perang-salib

Perang Uhud Menurut Riwayat Ayatullah Jakfar Subhani

perang-salibTanggal 7 Syawal tahun ketiga Hijriah bertepatan dengan terjadinya Perang Uhud. Musyrikin Mekah yang mengalami kekalahan di Perang Badar menempatkan pasukannya di lereng gunung Uhud sebanyak lima ribu orang dengan bantuan sejumlah kabilah. Mereka berada di sana untuk membalas kekalahan mereka sebelumnya.

Benar. Perang Uhud terjadi dalam kondisi yang sangat genting bagisistem Islam yang baru saja dibangun oleh Nabi Muhammad Saw diMadinah. Perang Uhud merupakan peristiwa yang bersejarah dan mengandung pelajaran penting. Ayatullah Jakfar Subhani dalam bukunya Furugh Velayat tentang Perang Uhud dalam sub judul “Pengorbanan Imam ali as di Perang Uhud” menjelaskan peristiwa itu seperti berikut:

Semangat perang Musryikin Quraisy akibat kekalahan di Perang Badar di bawah tekanan. Untuk membalas kekalahan materi dan non materi, serta dengan niat membalas dendam kematian keluarganya di Perang Badar, mereka kemudian mempersiapkan pasukan lengkap yang terdiri dari para jagoan perang dari sejumlah kabilah dan berjalan menuju kota Madinah.

Amr bin Ash dan beberapa orang lainnya bertugas untuk mengajak kabilah Kinanah dan Tsaqif serta meminta bantuan mereka untuk berperang melawan Muslimin. Dari dua kabilah ini, mereka berhasil menyiapkan tiga ribu petarung untuk menghadapi pasukan Muslimin.

Intelijen Islam setelah mendapat informasi ini, dengan segera mengabarkannya kepada Nabi Muhammad Saw akan keinginan Quraisy untuk berperang. Menyikapi kondisi yang ada, Nabi segera membentuk Dewan Militer untuk menghadapi musuh dan kebanyakan anggota dewan itu mengusulkan agar pasukan Islam keluar dari kota Madinah dan berperang di luar kota melawan musuh.

Setelah menyelesaikan shalat Jumat, Nabi Muhammad Saw disertai pasukan sebanyak 1000 orang keluar dari kota Madinah menuju gunung Uhud. Beliau kemudian mulai menyusun formasi pasukan dini hari 7 Syawal tahun ketiga Hijriah. Pasukan Islam menempati kawasan dimana di belakang mereka ada penghalang gunung Uhud dan secara alami melindungi mereka dari serangan musuh dari belakang.

Tapi di tengah gunung ada sedikit celah yang memberikan kemungkinan musuh melewati celah itu dan muncul dari belakang pasukan Muslimin. Untuk mencegah timbulnya bahaya itu, Rasulullah Saw menempatkan Abdullah bin Jubair bersama lima puluh pemanah di lereng gunung agar dapat mencegah masuknya musuh dari sana. Nabi Muhammad Saw mewanti-wanti agar pasukan ini tidak meninggalkan tempat itu, sekalipun pasukan Muslimin memenangkan perang dan musuh telah lari meninggalkan medan pertempuran.

Nabi Muhammad Saw kemudian memberikan bendera kepada Mushab. Karena ia berasal dari kabilah Bani Abd ad-Dar dan pemegang bendera dari pihak musuh juga berasal dari kabilah yang sama. Perang dimulai dan berkat keberanian pasukan Muslimin, tentara Quraisy banyak yang jadi korban dan sebagian lainnya melarikan diri.

Para pemanah yang berada di lereng bukit berpikiran bahwa keberadaan mereka di situ sudah tidak dibutuhkan. Oleh karenanya, dengan melanggar perintah Rasulullah Saw, mereka meninggalkan posnya dan turun untuk mengumpulkan pampasan perang. Khalid bin Walid, seorang pejuang pemberani sejak awal perang tahu bahwa celah bukit ini menjadi kunci kemenangan.

Beberapa kali ia ingin memasuki celah itu dan menyerang pasukan Muslimin dari belakang, tapi ia menghadapi para pemanah yang siap membunuh mereka dan akhirnya ia memilih untuk mundur. Tapi kali ini Khalid bin Walid melihat tempat penjagaan itu sudah tidak terjaga dan dengan cepat ia melakukan serangan tiba-tiba dari belakang pasukan Muslimin. Khalid dan pasukannya dengan segera menyerang pasukan Muslimin yang sudah tidak bersenjata lagi dan juga tidak siap menghadapi serangan tiba-tiba itu.

