Pementasan Teater Panglima Akbar: Upaya Pelestarian Kesenian Mendu dan Apresiasi terhadap Seniman Melayu

pementasan-teater-panglima-akbar-upaya-pelestarian-kesenian-mendu-dan-apresiasi-terhadap-seniman-melayu-2Komunitas Teater Mata menampilkan teater Mendu yang merupakan seni teater khas Melayu di gedung pementasan teater Taman Budaya Kalimantan Barat, Jl. A.Yani we Pontianak. Kamis (17/11).

Penampilan teater ini mengusung tema “Panglima Akbar”. Menariknya, tiga hal penting yang disampaikan dalam teater tersebut ialah apresiasi, historis, dan kekuasaan.

Semuanya dibalut dalam adegan demi adegan historik, meskipun dibumbui dengan aroma-aroma kontemporer agar tetap mengikuti perkembangan zaman yang ada.

Ilham Setia selaku sutradara mengatakan bahwa apresiasi, adalah harga mati bagi seniman untuk saat ini.

“Konsistensi yang ditunjukkan, meskipun tidak pernah mendapat timbal balik yang jelas, para seniman tetap berusaha menggelar panggung,  sekaligus juga menjadi pelaku-pelaku seni di Tanah Air tercinta ini,” tuturnya.

“Kemelayuan, menjadi ciri khas tersendiri dari pementasan ini, selain dialek-dialek Melayu fasih dari para aktor,” tambah Ilham.

“Dalam kesenian Mendu kita bisa belajar bahwa perebutan takhta kepemimpinan bisa tetap terjadi,” jelas Ilham.

“Saat ini, juga bisa kita lihat sendiri perebutan takhta kekuasaan menjadi problematika pelik di tengah-tengah masyarakat.”

“Belajar dari itu, haus akan kekuasaan hanya menambah rentetan panjang penderitaan,” lanjut Ilham.

Selain itu, tata ruang maupun properti panggung bernuansa kerajaan Melayu turut menjadi ciri khas yang menunjukkan adanya kearifan lokal.

Terkait kesenian Mendu yang berasal dari Mempawah sudah bukan hal baru di Kalimantan Barat. Mendu merupakan kesenian Melayu yang telah diakui oleh negara sebagai warisan Kalimantan Barat bersama Kepulauan Riau 2014 silam.

Mendu merupakan bentuk teater yang mengkombinasikan seni tari, drama, silat dan berladon atau nyanyian yang berisi pantun-pantun yang disampaikan oleh satu pemain ke pemain lain secara bergantian.

Teater Mendu syarat dengan kisah-kisah kerajaan seperti Kisah 1001 Malam, Kisah Zainal Abidin Raja Kebayan, Indra Bangsawan dan lain-lain.

Di akhir acara, Ilham Setia mengajak seluruh penonton yang hadir untuk mendoakan para pendahulu dari pelaku kesenian Mendu. (Hakim/Yudhi)

Related posts:

ABI Press_Desa PanjaluNyangku: Merawat Tradisi, Introspeksi Diri  ABI Press_KOBASepeda Onthel Masih Eksis di Jakarta SabilulunganPeletakan Batu Pertama Tugu Kujang Kembar Kabuyutan Cipageran KAwin atmosphere 2Kawin Air Kabuyutan Cipageran

About admin