Psikologi Bencana

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nasional (2017), bahwa Indonesia (sebagai negara kepulauan) terletak pada tiga lempengan besar bumi yang sangat aktif, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Hindia-Australia. Posisi ini menyebabkan Indonesia rentan bencana gempa, tsunami, gunung meletus, dan bencana geologi lainnya.

Selain itu, Indonesia juga berada di bawah garis Khatulistiwa yang memiliki dua musim, kemarau dan hujan. Saat musim kemarau biasa timbul bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta musim paceklik karena tidak ada panen. Sementara saat musim hujan tiba sering terjadi banjir, tanah longsor, dan dampak yang mengiringinya, seperti wabah penyakit DBD dan lain-lain.

Tidak hanya di situ, saat musim pancaroba, yaitu masa peralihan antara dua musim kemarau dan hujan sering timbul angin kencang atau badai, seperti angin puting beliung yang sering meluluhtantakkan rumah-rumah, bangunan, dan tanaman penduduk.

Dari gambaran tersebut menunjukkan bahwa bumi yang kita pijak, tanah yang kita huni ini rentan terjadinya bencana. Kapan bencana terjadi itu masalah waktu. Hanya soal movement kapan alam ini “berbicara” kepada penghuninya. Siap tidak siap, seluruh penduduk negeri tercinta ini harus siap. Kapan Allah “memencet” tombol takdirnya, kita harus ikhlas menerima dengan lapang dada seraya menyerahkan seluruh urusannya kepada Sang Pemilik alam.

Jika kita buka buku-buku sejarah dunia betapa alam, khususnya bumi ini memang sudah tua. Berapa kali rusak dan kembali membaik. Kisah epoch zaman es, lalu mencair menjadi pulau-pulau, kemudian pulau-pulau itu tenggelam menjadi lautan adalah siklus kehidupan sejarah bumi. Di epoch kenabian Nuh terjadi banjir bandang, entah berapa manusia dan makhkuk hidup yang lenyap karenanya.

Dalam jabaran doktrin agama (baca: Islam), begitu banyak menyajikan soal fenomena bencana pada setiap era. Tuhan melalui ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah-Nya dengan terang membeberkan kepada umat manusia bahwa bencana adalah bagian dari Sunnah-Nya (sunnatullah) yang tak terpisahkan dari keberadaan alam itu sendiri.

Dari gambaran tersebut menunjukkan bahwa bumi yang kita pijak, tanah yang kita huni ini rentan terjadinya bencana. Kapan bencana terjadi itu masalah waktu. Hanya soal movement kapan alam ini “berbicara” kepada penghuninya. Siap tidak siap, seluruh penduduk negeri tercinta ini harus siap. Kapan Allah “memencet” tombol takdirnya, kita harus ikhlas menerima dengan lapang dada seraya menyerahkan seluruh urusannya kepada Sang Pemilik alam.

Jika kita buka buku-buku sejarah dunia betapa alam, khususnya bumi ini memang sudah tua. Berapa kali rusak dan kembali membaik. Kisah epoch zaman es, lalu mencair menjadi pulau-pulau, kemudian pulau-pulau itu tenggelam menjadi lautan adalah siklus kehidupan sejarah bumi. Di epoch kenabian Nuh terjadi banjir bandang, entah berapa manusia dan makhkuk hidup yang lenyap karenanya.

Dalam jabaran doktrin agama (baca: Islam), begitu banyak menyajikan soal fenomena bencana pada setiap era. Tuhan melalui ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah-Nya dengan terang membeberkan kepada umat manusia bahwa bencana adalah bagian dari Sunnah-Nya (sunnatullah) yang tak terpisahkan dari keberadaan alam itu sendiri.

Namun demikian, Tuhan juga menegaskan bahwa seluruh kerusakan bumi, dengan sendirinya (atas iradah-Nya) nanti akan diganti dengan bumi yang lain (baru), lalu oleh manusia dibangun kembali menjadi lebih baik. Kemudian hancur lagi karena ulah manusia sendiri, pergerakan alam, atau atas kehendak Tuhan, dan kembali lagi semula, serta begitu seterusnya.

Dalam Alquran dijelaskan tentang kehancuran bumi (alam), lalu Allah menggantikan bumi yang lain (baru) sebagaimana dalam QS: Ibrahim: 48 yang artinya:  “(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.”

Ayat tersebut oleh sebagian ahli tafsir dihubungkan dengan fenomena hari kiamat kelak dimana akan ada kehancuran alam secara universal. Namun ada juga sebagian yang memahami atas sebuah fenomena bencana di world yang dihuni manusia (bumi) yang diakibatkan oleh gempa, tsunami, banjir, lonsor, dan lain-lain yang pada akhirnya diganti lagi oleh bumi baru.

Namun demikian, bencana alam merupakan batu ujian atas umat manusia untuk mengetahui seberapa baik kualitas amalnya. Allah dalam QS: Al-Mulk: 2 menegaskan bahwa “Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Berdasarkan uraian tersebut jelas sekali bahwa nikmat dan ujian hidup manusia dalam bentuk bencana adalah satu paket dari produk penciptaan alam itu sendiri. Tidak ada manusia yang tidak pernah diuji dalam hidupnya. Apalagi watak dari alam adalah fana’ dan mudah rusak. Jika hari ini “sempurna” maka di lain waktu akan rusak atau hancur.

