Potret Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Tahun 2016

Kamis, (5/1) The Wahid Institute mengadakan diskusi perdamaian di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan. Hadir sebagai narasumber di antaranya Jayadi Damanik (Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Komnas HAM), Awi Setiyono (Divisi Humas Polri), KH Imam Aziz (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Asfinawati dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan Engkus Ruswana (Penghayat Kepercayaan).

Awi Setiyono dalam pemaparannya menjelaskan setidaknya 25 kasus intoleransi beragama telah terjadi di tahun 2016 dengan faktor pemicu intoleransi di antaranya berupa perbedaan pemahaman dan penafsiran.

Menyambung penjelasan Awi, Damanik menambahkan gambaran umum dengan mengutip information pada tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2014 sampai 2015, dan menyatakan bahwa ada peningkatan pengaduan atas hak kebebasan beragama dan berkeyakinan di tahun 2016.

Selanjutnya Asfinawati menjelaskan tentang kerangka pikir Hak Asasi Manusia yaitu; non diskriminasi, tidak membela keyakinan atau agama, melainkan membela hak kebebasan setiap keyakinan selama tidak melakukan kekerasan atau ujaran kebencian.

“Kasus intoleransi seharusnya bukan urusan polisi, tapi merupakan urusan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan pemuka agama lainnya,” tambahnya.

Dari semua pemaparan yang disampaikan, para narasumber telah sepakat untuk lebih optimis dalam meneguhkan kebangsaan serta saling mengeratkan hubungan satu sama lain untuk menghadapi persoalan-persoalan bangsa ke depan. Dengan itu diharapkan, pada tahun 2017 ini kasus intoleransi tidak akan terjadi lagi. (Zainuddin/Yudhi)

Related posts:

Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab asasasaRaker III ABI: Khidmat dan Ketulusan untuk Kemajuan Organisasi bgwnPosko Korban Perahu Terbalik Dipindahkan whatsapp-image-2016-12-28-at-15-05-34Meruwat Indonesia, Merawat NKRI

About admin