Peringati Hari Nakbah, DR. Jose: Jangan Terjebak Kepentingan Sesaat, Fokus Lawan Zionis!

Penjajahan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina adalah noda kelam kemanusiaan yang mencoreng wajah peradaban dunia hingga saat ini. Jutaan warga Palestina menjadi tawanan dan terusir dari tanahnya sendiri.

Memperingati Hari Nakbah, hari tragis bagi bangsa Palestina ini, Tim ABI Press menghadirkan wawancara dengan dr. Joserizal Jurnalis, aktivis kemanusiaan dari Mer-C yang sangat konsen terhadap isu kemerdekaan bangsa Palestina.

Pak Joserizal, bagaimana Bapak melihat Hari Nakbah?

“Bagi bangsa Palestina yang hari Nakbahnya adalah hari terusirnya Palestina dari tanahnya. Diperingati satu hari setelah ‘kemerdekaan’ Israel. Kalau Israel kan ‘merdeka’ 14 Mei, hari Nakbah jadinya tanggal 15. Itu sebetulanya hari kehancuran bangsa Palestina. Jadi kita memperingati itu adalah dalam rangka pembelaan bagi bangsa Palestina.”

Bagaimana Bapak melihat kondisi muqawwama bangsa Palestina saat ini? 

“Kalau kita lihat dari segi tanahnya, Palestina dari hari ke hari makin berkurang. Tapi semangat perlawanan itu tetap ada dan bahkan makin kuat. Dan dukungan bukan hanya dating dari orang-orang Islam, tapi juga dari orang-orang non-Muslim dukungan terhadap Palestina juga makin bertambah. Jadi ada satu kerugian bahwa tanah makin berkurang, tetapi ada keuntungan, dukungan terhadap perjuangan makin besar.”

Di tengah-tengah perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka, kita lihat justru ada kelompok Islam seperti ISIS yang bukannya membela, tapi malah menyerang muqawwama Palestina. Bagaimana Pak Jose melihatnya? 

“Jadi begini, kalau orang non-Muslim saja menyadari bahwa Zionis itu adalah bahaya besar bagi peradaban, seharusnya orang Islam lebih menyadari bahwa Zionis itu berbahaya besar bagi umat manusia, bukan (hanya) umat Islam loh, tapi bagi seluruh umat manusia. Karena mereka punya doktrin, yaitu tadi, ‘we are a selected people’, ‘we have a betrothed land’, ‘we have preemtive strike’, jadi hak untuk menyerang terlebih dahulu. Nah ini kan sangat chauvinistik dan diskriminatif.”

“Nah, pantaslah orang menganggap bahwa pemahaman Zionis ini adalah pemahaman yang berbahaya buat umat manusia. Yang kita lihat, bahkan orang Yahudi pun, yang kita lihat demo besar mereka mengenai anti Zionis dan anti Israel itu, karena mereka menyadari Zionis tak baik buat mereka juga. Sedangkan umat Islam sebagian tidak fokus, malah menganggap bahwa Zionis ini tidak berbahaya. Bermain-main dengan sasaran antara.”

“Sasaran antara ini, ini kan apologia yang diungkapkan oleh temen-temen yang mendukung ISIS dan oposisi di Arab Spring. Jadi, mereka bilangnya, kita bereskan dulu orang-orang munafik dalam Islam, nanti (baru) kita menuju ke Israel. Sekarang kan gitu apologianya. Dan ini jelas tidak benar. Sangat tidak benar. Karena sinergisitas untuk perlawanan Zionis itu harus merangkul orang-orang yang satu visi, baik satu agama maupun berbeda agama. Baik satu aliran maupun berbeda aliran. Itu harusnya cara pandang kita untuk melawan Zionis ini.”

Mengingat banyak kelompok Islam yang pola pikirnya apologetik terobsesi dengan ‘target antara’ seperti itu, lantas bagaimana caranya untuk menyadarkan mereka bahwa musuh utama adalah Zionis?

“Jadi begini, mereka tidak tahu, atau ingin bermain-main dengan Zionis ini. Bermain-main dalam artian, saya masih punya musuh ini, si A, si B, oleh karena itu saya masih mau berkolaborasi dengan Zionis ini untuk menghadapi musuh saya. Nah, ini musuh-musuh politik yang sifatnya temporer, temporary. Tapi musuh peradaban ini dari zaman Nabi Musa itu kan sudah jelas. Di Taurat, di Injil, di Alquran sudah jelas diperingatkan persoalan orang-orang yang selalu membangkang ini. Mereka mau bekerjasama dengan orang-orang seperti ini, berarti mereka mau menyerahkan diri mereka pada orang-orang yang luar biasa tukang tipunya ini. Mereka mungkin menganggap bisa memperalat Zionis, tapi pada kenyataannya, merekalah yang diperalat oleh Zionis.”

“Saya gak mau menyebutkan satu harakah lah ya, yang mendapatkan keuntungan dari Arab Spring ini. Dia mendapatkan keuntungan dari Arab Spring ini, mau sejalan dengan kebijakan NATO. Garis kebijakan NATO di Timteng adalah untuk kepentingan Zionis, dan mereka mau berjalan beriringan dengan NATO ini untuk kepentingan temporary, untuk mendapatkan kekuasaan. Intinya mau berkuasa, tapi kan bisa dibungkus untuk menegakkan demokrasi, melawan pemerintah zalim, menegakkan syariat. Tapi sampai saat ini, pasca Arab Spring tak ada syariat yang tegak, tak ada demokrasi yang tegak di Timteng.”

“Ironis. Mereka tak sadar bahwa mereka ditipu dan diperalat. Awalnya mungkin mereka mau ambil keuntungan dari arus besar Arab Spring ini. Tapi dalam perjalanan, mereka diti[pu dan diperalat. Dan diadu-domba lagi sesama Muslim.”

Bagaimana seharusnya sikap kita di Indonesia sebagai Negara Muslim terbesar di dunia?

“Ya, seharusnya fokus, bahwa Zionis itu musuh peradaban manusia. Musuh orang baik-baik. Kalau bermain-main dengan mereka, kita diperalat. Karena mereka punya tipuan-tipuan yang kasar dan yang halus. Madu disangka racun, racun disangka madu. Api di sangka air, atmosphere disangka api. Merkea bisa bikin tipuan semacam itu.” 

“Kita harus kontemplasi. Islam itu supaya bisa jernih lagi itu kontemplasi dan mengikhlaskan hati kita untuk tegak lurus kepada Allah SWT. Tidak ada yang lebih dari Tuhan. Kita boleh bermazhab, tapi mazhab bukan di atas Islam. Harakah bukan di atas Islam. Kelompok bukan di atas Islam. 

“Ayok bergandengan tangan, dan fokus lawan Zionis. Jangan lalai dengan tujuan-tujuan antara. Jangan terperosok dalam tujuan antara. Tetap fokus melawan Zionis ini.” (Muhammad/Yudhi) 

Related posts:


Wawancara dengan Dr. Muhsin LabibHari Anak, Teguran Bagi Orangtua


ABI Press_Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI)Maulid Nabi dalam Pandangan Ketua Umum Ormas Islam Ahlulbait Indonesia


Novriantoni KaharPotensi Ancaman ISIS di Indonesia


WawancaraFiqih Kebhinekaan untuk Indonesia Damai dan Harmonis

About admin