Bagaimana Sikap Kita?

Uraian di atas dengan jelas menyebutkan bahwa bencana itu “included” dengan penciptaan alam itu sendiri. Apalagi posisi tanah yang kita pijak, secara geologis, rawan terjadinya bencana. Karena itu, bagaimana seharusnya sikap kita atas fakta ini sebagai seorang beriman?

Pertama, kita harus memiliki kesadaran devout (spiritual conciusness) bahwa tidak ada keabadian dalam hidup ini. Manusia dan semua yang hidup di alam ini adalah makhluk lemah, sementara Tuhan Maha Kuat. Atas kelemahan ini, maka sudah seharusnya kita tidak boleh menyisakan sedikitpun sikap sombong di dalam hati. Sombong meski sebesar atom (dzarrah) adalah bibit kekafiran, bahkan dalam sebuah hadits Nabi disebut sebagai indikator syirik kecil (sughra) yang bisa merusak sistem keyakinan kita kepada Allah swt.

Kedua, manusia dan alam seisinya sengaja diciptakan Allah dan akan kembali kepada-Nya. Dalam konteks ini, hidup adalah pilihan dan mati itu kepastian. Tiada makhluk hidup joke di muka bumi ini yang akan selamat dari kematian. Kematian adalah proses akhir dari kehidupan dunia yang pasti datang menjemput. Kematian, apapun sebabnya, termasuk sebab bencana adalah kemestian yang akan dihadapi manusia dan makhluk hidup. Dengan kematian lah manusia akan berjumpa dengan Sang Pencipta. Artinya mati adalah middle untuk bertemu dengan Zat Yang Maha Abadi. Karenanya, pemahaman akan datangnya kematian harus menjadi dasar kita dalam menyikapi terjadinya bencana.

Ketiga, kehidupan dunia yang hanya sebentar ini perlu diisi dengan amalan yang bisa memberi manfaat pale banyak untuk sesama. Bill Gates, pemilik Microsoft, pernah mengatakan bahwa “merupakan sebuah kerugian besar saat seseorang dilahirkan dalam keadaan miskin dan bodoh, namun saat mati dalam keadaan yang sama”. Janganlah menunggu memberi manfaat kepada sesama saat kita harus banyak harta. Akan tetapi lakukan kebaikan kepada sesama di saat kita mampu melakukannya. Sekecil apapun. Bukankah bencana bisa menimpa kita kapanpun dan dimanapum. Tuhan tidak pernah memberitahukan sebelumnya kecuali tanda-tandanya.

Keempat, bencana yang menimpa suatu wilayah tidak harus diletakkan dalam konteks teologis an sich. Sebagai sebuah upaya instrospeksi atas segala perilaku ketaatan kita kepada Tuhan memang sangat penting. Setidaknya menjadi bahan evaluasi moril bahwa Tuhan telah memberi peringatan akan dosa-dosa hamba-Nya. Namun jika bencana diletakkan dalam konteks teologis semata, ditambah atau diselipkan dengan narasi-narasi politik praktis, maka pada titik tertentu akan bermuara pada sikap radikalisme agama. Bencana harus dilihat dari banyak nalar agar kita tidak terjebak menjadi penyimpul tunggal atas penyebab terjadinya bencana. Kita perlu membiasakan diri untuk menggunakan nalar teologi, nalar sosial, dan juga nalar keilmuan (saintifik) agar kita tetap bijak dan tidak tercerabut sebagai makhluk devout sekaligus makhluk logis (hayawan al-natiq).

Kelima, jika bencana itu telah tiba dan menimpa kita, maka bersegeralah untuk menata hati dengan bertawakkal kepada-Nya, serta mampu mengambil hikmah dari semuanya. Saat nabi Ayub diberi cobaan oleh Allah berupa penyakit, Ayub justru mampu mensyukurinya sehingga dapat memacu lebih tinggi intensitas ketakwaannya kepada Tuhan.

Victor E. Flankl, seorang ilmuan Yahudi yang disiksa secara keji oleh Nazi di kamp konsentrasi militer dan akhirnya selamat justru mampu mengambil hikmah tentang pentingnya memaknai hidup setelah mengalami kesulitan. Frankl lalu menciptakan teori logoterapi yang sangat terkenal, dan sampai kini dijadikan salah satu metode terapi.

Teori ini mengakui adanya dimensi devout dan memanfaatkannya untuk mengembangkan hidup bermakna. Frankl berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang lebih mendasar adalah kebutuhan untuk hidup bermakna atau berarti. Keinginan untuk mempunyai makna merupakan salah satu kekuatan motivasi yang ada dalam diri manusia yang lebih mendasar daripada prinsip kesenangan (pleasure principle).

Berdasarkan penjelasan di atas jelas bahwa bencana memiliki banyak dimensi. Faktor penyebabnya tidak tunggal. Namun demikian kita harus mampu mengambil hikmah dan makna terbasar dalam hidup mumpung kita masih diberi waktu. Itulah Ebiet G. Ade memberi pesan kepada kita dalam menghadapi bencana. Wallahu a’lam. (bimas.kemenag)

Thobib Al-Asyhar [Penulis buku, dosen psikologi Islam SKSG Universitas Indonesia, Kabag Ortala, Kepegawaian dan Hukum Ditjen Bimas Islam]

About admin