terjadi, sehingga dalam simbol-simbol heroik Asyura dikatakan “Kullu yaumin Asyura wa kullu ardhin Karbala,” yang artinya Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala.

Apa makna di balik ini semua?

Kita perlu memahami bahwa sepanjang sejarah manusia ini tidak lepas dengan adanya dua karakter manusia sebenarnya. Yaitu karakter bersifat Husaini atau Yazidi. Dua karakter yang saling bertolak belakang dan bertentangan satu sama lainnya.

Kalau kita renungkan kenapa Imam Husein harus bangkit bergerak, apa makna di dalamnya?

Ketika harus meninggalkan Madinah menuju Kufah, Imam Husein menyatakan, “Aku keluar sesungguhnya untuk menyelamatkan umat kakekku.” Atau dapat diperjelas lagi bahwa sungguh beliau keluar dari Madinah, ke Kufah dan akhirnya sampai ke Karbala tempat terjadinya pembantaian beliau dan keluarga serta para sahabatnya, tak lain adalah demi menyelamatkan umat kakeknya.

Dalam perkataan “islah fi ummati jaddi”, itulah terkandung makna gerakan reformasi. Sebagaimana yang terjadi pada saat itu, dalam tubuh umat Muhammad banyak sekali penyimpangan agama sehingga harus ada gerakan reformasi. Maka Imam Husein bangkit untuk mereformasi keadaan karena keadaan pada saat itu penuh dengan penyimpangan. Penuh dengan penyimpangan atas nama agama.

Mungkin saja gerakan serupa Imam Husein dilakukan oleh berbagai tokoh atau figur di belahan dunia manapun. Akan tetapi apakah sama ishlah yang dilakukan Imam Husein dengan yang lainnya? Tentu saja berbeda.

Perbedaannya adalah ketika Imam Husein “ishlah fi ummati jaddi” murni bahwa orientasi gerakan beliau tanpa ada orientasi manfaat pribadi. Tidak didasari orientasi atau tendensi manfaat pribadi, semisal demi tujuan politik meraih kursi Khilafah. Sedangkan gerakan reformasi yang dilakukan oleh manusia lainnya bisa jadi karena kepentingan dirinya.

Betapa tujuan para reformer sepanjang sejarah manusia jika kita bandingkan dengan reformasi yang dilakukan Imam Husein jauh berbeda. Ada design tendensius dengan berbagai macam tendensinya. Akan tetapi reformasi yang dilakukan Imam Husein murni demi “ishlah fi ummati jaddi”.

Jika kita menelisik sejarah, sesungguhnya Imam Husein keluar dari Madinah menuju ke Kufah hingga sampai ke Karbala atas undangan orang-orang Kufah. Meskipun pada akhirnya banyak orang-orang Kufah yang mengkhianati beliau. Hingga terjadilah tragedi Karbala.

Dalam konteks ideologis, apakah Imam Husein diterima oleh masyarakat atau umat saat itu sebagai Khalifah atau tidak, maka beliau tetaplah Khalifah. Beliau tetap sebagai seorang Imam karena dalam konteks ideologis, Imam dalam kedaulatan Tuhan yang diteruskan untuk diproklamasikan oleh sosok Nabi SAW melalui lisan beliau sendiri. Tapi saat itu untuk menegaskan kekhalifahan beliau demi memenuhi tuntutan umat melalui surat-surat yang dilayangkan kepada beliau yang akhirnya meninggalkan Madinah menuju padang Karbala. Janji itulah yang kemudian dikhianati oleh warga Kufah.

Jika tujuan  Imam Husein adalah untuk kekhalifahan, juga bukan karena li ishlah fi ummati jaddi,  bisa jadi ini membahayakan. Tentunya secara logis Imam Husein akan kembali ke Madinah dengan berbagai macam perhitungan dan imbalan yang akan diterimanya. Kalkulasi imbalan yang ditawarkan oleh Imam Husein itu banyak, baik harta maupun kedudukan. Tetapi sekali lagi, Imam Husein tidak bergerak demi manfaat pribadinya melainkan hanya untuk ishlah. Maka majulah Imam Husein bersama keluarga dan para sahabatnya yang setia menuju padang Karbala.

Perlu diketahui bahwa Imam Husein dalam melakukan reformasi tidak bersinggungan dengan kezaliman pada yang lain. Dalam sejarah Imam Husein ketika beliau sampai di padang Karbala beliau menanyakan standing tanah Karbala apakah tanah itu ada pemiliknya atau tidak. Tentang siapa yang memiliki tanah Karbala ini, beliau bertanya kepada para sahabatnya dan menyuruh mereka untuk mengidentifikasi milik siapa tanah ini. Jagan sampai kejadian yang akan terjadi di sini apapun yang menimpa Imam Husein, keluarga dan para sahabatnya, si pemilik tanah ini tidak ridha kepada mereka. Bahkan sampai Imam Husein menyatakan, “Akan aku beli tanah Karbala ini.” Semata-mata agar tak satu orang joke terzalimi oleh beliau.

Bayangkan, sekarang reformasi yang dilakukan oleh siapapun biasanya dengan tendensi-tendensi yang ada, manfaat kelompok yang ada, juga dengan kezaliman yang ada.

Inilah kedua poin yang menjadi pelajaran bagi kita  bagaimana gerakan reformasi di tengah masyarakat kita, bagaimna kita membangun karakter Husaini agar kita bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kita. Untuk mereformasi nilai-nilai yang tersimpangkan.

Bayangkan sebuah doa di dalam doa Warits ketika akhir doa itu disampaikan, ada sebuah kalimat yang menarik, “Ya laitana kunna maakum fanafuza fauzan ‘adzima”. Berlalu 13 abad lebih, tapi harapan dan asa para pendukung Husaini selalu berharap untuk bersama Imam Husein.

Kenapa harus bersama Imam Husein sedangkan zaman telah berlalu sekian lamanya? Karena para pencinta Imam Husein tetap berharap untuk menang dan jaya bersama pergerakan Imam Husein.

Dalam kalimat, “Andaikan kami bersama dengan Imam Husein sehingga menang dengan kemenangan sebesar-besarnya,” kemenangan apa yang diharapkan oleh para pencinta Imam Husein? Kebersamaan apa yang diharapkan sedangkan Al-Husein telah syahid?

Inilah makna filosofi Asyura, yang menembus cakrawala ruang dan waktu. Inilah makna semboyan, “Kullu yaumin Asyura wa kullu ardhi Karbala”.

Ceramah Ustaz Muhammad Sodiq

Ceramah Ustaz Muhammad Sodiq

**Ceramah Ustaz Muhammad Sodiq

(Banin/Yudhi)

Related posts:

Wawancara Ust. Muhsin LabibAsyura Milik Siapa? ABI Press di BandungRemaja Karbala: Membagikan Air Minum, Mengingatkan Kehausan Al Husein Haul Imam Husein di SemarangHaul Imam Husein di Semarang Peringatan Asyura di Majelis BBQPeringatan Asyura di Majelis BBQ

About admin