Kekacauan timbul di tengah-tengah pasukan Muslilmin. Pasukan Quraisy yang rencananya sedang meninggalkan medan perang, kembali menemukan semangatnya dan berbalik menyerang umat Islam. Di sini, Mushab bin Umair yang memegang bendera Islam akhirnya tewas dibunuh oleh pasukan musuh. Karena wajah Mushab tertutup, musuh yang membunuhnya menganggapnya sebagai Nabi Muhammad Saw dan dengan segera ia berteriak, “Ketahuilah bahwa Muhammad telah tewas!”

Berita tewasnya Nabi Muhammad Saw dengan cepat tersebar di tengah-tengah Muslimin. Kebanyakan dari pasukan Muslimin telah lari meninggalkan medan tempur, sehingga hanya tinggal beberapa orang saja di sana.

Ibnu Hisyam, sejarawan Islam menulis:

“Anas bin Nadhir, paman Anas bin Malik mengatakan, “Ketika pasukan Islam berada dalam tekanan dan tersebarnya berita kematian Nabi Muhammad Saw, kebanyakan dari pejuang Islam hanya berpikir bagaimana dapat menyelamatkan dirinya. Setiap orang mencari tempat untuk menyelamatkan dirinya.

Saya melihat segerombolan Muhajirin dan Anshar, di antara mereka ada Umar bin Khattab, Thalhah, Ubaidullah, tengah duduk di sebuah sudut dan berpikiran untuk menyelamatkan dirinya. Dengan nada marah saya berkata, “Mengapa kalian duduk di sini?”

Mereka menjawab, Nabi sudah tewas dan perang sudah tidak bermanfaat lagi.”

Kepada mereka saya berkata, “Bila Nabi sudah tewas, maka kehidupan sudah tidak bermakna. Bangung dan terbunuhlah di jalannya. Dengan begitu kalian akan syahid. Bila Muhammad mati, maka Tuhannya tetap hidup.”

Saya melihat apa yang saya ucapkan tidak berpengaruh dalam diri mereka. Saya kemudian mengangkat sebuah pedang dan sibuk berperang melawan musuh.”

Ibnu Hisyam mengatakan, “Anas meninggal dalam perang ini dengan 70 luka dan yang menangisinya hanya saudara perempuannya.”

Larinya sekelompok Muslimin dalam Perang Uhud sangat menyedihkan, sehingga para perempuan Muslim yang mengutus anak-anaknya ke medan pertempuran dengan sigap mengobati para pejuang yang terluka, memberi minum yang kehausan dan membela Nabi Muhammad Saw. Ketika seorang perempuan bernama Nasibah melihat sejumlah Muslimin lari dari medan tempur, dengan cepat ia mengambil sebuah pedang dan membela Nabi Muhammad Saw dari serangan musuh.

Sejarah juga mencatat pengorbanan seorang pejuang yang menjadi teladan pengorbanan dalam sejarah Islam. Kemenangan kembali Muslimin dalam Perang Uhud berkat perjuangannya dan ia adalah Imam Ali as.

Sebab larinya tentara Quraisy di awal perang dikarenakan pemegang bendera mereka yang berjumlah sembilan orang itu satu persatu tewas di tangan Ali bin Abi Thalib as. Akibatnya pasukan Quraisy menjadi takut dan memilih untuk lari meninggal medan tempur sebelum terbunuh.

Ibnu Atsir dalam buku sejarahnya menulis, Nabi Muhammad Saw diserbu oleh musuh dari seluruh penjuru. Setiap kelompok dari mereka yang ingin menyerang Nabi Muhammad Saw dari satu sisi, dengan sigap Imam Ali as diperintah oleh Nabi untuk menyerang mereka, sehingga mereka membubarkan dirinya. Kejadian ini terjadi berulang kali.”

Sebagai penghormatan atas pengorbanan yang dilakukan Imam Ali as, malaikat Jibril turun dan memuji pengorbanan Ali bin Abi Thalib di hadapan Nabi Muhammad Saw. Ia mengatakan, “Ini adalah puncak pengorbanan yang ditunjukkan olehnya.” Rasulullah Saw membenarkan apa yang disampaikan Jibril dan berkata, “Saya berasal dari Ali dan ia berasal dariku.” Kemudian terdengar suara yang menyebutkan, “Laa Saifa Illa Dzul Fiqar Qa Laa Fata Illa Ali” (Tidak ada pedang seperti Dzul Fiqar dan pemuda seperti Ali) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

sumber : Indonesia.Irib

About admin